Tag Archives: Timotius

1 Tesalonika 1-2

「Latar Belakang」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

Latar belakang penulisan surat (1): perjalanan misi Paulus yang kedua kali.
Tiga hari ini kita akan terlebih dahulu membaca dengan cepat seluruh Surat 1 Tesalonika, untuk mendapatkan gambaran besar. Hari ini terlebih dahulu  bacalah secara cepat 1 Tesalonika pasal 1 dan 2 (klik untuk membaca)

Di satu bulan mendatang, kita akan bersama-sama mempelajari Surat 1 Tesalonika. Ini bukan surat yang panjang. Tidak perlu banyak waktu untuk membaca ayat-ayatnya, jadi disarankan membaca setidaknya satu pasal sehari, membacanya secara berulang-ulang dan berulang-ulang merenungkannya. Jika Anda punya waktu, Anda bisa membaca dua pasal atau lebih secara berturut-turut. Materi renungan hanya bisa bersifat pelengkap, dan tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Alkitab, yang paling penting dalam saat teduh adalah mengalami pengajaran secara langsung dari firman Tuhan.

Kebanyakan ahli percaya bahwa 1 Tesalonika adalah dari antara semua surat Paulus yang masih ada merupakan surat yang paling awal (ada juga berpendapat bahwa surat Galatia adalah yang paling awal, tetapi tidak ada alasan dan bukti yang cukup).

Mari kita membicarakan secara singkat latar belakang penulisan surat ini.

Tesalonika adalah sebuah kota di dekat laut di semenanjung Yunani, yang merupakan ibu kota Makedonia di dalam Kekaisaran Romawi, jalur perhubungan yang berkembang, perdagangan yang makmur. Gereja di tempat ini didirikan oleh Paulus sendiri, tetapi ia hanya memiliki hubungan yang sangat singkat dengan gereja yang ia dirikan ini.

Kisah Para Rasul 15 mencatat bahwa perjalanan misi yang kedua dari Paulus dimulai dari Antiokhia pada tahun 49 AD (Kisah Para Rasul 15:40 hingga 18:5), Paulus menolak Markus untuk bergabung karena pernah meninggalkan Paulus, dan terjadi perbedaan pendapat dengan Barnabas yang telah bertahun-tahun bekerjasama dengannya mereka berdua akhirnya berpisah, dan Paulus berangkat bersama Silas, yang datang dari Yerusalem. Segera setelah bertemu dengan seorang pemuda lainnya Timotius di Listra (Galatia selatan) (Kis. 15:40; 16:1), Paulus mengundang dia untuk bergabung dengan tim misionaris, dan tim kembali memiliki tiga anggota lagi. Berharga disebutkan bahwa dibandingkan dengan trio Paulus, Barnabas dan Markus pada perjalanan pertama, kombinasi baru ini lebih bersifat internasional dan memiliki kemampuan melakukan misi lintas budaya. Karena Silas, seperti halnya Paulus, adalah warga negara Romawi (Kis. 16:37-38), sangat mudah untuk melakukan perjalanan dari dan pergi ke semua bagian Kekaisaran Romawi; Timotius adalah campuran dari orang Yunani dan Yahudi (Kis. 16:1), ia telah dipengaruhi oleh dua budaya sejak ia masih kecil (ini menjelaskan mengapa ia belum disunat, lihat Kis. 16:3-10). Tim internasional ini sangat ideal untuk membawa Injil ke dunia campuran Yahudi dan non-Yahudi, termasuk Tesalonika.

Mereka menyeberangi Asia Kecil (sekarang Turki), Troas, dan melakukan perjalanan melalui laut ke Makedonia di Eropa, di mana mereka mendirikan gereja di kota pertama di Makedonia yakni Filipi. Filipi dapat dikatakan sebagai gereja Kristen pertama di Eropa (Kis. 16:8-12). Setelah itu, mereka melalui Amfipolis dan Apolonia lalu tiba di Tesalonika (Kis. 17:1). Jarak dari Filipi ke Tesalonika adalah sekitar 4 hari berjalan kaki.

