Tag Archives: Hidup Pernikahan

Kidung Agung 6:1-3

Mereka adalah saling memiliki

Oleh Rev. Dr. Wong Tin-yat (黃天逸)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kid. 6:1-3 [ITB])
1 Ke mana perginya kekasihmu, hai jelita di antara wanita? Ke jurusan manakah kekasihmu pergi, supaya kami mencarinya besertamu?
2 Kekasihku telah turun ke kebunnya, ke bedeng rempah-rempah untuk menggembalakan domba dalam kebun dan memetik bunga bakung.
3 Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku, yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung.

Beberapa peneliti mengingatkan kita untuk memperhatikan bentuk penulisan 《Kitab Kidung Agung》 adalah sastra puisi, tidak memiliki logika narasi (ayat 6:1 sangat mirip dengan 5:9), oleh karena itu, meneruskan pembacaan, kita akan merasa sulit untuk memahami cerita secara kronologis atau dengan plot yang linier; dengan kata lain, sulit bagi kita untuk mencari tahu apakah ayat-ayat merupakan urutan dari ayat-ayat di pasal 5. Selain itu, mencari dapat dikatakan sebagai ciri dari puisi ini, mengungkapkan penantian pengantin wanita atas cinta pengantin pria. Oleh karena itu, mungkin pengantin pria tidak pernah meninggalkan pengantin wanita, tetapi penantian dan pergumulan pengantin wanita terhadap relasi di antara mereka berdua terus menerus terjadi sampai di akhir puisi barulah mendapatkan penyelesaian!

Selain itu, di teks sebelumnya sang tokoh wanita berbicara tentang sakit asmara akibat gagal menemukan tokoh pria (5:8), tetapi beberapa ayat ini memberi tahu kita bahwa tokoh wanita telah bertemu dengan tokoh pria, bahkan mengetahui apa yang sedang ia lakukan, Namun, perikop ini tidak menjelaskan bagaimana dan di mana tokoh wanita menemukan dia, tidak menjelaskan di mana tokoh utama wanita itu ditemukan padanya, dan tidak menjelaskan mengapa tokoh pria akan berpaling muka dan pergi (5:6 Kekasihku kubukakan pintu, tetapi kekasihku sudah pergi, lenyap. Seperti pingsan aku ketika ia menghilang. Kucari dia, tetapi tak kutemui, kupanggil, tetapi tak disahutnya). Tampaknya penulis tidak berniat menceritakan plot narasi atau kronologis cerita, ia hanya ingin melalui puisi dan musik mengekspresikan perpisahan dan pertemuan / bersatunya antara keduanya, dan ingin melaluinya untuk membangkitkan emosi, asosiasi perenungan, dan resonansi pembaca!

Bahkan walaupun frasa Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku berbeda urutan dengan ayat 2:16 Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia, namun titik berat dan fokus penulis adalah hendak menunjukkan: suasana hati tokoh wanita sebelum ketakutan bahwa sang kekasih meninggalkan dia, tetapi saat ini, ketakutan itu telah hilang sama sekali karena pertemuan / bersatunya mereka berdua, ketakutan itu digantikan oleh rasa aman saling memiliki dan pemenuhan satu sama lain.

Dari ayat 5:2 sampai 6:3 membuat kita lihat masalah / kesulitan dalam pernikahan pria dan wanita ini ── dibelit salah paham hambatan komunikasi, mengejar dan melarikan diri, dibelit emosional, sebenarnya, berpengaruh besar pada semua relasi suami istri. Namun, di bawah janji komitmen bersama, rekonstruksi membangun lagi hubungan terus menerus dapat dicapai dan dilakukan oleh mereka berdua, dan pada akhirnya mencapai sukacita dan keeratan intim yang berkepenuhan!

