Tag Archives: Surat Ibrani

Ibrani 10:19-25

「Peringatan Keempat: Pertahankan iman」

Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ibrani 10:19-25 [TB2])
19 Jadi, Saudara-saudara, kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam Tempat Kudus, oleh darah Yesus, 20 karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, 21 dan kita mempunyai seorang imam agung sebagai kepala Rumah Allah.
22 Karena itu, marilah kita datang beribadah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.
23 Marilah kita berpegang teguh pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.
24 Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam perbuatan baik.
25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, terlebih lagi sementara kamu melihat hari Tuhan semakin mendekat.

Kita telah selesai membaca bagian diskusi teologis utama dari Surat Ibrani (5:1-10:18), dan bagian berikutnya dari surat ini dikhususkan untuk nasihat-nasihat bagi orang-orang percaya.
Ayat 10:19-39 merupakan peringatan keempat kepada orang-orang percaya, memperingatkan mereka agar jangan dengan sengaja berbuat dosa. Dapat lebih lanjut dibagi menjadi dua Paragraf. Paragraf yang kita baca hari ini (ayat 19-25) merupakan dorongan positif, dan paragraf berikutnya (ayat 26-39) adalah peringatan negatif.
Penulis menghabiskan tulisan yang panjang untuk menjelaskan pelayanan yang dilakukan Kristus sebagai Imam Besar di surga. Karena keefektifan pengorbanan-Nya, kita bisa datang ke hadirat Allah. Bukan hanya kaum Lewi dan para imam saja, tetapi semua orang bisa masuk ke dalam Tempat Kudus di Kemah Suci; tidak hanya imam besar yang mendapat kesempatan ini setahun sekali, tetapi semua orang bisa masuk ke Ruang Maha Kudus dan menjalin relasi yang langsung dan intim dengan Allah. Kita berani dan tidak takut di hadapan Allah.
Kita mempunyai hak ini karena Kristus telah membuka jalan menuju surga. Ada tabir yang memisahkan Tempat Kudus dan Tempat Maha Kudus, melambangkan pembatas antara Allah dan manusia; sekarang tabir ini telah menjadi tubuh Kristus, yang menjadi perantara antara Allah dan manusia, dan tabir fisik ini tidak lagi menjadi penghalang (tabir fisik dapat dipahami sebagai darah Kristus, ayat 19), tetapi menjadi jembatan. Hanya melalui Dia maka manusia dapat datang kepada Bapa (Yohanes 14:6).
Imam Besar ini adalah Anak Allah dan memerintah rumah Allah (lihat pembahasan dalam 3:1-6). Rumah Allah mengacu pada umat Allah, yang menjadi sasaran nasihat penulis saat ini (13:22). Imam besar ini telah menggenapi penebusan atas diri kita. Teguran nurani akan dosa (pelanggaran) di dalam hati kita telah disingkirkan, dan manusia telah disucikan.
Karena fakta-fakta yang disebutkan di atas, hubungan baru dan hidup baru membawa tuntutan kehidupan yang baru, penulis meminta kita untuk memiliki keyakinan, harapan, dan kasih yang lebih besar sebagai tanggapannya.
Dalam hal iman: Karena itu, marilah kita datang beribadah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, … (ayat 22) Kita harus setia dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan.
Dalam hal pengharapan: Marilah kita berpegang teguh pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia (ayat 23) Kita harus berpegang teguh pada janji-janji Allah yang setia kepada kita.
Dalam hal kasih: Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam perbuatan baik (ayat 24). Dalam komunitas iman, kita perlu memperlakukan satu sama lain dengan kasih, dan kita juga harus berusaha semaksimal mungkin untuk menyebarkan kasih kepada orang-orang di luar komunitas Gereja.
Mengenai hubungan kasih antar orang percaya, penulis menambahkan satu kalimat lagi, berpesan agar mereka terus berpartisipasi dalam pertemuan gereja dan menjaga tali kasih antar anggota. Karena saat ini adalah masa yang sulit, orang-orang percaya menghadapi banyak kesulitan dan tantangan, terlalu banyak kekuatan luar yang dapat menarik mereka keluar dari iman dan melepaskan keyakinannya. Dalam situasi seperti ini, sangat berbahaya bagi orang percaya jika sendirian menghadapi tantangan dan jika tidak berhati-hati akan kehilangan iman. Oleh karena itu, mereka harus saling menjaga dan mengatasi kesulitan tersebut.
Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang … Ini mungkin berarti bahwa meskipun beberapa orang percaya kepada Yesus, mereka tidak secara teratur berpartisipasi dalam pertemuan gereja dan tidak banyak berhubungan dengan anggota tubuh yang lain; hal ini mungkin mengacu pada fakta bahwa mereka menghadapi tekanan dari kerabat dan komunitas mereka. Beberapa orang percaya secara bertahap menjadi terasing dari gereja dan mulai meninggalkan iman mereka. Apa pun kasusnya, nasihat penulis menunjukkan satu hal: tidak ada seorang pun yang dapat menempuh jalan iman sendirian, kita harus menjadi anggota gereja dan menjadi satu dengan orang-orang percaya lainnya. Kehidupan gereja harus menjadi bagian penting dalam kehidupan iman kita.
Meninggalkan gereja adalah awal meninggalkan iman, ini adalah hukum yang tidak bisa dilanggar. Selama berabad-abad, ada orang-orang yang percaya bahwa hal ini bisa menjadi pengecualian, tetapi saya tidak melihat ada berapa kasus yang berhasil.
Teks berikutnya di bawah penulis memberikan nasihat yang lebih rinci berdasarkan kerangka iman, harapan, dan kasih. Dia berfokus secara khusus membahas dua tuntutan iman dan harapan.

Refleksi Iman:
Karena kita telah menerima kasih karunia Kristus yang besar, kita harus menanggapinya dengan iman, kasih, dan pengharapan yang melimpah. Apakah Anda siap untuk introspeksi diri dalam tiga aspek ini?


Renungan pemahaman Surat Ibrani

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Ibrani ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Februari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ibrani 10:11-18

「Kristus adalah persembahan kurban yang lebih baik」

Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ibrani 10:11-18 [TB2])
11 Selanjutnya setiap imam melakukan pelayanannya tiap-tiap hari dan berulang-ulang mempersembahkan kurban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. 12 Tetapi, setelah mempersembahkan hanya satu kurban saja karena dosa, Kristus duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, 13 dan sekarang Ia hanya menantikan saat bilamana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya. 14 Sebab oleh satu kurban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang dikuduskan. 15 Dan Roh Kudus juga memberi kesaksian kepada kita, 16 sebab setelah Ia berfirman,
…… Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka
…………sesudah hari-hari itu, firman Tuhan lagi,
…… Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka
…………dan menuliskannya dalam akal budi mereka,
……17 dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa
…………dan pelanggaran mereka.
18 Jadi, apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan kurban karena dosa.

Penulis selanjutnya menjelaskan perbedaan antara Kristus sebagai Imam Besar dan para imam dari garis keturunan Harun.

Semua imam harus masuk ke Kemah Suci atau Bait Suci setiap hari dan melayani sambil berdiri. Tidak ada tempat duduk bagi siapa pun di Kemah Suci, dan mereka juga tidak boleh duduk selama melayani. Ada sebuah bagian dalam Ulangan mengenai orang-orang Lewi dan para imam: Sebab dialah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu, supaya ia senantiasa melayani (to stand to minister) TUHAN dan menyelenggarakan kebaktian demi nama-Nya, ia dan anak-anaknya (Ulangan 18:5; lihat 10:8; 17:12), terjemahan bahasa Indonesia tidak terlihat tentang berdiri, bandingkan KJV to stand to minister. Perjanjian Lama selalu menekankan berdiri melayani dan berdiri di hadapan Allah. Seorang yang berdiri di sana adalah hamba (Dan. 7:16), yang mengungkapkan sikap pelayanan yang rendah hati. Apakah itu sikap yang sepatutnya seorang hamba duduk di depan tuannya? Namun, penulis Ibrani mempunyai pendapat lain, ia menekankan bahwa para imam berdiri berbeda dengan Kristus yang duduk. Tujuannya adalah untuk menggambarkan bahwa persembahan kurban manusia tidak pernah selesai, dan hanya mereka yang telah menyelesaikan tugasnya yang dapat duduk. Misi para imam di dunia belum selesai, jadi teruslah berdiri!

Penulis menambahkan, ritual kurban sebenarnya sangat teratur dan kaku, dilakukan secara berulang-ulang. Para imam setiap kali mempersembahkan berbagai kurban yang ditentukan. Ciri umum dari kurban ini adalah bahwa kurban tersebut tidak dapat menghapuskan dosa-dosa manusia, terutama kesadaran berdosa dalam hati nurani manusia, yang tidak dapat dihilangkan dengan ritual penyucian lahiriah.

Sebagai Imam Besar, situasi dengan Kristus sangatlah berbeda. Dia hanya mempersembahkan kurban penghapus dosa satu kali, dan itu menyelesaikan tugas-Nya, dan berlaku selamanya; sehingga Dia dapat duduk dengan damai di sebelah kanan Allah, menunggu penyelesaian akhir dari tugas penebusan ini, musuh-musuh-Nya suatu hari nanti berserah sepenuhnya di kaki-Nya. sekarang Ia hanya menantikan saat bilamana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya (ayat 13). Penulis tidak mengatakan dengan jelas siapa musuh yang ada di sini, tetapi dapat percaya bahwa itu adalah Setan dan semua kekuatan antikristus, yang segala macam kuasa yang berusaha menghalangi penebusan umat Kristus. Penulis tidak menyebutkan secara spesifik musuh-musuh-Nya, mungkin karena ia mempunyai pengaturan lain; menurut apa yang ia katakan kemudian, mereka yang memberontak, mundur, dan melepaskan iman juga bergabung dengan barisan semua musuh (10:26-27). Mereka menentang kebenaran, menentang Kristus (anti terhadap Kristus), mereka memandang Kristus sebagai musuh. Oleh karena itu, jangan berpikir bahwa antikristus hanya menunjuk pada Setan dan tidak ada hubungannya dengan kita. Lagi pula, kita bukanlah malaikat yang jatuh! Kita harus berhati-hati agar tidak jatuh ke dalam kelompok musuh Kristus.