Seperti kebiasaan Paulus dan yang lainnya di masa lalu, mereka pertama-tama pergi ke Sinagoge (ke rumah ibadat orang Yahudi) di kota setempat pada hari Sabat untuk memberitakan Injil kepada sesama bangsanya. Ini seperti kita pergi ke berbagai negara dan pertama pergi ke tempat lokal berkumpulnya orang-orang sewarga negara untuk bertemu dengan mereka. Demikian pula, Sinagoge adalah tempat paling mudah untuk menemukan orang Yahudi. Paulus berturut-turut tiga hari Sabat memberitakan bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama, membawa banyak orang bertobat kepada Kristus, termasuk orang Yahudi dan orang non Yahudi. Orang percaya mula-mula dari bangsa-bangsa lain adalah sejumlah orang Yunani yang takut kepada Allah yang ikut dalam penyembahan di rumah ibadat Yahudi tersebut (Kis. 17:4).

Namun, Paulus segera mengundang orang-orang Yahudi ini yang percaya kepada Yesus dan sejumlah orang Yunani yang takut kepada Allah untuk berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan terpisah, yang seharusnya diadakan di rumah Yason yang beriman, tempat tim Paulus menumpang. Ada alasan untuk percaya bahwa sejumlah orang Yunani yang takut kepada Allah ini  lalu juga mengundang beberapa kerabat dan teman-teman dari bangsa non Yahudi yang masih percaya pada berhala (lihat 1 Tes. 1:9), jadi ada tiga jenis orang dalam pertemuan Kristen di rumah Yason: Yahudi, orang-orang Yunani yang takut kepada Allah, dan orang-orang non Yahudi yang telah bertobat kepada Kristus langsung dari agama asing. Dalam kategori ketiga, mungkin ada beberapa wanita Yunani dengan status sosial yang relatif tinggi (lihat Kis. 17:4)

Pertemuan penuh toleransi agama ini memicu kemarahan para pemimpin Yahudi. Mereka tidak akan menentang percampuran orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani yang takut kepada Allah, tetapi mereka akan sangat menentang pertemuan bersama antara orang-orang Yahudi dan orang-orang non Yahudi yang tidak mematuhi hukum Yahudi. Akibatnya, mereka menghasut massa, pergi ke rumah Yason untuk membuat masalah, dan menangkap Yason dan beberapa orang percaya ke pemerintah setempat dengan tuduhan menghasut pemberontakan. Hakim meminta Yason untuk menjamin bahwa Paulus tidak akan melakukan kejahatan lagi, barulah membebaskan mereka.

Jika bukan karena manipulasi yang disengaja oleh para pemimpin Yahudi mempermainkan yang benar dan yang salah, menciptakan desas-desus, bagaimana mungkin sekelompok kecil orang-orang percaya Kristus yang muncul di kota bisa menjadi kerusuhan di kota? (Jumlah yang diperkirakan sekitar selusin orang!) Bagaimana hal itu mengancam kedamaian dan ketertiban sosial? Para pemimpin Yahudi dengan sengaja membuat ilusi bahwa massa orang banyak menentang agama Kristen (Tuhan yang tahu apakah massa orang banyak ini dibeli dengan uang oleh mereka), dan mengaitkan urusan agama dilibatkan menjadi masalah sosial dan politik.

Dapat dilihat bahwa penganiayaan terhadap agama Kristen atas dasar politik adalah praktik yang telah ada sejak zaman kuno, teknik yang umum digunakan oleh mereka yang menentang agama Kristen, bukan merupakan hal baru yang unik bagi dunia. Tuduhan agama tidak cukup kuat untuk dibeberkan di atas meja, sehingga mereka dituduh melanggar ketertiban umum dan mengancam pemerintah!

Karena situasi yang mendesak, Yason mengirim Paulus dan orang-orang lain ke luar kota. Pertama-tama mereka pergi ke Berea, di sana mereka disambut dengan hangat oleh Sinagoge, dan banyak juga yang menerima Injil yang diberitakan oleh Paulus. Mereka tinggal dan bekerja di Berea sampai orang-orang Yahudi di Tesalonika datang untuk melanjutkan penganiayaan mereka dan menghalangi pekerjaan Injil. Pada akhirnya, Paulus terpaksa mengakhiri pelayanannya di Berea dan pergi ke Atena, meninggalkan Silas dan Timotius di Berea.

