Markus 12:38-44

Siapakah Rabi kami?

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 12:38-44 [ITB])
38 Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar,39 yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan,40 yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.
41 Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar.42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.

Para ahli Taurat mempunyai banyak tanggung jawab, termasuk menjadi hakim di tengah masyarakat, menyalin Kitab Suci, merefleksikan teologi bangsa Israel, dan banyak lagi. Salah satu tanggung jawab terpenting adalah mengajar bangsa Israel untuk mengetahui hukum dan menaati firman Allah. Secara kebetulan, mengajar juga merupakan tanggung jawab utama Yesus di paruh kedua Injil Markus (Markus 8:22 – …) (tidak  banyak penyembuhan dan pengusiran setan seperti di paruh pertama) . Menariknya, sekelompok ahli Taurat menjadi bahan pengajaran bagi Yesus dalam bagian ini, namun mereka merupakan bahan pengajaran yang sangat negatif.

Menurut Markus, meskipun para ahli Taurat adalah guru bangsa Israel, mereka menjadi penghalang bagi manusia untuk mengenal Allah. Ajaran mereka tidak memiliki kuasa (Markus 1:22),  mereka juga menganut tradisi kuno bangsa Israel dan menolak menerima ajaran baru Yesus (Markus 2:22, 7:5).  Dan kelompok guru-guru yang tidak mendapat perkenan penyertaan Allah ini sangat mendambakan pengakuan dari orang lain, entah itu berarti suka berjalan-jalan memakai jubah panjangsuka menerima penghormatan di pasarsuka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat atau di tempat terhormat dalam perjamuan.  Itu adalah strategi-strategi  yang umum mereka pergunakan untuk memenangkan kekaguman orang lain.

Namun yang lebih menjijikkan lagi adalah situasi yang Yesus sebutkan dalam Markus 10:40  menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang,  sebagai konsekuensinya mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.  Dibandingkan dengan  kejahatan yang sebelumnya (Markus 10:38-39), kejahatan mencaplok rumah janda-janda sangatlah serius. Seharusnya mereka tahu mengacu pada tradisi hukum bangsa Israel, Allah telah dengan jelas menyatakan bahwa seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas (Kel. 22:22), dan para janda sosok  yang rentan sebegitu sering muncul dalam literatur para nabi dan hikmah (Yesaya 1:17, 23; Ratapan 5:3; Ayub 22:9, 24:3; Mazmur 68:5, 146:9). Sebagai pengajar bangsa Israel, bukankah seharusnya para ahli Taurat yang paham hukum Allah harus lebih memperhatikan kebutuhan para janda dan menegakkan keadilan bagi mereka ketika mereka diperlakukan tidak adil?

Namun, para ahli Taurat justru menelan rumah janda-janda (κατεσθίοντες τὰς οἰκίας τῶν χηρῶν). Perlu dicatat bahwa dalam bahasa  asli Yunani (οἰκία oikia)  selain merujuk   rumah tangga  properti milik keluarga, tetapi juga secara langsung merujuk sebuah rumah. Dilihat dari konteksnya, ternyata para ahli Taurat yang sengaja berpura-pura berdoa panjang lebar bukan karena kepedulian terhadap sang janda, melainkan untuk menutupi keserakahan mereka terhadap rumah atau harta milik sang janda, bahkan ini adalah cara tipu muslihat mereka menipu harta! Sebenarnya menurut tradisi Israel, para ahli Taurat pada umumnya tidak diperbolehkan memungut biaya untuk mengajar. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, para ahli Taurat melakukan pekerjaan sekuler atau mengandalkan sumbangan dan hadiah dari orang lain.

Dalam konteks budaya ini, bangsa Israel menganggap memberi sumbangan kepada ahli-ahli Taurat sebagai tindakan yang saleh. Namun, praktik ini lambat laun membuat beberapa ahli Taurat mengembangkan ekspektasi yang tidak masuk akal terhadap hadiah dari orang lain. Dan dari semua hadiah yang bisa diberikan, rumah janda-janda tentulah yang paling menggiurkan! Mereka terutama membutuhkan doa dan ajaran orang-orang. Setelah mendapat perhatian dari ahli-ahli Taurat, dengan sendirinya mereka akan mewariskan rumahnya atas nama ahli-ahli Taurat untuk melambangkan rasa syukur mereka kepada Allah.

Berbeda sekali dengan ahli-ahli Taurat yang tamak ini, ada seorang janda miskin. Peser (λεπτός) adalah koin tembaga pecahan terkecil yang beredar di Yudea pada zaman Yesus. Dua peser kecil setara dengan 1/64 Dinar, yang setara dengan upah satu hari bagi seorang pekerja biasa. Persembahan yang sangat kecil, tapi itu adalah seluruh nafkahnya (ὅλον τὸν βίον αὐτῆς) memikiki makna seluruh hidupnya. Janda miskin tak dikenal ini layak menjadi guru kita (berbeda sekali dengan ahli-ahli Taurat yang tamak).

Renungkan:
Para ahli Taurat berdoa panjang-panjang, tetapi fokusnya salah pada imbalan materi yang diperoleh dari manusia. Dengan cara apa Anda memastikan bahwa Anda tidak terjebak dalam situasi ini?

Janda miskin ini mempersembahkan dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya (ayat 44). Bisakah Anda setuju dengan tindakannya? Mengapa?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).