Sebab oleh satu kurban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang dikuduskan (ayat 14). Pesan yang terkandung dalam ayat ini sangat penting, dan cukup untuk menghilangkan kesalahpahaman banyak orang tentang Surat Ibrani.

Gereja-gereja sepanjang zaman, khususnya gereja-gereja Tiongkok modern, selalu mempunyai dalil yang tidak dapat dijelaskan: Sekali diselamatkan, selalu diselamatkan. Gagasan ini hanya secara tidak langsung berkaitan dengan penekanan Reformed pada pemeliharaan kekal oleh Allah, karena Calvin berkata: Mereka yang telah ditentukan Allah untuk diselamatkan, Ia memelihara mereka sampai akhir. Tetapi banyak orang telah mengubah pernyataan ini menjadi: Sekali Anda mengangkat tangan, Anda selamanya selamat atau Sekali Anda menganggukkan kepala, Anda selamanya selamat. Asalkan pernah angkat tangan menyatakan menerima Yesus di suatu KKR Penginjilan atau aktif di gereja selama jangka waktu tertentu, tidak peduli jika kelak aku bergabung dengan ajaran sesat, atau bahkan meninggalkan terang dan beralih ke kegelapan, melakukan perzinaan dan penjarahan atau perbuatan jahat apapun, Tuhan akan tetap memastikan bahwa aku pasti masuk surga pada akhirnya, dan paling banyak saya akan mendapatkan hasil pas-pasan lewat. Ini bukan lagi ditetapkan Tuhan untuk diselamatkan selamanya tetapi Saya pernah memilih maka pasti diselamatkan selamanya. Aku memesan menu dan Tuhan membayar tagihannya, asalkan aku pernah menyatakan menerima Yesus, maka tidak peduli apa pun hidupku, Tuhan telah menyediakan tempat bagiku di surga. Ini adalah teori yang sangat konyol.

Pernyataan sekali selamat, tetap selamat yang benar menekankan pilihan dan ketetapan Tuhan, bukan tentang pilihan manusia. Tentu saja Tuhan mempunyai kemampuan untuk memelihara iman manusia sampai akhir, namun kuncinya adalah apakah kita masuk dalam daftar pilihan-Nya? Bagaimana pilihan manusia bisa otomatis berubah menjadi pilihan Tuhan?

Kita harus menghadapi sebuah fakta, entah itu dari Alkitab atau dari kehidupan nyata, yaitu banyak orang yang percaya kepada Yesus dan banyak orang yang aktif di gereja ketika mereka masih muda, tetapi kemudian meninggalkan iman mereka, dan beberapa bahkan secara terbuka menentang kebenaran. Jika mereka adalah musuh Kristus, apakah kita harus mengatakan bahwa mereka pernah menerima Yesus maka pasti akan diselamatkan? Apakah orang murtad bisa diselamatkan? Akankah mereka yang menganiaya gereja dapat makan bersama mereka yang mengenakan pakaian putih di masa depan? Jika kita tidak membalikkan akibat menjadi sebab, kita menyimpulkan bahwa keyakinan mereka di masa lalu adalah iman yang palsu dan bukan iman yang sejati. Fakta yang tidak diragukan lagi adalah bahwa dari sudut pandang manusia, umat Kristiani bisa jatuh, meninggalkan imannya, murtad, dan bahkan menjadi penentang.

Apakah ini membatalkan rencana keselamatan Allah? Tidak, Surat Ibrani dengan jelas menunjukkan bahwa Yesus Kristus menyelesaikan di kayu salib seluruh karya penebusan untuk selamanya, dan penebusan-Nya efektif untuk selamanya. Sebab oleh satu kurban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang dikuduskan. Namun, tak seorang pun di dunia ini yang dapat berkata memastikan 100% bahwa mereka pasti berada dalam jajaran orang-orang pilihan. Tidak ada keraguan bahwa Allah mempunyai kedaulatan atas predestinasi-Nya, dan Dia akan menjaga orang pilihan-Nya sampai akhir. Namun pilihan Allah berada pada tingkat yang kekal. Dalam urutan ruang dan waktu kehidupan ini, kita tidak mungkin mengetahui daftar yang telah ditentukan ini, dan kita tidak dapat mengacaukan keputusan manusia dengan kehendak Allah. Yang bisa dan sepatutnya
kita lakukan hanyalah tetap beriman dan berjalan dengan setia di jalan mengikuti Yesus. Hal inilah yang dinasihatkan oleh penulis Surat Ibrani kepada orang-orang percaya.

Yesus Kristus membuat perjanjian baru bagi kita. Perjanjian baru tertulis di hati. Mulai sekarang, kita tidak perlu lagi mempersembahkan kurban penghapus dosa karena dosa kita.

Refleksi Iman:
Mari introspeksi kesetiaan diri kita sendiri kepada Kristus. Apakah saya tetap berpegang pada iman dan tidak pernah meninggalkan Dia?


Renungan pemahaman Surat Ibrani

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Ibrani ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Februari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ibrani 10:1-10

「Sesungguhnya Kristuslah kehendak Allah」

Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ibrani 10:1-10 [TB2])
1 Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari hal-hal baik yang akan datang, dan bukan wujud dari hal-hal tersebut. Karena itu, dengan kurban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang beribadah. 2 Sebab, jika hal itu mungkin, bukankah orang tidak mempersembahkan kurban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya? 3 Tetapi, justru dengan kurban-kurban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. 4 Sebab, tidak mungkin darah lembu jantan atau darah kambing jantan menghapuskan dosa.
5 Karena itu, ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata,
……Kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki,
……tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku.
……6 Kepada kurban bakaran dan kurban penghapus dosa
…………Engkau tidak berkenan.
……7 Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang;
…………seperti tertulis dalam gulungan kitab tentang Aku,
……untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah.
8 Di atas, Ia berkata: Kurban dan persembahan, kurban bakaran dan kurban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya, meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat. 9 Kemudian kata-Nya, Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu. Yang pertama Ia hapuskan untuk menegakkan yang kedua. 10 Karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.

Penulis kemudian menggunakan gambar dan entitas untuk menggambarkan hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa Kemah Suci di surga adalah versi asli dari yang ada di bumi yang merupakan adalah salinan dari yang di surga, tetapi dari sudut pandang urutan waktu manusia, salinan tersebut sudah ada sebelum aslinya, secara urutan Perjanjian Lama ada terlebih dahulu, kemudian Perjanjian Baru, tetapi Perjanjian Baru adalah entitas nyata dari Perjanjian Lama, dan Perjanjian Lama adalah bayangan dari Perjanjian Baru. Bayangan tidaklah palsu, melainkan bersifat sementara, sebagai pertanda atau prafigur (tipologi/unsur-unsur yang digenapi di dalam kedatangan Kristus).

Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari hal-hal baik yang akan datang, dan bukan wujud dari hal-hal tersebut (ayat 1). Hukum Taurat tentang kurban penebusan dosa hanya bisa menunjuk pada hal-hal baik di masa depan, yaitu korban penghapus dosa Yesus Kristus yang satu kali untuk selamanya bagi umat manusia. Persembahan kurban biasa di dunia tidak bisa menjadikan manusia sempurna di hadapan Allah. Jika bisa, maka tidak perlu mengulangi persembahan kurban yang sama tanpa henti. Oleh karena itu, persembahan kurban manusia tidak dapat menyempurnakan mereka yang yang datang beribadah (ayat 1).

Kurban penghapus dosa manusia tidak dapat membebaskan manusia dari jerat dosa. Penulis menunjukkan bahwa manusia sendiri mengetahui hal ini. Bukan orang lain yang menuduh seseorang bersalah, tapi hati nuraninyalah yang bertanggung jawab atas kejahatan tersebut. Setiap tahun ketika melakukan persembahan kurban di Hari Raya Pendamaian, hati nurani manusia mengingatkan diri sendiri bahwa masih banyak dosa yang belum dibersihkan. Kesadaran akan dosa selalu ada dalam hati manusia, terutama dalam beribadah. Saat bertemu dengan Allah yang Mahakudus, paling mudah menemukan kenajisan diri sendiri.

Kesimpulan penulis adalah: Sebab, tidak mungkin darah lembu jantan atau darah kambing jantan menghapuskan dosa (ayat 4) Darah hewan kurban tidak dapat menghapus dosa, kurban tidak dapat menghapus dosa, dan hukum Taurat tidak dapat menghapus dosa.

Lalu timbul pertanyaan: jika hukum itu dikeluarkan oleh Allah, dan tindakan persembahan kurban serta ketentuan bahwa Menurut hukum Taurat, … tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (9:22) semuanya berasal dari Allah, lalu bagaimana mungkin Allah mengizinkan apa yang ditetapkan oleh-Nya bisa gagal fungsi? Apakah ini akibat rancangan dan kelalaian Allah yang buruk? Tentu saja tidak. Gagasan Penulis Surat Ibrani adalah bahwa sejak awal, tindakan kurban seperti korban bakaran dan korban penghapus dosa bukanlah kehendak ultimate (tertinggi dan akhir) dari Allah.

Bandingkan ayat 5-7 ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata, “Kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki, tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku. Kepada kurban bakaran dan kurban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; seperti tertulis dalam gulungan kitab tentang Aku, untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah” dengan Mazmur 40:6-8 yang menjadi sumber tulisannya, Engkau tidak berkenan kepada kurban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; kurban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata, Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.』」 Mazmur ini disebut Mazmur Daud, dan isi mazmur itu mungkin milik Daud. Karena Daud mempunyai hubungan prafigur/tipologi dengan Kristus, maka penulis menyimpulkan bahwa mazmur ini adalah perkataan Kristus di dunia. Perkataan Daud adalah perkataan Kristus, dan Mazmur 40 adalah pengakuan dari Kristus.

