Tag Archives: Surat Efesus

Efesus 6:1-3

Hormatilah ayahmu dan ibumu

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 6:1-3 [ITB])
1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. 2 Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.

Dalam bagian penerapan hidup dalam hikmat dalam Roh Kudus pada hubungan keluarga, Paulus telah mengajarkan panjang lebar tentang hubungan antara suami dan istri, di perikop ini ia secara singkat membahas hubungan antara orang tua dan anak, serta hubungan antara tuan dan hamba.

Pertama adalah pengajaran kepada anak. Kata anak-anak (τέκνα tekna) yang digunakan di sini lebih erat hubungannya dengan kata yang biasa digunakan untuk menyatakan anak (ὑίος huios). Anak (ὑίος huios) adalah definisi identitas, tidak berubah seiring bertambahnya usia; sedangkan anak-anak umumnya mengacu pada orang yang masih bergantung pada orang tua mereka dan masih di bawah umur, dan merupakan kata benda netral, sehingga harus mencakup anak laki-laki dan perempuan. Adapun di bawah usia berapa orang dianggap anak-anak, dan kapan mereka mencapai tahap dewasa? Tidak ada batasan yang jelas. Secara umum bisa dikatakan remaja atau yang usianya lebih kecil lagi.

Pengajaran di sini ditujukan kepada anak-anak, tampaknya mencerminkan bahwa anak di bawah umur juga dianggap sebagai anggota gereja dan diterima ke dalam komunitas ini. Tentu saja, kita tidak dapat, berdasarkan keanggotaan gereja modern, berasumsi bahwa karena hanya mereka yang dibaptis ke dalam gereja yang menjadi anggota gereja, maka perikop ini mendukung baptisan bayi, karena keanggotaan ini tidak ada di gereja mula-mula. Sebaliknya, kita perlu menekankan bahwa meskipun mereka masih di bawah umur dan bahkan mungkin tidak cukup tahu tentang iman, tetapi karena anggota keluarga mereka percaya kepada Injil dan dengan demikian dapat termasuk dalam komunitas orang percaya, mereka mungkin terlebih membutuhkan kita untuk membimbing mereka secara rohani.

Di sini pengajaran kepada mereka yakni agar mereka menaati orang tua. Perintah ini berbeda dengan kewajiban seorang istri yang dijabarkan di perikop sebelumnya atas. Istri harus tunduk kepada suami dan di bagian kesimpulan dijelaskan tentang rasa hormat yang lebih merupakan perihal sikap. Tetapi taat lebih mutlak, yang menunjukkan bahwa anak-anak perlu menuruti perintah orang tuanya. Sebagaimana dikemukakan di atas, anak-anak, karena mereka masih di bawah umur, harus taat pada otoritas orang tua mereka, yang bukanlah sesuatu yang dapat mereka pilih. Di sini karena kata kerjanya diubah, itu menunjukkan bahwa mereka harus mematuhi orang tua mereka.

Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, ada orang yang menafsirkan di dalam Tuhan sebagai deskripsi terhadap orang tua, seolah-olah mengatakan bahwa hanya orang tua yang ada di dalam Tuhan yang perlu dipatuhi. Tentu saja, jika orang tua yang tidak percaya meminta anaknya melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, anak-anak harus memilih untuk menaati Tuhan; tetapi ini tidak berarti bahwa anak-anak dapat mengabaikan tuntutan orang tua yang tidak percaya. Dalam Roma 1:30 dan 2 Tim. 3:2, Paulus menunjukkan bahwa ketidaktaatan kepada orang tua adalah tanda kerusakan.

Setelah itu Paulus menambahkan kutipan Perjanjian Lama untuk mendukung pengajaran ini sebagai perintah yang sepatutnya, Hormatilah ayahmu dan ibumu … Kutipan ini jelas didasarkan pada perintah kelima dari Keluaran 20:12. Kutipan ini memperluas pengajaran anak-anak ke tingkat yang lebih jauh, tuntutan mungkin terbatas pada anak-anak di bawah umur diperlebar cakupannya untuk semua orang, tetapi memperdalam ketaatan kepada arah yang lebih fokus yakni berbakti kepada ayah dan ibu.

Paulus menambahkan komentar setelah kutipan ini … ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi, menunjukkan bahwa ini adalah perintah pertama dengan sebuah janji. Tegasnya, semua perintah memiliki janji sehingga orang Israel dapat menerima berkat TUHAN setelah mereka taat, tetapi semua bersifat umum, hanya setelah perintah kelima ada janji khusus, untuk menunjukkan pentingnya. Berkat supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam tradisi Yahudi tidak memiliki penjelasan atau contoh yang jelas atas janji berkat ini. Kita juga tidak dapat melihat ini sebagai berkat rohani dalam teologi Paulus, karena dalam 1:3 Paulus telah menjelaskan dengan sangat jelas bahwa semua berkat rohani diberikan kepada semua orang percaya oleh Allah di dalam Yesus Kristus. Oleh karena itu, seharusnya menurut literatur kebijaksanaan umum, yang mengacu pada hasil yang diperoleh orang yang bertindak sesuai dengan kebijaksanaan dan ajaran Tuhan, ia akan dipuji dan dihargai oleh manusia serta di hadapan Tuhan.

Renungkan:
Kita mungkin bukan remaja lagi, keluar dari tahap sebagai 「anak-anak」 menaati dalam segala hal, tapi bagaimana kita bisa menghormati orang tua kita dan membuat mereka menerima rasa hormat yang patut mereka terima?


