Tag Archives: Injil Markus

Markus 13:24-25

Ketika matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 13:24-25 [ITB])
24 Tetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya25 dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan goncang.

Markus 13:24-27 sebenarnya bisa dianggap sebagai paragraf baru. Dalam teks bahasa asli Yunani, sebelum frasa pada masa itu terdapat kata ἀλλʼ yang merupakan kata sambung kontras (contrastive conjunction). ITB menerjemahkan sebagai tetapi, terjemahan bahasa Inggris NASB95 dan NET memperhatikan teks asli ini menerjemahkannya sebagai but (beberapa terjemahan bahasa Mandarin tidak menerjemahkannya). Oleh karena itu, setelah berbagai bencana dan penderitaan di ayat 5-13 sebelumnya, serta 『Pembinasa keji』 berdiri di tempat yang tidak sepatutnya di ayat 14-23, terjadi satu demi satu (harap diingat karakteristik pemenuhan ganda bahasa simbolik dalam literatur apokaliptik, penggenapan di abad pertama bukan berarti tidak akan ada penggenapan lagi di masa depan), lalu hal-hal yang dicatat dalam ayat 24-25 sudah termasuk dalam tahap yang lain (Tetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu … )

Dalam ayat 24-25, kita melihat Markus menggambarkan lebih lanjut sebuah situasi di mana tatanan astronomi kosmis sedang hancur: matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan goncang.Kita yang terbiasa berpikir berdasarkan hukum ilmu pengetahuan alam mungkin akan langsung memikirkan perkiraan para astronom tentang umur matahari. Jika umur matahari benar-benar 4,5 miliar hingga 5 miliar tahun, masa depan yang dijelaskan dalam bagian ini tampaknya tidak hanya tidak ada hubungannya dengan kita (ini jangka panjang yang terlalu jauh!), juga sepertinya tidak sesuai aturan ilmiah? Mungkinkah kedatangan Yesus yang kedua kali terjadi 450 juta tahun kemudian? Hari-hari sampai Injil disebarkan ke seluruh dunia seharusnya tidak terlalu lama. Benar, 2 Pet. 3:8-9 mengatakan: Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat Namun, 450 juta tahun lagi? Agak aneh! Jika ilmu pengetahuan biasanya pasti selalu benar, jadi apakah Alkitab salah?

Kita tidak perlu harus berpikir seperti ini. Logika di atas sebenarnya mencerminkan akibat kita dicuci otak sampai batas tertentu oleh ilmu pengetahuan dunia ini. Untuk memahami ayat ini, sekali lagi kita perlu memperhatikan karakteristik penggunaan wacana simbolik (symbolic discourse) oleh orang Yahudi zaman dahulu. Menurut Perjanjian Lama, setiap kali para nabi melihat bahwa suatu kerajaan sedang dihakimi oleh Allah, bahwa pemerintahannya akan runtuh, dan bahwa zaman akan segera ditulis ulang, mereka sering menggunakan visi dan perspektif kekacauan benda-benda di langit untuk menggambarkan dan bahkan melaporkan masalah tersebut. Misalnya:

Nabi Yesaya melihat bahwa Babel akan jatuh: Sebab bintang-bintang dan gugusan-gugusannya di langit tidak akan memancarkan cahayanya; matahari akan menjadi gelap pada waktu terbit, dan bulan tidak akan memancarkan sinarnya (Yes. 13:10)

Nabi Yehezkiel melihat bahwa Mesir akan jatuh: … langit akan Kututup dan bintangnya Kubuat berkabut. Matahari Kututup dengan awan dan bulan, cahayanya tak disinarkan. Semua yang bersinar di langit akan Kugelapkan demi engkau … (Yeh. 32:7b-8a)

Nabi Amos melihat bahwa Israel (kerajaan utara) akan jatuh: 『Pada hari itu akan terjadi,』 demikianlah firman Tuhan ALLAH, 『Aku akan membuat matahari terbenam di siang hari dan membuat bumi gelap pada hari cerah』 (Amos 8:9)

Oleh karena itu, kekacauan langit dalam Markus 13:24-25 sebenarnya mewakili Yesus (dan Markus) yang melihat bahwa kota Yerusalem akan segera jatuh (pada abad pertama), seperti Babilonia, Mesir, dan Israel (Kerajaan Utara) di masa lalu.

Bagaimana hal ini digenapi pada abad pertama? Markus 13:2 Lalu Yesus berkata kepadanya: Kaulihat gedung-gedung yang hebat ini? Tidak satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan.

Renungkan:
Bagi orang-orang Yahudi yang tidak percaya kepada Yesus, menurut Anda bagaimana perasaan mereka ketika matahari menjadi gelap pada abad pertama? Mengapa?

Menurut Anda bagaimana perasaan orang-orang Yahudi yang percaya kepada Yesus? Apakah ada bedanya dengan orang-orang Yahudi yang tidak percaya kepada Yesus? Mengapa?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 13:14-23

Pembinasa keji

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 13:14-23 [ITB])
14 Apabila kamu melihat 『Pembinasa keji』 berdiri di tempat yang tidak sepatutnya –para pembaca hendaklah memperhatikannya– maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan.15 Orang yang sedang di peranginan di atas rumah janganlah ia turun dan masuk untuk mengambil sesuatu dari rumahnya,16 dan orang yang sedang di ladang janganlah ia kembali untuk mengambil pakaiannya.17 Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu.18 Berdoalah, supaya semuanya itu jangan terjadi pada musim dingin.19 Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia, yang diciptakan Allah, sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi.20 Dan sekiranya Tuhan tidak mempersingkat waktunya, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan yang telah dipilih-Nya, Tuhan mempersingkat waktunya.
21 Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: 『Lihat, Mesias ada di sini,』 atau: 『Lihat, Mesias ada di sana,』 jangan kamu percaya.22 Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan.23 Hati-hatilah kamu! Aku sudah terlebih dahulu mengatakan semuanya ini kepada kamu.

