Ibrani 10:1-10

「Sesungguhnya Kristuslah kehendak Allah」

Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ibrani 10:1-10 [TB2])
1 Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari hal-hal baik yang akan datang, dan bukan wujud dari hal-hal tersebut. Karena itu, dengan kurban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang beribadah. 2 Sebab, jika hal itu mungkin, bukankah orang tidak mempersembahkan kurban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya? 3 Tetapi, justru dengan kurban-kurban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. 4 Sebab, tidak mungkin darah lembu jantan atau darah kambing jantan menghapuskan dosa.
5 Karena itu, ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata,
……Kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki,
……tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku.
……6 Kepada kurban bakaran dan kurban penghapus dosa
…………Engkau tidak berkenan.
……7 Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang;
…………seperti tertulis dalam gulungan kitab tentang Aku,
……untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah.
8 Di atas, Ia berkata: Kurban dan persembahan, kurban bakaran dan kurban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya, meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat. 9 Kemudian kata-Nya, Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu. Yang pertama Ia hapuskan untuk menegakkan yang kedua. 10 Karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.

Penulis kemudian menggunakan gambar dan entitas untuk menggambarkan hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa Kemah Suci di surga adalah versi asli dari yang ada di bumi yang merupakan adalah salinan dari yang di surga, tetapi dari sudut pandang urutan waktu manusia, salinan tersebut sudah ada sebelum aslinya, secara urutan Perjanjian Lama ada terlebih dahulu, kemudian Perjanjian Baru, tetapi Perjanjian Baru adalah entitas nyata dari Perjanjian Lama, dan Perjanjian Lama adalah bayangan dari Perjanjian Baru. Bayangan tidaklah palsu, melainkan bersifat sementara, sebagai pertanda atau prafigur (tipologi/unsur-unsur yang digenapi di dalam kedatangan Kristus).

Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari hal-hal baik yang akan datang, dan bukan wujud dari hal-hal tersebut (ayat 1). Hukum Taurat tentang kurban penebusan dosa hanya bisa menunjuk pada hal-hal baik di masa depan, yaitu korban penghapus dosa Yesus Kristus yang satu kali untuk selamanya bagi umat manusia. Persembahan kurban biasa di dunia tidak bisa menjadikan manusia sempurna di hadapan Allah. Jika bisa, maka tidak perlu mengulangi persembahan kurban yang sama tanpa henti. Oleh karena itu, persembahan kurban manusia tidak dapat menyempurnakan mereka yang yang datang beribadah (ayat 1).

Kurban penghapus dosa manusia tidak dapat membebaskan manusia dari jerat dosa. Penulis menunjukkan bahwa manusia sendiri mengetahui hal ini. Bukan orang lain yang menuduh seseorang bersalah, tapi hati nuraninyalah yang bertanggung jawab atas kejahatan tersebut. Setiap tahun ketika melakukan persembahan kurban di Hari Raya Pendamaian, hati nurani manusia mengingatkan diri sendiri bahwa masih banyak dosa yang belum dibersihkan. Kesadaran akan dosa selalu ada dalam hati manusia, terutama dalam beribadah. Saat bertemu dengan Allah yang Mahakudus, paling mudah menemukan kenajisan diri sendiri.

Kesimpulan penulis adalah: Sebab, tidak mungkin darah lembu jantan atau darah kambing jantan menghapuskan dosa (ayat 4) Darah hewan kurban tidak dapat menghapus dosa, kurban tidak dapat menghapus dosa, dan hukum Taurat tidak dapat menghapus dosa.

Lalu timbul pertanyaan: jika hukum itu dikeluarkan oleh Allah, dan tindakan persembahan kurban serta ketentuan bahwa Menurut hukum Taurat, … tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (9:22) semuanya berasal dari Allah, lalu bagaimana mungkin Allah mengizinkan apa yang ditetapkan oleh-Nya bisa gagal fungsi? Apakah ini akibat rancangan dan kelalaian Allah yang buruk? Tentu saja tidak. Gagasan Penulis Surat Ibrani adalah bahwa sejak awal, tindakan kurban seperti korban bakaran dan korban penghapus dosa bukanlah kehendak ultimate (tertinggi dan akhir) dari Allah.

