「Segera Letakkan Pikiran Diri」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
(Luk. 22:47-62 [ITB])
47 Waktu Yesus masih berbicara datanglah serombongan orang, sedang murid-Nya yang bernama Yudas, seorang dari kedua belas murid itu, berjalan di depan mereka. Yudas mendekati Yesus untuk mencium-Nya. 48 Maka kata Yesus kepadanya: 「Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?」
49 Ketika mereka, yang bersama-sama dengan Yesus, melihat apa yang akan terjadi, berkatalah mereka: 「Tuhan, mestikah kami menyerang mereka dengan pedang?」 50 Dan seorang dari mereka menyerang hamba Imam Besar sehingga putus telinga kanannya.
51 Tetapi Yesus berkata: 「Sudahlah itu.」 Lalu Ia menjamah telinga orang itu dan menyembuhkannya.
52 Maka Yesus berkata kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah serta tua-tua yang datang untuk menangkap Dia, kata-Nya: 「Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung? 53 Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu di dalam Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi inilah saat kamu, dan inilah kuasa kegelapan itu.」
54 Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari tempat itu. Ia digiring ke rumah Imam Besar. Dan Petrus mengikut dari jauh. 55 Di tengah-tengah halaman rumah itu orang memasang api dan mereka duduk mengelilinginya. Petrus juga duduk di tengah-tengah mereka. 56 Seorang hamba perempuan melihat dia duduk dekat api; ia mengamat-amatinya, lalu berkata: 「Juga orang ini bersama-sama dengan Dia.」 57 Tetapi Petrus menyangkal, katanya: 「Bukan, aku tidak kenal Dia!」 58 Tidak berapa lama kemudian seorang lain melihat dia lalu berkata: 「Engkau juga seorang dari mereka!」 Tetapi Petrus berkata: 「Bukan, aku tidak!」 59 Dan kira-kira sejam kemudian seorang lain berkata dengan tegas: 「Sungguh, orang ini juga bersama-sama dengan Dia, sebab ia juga orang Galilea.」 60 Tetapi Petrus berkata: 「Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan.」 Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam.
61 Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: 「Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku.」 62 Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.
Jalan kebenaran kadang-kadang merupakan jalan yang sepi, jelas-jelas bahwa setiap orang mengharapkan Yesus menjadi raja akhir zaman untuk memerintah atas tanah Israel, atau Musa Baru (New Moses) memimpin orang Israel keluar dari tangan orang Romawi, dapat berada di tanah mereka sendiri, mendapatkan kembali kebebasan dan memulihkan kembali janji-janji Allah seperti halnya dahulu. Dan ketika dunia berpikir demikian, perjuangan pergumulan dalam doa di Getsemani terasa lebih nyata.
Namun, pada akhir doa, murid-Nya mengirimkan ciuman maut, seorang murid yang sepatutnya bisa dipercaya, ternyata bahkan bersama orang luar menangkap Yesus. Dalam sekejap, tanpa peringatan apa pun, menggunakan metode yang begitu intim ini untuk membunuh orang.
Beberapa hari yang lalu, kita telah memperjelas bahwa di dalam pemikiran akhir zaman orang Yahudi deskripsi tentang iblis masuk ke dalam hati Yudas adalah hal yang tidak masuk akal (dalam sastra apokaliptik Yahudi, si Iblis itu lemah dan kalah). Lalu umat Allah yang seharusnya berdiri di sisi Tuhan dan bersama menghadapi si jahat, tetapi sebaliknya justru Yudas dan anak buah imam besar berdiri di pihak iblis bersama-sama menghadapi Putra Allah, dan sekarang adalah waktu realisasi kenyataan yang mengerikan ini. Tetapi bagi Yudas dan para pemimpin agama seperti Imam Besar, mereka yakin menghadapi Yesus yang sepatutnya terkutuk itu, itu adalah pekerjaan giat bagi Allah. Terkadang kehidupan ini banyak hal yang tidak terduga, sering membuat orang tidak paham, tetapi dengan mata Yesus, semuanya itu mungkin.
Selain Yudas, Petrus juga berada di sisi iblis, atau dengan kata-kata Yesus, bahwa iblis ingin mendapatkan dirinya, seperti menampi gandum.
Ayat 49 「mereka, yang bersama-sama dengan Yesus, melihat apa yang akan terjadi」 berarti bahwa Petrus dan para murid melihat apa yang akan terjadi (τὸ ἐσόμενον). Bagi Petrus, ia mengambil pisau dan memotong telinga hamba imam adalah menunjukkan bahwa ia berpikir bahwa Yesus akan memakai lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Dia menghancurkan semua musuh, dan berpikir melalui tangannya revolusi dimulai (lih. Yoh. 18:10 dan Mat. 26:52-54). Dia yakin bahwa yang disebut janji akhir zaman adalah bahwa Yesus Kristus akan naik takhta menjadi raja di dunia.
Namun, ketika Yesus menyembuhkan telinga hamba itu, Petrus dapat dikatakan bertanya-tanya mengapa tidak bermain sesuai dengan naskah Mesias yang ada di dalam hatinya? ! Sampai dia mengikuti Yesus dari jauh, mungkin masih percaya bahwa dua belas pasukan malaikat Yesus masih akan datang, jadi dia masih berketetapan melihat-lihat apa yang segera terjadi.
Tanpa diduga 3 kali penyangkalan terhadap Tuhan, dan sepenuhnya hancur keyakinan di dalam hati Petrus. Dalam sekejap mata, keyakinan dalam hati Peter berubah menjadi kekosongan. Patut bersyukur, Tuhan berpaling dan memandang Petrus, ia ingat apa yang Dia katakan tak lama sebelumnya, dan dia menangis.
Renungkan:
Mungkin kita tidak memahami yang Petrus tangisi itu apa, mungkin dirinya tidak bisa dipercaya lagi — jelas-jelas ia berkata bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Tuhan! (Luk. 22:33) Kini kata-katanya tidak bisa dipercaya; atau gambar kemuliaan berkemenangan yang dia harapkan dalam hatinya tidak terjadi, kesedihan memenuhi hatinya.
Bagaimanapun, jika Tuhan ingin kita dalam sekejap meletakkan 「rasa percaya」 pemikiran diri kita sendiri dan percaya kembali hal yang tampaknya mustahil, maukah kita?
Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.