Tag Archives: Sanherib

Mikha 1:6-16

「Bencana Sudah Datang di Gerbang Kota」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Mikha 1:6-16 [ITB])
6 Sebab itu Aku akan membuat Samaria menjadi timbunan puing di padang, menjadi tempat penanaman pohon anggur. Aku akan menggulingkan batu-batunya ke dalam lembah dan akan menyingkapkan dasar-dasarnya. 7 Segala patungnya akan diremukkan, segala upah sundalnya akan dibakar, dan segala berhalanya akan Kuhancurkan; sebab dari upah sundal dikumpulkan semuanya itu, dan akan kembali menjadi upah sundal.
8 Karena inilah aku hendak berkeluh kesah dan meratap, hendak berjalan dengan tidak berkasut dan telanjang, hendak melolong seperti serigala dan meraung seperti burung unta: 9 sebab lukanya tidak dapat sembuh, sudah menjalar ke Yehuda, sudah sampai ke pintu gerbang bangsaku, ke Yerusalem!
10 Di Gat janganlah sampaikan berita, janganlah sekali-kali menangis! Baiklah gulingkan dirimu dalam debu di Bet-Le-Afra! 11 Berkemaslah, hai penduduk Safir, dengan telanjang dan malu. Tidak berani keluar penduduk Zaanan. Ratapan Bet-Haezel menghalangi engkau untuk tetap berdiri. 12 Dengan bimbang penduduk Marot berharap akan kebaikan. Sebab malapetaka turun dari pada TUHAN sampai ke pintu gerbang Yerusalem.

13 Pasanglah kuda teji pada kereta, hai penduduk Lakhis! Inilah permulaan dosa bagi puteri Sion, sebab padamulah terdapat pelanggaran Israel.
14 Sebab itu baiklah diberi hadiah perpisahan kepada Moresyet-Gat. Rumah-rumah Akhzib akan menjadi tipu daya bagi raja-raja Israel.
15 Penakluk masih akan Kudatangkan kepadamu, hai penduduk Maresya! Kemuliaan Israel akan sampai di Adulam.

16 Cukurlah dan gundulkanlah kepalamu, karena anak-anak kesayanganmu! Jadikanlah kepalamu gundul seperti gundulnya burung bangkai, sebab dari padamu mereka akan masuk pembuangan.

(Lebih mudah memahami ayat 15 dengan melihat terjemahan ITL 「Bahwa Aku akan membawa seorang waris yang baharu kepada hartamu, hai perempuan penduduk Maresya! ke Adulam pergilah segala kemuliaan Israel」,
lihat juga BIMK 「Hai orang Maresya, TUHAN akan menyerahkan kamu kepada musuh yang hendak menaklukkan kotamu. Pemimpin-pemimpin Israel yang berkuasa akan bersembunyi dalam gua-gua di Adulam」)

malapetaka turun dari pada TUHAN sampai ke pintu gerbang Yerusalem

Paragraf ini melanjutkan pernyataan proklamasi yang bersifat ringkasan di paragraf sebelumnya dan situasi penghakiman TUHAN dijabarkan seperti sebuah laporan berita. Ayat 1:6 menggambarkan kehancuran Samaria, dan bahkan sampai akarnya akan dicabut ke atas, kota akan berubah menjadi tanah ladang, hanya cocok untuk pertanian. Ayat 1:7 menggambarkan hukuman bagi penyembahan berhala, mereka karena menyembah Baal sehingga terkena pengaruh, mereka melakukan kegiatan pelacur di kuil, dan menggunakan upah para pelacur sebagai persembahan, menciptakan berhala, tetapi Allah akan memusnahkan semua itu satu per satu.

Ayat 1:8-9 menyampaikan lagu ratapan sedih, nabi Yoel menggunakan cara yang sangat kuat untuk mengungkapkan kesedihannya, tidak hanya karena kehancuran Samaria (Israel, kerajaan utara), tetapi juga karena ancaman segera datang atas Yehuda (kerajaan selatan), terus mencapai Yerusalem. Ini mungkin mencerminkan invasi Yehuda oleh Sanherib raja Asyur pada tahun 701 SM.

Ayat 1:10-16 adalah nyanyian puisi dengan kata-kata yang sangat terampil, tetapi menggambarkan krisis. Puisi ini dapat dibagi menjadi tiga paragraf yakni 1:10-12 dimulai dengan kata-kata Daud dan dengan kata-kata yang saling bertentangan untuk membawakan pesan krisis; ayat 1:13-15 setiap kalimatnya diakhiri dengan Israel, menunjukkan bahwa masalah mereka adalah bersifat nasional; dan ayat 1:16 memanggil Yehuda untuk berduka atas bencana yang akan datang di antara mereka.