Ayat 7 dari Mazmur aslinya: Sungguh, aku datang sama dengan ketika Ia masuk ke dunia (ayat 5), ketika Kristus datang ke dunia. Ayat 6: Engkau telah membuka telingaku, menurut LXX Septuaginta diterjemahkan menjadi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku (ayat 5), yang mengacu pada inkarnasi Yesus melalui konsepsi Roh Kudus. Ayat 8 aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku. Penulis menafsirkan bahwa kehidupan dan pelayanan Kristus sejak mula sudah dicatat dalam Perjanjian Lama (kehendak-Mu, … Taurat-Musama dengan gulungan kitab) , sehingga diterjemahkan sebagai: Sungguh, Aku datang; seperti tertulis dalam gulungan kitab tentang Aku, untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah (ayat 7)

Pesan asli mazmur Daud adalah lebih baik menaati perintah Allah dari pada persembahan kurban. Menjalani hidup saleh dan menghidupi menjalankan iman lebih berkenan kepada Allah daripada persembahan kurban. Seperti yang Samuel katakan: Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan (1 Samuel 15:22) Contoh lainnya adalah Mikha Katakanlah, Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri? Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu? (Mikha 6:7-8) Oleh karena itu, Daud berkata: Manusia harus dibuka telinganya oleh Allah, dan menyimpan hukum Allah di dalam hatinya.

Penulis mengambil fokus pada kalimat Engkau tidak berkenan kepada kurban sembelihan dan korban sajian, … kurban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. (Mazmur 40:6), memperluasnya menjadi: Kurban dan persembahan, kurban bakaran dan kurban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya, meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat (ayat 8) Artinya, bukan berarti Allah lebih berkenan kepada ketaatan manusia menuruti perintah daripada kurban dan pemberian, tetapi Allah sama sekali tidak menyukai benda-benda dan pemberian-pemberian kurban, walaupun hal itu ditentukan-Nya dalam hukum Taurat.

Lebih jauh lagi, Allah bukan lebih menyukai ketaatan manusia menuruti hukum Taurat, Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku (Mazmur 40:8) Dia bahkan tidak menginginkan persembahan kurban dan hukum Taurat, Ia bukan menyukai semua itu. Lalu apa yang disukai Allah? Dia hanya mencintai segala sesuatu yang telah dilakukan Kristus. Di ayat 9 penulis sekali lagi mengutip Mazmur 40:8 Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku, tetapi ia menafsirkan kata-kata Daud sebagai perkataan Kristus Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu. Dengan demikian, bukan lagi tekad Daud untuk melakukan kehendak Allah, tetapi penegasan Kristus sendiri bahwa apa yang Dia lakukan adalah penggenapan kehendak Allah.

Persembahan kurban yang dilakukan manusia bukanlah kehendak akhir dan tertinggi dari Allah; hanya pengorbanan Kristus menebus dosa manusia itulah yang merupakan kehendak akhir dan tertinggi dari Allah. Oleh karena itu, melalui wasiat ini, Karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.

Refleksi Iman:
Penulis Surat Ibrani berulang kali menunjukkan bahwa Kristus adalah kehendak Allah, dan segala sesuatu yang Kristus lakukan adalah perwujudan Allah Tuhan. Ini adalah iman yang secara radikal berpusat pada Kristus. Apakah iman dan hidup Anda berpusat pada Kristus?


Renungan pemahaman Surat Ibrani

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Ibrani ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Februari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ibrani 9:23-28

「Kristus hanya satu kali saja dipersembahkan sebagai kurban」

Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ibrani 9:23-28 [TB2])
23 Jadi, segala sesuatu yang melambangkan apa yang ada di surga haruslah disucikan secara demikian, tetapi benda-benda surgawi sendiri harus disucikan dengan persembahan-persembahan yang lebih baik daripada itu. 24 Sebab, Kristus bukan masuk ke dalam Tempat Kudus buatan tangan manusia, yang hanya merupakan gambaran dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam surga sendiri untuk menghadap hadirat Allah demi kita.
25 Ia bukan masuk untuk mempersembahkan diri-Nya sendiri berulang-ulang, sebagaimana imam besar setiap tahun masuk ke dalam Tempat Kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. 26 Sebab, jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Namun, sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa dengan kurban diri-Nya. 27 Sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, 28 demikian pula Kristus hanya satu kali saja dipersembahkan untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya untuk kedua kalinya bukan untuk menanggung dosa, tetapi untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia.

Penulis menandaskan: Menurut hukum Taurat, segala sesuatu disucikan dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (ayat 22). Hukum Taurat menetapkan bahwa semua benda harus disucikan dengan darah; orang berdosa juga harus melalui pertumpahan darah untuk mendapatkan pengampunan.

Kemudian, dia melanjutkan dengan mengatakan: segala sesuatu yang melambangkan apa yang ada di surga haruslah disucikan secara demikian, tetapi benda-benda surgawi sendiri harus disucikan dengan persembahan-persembahan yang lebih baik daripada itu (ayat 23) Kesimpulan ini telah menimbulkan kontroversi dan kebingungan yang besar. Premis 1: segala sesuatu di dunia, termasuk Kemah Suci dan berbagai bejana suci, perlu dikuduskan dan ditahirkan melalui percikan darah. Premis 2: Yang ada di dunia hanyalah tiruan dari yang ada di surga, sedangkan yang ada di surga adalah yang nyata. Kesimpulan: Hal-hal di bumi perlu dibersihkan, dan hal-hal di surga juga perlu dibersihkan, dan pengorbanan yang lebih mahal dan lebih kuat harus digunakan untuk menyelesaikan proses pembersihan. Ini harus dilakukan oleh Yesus Kristus. Darah Yesus sudah cukup untuk menahirkan segala sesuatu yang ada di surga, termasuk Kemah Suci surgawi dan berbagai perabotannya.

Masalahnya, di awal telah ditegaskan bahwa Kemah Suci di surga dibangun oleh Allah sendiri, bukan oleh tangan manusia: kemah sejati yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia (ayat 8:2) Barang-barang yang dibuat oleh Tuhan, pasti sesuatu yang menurut Tuhan baik. Di surga tidak ada dosa, dan Tuhan tidak bisa menoleransi dosa. Kalau di surga tidak pernah ternoda dosa, dan kalau aslinya suci dan bersih, kenapa harus melalui ritual penyucian? Mengapa kita memerlukan persembahan yang lebih baik untuk membersihkannya?

Sebagai kurban, Yesus Kristus dipersembahkan untuk menyelamatkan kita dari dosa di bumi, bukan untuk menyucikan surga (heaven cleaning), bukankah demikian?

Untuk ini, kita harus memahami apa yang ada di surga sebagai persembahan kurban Yesus Kristus di surga. Persembahan kurban di bumi hanyalah bayangan, dan persembahan kurban di surga adalah nyata. Apa yang penulis ingin sampaikan adalah: Seandainya para imam Lewi di bumi mau menyucikan manusia dari dosa-dosanya secara singkat dan tidak lengkap, mereka juga perlu mempersembahkan darah korban yang banyak; maka pengorbanan Tuhan kita di Kemah Suci di surga, hanya perlu dilakukan dilakukan sekali saja, tetapi mampu menyucikan manusia sepenuhnya dari dosa-dosanya, bukankah itu artinya diperlukan persembahan kurban yang lebih sempurna? Persembahan kurban yang sempurna ini hanya dapat ditanggung oleh Yesus Kristus sendiri.

Penulis kemudian menyebutkan dua perbedaan antara persembahan kurban Kristus dan persembahan kurban manusia: Pertama, Kristus tidak mempersembahkan kurban di dalam Kemah Suci duniawi, namun di dalam Tempat Kudus di dalam Kemah Suci surgawi; persembahan kurban ini tidak dilakukan oleh tangan manusia, melainkan Tempat Kudus yang sejati yang ada di surga (surga bentuk tunggal, tingkat tertinggi), di hadirat Allah.

Jika Ruang Maha Kudus adalah tempat tinggal Allah, tutup Tabut Perjanjian disebut tutup pendamaian. Kristus di surga tidak perlu masuk ke Ruang Maha Kudus untuk mendekati tutup pendamaian, juga tidak perlu untuk mencari wajah Allah. Dia duduk di sebelah kanan Allah Bapa, tidak ada pemisahan sama sekali dari Bapa. Perhatikan bahwa penulis mengatakan menghadap hadirat Allah demi kita. Kristus sendiri dekat dengan Allah Bapa memang sudah sepatutnya demikian; tetapi Kristus dekat dengan Allah Bapa adalah demi kita, Dia memainkan peran sebagai Imam Besar dan Pengantara. Pengantara seperti itu tidak ada bandingannya. Kristus demi kita sering ditekankan dalam Ibrani (2:18; 4:15; 7:25).

Kedua, Kristus tidak perlu berulang-ulang mempersembahkan kurban. Dia mempersembahkan diri-Nya satu kali untuk selamanya, memenuhi semua peraturan yang mengharuskan pengampunan dosa dan penyucian sepanjang zaman. Darah Kristus yang ditumpahkan sekali saja sudah cukup untuk menebus seluruh umat manusia dari kematian.

Penulis berkata: Ia bukan masuk untuk mempersembahkan diri-Nya sendiri berulang-ulang, sebagaimana imam besar setiap tahun masuk ke dalam Tempat Kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. Sebab, jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Namun, sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa dengan kurban diri-Nya (ayat 25-26).

Kalimat di ayat 27 Sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, ini sering dikutip secara terpisah untuk menggambarkan kebenaran tentang kehidupan. Namun niat awal penulis Surat Ibrani adalah untuk membuat sebuah analogi, sama seperti setiap orang mati hanya satu kali, mustahil bagi Kristus untuk terus-menerus mengorbankan diri-Nya dan mengeluarkan darah serta mati di kayu salib, bukan? Kesimpulannya adalah: Kristus hanya datang ke bumi satu kali, menjelma menjadi manusia, mengorbankan nyawa-Nya, dan menanggung dosa-dosa kita. Kristus akan datang kembali ke bumi, tetapi kedatangan-Nya yang kedua kali tidak ada hubungannya dengan pengampunan dosa. Ini murni untuk menyelesaikan seluruh karya keselamatan bagi manusia.