Renungkan:
Kisah Paulus dan pelayanan timnya tidak asing bagi kita. Paulus memiliki tekad untuk memberitakan Injil di mana-mana, tetapi tidak memiliki penglihatan bahwa ia harus memberitakan Injil di suatu tempat berapa lama. Mereka biasanya memutuskan untuk pergi ke daerah tertentu (seperti semenanjung Yunani), dan berjalan-jalan melalui kota-kota di tempat itu, berdasarkan tanggapan penduduk kota-kota yang berbeda atas Injil barulah menentukan tinggal atau pergi. Jika mereka diterima di kota tertentu dan tidak diusir, mereka akan tetap aktif memberitakan Injil dan mendirikan gereja, jika penduduk setempat atau pemimpin Yahudi menolak mereka, mereka akan pindah ke kota lain. Melakukan misi pemberitaan Injil adalah yang paling penting, adapun di mana untuk memberitakannya, itu adalah masalah sekunder, bisa merupakan pilihan atau dipilih.

Tim Paulus diserang dan diusir di banyak tempat. Selama perjalanan ini, mereka diusir dari Filipi, Tesalonika, dan Berea. Penginjilan tidak hanya perang spiritual, tetapi dalam kenyataan juga merupakan tegangan kekuatan sosial. Kebenaran salib membuat perbedaan dengan kepercayaan agama yang ada dan menyinggung hikmat manusia, mengancam otoritas dan status sosial yang ditetapkan oleh para pemimpin agama dengan mengandalkan sistem agama lama. Maka adalah hal yang alamiah bahwa Paulus tidak disambut.

Untuk menjalankan suatu pelayanan yang tidak populer, Paulus harus memiliki identifikasi yang jelas tentang identitas dan misinya, tahu apa yang dia lakukan dan mengapa, dan bekerja keras tanpa penyesalan. Selain itu, ia harus memiliki kemauan yang kuat dan suasana hati yang stabil, ia tidak akan dirobohkan oleh serangan dan permusuhan yang berulang-ulang, ia tidak akan jatuh ke dalam rasa malu dan frustrasi, mengasihani diri sendiri dan menyakiti diri sendiri. Dalam 1 Tesalonika kita melihat bahwa Paulus unggul baik secara kognitif maupun emosional.

Dengarkan pengakuan iman Paulus: Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan (2 Tim. 1:11-12)

Mari akhiri saat ini dengan nyanyian pujian 《Aku tahu siapa yang kupercaya》 atau dengarkan dari YouTube.

1 Ku tak mengerti anug’rah Tuhan yang diperbuat-Nya bagiku.
Tak layak ku t’rima kasih Kristus tebusku jadi milik-Nya.

Reff:
Namun ini yang kupercaya bahwa Dia dapat memelihara
apa yang t’lah kuserahkan waktu aku percaya.

2 Betapa heran aku dapatkan iman yang meny’lamatkanku
Dan percaya kepada Firman-Nya beroleh damai di hati.
3 Ku tak mengerti kuasa Roh Kudus mengubah orang berdosa.
Meyakinkan tentang Tuhan Yesus menjelma jadi manusia.


Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Tesalonika ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)) yang dipublikasi pada bulan Maret 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Filipi 1:1-2

「Tuhan yang Kasih Karunia dan Damai Sejahtera」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Fil. 1:1-2 [ITB])
1 Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik jemaat dan diaken.
2 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

Bulan ini kita akan merenungkan pesan dari Surat Filipi. Ini adalah surat yang relatif singkat, sehingga ayat yang akan kita renungkan per hari mungkin singkat, tetapi itu memungkinkan kita untuk berpikir lebih mendalam tentang makna tulisan dari bagian Kitab Suci ini, dan bagaimana pesan ini berlaku dan dilaksanakan bagi kita.

Surat Filipi ditulis pada saat pemenjaraan Paulus yang pertama di Roma. Menurut kebiasaan menulis surat pada zaman itu, kata-kata pembuka di awal surat hanya akan secara singkat menjelaskan siapa penulis, penerima, dan salam.

