Tag Archives: keterbatasan diri

Hakim-hakim 7:1-8

「Gideon ── segala kemenangan bergantung Allah」

Oleh Dr. Wong Tin-yat
Alliance Bible Seminary H.K.

(Hak. 7:1-8 [ITB])
1 Adapun Yerubaal itulah Gideon bangun pagi-pagi dengan segala rakyat yang bersama-sama dengan dia, lalu mereka berkemah dekat mata air Harod; perkemahan orang Midian itu ada di sebelah utaranya, dekat bukit More, di lembah.
2 Berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: Terlalu banyak rakyat yang bersama-sama dengan engkau itu dari pada yang Kuhendaki untuk menyerahkan orang Midian ke dalam tangan mereka, jangan-jangan orang Israel memegah-megahkan diri terhadap Aku, sambil berkata: Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku. 3 Maka sekarang, serukanlah kepada rakyat itu, demikian: Siapa yang takut dan gentar, biarlah ia pulang, enyah dari pegunungan Gilead. Lalu pulanglah dua puluh dua ribu orang dari rakyat itu dan tinggallah sepuluh ribu orang.
4 Tetapi TUHAN berfirman kepada Gideon: Masih terlalu banyak rakyat; suruhlah mereka turun minum air, maka Aku akan menyaring mereka bagimu di sana. Siapa yang Kufirmankan kepadamu: Inilah orang yang akan pergi bersama-sama dengan engkau, dialah yang akan pergi bersama-sama dengan engkau, tetapi barangsiapa yang Kufirmankan kepadamu: Inilah orang yang tidak akan pergi bersama-sama dengan engkau, dialah yang tidak akan pergi.
5 Lalu Gideon menyuruh rakyat itu turun minum air, dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: Barangsiapa yang menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat, haruslah kaukumpulkan tersendiri, demikian juga semua orang yang berlutut untuk minum. 6 Jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air.
7 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: Dengan ketiga ratus orang yang menghirup itu akan Kuselamatkan kamu: Aku akan menyerahkan orang Midian ke dalam tanganmu; tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya boleh pergi, masing-masing ke tempat kediamannya. 8 Dari rakyat itu mereka mengambil bekal dan sangkakala; demikianlah seluruh orang Israel disuruhnya pergi, masing-masing ke kemahnya, tetapi ketiga ratus orang itu ditahannya. Adapun perkemahan orang Midian ada di bawahnya, di lembah.


《Kitab Hakim-hakim》 pasal 7 cukup menarik, mengapa demikian? Pasal 6 mencatat ketakutan Gideon, dan bagaimana Allah memperkuat dia melalui dua bukti. Namun, pasal 7 agak aneh di sini, terdapat 30.000 tentara Israel, tetapi pada akhirnya hanya 300 yang ikut dalam perang. Ayat 8:10 mencatat akhir perang ini. Sisa tentara dari dua raja Midian, Zebah dan Salmuna, masih memiliki sisa 15.000 tentara, dan 120.000 tewas. Faktanya, 7:12 mengatakan Adapun orang Midian dan orang Amalek dan semua orang dari sebelah timur itu bergelimpangan di lembah itu, seperti belalang banyaknya, dan unta mereka tidak terhitung, seperti pasir di tepi laut banyaknya. Sejujurnya, Midian bukanlah orang yang lemah, apalagi kekuatan tempur yang terbatas! Oleh karena itu, jangankan tiga ratus orang, bahkan jika jumlah tentara Israel yang awalnya 30.000 orang, dibandingkan dengan tentara Midian, sebenarnya tidak berarti.

Apakah Israel memiliki cukup keberanian untuk menghadapi pertempuran ini? Ayat 7:3 mengatakan serukanlah kepada rakyat itu, demikian: Siapa yang takut dan gentar, biarlah ia pulang, enyah dari pegunungan Gilead.』」 Lalu pulanglah dua puluh dua ribu orang dari rakyat itu dan tinggallah sepuluh ribu orang」 Bayangkan saja.: jika orang Israel benar-benar punya keberanian yang besar, mengapa ada begitu banyak orang yang takut dan gentar yang pulang dan hanya tersisa 10.000?