Refleksi Iman:
Segala sesuatu yang Kristus lakukan adalah demi kita, untuk mengasihi kita, untuk menebus kita, untuk memperbaharui kita. Apa pendapat dan tekad Anda mengenai hal ini?


Renungan pemahaman Surat Ibrani

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Ibrani ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Februari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ibrani 9:15-22

「Kristus menjadikan perjanjian baru itu sah melalui kematian-Nya」

Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ibrani 9:15-22 [TB2])
15 Karena itu, Dialah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima warisan kekal yang dijanjikan, sebab sudah ada yang mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama. 16 Sebab, di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu. 17 Karena suatu wasiat barulah sah, kalau pembuat wasiat itu telah mati, sebab wasiat tidak berlaku, selama pembuat wasiat masih hidup. 18 Itulah sebabnya perjanjian yang pertama tidak disahkan tanpa darah. 19 Sebab, sesudah Musa memberitahukan semua perintah sesuai dengan hukum Taurat kepada seluruh umat, ia mengambil darah anak lembu dan darah kambing jantan serta air, dan bulu merah dan hisop, lalu memerciki kitab itu sendiri dan seluruh umat, 20 sambil berkata, Inilah darah perjanjian yang ditetapkan Allah bagi kamu. 21 Juga kemah dan semua alat untuk ibadah dipercikinya seperti itu dengan darah. 22 Menurut hukum Taurat, segala sesuatu disucikan dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.

Yesus Kristus adalah Pengantara yang menggenapi perjanjian baru. Ia menggunakan darah-Nya sendiri untuk membayar dosa-dosa kita akibat melanggar perjanjian lama, sehingga kita bisa memperoleh warisan kekal yang dijanjikan Allah.
Penulis menggunakan sebuah metode untuk menjelaskan mengapa Yesus harus menumpahkan darah-Nya dan mati agar Perjanjian Baru menjadi sah. Kata perjanjian (diathēkē ) juga dapat diterjemahkan sebagai wasiat. Secara khusus, perjanjian baru yang ditetapkan oleh Kristus di kayu salib dibuat satu pihak saja oleh-Nya, dan tidak ada pihak lain yang berada bersama dengan-Nya (berbeda dengan Perjanjian Lama, yang dibuat oleh Allah di Gunung Sinai dengan Musa, yang mewakili umat manusia) , jadi bukan tidak mungkin untuk memahami Perjanjian Baru sebagai sebuah wasiat.
Salah satu ciri wasiat adalah tidak berlaku sampai orang yang membuat wasiat meninggal dunia, barulah ahli warisnya dapat menerima warisan. Selama pembuatnya masih hidup, penerima manfaat tidak berhak menerima harta warisan, pembuat wasiat juga dapat mengubah syarat-syarat wasiat sesuka hati! di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu. Karena suatu wasiat barulah sah, kalau pembuat wasiat itu telah mati, sebab wasiat tidak berlaku, selama pembuat wasiat masih hidup (ayat 16-17). Oleh karena itu, Yesus Kristus harus menumpahkan darah-Nya dan mati agar wasiat, perjanjian baru, dapat berlaku.
Tentu saja, jika diathēkē diterjemahkan sebagai perjanjian, tidak ada bukti bahwa seseorang harus mati sebelum perjanjian dapat berlaku. Tidak ada kematian dalam Perjanjian Sinai, dan tidak ada bencana berdarah dalam Perjanjian Pelangi Nuh. Terlebih lagi, percikan darah dalam Perjanjian Lama terutama digunakan untuk menyucikan manusia dari dosa-dosa mereka – dosa-dosa yang disebabkan oleh kegagalan untuk menaati ketentuan-ketentuan perjanjian, daripada menggunakan darah untuk membuat perjanjian itu efektif. Inilah yang penulis katakan: Menurut hukum Taurat, segala sesuatu disucikan dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan(ayat 22)
Namun, penulis Surat Ibrani menunjukkan bahwa Perjanjian Lama pun mengharuskan pertumpahan darah, ayat 18 Itulah sebabnya perjanjian yang pertama tidak disahkan tanpa darah. Contoh yang dia kutip adalah bahwa setelah Musa memberikan hukum, dia mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan kepada Allah, lalu memercikkan darahnya ke atas bangsa itu sambil menyatakan: Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini (Keluaran 24:8). Argumentasinya berasal dari Keluaran 24, penulis menambahkan perinci detil: pertama, di Keluaran hanya menyebutkan darah, penulis menambahkan detil darah anak lembu dan darah kambing jantan serta air … bulu merah dan hisop menggambarkan apa yang akan digunakan Musa saat itu, hisop diikat dengan bulu merah (benang kasmir) yang digunakan sebagai alat untuk memercikkan darah, sedangkan air digunakan untuk mengencerkan darah agar tidak menggumpal dan memperlancar percikan darah. Kedua, di Keluaran hanya menyebutkan pemercikan darah pada umat dan pada mezbah (lihat Keluaran 24:6), tetapi penulis menambahkan kitab itu (ayat 19), yaitu pada kitab perjanjian.
Penulis Surat Ibrani juga menyebutkan: Juga kemah dan semua alat untuk ibadah dipercikinya seperti itu dengan darah (ayat 21), Musa memercikkan darah pada Kemah Suci dan pada segala perkakas suci, namun tidak ada catatan dalam Pentateukh. Sebaliknya, minyak urapan digunakan untuk menguduskan Kemah Suci dan perkakasnya (Keluaran 40:9-11; Imamat 8:10-11; Bilangan 7:11). Namun, pada upacara pengukuhan Harun dan anak-anaknya, darah lembu jantan yang dijadikan korban penghapus dosa dioleskan di atas mezbah, dan darah domba jantan yang dijadikan korban bakaran dipercikkan di sekeliling mezbah dan pada Harun serta yang lainnya. Berdasarkan hal ini, Penulis Surat Ibrani mungkin mengklaim bahwa Musa menggunakan darah untuk menguduskan Kemah Suci dan berbagai bejana suci.
Penulis menggunakan makna ganda dari kata diathēkē untuk memainkan permainan kata dalam paragraf ini, dengan hanya satu tujuan: untuk menjelaskan perlunya perjanjian baru yang ditetapkan oleh Yesus Kristus melalui pertumpahan darah dan kematian.

Refleksi Iman:
Yesus memang meneguhkan Perjanjian Baru melalui darah dan kematian-Nya yang tercurah. Kematian dan kebangkitan-Nya memberi kita kehidupan, dan ini adalah sesuatu yang patut kita syukuri sepanjang hidup kita.


Renungan pemahaman Surat Ibrani

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Ibrani ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Februari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ibrani 9:1-14

Penyelenggaraan persembahan kurban Kemah Suci

Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ibrani 9:1-14 [TB2])
1 Memang perjanjian yang pertama juga mempunyai peraturan-peraturan untuk ibadah dan untuk Tempat Kudus duniawi. 2 Sebab, suatu kemah dipersiapkan, yaitu bagian yang paling depan dan di situ terdapat kadil dan meja dengan roti sajian. Bagian ini disebut Tempat Kudus. 3 Di belakang tabir yang kedua terdapat suatu kemah lagi yang disebut Tempat Mahakudus. 4 Di situ terdapat mezbah pembakaran dupa dari emas, dan Tabut Perjanjian, yang seluruhnya disalut dengan emas. Di dalam Tabut Perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas, dan loh-loh batu yang berisi perjanjian, 5 dan di atasnya kedua kerub kemuliaan yang menaungi tutup pendamaian. Namun, hal ini tidak dapat kita bicarakan sekarang secara terperinci.
6 Demikianlah semuanya diatur. Jadi, imam-imam senantiasa masuk ke dalam kemah yang paling depan itu untuk melakukan ibadah mereka, 7 tetapi ke dalam kemah yang kedua hanya imam besar saja yang masuk sekali setahun, dan harus dengan darah yang ia persembahkan karena dirinya sendiri dan karena pelanggaran-pelanggaran, yang dilakukan oleh umatnya tanpa sadar. 8 Dengan ini Roh Kudus menyatakan bahwa jalan ke tempat yang kudus itu belum terbuka, selama kemah yang pertama itu masih ada. 9 Itulah kiasan masa sekarang. Sesuai dengan itu dibawalah persembahan dan kurban yang tidak dapat menyempurnakan hati nurani orang yang mempersembahkannya, 10 melainkan hanya berkenaan dengan makanan, minuman dan berbagai macam pembasuhan, yakni peraturan-peraturan lahiriah yang hanya berlaku sampai tiba saat pembaruan.
11 Namun, Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia – artinya yang tidak termasuk ciptaan ini – 12 dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam Tempat Kudus bukan dengan membawa darah kambing jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal. 13 Sebab, jika darah kambing jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, 14 terlebih lagi darah Kristus, yang melalui Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tidak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.

Meskipun Kemah Suci di surga adalah yang asli dan Kemah Suci di bumi hanyalah salinan, karena belum ada seorang pun yang pernah melihat yang asli di surga, kita hanya dapat memperkirakan seperti apa yang asli di surga berdasarkan salinan manusia.

Penulis memperkenalkan peraturan-peraturan dalam Perjanjian Lama (disebut Perjanjian Pertama)  terkait desain Kemah Suci dan persembahan kurban di bumi.

Satu pertanyaan: Mengapa penulis fokus pada Kemah Suci dan bukan Bait Suci yang dibangun bangsa Israel setelah Raja Salomo? Kemungkinan besar Bait Suci di Yerusalem masih ada ketika penulis menulis Surat ini, namun Kemah Suci sudah lama tidak ada lagi. Alasan mengapa penulis melakukan ini mungkin karena sejak awal ia fokus pada sejarah keluaran bangsa Israel dari Mesir dan melewati padang gurun, dan ketidakpercayaan mereka, akhirnya tidak memperoleh peristirahatan sebagai pelajaran sejarah, menyerukan kepada orang-orang percaya untuk tetap berpegang pada iman mereka. Karena dia berbicara tentang periode sejarah ini, dia membandingkan Yesus dengan Musa dan bahkan para imam besar dalam garis keturunan Harun, dan dia memilih untuk membahas Kemah Suci daripada Bait Suci di masa depan.