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 5:29-33

Rahasia ini besar

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 5:29-33 [ITB])
29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 31 「Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.」 32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. 33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Dalam bagian ini membahas hubungan antara suami dan istri, Paulus menggunakan hubungan antara Kristus dan gereja sebagai model, dan juga mengutip perintah Allah dalam Perjanjian Lama ketika Ia menetapkan pernikahan. Tetapi setelah mengutip pendirian pernikahan, Paulus dalam 5:32 menunjukkan bahwa ini adalah misteri besar, dan misteri ini mengacu pada Kristus dan gereja. Dengan kata lain, hal ini menunjukkan bahwa selain penyatuan suami istri dan hubungan manusiawi untuk memiliki anak, pernikahan juga memiliki makna simbolis yang penting.

Dalam pasal tiga, Paulus menggunakan kata rahasia untuk menunjukkan bahwa bangsa-bangsa non Yahudi turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan melalui Injil di dalam Kristus Yesus. Tetapi di sini, ia tidak mengacu pada kesatuan kelompok-kelompok yang berbeda di dalam gereja, tetapi pada hubungan antara Kristus dan gereja. Orang percaya mendengarkan Injil sehingga bisa disatukan dengan Yesus Kristus dan menjadi manusia baru yang didiami oleh Roh Kudus adalah titik berat dalam teologi Paulus. Fakta berada di dalam Kristus tidak hanya ada pada individu orang percaya, tetapi dalam komunitas secara keseluruhan. Oleh karena itu, gereja bukan hanya sekelompok orang dengan keyakinan dan harapan yang sama, tetapi juga sekelompok orang yang hidupnya terikat bersama dalam Yesus Kristus. Ini adalah rahasia besar dan kemuliaan besar yang kita miliki. Gereja kita di bumi ini bersatu dan satu tubuh dengan Yesus Kristus, dan dengan demikian, mencerminkan kemuliaan Allah.

Di sisi lain, 5:29-30 juga menunjukkan bagaimana Kristus memelihara dan mengasihi gereja, seperti manusia memperlakukan tubuhnya sendiri. Meskipun dalam sejarah, kita telah melihat gereja melalui banyak kesulitan, dan kita percaya bahwa tantangan dan penganiayaan ini akan terus terjadi hingga hari kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Sama seperti orang-orang Yahudi, setelah mereka kembali dari penawanan, menanggapi pernyataan nabi Maleakhi tentang kasih TUHAN, dengan mengatakan, dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami? Kita juga mungkin mempertanyakan kasih Yesus Kristus di hari-hari yang sulit ini. Tanggapan Allah kepada orang-orang Yahudi pada masa itu, dan di sini kepada orang-orang percaya, adalah untuk menunjukkan bahwa bagaimanapun keadaannya, Yesus tetaplah Tuhan yang mengasihi kita, dan kita bersatu dengan- Nya dan tidak akan terpisahkan.

Penjelasan Paulus tentang hubungan Kristus-gereja untuk menggambarkan pentingnya hubungan pernikahan. Melalui pernikahan manusia, kita dapat memiliki sedikit pengenalan akan rahasia besar ini dan memahami arti dari dua orang yang menjadi satu tubuh. Dalam 5:33 Paulus hanya mengungkapkan tanggung jawab suami dan istri: suami harus mengasihi istrinya seperti ia mengasihi dirinya sendiri, dan istri harus menghormati suaminya. Di permukaan tanggung jawab seorang suami mungkin tampak sangat sederhana, tetapi ketika kita mempertimbangkan arti kata kasih dalam surat-surat Paulus, itu adalah tantangan yang sangat berat. Karena bagi Paul, kasih berarti penyangkalan diri, mengorbankan diri. Suami juga perlu memiliki penyangkalan diri semacam ini kepada istrinya, rela melepaskan kehendaknya sendiri demi kepentingan istrinya; dan istri juga perlu menghormati serta tunduk pada suaminya dalam segala hal. Hanya dengan demikian kita dapat mulai memahami rahasia hubungan antara Yesus Kristus dan Gereja.

Renungkan:
Hubungan antara suami dan istri belum tentu manis dan indah sepanjang waktu, dan pengalaman bergereja di dalam Kristus belum tentu terasa penuh anugerah, tetapi apakah kita percaya bahwa suami dan istri telah menjadi satu tubuh dan tidak dapat dipisahkan, dan bahwa gereja juga bersatu dengan Kristus, dan tidak ada pengaruh manusia yang dapat merusaknya?


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 5:25-33

「Kasihilah istrimu sama seperti diri sendiri」

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 5:25-33 [ITB])
25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. 33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Dalam ajaran tentang suami ini, selain kasih Yesus Kristus yang rela berkorban bagi gereja sebagai model, Paulus menggunakan gambaran lain untuk mengilustrasikan bagaimana suami seharusnya memperlakukan istri, dan ini diulang berkali-kali dalam perikop ini. Dalam ayat 28, Paulus menunjukkan bahwa orang mengasihi tubuhnya sendiri dan mengasihi dirinya sendiri. Dalam ayat 29, ia menjelaskan lebih lanjut bahwa tidak ada yang membenci tubuhnya sendiri, melainkan memelihara dan menyayanginya, dan akhirnya dalam ayat 32 sekali lagi dalam kesimpulan menunjukkan bahwa kita harus mencintai istri kita seperti kita mencintai diri kita sendiri.

Perbandingan ini mengasumsikan bahwa masing-masing dari kita akan mencintai diri kita sendiri. Ini adalah respons alami kita, dan tidak memerlukan refleksi rasional atau perintah orang lain. Tak satu pun dari kita akan dengan sengaja membenci diri kita sendiri, menentang diri kita sendiri. Kita semua adalah orang-orang yang mencintai diri kita sendiri.

Tetapi di sisi lain, hal-hal yang kita lakukan dalam hidup dan pilihan yang kita buat belum tentu baik untuk kita dan tidak benar-benar mencerminkan fakta bahwa kita mencintai diri kita sendiri. Jadi asumsi di sini juga menjadi pengingat bahwa kita perlu belajar untuk mencintai diri kita sendiri. Cinta lebih dari sekadar keadaan pikiran, ini tentang mengambil tindakan yang tepat untuk tujuan yang benar, dan bahkan mungkin membuat beberapa pengorbanan. Kristus mengasihi gereja, dan Dia memberikan diri-Nya bagi gereja untuk membuatnya kudus, berkenan kepada Allah dan mulia. Ketika kita mencintai diri kita sendiri, kita juga berusaha untuk membangun diri kita sendiri untuk melakukan kehendak Tuhan.