(Daniel 9:27 [ITB])
Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa. Pada pertengahan tujuh masa itu ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan, sampai pemusnahan yang telah ditetapkan menimpa yang membinasakan itu

(Lukas 21:20 [ITB])
Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat

Markus 13 mungkin bukan literatur apokaliptik yang paling khas, namun pembahasannya memang dipenuhi dengan banyak kata simbolis, sehingga sulit untuk memahami makna dan apa yang dirujuknya, misal frasa 『Pembinasa keji』 berdiri di tempat yang tidak sepatutnya termasuk dalam kategori ini. Merujuk pada kemungkinan Injil Lukas mengutip Markus (Lukas 21:20-24 mengutip dari Markus 13:14-19; khususnya Lukas 21:20), terlihat bahwa orang-orang beriman pada abad pertama memahami makna simbolis 『Pembinasa keji』 berdiri di tempat yang tidak sepatutnya mengacu pada kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M.

Menurut Markus 13:19 (… pada masa itu akan terjadi siksaan seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia, yang diciptakan Allah, sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi), tingkat parahnya malapetaka ini tampaknya sangat besar. Lebih besar dari sekadar kehancuran Yerusalem (ini tidak menyangkal besarnya bencana yang dialami kota Yerusalem dalam Perang pertama Yahudi – Romawi). Dengan kata lain, makna yang diusung ayat-ayat Alkitab ini tampaknya tidak terbatas sekadar pada bencana yang terjadi di penghujung tahun 70 M abad ke-1. Lalu penjelasan manakah yang benar? Apakah ada cara bagi kita untuk menghindari dilema hermeneutik (pemahaman) yang ambigu ini?

Sebenarnya, hal ini mungkin bukan suatu dilema. Karena pembahasan simbolik sastra apokaliptik pada dasarnya merupakan genre yang bisa memiliki banyak rujukan, maka secara bersamaan dapat merujuk pada sesuatu yang akan terjadi dalam waktu dekat dan pada saat yang sama juga merujuk pada hal lain yang akan terjadi di masa depan. Faktanya, ketika Markus menulis tentang 『Pembinasa keji』 berdiri di tempat yang tidak sepatutnya, frasa itu sendiri bukanlah yang pertama kali muncul dalam Alkitab. Awalnya, Kitab Daniel menggunakan kata ini untuk menggambarkan penodaan Bait Suci dan penghujatan terhadap TUHAN yag dilakukan oleh raja Yunani Antiokhus IV pada tahun 167 SM. Sejak saat itu, kata simbolis ini juga menjadi ciri khas (trademark) pencemaran Bait Suci Yerusalem pada zaman atau generasi selanjutnya.

Untuk mendorong orang-orang percaya meninggalkan Yerusalem dan tidak bergabung dengan aksi bersenjata anti-Romawi yang dipimpin oleh kaum Zelot, Markus mencatat kata-kata Yesus ini untuk memberi tahu orang-orang percaya bahwa Yerusalem akan segera dihancurkan oleh penghujat. Di masa depan, apakah Bait Suci di Yerusalem akan kembali dicemarkan oleh 『Pembinasa keji』 berdiri di tempat yang tidak sepatutnya? Apakah kelak Bait Suci yang akan dinajiskan itu adalah sebuah bangunan, ataukah yang dimaksud adalah umat Tuhan (gereja)? Kita tidak tahu, apa yang kita yakini engan pasti adalah bahwa Yesus berkata: Waspadalah karena Allah pasti sangat murka ketika 『Pembinasa keji』 berdiri di tempat yang tidak sepatutnya. Yesus mengulangi berkata, hati-hatilah!

Renungkan:
Dosa atau hal buruk apa yang menurut Anda dapat dibandingkan dengan 『Pembinasa keji』 berdiri di tempat yang tidak sepatutnya? Apakah Anda membenci dosa-dosa itu? Mengapa?

Yesus berkata, Waspadalah … hati-hatilah! Menurut Anda, di manakah Anda perlu lebih berhati-hati? Mengapa?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 13:5-13

Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 13:5-13 [ITB])
5 Maka mulailah Yesus berkata kepada mereka: Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!6 Akan datang banyak orang dengan memakai nama-Ku dan berkata: 『Akulah dia,』 dan mereka akan menyesatkan banyak orang.
7 Dan apabila kamu mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang, janganlah kamu gelisah. Semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.8 Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan. Akan terjadi gempa bumi di berbagai tempat, dan akan ada kelaparan. Semua itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.
9 Tetapi kamu ini, hati-hatilah! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka.10 Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa.11 Dan jika kamu digiring dan diserahkan, janganlah kamu kuatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus.12 Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.13 Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat.

Markus 13 juga dikenal sebagai Wahyu Kecil (Little Apocalypse). Menurut pemahaman banyak masyarakat awam terhadap 《Kitab Wahyu》 menginginkan Markus 13 dapat membuat kita mampu meramalkan masa depan, memperkirakan waktu kedatangan Yesus sedini mungkin, mengetahui siapakah Anti-Kristus itu, dan meramalkan kapan terjadinya Perang Dunia Ketiga, agar kita dapat mencari keberuntungan dan menghindari kesialan, mengelola risiko dengan baik, dan menghindari segala krisis. Sederhananya, ini adalah pencarian tanda-tanda akhir zaman, dapat melihat ke masa depan, bukankah demikian?!

Namun, itu bukanlah tujuan Markus 13. Bertentangan dengan pemahaman umum, tujuan dari perikop ini bukanlah untuk mempromosikan suasana apokaliptik akhir zaman dan mengajari kita untuk menjadi ahli ramal. Markus di sini sebenarnya ingin mengingatkan pembaca untuk berhati-hati dan tidak tertipu dengan berpikir bahwa mereka tahu pasti kapan Yesus akan datang kembali. Markus 13 memiliki kata kunci: βλέπω blepo, yang muncul lima kali dalam pasal ini (13:2, 5, 9, 23, 33). Dalam paragraf ini artinya hati-hati, waspada. Kata lain yang mempunyai arti serupa adalah γρηγορέω gregoreuo di ayat 13:37. Tercatat dalam Alkitab, banyak orang percaya yang hidup di akhir tahun 60 abad pertama mungkin berpikir bahwa akhir zaman akan segera tiba dan Yesus akan segera datang kembali, salah satu penyebabnya adalah mesias palsu (false messiah).

