Category Archives: Lent Devotional 2020

02 April – KAMIS MINGGU KELIMA PRA-PASKAH. Barangsiapa Menuruti Firman-Ku

Oleh
Revd Daniel Teo Soon Ann
Priest, St John’s-St Margaret’s Church
Diocese of Singapore
Penerjemah: Team WMC

Yohanes 8:51-59

51 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.”
52 Kata orang-orang Yahudi kepada-Nya: “Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. 53 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabipun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?”
54 Jawab Yesus: “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, 55
padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya. 56 Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.”
57 Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: “Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?”
58 Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”
59 Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.

Renungan
Yesus menyebutkan dua kali dalam Yohanes 8:51 dan 8:52 bahwa barangsiapa yang menuruti Firman-Nya, ia tidak akan mengalami maut. Apa yang dimaksud Yesus dan arti dalam konteks ini? Sebelumnya, ketika berbicara kepada orang Yahudi, Yesus menekankan perlunya tinggal di dalam Firman-Nya agar dapat menjadi murid yang sejati dan dengan tinggal di dalam Firman-Nya, mereka akan mengetahui kebenaran sejati yang akan memerdekakan mereka. (Yohanes 8:31-32)

Ada hubungan tematik untuk menjadi keturunan Abraham yang menurut orang Yahudi menempatkan mereka pada posisi yang lebih tinggi. Orang Yahudi itu menjawab Yesus: “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata : Kamu akan merdeka?” (Yohanes 8:33)

Yesus memakai hubungan tematik Abraham sekali lagi di dalam teks bagi kita, mengutip bahwa Dia ada sebelum Abraham. Yesus berkata kepada mereka, “ Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yohanes 8:58). Para penentang Yesus mentertawakan Dia karena Yesus dapat melihat Abraham. Yesus membuat pernyataan yang lebih lagi mengherankan telinga mereka. Dia menyatakan bahwa Ia sudah ada jauh sebelum Abraham lahir, seperti Allah yang sudah ada sebelum dunia diciptakan. Bagi para pembaca Injil Yohanes, walau ini bukan suatu hal yang mengejutkan lagi seperti kita sudah diberitahu dalam Pembukaan di Yohanes 1 bahwa Firman (Yesus) bersama dengan Allah pada awalnya, dan Firman itu adalah Allah. Lebih lanjut lagi, kata-kata “Aku adalah” digunakan dalam makna absolut mewakili nama ilahi. Abraham, bapa leluhur yang agung, pernah hidup dan mati, tapi Yesus karena Dia satu dengan Allah, tetap selama-lamanya sebagai “Aku adalah”.

Saya yakin Yesus mengatakan bahwa barang siapa berbuat dosa, ia adalah budak dosa. Orang Yahudi tidak bebas dari dosa, walau mereka berasal dari keturunan Abraham. Satu-satunya jalan adalah dengan bergantung pada Yesus, Firman Allah yang hidup telah menjadi daging yang memberikan hidup bagi dunia (Yohanes 6:50-51) yang telah ada sebagai “Aku adalah” yang agung bahkan sebelum Abraham lahir. Janji Yesus adalah “Barangsiapa menuruti Firman-Ku, dia tidak akan mengalami maut.” (Yohanes 8:51, 52).

Doa
Bapa Surgawi, dengan rendah hati kami mengakui Yesus adalah “Aku adalah” yang agung dalam hidup kami. Terima kasih akan janji Tuhan Yesus, bahwa barangsiapa yang menuruti Firman-Mu, kami tidak akan mengalami maut dan akan memiliki pengharapan akan hidup kekal. Kami berdoa tolong kami, untuk menyelaraskan hidup kami di bawah kuasa Yesus, “Aku adalah” yang agung. Dengan rendah hati kami mengakui seperti orang Yahudi, bahwa kami cenderung memegang garis keturunan kekristenan kami sebagai sebuah hak yang dapat diklaim, daripada menghadapi jalan tantangan sebagai murid Kristus. Ajari kami untuk menyerahkan hidup kami lebih lagi untuk melayani-Mu, memikul salib setiap hari dengan meletakkan kehendak kami dibawah kehendak-Mu dan hasrat bagi kami untuk mengikuti-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin.

Tindakan
Untuk berjalan dalam pemuridan yang sejati, kita perlu mengizinkan Kuasa Kristus, “Aku adalah” yang agung, untuk memerintah pikiran kita, kehendak kita dan kasih sayang kita. Adakah area di dalam hidup Anda yang Anda perlu serahkan dan bertobat supaya dapat mengikuti Yesus lebih dalam lagi di masa pra-paskah ini?

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

1 April – RABU MINGGU KELIMA PRA-PASKAH. Allah Kita Sanggup

Oleh
Revd Canon Terry Wong Vicar
St Andrew’s Cathedral
Penerjemah: Team WMC

Daniel 3:14-20, 24-25, 28

14 berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: “Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? 15 Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?”
16 Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. 17 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; 18 tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”
19 Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. 20 Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu.
24 Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: “Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?” Jawab mereka kepada raja: “Benar, ya raja!” 25 Katanya: “Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!”
28 Berkatalah Nebukadnezar: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka.

Renungan
“Bersujud menyembahlah atau dicampakkan ke dalam perapian”

Kita tahu apa yang diputuskan Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Ini merupakan cerita Sekolah Minggu yang selalu diingat, walau nama-nama mereka sulit untuk diingat. Ketiga pemuda ini berdiri di hadapan raja Babilonia yang agung itu. Mereka siap dibakar hidup-hidup, tapi yang menakjubkan, mereka berjalan di atas api dan keluar dari perapian itu. Bahkan yang lebih menakjubkan adalah adanya orang keempat yang tak bernama. Raja yang agung itu berdiri dalam ketakjuban. Seperti semua hal besar yang dilakukan dalam nama-Nya, Allah dimuliakan.

