Tag Archives: Injil Markus

Markus 14:54, 66-72

Tiga kali menyangkal Tuhan, namun Tuhan tetap mengasihi

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 14:54, 66-72 [ITB])
54 Dan Petrus mengikuti Dia dari jauh, sampai ke dalam halaman Imam Besar, dan di sana ia duduk di antara pengawal-pengawal sambil berdiang dekat api.
66 Pada waktu itu Petrus masih ada di bawah, di halaman. Lalu datanglah seorang hamba perempuan Imam Besar,67 dan ketika perempuan itu melihat Petrus sedang berdiang, ia menatap mukanya dan berkata: Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.68 Tetapi ia menyangkalnya dan berkata: Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksud. Lalu ia pergi ke serambi muka (dan berkokoklah ayam).69 Ketika hamba perempuan itu melihat Petrus lagi, berkatalah ia pula kepada orang-orang yang ada di situ: Orang ini adalah salah seorang dari mereka.70 Tetapi Petrus menyangkalnya pula. Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ berkata juga kepada Petrus: Engkau ini pasti salah seorang dari mereka, apalagi engkau seorang Galilea!71 Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!72 Dan pada saat itu berkokoklah ayam untuk kedua kalinya. Maka teringatlah Petrus, bahwa Yesus telah berkata kepadanya: Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali. Lalu menangislah ia tersedu-sedu.

Ini adalah bagian terakhir yang dituliskan dalam bentuk sandwich dalam Injil Markus. Dalam Markus 14:53-72, Markus menggunakan cara penulisan sandwich menggambarkan dua peristiwa yaitu persidangan Yesus (53, 55-65) dan penyangkalan Petrus terhadap Tuhan Yesus (ayat 54, 66-72). Meskipun Yesus secara langsung menyatakan identitas-Nya sebagai Kristus selama diinterogasi, sebaliknya Petrus menyangkal mengenal Yesus sebanyak tiga kali ketika dipertanyakan orang. Di satu sisi, hal ini menunjukkan ketekunan Tuhan Yesus gigih di bawah tekanan; namun di sisi lain, hal ini tentu menyoroti lemahnya Petrus.

Berharga untuk diperhatikan bahwa Petrus menyangkal Tuhan sebanyak tiga kali. Pertama-tama, bertambahnya jumlah orang yang kepada mereka Petrus menyangkal Tuhan: pertama kali dia menyangkal Tuhan hanya dinyatakan kepada seorang pelayan perempuan (ayat 66-68), kedua kalinya dia menyangkal Tuhan dinyatakan kepada pelayan perempuan dan termasuk orang-orang berdiri di sampingnya (ayat 69), dan yang ketiga kalinya meluas bertambah orang-orang yang ada di situ (ayat 70). Sebaliknya, lingkungan terang dan gelap karena tidak mengenal Tuhan semakin gelap: dari halaman yang penuh cahaya api (ayat 54, 66) hingga serambi muka dekat gerbang (ayat 68). Yang lebih serius lagi adalah nada dan sikap Petrus dalam menyangkal Tuhan menjadi semakin parah: yang pertama dan kedua hanyalah penyangkalan yang sederhana dan langsung (ayat 68, 70).

Namun penyangkalan Petrus yang ketiga sangat menentukan: Petrus mengutuk dan bersumpah:『Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!』 (ayat 71) Pertama, demi menunjukkan bahwa dia tidak mengenal Yesus, Petrus menggunakan orang ini(τὸν ἄνθρωπον τοῦτον) untuk memanggil Yesus. Belum lama sebelumnya, Petrus dengan lantang berkata, Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau(ayat 31). Namun sekarang, dia menganggap Yesus sebagai orang asing. Jika merujuk pada Markus 8:38 Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus. Karena Petrus sudah menganggap Yesus sebagai aib yang memalukan, maka dengan demikian, Anak Manusia seharusnya menganggap Petrus sebagai aib. Bahkan, ketika Petrus menyangkal Tuhan untuk ketiga kalinya, ia menggunakan kata-kata yang mengutuk dirinya sendiri (kutukan: ἀναθεµατίζω) untuk bersaksi bahwa ia benar-benar tidak mengenal Yesus. Petrus menyangkal Tuhan dengan sikap seperti ini, tidakkah ia layak mati seperti halnya Yudas?

Puji syukur kepada Tuhan, Markus tidak menceritakan lagi kisah Petrus berikutnya. Namun dalam Markus 16:7, Markus mencatat bahwa malaikat mengatakan hal ini kepada beberapa wanita: sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: 『Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.』 Ini menunjukkan bahwa Tuhan ingin memulihkan Petrus. Meski Petrus menyangkal Tuhan sebanyak tiga kali, hal itu tidak memisahkan kasih Tuhan darinya. Apakah kita boleh menyangkal Tuhan? Jangan pernah! Namun seperti yang ditunjukkan oleh kisah Petrus, kita selalu punya pengharapan selama berada di dalam Yesus. Kasih karunia-Nya sempurna dalam kelemahan kita.

Renungkan:
Petrus bersungguh-sungguh menyatakan bahwa ia tidak pernah akan menyangkal Dia, tetapi mengutuk dan bersumpah tidak mengenal Yesus. Bagaimana hal ini dibandingkan dengan perjalanan iman Kristen Anda? Apa pemahaman Anda mengenai hal ini?

Meski Petrus mengutuk dirinya demi menyangkal Yesus, tetapi hal itu sama sekali tidak melemahkan pilihan dan kasih Tuhan terhadapnya. Hal ini memberikan wawasan apa terhadap hubungan Anda dengan Tuhan?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 14:53, 55-65

Siapa yang menghancurkan Bait Suci?

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 14:53, 55-65 [ITB])
53 Kemudian Yesus dibawa menghadap Imam Besar. Lalu semua imam kepala, tua-tua dan ahli Taurat berkumpul di situ.
55 Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian terhadap Yesus supaya Ia dapat dihukum mati, tetapi mereka tidak memperolehnya. 56 Banyak juga orang yang mengucapkan kesaksian palsu terhadap Dia, tetapi kesaksian-kesaksian itu tidak sesuai yang satu dengan yang lain. 57 Lalu beberapa orang naik saksi melawan Dia dengan tuduhan palsu ini: 58 「Kami sudah mendengar orang ini berkata: 『Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Kudirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia.』」 59 Dalam hal inipun kesaksian mereka tidak sesuai yang satu dengan yang lain.
60 Maka Imam Besar bangkit berdiri di tengah-tengah sidang dan bertanya kepada Yesus, katanya: 「Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?」 61 Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: 「Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?」
62 Jawab Yesus: 「Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.」
63 Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: 「Untuk apa kita perlu saksi lagi? 64 Kamu sudah mendengar hujat-Nya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?」 Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan, bahwa Dia harus dihukum mati.
65 Lalu mulailah beberapa orang meludahi Dia dan menutupi muka-Nya dan meninju-Nya sambil berkata kepada-Nya: 「Hai nabi, cobalah terka!」 Malah para pengawalpun memukul Dia.

Pada zaman dahulu, pengadilan Yahudi tidak memiliki jaksa resmi. Prosedur argumentatif atau dasar penuntutan didasarkan pada keterangan para saksi. Salah satu prinsip untuk menjamin persidangan yang adil dan kesaksian yang kredibilitas adalah diperlukannya dua orang saksi atau lebih untuk memastikan keaslian kesaksian tersebut, barulah tersangka dapat dieksekusi (Kel. 20:16; Bil. 35:30; Ul. 17:6), dan persidangan yang dihadapi Yesus didasarkan pada tradisi ini.