Bagi kita, Kristus sepertinya murni istilah keagamaan dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan kehidupan politik sehari-hari. Namun, bagi orang-orang beriman di abad pertama, khususnya orang-orang Yahudi yang menjadi pengikut Yesus, Kristus bukan murni sebuah istilah keagamaan, namun juga sebuah simbol yang mengandung harapan orang-orang Yahudi bahwa Allah akan mengirimkan jenderal militer, sebuah visi yang menuntun mereka untuk mengalahkan Kekaisaran Romawi. Tindakan percaya bahwa seseorang adalah Kristus pada dasarnya setara dengan bergabung dengan angkatan bersenjata yang dipimpin oleh orang tersebut dalam pemberontakan melawan Kekaisaran Romawi. Dalam suasana inilah perang Yahudi-Romawi Pertama terjadi pada tahun 66 hingga 73 M.

Meskipun banyak orang Yahudi tertipu dengan berpikir bahwa Kristus akan datang kembali segera setelah perang, Yesus dalam Injil Markus mengingatkan para pembacanya untuk berhati-hati agar mereka tidak tertipu. Begitu pula dengan peperangan dan desas-desus tentang perang, berbagai bencana, penganiayaan, dan bahkan rusaknya etika sosial hanyalah awal dari bencana dan tidak bisa mengajarkan Anda dan saya untuk mengetahui dengan pasti kapan akhir dari bencana itu akan terjadi, ayat 7 … Semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. … Semua itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru. Ternyata berakhirnya masa penderitaan bukanlah hal yang paling penting, karena yang akan diselamatkan pada akhirnya adalah mereka yang bertahan sampai akhir, tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat, bukan mereka yang mengira bisa mengetahui secara pasti kapan Yesus akan datang kembali.

Renungkan:
Ternyata kapan berakhirnya penderitaan bukanlah hal yang terpenting. Apakah Anda setuju? Mengapa?

Hal apa yang menurut Anda paling sulit untuk Anda tanggung sampai akhir? Mengapa? Maukah Anda berdoa mengenai hal ini?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 13:1-4

Yesus telah meninggalkan

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 13:1-4 [ITB])
1 Ketika Yesus keluar dari Bait Allah, seorang murid-Nya berkata kepada-Nya: Guru, lihatlah betapa kokohnya batu-batu itu dan betapa megahnya gedung-gedung itu!
2 Lalu Yesus berkata kepadanya: Kaulihat gedung-gedung yang hebat ini? Tidak satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan.
3 Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, berhadapan dengan Bait Allah, Petrus, Yakobus, Yohanes dan Andreas bertanya sendirian kepada-Nya:4 Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi, dan apakah tandanya, kalau semuanya itu akan sampai kepada kesudahannya.

Ayat 13:1 mengatakan Yesus keluar dari Bait Suci. Kata Yunani asli untuk keluar (ἐκπορεύοµαι ekporeuomai) secara umum dapat diterjemahkan sebagai keluar, pergi keluar atau meninggalkan. Sebagai kata yang menyatakan seseorang meninggalkan suatu tempat, arti kata ini (ἐκπορεύοµαι ekporeuomai) bisa dianggap sangat umum atau jelas. Namun, ketika kata ini muncul di ayat 1. maknanya menjadi sangat istimewa.

Berdasarkan konteksnya, Yesus memasuki Yerusalem dalam pasal 11–12, dan mengalami banyak konflik serius dengan para pemimpin agama Yahudi di Yerusalem. Di satu sisi, kita melihat bahwa para pemimpin agama telah bertekad untuk menangkap Yesus (Markus 12:12); di sisi lain, dari tindakan Yesus yang meninggalkan (menolak) Bait Suci, kita dapat melihat bahwa Allah telah bertekad untuk mendesentralisasikan Bait Suci, dan bahkan menghapuskan sistem persembahan kurban berdasarkan Bait Suci yang telah sejak lama digunakan oleh Israel. Bait Suci selalu menjadi bukti kehadiran Allah bersama bangsa Israel, dan Bait Suci juga merupakan tempat bersemayamnya kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, para murid sungguh terkejut ketika Yesus meninggalkan Bait Suci dan menubuatkan kepada mereka bahwa Tidak satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan, mengandung makna teologis yang sangat mendalam.

Faktanya, berdasarkan cara penulisan tata letak sastra Markus, mungkin bukan hanya tubuh Yesus yang meninggalkan (ἐκπορεύοµαι ekporeuomai) Bait Suci, tetapi juga kemuliaan Allah. Perhatikan di 13:1 Markus mengindikasikan bahwa Yesus yang keluar, tetapi faktanya ada sekumpulan yakni murid-murid juga keluar. Menurut Yehezkiel 9-10, tepat ketika Yerusalem hendak direbut oleh Babel, kemuliaan Allah meninggalkan Bait Suci (Yehezkiel 10:18-19 Lalu kemuliaan TUHAN pergi dari ambang pintu Bait Suci dan hinggap di atas kerub-kerub. Dan kerub-kerub itu mengangkat sayap mereka, dan waktu mereka pergi, aku lihat, mereka naik dari tanah dan roda-rodanya bersama-sama dengan mereka. Lalu mereka berhenti dekat pintu gerbang rumah TUHAN yang di sebelah timur, sedang kemuliaan Allah Israel berada di atas mereka). Berdasarkan kerangka peristiwa-peristiwa Perjanjian Baru bertumpang pada kisah-kisah Perjanjian Lama, kita dapat melihat gambaran yang penuh persamaan dan resonansi: di masa lalu, TUHAN mencurahkan murka-Nya ke Yerusalem dan membiarkan Bait Suci dinajiskan oleh orang Babel, sehingga pekarangan Baiut Suci dipenuhi dengan orang-orang yang terbunuh; pada zaman Yesus dalam Injil Markus, dalam perang pertama mereka dengan Romawi (66-73 M) orang-orang Yahudi akan segera mengalami kehancuran Bait Suci lagi dan darah mengalir seperti sungai. Anak Allah (lih. Markus 12:1-12 penggarap kebun anggur membunuh Anak kekasih Pemilik kebun) yaitu Yesus, meninggalkan (ἐκπορεύοµαι ekporeuomai) Bait Suci dalam pemandangan yang telah dinubuatkan.