Mungkin ini adalah nyala api siksaan yang Petrus maksudkan dalam 1 Petrus 4:12. Mungkin Stefanus mengambil keberaniannya dari pemuda-pemuda Yahudi ini. Dia mati sebagai martir, menyembah dan bersujud sampai akhir hidupnya saat dia mati dirajam batu, dan saat yang bersamaan, Tuhan Yesus menatapnya dan menerimanya masuk dalam kerajaan-Nya. Kita juga dapat mencatat para Martir Uganda yang terkenal, 23 anggota Anglikan yang dikorbankan oleh raja Mwanga pada tahun 1885 karena mereka menolak, dalam nama Kristus, bujuk rayuan homoseksualnya. Pesan moralnya mirip: penyerahan diri pada kuasa raja atau pada kematian. Peristiwa ini sekarang diingat dalam hari perayaan Gereja setiap tanggal 3 Juni.

Pada tahun 2015,banyak orang Mesir dipenggal kepalanya oleh ekstrimis XXXX karena mempertahankan imannya. Cerita kuno ini masih terjadi kembali di masa kini.

Apa yang akan kita lakukan apabila kita berada di posisi yang sama? Ini sebuah pertanyaan yang sulit dijawab, karena nampaknya sangat jauh dari kemungkinan hal ini terjadi pada kita. Namun demikian, setiap hari, kita menemukan diri kita di posisi di mana kita harus memilih antara tetap setia pada Tuhan atau menyerahkan diri pada keinginan-keinginan kuasa kejahatan yang lain. Terkadang harapan-harapan ini datang dari orang-orang yang penuh kekuasaan.

Seperti yang tertulis di Ibrani 12:3-4:

Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak-pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.

Banyak dari kita tidak perlu membayar dengan hidup kita. Tetapi akankah kita bersedia untuk mati bagi diri kita (Matius 16:24) dalam menghadapi tantangan iman kita sehari-hari? Kita dapat dihibur dengan “Dia selalu bersama kita”, bahkan di dalam perapian (Matius 28:20b). Ketika kita melakukannya, Allah dimuliakan seperti orang-orang akan juga mengatakan, : “Terberkatilah Allah dari (masukkan nama Anda) …”. Lihat juga Matius 5:16.

Doa
Tuhan, kami berhenti sejenak hari ini untuk mengingat kesetiaan dan kesaksian dari para martir Gereja. Beri aku kekuatan setiap hari untuk hidup bagi-Mu ketika diperhadapkan dengan berbagai pilihan untuk menaati-Mu atau manusia. Kami sering gagal dan kami mohon pengampunan-Mu dan suatu keberanian yang diperbaharui untuk terus maju. Semoga kami meghidupi hidup kami sedemikian rupa sehingga orang lain memuji Tuhan.
Dalam nama Kristus, Dia yang menyerahkan Hidup-Nya bagi kami, Amin.

Tindakan
Selama masa Pra-Paskah, ambillah waktu sejenak untuk melakukan sesuatu yang tidak biasa Anda lakukan, demi Kristus.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

31 Maret – SELASA MINGGU KELIMA PRA-PASKAH. Anak Manusia Datang untuk Memberikan Hidup-Nya

Oleh
The Revd Canon Andrew Shie
Priest-in-Charge
St James’s Church, Kuala Belait and St Margaret’s Church, Seria Diocese of Kuching (Sarawak and Brunei Darussalam)
Penerjemah: Team WMC

Markus 10:32-45

32 Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya, 33 kata-Nya: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, 34 dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit.”
35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!”
36 Jawab-Nya kepada mereka: “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?”
37 Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.”
38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?”
39 Jawab mereka: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. 40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.”
41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes.
42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. 45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Renungan
Yesus dan para pengikut-Nya sekarang menuju ke Yerusalem. Ini mungkin akhir perjalanan-Nya menuju kota itu. Beberapa orang berkata ini adalah “permulaan dari akhir (masa-masa Yesus di bumi” tetapi saya mengatakannya “permulaan dari awal (gereja-Nya di bumi). Dia mengajak kedua belas murid-Nya ke tepi dan mengingatkan mereka (sekali lagi) tentang apa yang tersisa bagi-Nya di Yerusalem. Beberapa pengikutnya berpikir bahwa Yesus akan mengklaim kota itu dan menaklukkan Romawi. Yakobus dan Yohanes meminta posisi kehormatan bagi diri mereka di sebelah kanan dan kiri-Nya. Yesus mengklarifikasikan (sekali lagi, kali ini dengan menggunakan cawan dan baptisan) hal ini bahwa sebagai murid-murid-Nya, mereka juga akan melalui apa yang akan Dia alami. Yesus kemudian mengingatkan mereka bahwa cara-cara Kerajaan tidak seperti cara-cara dunia.

Jadi apa yang dapat kita pelajari dari perikop yang singkat ini? Saya melihat setidaknya ada 3 prinsip Kerajaan. Kedua, prinsip pertama menjadi terakhir. Yang terbesar harus menjadi seorang hamba, yang pertama harus menjadi seorang budak. Ini berlawanan dengan dunia. Namun, kita harus ingat Kerajaan TIDAK sama dengan dunia, ini berlawanan. Ketiga, prinsip pelayan. Yesus memberi contoh yang terbaik pada saat Dia melayani sampai mati di kayu salib demi dosa-dosa kita, Anda dan saya. Saya selalu kagum betapa luasnya KasihNya demi saya sehingga Dia rela mengorbankan Anaknya yang tunggal untuk menyelamatkan kita.