Renungkan:
《Kitab Kidung Agung》 tidak menyembunyikan fakta ── di dalam pernikahan, pasangan suami istri itu kadang-kadang akan ada situasi hilang komunikasi. Hanya saja kita harus mengingat dan belajar bagaimana memulihkan hubungan antara keduanya, bukan menghindari atau bahkan berpura-pura tidak ada masalah. Rekonsiliasi dan rekonstruksi semacam ini dibangun di atas tekad kedua orang untuk komitmen menyerahkan diri pada janji pernikahan, dengan cara ini barulah bisa memiliki keberanian untuk menerobos hambatan, mencoba untuk mengejar merealisasikan rekonsiliasi dan rekonstruksi relasi yang sejati.


Renungan pemahaman Kitab Kidung Agung

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kidung Agung ditulis oleh Rev. Dr. Wong Tin-yat (黃天逸) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Kidung Agung 4:9-5:1

Cinta dan kasih sayang antara dua orang

Oleh Rev. Dr. Wong Tin-yat (黃天逸)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kid. 4:9-5:1 [ITB])
9 Engkau mendebarkan hatiku, dinda, pengantinku,
engkau mendebarkan hati dengan satu kejapan mata,
………dengan seuntai kalung dari perhiasan lehermu.
10 Betapa nikmat kasihmu, dinda, pengantinku!
………Jauh lebih nikmat cintamu dari pada anggur,
………dan lebih harum bau minyakmu dari pada segala macam rempah.
11 Bibirmu meneteskan madu murni, pengantinku,
………madu dan susu ada di bawah lidahmu,
………dan bau pakaianmu seperti bau gunung Libanon.
12 Dinda, pengantinku, kebun tertutup engkau,
………kebun tertutup dan mata air termeterai.
13 Tunas-tunasmu merupakan kebun pohon-pohon delima
………dengan buah-buahnya yang lezat,
………bunga pacar dan narwastu,
………14 narwastu dan kunyit,
………tebu dan kayu manis dengan segala macam pohon kemenyan, mur dan gaharu,
………beserta pelbagai rempah yang terpilih.
15 O, mata air di kebun, sumber air hidup,
………yang mengalir dari gunung Libanon!
16 Bangunlah, hai angin utara, dan marilah, hai angin selatan, bertiuplah dalam kebunku,
………supaya semerbaklah bau rempah-rempahnya!
…..Semoga kekasihku datang ke kebunnya dan makan buah-buahnya yang lezat.
5:1 Aku datang ke kebunku, dinda, pengantinku,
………kukumpulkan mur dan rempah-rempahku,
………kumakan sambangku dan maduku,
………kuminum anggurku dan susuku.
Makanlah, teman-teman, minumlah, minumlah sampai mabuk cinta!

Mengikuti setelah Puisi nyanyian tubuh (Waṣf) di ayat 1-7, 《Kitab Kidung Agung》 masuk ke dalam deskripsi hubungan pernikahan antara tokoh pria dan tokoh wanita. Dalam teks bahasa Ibrani ‎כַלָּ֑ה ‎אֲחֹתִ֣י ‘a·cho·Ti chal·Lah dinda, pengantinku di perikop ini muncul empat kali (ayat 9, 10, 12 dan 5:1), dengan jelas merangkai beberapa ayat ini. Bagian puisi ini menceritakan hal-hal paling intim dalam hubungan pernikahan dengan cara yang indah dan sehat. Hubungan seksual antara suami dan istri, adalah hadiah berharga dari Allah, di mana suami dan istri dapat saling mengungkapkan cinta satu sama lain, dan ini adalah kehendak Allah ── agar seorang laki-laki dan seorang perempuan melalui karunia ini, di dalamnya menikmati cinta kasih dan memenuhi janji komitmen seumur hidup.

Dalam teks bahasa asli, sebelum dan sesudah frasa dinda, pengantinku terdapat kata לִבַּבְתִּ֖נִי lib·bav·Ti·niengkau mendebarkan hatiku, dan kemudian dilanjutkan dengan satu kejapan mata, tepat mengungkapkan pandangan mata pengantin wanita saja sudah membuat pengantin pria terpesona, jatuh cinta.