Jika Yesus melalui gerbang timur Bait Suci (Sebagian besar ahli Alkitab berpendapat gerbang ini adalah Gerbang Indah yang tercatat di Kis 3:2, 10) keluar meninggalkan Bait Suci dan pergi ke Bukit Zaitun di sebelah timur Yerusalem, maka, ketika Markus 13:3 mencatat bahwa duduk di atas Bukit Zaitun, berhadapan dengan Bait Allah, Yesus sebenarnya sedang melihat kembali ke gerbang timur Bait Suci tempat Dia baru saja meninggalkan Bait Suci sebelum naik gunung. Markus tidak mencatat wajah Yesus, namun menurut imajinasi saya, Yesus mungkin sedang menangis, atau air mata mungkin mengalir di dalam hatinya. Pada saat itulah para murid berani bertanya lebih lanjut kepada Yesus mengenai hal ini.

Kita mungkin tidak berpikir bahwa kita seperti para pemimpin agama di Bait Suci Yerusalem yang ingin menangkap atau bahkan membunuh Yesus, tetapi mungkin kita juga dapat membayangkan bahwa ketika kita jauh dari Tuhan, Yesus juga memiliki tatapan sedih di mata-Nya terhadap kita.

Renungkan:
Bagaimana perasaan Anda jika Yesus meninggalkan Anda? Saya tahu Dia tidak akan pernah meninggalkan kita, maksud saya bagaimana jika, bagaimana menurut Anda?

Menurut Anda seperti apa pandangan Yesus terarah kepada Anda? Mengapa?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 12:38-44

Siapakah Rabi kami?

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 12:38-44 [ITB])
38 Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar,39 yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan,40 yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.
41 Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar.42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.

Para ahli Taurat mempunyai banyak tanggung jawab, termasuk menjadi hakim di tengah masyarakat, menyalin Kitab Suci, merefleksikan teologi bangsa Israel, dan banyak lagi. Salah satu tanggung jawab terpenting adalah mengajar bangsa Israel untuk mengetahui hukum dan menaati firman Allah. Secara kebetulan, mengajar juga merupakan tanggung jawab utama Yesus di paruh kedua Injil Markus (Markus 8:22 – …) (tidak  banyak penyembuhan dan pengusiran setan seperti di paruh pertama) . Menariknya, sekelompok ahli Taurat menjadi bahan pengajaran bagi Yesus dalam bagian ini, namun mereka merupakan bahan pengajaran yang sangat negatif.

Menurut Markus, meskipun para ahli Taurat adalah guru bangsa Israel, mereka menjadi penghalang bagi manusia untuk mengenal Allah. Ajaran mereka tidak memiliki kuasa (Markus 1:22),  mereka juga menganut tradisi kuno bangsa Israel dan menolak menerima ajaran baru Yesus (Markus 2:22, 7:5).  Dan kelompok guru-guru yang tidak mendapat perkenan penyertaan Allah ini sangat mendambakan pengakuan dari orang lain, entah itu berarti suka berjalan-jalan memakai jubah panjangsuka menerima penghormatan di pasarsuka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat atau di tempat terhormat dalam perjamuan.  Itu adalah strategi-strategi  yang umum mereka pergunakan untuk memenangkan kekaguman orang lain.

Namun yang lebih menjijikkan lagi adalah situasi yang Yesus sebutkan dalam Markus 10:40  menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang,  sebagai konsekuensinya mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.  Dibandingkan dengan  kejahatan yang sebelumnya (Markus 10:38-39), kejahatan mencaplok rumah janda-janda sangatlah serius. Seharusnya mereka tahu mengacu pada tradisi hukum bangsa Israel, Allah telah dengan jelas menyatakan bahwa seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas (Kel. 22:22), dan para janda sosok  yang rentan sebegitu sering muncul dalam literatur para nabi dan hikmah (Yesaya 1:17, 23; Ratapan 5:3; Ayub 22:9, 24:3; Mazmur 68:5, 146:9). Sebagai pengajar bangsa Israel, bukankah seharusnya para ahli Taurat yang paham hukum Allah harus lebih memperhatikan kebutuhan para janda dan menegakkan keadilan bagi mereka ketika mereka diperlakukan tidak adil?

Namun, para ahli Taurat justru menelan rumah janda-janda (κατεσθίοντες τὰς οἰκίας τῶν χηρῶν). Perlu dicatat bahwa dalam bahasa  asli Yunani (οἰκία oikia)  selain merujuk   rumah tangga  properti milik keluarga, tetapi juga secara langsung merujuk sebuah rumah. Dilihat dari konteksnya, ternyata para ahli Taurat yang sengaja berpura-pura berdoa panjang lebar bukan karena kepedulian terhadap sang janda, melainkan untuk menutupi keserakahan mereka terhadap rumah atau harta milik sang janda, bahkan ini adalah cara tipu muslihat mereka menipu harta! Sebenarnya menurut tradisi Israel, para ahli Taurat pada umumnya tidak diperbolehkan memungut biaya untuk mengajar. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, para ahli Taurat melakukan pekerjaan sekuler atau mengandalkan sumbangan dan hadiah dari orang lain.