Di bawah asumsi kita tahu bagaimana mencintai diri kita sendiri dengan benar, kita hendaknya mencintai istri kita secara setara. Perbandingan tersebut mengungkapkan pesan yang sangat penting, menunjukkan pentingnya persatuan suami dan istri. Ketika seorang pria dan seorang wanita dipersatukan sebagai pasangan, mereka menjadi satu tubuh, mereka awalnya dua individu dengan banyak perbedaan, tetapi dalam pernikahan ini mereka menjadi satu individu baru, tidak hanya dalam daging, tetapi juga dalam jiwa rohani, bahkan secara sosial adalah baru, satu unit kesatuan.

Bersatunya dua orang menjadi satu tubuh ini memiliki banyak tantangan dalam praktiknya. Masing-masing dari kita unik, dengan keluarga asal kita sendiri, kisah pertumbuhan, pendidikan, dan karier yang berbeda. Bagi orang Kristen, kita juga telah melalui perjalanan iman yang unik. Tidak mudah untuk membuat satu kesatuan di antara begitu banyak perbedaan. Dan cinta sejati adalah membangun harmoni dan kesatuan di antara banyak perbedaan ini. Istri bukanlah bawahan suami, dan bukanlah menjadi pribadi yang sepenuhnya identik dengan suami, tetapi suami dan istri bersama-sama membangun pribadi baru; dalam hal ini, tanggung jawab suami adalah mencintai istrinya seperti dirinya sendiri, bahkan menyerahkan diri agar istrinya mengembangkan pengaruh penuh pada individu baru yang mereka bentuk bersama ini.

Renungkan:
Hubungan antara suami dan istri adalah model kesatuan, dan suami harus mencapai kesatuan ini melalui cinta yang menyangkal diri. Orang yang bukan suami juga perlu mempelajari sikap berdamai dalam komunitas orang percaya.


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 5:25-27

Kasih yang mengorbankan diri

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 5:25-27 [ITB])
25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

Dalam pengajarannya tentang hubungan antara suami dan istri, Paulus menghabiskan tulisan yang relatif panjang untuk memberi pesan kepada para suami. Paulus memulai pengajaran ini dengan sederhana menunjukkan bahwa suami harus mengasihi istri mereka, dan kemudian menggunakan kasih Kristus kepada gereja sebagai contoh kasih suami.

Kasih (ἀγαπάω agapao) banyak digunakan di dunia Yunani dan dapat digunakan untuk menggambarkan berbagai bentuk cinta, untuk orang, benda, dan hewan, tetapi dalam tulisan Paulus, dia hanya menggunakan kata kerja ini dalam hubungan antara Allah dan manusia, dan dalam hubungan komunitas gereja, dan menggunakan karya penebusan Allah di dalam Kristus sebagai cetak biru untuk kasih ini, dapat dilihat bahwa ia bermaksud menggunakan kata kerja ini untuk menggambarkan hubungan di dalam Kristus.

Di sini Paulus menunjukkan bahwa suami harus mengasihi istri mereka seperti Kristus mengasihi gereja, ia menambahkan dua ayat untuk menjelaskan kasih Yesus Kristus. Tindakan dan hasil yang digambarkan dalam dua ayat ini jauh melampaui apa yang dapat dilakukan seorang suami, jadi ini seharusnya bukan ekspresi bagaimana seorang suami seharusnya mengasihi istrinya, melainkan fokus pada pekerjaan Yesus Kristus, tetapi juga untuk menunjukkan kualitas kasih yang paling mulia.

Pertama, Paulus menunjukkan bahwa kasih Kristus bagi gereja dinyatakan dalam mengorbankan diri-Nya bagi gereja. Mengorbankan diri bukanlah kasih itu sendiri, dan dalam 1 Korintus 13:3 Paulus mengatakan bahwa jika seseorang mengorbankan dirinya tanpa kasih, itu juga sia-sia. Jadi pengorbanan dan kasih adalah dua sikap yang bisa eksis secara mandiri. Dalam budaya Yunani kuno, mengorbankan hidup seseorang adalah kondisi yang diperlukan untuk menjadi seorang pahlawan, menunjukkan bahwa seseorang dapat mengorbankan diri semata-mata demi kehormatannya sendiri.

Tetapi pengorbanan diri Yesus Kristus dilakukan untuk gereja, dan ayat 26 dan 27 menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela, ini menunjukkan hasil dari pengorbanan diri Yesus Kristus bagi gereja ── menyucikan gereja dengan air melalui Firman. Beberapa orang berpendapat bahwa air di sini mengacu pada air baptisan, tetapi frasa selanjutnya menunjukkan bahwa menyucikan dilakukan melalui Firman. Oleh karena itu, menyucikannya dengan air seharusnya merupakan metafora menunjukkan bahwa Yesus Kristus menyucikan gereja melalui firman kebenaran. Dengan kata lain, Yesus Kristus bukan mengorbankan diri-Nya untuk kemuliaan-Nya sendiri, tetapi untuk menyucikan gereja dan tidak bercacat.

Oleh karena itu, kita juga harus mengidentifikasi kekudusan sebagai tujuan hidup orang percaya. Iman kita kepada Yesus Kristus bukan hanya sekadar mendapat keselamatan dan pembebasan dari dosa, tetapi iman juga agar kita memiliki hidup baru di dalam Kristus yang mencerminkan kekudusan Allah dalam hidup kita. Inilah tujuan yang harus dikejar oleh orang percaya selama hidup di dunia. Dan cara kita menjadi kudus adalah melalui Firman Tuhan, yang artinya kita perlu diajar oleh Alkitab agar kita dapat memahami sepenuhnya kehendak Allah dan dibimbing serta terus menerus bertumbuh di jalan menuju kekudusan.