Adapun di bagian nama penulis, Paulus juga mendaftarkan Timotius sebagai penulis. Dari tiga belas Surat-surat Paulus, ada enam surat yang memasukkan Timotius dalam nama penulis, tiga di antaranya menyebut Timotius seorang saudara (2 Korintus, Kolose, Filemon), dalam dua surat lainnya tidak menyebutkan dia dengan sebutan apapun (1, 2 Tesalonika) mungkin menitikberatkan dia sebagai bagian dari komunitas gereja, sedangkan dalam surat Filipi, Paulus dan Timotius saling terhubung bersama-sama disebut hamba Kristus Yesus. Ungkapan Paulus ini mungkin menyiratkan pesan tentang kesatuan hati dalam pelayanan yang hendak ia sampaikan dalam suratnya. Di sisi lain, meskipun ia yakin dapat bertemu kembali dengan jemaat Filipi, mungkin ia memosisikan Timotius sebagai penggantinya di masa depan, sehingga memakai cara yang khusus memperkenalkannya kepada jemaat Filipi.

Paulus menyebut dirinya dan Timotius sebagai hamba Kristus Yesus. Kata hamba dalam konteks sosial Yunani-Romawi adalah peran budak yang rendah, melambangkan sikap melayani dengan rendah hati; tetapi dalam Perjanjian Lama hamba-hamba TUHAN biasanya menunjuk kepada para pemimpin yang ditugaskan oleh Allah bagi umat-Nya, seperti Musa, Yosua, dan Daniel. Karena itu, sebutan Paulus atas diri sendiri, di satu sisi mengungkapkan kerendahan hati pelayanan Paulus bersama Timotius, tetapi di saat yang sama juga menunjukkan peran kepemimpinan mereka di dalam gereja.

Mengenai penerima surat, selain secara sederhana menunjukkan bahwa surat itu ditujukan kepada orang-orang kudus di Filipi, ia juga secara khusus menyebutkan para penilik jemaat dan diaken. Menurut ide umum, surat yang ditulis kepada gereja secara alami ditujukan kepada anggota gereja, terutama juga termasuk para pemimpin gereja di antara mereka, oleh karena itu, tidak perlu khusus menyebutkan para penilik jemaat dan diaken. Namun Paulus secara khusus menyebutkan bahwa para pemimpin gereja Filipi juga adalah penerima surat, ia ingin mereka memberikan perhatian ekstra pada pesan surat ini. Terutama di dalam surat ini menyebutkan persatuan dan kerendahan hati, para pemimpin gereja ini akan menjadi panutan yang besar, karena peran kepemimpinan mereka, dan tindakan mereka akan memengaruhi pertumbuhan yang sehat dari seluruh gereja.

Setelah membuat daftar penulis dan penerima, Paulus seperti kebiasan dia menuliskan salam kepada para penerima. Kasih karunia dan damai sejahtera bisa menjadi miniatur mengintisarikan teologi Paulus, kasih karunia adalah salam yang biasa digunakan orang Yunani-Romawi, sementara damai sejahtera adalah salam orang-orang Yahudi, tetapi Paulus mempersatukan keduanya, melambangkan di bawah karunia keselamatan Allah, kelompok-kelompok yang berbeda justru menjadi satu di dalam Yesus Kristus, ini juga adalah tujuan yang hendaknya dikejar oleh Gereja.

Dalam dua ayat ini, nama Yesus Kristus muncul tiga kali: penulis surat adalah hamba Kristus Yesus, penerima surat adalah semua orang kudus dalam Kristus Yesus, salam ucapan berkat yakni kasih karunia dan damai sejahtera yang dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus kepada pembaca. Ini merupakan pesan yang sangat berpusat pada Kristus.

Renungkan:

Dalam perjalanan iman kita, sudahkah kita mempersiapkan dan memperlengkapi Timotiusnya diri kita? Ini tidak hanya untuk menemukan penerus kita dalam pelayanan, tetapi juga sebagai saluran sirkulasi berbagi hal-hal terkait iman kita. Tidak peduli kita termasuk generasi yang mana, generasi kita pasti akan berlalu, dan kita tidak bisa melemparkan tanggung jawab pewarisan ini kepada orang lain.

Salam ucapan berkat Paulus berpusat pada Kristus, kasih karunia dan damai sejahtera bersifat universal bisa diberitakan kepada siapapun, dapatkah kita menunjukkan karakter seperti itu sehingga siapa pun yang berinteraksi dengan kita bisa mendapatkan berkat ini?


Renungan pemahaman Surat Filipi (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan January 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.