Ibrani 6:4-20

「Peringatan ketiga: bahaya stagnasi, kemurtadan」

Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ibrani 6:4-20 [TB2])
4 Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia surgawi dan pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, 5 dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan kuasa-kuasa dunia yang akan datang, 6 namun murtad lagi, tidak mungkin dibarui sekali lagi supaya bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di depan umum. 7 Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya dan menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Allah; 8 tetapi jikalau menghasilkan semak duri dan rumput duri, tanah itu tidak berguna dan sudah dekat pada kutuk yang berakhir dengan pembakaran.
9 Tetapi, Saudara-saudara yang terkasih, sekalipun kami berkata demikian, mengenai kamu kami yakin bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. 10 Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasih yang kamu tunjukkan demi nama-Nya dengan melayani orang-orang kudus, seperti yang terus kamu lakukan. 11 Tetapi, kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk mewujudkan kepastian pengharapanmu sampai akhir, 12 agar kamu jangan menjadi lamban, melainkan meneladani mereka yang oleh iman dan kesabaran mewarisi janji-janji itu.
13 Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi daripada-Nya, 14 kata-Nya, Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak. 15 Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. 16 Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala perbantahan. 17 Karena itu, ketika Allah bermaksud menunjukkan dengan lebih meyakinkan rencana-Nya yang tidak berubah-ubah kepada para ahli waris janji itu, Ia menjamin dengan sumpah, 18 supaya melalui dua kenyataan yang tidak berubah-ubah – dalam hal ini Allah tidak mungkin berdusta – kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk berpegang pada pengharapan yang terletak di depan kita. 19 Pengharapan itu sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, 20 di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, dengan menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya, menurut aturan Melkisedek.

Ini adalah salah satu bagian yang paling kontroversial di seluruh Surat Ibrani, mengenai jaminan keselamatan umat Kristen.

Ini masih merupakan bagian dari peringatan ketiga: penulis pertama-tama memperingatkan kesalahan orang-orang percaya atas stagnasi iman mereka dan meminta mereka untuk tidak berkutat hanya di asas-asas dasar saja; dan kemudian dengan tegas menunjukkan apa yang akan terjadi bahwa mereka bukan sekadar stagnan dan mengalami kemunduran, bahkan juga jatuh ke dalam dosa sampai pada titik melepaskan iman mereka, akan menghadapi konsekuensi yang sangat berat.

Penulis menggunakan lima anak kalimat untuk menggambarkan orang-orang durhaka yang telah meninggalkan imannya: mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia surgawi dan pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan kuasa-kuasa dunia yang akan datang, … (ayat 4-6). Yang dimaksud dengan diterangi hatinya adalah orang yang diterangi oleh Tuhan sebagai Terang dunia dan mengusir kegelapan dari dalam hatinya. Hal ini biasanya mengacu pada permulaan iman. Mengecap karunia surgawi berarti mengalami kasih anugerah Allah, khususnya keselamatan. Mendapat bagian dalam Roh Kudus berarti menerima Roh Kudus dan dipenuhi dengan-Nya. mengecap firman yang baik dari Allah dan kuasa-kuasa dunia yang akan datang diucapkan secara bersamaan, yang pertama mengacu pada menerima firman Tuhan, dan yang kedua mengacu pada mengalami kuasa Tuhan, yang mencakup mukzizat, tanda-tanda, dan berbagai kuasa Allah, tidak ada satupun yang termasuk kuasa dunia ini.

Tidak ada keraguan bahwa siapa pun yang pernah mengalami semua yang dijelaskan dalam lima anak kalimat ini adalah orang yang beriman sejati.

Namun, penulis Surat Ibrani mengubah nada bicaranya: namun murtad lagi, tidak mungkin dibarui sekali lagi supaya bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di depan umum(ayat 6). Perbuatan murtad bukan mengacu pada dosa biasa, itu adalah dosa yang sangat berat, murtad dari Allah yang hidup (3:12); orang percaya sesekali berbuat dosa pelanggaran tidak akan sampai menyalibkan lagi Anak Allah dan menghina-Nya di depan umum, dosa murtad memiliki konsekuensi yang sangat berat.