Bibir dalam ayat 11 mungkin merupakan bahasa simbolik untuk menggambarkan daya tarik bibir pengantin wanita; tetapi itu juga merupakan teknik sastra yang disebut metonimi (metonymy), yaitu, penulis menggunakan kosa kata lain yang terkait erat dengan kata asli yang hendak disampaikan, maka kata bibir yang digunakan dapat dipahami sebagai perkataan. Dengan demikian, mempelai pria berciuman dengan mempelai wanita, tetapi juga memuji perkataan manis dari mempelai wanita (indra pendengaran). Frasa bau pakaianmu yang disebutkan di paruh kedua ayat, membuat keintiman kedua orang tidak hanya indra rasa, tetapi juga menikmati indra penciuman. Sama seperti satu kejapan mata (indra penglihatan) di ayat 9, ayat 10 sampai 11 berbicara tentang hubungan yang lebih intim lebih indah, lebih manis dan lebih harum.

Ayat 12 kebun tertutup engkau, kebun tertutup dan mata air termeterai, menjelaskan bahwa mempelai wanita hanya akan menghargai dan mencintai keterbukaan pengantin pria saja, hanya mengizinkan dia saja yang boleh masuk, karena itu, itu juga mengatakan kepada kita, pengantin wanita ini benar-benar tidak bisa didekati; dan gambar seperti itu mengungkapkan makna kesucian sang pengantin wanita.

Selanjutnya, ayat 13 sampai 15 adalah deskripsi lebih lanjut dari pemandangan di taman ini. Akhirnya mempelai laki-laki berpindah dari perumpamaan taman ke perumpamaan tentang mata air di ayat 15, sebagai ringkasan dari ayat 12 sampai 14, dan sebagai korespondensi dari ayat 12. Dari kata tertutup, tertutup dan termeterai (ayat 12), sampai di ayat 15 mata air, mengalir, sang penulis hendak mengatakan: hubungan antara mereka berdua bersifat eksklusivitas (tidak bisa ada yang lain selain mereka dua orang), di sisi lain, itu juga menunjukkan keaktifan dan vitalitas cinta kasih mereka!

Berikutnya 5:1 adalah tanggapan pengantin pria kepada pengantin wanita, memasuki ke dalam hubungan seksual yang intim dengan pengantin wanita. Dalam bahasa aslinya 6 kata benda mur-ku, rempah-rempah-ku, sarang lebah-ku, madu-ku, anggur-ku dan susu-ku masing-masing terdapat kata akhiran (suffix) ku (my); di samping itu, beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa 6 kata benda dituliskan dalam bentuk 3 pasangan (murku dan rempah-rempahku; sarang lebah-ku dan maduku; anggurku dan susuku), adalah untuk mengekspresikan pengalaman keseluruhan pengantin pria. Oleh karena itu, dari sudut pandang cinta kasih yang intim, ayat ini dengan jelas menyiratkan pengalaman jasmaniah yang hanya berdua antara tokoh pria dan tokoh wanita saja, dan ayat ini dapat dikatakan sebagai pusat dari 《Kitab Kidung Agung》. (Bahkan ayat 5:1 Aku datang ke kebun-ku, dinda pengantin-ku, ku-kumpulkan mur-ku dan rempah-rempah-ku, ku-makan sambang-ku dan madu-ku, ku-minum anggur-ku dan susu-ku, ku hampir di setiap kata).

Renungkan:
Hubungan pernikahan memiliki karakteristik eksklusif tidak bisa ada yang lain selain mereka dua orang. Kami tertarik satu sama lain, dan pada saat yang sama, di antara kami ini hanya milik untuk satu sama lain, dan tidak boleh ada orang lain yang terlibat dalam hubungan ini. Lalu, berharga untuk kita perhatikan adalah bahwa sering kali hubungan lirik mata yang samar-samar membawa kehancuran dalam hubungan pernikahan. Bisakah kita bisa memiliki kejelasan dan kejernihan dalam relasi yang erat dan intim?