Jadi apa yang bisa kita pelajari dari perikop singkat ini? Saya melihat setidaknya 3 prinsip Kerajaan. Pertama, prinsip “Tuhan yang memutuskan”. Tuhan adalah Yang Berdaulat dan Dia memutuskan apa adalah apa dan siapa yang mendapatkan apa. Hal yang terpenting adalah kita tetap setia kepada-Nya. Kedua, prinsip “yang pertama – yang terakhir”. Yang terbesar harus menjadi pelayan, yang pertama harus menjadi budak. Ini berlawanan dengan cara dunia. Namun kita harus ingat bahwa Kerajaan BUKAN sama dengan dunia, itu adalah kebalikannya. Ketiga, prinsip “kepelayanan”. Yesus memberikan contoh terbaik ini ketika Ia memberikan diri-Nya di kayu salib untuk dosa-dosa kita, dosa Anda dan dosa saya. Saya selalu kagum pada sejauh mana kasih Allah bagi saya bahwa Dia akan menyerahkan Putra Tunggal-Nya demi kita.

Kita perlu Menyerahkan diri kita, jalan-jalan kita demi jalan-jalan-Nya.
Kita perlu Mengambil posisi seorang hamba yang mencontoh Tuhan kita.
Kita perlu Mengikuti-Nya sampai ke kayu salib.

Doa
Bapa, aku berdoa agar aku akan selalu ingat jalan-jalan-Mu bukan jalan-jalan dunia. Aku selalu butuh mengikuti-Mu dalam segala hal yang aku lakukan dan katakan sebagai pengikut-Mu. Ajar aku untuk menyerahkan diriku sehingga Engkau dapat memenuhiku dengan diri-Mu. Ajar aku untuk memikul salib setiap hari mengetahui jika aku mengikuti Kristus, aku perlu mengikuti-Nya. Ajar aku mengikuti-Nya dari dekat sehingga aku tidak akan terganggu dan disesatkan oleh dunia. Dalam nama Yesus, Amin.

Tindakan
Minggu ini, mari kita Menyerahkan sesuatu bagi kemulian Allah. Ketika kita melakukannya, kita mengatakan bahwa Dia jauh lebih penting. Minggu ini, mari kita Mengambil posisi seorang hamba. Ketika melakukannya, kita mengasihi sesama kita. Minggu ini, mari kita Mengikuti-Nya dengan mengatakan dan melakukan apa yang Yesus lakukan.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

30 Maret Senin – MINGGU KELIMA PRA-PASKAH. Dengan Iman

Oleh
Rev Dr Michael Shen Principal Emeritus
Singapore Bible College
Penerjemah: Team WMC

Ibrani 11:8-19

8 Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. 9
Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. 10 Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.
11 Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. 12 Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.
13 Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. 14 Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air. 15 Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ. 16 Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.
17 Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, 18 walaupun kepadanya telah dikatakan: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” 19 Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.

Renungan
Apakah iman itu? Dalam bersikap, iman adalah sesuatu hal yang pasti dan yakin – pasti akan sesuatu yang kita harapkan dan yakin akan apa yang kita tidak lihat. Iman memampukan orang percaya memperlakukan masa depan sebagai masa sekarang dan yang tidak terlihat sebagai yang terlihat. Dalam tindakan, iman adalah tindakan mematuhi dan memercayai Tuhan yang tidak terbatas. Bersama Tuhan, semua hal adalah mungkin! (J. Oswald Sanders)

Iman adalah sebuah pilihan. Umat Tuhan – baik berjalan dengan iman atau dengan melihat, dua prinsip yang saling ekslusif. Abraham memilih berjalan dengan iman, percaya dan mematuhi firman Tuhan. Dia meninggalkan tanah, rumah, sahabat, kerabatnya yang sudah dia kenal, dan berangkat dengan penuh keyakinan ke Tanah Perjanjian yang sangat jauh.

Iman dimurnikan oleh api, seperti besi yang dibakar dalam perapian. Abraham tiba di tanah perjanjian bukan sebagai seorang pemilik, tapi seorang asing yang tinggal di kemah. Dia meninggal di dalam iman. Begitu juga dengan Ishak dan Yakub, pewarisnya yang mewarisi janji yang sama. Dengan iman, umat Tuhan bertahan dalam mara bahaya, kerja keras dan jerat sebagai orang asing dan orang buangan di dunia, menantikan kota surgawi, yang Tuhan sudah siapkan.

Iman menyenangkan hati Tuhan. Ketika perintah Tuhan sepertinya bertentangan dengan akal pikiran, Abraham tidak meragukan konsistensi firman Tuhan (melarang adanya pertumpahan darah, tapi memerintahkan Abraham untuk mempersembahkan Ishak sebagai kurban bakaran); dia tidak juga mempertanyakan hikmat Tuhan (memberikan Ishak sebagai pewaris dari janji-Nya, tapi menyuruhnya untuk membunuhnya). Dengan iman, Abraham masuk awan kesaksian yang luar biasa yang menyemangati kita untuk bertahan di dalam perjalanan iman kita – bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar, selesaikan pertandingan ini dan tetap beriman!

Doa
Tuhan, saat aku berjalan bersama-Mu di dalam terang Firman-Mu, betapa mulianya Engkau menerangi jalanku. Saat aku melakukan kehendak-Mu, Engkau tetap tinggal di dalamku, dan di semua orang yang percaya dan taat. Bimbing aku di dalam ketaatan iman hari ini. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin.