Renungkan:
Kasih Yesus Kristus adalah untuk membuat gereja kudus dan tidak bercacat, menjadi gereja yang dapat dipersembahkan untuk kemuliaan-Nya. Kita perlu memiliki ajaran Alkitab dalam hati kita dan mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai tanggapan terhadap kasih pengorbanan Yesus Kristus.


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 5:22-24

Tunduklah kepada suamimu. Jemaat tunduk kepada Kristus

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 5:22-24 [ITB])
22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.

Dalam 5:22-6:9 Paulus menerapkan hikmat hidup dalam Roh Kudus ke dalam hubungan keluarga, termasuk suami dan istri, orang tua dan anak, tuan dan hamba. Ini adalah anggota dasar dari keluarga kuno. Masyarakat modern lebih kompleks, operasi ekonomi tidak lagi terbatas pada keluarga, dan hubungan antara tuan dan pelayan telah menjadi situasi di tempat kerja, dan pengasuhan anak-anak juga telah melibatkan partisipasi banyak lapisan lembaga pendidikan, sehingga dua hubungan terakhir lebih banyak elemen yang berbeda. Satu-satunya hal yang harus tetap sama adalah hubungan antara suami dan istri.

Kita akan menghabiskan empat hari merenungkan apa yang Efesus katakan tentang hubungan antara suami dan istri. Yang pertama adalah tanggung jawab sebagai seorang istri, tetapi dalam hal ini juga terlihat tanggung jawab gereja.

Dalam teks bahasa asli Yunani, ayat 5:22 tidak menjelaskan apa kata kerjanya, tetapi hanya membandingkan tindakan istri terhadap suaminya dengan tindakannya terhadap Tuhan, menggunakan tindakannya terhadap Tuhan sebagai model tindakannya terhadap suaminya. Dalam ayat berikutnya 5:24, sangat jelas bahwa tindakan yang diperlukan di sini adalah tunduk (ὑποτάσσεται hupotassetai), jadi kita tidak dapat mengurangi persyaratan ketaatan hanya karena tidak ada kata kerja dalam ayat ini, juga sikap di ayat 21 rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain berbeda dengan sikap yang dibicarakan dalam hubungan antara suami dan istri yang dibicarakan di perikop ini.

Di sisi lain, seperti yang bisa kita lihat di ayat berikutnya di bawah (Efesus 6), ketika berbicara tentang anak-anak dan hamba, mereka diperintahkan untuk taat (ὑπακούετε hupakouete). Meskipun kedua kata ini banyak tumpang tindih dalam penggunaan dan dapat dikatakan sinonim, ada beberapa perbedaan dalam penggunaan yang serupa. Taat lebih tentang perilaku, sedangkan tunduk lebih tentang sikap. Oleh karena itu, dalam hubungan suami istri, suami tidak diminta untuk membuat perintah, kemudian istri hanya mengikuti perintah, tetapi rasa hormat istri terhadap suami lebih ditekankan.

Paulus menunjukkan dalam perikop ini bahwa suami adalah kepala istri. Paulus tidak menjelaskan mengapa suami adalah kepala istri, tetapi memperkenalkan analogi hubungan Kristus dengan gereja, menunjukkan bahwa Kristus adalah kepala gereja. Dalam penggunaan penggambaran dalam Perjanjian Baru, kepala umumnya tidak dalam arti esensial, mengacu bahwa kepala sebagai lebih mulia dan penting daripada tubuh, Kristus lebih mulia dan penting daripada tubuh. 1 Korintus 11:3 menunjukkan: Kepala dari Kristus ialah Allah, jika itu adalah metafora dalam arti esensial maka itu akan membagi Allah dan Kristus menjadi dua tingkat yang berbeda, sehingga metafora seharusnya bersifat fungsional dan mewakili peran dalam kepemimpinan. Suami adalah kepala istri, bukan karena dia lebih tinggi dari istri, tetapi karena dia ditempatkan dalam peran kepemimpinan. Ayat 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh, terakhir Paulus menunjukkan bahwa Kristus adalah Juruselamat tubuh, ini tidak menunjuk pada tanggung jawab suami untuk menjadi penebus istri, tetapi untuk menunjukkan bahwa Kristus adalah kepala gereja berdasarkan rencana Allah dalam pekerjaan penebusan. Dari perbandingan ini, kita dapat melihat bahwa suami adalah kepala istri adalah rancangan Allah, jadi ketundukan istri kepada suaminya ada dalam rancangan Allah.

Dalam ajaran tentang istri ini juga terdapat sesuatu yang berharga dipikirkan oleh orang yang bukan istri. Paulus membandingkan istri tunduk kepada suaminya dengan gereja tunduk kepada Kristus, dengan asumsi bahwa gereja harus tunduk kepada Kristus. Ini tentu saja asumsi yang masuk akal, karena gereja itu sendiri didirikan karena penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus, dan jika tidak berada di bawah otoritas Yesus Kristus, maka gereja kehilangan maknanya.

Renungkan:
Sebagai seorang istri, apakah Anda tunduk dan menghormati suami Anda? Sebagai orang percaya, apakah kita tunduk kepada Kristus dalam hidup kita?


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 5:18-21

Dipenuhi Roh Kudus

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 5:18-21 [ITB])
18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, 19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. 20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita
21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

Paragraf ini dimulai dengan janganlah kamu mabuk oleh anggur sebagai sebuah perintah. Dalam kalimat berikutnya teks langsung menunjukkan masalah mabuk, kita tidak dapat menyangkal bahwa minum anggur hampir tidak bisa dihindari dalam budaya daerah Mediterania, dan Alkitab sering mencatat adanya minum anggur dalam situasi sehari-hari atau dalam situasi perjamuan perayaan, dan merupakan elemen yang perlu. Jadi kita perlu berhati-hati dengan memperbandingkan antara mabuk dan kepenuhan Roh Kudus.