Tidak mungkin dibarui sekali lagi supaya bertobat, penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa tidak ada kemungkinan bagi orang murtad untuk bertobat. Bukan berarti orang murtad itu sendiri tidak bisa bertobat, tapi Allah tidak mengizinkan mereka untuk kembali lagi. Mengapa Allah tidak lagi memberikan kesempatan? Karena kemurtadan mereka merupakan penghinaan terbesar terhadap Kristus, mereka sebenarnya menginjak-injak keselamatan yang sangat berharga ini sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; dan mereka juga mengabaikan dampak penebusan dari salib, seolah-olah Kristus harus disalibkan lagi bagi diri mereka.

Penulis mencontohkan, ibarat ladang yang digarap dan diairi dengan cermat oleh para petani, jika tumbuh subur sesuai harapan, dianggap berharga petani, tetapi jika yang tumbuh adalah semak duri, maka konsekuensinya hanya satu, petani yang kecewa akan membakarnya dengan api (ayat 7-8). Demikian pula api neraka abadi menanti orang-orang murtad.

Ajaran ini telah menimbulkan kegelisahan pada banyak orang, yang takut jaminan keselamatan mereka akan terguncang. Namun, selama kita menegaskan bahwa Alkitab adalah Alkitab, dan bahwa otoritas Alkitab melampaui semua diskusi teologis, kita akan menerima apa yang dikatakan Alkitab, dan berusaha agar tidak dengan sengaja memutarbalikkan ajaran Alkitab untuk mengakomodasi tujuan tertentu. Maka kita harus mengakui bahwa serangkaian ajaran dalam seluruh Surat Ibrani ini sangat jelas adanya. Tidak ada keraguan mengenai sikap Allah yang tidak toleran terhadap dosa, dan Allah memberikan batasan kesabaran terhadap ketidaktaatan manusia; dan yang paling penting, Allah tidak dapat dipermainkan, dan pelanggaran terhadap Allah adalah dosa yang paling serius. Penulis telah mengatakan sebelumnya: bagaimana kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu? (2:3)

Melihat keseluruhan Alkitab, kita dapat melihat bahwa Allah tidak akan memberikan toleransi tanpa syarat dan tidak terbatas terhadap ketidaktaatan manusia; di masa lalu, seluruh generasi bangsa Israel (mungkin ratusan ribu) mati di padang gurun. Apakah pelajaran sejarah yang berdarah ini masih tidak cukup untuk memperingatkan kita? Hukum Taurat Perjanjian Lama berkali-kali menyatakan bahwa siapa pun yang menghujat nama Yahweh akan dihukum mati; dalam Perjanjian Baru, Yesus juga berkata: apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal (Markus 3:29) Tidak peduli bagaimana kita menafsirkan arti menghujat Roh Kudus, harus menghadapi konsekuensi selama-lamanya tidak mendapat ampun.

Setelah memberikan peringatan yang begitu serius, penulis Surat Ibrani memberikan penghiburan kepada orang-orang percaya, dengan menunjukkan bahwa mereka belum terjerumus ke dalam situasi yang mengerikan ini. Mereka masih berjalan di jalan iman dan hampir menyelesaikan seluruh perjalanan, mewujudkan kepastian pengharapanmu sampai akhir.

Penulis menegaskan kembali bahwa Tuhan adalah Allah yang benar. Di satu sisi, Dia tidak akan pernah membebaskan orang yang bersalah (Keluaran 34:7), tetapi di sisi lain, Dia tidak akan mengabaikan kerja keras yang telah dilakukan orang-orang beriman bagi-Nya. Oleh karena itu, kita hanya perlu melakukan hal yang benar hari ini tanpa khawatir akan perubahan apa pun di masa depan. Walaupun masa depan tidak dalam kendali kita, tetapi pasti ada di tangan Tuhan yang Maha Benar. Tuhan telah berjanji, dan semua janji yang Dia buat akan digenapi tanpa keraguan. Saat kita bekerja keras hari ini, harapan kita untuk hari esok tidak akan goyah.

Hanya dengan iman dan kesabaran, janji-janji yang telah kita terima dapat digenapi. Kisah Abraham. menjelaskan sepenuhnya kebenaran ini.

Refleksi Iman:
Setelah membaca ayat-ayat Alkitab ini, apakah Anda memiliki pemahaman lebih dalam tentang Tuhan itu Maha Besar dan patut dihormati?


Renungan pemahaman Surat Ibrani

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Ibrani ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Februari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.