Tindakan
Mari kita tujukan mata kita pada Yesus, pemimpin dan penyempurna iman kita, yang dengan sukacita menanggung sengsara di kayu salib, menanggung hina, dan duduk di sebelah kanan tahta Allah.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

29 Maret – MINGGU KELIMA PRA-PASKAH. Saat Aku Ditinggikan

Oleh
Bishop Terry Kee
Lutheran Church in Singapore
President, National Council of Churches of Singapore
Penerjemah: Team WMC

Yohanes 12:20-33

20 Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani. 21 Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” 22 Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; Andreas dan Filipus menyampaikannya pula kepada Yesus.
23 Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. 24
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. 25 Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. 26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.
27 Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. 28 Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Maka terdengarlah suara dari sorga: “Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!”
29 Orang banyak yang berdiri di situ dan mendengarkannya berkata, bahwa itu bunyi guntur. Ada pula yang berkata: “Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia.”
30 Jawab Yesus: “Suara itu telah terdengar bukan oleh karena Aku, melainkan oleh karena kamu. 31
Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; 32 dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” 33 Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.

Renungan
Dalam Bilangan pasal 21, kita diberitahu bahwa ketika orang-orang pergi ke Musa, mengakui dosa-dosa mereka dan memohon Musa untuk memohon kepada Tuhan atas nama mereka untuk mengambil pergi ular-ular itu. Musa berdoa tetapi Tuhan tidak mengambil pergi ular-ular itu. Sebaliknya, Dia memerintahkan Musa untuk membuat seekor ular tembaga dan menaruhnya di atas sebuah tiang. Semua orang yang digigit ular harus berbalik untuk melihat ular itu dan hidup.

Tidak mengerti jalan-jalan Tuhan, beberapa orang mengejek dan menganggapnya konyol bahwa seseorang yang digigit ular berbisa dapat diselamatkan hanya dengan melihat ular tembaga yang diletakkan di atas sebuah tiang.

Mereka gagal menyadari bahwa ular perunggu itu adalah sarana rahmat Tuhan. Mereka yang percaya, berbalik dan memandangi ular, Tuhan menyelamatkan mereka.

Dengan cara yang sama, Yesus datang kepada kita sebagai sarana rahmat Allah. Dia adalah Putra Tunggal Allah yang datang sebagai Orang Tidak Berdosa demi orang berdosa, untuk menebus dosa-dosa kita dengan mengorbankan hidup-Nya di kayu Salib.

Yesus berkata, karena alasan inilah Dia datang. Dia dipaku di kayu salib dan ditinggikan untuk kita. Ketika Dia mati, hukuman untuk dosa-dosa kita dibayar. Dia sekarang mengundang kita untuk menerima apa yang Dia lakukan untuk kita di atas salib, barangsiapa yang menerima Dia, menerima rahmat Allah dan tidak akan binasa tetapi memiliki hidup yang kekal.

Doa
Kepada Tuhan, terima kasih telah datang kepada kami dalam kasih-Mu dan untuk keselamatan yang ditawarkan kepada kami oleh kasih karunia-Mu. Menanggapi cinta dan kasih karunia-Mu di dalam Yesus, saya menawarkan diri kepada Anda dalam pelayanan. Seperti Yesus, untuk sukacita yang ditetapkan sebelum Dia menanggung salib, semoga kita juga, untuk sukacita yang ditetapkan di hadapan kita, melayani-Mu dengan setia sampai kami bertemu Engkau berhadapan muka.
Dalam nama Yesus, Amin.

Tindakan
1. Terima kasih Allah untuk Tuhan Yesus, melalui Dia sehingga kami memiliki keselamatan dan menjadi anak-anak Allah.
2. Mohonlah supaya Tuhan membantu Anda mengikuti Dia dan melayani dengan setia sampai akhir.
3. Beri tahu seseorang tentang kasih Allah kepada Yesus untuknya.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

28 Maret – SABTU MINGGU KEEMPAT PRA-PASKAH. Tidak ada yang Pernah Berbicara seperti Orang ini

Oleh
Rev Dr Samuel Wang Lecturer
Trinity Theological College
Penerjemah: Team WMC

Yohanes 7:40-52

40 Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkata itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” 41 Yang lain berkata: “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! 42 Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.” 43 Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. 44 Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang berani menyentuh-Nya.
45 Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?”
46 Jawab penjaga-penjaga itu: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!”
47 Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: “Adakah kamu juga disesatkan? 48
Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? 49 Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!”
50 Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: 51 “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?”
52 Jawab mereka: “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.”

Renungan
Bagian di atas terdengar seperti acara bincang-bincang modern kita di mana beberapa komentator berbicara tentang seorang selebriti. Biasanya mereka, atau siapa pun dari kita akan memiliki pandangan yang bertentangan. Jauh lebih menghibur bagi kita untuk mendengar pandangan-pandangan ini, terutama ketika kita tahu bahwa ada setengah kebenaran atau fakta yang mereka lewatkan. Yohanes, penulisnya, membuat kita tersenyum ketika kita menyadari bagaimana orang-orang ini tidak memiliki semua fakta, tetapi sebagai pembaca Injil, kita sudah memilikinya.