Padahal, kata mabuk juga berarti penuh. Kata ini secara harfiah berarti minum sampai mabuk, tetapi ada juga banyak penggunaan metaforis untuk mengungkapkan arti kepenuhan, kepuasan, meluap, dan juga dapat diperluas untuk perjamuan perayaan dan kegembiraan. Dalam Mazmur 65:9, kata mabuk dan kata kepenuhan digunakan dalam ayat yang sama: Engkau memelihara tanah. Engkau mengairinya (bentuk partisip dari kata mabuk) dan menyuburkannya. Aliran sungai-Mu selalu penuh dengan air. Demikianlah Engkau membuat benih tumbuh (terjemahan Indonesia VMD. Lihat KJV You visit the earth, and water it: you greatly enrich it with the river of God, which is full of water: you prepare them corn, when you have so provided for it. ). Dapat dilihat bahwa kata mabuk juga berarti penuh adalah dua konsep yang berkaitan erat, dan menunjuk ke dengan cara apa yang diperlukan dapat dipenuhi. (Kata mabuk שָׁכַר shakar dalam kamus bahasa Ibrani memiliki penjelasan “dipenuhi dengan minum berkelimpahan”)

Elemen-elemen apa yang dibutuhkan dalam pertemuan komunitas agar kita dapat menikmati kebersamaan? Persekutuan macam apa yang dapat memenuhi semua orang dengan kegembiraan? Dilihat dari budaya masyarakat saat itu, minum anggur harus ada dalam perjamuan makan. Seperti pada pesta pernikahan di Kana, perayaan tidak akan cukup tanpa anggur yang cukup, sehingga ibu Yesus meminta Yesus untuk menyelesaikan masalah tersebut. Tetapi Paulus menunjukkan di sini bahwa apa yang dibutuhkan dalam pertemuan orang percaya bukanlah anggur yang dianggap perlu oleh budaya pada saat itu, tetapi elemen lain.

Paulus dengan sederhana menyatakan bahwa kita harus dipenuhi dengan Roh Kudus, dan kemudian melengkapi arti dipenuhi dengan Roh Kudus dengan serangkaian kata kerja bentuk partisip (bentuk kata kerja yang berguna untuk menambahkan deskripsi pada sebuah kalimat, menggambarkan partisipasi dalam tindakan yang dilakukan oleh kata kerja. Memiliki peran yang mirip dengan kata sifat atau kata keterangan), bentuk partisip ini jelas merupakan fungsi dari kata keterangan. Penggunaannya di sini memiliki dua kemungkinan, salah satunya adalah menganggap partisip ini sebagai konsekuensi dari dipenuhi Roh Kudus, menunjukkan bahwa orang percaya, setelah dipenuhi Roh Kudus, akan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani, bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita. Tetapi partisip terakhir dalam serangkaian ini, rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain dalam 5:21, tidak mudah dipahami sebagai konsekuensi dari kepenuhan Roh Kudus. Cara penjelasan ini juga tidak membahas bagaimana orang dipenuhi dengan Roh Kudus. Meskipun pekerjaan Roh Kudus pasti memiliki unsur misterius tertentu, karena orang percaya diperintahkan agar dipenuhi Roh Kudus, mereka harus tahu bagaimana menjalankan perintah ini.

Cara kedua untuk memahami rangkaian partisip ini berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani, bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita adalah melihatnya sebagai sarana untuk menggenapi perintah sebelumnya. Dengan kata lain, Paulus, setelah memerintahkan para pembacanya agar dipenuhi dengan Roh Kudus, menunjukkan bahwa mereka perlu berada dalam persekutuan komunitas mereka, untuk bersekutu satu sama lain dalam Mazmur, satu hati memuji Tuhan dalam satu keselarasan, untuk mengucap syukur kepada Allah dalam nama Yesus Kristus, dan merendahkan diri seorang kepada yang lain. Tentu saja, ini bukan untuk mengatakan bahwa memiliki kegiatan ini secara otomatis sama dengan kepenuhan Roh Kudus, tetapi kegiatan dan sikap ini akan membawa setiap orang kepada Tuhan dan membuat pekerjaan Tuhan lebih mungkin untuk diwujudkan dalam komunitas kita.

Renungkan:
Dalam budaya modern kita, kita bertemu bersama dan mungkin berfokus pada makanan, permainan, atau hiburan olahraga. Tetapi kita perlu berpikir, apakah kegiatan ini membawa kita dekat dengan Tuhan, memiliki Roh Kudus di dalam kita, dan memberi kita kepenuhan sukacita?


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 5:15-17

Orang arif

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 5:15-17 [ITB])
15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, 16 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. 17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.

Jika 4:25-5:14 adalah peringatan yang sifatnya relatif negatif (larangan), menunjukkan bahwa orang Kristen hendaknya menyingkirkan perilaku yang tidak sesuai dengan status mereka sebagai anak-anak Allah, maka 5:15-6:9 adalah ajaran yang relatif positif, menunjukkan arah pertumbuhan yang dikejar orang percaya.

Dalam kalimat pertama 5:15, Paulus menekankan perlunya kehati-hatian. Ketika menjelaskan bagaimana orang percaya harus berperilaku, dia tidak hanya menggunakan kata kerja yang mengingatkan kita untuk memperhatikan dengan saksama, tetapi juga menambahkan kata keterangan, yang jika diterjemahkan secara harfiah, mungkin seharusnya: Kamu sekalian harus melihat dengan hati-hati bagaimana berperilaku, menunjukkan bahwa kita tidak hanya harus hati-hati, tetapi harus dengan hati penuh hormat takut memilih jalan kita.