Bandingkan ayat 5-7 ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata, “Kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki, tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku. Kepada kurban bakaran dan kurban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; seperti tertulis dalam gulungan kitab tentang Aku, untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah” dengan Mazmur 40:6-8 yang menjadi sumber tulisannya, Engkau tidak berkenan kepada kurban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; kurban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata, Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.』」 Mazmur ini disebut Mazmur Daud, dan isi mazmur itu mungkin milik Daud. Karena Daud mempunyai hubungan prafigur/tipologi dengan Kristus, maka penulis menyimpulkan bahwa mazmur ini adalah perkataan Kristus di dunia. Perkataan Daud adalah perkataan Kristus, dan Mazmur 40 adalah pengakuan dari Kristus.

Ayat 7 dari Mazmur aslinya: Sungguh, aku datang sama dengan ketika Ia masuk ke dunia (ayat 5), ketika Kristus datang ke dunia. Ayat 6: Engkau telah membuka telingaku, menurut LXX Septuaginta diterjemahkan menjadi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku (ayat 5), yang mengacu pada inkarnasi Yesus melalui konsepsi Roh Kudus. Ayat 8 aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku. Penulis menafsirkan bahwa kehidupan dan pelayanan Kristus sejak mula sudah dicatat dalam Perjanjian Lama (kehendak-Mu, … Taurat-Musama dengan gulungan kitab) , sehingga diterjemahkan sebagai: Sungguh, Aku datang; seperti tertulis dalam gulungan kitab tentang Aku, untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah (ayat 7)

Pesan asli mazmur Daud adalah lebih baik menaati perintah Allah dari pada persembahan kurban. Menjalani hidup saleh dan menghidupi menjalankan iman lebih berkenan kepada Allah daripada persembahan kurban. Seperti yang Samuel katakan: Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan (1 Samuel 15:22) Contoh lainnya adalah Mikha Katakanlah, Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri? Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu? (Mikha 6:7-8) Oleh karena itu, Daud berkata: Manusia harus dibuka telinganya oleh Allah, dan menyimpan hukum Allah di dalam hatinya.

Penulis mengambil fokus pada kalimat Engkau tidak berkenan kepada kurban sembelihan dan korban sajian, … kurban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. (Mazmur 40:6), memperluasnya menjadi: Kurban dan persembahan, kurban bakaran dan kurban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya, meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat (ayat 8) Artinya, bukan berarti Allah lebih berkenan kepada ketaatan manusia menuruti perintah daripada kurban dan pemberian, tetapi Allah sama sekali tidak menyukai benda-benda dan pemberian-pemberian kurban, walaupun hal itu ditentukan-Nya dalam hukum Taurat.

Lebih jauh lagi, Allah bukan lebih menyukai ketaatan manusia menuruti hukum Taurat, Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku (Mazmur 40:8) Dia bahkan tidak menginginkan persembahan kurban dan hukum Taurat, Ia bukan menyukai semua itu. Lalu apa yang disukai Allah? Dia hanya mencintai segala sesuatu yang telah dilakukan Kristus. Di ayat 9 penulis sekali lagi mengutip Mazmur 40:8 Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku, tetapi ia menafsirkan kata-kata Daud sebagai perkataan Kristus Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu. Dengan demikian, bukan lagi tekad Daud untuk melakukan kehendak Allah, tetapi penegasan Kristus sendiri bahwa apa yang Dia lakukan adalah penggenapan kehendak Allah.

Persembahan kurban yang dilakukan manusia bukanlah kehendak akhir dan tertinggi dari Allah; hanya pengorbanan Kristus menebus dosa manusia itulah yang merupakan kehendak akhir dan tertinggi dari Allah. Oleh karena itu, melalui wasiat ini, Karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.

Refleksi Iman:
Penulis Surat Ibrani berulang kali menunjukkan bahwa Kristus adalah kehendak Allah, dan segala sesuatu yang Kristus lakukan adalah perwujudan Allah Tuhan. Ini adalah iman yang secara radikal berpusat pada Kristus. Apakah iman dan hidup Anda berpusat pada Kristus?


Renungan pemahaman Surat Ibrani

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Ibrani ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Februari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.