Sekarang, talk show biasanya untuk hiburan dan tidak penting. Jadi, kisah ini tampaknya berakhir dengan cara yang sama, kata orang-orang Farisi: ”Lihatlah oleh dirimu sendiri, tidak ada yang penting yang datang dari Galilea.” Sekarang, Yesus juga tidak penting bagi banyak orang. Lebih buruk lagi, sepertinya tidak ada yang akan membicarakan Dia lagi! Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda cukup ingin tahu tentang Yesus untuk memeriksanya? Apakah Anda ingin tahu mengapa penjaga Bait Suci berkata: “Tidak ada yang pernah berbicara seperti orang ini!” (ayat 46). Mereka telah mendengar banyak orang berbicara di Bait Suci, dan mereka cukup terkesan dengan Yesus ketika Dia mengajar tentang diri-Nya sendiri: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” (Yohanes 7:37-38)

Bahkan kemudian, para pemimpin agama mempertanyakan kredibilitas-Nya dengan bertanya adakah pemimpin agama yang paling spiritual seperti orang-orang Farisi yang percaya kepada-Nya? (ayat 47). Pertanyaan ini ironis. Di antara orang-orang Farisi, Nikodemus, seorang Farisi dari dewan penguasa Yahudi, pergi mencari Yesus di tengah malam, karena ia percaya bahwa Dia adalah seorang guru yang telah datang dari Allah (Yohanes 3:2). Yesus mengatakan kepadanya bahwa ia harus dilahirkan kembali untuk dapat melihat kerajaan Allah (Yohanes 3:3). Sekarang, dengan cara dia menjawab pihak berwenang, kita tahu dia pasti percaya kepada Yesus.

Apakah Anda percaya Yesus? Apakah Anda percaya bahwa Dia dapat memuaskan dahaga Anda? Ketika dunia tampaknya telah melupakan Yesus adalah sumber kehidupan kita di dalam Allah, apakah Anda akan pergi menjauh juga, atau apakah Anda lebih bertekad untuk mengikuti Dia?

Doa
Ya Tuhan, di tengah-tengah keributan yang membingungkan di dunia ini, tuntunlah aku untuk mendengar lagi apa yang Engkau katakan tentang dirimu di dalam Alkitab. Bantu saya untuk mencari Anda dalam kata-kata yang Anda ucapkan. Biarkan saya menyerahkan pikiran saya kepadaMu, dan biarkan saya mengambil kata-kataMu dan percaya padaMu.

Tindakan
Dengan berani berbicara dalam percakapan ketika orang berbicara tentang Yesus, bagikan bagaimana Dia memuaskan dahaga Anda.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

27 Maret – JUMAT MINGGU KEEMPAT PRA-PASKAH. Engkau Membutuhkan Ketekunan

Oleh
Rev Ranganathan Prabhu
Pastor The Methodist Church in Singapore
Penerjemah: Team WMC

Ibrani 10:26-39

26 Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. 27 Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka. 28 Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi. 29 Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia? 30 Sebab kita mengenal Dia yang berkata: “Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.” Dan lagi: “Tuhan akan menghakimi umat-Nya.” 31 Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup.
32 Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat, 33 baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian. 34 Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya.
35 Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. 36 Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.
37 “Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi,
dan Ia yang akan datang, sudah akan ada,
tanpa menangguhkan kedatangan-Nya.
38 Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman,
dan apabila ia mengundurkan diri,
maka Aku tidak berkenan kepadanya.”
39 Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.

Renungan
Tuhan telah memberi kita “keselamatan yang luar biasa”, kita tidak bisa mengabaikannya dan juga tidak mau untuk kehilangan itu.

Peringatan yang menggema bagi kita semua! Ibr 10: 26-31

Hidup bukan perlombaan di jalur yang mudah dan nyaman. Tetapi penuh dengan rintangan dan halangan. Seseorang harus menjalaninya dengan ketekunan. Menjadi seorang Kristen berarti “secara terbuka terpapar terhadap celaan dan penderitaan”, untuk “bermitra dengan mereka yang ada di penjara”, untuk “dijarah” dari semua harta milik. Iman Kristen juga dipandang tidak sah. Dalam menghadapi semua tantangan ini, orang-orang Kristen Ibrani merasa kesulitan untuk mengejar kehidupan Iman. Karena itu, mereka perlahan-lahan menjauh dari Iman kepada Yesus Kristus. Ada konsekuensi serius dengan sengaja meninggalkan iman kepada Yesus “setelah menerima pengetahuan akan kebenaran”. Kemurtadan menghasilkan konsekuensi kekal! Itu mengakibatkan “jatuh terhilang dari Rahmat” dan “jatuh ke tangan Allah yang hidup yang adalah Hakim yang teguh”. Itu adalah hal yang menakutkan”

Pengingatan untuk bertekun dalam iman bahkan dalam keadaan penuh pencobaan. Ibr 10: 31-35.

“Karena itu, jangan melepaskan kepercayaanmu,” ayat 35. Mari kita jaga iman kita dengan semua tekad, usaha, dan ketekunan. Rasul Paulus dengan tepat berkata, “Aku telah menjaganya”. Sementara orang-orang lain menyerah pada ujian dan godaan, Paulus menjaganya sampai akhir. Penulis Ibrani meminta kita mengarahkan perhatian kepada Kristus Sang Pencipta dan Penyelesai iman kita, dan mendesak kita untuk bertekun dalam iman. Ketekunan adalah kebajikan yang harus dimiliki. Kita percaya pada Tuhan yang hidup yang bertahan demi kita. Keselamatan kita adalah untuk tinggal dalam hubungan yang hidup dengan Tuhan dalam segala keadaan Kehidupan. Ujian ketekunan yang menuntut kesetiaan kepada Kristus sampai akhir.