Ayat 10 「Di Gat janganlah sampaikan berita」 dikutip dari 2 Samuel 1:20, yang merupakan pembukaan ratapan Daud atas kematian Saul dan Yonatan, yang berarti kepedihan negeri ini, dan ia tidak ingin memberitakannya di antara bangsa-bangsa asing lain. Gat adalah kota asing yang terdekat dengan wilayah Safir. Ini bukan menghendaki menjaga rahasia, tetapi untuk mencegah cibiran tertawaan orang lain karena bencana yang mereka alami, paruh kedua kalimat ini mengungkapkan tingkat kesedihan (「janganlah sekali-kali menangis! Baiklah gulingkan dirimu dalam debu di Bet-Le-Afra!」) , secara umumnya dalam situasi bencana orang-orang akan menangis sekarang, tetapi sekarang mereka tidak dapat menangis lagi karena rasa sedih yang luar biasa. Dalam ayat 1:10-12, total disebutkan enam kota, terdapat empat di antaranya yang tidak muncul di tempat lain dalam Perjanjian Lama, tetapi secara umum diyakini bahwa ini adalah desa lain di wilayah Safira, dan itu juga merupakan wilayah yang dilalui Sanherib raja Asyur melewati rute pantai dalam serangan agresi menuju Yerusalem, menunjukkan bahwa ancaman itu semakin mendekat.

Ayat 1:13-15 mendaftar lima kota tambahan, yang semuanya berada di antara Gat dan Yerusalem, yang menunjukkan bahwa pasukan Asyur semakin dekat. Yang paling banyak digambarkan dalam paragraf ini adalah Lakhis, bahwa Lakhis dikepung oleh pasukan Sanherib telah didokumentasikan dengan baik dalam sejarah, dan di bagian akhir pertempuran, para pembela Lakhis tidak memiliki panah untuk melawan, sehingga memakai tulang-tulang orang mati sebagai ganti. Setelah Lakhis dikalahkan, pemimpin kota ditusuk tombak dan dipertontonkan kepada umum

Terakhir, Yehuda tidak bisa menghindari serangan. Dengan intervensi TUHAN (Yahweh), pasukan Asyur meninggal 185.000 orang dalam semalam dan mundur untuk pulang, tetapi Yehuda juga mengalami pukulan besar, Hizkia harus membayar uang upeti kepada Asyur untuk mendapatkan keamanan. Apa yang dikatakan 1:16 tampaknya bukan apa yang mereka alami saat itu, tetapi menubuatkan akhir dari mereka di masa depan adalah di penawanan.

Renungkan:
Ketika bencana datang mendekat langkah demi langkah, bagaimanakah kita akan merespons?


Renungan pemahaman Kitab Mikha

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 37:21-29

「Tinggi」 dan 「Aku」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) Alliance Bible Seminary H.K.

(Yes. 37:21-29 [ITB])
21 Lalu Yesaya bin Amos menyuruh orang kepada Hizkia mengatakan: 「Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tentang yang telah kaudoakan kepada-Ku mengenai Sanherib, raja Asyur, 22 inilah firman yang telah diucapkan TUHAN mengenai dia:
『Anak dara, yaitu puteri Sion, telah menghina engkau, telah mengolok-olokkan engkau; dan puteri Yerusalem telah geleng-geleng kepala di belakangmu.
23 「『Siapakah yang engkau cela dan engkau hujat? terhadap siapakah engkau menyaringkan suaramu, dan memandang dengan sombong-sombong? Terhadap Yang Mahakudus, Allah Israel! 24 Dengan perantaraan hamba-hambamu engkau telah mencela Tuhan, dan engkau telah berkata: Dengan banyaknya keretaku aku naik ke tempat-tempat tinggi di pegunungan, ke tempat yang paling jauh di gunung Libanon; aku telah menebang pohon-pohon arasnya yang tinggi besar, pohon-pohon sanobarnya yang terpilih; aku telah masuk ke tempat tinggi yang paling ujung, ke hutan pohon-pohonannya yang lebat. 25 Aku ini telah menggali air dan telah minum air; aku telah mengeringkan dengan telapak kakiku segala sungai di Mesir!
26 「『Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu, 27 sedang penduduknya yang tak berdaya menjadi terkejut dan malu; mereka menjadi seperti tumbuh-tumbuhan di padang dan seperti rumput hijau, seperti rumput di atas sotoh, atau gandum yang layu sebelum ia masak.
28 「『Aku tahu, jika engkau bangun atau duduk, jika keluar atau masuk, atau jika engkau mengamuk terhadap Aku. 29 Oleh karena engkau telah mengamuk terhadap Aku, dan kata-kata keangkuhanmu telah naik sampai ke telinga-Ku, maka Aku akan menaruh kelikir-Ku pada hidungmu dan kekang-Ku pada bibirmu, dan Aku akan memulangkan engkau melalui jalan, dari mana engkau datang.』