Setelah perintah pembuka ini, Paulus menggunakan satu atau dua orang sebagai pembanding untuk menunjukkan arah yang harus kita tuju dalam berperilaku. Kontras ini bahkan lebih jelas dalam teks bahasa aslinya, di mana terjemahan harfiah dari orang bebal adalah orang yang tidak bijaksana, kontras dengan orang arif / orang bijak. Dalam 1:17 dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar, Paulus meminta Tuhan untuk memberikan orang percaya Roh hikmat dan wahyu terutama bagi orang percaya untuk mengenali panggilan mereka di dalam Yesus Kristus, tapi di sini ayat 5:15 kearifan adalah menunjuk pada hikmat dalam hidup. Dan 5:17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan semakin memperjelas bahwa hikmat kearifan di sini setara dengan mengetahui kehendak Tuhan, seperti dalam Amsal 9:10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian, jadi hikmat rohani yang sejati akan membuat orang mengerti kehendak Allah yang telah diungkapkan di dalam Alkitab kepada orang-orang kudus.

Dalam Alkitab, kehendak Allah yang menuntut manifestasi kehidupan manusia tidak pernah tersembunyi, tidak misterius. Oleh karena itu, yang diperintahkan di sini janganlah kita berusaha keras untuk menemukan hal-hal yang misterius dan tersembunyi, seperti pemikiran intelektualisme yang telah meluas pengaruhnya di era Perjanjian Baru, untuk mengejar pengalaman mistik dan mencari bimbingan rohani khusus. Yang ingin kita kejar adalah mengenal wahyu Tuhan secara sungguh-sungguh dan menerima ajaran di dalamnya, sehingga kita bisa hidup dalam kehendak Tuhan. Berkaitan dengan hal tersebut, kita perlu berlatih mempelajari Alkitab dengan cara yaitu mengamati dengan saksama isi Alkitab, memahami isi Alkitab sesuai dengan konteksnya, dan yang lebih penting lagi, menerapkan ajaran Alkitab untuk diri kita sendiri, agar kita dapat memahami dengan benar kehendak Tuhan.

Ayat 5:16 pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat, mengingatkan kita mengapa kita harus mempraktikkan kehidupan seperti ini menurut kehendak Allah. Perintah Paulus kepada kita untuk pergunakanlah waktu lebih sesuai dengan arti bahasa aslinya daripada menghargai waktu (terjemahan CUV), karena dalam terjemahan literal bisa menjadi membeli waktu. Salah satu manifestasi dari tindakan ini tercermin dalam Daniel 2:8, ketika raja Nebukadnezar setelah bermimpi, meminta orang-orang berilmu, ahli jampi, ahli sihir dan para Kasdim untuk menafsirkan mimpi itu untuknya, tetapi orang-orang ini meminta raja untuk menjelaskan isi dari mimpi itu, Nebukadnezar menjawab dalam 2:8 bahwa mereka mencoba mengulur-ulur waktu, yang merupakan ungkapan membeli waktu. Tentu saja Paulus tidak meminta kita untuk menunda-nunda, tetapi berusaha untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah selagi masih ada kesempatan. Dia menunjukkan bahwa alasan untuk memperjuangkan mempergunakan waktu yang ada, adalah karena hari-hari ini adalah jahat. Meskipun kita telah mengalami keselamatan Yesus Kristus, kita masih hidup di dunia yang penuh dengan kejahatan, kita tidak dapat secara alami bertindak menurut kehendak Allah, tetapi harus berusaha keras berjuang untuk itu.

Renungkan:
Apakah kita memiliki kebiasaan belajar Alkitab secara teratur? Bukan sekadar membaca, tetapi membaca yang cermat, memahami dengan cermat, dan memakai hati dalam mengimplementasikan. Hanya dengan begitu kita akan memiliki kebijaksanaan sejati.


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 5:10-14

Kristus akan bercahaya atas kamu

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 5:10-14 [ITB])
9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, 10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. 11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. 12 Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. 13 Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. 14 Itulah sebabnya dikatakan: Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.

Ayat 5:10-14 pada dasarnya adalah kelanjutan dari 5:7-9, lebih lanjut menunjukkan mengapa tidak dapat berkawan dengan orang-orang durhaka mengikuti perilaku hidup mereka. Sebaliknya, kita perlu menguji apa yang berkenan kepada Tuhan. Kata menguji tidak hanya berarti menguji dan memeriksa, tetapi juga berarti meneguhkan dan menerima karena telah diverifikasi. Oleh karena itu, tidak hanya berarti bahwa kita perlu mengetahui kehendak Tuhan, tetapi juga untuk memilih apa yang menyenangkan dan berkenan kepada Tuhan Yesus Kristus dalam perilaku kita. Kata menguji sangat penting dalam pemikiran Paulus. Dalam Roma 12:2, Paulus menunjukkan bahwa orang percaya perlu diperbarui dalam hati dan pikiran mereka untuk menguji kehendak Allah, yang baik, sempurna, dan berkenan. Oleh karena itu, 5:10 dapat dikatakan sebagai kunci pertumbuhan kehidupan orang percaya.

Ayat 5:11-13 menunjukkan bahwa orang percaya bukan saja tidak boleh berpartisipasi dalam hal-hal jahat ini, tetapi juga harus mengecam dan menelanjanginya. Karena inilah yang dilakukan terang, dan dalam penerangan cahaya, segala sesuatu yang ada dalam kegelapan akan terungkap.