Dia terutama memperkenalkan Tempat Kudus dan Tempat Maha Kudus di Kemah Suci, yang disebut bagian yang paling depan dan yang kedua. Tiga benda ditempatkan di tempat kudus: kadil, meja, dan roti sajian. Ada dua benda di Ruang Maha Kudus: mezbah pembakaran dupa dari emas dan Tabut Perjanjian. Tabut itu berisi tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas, dan loh-loh batu yang berisi perjanjian. Penutup Tabut Perjanjian disebut tutup pendamaian, di atasnya ada dua kerub kemuliaan yang menaunginya.

Menurut Keluaran 6:30, mezbah pembakaran dupa harus ditempatkan di Tempat Suci, bukan di Tempat Maha Kudus, sehingga imam besar dapat membakar dupa setiap pagi dan sore hari, para imam hanya bisa memasukinya setahun sekali, dan kemudian membakar dupa. Para peneliti mempunyai banyak argumen mengenai hal ini. Untuk menghindari pernyataan bahwa penulis Surat Ibrani melakukan kesalahan, beberapa orang berpendapat bahwa mezbah dupa ditempatkan di antara Tempat Kudus dan Tempat Maha Kudus, yang mencakup dua tingkat. Hal ini menyelaraskan catatan yang seakan-akan kontradiksi dalam Keluaran dengan Surat Ibrani.

Kemudian berbicara tentang ritual persembahan kurban. Para imam melayani di Tempat Kudus setiap hari, tetapi hanya memasuki Tempat Maha Kudus setiap tahun pada Hari Pendamaian untuk mempersembahkan darah lembu jantan dan domba jantan. Penulis mengambil topik ini dan menunjukkan: perbedaan antara Tempat Kudus dan Tempat Maha Kudus menunjukkan bahwa sebelum Kristus datang ke dunia, manusia tidak dapat datang kepada Allah secara langsung dan lancar, jalan ke tempat yang kudus itu belum terbuka. Sekalipun para imam mempersembahkan kurban setiap hari dan setiap tahun, kurban-kurban tersebut tidak dapat membuat para kurban menjadi tidak berdosa, juga tidak dapat menyempurnakan hati nurani orang yang beribadah . Membahas lebih jauh, selain persembahan kurban, peraturan hukum tentang makanan dan kebersihan hanya dapat memberikan pembersihan pada tingkat fisik (peraturan-peraturan lahiriah); orang berdosa terutama terkait bagian hati nurani, yang tidak dapat dibersihkan melalui berbagai cara ritual (ayat 8-10) Persembahan kurban dalam Perjanjian Lama dan semua peraturan hukum tidak dapat memungkinkan manusia untuk ditahirkan sepenuhnya atau menikmati ketenangan sepenuhnya di dalam Tuhan. 

Jadi, kita perlu menantikan fase baru, dengan persembahan kurban dan ritual pembersihan baru. Tahap baru ini adalah hari-hari terakhir yang dibuka oleh Yesus Kristus, yang di sini disebut pembaruan. Yang dimaksud dengan pembaruan adalah revisi dan reformasi. Sekarang, Kristus telah datang, dan Dia telah menjadi Imam yang lebih baik, mempersembahkan kurban yang lebih baik bagi kita di Kemah Suci yang lebih baik.

Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal baik yang akan datang (ayat 11): Hal-hal baik yang akan datang juga berfungsi sebagai hal-hal baik yang telah terlaksana. Dari sudut pandang sudah tetapi belum, kedua pernyataan tersebut dapat ditetapkan. Hal yang baik ini adalah hal penebusan yang kekal (ayat 12).

Kristus sebagai Imam Besar di surga, masuk ke Ruang Maha Kudus satu kali untuk selama-lamanya, bukan dengan darah kambing dan anak sapi, melainkan dengan darah-Nya sendiri, untuk menggenapi persembahan penghapus dosa yang kekal bagi umat manusia (ayat 12). Ada dua hal yang berharga diperhatikan di sini: Pertama, semua persembahan kurban dalam Perjanjian Lama, baik sapi atau domba, disembelih tanpa kesadaran kerelaan; hanya Kristus, sebagai kurban dan yang mempersembahkan kurban, yang secara sukarela menempuh jalan pengorbanan. Kedua, persembahan kurban di Perjanjian Lama, kurban disembelih terlebih dahulu di pelataran, lalu darahnya dibawa ke dalam Tempat Kudus dan kemudian Tempat Maha Kudus yang terpisah; tetapi Yesus membawa darah-Nya sendiri langsung masuk ke dalam Tempat Maha Kudus, tidak ada tabir pemisah apa pun di dalam Dia, Dia akan meruntuhkan tabir penghalang dan menyingkirkannya.

Penulis menekankan bahwa jika pada zaman Perjanjian Lama, darah kambing dan lembu jantan serta abu anak sapi mempunyai fungsi menyucikan manusia, maka Kristus melalui darah-Nya menggenapi persembahan kurban yang tidak bercacat, dapat benar-benar menyucikan hati nurani manusia, menyempurnakan apa yang tidak dapat digenapi oleh hukum (menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia), sehingga manusia dapat mengabdi di hadapan Tuhan tanpa rasa takut.

Terlebih lagi darah Kristus, yang melalui Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tidak bercacat (ayat 14): kalimat ini menunjukkan bahwa Allah Tritunggal terlibat dalam tindakan penebusan Kristus yang mengorbankan diri.

Refleksi Iman:
Hidup kita telah dibeli dengan darah Yesus Kristus yang berharga dengan pengorbanan besar. Kita telah mengetahui kebenaran ini sejak lama, marilah hari ini kita mempertimbangkan kembali betapa besarnya anugerah yang terkandung dalam pengorbanan diri-Nya.


Renungan pemahaman Surat Ibrani

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Ibrani ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Februari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ibrani 8:1-13

「Perjanjian Baru lebih indah dari Perjanjian Lama」

Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ibrani 8:1-13 [TB2])
1 Inti semua yang kita bicarakan itu ialah: Kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Maha Besar di surga, 2 dan melayani ibadah di Tempat Kudus, yaitu di dalam kemah sejati yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia. 3 Sebab, setiap Imam Besar ditetapkan untuk membawa persembahan dan kurban, karena itu Imam Besar itu perlu mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan. 4 Sekiranya Ia berada di bumi ini, Ia sama sekali tidak akan menjadi imam, karena di sini telah ada orang-orang yang membawa persembahan menurut hukum Taurat. 5 Mereka melayani dalam kemah yang menjadi gambaran dan bayangan dari apa yang ada di surga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah, Perhatikanlah, demikian firman-Nya, bahwa engkau harus membuat semuanya itu menurut pola yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu. 6 Namun, sekarang Ia telah mendapat pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji-janji yang lebih mulia pula.
7 Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua. 8 Sebab, Ia menegur mereka ketika Ia berkata,
……Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman Tuhan,
…………Aku akan mengadakan perjanjian baru
…………dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda,
……9 bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka,
…………pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir.
……Sebab, mereka tidak setia kepada perjanjian-Ku,
…………dan Aku mengabaikan mereka,
…………demikian firman Tuhan.
……10 Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan kaum Israel
…………sesudah waktu itu, demikianlah firman Tuhan.
……Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka
…………dan menuliskannya dalam hati mereka,
……maka Aku akan menjadi Allah mereka
…………dan mereka akan menjadi umat-Ku.
……11 Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya,
…………atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan!
……Sebab, mereka semua, besar kecil,
…………akan mengenal Aku.
……12 Sebab, Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka
…………dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.
13 Ketika Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Apa yang telah menjadi tua dan usang, akan segera lenyap.

Yesus Kristus adalah Imam Besar, dan Dia melaksanakan tugas sebagai Imam di surga.

Kristus telah melintasi langit (lih. 4:14) dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa di tempat tertinggi (1:3). Namun, meskipun Dia ikut serta dalam pemerintahan dan kemuliaan Bapa, Dia tetap tidak lupa jabatan Imam Besar yang kekal (7:8, 24-25). Tempat para imam melayani adalah tempat kudus di dalam Kemah Suci, Kristus juga memiliki Kemah Suci di surga. Kemah Suci ini dibangun oleh Tuhan sendiri, bukan tangan manusia, di sini Kristus melayani ibadah (ayat 2). Para imam harus memberkan persembahan kepada Allah, dan Kristus juga mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan di surga (3, sebagaimana disebutkan dalam 5:1). Namun, bagian ini belum membicarakan tentang persembahan apa yang Kristus berikan (sebenarnya, Kristus mempersembahkan diri-Nya secara singkat disebutkan dalam 7:27). Ini adalah topik pasal 10.

Penulis menunjukkan bahwa karena sudah ada imam dan imam besar dari garis keturunan Harun di dunia, maka Kristus tidak perlu melayani sebagai imam besar di dunia, dan juga tidak sesuai hukum Taurat bagi Dia melakukan hal itu (ayat 4).

Di bumi ada imam berdasarkan garis keturunan Harun yang bertugas di Kemah Suci/Bait Suci; di surga ada Imam Besar Yesus Kristus berdasarkan garis ketentuan Melkisedek yang bertugas di Kemah Suci surga. Apakah kedua imamat paralel ini saling berkaitan? Penulis Surat Ibrani berkata: Ya, Kemah Suci di bumi dibangun dengan meniru Kemah Suci di surga, dan pelayanan imam di bumi juga menyalin pelayanan imam di surga  (gambaran dan bayangan segala sesuatu yang ada di surga, ayat 5).

Bagaimana kita mengetahui hubungan antara gambaran dan bayangan segala sesuatu yang ada di surga ini? Penulis menunjukkan bahwa ketika Musa membangun Kemah Suci, Tuhan memberi tahu dia format yang tetap. Bahkan bahan, bentuk, dan ukurannya diatur dengan ketat. Tuhan menyebutnya pola yang telah ditunjukkan di atas gunung (Keluaran 25:40). Apakah itu? Tentu saja, ini adalah versi asli di surga, Kemah Suci di surga.