Namun sepertinya belum ada dakwaan atau pidana yang jelas dalam persidangan ini. Imam-imam kepala dan seluruh Mahkamah Agama datang, bukan untuk mendengarkan kasus ini secara adil, tetapi untuk 「mencari kesaksian terhadap Yesus supaya Ia dapat dihukum mati」. Dengan kata lain, meski tidak ada tuntutan yang jelas, namun hukuman mati sudah hampir pasti. Namun, para anggota Dewan Yahudi masih berusaha menghormati 「keadilan prosedural」 untuk memastikan bahwa mereka menghakimi Yesus sesuai dengan standar keadilan mereka.

Menurut Injil Markus, kesaksian para saksi tidak pernah menghasilkan tuduhan yang konsisten karena kesaksian palsu mereka tidak sesuai yang satu dengan yang lain. Namun jika mengacu pada konteks kitab suci, di antara sekian banyak saksi palsu, tampaknya ada satu yang lebih mirip mendekati 「benar」, karena beberapa orang (τινες tines) memberikan kesaksian palsu yang sama, menuduh Yesus berkata: 「『Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Kudirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia.」 Faktanya, merujuk pada Matius 26:60 「… walaupun tampil banyak saksi dusta. Tetapi akhirnya tampillah dua orang, yang mengatakan: 『Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari.』」. Di sini kata 「akhirnya」 ὕστερον δὲ husteron de (NASB95 menerjemahkannya sebagai 「But later on/Tetapi kemudian」), menunjukkan bahwa tampaknya sampai batas tertentu di mata kedua orang ini memandang niat Yesus untuk 「menghancurkan Bait Suci」 adalah 「benar」. Kesaksian palsu inilah yang menyadarkan imam besar untuk berdiri di tengah-tengah kerumunan dan meminta Yesus untuk menjawab dan menjelaskan identitas diri-Nya.

Meskipun Yesus menubuatkan kepada murid-murid-Nya bahwa Bait Suci akan segera dihancurkan (Markus 13:1-2), Yesus tidak pernah benar-benar mengatakan bahwa Dia akan menghancurkan Bait Suci. Di mata Yesus, mereka yang menghancurkan Bait Suci sebenarnya adalah 「orang Yahudi」 (Yoh. 2:19-22). Namun, alasan mengapa kesaksian palsu ini bisa begitu salah (Markus 15:29-30) adalah karena penghancuran Bait Suci sebenarnya merupakan hal yang tabu bagi bangsa Israel dan merupakan tanda bahwa bangsa mereka akan segera dimusnahkan. Dari sudut pandang Allah, sama seperti Dia meninggalkan tabernakel di Silo (1 Samuel 4) dan membiarkan Silo menjadi tempat yang sunyi; penghancuran Bait Suci di Yerusalem melambangkan penghakiman Allah yang sangat berat terhadap orang-orang Yahudi, bahkan ditolak dan ditinggalkan Allah (Mazmur 78:59). Mengacu pada permusuhan orang-orang Yahudi di masa lalu terhadap mereka yang juga menubuatkan kehancuran Bait Suci (Uria dan Yeremia, lihat Yeremia 26:1-24), dapat dibayangkan bahwa para pemimpin agama Yahudi dan bahkan khalayak ramai di zaman Yesus tidak akan membiarkan Yesus pergi. Siapa pun yang memusuhi Bait Suci juga tidak puya niat baik terhadap penduduk Yerusalem.

「Yesus berbicara sedemikian buruk tentang kita seperti itu, Dia harus mati!」 Ini mungkin tuduhan yang ada di benak para imam kepala dan seluruh Mahkamah Agama terhadap Yesus. Puji syukur kepada Tuhan, meski Bait Suci di Yerusalem akan segera dihancurkan, umat beriman telah menjadi Bait Suci yang tidak statis, bisa bergerak. Meskipun karya pekerjaan tangan manusia telah ditolak, kebangkitan Yesus telah menjadikan Anda dan saya batu hidup yang tidak dibuat oleh tangan manusia (1 Petrus 2:4-5).

Renungkan:
Anda suka orang lain berbicara hal baik atau buruk tentang tempat tinggal Anda? Mengapa?

Mana yang lebih sesuai dengan kehendak Allah, perbuatan yang baik atau buruk? Mengapa?

Kemah Suci di Silo dan Bait Suci di Yerusalem keduanya ditinggalkan. Apakah menurut Anda, Bait Suci umat beriman bisa dicampakkan menjadi reruntuhan sunyi? Mengapa?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 14:43-52

Penjahat keji yang mengkhianati Anak Manusia dengan ciuman

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 14:43-52 [ITB])
43 Waktu Yesus masih berbicara, muncullah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua.
44 Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia dan bawalah Dia dengan selamat.45 Dan ketika ia sampai di situ ia segera maju mendapatkan Yesus dan berkata: Rabi, lalu mencium Dia.46 Maka mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya.
47 Salah seorang dari mereka yang ada di situ menghunus pedangnya, lalu menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya.
48 Kata Yesus kepada mereka: Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku?49 Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi haruslah digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci.
50 Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.
51 Ada seorang muda, yang pada waktu itu hanya memakai sehelai kain lenan untuk menutup badannya, mengikuti Dia. Mereka hendak menangkapnya,52 tetapi ia melepaskan kainnya dan lari dengan telanjang.

Menurut kitab suci, kata ciuman di Markus 14:44 dalam bahasa aslinya adalah φιλεω phileo, tetapi ciuman dalam Markus 14:45 adalah κατα-φιλέω kataphileo. Mengapa Markus menggunakan dua kata berbeda untuk mengungkapkan arti yang sama? Menambahkan preposisi κατα di depan φιλεω (salah satu arti umum adalah menuju/terarah pada), apakah ini berarti ciumannya lebih bertenaga keras, yaitu ayat 44 dan 45 mencerminkan dua cara mencium yang berbeda? Kita juga dapat mengajukan lebih banyak pertanyaan tentang rekonstruksi sejarah, karena kita semua mungkin ingin dapat merekonstruksi sejarah dengan akurat. Namun nyatanya, kita tidak bisa menentukan secara pasti intensitas, suasana hati, lama waktu dan posisi tubuh Yudas saat mencium Yesus. Kami tidak sepenuhnya yakin apakah teks asli κατα-φιλέω kataphileo mewakili cara mencium yang penuh semangat atau dengan perasaan apa; para ahli juga tidak memiliki konsensus mengenai apakah Yudas mencium pipi atau bibir Yesus (sesuai budaya zaman itu).

Namun yang dapat kita yakini adalah bahwa ciuman Yudas kepada Yesus sama sekali tidak tulus. Faktanya, Yudas mencium Yesus adalah salah satu tindakan paling munafik dalam Alkitab. Faktanya, mencium adalah etiket sosial yang umum antara para rabi (guru) Yahudi dan murid-murid pada saat itu (lihat Lukas 7:45), dan itu juga merupakan ekspresi kasih sayang dari perpisahan manusia dalam hidup dan mati (Kis. 20:37). Oleh karena itu, tidak peduli ciuman macam apa yang Yudas berikan, tindakan mengkhianati guru yang telah hidup dan mati bersamanya selama tiga tahun ini sepenuhnya menyoroti kegelapan jahat di dalam hatinya. Dibandingkan dengan Injil lainnya, catatan Markus di sini sebenarnya relatif singkat. Misalnya, dalam Injil Lukas, setelah Yudas mencium Yesus, Yesus bertanya kepada Yudas: Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman? (Lukas 22:48). Terlihat tindakan murid Yudas yang mengkhianati Rabi Yesus dengan mencium sungguh membuat guru Yesus merasa sangat sedih dan kecewa. Bagaimanapun juga, Yudas pasti telah mengembangkan hubungan yang mendalam dengan Yesus selama tiga tahun terakhir dan menyaksikan kasih dan kuasa-Nya. Dengan menempatkan diri kita dalam sudut pandang Yesus, kita sepertinya mendengar Yesus berkata kepada Yudas: Kamu sudah lama bersama-Ku, mengenal-Ku lebih dekat, dan merasakan betapa Aku mengasihimu, namun kamu memilih untuk mengkhianati-Ku?