Faktanya adalah: setelah Gideon meminta konfirmasi di pasal 6, meskipun Allah telah terus menerus menjawab, orang Israel masih takut dan gentar. Mata air Harod yang tercatat di ayat 7:1 cukup menarik karena kata itu dalam bahasa aslinya sama dengan kata takut dan gentar. Dengan kata lain, penulis Alkitab ingin kita tahu bahwa bahkan jika jumlah pasukan Israel tidak dikurangi, mereka sejak awal sudah berkemah dalam takut dan gentar!

Apa sebenarnya yang Allah ingin orang Israel pelajari?
Keyakinan dan iman akan kemenangan harus dibangun di dalam Allah!

Secara sepintas lalu, mereka yang menghirup air dengan membawa tangannya ke mulut adalah pejuang yang dipilih Allah karena mereka tahu cara menghirup air dengan tangan mereka dan lebih waspada daripada mereka yang berlutut untuk minum. Melihat lebih dalam, catatan Alkitab sebenarnya cukup menarik. Perhatikan: dari ayat 6-8, jumlah tiga ratus orang muncul empat kali. Beberapa sarjana Alkitab telah menunjukkan bahwa jumlah tiga ratus orang itu adalah intinya, bukan bagaimana cara menghirup air.

Allah perhatian dengan jumlah tentara Israel, yang merupakan jumlah yang Allah inginkan! Allah ingin mengurangi jumlah tentara Israel menjadi satu persen dari jumlah tentara awal, dan menggunakan jumlah ini untuk menyelesaikan rencana-Nya yang tampaknya di luar imajinasi. Oleh karena itu, Allah ingin Gideon memahami bahwa hanya dengan melihat kekurangan dan kelemahan kita sendiri kita dapat melihat kebesaran dan kekuatan Allah, sebenarnya, kemenangan adalah tentang Allah! (bukan diri kita)

Renungkan:
Tidak peduli seberapa mampu kita, itu adalah Allah yang menyelesaikan segala hal! Ketika kita memahami ini, kita harus tahu bahwa kita tidak terlalu peduli dengan masalah banyak atau sedikit. Selama kita melakukan yang terbaik, kita bisa bergantung kepada Allah dengan ketenangan pikiran, kemauan dan perbuatan.


Renungan pemahaman Kitab Hakim-hakim

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Hakim-hakim ditulis oleh Dr. Wong Tin-yat (黃天逸) dipublikasi pada bulan April 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Hakim-hakim 4:11-24

「Dua wanita yang tangguh – dua pria yang canggung」

Oleh Dr. Wong Tin-yat
Alliance Bible Seminary H.K.

