「Ketika harapan jatuh kosong …」
Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Flp. 4:10-14 [ITB])
10 Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. 11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. 12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. 13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. 14 Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku.
Berpikir 「positif」, sangat populer di kalangan orang tua juga merupakan nilai-nilai yang diakui masyarakat. Besok akan lebih baik, harapan ada di hari esok. Dibandingkan sikap 「negatif」 rendah diri mengasihani diri sendiri, siapa yang tidak mengakui berpikir 「positif」 itu? Siapa yang tidak ingin anak-anak mereka, di jalan penuh harapan dan penuh rasa kepastian, percaya diri dapat mengatasi semua kesulitan itu? Berpikir 「positif」 tentu lebih baik daripada berpikir 「negatif」. Demikian juga, ketika kita mendengar Paulus berkata: 「Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku」 (Flp. 4:13) ayat ini sangat populer. 「Segala perkara dapat kutanggung」, narasi ini sangat enak didengar, kita semua suka. Namun, seringkali kalimat emas ini dibaca dengan cara yang mengabaikan latar belakang situasi ayat ini, sehingga salah memahami arti sebenarnya. Terjemahan Mandari CCV mampu membawa keluar pikiran Paulus: 「bersandar pada yang menganugerahkan kekuatan kepada saya, keadaan apapun yang dapat saya hadapi.」
Surat Filipi sebenarnya merupakan sebuah 「Petunjuk Penanganan Harapan」 (expectation management manual). Paulus dalam keadaan yang tidak menentu apakah bisa keluar dari penjara, tetap percaya secara mendalam bahwa Kristus dapat dimuliakan melalui kisah hidupnya. Demikian pula, ketika Paulus di Flp. 4:11 mengatakan 「aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan」, ia bisa berpuas hati apapun itu situasinya, dalam situasi tidak tahu kapan bantuan gereja Filipi akan datang, ia tetap percaya bahwa Kristus memiliki maksud indah dan pengaturan terbaik. Orang lain mungkin berpikir ini adalah semangat jongkok, tetapi Paulus sebenarnya menghidupi logika naratif (narrative logic) yang merupakan perpanjangan dari kisah Kristus. Kisah tentang penderitaan Kristus yang menunggu pemulihan kepada kedudukan sepatutnya (Flp. 2:5-11, 3:20-21) bukan saja merupakan kepastian bagi Paulus masuk kerajaan surga, tetapi 「penenang」 dalam menghadapi gelora ombak perubahan masa depan, itu adalah sumber kedamaiannya.
Kebanyakan orang jika masuk ke dalam situasi Paulus di Filipi, dan mungkin akan merasa kesepian dan khawatir, tetapi Paulus 「sangat bersukacita dalam Tuhan」 (Flp. 4:10). Penyebabnya bukan karena dia baru saja menerima bantuan konkret dari gereja Filipi (seperti uang, makanan, dll) yang hanya membawa kegembiraan singkat, tetapi dibangun 「dalam Tuhan」. Esensi sukacita seperti itu, mengabaikan keuntungan dan kerugian yang ada di depan mata, seperti rendah, kaya, kenyang, lapar, dan berkelebihan, atau kekurangan, tetapi memandang penting 「hari」 berakhirnya kisah yang sedang datang. Apa yang dapat membawa kedamaian ini Paulus, bukan dari meditasinya sendiri, tetapi iman yang yakin kepada Tuhan yang akan memelihara dia sampai akhir. Terapi berpikiran positif ataupun Mindfulness-Based Stress Reduction mungkin berguna untuk mengelola emosi dan stres, tetapi cara berpikir 「hidup di masa sekarang」 tidak menghargai akhir dunia bisa berkesempatan menjadi semacam pembiusan diri. Paulus selalu bahagia dan tidak jatuh ke dalam kesepian dan kekhawatiran adalah karena logika naratif 「senantiasa di dalam Tuhan.」
Faktanya, pikiran yang mengandalkan dan bersandar pada Tuhan untuk menghadapi dan menangani gelora ombak perubahan masa depan, juga terlihat dalam frasa「iman yang timbul dari Berita Injil – τῇ πίστει τοῦ εὐαγγελίου pistei tou euangeliou」 (Flp 1:27). Sebagai frasa yang hanya satu kali saja muncul dalam 《Perjanjian Baru》, 「iman Injil」pada kenyataannya tidak mengacu pada 「objek pelayanan」 dari kerja keras bersama orang percaya, tetapi mengacu pada 「Injil yang membawakan jaminan」 masa depan kepada orang percaya. Jemaat Filipi perlu belajar seperti Paulus, bekerja keras bersama dengan mengarahkan pandangan melihat pengharapan tertuju ke depan.
Renungkan:
• Bagaimana perasaan Anda menghadapi masa depan? Inspirasi apa yang dibawakan kisah Paulus terhadap situasi Anda? Mengapa?
• Di masa lalu, apakah Anda pernah menyerahkan sesuatu hal ke dalam tangan Tuhan, atau pernah kehilangan kesediaan untuk mematuhi pengaturan Tuhan? Pengalaman dahulu itu, apakah berpengaruh pada kehidupan spiritual Anda? Menghadapi masa depan, apa yang bisa membuat Anda merasa tidak tenang atau gelisah? Anda berharap bagaimana cara Tuhan membantu Anda dan membentuk Anda?
Renungan pemahaman Surat Filipi (November 2021)
Renungan pemahaman semua Surat Filipi
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan November 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.