Sebenarnya kita telah melihat sedikit Ciuman Kematian dalam Perjanjian Lama. Misalnya, dalam 2 Sam. 28-10, jenderal Daud, Yoab, berpura-pura mencium rekannya, Amasa, di permukaan dia ingin menunjukkan niat baik, namun nyatanya, dia ingin Amasa menurunkan kewaspadaan dan menikamnya sampai mati. Bandingkan Amsal 27:6 Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah. Atau kita dapat mengatakan bahwa ciuman Yoab sekadar kelebihan, bahkan merupakan perilaku yang sangat berbahaya! Ciuman adalah tindakan mempersembahkan kesetiaan kepada seseorang, oleh karena itu, menggunakan tindakan kesetiaan palsu untuk menutupi niat jahat di dalam hati sebenarnya adalah strategi ganda yang licik. Untuk mencegah kekuasaan dan kepentingannya sendiri terancam, Yoab mengabaikan pengampunan raja Daud terhadap Amasa, ia membunuh Amasa dengan ciuman kematian. Menghadapi Yoab penjahat yang begitu hina, Daud sebelum kematiannya pun meminta raja Salomo untuk menghadapi Yoab dengan hikmat (1 Raj. 2:5-6). Menurut perspektif narasi ini, kematian Yoab memang sudah sepatutnya dan tidak disesalkan (1 Raj. 2:28-35).

Demikian pula, meskipun Yudas tidak membunuh Yesus dengan ciuman, namun Yesus yang ia khianati adalah guru yang rela disalib demi dia. Meskipun ciumannya mungkin tidak sampai pada taraf tidak bisa dimaafkan, itu mungkin dianggap sebagai salah satu dosa manusia yang paling serius terhadap Allah.

Renungkan:
Kita bukan Yudas, namun kisah tragisnya bisa memberi kita peringatan. Apakah Anda setuju? Mengapa?

Kita bukan Yudas, tapi hati Kita bisa saja penuh dengan keburukan (lihat Yeremia 17:9-10). Apakah Anda setuju? Bagaimana salib Yesus memperbarui kisah Anda?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 14:32-42

Hubungan yang sempurna Bapa dan Anak

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 14:32-42 [ITB])
32 Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya: Duduklah di sini, sementara Aku berdoa.
33 Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar,34 lalu kata-Nya kepada mereka: Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.
35 Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya.36 Kata-Nya: Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.
37 Setelah itu Ia datang kembali, dan mendapati ketiganya sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: Simon, sedang tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam?38 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.
39 Lalu Ia pergi lagi dan mengucapkan doa yang itu juga.40 Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat dan mereka tidak tahu jawab apa yang harus mereka berikan kepada-Nya.
41 Kemudian Ia kembali untuk ketiga kalinya dan berkata kepada mereka: Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Cukuplah. Saatnya sudah tiba, lihat, Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.42 Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.

(Yesaya51:17-23 [ITB])
17 Terjagalah, terjagalah, bangunlah, hai Yerusalem, hai engkau yang telah meminum dari tangan TUHAN isi piala kehangatan murka-Nya, engkau yang telah meminum, menghirup habis isi cangkir yang memusingkan!18 Dari semua anak-anak yang dilahirkannya tidak ada yang membimbing dia dan dari semua anak-anak yang dibesarkannya tidak ada yang memegang tangannya.19 Kedua hal ini telah menimpa engkau — siapakah yang akan turut berdukacita dengan engkau? Kebinasaan dan keruntuhan, kelaparan dan pedang — siapakah yang akan menghibur engkau?20 Anak-anakmu sudah terlentang kelesuan di semua ujung jalan seperti lembu hutan kena jaring; mereka diliputi kehangatan murka TUHAN dan hardik Allahmu.
21 Sebab itu, dengarlah ini, hai engkau yang tertindas, hai engkau yang mabuk, tetapi bukan karena anggur!22 Beginilah firman Tuhanmu, TUHAN, Allahmu yang memperjuangkan perkara umat-Nya: Sesungguhnya, Aku mengambil dari tanganmu piala dengan isinya yang memusingkan, dan isi cangkir kehangatan murka-Ku tidak akan kauminum lagi,23 tetapi Aku akan memberikannya ke tangan orang yang menindas engkau, orang yang tadinya berkata kepadamu: 『Tunduklah, supaya kami lewat menginjak kamu!』 Maka engkau merentangkan punggungmu serata tanah dan sebagai jalan bagi orang yang lewat dari atasnya.

Ini adalah doa ketiga yang Yesus panjatkan dalam Injil Markus. Pertama kali adalah di Markus 1:35, Yesus perlu berdoa karena orang-orang ingin menjadikan Yesus sebagai bintang penyembuh orang sakit dan pengusir setan; kedua kalinya dalam Markus 6:46, Yesus perlu berdoa karena orang-orang tampaknya ingin menjadikan Yesus sebagai raja kerajaan politik duniawi. Yesus Sang Allah yang memiliki natur manusia sempurna memang membutuhkan doa karena Dia ingin mendengar suara Bapa, bukan pujian manusia. Dia ingin menghidupi kehendak Bapa bukan harapan manusia. Dia tidak bisa mengambil jalan keluar yang mudah demi menghindari jalan salib. Dalam perikp yang kita baca hari ini, Yesus juga perlu berdoa karena Dia akan memulai jalan di mana Ia dikhianati, dan karena dosa-dosa kita sehingga harus mengalami keterpisahan dari Allah Bapa. Di satu sisi, kita bisa melihat keseriusan masalah ini dari isi ayat Alkitab; di sisi lain, dari isi doa Yesus di Getsemani kita juga bisa lebih memahami hubungan antara Bapa dan Anak, khususnya ketaatan Anak kepada Bapa, dan relasi yang sangat erat dan intim antara Anak dengan Bapa.

Bagi Anak yang tidak pernah terpisah dari Bapa, pemisahan ini dapat digambarkan sebagai neraka. Dibandingkan dengan Injil lainnya, Yesus dalam Markus jelas lebih manusiawi. Di mata Matius, Yesus hanya bersedih (Matius 26:37, λυπέω lupeo), namun di sini Yesus takut dan gentar (Markus 14:33, ἐκθαµβέω ekthambeo). Menurut Injil Markus, dalam bahasa aslinya ἐκθαµβέω ekthambeo adalah istilah dengan makna yang sangat kuat, digunakan untuk mengungkapkan keterkejutan dan di luar perkiraan ekstrim seseorang atas apa yang mereka lihat (lihat Markus 16:5). Dari sini kita dapat memahami isi doa Yesus: Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki. Di satu sisi, seolah-olah Bapa diam mengabaikan Sang Anak, dan Anak dalam doa-Nya seakan-akan tidak melihat adanya respon spesifik dari Bapa; di sisi lain, Anak sepertinya mulai merasakan kepedihan karena terpisah dari Bapa.

Pembaca yang akrab dengan Alkitab akan mengetahui bahwa cawan ini tidak mungkin diambil. Jadi, apakah doa Yesus tidak masuk akal? Namun, jika kita membandingkan perkataan Yesus dengan Yesaya 51:17-23, kita dapat melihat lebih jauh kesetiaan Yesus kepada Bapa dan kasih-Nya kepada kita. Menurut tradisi bangsa Israel, meskipun mereka menerima cawan pahit dari Allah karena dosa-dosa mereka, mereka ditindas oleh bangsa-bangsa. Namun, Allah berjanji untuk mengambil pergi cawan pahit itu di masa depan. Dari sini terlihat bahwa bangsa Israel yang berada dalam kesulitan dapat memegang kesempatan ini dan memohon ampun kepada Allah sesegera mungkin. Namun, Yesus yang tidak berdosa, tidak melakukan hal ini. Apa yang Dia minta adalah jadilah kehendak Bapa. Doa Anak dan diamnya Bapa membuktikan kesehatian antara Bapa dan Anak, serta kasih Bapa dan Anak terhadap manusia.