Dalam konteks budaya ini, bangsa Israel menganggap memberi sumbangan kepada ahli-ahli Taurat sebagai tindakan yang saleh. Namun, praktik ini lambat laun membuat beberapa ahli Taurat mengembangkan ekspektasi yang tidak masuk akal terhadap hadiah dari orang lain. Dan dari semua hadiah yang bisa diberikan, rumah janda-janda tentulah yang paling menggiurkan! Mereka terutama membutuhkan doa dan ajaran orang-orang. Setelah mendapat perhatian dari ahli-ahli Taurat, dengan sendirinya mereka akan mewariskan rumahnya atas nama ahli-ahli Taurat untuk melambangkan rasa syukur mereka kepada Allah.

Berbeda sekali dengan ahli-ahli Taurat yang tamak ini, ada seorang janda miskin. Peser (λεπτός) adalah koin tembaga pecahan terkecil yang beredar di Yudea pada zaman Yesus. Dua peser kecil setara dengan 1/64 Dinar, yang setara dengan upah satu hari bagi seorang pekerja biasa. Persembahan yang sangat kecil, tapi itu adalah seluruh nafkahnya (ὅλον τὸν βίον αὐτῆς) memikiki makna seluruh hidupnya. Janda miskin tak dikenal ini layak menjadi guru kita (berbeda sekali dengan ahli-ahli Taurat yang tamak).

Renungkan:
Para ahli Taurat berdoa panjang-panjang, tetapi fokusnya salah pada imbalan materi yang diperoleh dari manusia. Dengan cara apa Anda memastikan bahwa Anda tidak terjebak dalam situasi ini?

Janda miskin ini mempersembahkan dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya (ayat 44). Bisakah Anda setuju dengan tindakannya? Mengapa?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 12:35-37

Mereka bertanya-tanya: Bagaimana mungkin Yesus ini adalah Kristus?

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 12:35-37 [ITB])
35 Pada suatu kali ketika Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berkata: Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah anak Daud?36 Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata: 『Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu.』37 Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula? Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat.

(Mazmur 110:1 [ITB])
Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.

(Yer. 23:5-6 [ITB])
Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: 『TUHAN – keadilan kita』

Kata Kristus diterjemahkan dari bahasa Yunani ( Χριστός Christos), dan kata Yunani ini diterjemahkan dari teks Ibrani (מָשִׁיחַ Mashiach), diterjemahkan menjadi Mesias. Oleh karena itu, meskipun dua kata Kristus dan Mesias berasal dari bahasa asli dan latar belakang budaya zaman yang berbeda, keduanya sebenarnya sinonim dan mengacu pada orang yang sama yang diurapi. Menurut Perjanjian Lama, ketika seseorang dipilih dan ditunjuk oleh Allah untuk melakukan tugas tertentu (misalnya menjadi imam, nabi, atau raja), Allah akan mengutus seorang hamba-Nya untuk menuangkan minyak urapan ke kepala orang yang ditugaskan oleh Allah.

Karena Allah telah berjanji kepada Daud bahwa keturunannya akan duduk di atas takhta Israel selamanya (2 Sam. 7:12-16), banyak orang Israel yang percaya bahwa bangsa Israel tidak akan pernah dikalahkan oleh bangsa asing atau pemerintahan lain. Oleh karena itu, meskipun bangsa Israel diasingkan pada abad kedelapan hingga keenam SM, para nabi semuanya menubuatkan bahwa di masa depan akan ada hamba Allah yang akan mengembalikan kejayaan bangsa Israel dan membawa perdamaian dan kebenaran (Yesaya 9:6 -7, Yeremia 23:5 -6). Oleh karena itu, ketika Yesus merujuk pada anak Daud (Markus 12:35, teks aslinya adalah anak Daud (υἱὸς Δαυίδ huios Dauid) Ketika frasa kata benda Δαυίδ digunakan, yang dimaksud bukan hanya keturunan fisik Daud, tetapi juga pemimpin politik dan militer yang dinanti-nantikan oleh bangsa Israel, penyelamat yang akan segera melepaskan mereka dari hegemoni jajahan Kekaisaran Romawi. Oleh karena itu, istilah anak Daud telah menjadi sinonim yang mengikat erat wacana politik dan wacana agama: Mesias jenis ini adalah Yang diurapi jenis wacana politik

Tapi inilah masalahnya. Sebagai keturunan Daud secara fisik, derajat atau status Mesias ini tampaknya setara dengan Daud. Dengan demikian, bagaimana Yesus bisa menjadi Kristus? Di sisi lain, beberapa orang Yahudi mengacu pada Perjanjian Lama (seperti Bilangan 18 dan Ulangan 33) dan tradisi individu lainnya (seperti 《Aturan Pemberkatan》 komunitas Qumran) percaya bahwa peran utama Mesias adalah sebagai imam yang menurut kategori Harun, untuk menghapus dosa manusia melalui persembahan kurban. Namun, karena Yesus bukan keturunan suku Lewi, bagaimana ia dapat berperan sebagai orang yang diurapi dari Imam Mesias (Priestly Messiah) ini?

Namun, berdasarkan Mazmur 111:1, Yesus menunjukkan bahwa karena Daud menyebut Mesias sebagai Tuanku, itu berarti status Mesias lebih tinggi daripada status Daud. Karena orang-orang Yahudi pada umumnya tidak menganggap keturunan mereka memiliki status yang lebih tinggi dari diri mereka sendiri, hal ini menunjukkan bahwa identitas Mesias jelas bukan sekedar keturunan fisik Daud. Oleh karena itu, di satu sisi, Yesus tidak menyangkal bahwa Mesias adalah keturunan Daud secara fisik, namun di sisi lain, Yesus menolak pemahaman Kitab Suci Perjanjian Lama dari para pemimpin agama (ahli Taurat) saat itu tentang identitas Mesias, dan menganggap pemahaman mereka sebagai Itu tidak cukup. Mereka memiliki pandangan yang tidak memadai atau bahkan menyimpang mengenai Mesias, tentu saja mereka gagal mengenali Yesus sebagai Mesias.