Renungan pemahaman Kitab Kidung Agung

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kidung Agung ditulis oleh Rev. Dr. Wong Tin-yat (黃天逸) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Amsal 5:15-23

「Pengajaran 8 (3): Kasih Suami Istri」
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 5:15-23 [ITB])
15 Minumlah air dari kulahmu sendiri, minumlah air dari sumurmu yang membual. 16 Patutkah mata airmu meluap ke luar seperti batang-batang air ke lapangan-lapangan? 17 Biarlah itu menjadi kepunyaanmu sendiri, jangan juga menjadi kepunyaan orang lain. 18 Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu: 19 rusa yang manis, kijang yang jelita; biarlah buah dadanya selalu memuaskan engkau, dan engkau senantiasa berahi karena cintanya. 20 Hai anakku, mengapa engkau berahi akan perempuan jalang, dan mendekap dada perempuan asing? 21 Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya.
22 Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri. 23 Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat.

Ayat 15, Kulah: tempat menyimpan air yang dibuat dari batu; bak air (KBBI), lihat juga terjemahan ITL Baiklah engkau minum air dari pada kolammu sendiri dan air yang mengalir dari pada telagamu sendiri.

Setelah orang bijak berbicara tentang malapetaka perzinaan dalam ayat 7-14, ia beralih ke ayat 15-20 untuk berbicara tentang kebahagiaan seksual dalam hubungan antar pasangan suami istri. Ketika orang-orang modern membaca Alkitab, mereka mungkin sedikit tidak nyaman, di satu sisi ada banyak metafora hubungan seksual dalam Kitab Suci, dan di sisi lain, dengan jelas menggambarkan tubuh perempuan. Bagaimanapun, seks diberikan kepada umat manusia oleh Tuhan, hanya untuk dinikmati pasangan resmi suami istri, oleh karena itu, seks itu suci dan murni. Orang bijak yang hikmat mengajari anak-anaknya bagaimana menanggapi kebutuhan seksual dan melihat hubungan seksual antara pasangan resmi suami istri dengan tepat, dan menjalin keintiman seksual yang sempurna dengan pasangan resminya (ayat 15-19).

Orang bijak mendorong anak-anaknya untuk setia kepada pasangan resminya dan secara aktif menjalin dan menikmati hubungan seksual yang bahagia. Peneliti Alkitab menunjukkan bahwa kitab suci di sini menggunakan beberapa metafora untuk mengungkapkan hubungan seksual pasangan resmi, memberikan kepuasan seksual kepada pasangannya, dan menekankan sifat eksklusivitas hubungan seksual pasangan resmi tersebut. Air dalam ayat 15-16 berarti hubungan seksual yang intim antara suami dan istri, sedangkan sumur berarti hubungan antar pasangan untuk memuaskan hasrat seksual mereka (Kidung 4:15). Orang bijak menantang para suami pada saat itu patutkah mata airmu meluap ke luar seperti batang-batang air ke lapangan-lapangan? (ayat 16)? Artinya, mereka tidak boleh berhubungan seks dengan pelacur atau perzinaan, tetapi harus melakukan hubungan seksual yang intim hanya dengan pasangan resminya. Tulisan Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa hubungan seksual pasangannya adalah eksklusif dan jangan juga menjadi kepunyaan orang lain (ayat 17) tidak boleh dibagikan dengan orang asing.

Alkitab sangat eksplisit, dan sulit untuk berbicara tentang hubungan seksual. Alkitab justru hendak dengan jelas memberitahu murninya cinta kasih antara suami dan istri. Meskipun Alkitab memiliki ekspresi yang jujur dan penulisan eros, kehidupan seks yang menyenangkan dalam pernikahan adalah anugerah dari Tuhan. Bisakah pasangan mengalami Taman Eden? Yakni Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. (Kejadian 2:24-25).

Terakhir, orang bijak tanpa lelah menyatakan agar hanya memeluk rangkul dan menikmati cinta dengan pasangannya. Jangan pernah memeluk rangkul orang lain bukan pasangan resminya, atau jatuh ke pelukan orang lain. orang bijak di ayat 21 mengingatkan anak-anaknya: TUHAN (Yahweh) mengawasi memeriksa tingkah laku manusia, yang artinya: kalaupun orang tidak tahu apa yang mereka lakukan, TUHAN tetap tahu bahwa seseorang memeluk perempuan asing karena semua itu ada di mata Tuhan!