Perlu dicatat bahwa meskipun Abba adalah istilah umum pada zaman itu bagi anak-anak untuk memanggil ayah mereka di rumah, tetapi bukanlah tradisi orang Israel untuk memanggil Allah secara langsung. Faktanya, dalam Injil Perjanjian Baru lebih dari 170 kali Yesus menyebut Allah Bapa, dibandingkan dalam Perjanjian Lama hanya 11 kali Allah disebut Bapa, dan orang tidak pernah menggunakan Bapa dalam doa. Meskipun nabi kadang-kadang membayangkan hubungan antara ayah dan anak menjadi hubungan antara Allah dan manusia (Yeremia 3:19-20), namun hal ini tidak pernah terlaksana. Dibandingkan dengan sebutan seperti pahlawan, gembalaatau raja, sebutan Bapa membawakan makna hubungan sedemikian erat antara Bapa dan Anak sungguh melampaui sebuatn-sebutan lain. Siapa yang berani menyebut dirinya Anak Allah? Siapa yang berani memandang hubungan mereka dengan Allah sedekat hubungan bapa dan anak? Siapa yang dapat mengatakan bahwa seseorang dapat mewakili Allah sebagaimana Anak mewakili Bapa?

Yesus bisa, khususnya Yesus yang ditunjukkan dalam ayat-ayat Alkitab yang kita baca hari ini. Faktanya, tidak ada hubungan bapa-anak di bumi yang dapat secara sempurna menunjukkan hubungan Bapa-anak antara Allah dan manusia. Sebaliknya, banyaknya gambaran tentang bapa di bumi mungkin membuat orang takut, sehingga membuat mereka berpikir bahwa Allah Bapa juga kejam dan tidak dapat diandalkan. Sementara banyak orang di Israel memandang tindakan Yesus yang menyebut Allah sebagai Bapa sebagai tindakan yang tidak sopan, di Getsemani Yesus dengan sempurna menunjukkan persatuan dan kesatuan antara Dia dan Bapa. Bapa tidak karena rasa takut Anak sehingga mengambil pergi salib. Bapa memberikan sesuatu yang lebih baik kepada Anak: sebuah pengalaman yang mengalahkan kematian. Melalui ini kita melihat bahwa kita juga dapat menyebut Allah sebagai Bapa, dan melalui ini kita mengetahui siapa Bapa Surgawi.

Renungkan:
Apa kesan di masa lalu yang Anda miliki tentang Allah sebagai Bapa? Bagaimana perasaan Anda ketika memanggil Allah dengan Abba? Mengapa?

Mengapa Bapa yang diam tidak bersuara di Getsemani sepatutnya menerima ketaatan seperti itu dari Yesus?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 14:27-31

Kita semua akan tergoncang iman, apakah kita masih punya harapan?

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 14:27-31 [ITB])
27 Lalu Yesus berkata kepada mereka: Kamu semua akan tergoncang imanmu. Sebab ada tertulis: 『Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai.』28 Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.
29 Kata Petrus kepada-Nya: Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak.
30 Lalu kata Yesus kepadanya: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.
31 Tetapi dengan lebih bersungguh-sungguh Petrus berkata: Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau. Semua yang lainpun berkata demikian juga.

(Zakharia13:1-2,7-9 [ITB])
1 Pada waktu itu akan terbuka suatu sumber bagi keluarga Daud dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran.2 Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, Aku akan melenyapkan nama-nama berhala dari negeri itu, sehingga orang tidak menyebutnya lagi. Juga para nabi dan roh najis akan Kusingkirkan dari negeri itu …
7 Hai pedang, bangkitlah terhadap gembala-Ku, terhadap orang yang paling karib kepada-Ku!, demikianlah firman TUHAN semesta alam. Bunuhlah gembala, sehingga domba-domba tercerai-berai! Aku akan mengenakan tangan-Ku terhadap yang lemah.8 Maka di seluruh negeri, demikianlah firman TUHAN, dua pertiga dari padanya akan dilenyapkan, mati binasa, tetapi sepertiga dari padanya akan tinggal hidup.9 Aku akan menaruh yang sepertiga itu dalam api dan akan memurnikan mereka seperti orang memurnikan perak. Aku akan menguji mereka, seperti orang menguji emas. Mereka akan memanggil nama-Ku, dan Aku akan menjawab mereka. Aku akan berkata: 『Mereka adalah umat-Ku』, dan mereka akan menjawab: 『TUHAN adalah Allahku!』

Markus 14:27-31 mencatat sebuah sisipan tentang Yesus dan murid-murid-Nya setelah makan Paskah mereka bersama-sama berjalan menuju Getsemani di Bukit Zaitun, yang memberikan petunjuk awal mengenai bagaimana di hari depan ketika Yesus ditangkap, para murid tercerai-berai melarikan diri (Markus 14:43-50), dan Petrus akan menyangkal Tuhan tiga kali (Markus 14:66-72). Merujuk pada perumpamaan gembala dan domba dalam Markus 14:27, tidak sulit memahami makna nubuatan Yesus: sebagaimana domba-domba panik berhamburan ketika kehilangan gembalanya, maka murid-murid pun akan meninggalkan Yesus ketika mereka kehilangan gembalanya yang akan mati, karena para murid telah kehilangan gaya sentripetal yang selama ini menyatukan mereka.

Bagi pembaca yang telah membaca Injil Markus, jawaban Petrus dan para murid sekali lagi menjadi saksi kelemahan dan ketidakmampuan mereka. Tiga kali sebelumnya setiap kali setelah Yesus menubuatkan penyaliban-Nya, para murid jatuh dalam krisis, ayat 8:32 Petrus menegur Yesus; ayat 9:33-34 para murid berdebat tentang siapa yang terbesar; ayat 10:35-40 para murid bertengkar tentang siapa yang boleh duduk di sisi kanan dan kiri Yesus. Namun, ketika sampai pada Markus 14:29, wawasan Petrus berbeda dari wawasannya yang semula. Dalam Markus 8:32, dia sama sekali tidak dapat menerima bahwa Yesus akan menderita; tetapi di sini dia tampaknya telah menerimanya dan menekankan bahwa dia tidak akan berpaling dari Tuhan.

Sayangnya, Petrus dan para murid tergoncang iman (jatuh). Bahasa asli tergoncang iman (jatuh) (σκανδαλίζω skandalizo) secara umum berarti menyebabkan seseorang tersandung atau berbuat dosa. Mengacu pada delapan penggunaan kata tersebut dalam Injil Markus, sepertinya tidak ada kesempatan setelah seseorang terjatuh. Misalnya, dalam Markus 4:16-17, σκανδαλίζω skandalizo digunakan untuk menggambarkan mereka yang langsung menerima firman itu dengan sukacita setelah mendengarnya, tetapi karena mereka tidak memiliki akar di dalam hati mereka, mereka langsung murtad begitu mereka menerimanya. kata; dalam Markus 9:42, σκανδαλίζω skandalizo digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang menyesatkan orang lain dan akan mengalami nasib yang lebih buruk daripada orang-orang yang lehernya diikatkan batu kilangan dan dibuang ke laut. Dari sini dapat disimpulkan bahwa setelah para murid tergoncang iman (jatuh), apakah tidak akan ada kesempatan perbaikan, dan mereka akan jatuh dalam waktu yang lama, atau bahkan meninggalkan Tuhan seperti Yudas?