Renungkan:
Adakah yang menyadari bahwa ia membutuhkan Yesus untuk mengoreksi konsepsinya tentang Anak Allah? Apa konsepnya? Siapa yang ingin agar konsepnya tentang Anak Allah dikoreksi oleh Yesus? Mengapa?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 12:28-34

Mewarisi perintah paling penting dalam Perjanjian Lama

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 12:28-34 [ITB])
28 Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: Hukum manakah yang paling utama?
29 Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: 『Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.』30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.31 Dan hukum yang kedua ialah: 『Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.』 Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.
32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.33 Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.
34 Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah! Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Menurut tradisi Yudaisme tradisional, perintah-perintah agama dapat dibagi menjadi dua kategori. Kategori pertama: 365 perintah negatif (dilarang melakukan sesuatu): jumlah ini sama dengan jumlah hari dalam setahun, melambangkan larangan yang harus dipatuhi setiap hari. Kategori kedua: 248 perintah positif (wajib dilakukan): angka ini dikatakan sama dengan jumlah tulang dan organ utama dalam tubuh manusia, melambangkan perintah yang harus dipatuhi setiap orang dengan sepenuh hati. Dalam hal ini, di antara sekian banyak perintah, apakah ada yang paling utama dan penting? Ini adalah konteks di mana ahli-ahli Taurat bertanya kepada Yesus.

Jawaban Yesus adalah mengutip Ul. 6:4-5, yang merupakan bagian dari Ul. 6:4-9. Tradisi Gereja umumnya menyebutnya sebagai Shema. Di satu sisi, Shema adalah transliterasi dari kata Ibrani pertama dalam bagian ini, שְׁמַע, yang berarti mendengarkan; di sisi lain, Shema juga mewakili isi doa sehari-hari dalam tradisi agama Yahudi, termasuk Ul. 6:4-9, Ul. 11:13-21, dan Bil. 15:37-41. Ketiga bagian tersebut mengandung poin kunci, yaitu menaati perintah Allah. Dan Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri mengacu pada Im. 19:18.

Ada beberapa hal khusus mengenai bagian ini. Pertama, isi Markus 12:32-34 bersifat unik, ini juga merupakan satu-satunya bagian dalam keempat Injil yang memberikan gambaran positif tentang ahli-ahli Taurat; kedua, ketika para ahli Taurat mengajukan pertanyaan kepada Yesus dengan cara yang tidak biasa; dengan cara yang tanpa permusuhan, Yesus juga dengan senang hati menjawab para ahli Taurat; ketiga, Markus tidak hanya mencatat penegasan para ahli Taurat terhadap jawaban Yesus bahkan juga melengkapi jawaban Yesus: Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.. Keempat, Markus diakhiri dengan penilaian positif Yesus terhadap para ahli Taurat: Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah. Penulis percaya bahwa nilai keberadaan dari perikop ini sangat tinggi. Pertama, ternyata tidak semua ahli Taurat dan orang Farisi menentang Yesus; kedua, ternyata ajaran Yesus tidak jauh dari Yudaisme tradisional, dan Injilnya tetap menekankan bahwa Allah adalah yang Esa; ketiga, Markus meskipun hanya mencatat satu orang ahli Taurat yang berdialog secara positif dengan Yesus, keterwakilan dialognya dengan Yesus jelas melampaui hubungan pribadinya dengan Yesus. Kalau tidak, Markus tidak akan bisa mengatakan: seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. Keempat, ahli-ahli Taurat masih membutuhkan keselamatan dari Yesus. Meski tidak jauh dari Kerajaan Allah, sebenarnya ia masih perlu masuk Kerajaan Allah melalui Yesus. Penulis yakin bahwa Markus berharap menggunakan dialog ini untuk memanggil para pemimpin sistem keagamaan Yahudi, berharap mereka juga dapat berbagi wawasan dari ahli Taurat ini.

Renungkan:
Menurut pemahaman Markus, seluruh sistem ahli Taurat sebenarnya telah jatuh ke dalam keadaan yang sangat buruk pada zaman Yesus (Markus 12:38-44). Namun demikian, Tuhan masih dapat memimpin beberapa orang dalam sistem yang demikian untuk mencari Dia. Dengan kata lain, identitas sosial tidak dapat sepenuhnya menjelaskan identitas seseorang. Saat ini, apakah kita sudah terlalu mengadopsi hukum masyarakat, mendefinisikan orang-orang dalam sistem tertentu dari perspektif kategori sosial, dan mengecualikan mereka dari kerajaan Allah? Yesus tidak akan melakukan hal ini, namun orang Farisi akan melakukannya. Bukankah kita sepatutnya bukan orang yang demikian?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 12:18-27

Pertanyaan kebangkitan

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 12:18-27 [ITB])
18 Datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya:19 Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: 『Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.』20 Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan.21 Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga.22 Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itupun mati.23 Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.
24 Jawab Yesus kepada mereka: Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah.25 Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.26 Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: 『Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub?』27 Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!
(Ul.25:5 [ITB])
Apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya; saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi isterinya dan dengan demikian melakukan kewajiban perkawinan ipar.

Setelah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat gagal menantang Yesus, kelompok penantang berikutnya adalah orang-orang Saduki. Ini adalah satu-satunya kali orang Saduki muncul dalam Injil Markus. Menurut perkembangan sejarah bangsa Yahudi, kaum Saduki pertama kali muncul pada masa dinasti Hasmonean. Mereka berlatar belakang bangsawan dan imam, kemudian menghilang setelah kehancuran Yerusalem (70 M). Pendirian politik mereka cenderung sejalan dengan Kekaisaran Romawi, sedangkan pendirian teologis mereka cenderung mendukung kepemimpinan berbasis Bait Suci; mereka menentang kebangkitan tubuh, malaikat, dan hantu (lihat Kis. 23:8). Mereka mengira posisi teologi kebangkitan Yesus mirip dengan saingan mereka, orang Farisi, yaitu, orang akan membawa hubungan di dunia dan juga kekurangan mereka sebelum kematian diteruskan setelah kebangkitan.