Doa Hizkia telah selesai, dan Allah memberikan tanggapan kepada Hizkia melalui Yesaya (Yes. 37:21-29). Di awal perikop (ayat 23) segera menunjukkan bahwa hujatan raja Asyur adalah menyerang Yang Mahakudus, Allah Israel. Dari sudut pandang Asyur, penghinaan ini mungkin hanya taktik untuk memukul semangat orang-orang Yahudi, tetapi dari sudut pandang Allah, penghinaan ini telah mendorong diri Asyur sendiri ke titik sebagai musuh TUHAN, sehingga seluruh peperangan tidak lagi merupakan peperangan antara dua negara, tetapi perang antara TUHAN dan musuh-musuhnya. Karena ini adalah perang Yang Mahakudus, Allah Israel, itu adalah perang suci.

Sebelum perang suci, TUHAN (YAHWEH) harus menjelaskan apa titik masalah Asyur, ayat 24 menggunakan 「aku」 dan 「tinggi」 untuk menjelaskan masalah mereka: (1) Salah satu kata yang paling banyak muncul dalam perikop ini adalah 「aku」, proklamasi 「aku」 oleh Asyur mencerminkan bahwa mereka menganggap dirinya sebagai satu-satunya allah yang dihormati, Asyur hanya memiliki 「aku」 di matanya; (2) kata yang lain yang paling banyak muncul dalam perikop adalah 「tinggi」, di antaranya 「tempat tinggi di pegunungan」, 「pohon-pohon aras yang tinggi besar」 dan 「tempat tinggi」 menunjukkan bahwa Asyur mengharapkan untuk mencapai posisi tertinggi, tetapi mentalitas arogan ini justru bertentangan dengan status TUHAN sebagai 「tinggi di atas takhta」 (Yes. 6:1). Yang benar-benar 「tinggi」 bukanlah Asyur, tetapi TUHAN (YAHWEH), siapa pun yang mengharapkan untuk mencapai status 「tinggi」 adalah melawan Allah, orang yang tinggi hati pasti adalah musuh Allah.

Namun, TUHAN (YAHWEH) menunjukkan bahwa Ia sendiri yang sepenuhnya memegang kendali atas masa lalu dan masa kini Asyur (ayat 26), dan juga tahu setiap gerakan dan rencana Asyur (ayat 28). Bukanlah Asyur yang menguasai bangsa-bangsa, tetapi TUHAN (YAHWEH) yang menggenggam Asyur dalam kendali telapak tangan-Nya. Selain itu, kata utama yang digunakan dalam ayat 28-29 adalah 「mengamuk」 (2x), yang menunjukkan bahwa alasan kemarahan Asyur adalah kesombongan (alasan 「tinggi」), dan ayat 29 juga dua kali menggunakan kata 「Aku」 untuk menunjukkan pemegang kendali yang sebenarnya atas situasi adalah TUHAN. Sekalipun raja Asyur punya rencana dan pikiran sendiri, atau betapapun sombongnya dia, pada akhirnya TUHAN (YAHWEH) yang adalah Allah yang memerintah atas segalanya, hanya saja Asyur buta matanya dan tidak bisa melihat fakta yang sebenarnya.

Renungkan:
「Tinggi」 membutakan hati pikiran,「aku」 membuat orang meninggikan diri membesarkan diri, sehingga yang tidak bisa melihat yang benar-benar mengendalikan segalanya adalah TUHAN (YAHWEH). Masalah terbesar bagi umat manusia adalah 「tinggi」 dan 「aku」, ketika kita menganggap diri kita sebagai tuhan pengendali, mata kita tidak memandang siapapun, juga tidak akan ada Allah di mata kita, mendorong diri kita ke posisi permusuhan dengan TUHAN (YAHWEH), tidak bisa melihat bahwa ternyata betapa kecilnya diri kita. Jika kita berpikir bahwa kita berada di tempat 「tinggi」 dan 「aku」, sepatutnya kita dengan serius rendah hati di hadapan TUHAN, melihat manusia sebagai manusia, dan menghormati kebenaran bahwa Allah adalah Allah.


Renungan pemahaman Kitab Yesaya (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Yesaya 24 – 39 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.