Pertanyaannya di sini adalah: ketika Musa membangun Kemah Suci, apakah Kemah Suci sudah ada di surga, dan apakah Anak  sudah mengambil peran sebagai Imam Besar? Pada saat itu, Anak belum datang ke bumi sebagai manusia, Dia juga belum menderita, mati, dibangkitkan, dan naik kembali ke surga dalam kemuliaan! Menurut alur pemikiran yang konsisten dalam Surat Ibrani, Yesus Kristus memulai penebusan-Nya pada hari-hari terakhir yang Ia mulai (1:2; lihat juga 9:26, yang merupakan periode antara kedatangan Yesus yang pertama dan kedatangan-Nya yang kedua kali ke dunia) baru memulai  penebusan dan pelayanan imam-Nya. Tentu saja kita percaya bahwa surga berada dalam keadaan kekal dan tidak dibatasi oleh urutan waktu dunia manusia, sehingga persinggungan ruang dan waktu tidak menimbulkan masalah; selain itu, Tuhan juga dapat membiarkan Musa melihat ke depan hal-hal yang belum terjadi. Namun, hal ini di luar pemahaman kami. Kita hanya perlu percaya bahwa Kemah Suci yang dibangun oleh Musa adalah tiruannya, dan imamat manusia hanyalah tiruan dari pelayanan imamat Kristus.

Gagasan penulis bahwa yang di surga adalah wujud yang asli dan dunia manusia adalah tiruannya sejalan dengan gagasan Platonisme yang populer di dunia saat itu. Dunia gagasan (world of ideas) di surga adalah versi aslinya, dan dunia fisik (physical world) di bumi hanyalah cetakan.

Versi aslinya sudah pasti paling lengkap, dan salinannya sedikit banyak mempunyai kekurangan, maka imamat Kristus di surga adalah pelayanan yang lebih indah. Sekarang Ia telah mendapat pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji-janji yang lebih mulia pula (ayat 6). Di sini penulis mengatakan sekaligus dalam satu pernyataan: pelayanan yang lebih baik, perjanjian yang lebih baik, janji yang lebih baik. Kristus sempurna jauh melampaui di atas semua imam Lewi di bumi.

Kristus adalah perantara perjanjian yang lebih baik, sebuah konsep yang telah disebutkan dalam 7:22. Perjanjian Baru adalah perjanjian yang lebih baik, jauh lebih unggul daripada Perjanjian Lama. Yesus Kristus adalah perantara atau penjamin perjanjian baru antara Allah dan manusia ini, dan Dialah yang membuat perjanjian baru itu efektif.

Menariknya, untuk membuktikan bahwa Kristus jauh lebih unggul, penulis juga menyimpulkan dari kronologi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, ini berbeda dengan argumen yang dibuatnya berdasarkan asli dan salinan. Dalam argumentasi antara asli dan salinan, yang asli ada lebih dahulu dan salinannya ada kemudian, jadi yang asli ada lebih dahulu adalah yang paling sempurna. Dalam argumentasi urutan kronologis antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang ada terlebih dahulu adalah Perjanjian Lama kemudian terbit Perjanjian Baru, sehingga Perjanjian Baru yang belakangan lebih sempurna.

Penulis Surat Ibrani berkata: Jika perjanjian yang lama sudah merupakan perjanjian yang sempurna, dan jika bangsa Israel telah menaati perjanjian pertama dengan sempurna, Allah tidak perlu membuat perjanjian baru dengan mereka. Jika perjanjian yang pertama tidak bercacat, maka tidak perlu diadakan perjanjian yang kedua.(ayat 7) Karena Allah berkata-kata tentang perjanjian baru;
Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Apa yang telah menjadi tua dan usang, akan segera lenyap(ayat 13), yang lama tidak mundur maka yang baru tidak akan datang; karena perjanjian yang baru telah ditetapkan, itu membuktikan bahwa perjanjian yang lama tidak dapat ditaati dengan sempurna, dan itu membuktikan bahwa perjanjian yang lama perlu dihentikan.

Penulis mengutip Yeremia 31:31-34 untuk menjelaskan tekad Tuhan untuk membuat perjanjian baru dengan manusia. Bagian Perjanjian Lama ini juga merupakan sesuatu yang suka dikutip oleh penulis Surat Ibrani, dan dia mengutipnya lagi dalam 10:15-17. Kutipan tersebut menunjukkan bahwa justru karena bangsa Israel tidak mampu menaati Perjanjian Lama maka Allah memutuskan untuk membuat perjanjian baru dengan mereka. Perjanjian Baru berbeda dari Perjanjian Lama karena perjanjian tersebut tidak diukir pada loh batu, melainkan pada loh hati. Tuhan ingin memiliki hubungan dekat dengan manusia dan juga mengampuni dosa-dosa mereka.

Refleksi Iman:
Hari ini kita menerima pelayanan yang paling sempurna dari Kristus yang paling sempurna, dan pelayanan-Nya memberi kita pengharapan yang paling sempurna. Apakah Anda memiliki pengakuan iman atas yang paling sempurna ini?


Renungan pemahaman Surat Ibrani

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Ibrani ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Februari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ibrani 7:11-28

「Menurut aturan Melkisedek」

Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ibrani 7:11-28 [TB2])
11 Karena itu, andaikata melalui imamat Lewi telah tercapai kesempurnaan – sebab karena imamat itu umat Israel telah menerima Taurat – mengapa masih perlu ditetapkan seorang yang lain menjadi imam besar menurut aturan Melkisedek dan yang tentang dia tidak dikatakan menurut aturan Harun? 12 Sebab, jikalau imamat berubah, dengan sendirinya akan berubah pula hukum Taurat itu. 13 Sebab Ia, yang dimaksudkan di sini, termasuk suku lain; dari suku ini tidak ada seorang pun yang pernah melayani di mezbah. 14 Sebab, sudah jelas bahwa Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan apa pun tentang imam-imam. 15 Hal itu jauh lebih nyata lagi, jikalau ditetapkan seorang imam lain seperti Melkisedek, 16 yang menjadi imam bukan berdasarkan peraturan-peraturan manusiawi, tetapi berdasarkan kuasa hidup yang tidak dapat binasa. 17 Sebab, tentang Dia diberi kesaksian,
……Engkaulah Imam untuk selama-lamanya,
…………menurut aturan Melkisedek.
18 Di satu sisi suatu hukum yang dikeluarkan dahulu dibatalkan, karena hukum itu tidak mempunyai kekuatan dan karena itu tidak berguna 19 – sebab, hukum Taurat sama sekali tidak membawa kesempurnaan – di sisi lain, diperkenalkan suatu pengharapan yang lebih baik, yang mendekatkan kita kepada Allah. 20 Hal ini tidak terjadi tanpa sumpah. Memang yang lain telah menjadi imam tanpa sumpah, 21 tetapi Yang Satu ini dengan sumpah, karena Dia yang berfirman kepada-Nya,
……Tuhan telah bersumpah dan Ia tidak akan menyesal:
…………Engkaulah Imam untuk selama-lamanya
22 Itulah sebabnya Yesus telah menjadi jaminan dari suatu perjanjian yang lebih baik. 23 Banyak jumlah mereka yang telah menjadi imam, karena akibat maut mereka dicegah untuk tetap menjabat imam. 24 Namun, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain. 25 Karena itu, Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab, Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.
26 Sebab, Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tidak cemar, terpisah dari orang-orang berdosa, dan lebih tinggi daripada tingkat-tingkat surga. 27 Ia tidak seperti imam-imam besar itu yang setiap hari harus mempersembahkan kurban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa-dosa umat. Sebab, hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri. 28 Sebab, hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi imam besar, tetapi sumpah yang diucapkan sesudah hukum Taurat, menetapkan Anak yang telah dijadikan sempurna sampai selama-lamanya.

Penulis melanjutkan pembahasan tentang Melkisedek sebagai imam. Jika dua kesimpulan pertama didasarkan pada dua bagian Perjanjian Lama, pembahasan berikutnya terutama akan menjadi argumentasi dari keheningan (argument from silence).

Melkisedek, sebagai seorang imam, bukanlah keturunan dari garis keturunan Lewi Harun. Allah menunjuk dia sebagai imam di luar garis keturunan Harun, yang menunjukkan bahwa para imam Lewi dan bahwa para imam Lewi tidaklah sempurna, tidak mampu memenuhi tuntutan Allah. Karena itu, andaikata melalui imamat Lewi telah tercapai kesempurnaan – sebab karena imamat itu umat Israel telah menerima Taurat – mengapa masih perlu ditetapkan seorang yang lain menjadi imam besar menurut aturan Melkisedek dan yang tentang dia tidak dikatakan menurut aturan Harun?(ayat 11)

Imamat Lewi tidak sempurna, jadi Allah menetapkan jabatan imam tambahan, maka hukum Taurat yang diumumkan sebelumnya harus diubah. Karena Melkisedek bukan orang Lewi, begitu pula Yesus. Menurut Hukum Musa, tidak ada orang Yahudi yang boleh menjadi imam. Yesus tidak menerima imamat melalui garis silsilah (bukan berdasarkan peraturan-peraturan manusiawi, ayat 16) tetapi melalui pemilihan khusus dan kedaulatan wewenang dari Allah (tetapi berdasarkan kuasa hidup yang tidak dapat binasa). Ini adalah sistem Melkisedek, bukan sistem Harun.

Lebih lanjut, keputusan Allah untuk mengubah hukum Taurat juga membuktikan bahwa hukum Allah yang asli tidak lengkap, suatu hukum yang dikeluarkan dahulu dibatalkan, karena hukum itu tidak mempunyai kekuatan dan karena itu tidak berguna. Sebab, hukum Taurat sama sekali tidak membawa kesempurnaan (ayat 18) Pengaturan hukum yang lama tidak memungkinkan manusia untuk mendekat kepada Allah, tetapi melalui Kristus memberikan pengharapan yang lebih baik kepada manusia.