Sebenarnya, alasan para murid kehilangan Yesus gembalanya bukan hanya karena secara objektif bahwa Yesus ditangkap, tetapi juga karena secara subjektif mereka memilih untuk meninggalkan Yesus. Kisah tentang Kristus yang dapat menyembuhkan orang sakit serta mengusir setan sangatlah menarik dan menawan, dan kebanyakan orang Kristen akan setuju dengan kisah tersebut; namun berapa banyak orang Kristen yang mau mengidentifikasi diri mereka dengan Kristus yang sedang menderita? Melihat pada ayat 27, daripada mengatakan bahwa para murid jatuh (kehilangan keseimbangan), kita dapat mengatakan bahwa para murid tersandung oleh Yesus atau oleh kisah Yesus (CCV Mandarin, LSV), tersinggung dibuat marah/be offended oleh Yesus (KJV), yang membuat kita menolak Dia, tidak bersedia mangakui Dia.

Namun, ayat 28 akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea, nubuat Yesus ini membuat para murid mengetahui bahwa tergoncang iman (jatuh) ini bukanlah akhir dari kisah mereka (lihat juga Markus 16:6-7 Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: 『Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.』).

Kutipan Markus atas Zakharia 13:7 juga semakin menegaskan bahwa Allah akan menggunakan kejatuhan para murid untuk melaksanakan kehendak baik-Nya. Menurut Zakharia 13:7, walaupun para gembala dan orang yang paling karib kepada TUHAN semesta alam akan dipukul oleh TUHAN, serta oleh karenanya domba-domba akan tercerai-berai, tetapi inilah saatnya TUHAN menyucikan dosa bangsa Israel, memurnikan kehidupan mereka seperti orang memurnikan perak dalam api, merevolusi sistem keagamaan, dan proses membangun umat Allah yang sisa (Za. 13:8 sepertiga dari padanya akan tinggal hidup). Dengan kata lain, prosesnya mungkin menyakitkan, tetapi bagi mereka yang mengikuti Tuhan, hal itu penuh dengan kehendak baik Allah.

Dapat dilihat bahwa Markus secara kreatif melapiskan kisah-kisah Perjanjian Baru dengan kisah-kisah Perjanjian Lama untuk menunjukkan bahwa meskipun murid-murid tercerai-berai setelah gembala Yesus dipukul, hal ini merupakan proses yang penting bagi Allah untuk membentuk kehidupan mereka dan memperbaharui identitas mereka sebagai umat Allah. Bisa dibayangkan bahwa ketika mereka berjalan kembali ke Galilea, mereka tidak lagi menganggap diri mereka sebagai manusia super spiritual, juga tidak menganggap diri mereka agung atau heroik. Hanya ada satu pahlawan: Yesus, Dia yang menunggu para murid di Galilea. (Ya, hanya Dia saja yang bangkit dari kematian.)

Renungkan:
Apa kisah atau ajaran Yesus yang paling menarik bagi Anda dan membuat Anda ingin mengakui Dia atau mengidentifikasi diri Anda dengan diri-Nya?

Apakah ada sesuatu dalam kisah atau ajaran Yesus yang secara khusus menyinggung perasaan Anda sehingga membuat Anda tidak ingin mengakui Dia atau tidak ingin mengidentifikasi diri Anda dengan-Nya?

Cara Allah membangun umat-Nya bisa mencakup kejatuhan mereka. Apa yang Anda dapatkan dari hal ini?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 14:12-26

Meskipun Aku dikhianati, Allah membenarkan Aku

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 14:12-26 [ITB])
12 Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya: Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?
13 Lalu Ia menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan: Pergilah ke kota; di sana kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia14 dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: 『Pesan Guru: di manakah ruangan yang disediakan bagi-Ku untuk makan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku?』15 Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!
16 Maka berangkatlah kedua murid itu dan setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.
17 Setelah hari malam, datanglah Yesus bersama-sama dengan kedua belas murid itu.18 Ketika mereka duduk di situ dan sedang makan, Yesus berkata: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku, yaitu dia yang makan dengan Aku.
19 Maka sedihlah hati mereka dan seorang demi seorang berkata kepada-Nya: Bukan aku, ya Tuhan?
20 Ia menjawab: Orang itu ialah salah seorang dari kamu yang dua belas ini, dia yang mencelupkan roti ke dalam satu pinggan dengan Aku.21 Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.
22 Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: Ambillah, inilah tubuh-Ku.23 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu.24 Dan Ia berkata kepada mereka: Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang.25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah.
26 Sesudah mereka menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun.

(Mazmur 41:1-9 [ITB])
1 Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka.2 TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya!3 TUHAN membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya.
4 Kalau aku, kataku: TUHAN, kasihanilah aku, sembuhkanlah aku, sebab terhadap Engkaulah aku berdosa!
5 Musuhku mengatakan yang jahat tentang aku: Bilakah ia mati, dan namanya hilang lenyap?
6 Orang yang datang menjenguk, berkata dusta; hatinya penuh kejahatan, lalu ia keluar menceritakannya di jalan.
7 Semua orang yang benci kepadaku berbisik-bisik bersama-sama tentang aku, mereka merancangkan yang jahat terhadap aku:8 Penyakit jahanam telah menimpa dia, sekali ia berbaring, takkan bangun-bangun lagi.
9 Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.

Perikop Injil Markus hari ini dapat dibagi menjadi tiga perikop progresif, yang menggambarkan tiga tahap Perjamuan Terakhir Yesus. Yang pertama adalah persiapan sebelum makan (ayat 12-16), yang kedua adalah pengumuman Yesus sebelum makan bahwa Dia akan dikhianati (ayat 17-21), dan yang ketiga adalah makan dan penjelasan maknanya (ayat 22-26). Perlu diketahui bahwa perjamuan diadakan di kota Yerusalem. Hal ini berbeda dengan pengaturan di mana Yesus dan murid-murid-Nya bermalam di Betania beberapa hari yang lalu, karena mereka hanya bisa merayakan perjamuan Paskah di kota Yerusalem. Menurut budaya Yahudi, makan bersama adalah salah satu tindakan simbolis paling bermakna yang mewakili persahabatan antar teman. Oleh karena itu, mengkhianati teman setelah makan sebenarnya merupakan tindakan yang sangat tercela.

Meskipun Yesus dengan jelas menyatakan bahwa salah satu dari Dua Belas Rasul akan mengkhianati-Nya, Dia tidak merinci siapa orang itu. Dari ungkapan dia yang makan dengan Aku dan dia yang mencelupkan roti ke dalam satu pinggan dengan Aku, kita dapat melihat bahwa hubungan antara Yesus dan orang ini erat dan saling percaya. Dari sini dapat dibayangkan bahwa meskipun Yesus telah mengetahui sebelumnya bahwa Ia akan dikhianati dan mengetahui bahwa yang akan mengkhianati diri-Nya adalah Yudas, namun perasaan Ia dikhianati masih sangat kuat. Dari sini mungkin kita bisa sedikit memahami mengapa Ia mengucapkan kata-kata yang sangat tragis dalam Markus 14:21 Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan

Untuk memahami makna pernyataan ini, kita perlu memahami hubungan antara perikop hari ini dan Mazmur 41.

Pertama, para ahli Alkitab mencatat bahwa ketika Markus menuliskan 14:18 dia yang makan dengan Aku (ὁ ἐσθίων µετʼ ἐµοῦ ho esthiōn metʼ emou), Dia kemungkinan mengutip Mazmur 41:9 yang makan rotiku (ὁ ἐσθίων ἄρτους µου ho esthiōn artous mou, Septuaginta). Faktanya, baik Yesus dalam Markus 14 maupun pemazmur dalam Mazmur 41 sama-sama menderita karena dikhianati oleh teman-teman mereka. Terlihat bahwa Markus mungkin ingin pembaca memahami keadaan pikiran Yesus dari sudut pandang pengalaman pemazmur yang menderita bagi Allah dalam Mazmur 41.