Hadiah tersedia bagi mereka yang bertekad untuk menang. Ibr 10: 35-39

Sungguh menghibur mengetahui bahwa ada “pahala besar” menunggu orang-orang yang “telah melakukan kehendak Allah.” Suatu hari kita akan menerima apa yang dijanjikan. Tuhan Sendiri akan menjadi bagian yang dijanjikan kita. Jadi orang-orang percaya sejati “menerima dengan sukacita” dan mengalami penganiayaan yang hebat. Mereka tidak mengalah dan menyerah pada serangan musuh. Tuhan tidak senang dengan orang yang “menyusut mengundurkan diri.” Perhatikan kata-kata ” Aku tidak berkenan kepadanya.” Pada saat-saat seperti itu kita perlu belajar dari Rasul Paulus yang berkata, “kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa” (2 Kor 4:9). Menurut Rasul Paulus, kita bukan sekadar pemenang tetapi kita “lebih dari pemenang”. Hadiah itu datang kepada kita dengan janji lain, “orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman”

Jadi teman-teman, marilah kita Bertahan demi Kristus dan penuhi kehendak-Nya.

Doa
Ya Tuhan! Kami berterima kasih atas karunia keselamatan. Beri kami kepekaan untuk mengenali rancangan jahat musuh untuk menjauhkan kami dari iman kepada-Mu. Bantu kami untuk tidak mengambil “Anugerah Tuhan” sebagai yang sudah sepatutnya. Beri kami penerangan untuk bertahan dan bertekun sampai akhir hidup kita.

Tindakan
Seperti seorang prajurit yang baik “bertarunglah demi perjuangan iman yang baik”. Tinggalkan menjauh dari kegiatan yang tidak saleh. Seperti atlet yang fokus, “berlari menuju tujuan” dengan segala daya tahan ketekunan. Jangan lewatkan tujuan abadi. Seperti seorang pelayan yang siaga, berdirilah teguh dan jaga imanmu. Jangan menyerah.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

26 Maret – KAMIS MINGGU KEEMPAT PRA-PASKAH. Berbaliklah dari Murka-Mu yang Bernyala-nyala itu

Oleh
Dr Calvin Chong
Associate Professor (Practical Theology)
Singapore Bible College
Penerjemah: Team WMC

Keluaran 32:7-14

7 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. 8 Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban, sambil berkata: Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.” 9 Lagi firman TUHAN kepada Musa: “Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk. 10 Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar.”
11 Lalu Musa mencoba melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan berkata: “Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat? 12 Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu. 13 Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya.”
14 Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya.

Renungan
Siapa pun yang membaca kitab Keluaran akan menemukan dua puncak tematik di sana. Yang pertama adalah saat mereka menyeberangi Laut Merah ketika Tuhan membebaskan umat-Nya dari penindasan di Mesi. Yang kedua adalah ketika Tuhan memberikan perintah-perintah-Nya di Gunung Sinai untuk membimbing umat-Nya untuk bagaimana mereka hendaknya mengatur hidup mereka sebagai umat perjanjian.

Meskipun drama tinggi mengiringi peristiwa dua tema puncak, namun saya ingin memerikan perhatian pada drama di Gunung Sinai. Sebelum pemberian hukum, ada guntur, kilat, awan tebal, asap, dan goncangan gunung (Kel 19). Drama di atas gunung itu hanyalah pembukaan bagi berbicaranya Allah dan menyatakan kata-kata-Nya untuk diketahui oleh umat-Nya (Kel 20ff). Sebagai tanggapan, umat-Nya berjanji setia kepada Allah dan taat kepada Firman-Nya (Kel 19: 8).

Bergerak maju ke pasal 32, di sana kita membaca tentang drama menakjubkan lainnya yang terjadi di kaki gunung. Umat yang berjanji menaati perintah Allah meninggalkan Dia untuk menyembah anak lembu emas. Kemuliaan TUHAN (Yahweh), pembebasan dan perlindungan yang Dia berikan kepada mereka semua diarahkan dan dikaitkan dengan dewa Mesir yang dibentuk oleh tangan manusia. Berpaling dan mengikuti allah-allah palsu ini secara alami memancing kemarahan yang mendalam dari Allah dan menyebabkan kematian mereka.

Dalam konteks inilah kita mendengar drama lain – bahwa Musa memohon belas kasihan kepada Allah dan Allah menanggapinya dengan tidak menghancurkan umat-Nya sendiri. Dari drama ketiga inilah kita menarik pelajaran hari ini: Keagungan Tuhan tidak hanya terletak pada penerimaan Allah atas ibadat dari umat beriman, tetapi di dalam Dia memperluas rahmat dan kasih karunia kepada yang tidak beriman, pelupa, dan jatuh!

Namun rahmat ini, tidak boleh dianggap untuk mengambil keuntungan darinya tetapi diterima sebagai hadiah dengan rasa terima kasih. Semoga pengetahuan ini mendesak kita untuk takut dan mengikuti Dia saat kita mengerjakannya dalam drama hidup kita.

Doa
Tuhan, buka mataku hari ini untuk menghargai kemuliaan dan rahmat-Mu. Buka telingaku agar aku bisa mendengarkan kata-kata-Mu dengan benar. Buka hatiku agar aku bisa mencintai-Mu di atas segalanya dan mengikuti-Mu sepenuhnya.