Terakhir, Paulus menyimpulkan dalam bentuk kutipan Alkitab secara umum. Meskipun para ahli telah menyarankan beberapa kemungkinan sumber kutipan, tidak satupun dari mereka yang sangat mirip di sini. Beberapa ayat yang mungkin adalah sebagai berikut:
Yesaya 26:19 Ya, TUHAN, orang-orang-Mu yang mati akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di dalam tanah bangkitlah dan bersorak-sorai! …
Yesaya 60:1 Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu
Yunus 1:6 Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata: 『Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa.』

Karena ayat-ayat ini berbeda dari perikop ini, Paulus seharusnya tidak mengutip langsung dari Perjanjian Lama, tetapi mungkin mengutip sebuah himne yang digunakan di gereja pada saat itu, dan himne ini mungkin juga diilhami oleh Yesaya 60:1 bahkan digunakan dalam ritual pembaptisan sebagai pengingat bagi orang percaya.

Ayat ini baik dalam ritme atau penggunaan kata-katanya, penuh dengan urgensi, yang menunjukkan bahwa orang percaya perlu diingatkan, agar keluar dari berpartisipasi dalam perilaku gelap bersama dengan orang yang tidak percaya dari budaya tempat mereka tinggal. Karena budaya adalah tempat di mana kita hidup, dan kita tumbuh di dalam budaya ini, kegelapan dalam budaya ini juga secara alami menjadi bagian dari hidup kita, dan menjadi hal yang biasa dan tidak aneh bagi kita. Jika orang percaya tidak sadar, perilaku ini lambat laun akan memasuki komunitas gereja, sehingga kita tidak dapat lagi membedakan dengan jelas antara benar dan salah, kebenaran dan kesesatan. Oleh karena itu, kita perlu secara aktif memeriksa apa yang berkenan kepada Tuhan, benar-benar mengalami kebangkitan dalam keselamatan Kristus, dan berjalan dalam rupa kelahiran baru.

Renungkan:
Apakah kita masih terlelap dalam kegelapan, puas dengan kebiasaan kita yang ada? Apakah kita mau memperbaharui hidup kita dan mengejar kehendak Tuhan dan yang berkenan kepada-Nya?


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 5:6-9

Buah terang

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 5:6-9 [ITB])
6 Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. 7 Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka. 8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, 9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, 10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.

Ayat 5:7 secara ekspresi struktur literal, merupakan kontras dengan 5:1 (Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih). Ayat 5:1 adalah perintah positif kepada orang-orang beriman untuk menjadi penurut-penurut Allah, sedangkan ayat 5:7 janganlah kamu berkawan dengan mereka adalah perintah negatif kepada orang-orang beriman untuk tidak menjadi sekutu orang-orang durhaka. Kata yang digunakan di sini adalah untuk memperkuat nada, karena sebelum kata berkawan (συμμέτοχος summetochos), ditambahkan awalan “σύν sun” yang menyatakan bersama. Berkawan / kemitraan ini sendiri sudah memiliki arti melakukan sesuatu bersama-sama, jadi awalan ini tidak mengubah arti kata, tetapi lebih menekankan larangan bermitra dengan orang-orang ini melakukan sesuatu bersama-sama, menunjukkan bahwa tidak mungkin bagi orang percaya untuk bergabung dengan mereka yang durhaka dan berpartisipasi dalam percabulan, kekotoran dan keserakahan mereka.

Ayat 5:8 dengan jelas menunjukkan perubahan yang dialami oleh orang percaya. Kontras antara terang dan gelap digunakan di sini. Kontras ini adalah yang paling umum dan paling jelas di dunia Perjanjian Baru. Kita sering dapat melihat metafora seperti itu dalam teks-teks Perjanjian Lama dan komunitas Qumran di Laut Mati. Dalam Perjanjian Baru, metafora ini paling sering digunakan dalam tulisan-tulisan rasul Yohanes, dan juga merupakan tema umum dalam tulisan-tulisan Paulus, yang menunjukkan bahwa ini adalah titik kunci dalam perubahan hidup orang percaya. 1 Yohanes 1:5 menyatakan bahwa Allah adalah terang, sehingga orang percaya tidak dapat lagi berjalan dalam kegelapan. Di sini, Paulus menunjukkan bahwa orang percaya, yang dulunya gelap, hidup dalam kegelapan, kini menjadi terang. Ketika digunakan pada Tuhan, terang dapat digunakan sebagai metafora untuk keagungan, kemuliaan dan kebenaran Allah, dan juga dapat diperluas merujuk pada kekudusan. Oleh karena itu, orang percaya itu terang, di satu sisi, itu mencerminkan bahwa kita telah mengenal dan menerima kebenaran, sehingga kita memiliki harapan akan kemuliaan; di sisi lain, terang itu juga menunjukkan kekudusan Allah dalam hidup kita.

Paulus menunjukkan bahwa meskipun sebelumnya kita gelap, sekarang kita menjadi terang karena Yesus Kristus. Oleh karena itu, perilaku kita juga harus menunjukkan kualitas ini sebagai anak-anak terang. Ayat 5:9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, menggunakan cara penjelasan tambahan untuk menunjukkan seperti apa kehidupan seharusnya sebagai anak terang. Buah terang serupa dalam penggunaan dengan buah Roh dalam Surat Galatia, terang melambangkan sifat dan pekerjaan Allah, kita diterangi oleh Allah, dan terang ini bekerja di dalam kita, untuk menghasilkan buah dalam kualitas hidup kita.

Berikut adalah tiga jenis buah. Kebaikan dan keadilan dan kebenaran adalah istilah-istilah abstrak yang mengandung makna yang luas. Kebaikan dapat mencakup hal-hal baik apa pun, dan itu juga mengacu pada konsep seperti kemurahan hati dan belas kasih, adalah perbuatan yang harus dilakukan orang percaya sesuai yang dikehendaki oleh Allah dalam karya keselamatan; keadilan umumnya berarti bahwa orang percaya oleh karena iman berkenan dan dibenarkan oleh Allah, dan lebih titik berat pada tanda meterai atas identitas kita; kebenaran menunjukkan bahwa orang percaya harus berjalan dalam kebenaran.

