「Realitas」
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.
(Amsal 19:1-14 [ITB])
1 Lebih baik seorang miskin yang bersih kelakuannya
………dari pada seorang yang serong bibirnya lagi bebal.
2 Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik;
………orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.
3 Kebodohan menyesatkan jalan orang,
………lalu gusarlah hatinya terhadap TUHAN.
4 Kekayaan menambah banyak sahabat,
………tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya.
5 Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman,
………orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar.
6 Banyak orang yang mengambil hati orang dermawan,
………setiap orang bersahabat dengan si pemberi.
7 Orang miskin dibenci oleh semua saudaranya,
………apalagi sahabat-sahabatnya, mereka menjauhi dia.
………Ia mengejar mereka, memanggil mereka tetapi mereka tidak ada lagi.
8 Siapa memperoleh akal budi, mengasihi dirinya;
………siapa berpegang pada pengertian, mendapat kebahagiaan.
9 Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman,
………orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan akan binasa.
10 Kemewahan tidak layak bagi orang bebal,
………apalagi bagi seorang budak memerintah pembesar.
11 Akal budi membuat seseorang panjang sabar
………dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.
12 Kemarahan raja adalah seperti raung singa muda,
………tetapi kebaikannya seperti embun yang turun ke atas rumput.
13 Anak bebal adalah bencana bagi ayahnya,
………dan pertengkaran seorang isteri adalah seperti tiris yang tidak henti-hentinya menitik.
14 Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang,
………tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia TUHAN.
Dalam seluruh 29 ayat di pasal 19, terdiri dari sejumlah tema yang berulang, misalnya TUHAN (ayat 3, 14, 17, 21, 23), saksi (ayat 5, 9, 28), malas (ayat 15, 24), disiplin didikan (ayat 18, 20) dan sebagainya. Ada dua tema penting dalam ayat 19:4-9 yaitu kesaksian dan kekayaan / kemiskinan dan teman. Dalam pengantar tentang kumpulan bagian kedua kitab Amsal (renungan Amsal 10:1, Amsal 10:1-5 klik untuk membaca), pernah disebutkan bahwa dalam 375 kata-kata bijak, ada ayat yang sama yang diulangi; dua ayat 19:5 dan 19:9 hampir persis sama.
19:5 「Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar.」
19:9 「Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan akan binasa.」
Mungkin kejadian saksi palsu terlalu serius, sehingga orang bijak menuliskannya berulang untuk menarik perhatian pembaca. Seorang saksi palsu adalah tindakan merugikan orang lain, 《Kitab Amsal》 banyak mengingatkan tentang saksi palsu (6:19; 12:17; 14:5, 25). Kesaksian palsu adalah kejahatan di mata Allah, karena itu memutarbalikkan fakta, menciptakan sesuatu dari ketiadaan, dan akan menjebak orang lain. Ini mengingatkan kita pada catatan tentang Nabot (1 Raja-raja 21), yang tidak mau menjual kebun anggurnya demi melestarikan tanah warisan pusaka keluarganya. Izebel, isteri Ahab mencari beberapa orang dursila untuk menuduh Nabot dengan tidak benar, memukulinya sampai mati dan menyita kebun anggurnya. Memberikan kesaksian palsu mencelakakan diri sendiri, karena melakukan kejahatan ini akan dihukum berat: 「Apabila seorang saksi jahat menggugat seseorang untuk menuduh dia mengenai suatu pelanggaran, … apabila ternyata, bahwa saksi itu seorang saksi dusta dan bahwa ia telah memberi tuduhan dusta terhadap saudaranya, maka kamu harus memperlakukannya sebagaimana ia bermaksud memperlakukan saudaranya. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu」 (Ul. 19:16-21).
Ayat 7: 「Orang miskin dibenci oleh semua saudaranya, apalagi sahabat-sahabatnya, mereka menjauhi dia. Ia mengejar mereka, memanggil mereka tetapi mereka tidak ada lagi.」 Tema 「teman」 (ayat 4, 6, 7) juga muncul di perikop 19:4-9. Ayat 7 ini, adalah satu-satunya ayat dalam Amsal kumpulan bagian kedua yang tidak memakai bentuk dua kalimat paralel, tetapi dalam bentuk tiga kalimat. Ketiga kalimat ini menceritakan kenyataan bahwa orang kaya dan berkuasa memiliki banyak teman, tetapi mereka mungkin hanya berteman karena kenikmatan anggur dan daging; sedangkan orang miskin memiliki pengalaman yang menyedihkan, bukan saja teman akan menjauh dari mereka, tetapi bahkan kerabat tidak mau untuk bergaul dengan mereka. Sungguh membuat orang menghela napas, persahabatan bisa begitu rapuh. Pantas saja ada kalimat di Barat seperti ini: 「Ketika Anda dalam masalah, tidak ada yang mengenal Anda!」 (“Nobody knows you when you’re down and out”). Orang yang tidak berkelimpahan materi mungkin tidak memiliki teman yang memandang uang sebagai patokan yang paling utama, tetapi mereka dapat memiliki Yesus Tuhan sebagai teman dekat, Yesus berkata dalam Khotbah di Bukit: 「Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah」 (Lukas 6:20).
Renungkan:
(1) Tidak bergantung berapa banyak kekayaan Anda, Anda bisa menjadi 「kaya dalam iman」 (Yakobus 2:5, 「Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?」). Bagaimana Anda hendak mengalami kelimpahan semacam ini?
(2) 「Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya」 (Mat. 10:24), Yesus pernah difitnah tuduhan palsu oleh saksi palsu, pengikut-Nya tidak akan terhindar, dengan sikap apa dan bagaimana Anda akan menghadapi tuduhan palsu?
Renungan pemahaman Kitab Amsal
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 10-22 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Juni 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.