Tindakan
Temukan nyanyian pujian atau nyanyian pujian kontemporer yang menangkap semangat menyembah Tuhan demi kemuliaan-Nya yang menyilaukan mata serta kebaikan dan rahmat-Nya yang tak terbatas. Biarkan lagu itu mengingatkan Anda tentang siapa Dia dan bagaimana kita harus menanggapi Dia dengan tepat

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

25 Maret – RABU MINGGU KEEMPAT PRA-PASKAH. Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu

Oleh
Rev Dr Leonard Wee
New Testament Lecturer
Trinity Theological College
Penerjemah: Team WMC

Ibrani 10:1-18

1 Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya. 2 Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya. 3 Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. 4 Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa.
5 Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata:
   “Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki
         tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku.
6 Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa
         Engkau tidak berkenan.
7 Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang;
         dalam gulungan kitab ada tertulis
         tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.”
8 Di atas Ia berkata: “Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya” –meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat–. 9 Dan kemudian kata-Nya: “Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. 10 Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.
11 Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. 12 Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, 13 dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya. 14 Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.
15 Dan tentang hal itu Roh Kudus juga memberi kesaksian kepada kita,
16 sebab setelah Ia berfirman:
“Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka
     sesudah waktu itu,” Ia berfirman pula:
“Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka
     dan menuliskannya dalam akal budi mereka,
17  dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.”
18 Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan,
           tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa.

Renungan
Pada tahun 1969, di puncak Revolusi Kebudayaan di Cina, seorang pendeta bernama Wang Zhiming (王志明) di kota Wuding (武 定) ditangkap oleh Pengawal Merah karena memberitakan Injil. Dia diminta untuk meninggalkan imannya; tapi dia menolak. Dia juga diperintahkan untuk mencela perilaku teman-temannya di depan umum, tetapi Pastor Wang menolak, mengatakan bahwa dia tidak dapat memberikan kesaksian palsu terhadap orang-orang ini, banyak dari mereka yang dibaptis olehnya secara pribadi.

Akhirnya, setelah empat tahun dipenjara, pada tanggal 29 Desember 1973, Pastor Wang dieksekusi di depan umum. Ribuan orang datang untuk menyaksikan kematiannya, termasuk banyak anggota gerejanya. Ketika keluarganya mengunjunginya di penjara sesaat sebelum eksekusi, mereka menemukan bahwa dia hanyalah kulit dan tulang, dan ada memar di sekujur tubuhnya. Rupanya, Pastor Wang Zhiming disiksa saat di penjara.

Tapi itu bukan akhir dari cerita. Ahli misiologi yang mempelajari pertumbuhan gereja di Wuding menduga bahwa kematian Pastor Wang sangat berdampak pada anggota gerejanya sehingga mereka menjadi orang Kristen yang berkobar setelah kematiannya. Banyak yang mengikuti teladannya dan binasa di tangan komunis. Dalam beberapa tahun, gereja tumbuh sepuluh kali lipat karena orang-orang menyaksikan iman orang-orang Kristen ini. Penderitaan dan kematian Pendeta Wang akhirnya membawa ribuan orang kepada Tuhan.

Kekristenan adalah iman yang mengajak pengikut Kristus untuk berkorban untuk menaati kehendak Tuhan. Ketaatan kepada Tuhan membutuhkan kesediaan untuk mengorbankan hak prerogatif kita yang lain bila perlu.

Kehidupan Yesus ditandai dengan kepatuhan penuh kepada Bapa. Ketika Dia datang ke dunia, dia berkata, “Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah.” Dia menawarkan diri-Nya untuk menjadi korban penghapus dosa atas nama kita, dan dengan satu pengorbanan itu, membatalkan dosa umat manusia, yang mana semua yang lain pengorbanan tidak mampu. Jadi, Dia tidak hanya menebus kita, Dia juga menjadi teladan bagi hidup kita.

Apakah ada sesuatu yang mengharuskan Anda tunduk kepada kehendak Allah? Kehidupan Pendeta Wang Zhiming menunjukkan kepada kita apa yang dapat Allah lakukan dengan kehidupan yang sepenuhnya diserahkan kepada-Nya. Mungkin ada ribuan orang Kristen lain yang telah membuat pilihan seperti itu, dan yang kisahnya mungkin tidak kita ketahui. Namun, ketika kita pergi ke surga, semua tindakan ini, besar atau kecil, akan diceritakan dengan sukacita. Karena itu, mari kita katakan kepada Tuhan hari ini: “Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu”.

Doa
Bapa surgawi kami, terima kasih atas rahmat-Mu karena menyelamatkan saya. Sama seperti Yesus menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus saya, saya mengikuti jejak-Nya dengan menyerahkan hidup saya untuk-Mu. Beri saya kekuatan, ya Tuhan, untuk menaati kehendaki-Mu. Apa pun yang Engkau letakkan di hatiku, berilah saya kekuatan untuk melakukannya. Amin.

Tindakan
Lakukan satu hal yang Tuhan minta Anda lakukan hari ini, dalam kepatuhan pada kehendak-Nya yang penuh kasih.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

24 Maret – SELASA MINGGU KEEMPAT PRA-PASKAH. Aku Memperhatikan, Mengutus, Beribadahlah kepada TUHAN

Oleh
Dr Ernest Chew
Advisory Elder, Bethesda (Frankel Estate) Church
Vice-President, The Bible Society of Singapore
Penerjemah: Team WMC