Orang-orang Yahudi kuno menganggap firman Allah kepada nenek moyang mereka sebagai aturan emas mereka. Jika mereka dapat dengan setia menafsirkan kitab suci dan mengemukakan makna serta penerapannya saat ini dan di masa depan, mereka akan menjadi seorang penafsir yang setia pada hukum Musa dan mampu merespons arus saat ini. Situasi ini mencerminkan rasa hormat kepada Allah dan semacam bukti (a kind of validation, not verification) bahwa dia adalah hamba Allah. Oleh karena itu, jika Yesus gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh mereka tentang perkawinan levirat (juga dikenal sebagai perkawinan saudara ipar) setelah kebangkitan, maka wibawa kuasa-Nya akan melemah.

Orang Saduki memiliki pertanyaan ini berasal dari budaya umum di Timur Dekat kuno. Sederhananya, dalam masyarakat yang didasarkan pada struktur marga (clan structure), ketika seorang perempuan tidak meninggalkan anak laki-laki ketika suaminya meninggal, dia harus menikah dengan saudara laki-laki lain atau kerabat laki-laki lain dalam keluarga suami yang meninggal. Karena tradisi ini juga ditemukan dalam Perjanjian Lama (Kejadian 38, Ulangan 25:5-10, Rut 3-4), apakah hal ini akan menimbulkan masalah etika setelah manusia dibangkitkan?

Menurut pemahaman kaum Saduki, jika tidak ada kebangkitan setelah kematian, masalah ini tidak akan muncul. Tentu saja, perhatian utama mereka sebenarnya bukanlah masalah etika pernikahan levirat ini. Mereka ingin membuktikan bahwa mereka benar dan Yesus salah. Alasan mereka: kelangsungan hidup seseorang tidak bergantung pada kebangkitan di masa depan, tetapi pada kelanjutan garis keturunan orang tersebut. Ketika seseorang melahirkan seorang anak laki-laki, warisan itu menjadi kebangkitan yang berkelanjutan, dan namanya tidak akan dihapuskan di Israel. Oleh karena itu, orang Saduki tidak percaya pada kebangkitan berdasarkan kuasa Allah; atau mungkin mereka akan mengatakan bahwa di dunia hanya ada satu macam kebangkitan (ἀνάστασις anastasin), yaitu dalam Kitab Kejadian 38:8 terjemahan Septuaginta, bangkitkanlah keturunan (ἀνίστηµι). Ternyata kata Yunani asli untuk melahirkan seorang putra dan menjadikan seorang ratu (ἀνίστηµι) adalah kata yang sama dengan kebangkitan (ἀνάστασις); jadi kata ἀνίστηµι selain memiliki arti bangkitkanlah keturunan juga memiliki arti bangkit dan kebangkitan. Barangkali inilah yang menjadi latar belakang logis bagi kaum Saduki untuk mengganti kuasa Allah dengan hukum keturunan orang mati di bumi.

Renungkan:
Kita bukan orang Saduki, namun kita semua sering berada dalam bahaya menggantikan kuasa Allah dengan hukum keturunan orang mati di bumi, apakah Anda setuju? Mengapa? Setelah Anda percaya kepada Tuhan, hukum orang mati apa yang telah digantikan dengan kuasa Allah? Berdasarkan sepengetahuan Anda, apa hukum orang mati yang perlu diganti dengan kuasa Allah?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 12:13-17

Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib diberikan kepada Kaisar, kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah!

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 12:13-17 [ITB])
13 Kemudian disuruh beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan.14 Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?
15 Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!
16 Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: Gambar dan tulisan siapakah ini? Jawab mereka: Gambar dan tulisan Kaisar.
17 Lalu kata Yesus kepada mereka: Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah! Mereka sangat heran mendengar Dia.

Orang-orang Farisi dan Herodian ingin menggunakan kata-kata Yesus sendiri untuk mencelakai Yesus, karena kata-kata Yesus, terutama ajaran-Nya, selalu berwibawa (ἐξουσία exousian, Markus 1:22, 1:27, 2:10), memiliki pengaruh yang besar pada manusia dan bahkan roh jahat, tidak seperti para ahli Taurat. Karena kuasa Yesus berasal dari Allah, hal itu juga menunjukkan konsistensi antara dalam dan luar saat menghadapi orang lain. Oleh karena itu, jika ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi dapat mengungkap sesuatu kekurangan dari diri Yesus, maka ancaman otoritas-Nya terhadap para pemimpin agama di Yerusalem akan sangat berkurang. Oleh karena itu, meskipun permasalahan mereka terlihat sangat teologis, sebenarnya permasalahan mereka lebih berkaitan dengan kekuasaan dan pertahanan diri.

Yesus tentu saja memahami kemunafikan sikap orang-orang mempertahankan diri yang berbasis kekuasaan ini. Dalam masyarakat yang terfragmentasi, masyarakat mudah tergoda dengan pemikiran seperti ini, karena perebutan kekuasaan seperti ini dapat menjelaskan banyak fenomena sosial. Pada saat itu, kaum Farisi enggan membayar pajak kepada kekaisaran, namun mereka memilih untuk berkompromi; kaum Herodian dan Saduki, sebagai pihak mapan cenderung bersedia membayar pajak; kaum Zelot memandang membayar pajak menunjukkan bersedia tunduk pada hegemoni penjajahan asing dan menjadikan diri sendiri sebagai budak. Di zaman yang penuh perpecahan ini, bagaimana Yesus bisa menghadapinya? Ketika Yesus melihat uang keping Denarius Romawi yang di atasnya tercetak gambar serta nama kaisar Romawi Augustus dan istrinya yang disembah sebagai dewa, dalam situasi umum orang Romawi memuja kaisar Romawi sebagai dewa, apakah Yesus masih bisa menempatkan diri sendirian tidak mengikuti arus? Apakah masih bisa melindungi diri sendiri? Bisakah Anda bisa terus memakai topeng otoritas Anda?