(Hak. 4:11-24 [ITB])
11 Adapun Heber, orang Keni itu, telah memisahkan diri dari suku Keni, dari anak-anak Hobab ipar Musa, dan telah berpindah-pindah memasang kemahnya sampai ke pohon tarbantin di Zaanaim yang dekat Kedesh.
12 Setelah dikabarkan kepada Sisera, bahwa Barak bin Abinoam telah maju ke gunung Tabor, 13 dikerahkannyalah segala keretanya, sembilan ratus kereta besi, dan seluruh rakyat yang bersama-sama dengan dia, dari Haroset-Hagoyim ke sungai Kison.
14 Lalu berkatalah Debora kepada Barak: Bersiaplah, sebab inilah harinya TUHAN menyerahkan Sisera ke dalam tanganmu. Bukankah TUHAN telah maju di depan engkau? Lalu turunlah Barak dari gunung Tabor dan sepuluh ribu orang mengikuti dia, 15 dan TUHAN mengacaukan Sisera serta segala keretanya dan seluruh tentaranya oleh mata pedang di depan Barak, sehingga Sisera turun dari keretanya dan melarikan diri dengan berjalan kaki. 16 Lalu Barak mengejar kereta-kereta dan tentara itu sampai ke Haroset-Hagoyim, dan seluruh tentara Sisera tewas oleh mata pedang; tidak ada seorangpun yang tinggal hidup.
17 Tetapi Sisera dengan berjalan kaki melarikan diri ke kemah Yael, isteri Heber, orang Keni itu, sebab ada perhubungan baik antara Yabin, raja Hazor, dengan keluarga Heber, orang Keni itu.
18 Yael itupun keluar mendapatkan Sisera, dan berkata kepadanya: Singgahlah, tuanku, silakan masuk. Jangan takut. Lalu singgahlah ia ke dalam kemah perempuan itu dan perempuan itu menutupi dia dengan selimut. 19 Kemudian berkatalah ia kepada perempuan itu: Berilah kiranya aku minum air sedikit, aku haus. Lalu perempuan itu membuka kirbat susu, diberinyalah dia minum dan diselimutinya pula. 20 Lagi katanya kepada perempuan itu: Berdirilah di depan pintu kemah dan apabila ada orang datang dan bertanya kepadamu: Ada orang di sini?, maka jawablah: Tidak ada.
21 Tetapi Yael, isteri Heber, mengambil patok kemah, diambilnya pula palu, mendekatinya diam-diam, lalu dilantaknyalah patok itu masuk ke dalam pelipisnya sampai tembus ke tanah–sebab ia telah tidur nyenyak karena lelahnya maka matilah orang itu.
22 Pada waktu itu muncullah Barak yang mengejar Sisera. Keluarlah Yael mendapatkan dia dan berkata kepadanya: Mari, aku akan menunjukkan kepadamu orang yang kaucari itu. Lalu masuklah Barak ke dalam dan tampaklah Sisera mati tergeletak dengan patok dalam pelipisnya.
23 Demikianlah Allah pada hari itu menundukkan Yabin, raja Kanaan, di depan orang Israel. 24 Dan kekuasaan orang Israel kian keras menekan Yabin, raja Kanaan, sampai mereka melenyapkan Yabin, raja Kanaan itu.

Era Debora sebagai hakim, selain tercatat dua nama wanita: Debora dan Yael, Alkitab juga mencatat dua orang laki-laki yakni Barak dan Sisera.

Nama Barak berarti kilat dalam bahasa Ibrani. Dengan kata lain, nama ini menyiratkan cepat. Namun, pembacaan lebih saksama menunjukkan bahwa penampilan Barak justru merupakan kebalikan dari namanya,.

Kata maju muncul beberapa kali dalam 4:8, yang hanya memberitahu kita: Barak mau taat kepada Allah, tapi dia meminta seseorang untuk menemaninya. Mengapa ini penting?

Jika kita mempelajari lebih lanjut tentang Barak, kita mungkin menemukan bahwa dia kemungkinan besar adalah orang yang terkenal dari latar belakang yang menonjol. Penulis 《Kitab Hakim-hakim》 secara khusus menyebutkan nama ayahnya ── Abinoam. Pada saat yang sama, itu juga dicatat bahwa Barak berasal dari Kedesh di daerah Naftali, yang hanya beberapa mil dari gerbang jalur perdagangan kuno, Megido. Dengan kata lain, dia sangat mungkin memiliki kekayaan yang melimpah, bahkan seperti yang disebutkan di 4:10, Balak dengan segera bisa mendapatkan sepuluh ribu orang untuk maju bersama dia. Tapi bagaimana kelanjutannya? Penampilan Balak sungguh tidak terampil!