Allah adalah Penguasa yang maha tahu dan Hakim yang adil, Dia tidak hanya memeriksa perilaku manusia, tetapi juga menilai perilaku manusia. Dosa orang fasik (termasuk penggoda dan yang kejam) akan dihukum (ayat 22). Dosa orang bebal yang membuat jebakan untuk membunuh orang akan dihukum (ayat 23).

Renungkan:
(1) Renungkan ayat ini: Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah. (Ibrani 13:4);
(2) Berdoa kepada Tuhan untuk kesucian, pengharapan, kepuasan, batasan, cinta, dan sukacita pernikahan.


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 1-9 ditulis oleh Mài Yào Guāng (麥耀光) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Amsal 5:1-6

「Pengajaran 8: Waspada tentang Seksual」
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 5:1-6 [ITB])
1 Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan, 2 supaya engkau berpegang pada kebijaksanaan dan bibirmu memelihara pengetahuan.
3 Karena bibir perempuan jalang menitikkan tetesan madu dan langit-langit mulutnya lebih licin dari pada minyak, 4 tetapi kemudian ia pahit seperti empedu, dan tajam seperti pedang bermata dua. 5 Kakinya turun menuju maut, langkahnya menuju dunia orang mati. 6 Ia tidak menempuh jalan kehidupan, jalannya sesat, tanpa diketahuinya.

Terdapat tiga bagian ajaran dalam Amsal pasal 5 sampai 7, yang semuanya tentang masalah seksual di luar nikah. Orang bijak dengan jelas melarang relasi intim di luar pernikahan. Dalam pasal 5, orang bijak secara terbuka mendiskusikan dengan anak-anaknya sebuah masalah tentang perbedaan dan konsekuensi dalam hal relasi seksual dengan dua jenis wanita. Di sini, orang bijak secara terbuka menunjukkan bahwa relasi seksual dengan wanita asing (KJV strange woman, ITB perempuan jalang) akan membawa rasa penderitaan, penyesalan dan kerugian; tetapi menikmati keintiman seksual suami dengan istri adalah kegembiraan, kebahagiaan dan kepuasan. Orang bijak memperingatkan mereka agar tidak dipimpin oleh nafsu, tetapi untuk mematuhi didikan.

Pasal 5 dapat dibagi menjadi empat paragraf untuk direnungkan: paragraf pertama ayat 1-6 merupakan pendahuluan untuk seluruh pasal; paragraf kedua ayat 7-14 menggambarkan bencana perzinaan; paragraf ketiga ayat 15-20 menggambarkan kebahagiaan hubungan antara suami dan istri; dan paragraf terakhir ayat 20-23 adalah kesimpulan. Beberapa peneliti mengingatkan pembaca modern ketika membaca Alkitab bahwa meskipun Kitab Suci menasihati pria untuk menghindari godaan wanita, mereka hendaknya tidak tertipu oleh bibir manis mereka, tetapi perangkap seks tidak khusus hanya untuk satu gender saja, pria maupun wanita harus waspada terhadap godaan seksual lawan jenis. Karenanya, pembaca wanita juga harus berhati-hati dengan retorika bujukan mulut pria. Hal ini menunjukkan bahwa pembaca dari kedua gender harus mendengarkan dengan cermat perkataan orang bijak dan menjauhi godaan dan jebakan seksual di luar nikah, agar tidak menderita celaka, penderitaan, dan penyesalan.