Pemazmur berharap untuk menerima belas kasihan dan pertolongan Allah sehingga dia dapat bangkit dan mengalahkan musuh-musuhnya; demikian pula, Yesus di sini juga berharap bahwa Allah akan membenarkan Dia (Markus 14:25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah. ) Di satu sisi, Yesus bukan sedang mengutuk Yudas. Perkataan-Nya hanya mencerminkan kesedihan yang ditimbulkan oleh keputusan Yudas. Di sisi lain, perkataan Yesus mencerminkan iman-Nya kepada Allah, ini adalah bagian dari rencana Allah. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, aku tidak akan minum lagi sari buah anggur itu sampai hari dimana aku meminumnya yang baru di dalam Kerajaan Allah.

Renungkan:
Penegasan pengakuan Yesus terhadap perempuan tanpa nama (Markus 14:9) dan penilaian-Nya terhadap Yudas yang hina (Markus 14:21) sekali lagi membentuk suatu kontras yang kuat. Menurut Anda ke arah mana hati Anda menuju?

Dalam proses dikhianati oleh Yudas, Yesus masih bisa memandang kedaulatan dan pengaturan Allah. Apakah Anda bersedia mengandalkan Allah atas pengaturan-Nya yang baik walau dalam keadaan sulit seperti perasaan dikhianati? Mengapa?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 14:3-9

Raja Mesias yang disalibkan, diurapi wanita tanpa nama

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 14:3-9 [ITB])
3 Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus.
4 Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?5 Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin. Lalu mereka memarahi perempuan itu.
6 Tetapi Yesus berkata: Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku.7 Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.8 Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku.9 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.

Dibandingkan dengan ketiga Injil lainnya, Markus sebenarnya tidak banyak membahas motif Yudas mengkhianati Yesus. Menurut Markus 14:11, keuntungan Yudas yang paling nyata dari mengkhianati Yesus adalah uang (ἀργύριον argurion) yang ia terima dari para imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Menurut Matius 26:14-16, motif Yudas mengkhianati Yesus adalah uang; menurut Lukas 22:3 dan Yohanes 13:2, Yudas mengkhianati Yesus karena pengaruh iblis. Beberapa sarjana pernah berspekulasi tentang motif Yudas mengkhianati Yesus dari sudut pandang sosok yang tragis, misalnya, apakah Yudas kecewa karena Yesus menolak menjadi Mesias politik duniawi? Apakah dia mencoba memaksa Yesus untuk mengambil tindakan tegas terhadap Kekaisaran Romawi? Apakah dia dipilih oleh Allah sebelum penciptaan dunia untuk menjadi pengkhianat Yesus dan tidak punya hak untuk melawan? …

Namun, pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah tujuan Markus menulis perikop ini. Merujuk pada konteks Markus 14:1-12, tujuan penulisan Markus jelas untuk membandingkan dua tipe orang. Salah satunya adalah imam kepala, ahli Taurat, beserta Yudas, dengan yang lainnya adalah wanita tak dikenal.

Di sini, dua peristiwa yang tidak berhubungan secara langsung digabungkan menjadi struktur sandwich:

1 Paskah akan tiba
1-2 Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat berusaha mencari cara untuk membunuh Yesus
3-9 Wanita tak dikenal mencurahkan minyak narwastu ke atas kepala Yesus untuk penguburan-Nya.
10-12 Yudas menawarkan rencana tentang cara membunuh Yesus
12- Persiapan Paskah

Markus tidak mencatat nama wanita ini. Dengan asumsi bahwa peristiwa yang dicatat dalam Yohanes 12:1-8 adalah peristiwa pengurapan yang sama dengan Markus 14:3-9, wanita ini sebenarnya adalah Maria, saudara perempuan Lazarus. Namun, fokus tulisan Markus jelas bukan pada pencarian identitas wanita tersebut, melainkan tertuju menyaksikan pentingnya pengurapan Yesus oleh wanita tak dikenal tersebut. Kita dapat lebih memahami makna ini dari tiga aspek.

Pertama, ini sebenarnya bukan pertama kalinya Markus meletakkan dua hal yang tidak berhubungan dalam struktur sandwich. Dalam Markus 5:21-43, Markus dengan sengaja mengungkapkan dua mukjizat penyembuhan putri Yairus dan wanita yang pendarahan tidak dapat dihentikan dalam bentuk sandwich. Menurut Injil Yohanes, Maria sebenarnya telah mengurapi Yesus enam hari sebelum Paskah, namun Markus sengaja memasukkan kejadian ini ke dalam rencana para imam kepala dan orang lain dua hari sebelum Paskah. Lapisan luar dari sandwich ini (Markus 14:1-2, 10-11) adalah bahwa para imam kepala dan ahli Taurat, di bawah nasihat Yudas, dengan sangat gembira (ἐχάρησαν echarēsan, Markus 4:11) bersiap untuk menangkap dan membunuh Yesus; lalu di lapisan bagian dalam roti, kita menyaksikan wanita tak dikenal ini menuangkan minyak narwastu ke atas Yesus sebelum penguburan-Nya. Dapat dilihat bahwa prinsip utama penyajian sastra Markus adalah pesan teologisnya, bukan laporan kronologis.

Kedua, latar ini jelas dimaksudkan untuk membedakan keserakahan Yudas dengan komitmen perempuan ini. Ketika Yudas mengkhianati Yesus demi uang, wanita ini menghabiskan sebotol minyak narwastu murni yang bernilai lebih dari tiga ratus dinar dituangkan ke kepala Yesus. Narwastu (νάρδος nardos) adalah bahan dalam balsem, yang sekarang dikenal dengan nama narwastu. Karena Narwastu diproduksi jauh di India, biayanya akan sangat tinggi. Menurut standar hidup pada saat itu, satu dinar (denarius) setara dengan gaji satu hari bagi pekerja biasa, dan tiga ratus dinar lebih setara dengan gaji satu tahun bagi pekerja biasa. Pada zaman Yesus, Narwastu sering digunakan sebagai pengurapan pada saat upacara kematian atau penguburan. Sementara Yudas memanfaatkan Yesus untuk mendapatkan keuntungan, wanita ini memberikan semua yang dia bisa untuk Yesus.

Ketiga, pentingnya perempuan mengurapi kepala Yesus dengan minyak. Menurut Perjanjian Lama, mengurapi kepala seseorang dengan minyak mengacu pada tindakan simbolis dimana seseorang telah diangkat menjadi raja oleh Allah (1 Samuel 1:10; 2 Raj. 9:6). Dengan demikian, makna pengurapan kepala Yesus oleh perempuan tidak hanya mewakili rasa hormat pribadinya terhadap Yesus, tetapi juga mewakili teologi Injil Markus: orang yang benar-benar dapat mewakili identitas Mesias adalah orang yang pergi ke salib dan Raja yang disalibkan. Pada bagian terakhir Markus, pasal 14 sampai 16, tindakan perempuan tanpa nama ini layak untuk diceritakan ke seluruh dunia karena dia telah melihat jati diri Yesus yang sebenarnya. Saat para rasul dan pemimpin agama lainnya masih bingung mengenai identitas Yesus, wanita ini telah menemukan jawabannya. Yesus berkata, Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. Raja ini bukanlah sekadar raja Israel lainnya yang melanjutkan Perjanjian Lama, Dia adalah Mesias, dan dia adalah Raja yang disalibkan; Dia adalah Anak Domba Paskah (perhatikan lapisan terluar dari sandwich), yang akan memimpin manusia untuk sekali lagi membuat perjanjian dengan Allah.

Renungkan:
Markus tidak merinci siapa beberapa orang yang menjadi gusar itu. Jika Anda berada di sana saat itu, menurut Anda apakah Anda ikut menjadi gusar? Mengapa?

Jika definisi Kristus sebagai Raja diungkapkan melalui salib, menurut Anda apakah orang Kristen juga harus mengalami penderitaan yang sama? Mengapa?