Ada penjelasan yang cukup sederhana di ayat 22, yang mencatat bahwa Yael berhasil membunuh Sisera, namun catatan ini sebenarnya sangat dalam maknanya. Bayangkan saja: di medan perang, seorang wanita tak bersenjata membunuh panglima tentara musuh lalu mayatnya diserahkan kepada Barak, di mana Barak hendak meletakkan wajahnya? Penulis Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa karena keterlambatan Barak, dia kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kehormatan tersebut.

Bagaimana dengan Sisera? Alkitab tidak banyak menjelaskannya, tapi kita perhatikan: 900 kereta besi perang yang disebutkan dalam ayat 13 sama sekali tidak sederhana; raja Salomo hanya memiliki 1.400 pada masa kejayaannya (1 Raja-raja 10:26), jadi 900 kendaraan ini mungkin merupakan jumlah total yang dikirim oleh berbagai kota (dari pihak musuh)! Kekuatan yang begitu kuat dikalahkan oleh Barak sampai hancur seluruh tentaranya; apa yang lebih ironis lagi? Menurut ayat 21, Sisera tidak dibunuh oleh Yael ketika dia terluka parah. Alkitab menggambarkan dia berjalan ke tenda Yael (ayat 18), bersembunyi di balik selimut, dan tidur nyenyak karena kelelahan (ayat 21) sehingga Yael memakukan patok kemah ke dalam pelipisnya sampai mati. Bagi seorang panglima perang, kematian seperti itu mungkin memalukan!

Era Debora sebagai hakim membuat kita untuk melihat dua wanita yang luar biasa dan dua pria yang canggung. (Catatan: penulis renungan tidak bermaksud untuk berbicara tentang kesetaraan gender, karena itu adalah topik pemikiran orang-orang modern.)

Renungkan:
Melalui empat karakter ── Debora, Barak, Sisera dan Yael, penulis Alkitab sebenarnya bertanya kepada kita: apakah kita bersedia seperti Debora untuk maju, atau Yael ── mencapai hal-hal besar walau dengan kekuatan terbatas? Ataukah kita semua kalah dan memalukan seperti Sisera, bahkan seperti Barak, walau memiliki kekuatan tapi kurang keberanian? Nyatanya, meski Yael yang di permukaan tampaknya memiliki kekuatan terkecil, masih memiliki pengaruh yang begitu penting di era sejarah ini, kita harus memahami: kuncinya masih sama adalah apakah kita memiliki hati yang rela untuk mengajukan diri dan maju memikul beban di masa-masa sulit.


Renungan pemahaman Kitab Hakim-hakim

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Hakim-hakim ditulis oleh Dr. Wong Tin-yat (黃天逸) dipublikasi pada bulan April 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


2 Timotius 1:6-7

「Mendobrak keterbatasan, kobarkan hati」

Oleh Yè Sōng Mào (葉松茂)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Tim. 1:6-7 [ITB])
6 Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. 7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

Ayat 7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Ada orang yang berpendapat bahwa kata roh ini menurut konteksnya adalah merujuk pada Roh Kudus. Tetapi sebagian besar peneliti Alkitab percaya bahwa interpretasi paling alami dari kata roh dalam kalimat ini mengacu pada roh manusia, yaitu temperamen atau mentalitas kita, maka kata roh dapat digantikan dengan kata hati seperti dalam dalam terjemahan CUV Mandarin, dan kata roh yang membangkitkan kekuatan dapat diterjemahkan sebagai hati yang kuat, ini merupakan terjemahan parafrasa, tampaknya berpendapat bahwa Paulus menyebutkan kemampuan untuk mendorong Timotius agar tidak takut, tetapi memiliki hati yang kuat.