Di sini sekali lagi ditekankan bahwa oleh kasih karunia Tuhan maka kehidupan orang percaya telah sepenuhnya dipisahkan dari kehidupan sebelumnya dalam kegelapan, dan karena kita memiliki hidup yang baru, kita menghasilkan buah dari hidup yang baru.

Renungkan:
Kita harus selalu mengingat perubahan identitas kita sehingga kita tidak terseret mengikuti arus dalam hidup kita, dan kita tidak bergabung dengan pelaku kejahatan.


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 5:1-6

Jadilah penurut-penurut Allah

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 5:1-6 [ITB])
1 Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih 2 dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.
3 Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. 4 Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono karena hal-hal ini tidak pantas tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. 5 Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. 6 Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.

Perikop ini melanjutkan menunjukkan bagaimana bentuk manifestasi kehidupan lahir baru yang harus dimiliki oleh orang-orang kudus. Pertama, pembaca diingatkan kembali dalam 5:1-2 bahwa kita adalah anak-anak Allah dan dikasihi-Nya, jadi kita harus meneladani-Nya dalam hidup kita.

Walaupun tidak ada bagian lain dalam Alkitab yang secara langsung memberikan perintah untuk meniru teladan Allah, tetapi terdapat tidak sedikit ajaran yang terkait. Di sini, dalam teks aslinya, hasil yang ingin dicapai dinyatakan sebagai kata benda, yang secara harfiah harus diterjemahkan sebagai menjadi peniru (ITB penurut-penurut Allah). Kata benda ini tidak pernah muncul dalam Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani kuno, kecuali bahwa kata kerja terkait digunakan empat kali, tetapi ini semua tentang meniru manusia lain. Dalam Perjanjian Baru, umumnya orang digunakan sebagai contoh, seperti yang dikatakan Paulus dalam 1 Korintus 11:1 Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus. Hanya di sini saja orang percaya secara langsung diperintahkan untuk menjadi peniru teladan Allah. Hal ini mungkin karena dalam konsep Alkitab, manusia tidak dapat melihat Allah, sehingga Allah pada umumnya tidak menjadi objek ditiru, sehingga Alkitab biasanya menunjukkan aspek-aspek tertentu dari sifat-sifat Allah, seperti kekudusan, kebenaran, dll. Sebagai arah manusia meniru teladan Allah.

Ungkapan meniru Allah digunakan di sini karena menunjukkan identitas khusus orang percaya. Kita hanya karena iman menjadi anak-anak yang dikasihi Allah, dan ketika anak-anak tumbuh, mereka secara bertahap harus menyerupai orang tua mereka. Oleh karena itu, kita sebagai anak-anak yang dikasihi Allah juga harus diarahkan pada tujuan tersebut. Beberapa orang berpendapat bahwa ini adalah kelanjutan dari 4:32 (Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu), menunjukkan bahwa kita harus berbelas kasih dan saling mengampuni, sehingga 5:1-2 dianggap sebagai kesimpulan dari 4:25-5:2. Dengan demikian, menjadi peniru Allah (ITB penurut-penurut Allah) bukanlah topik baru, tetapi merupakan sebuah elemen dari paragraf sebelumnya, tetapi karena 5:1 dimulai dengan Sebab itu (οὖν), ini tepat penanda struktur utama Efesus pasal 4 – 6 Sebuah ditandai, jadi 5:1 seharusnya menjadi awal paragraf baru yang memperkenalkan topik baru.

Dalam perikop ini, menunjukkan manifestasi yang seharusnya kita miliki dalam bentuk positif maupun negatif (larangan). Ayat 5:2 adalah poin pengajaran positif yang relatif lebih sederhana, memerintahkan orang percaya untuk berjalan dalam kasih. Tidak ada indikasi lebih lanjut tentang apa yang seharusnya menjadi tindakan kasih ini, tetapi contoh teladan kasih adalah Yesus Kristus, yang mengorbankan diri-Nya untuk orang lain, dan menjadikan diri-Nya sebagai persembahan dan pengorbanan yang harum yang berkenan kepada Allah. Sikap mengorbankan diri / penyangkalan diri adalah prinsip dasar menjalani tindakan penuh kasih.

Dalam bentuk negatif (larangan), 5:3-5 berulang kali menunjukkan bahwa tidak boleh ada percabulan, kekotoran, dan ketamakan di antara orang-orang percaya, tidak hanya dalam perilaku, tetapi juga dalam ucapan. Bukan berarti kita tidak boleh membahas terkait hal-hal tersebut, ayat 5:4 menunjukkan bahwa masalahnya adalah mereka mengucapkannya dengan sembrono. Paulus menunjukkan bahwa kata-kata seperti itu tidak pantas, karena ketika kita mengatakan hal-hal ini dengan cara yang sembrono, itu mencerminkan bahwa kita melihatnya sebagai tidak apa-apa, dan tidak ada masalah besar dalam melakukannya. Jadi dalam 5:5-6 Paulus sangat tegas bahwa mereka yang melakukan hal-hal ini tidak memiliki warisan di dalam Kristus dan dalam kerajaan Allah, dan murka Allah akan menimpa mereka.

Sebaliknya, orang percaya harus memilih untuk mengucapkan lebih banyak syukur. Ini bukan untuk mengontraskan dengan ucapan-ucapan sembrono, karena objek dari kata kerja mengucapkan syukur pada dasarnya mengacu pada Tuhan, berterima kasih kepada-Nya atas anugerah dan penebusan-Nya. Maksud dari perintah ini adalah untuk mengingatkan kita bahwa kita adalah anak-anak Allah, telah ditebus oleh Yesus Kristus, dan tidak lagi hidup dalam kebusukan kita sebelumnya, jadi kita harus menghapus perbuatan dosa-dosa ini dari hidup dan perkataan kita.

Renungkan:
Kita sudah menjadi anak-anak yang dikasihi Tuhan, apakah kita mencerminkan hal ini dalam hidup kita?


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 4-6 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan April 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.