Pernahkah Anda membayar harga untuk Tuhan? Tahukah Anda berapa gaji tahunan Anda? Dapatkah Anda bayangkan memberikan gaji setahun, atau waktu setahun penuh, dipersembahkan kepada Tuhan untuk dipakai-Nya?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 14:1-2, 10-11

Ikuti cara dunia dan bunuh Yesus

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 14:1-2, 10-11 [ITB])
1 Hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi akan mulai dua hari lagi. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat,2 sebab mereka berkata: Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat.
10 Lalu pergilah Yudas Iskariot, salah seorang dari kedua belas murid itu, kepada imam-imam kepala dengan maksud untuk menyerahkan Yesus kepada mereka.11 Mereka sangat gembira waktu mendengarnya dan mereka berjanji akan memberikan uang kepadanya. Kemudian ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat bermaksud dengan tipu muslihat menangkap Yesus serta membunuh Dia. Kata ἐν δόλῳ en dolō dalam Markus 14:1 diterjemahkan dengan jelas dan akurat dalam ITB sebagai tipu muslihat. Sebagai pemimpin sistem keagamaan Israel, para imam kepala dan ahli Taurat memahami dengan baik perasaan orang-orang selama Paskah. Dua harilagi Paskah akan diadakan, banyak orang Israel yang tersebar di berbagai tempat akan pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah, memperingati Allah di masa lalu menyelamatkan para leluhur mereka meninggalkan Mesir dan mendapatkan pembebasan. Jika Yesus ditangkap dan dibunuh secara terang-terangan di depan orang-orang Israel pada saat ini, konsekuensinya mungkin akan lebih besar daripada keuntungan yang diperoleh. Ketika mereka mengetahui bahwa Yesus sudah dicintai oleh banyak orang di Israel pada saat itu, dan berspekulasi bahwa Dia mungkin adalah Mesias yang datang dari Allah untuk memimpin mereka memberontak melawan Romawi. Bangsa Israel kemungkinan besar akan tidak puas dengan penangkapan Yesus, dan bahkan mungkin beberapa orang akan menggerakkan orang-orang untuk menyelamatkan Yesus. Dengan demikian, kerusuhan rakyat dapat diperkirakan terjadi, tekanan penjajahan pemerintahan Romawi atas bangsa Israel akan menjadi lebih parah, dan otonomi bangsa Israel akan semakin berkurang. Sebagai pemimpin bangsa Israel, para imam kepala dan ahli Taurat tentu tidak ingin hal ini terjadi, harga politik yang harus dibayar terlalu besar. Terlihat bahwa keputusan mereka tidak membunuh Yesus untuk sementara waktu, terutama adalah karena pertimbangan politik dan untuk melindungi kekuasaan mereka. Mereka tahu cara memainkan permainan tradisi agama Israel dan cara memainkan permainan politik antara Romawi dan Israel untuk melindungi kepentingan mereka sendiri.

Seperti yang dapat kita bayangkan, Yesus telah membuat mereka sangat tertekan karena Dia telah membawakan ancaman yang serius kepada mereka. Kita dapat lebih memahami ancaman ini dari tiga aspek. Pertama, Yesus secara langsung menyebutkan setidaknya dua kali di depan murid-murid-Nya bahwa ia akan dibunuh oleh para imam kepala dan ahli Taurat (Markus 8:31, 10:3). Seperti yang dapat kita bayangkan, banyak murid dan kelompok sudah merasakan permusuhan antara para imam kepala serta ahli-ahli Taurat terhadap Yesus. Saat ini, Yesus datang ke Yerusalem, markas para imam kepala dan ahli Taurat. Pertarungan di antara mereka bisa dikatakan telah mencapai tahap pertarungan body contact Kedua, setelah Yesus datang ke Yerusalem, Dia mulai secara terbuka menolak kepemimpinan para imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Dua hari yang lalu, Yesus mengusir para pedagang di Bait Suci dan menuduh mereka menjadikan Bait Suci sebagai sarang penyamun (Markus 11:15-19)! Orang dapat menjual hewan kurban di pekarangan orang non-Yahudi adalah berasal dari izin persetujuan oleh Imam Besar Kayafas. Tindakan Yesus ini jelas diarahkan pada kualitas pemerintahan agama para imam kepala. Ketiga, pengaruh Yesus terhadap orang-orang Israel semakin meningkat: Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka berusaha untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya, melihat seluruh orang banyak takjub akan pengajaran-Nya (Markus 11:18) Kecintaan orang-orang terhadap Yesus tampaknya semakin menyebabkan mereka memandang rendah para imam kepala dan ahli-ahli Taurat: Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat (Markus 1:22).

Dari sini kita dapat melihat mengapa para imam kepala dan ahli Taurat terus-menerus mencari jalan (ζητέω zeteo, Markus 14:1) untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat. Namun mereka belum dapat memikirkan solusi apa pun.

Sampai Yudas Iskariot muncul. Ini adalah kedua kalinya Yudas muncul dalam Injil Markus, yang pertama kali ada dalam daftar Dua Belas Rasul dalam Markus 3:19. Sebagai salah satu dari Dua Belas Rasul, dia mengetahui segalanya tentang keberadaan Yesus. Oleh karena itu, Yudas Iskariot dapat mencari jalan (ζητέω zeteo, Markus 14:11) yang tidak dapat mendapatkan jalan (ζητέω zeteo) oleh para imam kepala dan ahli Taurat.

Teks tersebut tidak merinci detil rencananya di sini, namun rencananya mampu membuat para imam kepala serta ahli Taurat mengubah rencana mereka dan memutuskan untuk menangkap Yesus pada kesempatan Paskah, dan mereka gembira karenanya. Yudas mampu berpikir secara strategis, ia memikirkan kesempatan yang tepat (εὐκαίρως eukairōs, Markus 14:11) untuk menyerahkan Yesus kepada para imam kepala dan ahli-ahli Taurat; ia mampu memikirkan kapan dan di mana akan menangkap Yesus, sehingga dapat menghindari timbulnya kerusuhan; dia sama-sama juga tahu bagaimana memainkan permainan keagamaan dan permainan kekuasaan di antara massa Israel untuk menguntungkan dirinya sendiri.

Renungkan:
Imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan Yudas semuanya adalah orang-orang yang sangat cerdas, namun hati mereka jauh dari Yesus. Cara mereka melakukan sesuatu tidak sesuai dengan cara Yesus dan tidak bisa hidup berdampingan. Apakah Anda jijik dengan tipu muslihat mereka? Mengapa?

Meski kita bukan imam kepala, ahli Taurat, atau Yudas, tetapi ketika hati kita meninggalkan Tuhan, maka motivasi kita dalam melayani Tuhan bukan lagi mengikuti aturan salib, tapi mengikuti aturan bekerjanya kuasa di dunia ini. Yesus tidak memainkan permainan ini, begitu pula kita. Pernahkah Anda memikirkan sesuatu yang membuat Anda dengan mudah mengikuti aturan dunia?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 13:28-37

Ranting-ranting pohon Ara sudah bertunas?