Dalam tradisi gereja masa lalu, secara umum diyakini bahwa Timotius adalah pemuda yang relatif lemah dan tertutup, kurang memiliki pesona kepemimpinan yang alami, sehingga Paulus berkali-kali memberinya semangat, termasuk mendorongnya untuk tidak takut dalam ayat 7. Paulus mengirimnya ke Korintus, juga berpesan kepada gereja lokal, Jika Timotius datang kepadamu, usahakanlah supaya ia berada di tengah-tengah kamu tanpa takut, sebab ia mengerjakan pekerjaan Tuhan, sama seperti aku. Jadi, janganlah ada orang yang menganggapnya rendah! … (1 Kor. 16:10-11). Jika Timotius benar-benar secara alami sifatnya agak lemah, kita harus mengakui bahwa ia bersedia menerobos keterbatasan kepribadiannya untuk memenuhi Amanat Agung Kristus, dan telah berulang kali menunjukkan keberanian dan komitmen yang luar biasa.

Pertama-tama, dalam perjalanan misi yang kedua, Paulus bertemu dengannya di kampung halaman Timotius di Listra, dan mendengar bahwa dia memiliki reputasi yang baik di antara orang-orang percaya. Saat itu, Timotius masih sangat muda, tetapi dia tidak ragu-ragu menerima ajakan Paulus untuk bergabung dengan tim misi Paulus, meninggalkan kampung halaman dan menyeberangi laut pergi ke Yunani untuk misi memberitakan kabar Injil. Kedua, Timotius pernah dua kali mewakili rasul Paulus, sendirian pergi ke gereja Tesalonika dan Korintus untuk mendorong serta menggembalakan mereka. Korintus jelas adalah gereja yang banyak masalah, Timotius tampaknya memiliki kemampuan untuk menyelesaikan. Terakhir, ketika Paulus menulis surat 1 dan 2 Timotius, Timotius sedang menggembalakan gereja Efesus untuk mengatasi ajaran palsu di kalangan pimpinan gereja. Semua ini menunjukkan dia berhasil mendobrak sifat lemah penakut dirinya, demi memenuhi Amanat Agung, ia menunjukkan keberanian dan ketekunan yang luar biasa.

Di surat pertama, 1 Tim. 1:18 Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni, Paulus mengingatkan Timotius bahwa ada nubuat yang menunjukkan bahwa Timotius memiliki karunia untuk melakukan pekerjaan Tuhan (mencakup karunia mengajar dan penginjilan), dan dalam 1 Tim. 4:14 disebutkan bahwa sidang penatua menumpangkan tangan untuk mengonfirmasi nubuatan ini di depan umum, yaitu menegaskan bahwa Timotius memiliki karunia pelayanan. Mungkin ini mirip dengan upacara pengutusan misionaris hari ini. Paulus tampaknya adalah salah satu penatua yang menumpangkan tangan pada saat itu. Dalam surat 2 Timotius ini, dia mengingatkan Timotius untuk mengingat kembali penumpangan tangan lebih dari sepuluh tahun yang lalu, melalui hal ini mendorong dia untuk kembali semangat hati mula-mulanya. Dalam ayat 6, kobarkan, teks bahasa aslinya mengacu pada bibit api yang akan padam, yang dikobarkan kembali menjadi api besar yang berkobar-kobar.

Pada hari-hari pertama setelah percaya kepada Tuhan, banyak orang yang antusias untuk melayani dan mengabdikan diri pada kehidupan gereja; tetapi setelah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, mereka berangsur-angsur menjadi lebih dingin, dan bahkan merasa lelah, dan tidak lagi memiliki api semangat di dalam hati mereka. Paulus mengingatkan kita dua hal: (1) kita harus rela mendobrak keterbatasan kepribadian kita sendiri agar dapat terus mengalami pembaruan hidup; (2) kita harus mendapatkan kembali hati mula-mula kita, dan aktif berusaha untuk menghidupkan kembali api di hati kita.

Renungkan:
Apakah Anda bersedia mendobrak keterbatasan Anda sendiri? Apakah Anda bersedia menyalakan kembali api di hati Anda?


Renungan pemahaman Surat 2 Timotius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 2 Timotius ditulis oleh Yè Sōng Mào (葉松茂) yang dipublikasikan pada bulan Februari 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.