Orang bijak pertama-tama memanggil anak-anaknya untuk tetap berpegang pada ajarannya, melalui ajaran hikmat, anak harus membuat penilaian tentang situasi sebenarnya untuk mengevaluasi situasi, dan membedakan serta memutuskan rencana tindakan. Kemudian, ayat 3-6 menjelaskan metode rayuan dari wanita asing ini dan konsekuensi serius dari hubungan dengan mereka. Siapakah wanita asing itu? Mereka sudah muncul di 2:16 dari perempuan jalang, dari perempuan yang asing, yang licin perkataannya, mereka disebut perempuan yang asing. Dalam ayat Kitab Suci, mereka digambarkan sebagai penzina dengan laki-laki. Oleh karena itu, ada terjemahan Alkitab yang menerjemahkan sebagai perempuan jalang (ITB), adulteress (NIV / NASB) atau istri orang lain (VMD). Godaan dari wanita asing merayu pria adalah bibirnya. Apa yang dia berikan bukanlah menitikkan tetesan madu dari mulut (ayat 3), tetapi kepahitan seperti empedu (ayat 4); seorang laki-laki berpikir langit-langit mulutnya lebih licin dari pada minyak (ayat 3), tetapi dia dicelakai oleh pedang bermata dua(ayat 4). Mereka sedang dalam jalanan menuju kematian dan di jalan menuju dunia orang mati (ayat 5)!

Kata-kata hikmat orang bijak benar-benar merupakan pengingat bagi orang-orang modern! Manusia rentan terhadap persepsi, seperti yang dikatakan 1 Yohanes 2:16 untuk berhati-hati dengan nafsu keinginan mata. Ketika Anda menikmati madu instan, itu akan menjadi kepahitan (ipuh); jika Anda pikir itu 「langit-langit mulutnya lebih licin dari pada minyak (her speech is smoother than oil ESV / NIV) kata-kata memikat hati, itu menjadi pedang tajam. Ternyata apabila semuanya telah berlalu, yang tertinggal hanyalah kepahitan dan penderitaan (ayat 4, BISH) kesenangan berlalu yang tersisa untuk Anda di masa depan adalah dukacita, hanya penderitaan. Yang menyedihkan, kedua pihak yang melakukan perselingkuhan tersebut adalah korban, di satu sisi ada penderitaan dan luka tusuk (ayat 4), di sisi yang lain adalah maut (ayat 5) tanpa dirinya menyadari! Oleh karena itu, kita perlu dengan sikap cerdas menghadapi impuls dari dalam diri dan provokasi eksternal, dan tegas mengatakan tidak pada hubungan seksual di luar nikah!

Renungkan:
(1) Berdoa agar Tuhan jangan membiarkan saya menghadapi pencobaan godaan (Matius 6:13, Janganlah biarkan kami dicobai, tetapi selamatkanlah kami dari yang jahat terjemahan VMD), dan mengandalkan Tuhan untuk melindungi kesucian saya sebelum pernikahan atau sesudah pernikahan;

(2) Mulai hari ini, saya bertekad untuk melindungi kesucian seksual saya dalam pikiran, ucapan, dan perilaku, dan merenungkan bagaimana saya dapat melindungi kesucian saya dalam aspek-aspek ini?


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 1-9 ditulis oleh Mài Yào Guāng (麥耀光) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Bilangan 5:11-15

「Curiga dan Menghilangkan Keraguan」
Oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 5:11-15 [ITB])
11 TUHAN berfirman kepada Musa: 12 Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila isteri seseorang berbuat serong dan tidak setia terhadap suaminya, 13 dan laki-laki lain tidur dan bersetubuh dengan perempuan itu, dengan tidak diketahui suaminya, karena tinggal rahasia bahwa perempuan itu mencemarkan dirinya, tidak ada saksi terhadap dia, dia tidak kedapatan, 14 dan apabila kemudian roh cemburu menguasai suami itu, sehingga ia menjadi cemburu terhadap isterinya, dan perempuan itu memang telah mencemarkan dirinya, atau apabila roh cemburu menguasai suami itu, sehingga ia menjadi cemburu terhadap isterinya, walaupun perempuan itu tidak mencemarkan dirinya, 15 maka haruslah orang itu membawa isterinya kepada imam. Dan orang itu harus membawa persembahan karena perempuan itu sebanyak sepersepuluh efa tepung jelai, yang ke atasnya tidak dituangkannya minyak dan yang tidak dibubuhinya kemenyan, karena korban itu ialah korban sajian cemburuan, suatu korban peringatan yang mengingatkan kepada kedurjanaan.