Penulis belum selesai dengan perbedaan antara imamat Lewi dan imamat Kristus. Ia menunjukkan bahwa Mazmur 110:4 sepenuhnya menunjuk pada Kristus, yang menjadi dasar penunjukan Kristus sebagai imam oleh Allah. TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek.』」 Berdasarkan ayat tersebut, TUHAN membuat sumpah yang khidmat sebelum menyatakan bahwa Kristus adalah seorang imam; sumpah adalah taraf tertinggi dari penetapan TUHAN atas kehendak-Nya, menunjukkan bahwa ketetapan yang dikeluarkan adalah yang maha suci dan khusyuk, serta sah untuk selama-lamanya. Ketika Allah mengangkat Harun dan keturunannya sebagai imam, Ia hanya memerintahkan dan tidak menggunakan spesifikasi sumpah (ayat 21, lihat Keluaran 29:36). Sumpah adalah perjanjian yang diadakan oleh Allah, dan itu adalah perjanjian yang lebih indah. Yesus telah menjadi jaminan dari suatu perjanjian yang lebih baik(ayat 22).

Fungsi imam adalah sebagai mediator antara Allah dan manusia. Mediator adalah perantara sekaligus penjamin. Kristus menyampaikan kepada kita kehendak Allah dan menjamin bahwa janji-janji-Nya akan digenapi.

Mengenai Kristus sebagai Imam Besar yang paling sempurna, penulis menambahkan dua poin terakhir:

Pertama, sifat kekekalan imamat Kristus. Mazmur 110:4 menekankan kekekalan jabatan Kristus, Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek

Di ayat 8 penulis Surat Ibrani menunjukkan bahwa semua imam akan mati. Satu generasi imam meninggal dan generasi berikutnya bangkit. Oleh karena itu, tidak ada imam manusia yang dapat menjadi perantara bagi manusia tanpa gangguan. Hanya Melkisedek yang tidak memiliki awal kehidupan dan akhir kehidupan dan telah menjadi imam selama-lamanya. Imam yang hidup seperti itu dapat menjadi perantara bagi kita tanpa gangguan apa pun. Banyak jumlah mereka yang telah menjadi imam, karena akibat maut mereka dicegah untuk tetap menjabat imam. Namun, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain. Karena itu, Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab, Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka (ayat 23-25).

Kedua, kehidupan Kristus sempurna, tidak seperti semua imam Lewi yang berdosa.

Penulis telah menekankan sebelumnya bahwa imam haruslah manusia. Kristus adalah imam sebagai Anak Manusia. Ia sama dengan saudara dalam segala hal dan juga telah mengalami berbagai pencobaan. Namun, Yesus tidak berbuat dosa. Inilah perbedaan antara Dia dan orang lain. Penulis menggambarkan Yesus sebagai Imam Besar, yang saleh, tanpa salah, tidak cemar, terpisah dari orang-orang berdosa, dan lebih tinggi daripada tingkat-tingkat surga (ayat 26). Karena Yesus tidak berdosa, Ia tidak perlu melakukan penebusan atas dosa-Nya sendiri. Ketika Ia menjabat sebagai Imam, Ia dapat fokus pada penebusan dan pengorbanan atas dosa-dosa orang lain.

Ia tidak seperti imam-imam besar itu yang setiap hari harus mempersembahkan kurban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa-dosa umat. Sebab, hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri(ayat 27) ayat ini sangat penting. Dalam teks berikut, penulis akan menjelaskan secara rinci bagaimana Yesus mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban yang paling sempurna untuk selamanya.

Bagaimanapun juga, para imam Lewi dari garis keturunan Harun adalah manusia yang lemah; Kristus, sebagai Anak Allah, jauh lebih sempurna.

Refleksi Iman:
Mari kita fokus pada kalimat di ayat 25 ini: Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab, Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. Yesus selalu menjadi perantara bagi kita, dan Yesus dapat menyelamatkan kita sepenuhnya. Terima kasih Yesus.


Renungan pemahaman Surat Ibrani

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Ibrani ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Februari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ibrani 7:1-10

「Tentang keagungan Melkisedek」

Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ibrani 7:1-10 [TB2])
1 Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Maha Tinggi; ia pergi menyongsong dan memberkati Abraham ketika Abraham kembali dari peperangan mengalahkan raja-raja. 2 Kepada dia pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Nama Melkisedek pertama-tama berarti raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera. 3 Ia tidak berbapak, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya.
4 Perhatikanlah betapa agungnya orang itu, yang kepadanya Abraham, bapak leluhur kita, memberikan sepersepuluh dari segala rampasan yang paling baik. 5 Menurut hukum Taurat, keturunan Lewi yang menerima jabatan imamlah yang mendapat tugas untuk memungut persepuluhan dari umat Israel, yaitu dari saudara-saudara mereka, sekalipun mereka ini juga keturunan Abraham. 6 Tetapi, Melkisedek, yang bukan keturunan mereka, memungut persepuluhan dari Abraham dan memberkati dia yang justru memiliki janji-janji itu. 7 Memang tidak dapat disangkal bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi. 8 Di satu pihak, manusia-manusia fanalah yang menerima persepuluhan, sedangkan di pihak lain, yang menerima persepuluhan adalah Dia, yang tentang diri-Nya diberi kesaksian bahwa Dia hidup. 9 Malah dapatlah dikatakan bahwa dengan perantaraan Abraham telah dipungut juga persepuluhan dari Lewi yang berhak menerima persepuluhan, 10 sebab ia masih berada dalam tubuh bapak leluhurnya, ketika Melkisedek menyongsong bapak leluhurnya itu.

Setelah banyak menyebutkan Melkisedek, akhirnya penulis menceritakan kisah Melkisedek.

Dalam kitab Kejadian Melkisedek muncul satu kali dalam kisah Abraham, dengan hanya tiga ayat: Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram, katanya: Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu』」 (Kejadian 14:18-20) Kemudian, Mazmur 110:4 yang sangat disukai penulis Ibrani: TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: 『Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek.

Penulis menggunakan dua bagian Alkitab tentang Melkisedek ini untuk membuat penafsiran yang sangat terperinci. Tentu saja kita percaya ini adalah hasil bimbingan Roh Kudus.

Pertama, kita mengetahui dari dua bagian dalam Perjanjian Lama bahwa Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Maha Tinggi. Ia adalah raja, juga adalah imam, suku ini pastinya diperintah oleh teokrasi. Salem artinya perdamaian, jadi raja Salem adalah raja perdamaian, dan Salem mungkin berada di Yerusalem.

Perjanjian Lama tidak menyebutkan latar belakang Melkisedek atau informasi lainnya, penulis mengatkan: Ia tidak berbapak, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya(ayat 3)

Para ahli mempunyai dua penjelasan mengenai ungkapan dijadikan sama dengan Anak Allah, pertama, Melkisedek adalah inkarnasi Kristus. Sebelum menjadi manusia, Kristus menampakkan diri kepada Abraham dalam wujud Melkisedek. Kedua, Melkisedek adalah tipologi Kristus. Dia seperti Kristus, tetapi bukan Kristus. Masalah dengan penjelasan pertama adalah Anak Allah berinkarnasi dua kali (kita tidak akan berpikir bahwa Melkisedek di hadapan Abraham hanyalah sebuah penampakan, bukan?). Masalah kedua dalam penjelasan ini adalah menjelaskan bagaimana ada yang lain selain Tuhan yang tidak mempunyai awal dan akhir, serta ada dengan sendirinya dan kekal.

Penulis Surat Ibrani lebih memilih penjelasan kedua karena ia menolak mempercayai bahwa inkarnasi terjadi dua kali. Adapun penjelasan dalam 7:3, saya berpikir bahwa untuk menggunakan Melkisedek sebagai tipologi Kristus, penulis Ibrani secara sederhana memasukkan banyak atribut yang awalnya hanya milik Kristus kepada Melkisedek, dengan menjadikan Melkisedek sebagai tipologi Kristus , ia bukan lagi menjadi orang nyata dalam sejarah.

Lebih jauh lagi, atribut yang dikenakan pada Melkisedek tidak berbapak, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, hanya untuk status imamatnya. Sebab sebagai seorang imam, ia tidak mempunyai orang tua dan silsilah yang harus dimiliki oleh para imam Bani Israel, dan ia juga tidak mempunyai pendahulu maupun penerus (ia tidak mewarisi jubah dari siapapun, dan tidak pula ia mewariskannya kepada siapapun). Hanya dalam hal ini kita dapat mengatakan bahwa dia serupa dengan Kristus. Sebagai Imam Besar, Kristus tidak memiliki orang tua dan silsilah yang diperlukan. Ayah-Nya bukanlah seorang imam, dan Ia bukan seorang Lewi. Namun, sebagai Anak Manusia, bagaimana mungkin Yesus tidak memiliki ayah, ibu, dan silsilah? Injil dengan jelas mencatat silsilah Yesus.

Kedua, kita tahu dari catatan Perjanjian Lama bahwa Melkisedek mengambil inisiatif untuk memberkati Abraham, dan Abraham memberinya sepersepuluh dari hasil rampasan. Penulis Surat Ibrani berseru memuji: Perhatikanlah betapa agungnya orang itu, yang kepadanya Abraham, bapak leluhur kita, memberikan sepersepuluh dari segala rampasan yang paling baik(ayat 4)

Penulis beralasan berdasarkan informasi di atas bahwa hukum Perjanjian Lama menetapkan bahwa hanya keturunan Lewi yang dapat memungut persepuluhan dari orang-orang; Tetapi, Melkisedek, yang bukan keturunan mereka, memungut persepuluhan dari Abraham dan memberkati dia yang justru memiliki janji-janji itu (ayat 6) Hal ini menunjukkan bahwa Melkisedek tidak bergantung pada tradisi imamat Lewi dan mempunyai status transenden.