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 13:28-37 [ITB])
28 Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.29 Demikian juga, jika kamu lihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.30 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi.31 Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.
32 Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.
33 Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.34 Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga.35 Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta,36 supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur.37 Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!
(1 Raj.4:25 [ITB])
25 sehingga orang Yehuda dan orang Israel diam dengan tenteram, masing-masing di bawah pohon anggur dan pohon aranya, dari Dan sampai Bersyeba seumur hidup Salomo

Markus 13:28-31 adalah bagian lain yang membuat para ahli Alkitab sakit kepala. Kuncinya adalah bagaimana menafsirkan makna ayat 28, ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas. Dalam Perjanjian Lama, para nabi sering menggunakan kata pohon ara untuk menggambarkan ketidaksetiaan Israel kepada Allah (Hosea 9:10, Yeremia 8:13, 29:17). Gambaran ketidaksetiaan ini juga dapat ditemukan dalam Markus 11 (ayat 12-14, 20-25). Dalam bagian itu, Yesus mengutuk pohon ara dan menyuruhnya layu untuk menggambarkan secara metaforis masa depan Yerusalem dan Bait Sucinya. Menurut prinsip konteks (kaitan antara teks sebelum dan sesudah), karena pohon ara di Markus 11 merupakan metafora Bait Suci di Yerusalem ditinggalkan Allah (lihat renungan Markus 11:20-25), maka pelajaran yang diberikan kepada kita melalui perumpamaan tentang pohon ara di 13:28 ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas secara alami memiliki arti yang sama! Dengan kata lain, waktu, konteks dan makna 13:28-37 sejajar dan konsisten dengan 13:5-23. Dengan demikian, ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas berhubungan dengan berbagai bencana dalam Markus 13:5-23; musim panas sudah dekat berhubungan dengan waktu ketika kota Yerusalem dihancurkan di 13:24-25. Pohon ara di sini tidak ada bedanya dengan segala jenis pohon lainnya (Lukas 21:29 Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja …). Jadi, tema utama Markus 13:28-37 adalah untuk menasihati orang percaya agar waspada (konsisten dengan 13:5-23, bandingkan 3:5, 9 Waspadalah … hati-hatilah! …)

Namun penjelasan ini bukanlah satu-satunya kemungkinan. Peran yang dimainkan oleh pohon ara di sini mungkin bukan Israel yang tidak setia, tetapi umat yang dikasihi Tuhan. Sama seperti api dalam Markus 9:42-50 dapat mewakili dua arti yang sangat berbeda, pohon ara yang ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas di Markus 13 juga dapat memiliki arti yang berbeda dengan pohon ara terkutuk di Markus 11. Faktanya, bagian dari Markus 13:28-31 sebenarnya memiliki konteks lain yang lebih dekat: Markus 13:26-27 (Anak Manusia datang di awan dengan kuasa dan kemuliaan yang besar). Jika datang kembalinya Yesus Anak Manusia dijadikan titik tolak penafsiran ayat 13:28-37, maka yang ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas dapat mewakili suatu hal yang positif. Faktanya, ada banyak bagian dalam Perjanjian Lama yang menggunakan pohon ara untuk melambangkan kemurahan dan kepedulian Allah terhadap umat -Nya (1 Raj. 4:25; Kidung Agung 2:13; Zakharia 3:10). Di satu sisi, penafsiran ini tidak mengingkari bahwa ayat 13:24-25 berhubungan dengan kehancuran kota Yerusalem, tetapi juga sepenuhnya memperhatikan bahwa ada jeda waktu antara ayat 24-25 dan 26-27 yang lamanya tidak dapat ditebak oleh siapa pun; di sisi lain, interpretasi ini juga memungkinkan kita untuk lebih memperhatikan paralel bentuk kontras antara dua metafora pohon ara: yang pertama dikutuk menjadi layu di Markus 11, sedangkan yang kedua ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas di Markus 13. Dengan kata lain, pohon ara yang pertama sudah mati, tetapi pohon ara yang kedua masih penuh kehidupan.

Jika memakai alur gagasan ini, apa yang diwakili oleh pohon ara yang ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas mungkin merupakan peristiwa positif yang akan terjadi sebelum kembalinya Yesus, Anak Manusia: bisa saja adalah pemulihan Israel pada tahun 1948. Saya harus menekankan bahwa ini hanyalah sebuah kemungkinan, menurut penafsiran ini, saat ini Anda dan saya sedang mengalami hal ini: waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu. Apakah saya yakin penjelasan ini benar? TIDAK. Faktanya, saya harus mengakui ketidaktahuan saya. Apakah saya pikir saya akan tahu persis kapan Yesus akan datang kembali? TIDAK. Jadi, karena kita tidak tahu pasti (misalnya, dengan menyimpulkan dari Alkitab) kapan Yesus akan datang kembali, haruskah kita sepenuhnya menghindari masalah ini sehingga mengabaikan apa yang sedang terjadi di dunia? TIDAK!

Renungkan:
Apakah menurut Anda, Yesus akan segera datang kembali? Apakah menurut Anda perasaan ini ada hubungannya dengan Anda harus berhati-hati dan waspada? Mengapa?

Menurut Anda apakah ada perbedaan dalam kehidupan seseorang yang memperhatikan ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas atau yang tidak peduli? Apakah Anda termasuk orang yang memperhatikan ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas? Mengapa?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 13:26-27

Sebuah penglihatan yang lebih besar dari Bait Suci

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 13:26-27 [ITB])
26 Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.27 Dan pada waktu itupun Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit.

(Daniel7:13-14 [ITB])
Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.

Dalam Injil Markus, Yesus tidak secara langsung menyebut diri-Nya dengan gelar Kristus (Markus 14:62 juga tidak dihitung). Walau dalam Injil Markus, gelar yang Ia gunakan untuk dirinya sendiri adalah Anak Manusia, tetapi seiring berkembangnya kisah Injil Markus, kita melihat bahwa peran Yesus sebagai Anak Manusia berangsur-angsur berubah. Pada paruh pertama Injil Markus, Yesus Anak Manusia mengampuni dosa di bumi (Markus 2:10) dan bekerja pada hari Sabat (Markus 2:28), melalui karya-Nya di bumi, di satu sisi Yesus mulai mengungkapkan identitas ketuhanan-Nya, namun di sisi lain nadanya masih relatif membumi. Pada paruh kedua Injil Markus, Yesus tetap menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia, namun peran Anak Manusia tidak lagi terfokus pada pelayanan Yesus di dunia, melainkan beralih ke naskah penderitaan, kematian Yesus, dan kebangkitan (Markus 8:31, 38; 9: 9, 12, 31; 10:33, 45). Pengakuan para murid terhadap sudut pandang ini jelas sangat rendah, mereka tidak menginginkan hal itu terjadi (Markus 8:32-33 Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: 『Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.』).

Sama seperti identifikasi para murid dengan Yesus yang mencapai satu demi satu titik terendah baru, perkembangan baru terjadi dalam naskah Anak Manusia Yesus. Untuk membantu orang-orang percaya menghadapi kemungkinan kehancuran Bait Suci, Yesus perlu membawakan penglihatan menakjubkan lainnya bagi mereka, sebuah penglihatan atas masa depan yang akan menopang mereka dalam bergerak maju. Dengan menggemakan dan memberitakan ulang Daniel 7, Yesus menawarkan kepada orang-orang percaya penglihatan (visi) lain yang lebih agung daripada Bait Suci: Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Dan pada waktu itupun Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit (Markus 13:26-27) Meskipun Bait Suci akan lenyap, kehadiran Allah tidak akan berkurang. Karena pada waktu Tuhan (Markus 13:26 Pada waktu itu …), Anak Manusia Yesus akan bertindak sebagai TUHAN Allah, dan mengirimkan malaikat dari keempat ujung bumi ke ujung langit untuk mengumpulkan umat pilihan. Dihadapkan pada naskah penderitaan Yesus, para murid sungguh tidak memahaminya bahkan mereka tidak setuju (Markus 8:32-33). Di seluruh Injil, tampaknya pemahaman para murid tentang Yesus tidak ada terobosan besar. Namun, mungkin hanya dengan berempati terhadap proses pemuridan yang penuh rasa frustasi inilah para pembaca Injil Markus – baik orang-orang percaya di Roma pada akhir tahun 60, maupun kita saat ini – akan terkejut melihat betapa kecilnya diri kita, dan memuji kebesaran kerajaan Allah (Markus 4:26-32 … Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya …).

Renungkan:
Penglihatan mana yang lebih nyata bagi Anda? Apakah Bait Suci yang megah di Yerusalem, ataukah pengharapan bahwa Anak Manusia, Yesus, akan datang di awan di masa depan? Mengapa?

Apakah menurut Anda kisah iman Anda berkaitan erat dengan masa depan ketika Yesus akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langitmengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari segala penjuru, dari ujung bumi sampai ke ujung langit? Apakah dengan memiliki pengharapan ini akan berdampak pada pengalaman iman Anda? Mengapa?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).