Jawaban Yesus sangat halus. Ketika ahli Taurat bertanya: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?, bahasa asli membayar pajak adalah δίδωµι didomi yang berarti memberi. Namun, ketika Yesus menjawab, Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah! kata bahasa asli yang dipakai adalah ἀποδίδωμι apodidomi yang berarti memberikan kembali/pengembalian. Tampaknya dinar Romawi yang terlihat jelas harus dikembalikan kepada Roma! Namun apa yang harus kita kembalikan kepada Allah? Tanya jawab ini telah berkembang dari tingkat di mana setiap orang secara relatif tahu, sampai ke tingkat di mana manusia harus secara pribadi menanggapi bimbingan Allah untuk menjawabnya.

Di satu sisi, jawaban Yesus yang membawakan tingkat ganda ini memisahkan apa yang milik Kaisar dan apa yang milik Allah, dua tingkat yang tidak sama dan dapat dibahas secara terpisah. Dengan demikian, membayar pajak kepada Kaisar tidak serta merta bertentangan dengan penyembahan kepada Allah Yang Maha Esa! Di sisi lain, bagi mereka yang menantikan Allah, memutuskan atas apa yang merupakan milik Allah jelas lebih terbuka, lebih kontekstual terkait kehidupan, dan lebih penting dibandingkan memutuskan atas apa yang merupakan milik Kaisar. Ketegangan antara keduanya sebenarnya terus berubah. Tuhan akan membimbing kita, terima kasih Tuhan.

Renungkan:
Apakah Anda pernah atau sedang menghadapi ketegangan ini? Pernahkah Anda mencari solusi untuk masalah ini? Jika Anda mengubah ketegangan ini menjadi sebuah doa, apa yang akan Anda doakan?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 12:13-15

Pertanyaan yang menyusahkan

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 12:13-15 [ITB])
13 Kemudian disuruh beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan.14 Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?

Orang-orang Farisi dan Herodian mulai mengubah permusuhan mereka terhadap Yesus menjadi bentuk tindakan nyata. Strategi pertama mereka adalah menjerat Yesus dengan pertanyaan tentang kesetiaan politik yang hanya mempunyai dua kemungkinan jawaban: Apakah sah membayar pajak kepada Kaisar? Haruskah kita membayarnya? Mengapa jawaban ini bisa menjebak Yesus? Hal ini memerlukan kita meninjau kembali beberapa ingatan kolektif orang-orang Yahudi pada masa itu.

Peristiwa terjadi ketika wilayah Siria yaitu Yudea, Samaria, dan Idumea diserahkan kepada raja wilayah Arkhelaus (putra Herodes Agung) untuk memerintah setelah kematian Herodes Agung (4 SM). Namun karena pengelolaan yang buruk, Kekaisaran Romawi pada tahun 6 M menempatkan wilayah-wilayah tersebut di bawah kendali gubernur Romawi. Faktanya, orang-orang Yahudi sudah hidup di bawah Kekaisaran Romawi baik raja Herodes Agung maupun raja Arkhelaus tidak dapat dianggap sebagai pemimpin negara yang merdeka dan berdaulat. Namun, secara relatif, lebih baik dikelola oleh orang Yahudi (meskipun darah Yahudi dalam keluarga Herodes tidak murni sama sekali) daripada oleh orang Romawi yang bukan Yahudi. Oleh karena itu, ketika Kekaisaran Romawi menghapuskan kekuasaan raja Arkhelaus pada tahun 6 M, sebagian orang Yahudi merasa sangat tidak puas. Dahulu, orang-orang Yahudi masih membayar pajak kepada bangsanya sendiri, namun kini mereka harus membayar pajak kepada hegemoni rezim non-Yahudi.

Menurut Lukas 2:2, ketika Kirenius menjadi wali negeri Siria, kekaisaran melakukan operasi yang disebut Sensus Quirinius/Kirenius di provinsi Siria untuk mendaftarkan populasi Yahudi dan berbagai properti kepemilikan. Pada saat ini, sekelompok orang Yahudi menjadi bersemangat yang saleh untuk Allah dan mencoba menggunakan kekerasan untuk mengintimidasi orang Yahudi lainnya agar tidak membayar pajak. Kelompok orang ini adalah kaum Zelot, dan pendiri mereka adalah Yudas dari Galilea. Dengan memperpanjang kisah Pinehas dalam Bilangan 25 sebagai tradisi warisan, kaum Zelot percaya bahwa membayar pajak kepada orang asing bukan saja akan mengkhianati Allah, tetapi juga akan membuat mereka menjadi budak. Jika ada orang Yahudi yang melakukan hal ini, mereka akan membakar rumahnya mewakili peringatan dari Allah kepada umat-Nya.

Sesudah dia, pada waktu pendaftaran penduduk, muncullah si Yudas, seorang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan cerai-berailah seluruh pengikutnya (Kis. 5:37)

Meskipun upaya kelompok orang ini tidak berhasil, sampai batas tertentu, mereka mungkin menjadi pahlawan bagi banyak orang Yahudi. Karena meski tidak berhasil, mereka seolah-olah tidak melupakan hukum nenek moyang mereka, dan jujur serta setia kepada bangsa, Allah dan diri mereka sendiri, bahkan mengorbankan nyawa mereka untuk perjuangan itu. Berdasarkan kejujuran yang saleh bersemangat ini, Yesus seharusnya meniru mereka dan tidak membayar pajak, tetapi dengan demikian Yesus melanggar hukum Kekaisaran Romawi. Namun, jika Yesus setuju untuk membayar pajak, meskipun Dia dapat menghindari ancaman Kekaisaran Romawi, Dia akan kehilangan aura di depan orang banyak Yahudi, sehingga menyebabkan orang banyak dan bahkan para murid merasa kecewa kepada-Nya, mempertanyakan kesetiaan-Nya di hadapan Allah. Bagaimana Yesus dapat menjawab hal ini?

Renungkan:
Pernahkah Anda menghadapi situasi serupa? Bagaimana tanggapan Anda?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).