Selain itu, Abraham adalah nenek moyang Israel, dan suku Lewi juga berasal darinya. Ketika Abraham mempersembahkan persepuluhan kepada Melkisedek, suku Lewi melekatkan pada Abraham (kata bahasa aslinya pinggang) dan ikut serta dalam pertempuran tersebut. dapatlah dikatakan bahwa dengan perantaraan Abraham telah dipungut juga persepuluhan dari Lewi yang berhak menerima persepuluhan, sebab ia masih berada dalam tubuh bapak leluhurnya, ketika Melkisedek menyongsong bapak leluhurnya itu (ayat 9-10) Dengan kata lain, Abraham memberikan persembahan kepada Melkisedek atas nama seluruh bangsa Israel, termasuk suku Lewi. Dengan demikian, jelaslah bahwa status rohani Melkisedek lebih tinggi daripada seluruh suku Lewi.

Juga, tidak dapat disangkal bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi (ayat 7) Karena Melkisedek memberkati Abraham, itu berarti dia memiliki status yang lebih besar dari Abraham, dan pada saat yang sama, dia memiliki status yang lebih besar dari seluruh suku Lewi. Karena tidak peduli berapa banyak orang Lewi yang dikumpulkan, mereka tidak mungkin lebih besar dari nenek moyang mereka, Abraham!

Menarik kesimpulan hanya dari dua bagian dalam Perjanjian Lama, penulis menunjukkan banyak keunggulan Melkisedek dan menyimpulkan bahwa Melkisedek lebih besar dari semua imam dari garis keturunan Harun.

Tujuan menunjukkan kebesaran Melkisedek adalah untuk menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah yang paling Maha Agung.

Refleksi Iman:
Yesus Kristus adalah Imam Besar yang Maha Agung. Mari kita renungkan apa maksudnya


Renungan pemahaman Surat Ibrani

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Ibrani ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Februari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ibrani 6:4-20

「Peringatan ketiga: bahaya stagnasi, kemurtadan」

Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ibrani 6:4-20 [TB2])
4 Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia surgawi dan pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, 5 dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan kuasa-kuasa dunia yang akan datang, 6 namun murtad lagi, tidak mungkin dibarui sekali lagi supaya bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di depan umum. 7 Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya dan menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Allah; 8 tetapi jikalau menghasilkan semak duri dan rumput duri, tanah itu tidak berguna dan sudah dekat pada kutuk yang berakhir dengan pembakaran.
9 Tetapi, Saudara-saudara yang terkasih, sekalipun kami berkata demikian, mengenai kamu kami yakin bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. 10 Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasih yang kamu tunjukkan demi nama-Nya dengan melayani orang-orang kudus, seperti yang terus kamu lakukan. 11 Tetapi, kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk mewujudkan kepastian pengharapanmu sampai akhir, 12 agar kamu jangan menjadi lamban, melainkan meneladani mereka yang oleh iman dan kesabaran mewarisi janji-janji itu.
13 Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi daripada-Nya, 14 kata-Nya, Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak. 15 Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. 16 Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala perbantahan. 17 Karena itu, ketika Allah bermaksud menunjukkan dengan lebih meyakinkan rencana-Nya yang tidak berubah-ubah kepada para ahli waris janji itu, Ia menjamin dengan sumpah, 18 supaya melalui dua kenyataan yang tidak berubah-ubah – dalam hal ini Allah tidak mungkin berdusta – kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk berpegang pada pengharapan yang terletak di depan kita. 19 Pengharapan itu sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, 20 di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, dengan menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya, menurut aturan Melkisedek.

Ini adalah salah satu bagian yang paling kontroversial di seluruh Surat Ibrani, mengenai jaminan keselamatan umat Kristen.

Ini masih merupakan bagian dari peringatan ketiga: penulis pertama-tama memperingatkan kesalahan orang-orang percaya atas stagnasi iman mereka dan meminta mereka untuk tidak berkutat hanya di asas-asas dasar saja; dan kemudian dengan tegas menunjukkan apa yang akan terjadi bahwa mereka bukan sekadar stagnan dan mengalami kemunduran, bahkan juga jatuh ke dalam dosa sampai pada titik melepaskan iman mereka, akan menghadapi konsekuensi yang sangat berat.

Penulis menggunakan lima anak kalimat untuk menggambarkan orang-orang durhaka yang telah meninggalkan imannya: mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia surgawi dan pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan kuasa-kuasa dunia yang akan datang, … (ayat 4-6). Yang dimaksud dengan diterangi hatinya adalah orang yang diterangi oleh Tuhan sebagai Terang dunia dan mengusir kegelapan dari dalam hatinya. Hal ini biasanya mengacu pada permulaan iman. Mengecap karunia surgawi berarti mengalami kasih anugerah Allah, khususnya keselamatan. Mendapat bagian dalam Roh Kudus berarti menerima Roh Kudus dan dipenuhi dengan-Nya. mengecap firman yang baik dari Allah dan kuasa-kuasa dunia yang akan datang diucapkan secara bersamaan, yang pertama mengacu pada menerima firman Tuhan, dan yang kedua mengacu pada mengalami kuasa Tuhan, yang mencakup mukzizat, tanda-tanda, dan berbagai kuasa Allah, tidak ada satupun yang termasuk kuasa dunia ini.

Tidak ada keraguan bahwa siapa pun yang pernah mengalami semua yang dijelaskan dalam lima anak kalimat ini adalah orang yang beriman sejati.

Namun, penulis Surat Ibrani mengubah nada bicaranya: namun murtad lagi, tidak mungkin dibarui sekali lagi supaya bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di depan umum(ayat 6). Perbuatan murtad bukan mengacu pada dosa biasa, itu adalah dosa yang sangat berat, murtad dari Allah yang hidup (3:12); orang percaya sesekali berbuat dosa pelanggaran tidak akan sampai menyalibkan lagi Anak Allah dan menghina-Nya di depan umum, dosa murtad memiliki konsekuensi yang sangat berat.

Tidak mungkin dibarui sekali lagi supaya bertobat, penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa tidak ada kemungkinan bagi orang murtad untuk bertobat. Bukan berarti orang murtad itu sendiri tidak bisa bertobat, tapi Allah tidak mengizinkan mereka untuk kembali lagi. Mengapa Allah tidak lagi memberikan kesempatan? Karena kemurtadan mereka merupakan penghinaan terbesar terhadap Kristus, mereka sebenarnya menginjak-injak keselamatan yang sangat berharga ini sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; dan mereka juga mengabaikan dampak penebusan dari salib, seolah-olah Kristus harus disalibkan lagi bagi diri mereka.

Penulis mencontohkan, ibarat ladang yang digarap dan diairi dengan cermat oleh para petani, jika tumbuh subur sesuai harapan, dianggap berharga petani, tetapi jika yang tumbuh adalah semak duri, maka konsekuensinya hanya satu, petani yang kecewa akan membakarnya dengan api (ayat 7-8). Demikian pula api neraka abadi menanti orang-orang murtad.

Ajaran ini telah menimbulkan kegelisahan pada banyak orang, yang takut jaminan keselamatan mereka akan terguncang. Namun, selama kita menegaskan bahwa Alkitab adalah Alkitab, dan bahwa otoritas Alkitab melampaui semua diskusi teologis, kita akan menerima apa yang dikatakan Alkitab, dan berusaha agar tidak dengan sengaja memutarbalikkan ajaran Alkitab untuk mengakomodasi tujuan tertentu. Maka kita harus mengakui bahwa serangkaian ajaran dalam seluruh Surat Ibrani ini sangat jelas adanya. Tidak ada keraguan mengenai sikap Allah yang tidak toleran terhadap dosa, dan Allah memberikan batasan kesabaran terhadap ketidaktaatan manusia; dan yang paling penting, Allah tidak dapat dipermainkan, dan pelanggaran terhadap Allah adalah dosa yang paling serius. Penulis telah mengatakan sebelumnya: bagaimana kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu? (2:3)

Melihat keseluruhan Alkitab, kita dapat melihat bahwa Allah tidak akan memberikan toleransi tanpa syarat dan tidak terbatas terhadap ketidaktaatan manusia; di masa lalu, seluruh generasi bangsa Israel (mungkin ratusan ribu) mati di padang gurun. Apakah pelajaran sejarah yang berdarah ini masih tidak cukup untuk memperingatkan kita? Hukum Taurat Perjanjian Lama berkali-kali menyatakan bahwa siapa pun yang menghujat nama Yahweh akan dihukum mati; dalam Perjanjian Baru, Yesus juga berkata: apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal (Markus 3:29) Tidak peduli bagaimana kita menafsirkan arti menghujat Roh Kudus, harus menghadapi konsekuensi selama-lamanya tidak mendapat ampun.

Setelah memberikan peringatan yang begitu serius, penulis Surat Ibrani memberikan penghiburan kepada orang-orang percaya, dengan menunjukkan bahwa mereka belum terjerumus ke dalam situasi yang mengerikan ini. Mereka masih berjalan di jalan iman dan hampir menyelesaikan seluruh perjalanan, mewujudkan kepastian pengharapanmu sampai akhir.

Penulis menegaskan kembali bahwa Tuhan adalah Allah yang benar. Di satu sisi, Dia tidak akan pernah membebaskan orang yang bersalah (Keluaran 34:7), tetapi di sisi lain, Dia tidak akan mengabaikan kerja keras yang telah dilakukan orang-orang beriman bagi-Nya. Oleh karena itu, kita hanya perlu melakukan hal yang benar hari ini tanpa khawatir akan perubahan apa pun di masa depan. Walaupun masa depan tidak dalam kendali kita, tetapi pasti ada di tangan Tuhan yang Maha Benar. Tuhan telah berjanji, dan semua janji yang Dia buat akan digenapi tanpa keraguan. Saat kita bekerja keras hari ini, harapan kita untuk hari esok tidak akan goyah.

Hanya dengan iman dan kesabaran, janji-janji yang telah kita terima dapat digenapi. Kisah Abraham. menjelaskan sepenuhnya kebenaran ini.

Refleksi Iman:
Setelah membaca ayat-ayat Alkitab ini, apakah Anda memiliki pemahaman lebih dalam tentang Tuhan itu Maha Besar dan patut dihormati?


Renungan pemahaman Surat Ibrani

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Ibrani ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Februari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.