Bilangan pasal 5 berbicara tentang kekudusan kemah Israel, pertama-tama berbicara tentang tiga kenajisan secara ritual (Bil. 5:2), yang tidak ada hubungannya dengan perbuatan dosa. Kedua, tentang kerugian dan kompensasi, telah terkait dosa kejahatan. Dan yang ketiga adalah menghilangkan ketidaksetiaan dalam pernikahan, yang merupakan dosa yang sangat serius, yang harus diselesaikan secara ritual dan pengadilan.

Alkitab berbicara tentang dua kemungkinan: pertama adalah bahwa perempuan telah melakukan perzinahan dan suaminya tidak memiliki bukti (Bil. 5:12-14a, 27, 29), yang kedua adalah bahwa wanita tersebut tidak bersalah, tetapi suaminya curiga tetapi tanpa dasar (Bil. 5:14b, 28, 30). Kedua kasus ditangani dengan menggunakan prosedur yang sama, dan prosedur ini dijelaskan hanya satu kali (Bil. 5:15-26), dan untuk membuktikan bahwa dia bersalah atau tidak bersalah (ayat 19-22). Prosedur ini memiliki tiga poin utama:

1) Memberikan persembahan sajian atas kecemburuan: suaminya membawa istrinya ke imam dan memberikan persembahan sajian cemburuan tidak dituangkan minyak ke atasnya dan tidak dibubuhi kemenyan, karena korban itu ialah korban sajian cemburuan, suatu korban peringatan yang mengingatkan kepada kedurjanaan (ayat 15)

2) Meminum air kudus yang dibubuhi debu yang ada di lantai Kemah Suci: imam akan memberi wanita itu minum air pahit yang mendatangkan kutuk dan bersumpah di hadapan Tuhan. Jika wanita benar-benar melakukan perzinaan tidak setia kepada suaminya dan air pahit memasuki tubuhnya, dia akan mengembungkan perut dan mengempiskan pahanya (ini adalah eufemisme untuk rahim dan organ seksual) dan mandul tidak dapat melahirkan anak. Sebaliknya, jika dia tidak bersalah, dia dapat terhindar dari bencana dan dapat memiliki anak, membuktikan bahwa dia suci.

3) Keikutsertaan imam dalam memverifikasi: Kitab Bilangan tidak mendiskriminasi perempuan, tetapi melindungi hak-hak mereka. Sebagian besar masyarakat kuno adalah laki-laki lebih dihormati dan perempuan lebih rendah, pada zaman itu, laki-laki dapat menceraikan istri mereka secara sewenang-wenang asalkan merasa istri mereka melakukan perzinaan. Paragraf ini, bagaimanapun, mengharuskan imam untuk turun tangan dan memverifikasi apakah wanita itu benar-benar tidak setia telah melakukan perzinaan, alih-alih hanya mengandalkan perkataan satu pihak, hendak melalui pembuktian verifikasi barulah bisa diputuskan, dan di antaranya menggunakan air kudus juga menunjukkan bahwa TUHAN (Yahweh) adalah pihak yang sejatinya yang memutuskan.

Renungkan:

Keluarga adalah unit dasar masyarakat, dan hubungan pernikahan yang baik adalah kekuatan untuk stabilitas sosial. Ini adalah kemalangan terburuk yang timbul dari kecurigaan atas kesucian pasangan. Sekalipun buktinya tidak memadai dan sulit diputuskan kesalahannya, kecurigaan sudah cukup untuk menyebabkan bencana yang menghancurkan. Dalam masyarakat, tingkat perceraian terus meningkat dan merupakan masalah sosial serius. Jika ada masalah dalam pernikahan, jangan bertindak impulsif (bersifat cepat bertindak secara tiba-tiba menurut gerak hati), menyebabkan tragedi yang tidak dapat diperbaiki. Dianjurkan untuk mencari bantuan dari para ahli atau gembala, dan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Lebih baik mengambil tindakan pencegahan sebelum terjadi. Sehari-harinya tingkatkan hubungan antara suami dan istri dan cegah setiap serigala kecil yang mengganggu pernikahan.


Renungan pemahaman Kitab Bilangan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 1-16 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Februari 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.