Keluaran 2:23-3:20

23 Lama sesudah itu matilah raja Mesir. Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah. 24 Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. 25 Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka.
1 Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. 2 Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.
3 Musa berkata: “Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?”
4 Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.” 5 Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” 6 Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.
7 Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. 8 Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. 9 Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. 10 Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.”
11 Tetapi Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?”
12 Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.”
13 Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? –apakah yang harus kujawab kepada mereka?”
14 Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”
15 Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun. 16 Pergilah, kumpulkanlah para tua-tua Israel dan katakanlah kepada mereka: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub, telah menampakkan diri kepadaku, serta berfirman: Aku sudah mengindahkan kamu, juga apa yang dilakukan kepadamu di Mesir. 17 Jadi Aku telah berfirman: Aku akan menuntun kamu keluar dari kesengsaraan di Mesir menuju ke negeri orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. 18 Dan bilamana mereka mendengarkan perkataanmu, maka engkau harus beserta para tua-tua Israel pergi kepada raja Mesir, dan kamu harus berkata kepadanya: TUHAN, Allah orang Ibrani, telah menemui kami; oleh sebab itu, izinkanlah kiranya kami pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah kami. 19 Tetapi Aku tahu, bahwa raja Mesir tidak akan membiarkan kamu pergi, kecuali dipaksa oleh tangan yang kuat. 20 Tetapi Aku akan mengacungkan tangan-Ku dan memukul Mesir dengan segala perbuatan yang ajaib, yang akan Kulakukan di tengah-tengahnya; sesudah itu ia akan membiarkan kamu pergi.

Renungan
1. Pertemuan: “Aku telah Memperhatikan”
Kehidupan Musa dibagi menjadi tiga periode 40 tahun:
(a) di Mesir, diangkat sebagai pangeran di rumah Firaun;
(B) di Pengasingan, sebagai pengungsi dan gembala di padang pasir; dan
(c) dalam Keluaran, sebagai pembebas dan pembawa-hukum Taurat kepada bangsa Israel.

Titik baliknya, ketika dia berusia 80 tahun, pertemuannya dengan TUHAN di Sinai, Gunung Horeb, di samping semak yang terbakar. Seperti biasa, TUHANlah yang mengambil inisiatif dan memanggil Musa dengan nama. Tanah itu kudus karena Allah itu kudus, namun juga bersifat pribadi dan relasional: “Aku adalah Allah bapakmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub.”
Ini adalah Allah yang memperhatikan segala sesuatu, dan menunjukkan belas kasihan-Nya yang mendalam kepada umat-Nya: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku … Aku telah mendengar seruan …, Aku mengetahui penderitaan mereka. … Aku telah turun untuk melepaskan mereka … untuk membawa mereka ke … negeri yang penuh susu dan madu … ” Dia juga telah melihat akar dari kesengsaraan mereka: “Aku juga telah melihat penindasan … “
TUHAN ini masih memperhatikan penderitaan umat-Nya yang mengalami penganiayaan di seluruh dunia, dan kejahatan radikal menindas mereka. Dia masih membebaskan tawanan, dan menjanjikan kehidupan yang berlimpah.

2. Misi: “Aku mengutus”
Instrumen pembebasan TUHAN adalah Musa: ” pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.” Namun, Musa pertama-tama merespons dengan serangkaian alasan. Dia berkata, “Aku di sini.” Sekarang dia bertanya, “Siapakah aku sehingga aku harus pergi ke Firaun …?”
TUHAN masih memanggil dan berupaya mengutus orang-orang ke misi-Nya. Semoga kita merespons, seperti Yesaya, “Ini aku! Utuslah aku” (Yesaya 6: 8).

3. Pesan: “Kamu harus beribadah kepada Allah”
Allah meyakinkan Musa bahwa Ia akan menyertai-Nya, dan bahwa setelah ia membawa orang Israel keluar dari Mesir, mereka akan beribadah kepada Allah di Gunung Sinai. Tetapi Musa mengajukan masalah lain – yakni tentang identitas Allah yang mengutus dia kepada orang-orang yang menderita itu. Apa yang harus dia katakan kepada mereka?
Tanggapan ilahi agung dan mengesankan: ” AKU ADALAH AKU … AKU telah mengutus Aku kepadamu … TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, telah mengutus Aku kepadamu. Ini adalah nama-Ku untuk selama-lamanya, dan dengan demikian Aku harus diingat sepanjang generasi. “
Nama Allah, kehadiran kekal-Nya, adalah penjamin pemenuhan semua janji-Nya akan pembebasan dari kejahatan – dulu, sekarang, dan selamanya. Dia ADALAH Dia, dan Dia akan ADALAH Dia nantinya. “Besar kesetiaan-Mu … Seperti yang telah Engkau lakukan, Engkau selamanya akan!”

4. Penuh Kuasa jauh melampaui Musa: ” TUHAN telah berfirman”
Penulis Surat Ibrani menyatakan: ” Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, 2 maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. 3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi” (Ibrani 1:1-3).
Dia menambahkan bahwa ” Sebab Ia dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih dihormati dari pada rumah yang dibangunnya” (Ibrani 3:3).

Di titik balik sejarah, Allah mengutus Anak-Nya, Yesus sang Mesias, untuk melaksanakan misi penebusan-Nya, dan Yesus melalui Keluaran penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan, telah menyelesaikan misi itu. Dia mengutus para utusan-Nya dengan kabar baik tentang pembebasan dari dosa, Setan, dan maut. Tuhan Yesus meyakinkan kita, ” Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20).

Doa
Tuhan Bapa Surgawi kami, Engkau pasti telah melihat penderitaan umat-Mu, dan penindasan yang mereka hadapi dalam banyak bentuk hari ini. Terima kasih atas keselamatan luar biasa yang telah Engkau capai melalui kematian dan kebangkitan Anak-Mu. Utuslah kami dalam Nama-Nya yang berharga dengan berita yang membebaskan ini. Amin.

Tindakan
Mintalah kepada Tuhan untuk poin-poin pertemuan di mana Anda dapat menunjukkan rahmat dan kemurahan-Nya kepada orang lain, dan dengan rendah hati melayani Dia di mana dan kapan Dia memanggilmu.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)