Tag Archives: bersumpah

Yehezkiel 17:11-21

Menjaga perjanjian atau mengingkari?

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 17:11-21 [ITB])
11 Maka datanglah firman TUHAN kepadaku: 12 Katakanlah kepada kaum pemberontak: Tidakkah kamu mengetahui apa artinya ini? Katakan: Lihat, raja Babel datang ke Yerusalem dan ia mengambil rajanya dan pemuka-pemukanya dan membawa mereka ke Babel baginya. 13 Lalu ia mengambil seorang yang berasal dari keturunan raja dan mengadakan perjanjian dengan dia sambil menyuruh dia bersumpah. Ia mengambil juga orang-orang berkuasa negeri itu, 14 supaya kerajaan itu menjadi lemah dan jangan memberontak lagi, juga supaya memegang teguh perjanjian itu dan dengan demikian tetap ada.
15 Tetapi orang itu memberontak kepadanya dengan menyuruh utusannya ke Mesir, supaya ia diberi kuda dan tentara yang besar. Apakah ia akan berhasil? Apakah orang yang berbuat demikian dapat luput? Apakah orang yang mengingkari perjanjian dapat luput? 16 Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, ia pasti mati di Babel, di tempat raja yang mengangkatnya menjadi raja. Karena ia memandang ringan kepada sumpah yang dimintakan raja itu dari padanya dan mengingkari perjanjian raja itu dengan dia. 17 Dan Firaun tidak akan membantu dia dalam peperangan dengan tentara yang besar dan sekumpulan banyak orang, pada waktu tembok pengepungan ditimbun dan benteng pengepungan didirikan untuk melenyapkan banyak orang. 18 Ya, ia memandang ringan kepada sumpah dan mengingkari perjanjian. Sungguh, walaupun ia menyungguhkan hal itu dengan berjabat tangan, tetapi ia melanggar semuanya itu, maka ia tidak dapat luput.
19 Oleh sebab itu, beginilah firman Tuhan ALLAH: Demi Aku yang hidup, Aku pasti menimpakan atas kepalanya sumpahnya kepada-Ku, yang dipandangnya ringan dan perjanjiannya di hadapan-Ku, yang diingkarinya. 20 Aku akan memasang jaring-Ku untuk menangkap dia dan di dalam perangkap-Ku ia akan terjebak; Aku akan membawa dia ke Babel dan di sana Aku akan berperkara dengan dia, karena ia berobah setia terhadap Aku. 21 Dan semua tentara pilihannya akan tewas dimakan pedang dan yang terluput akan dihamburkan ke semua mata angin. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang mengatakannya.

Paragraf ini (Yeh. 17:11-21) menjelaskan metafora tentang dua rajawali dan pohon anggur di Yeh. 17:1-10, menjelaskan bahwa setelah Babel membuang Yoyakhin ke penawanan, mereka mengangkat Zedekia menjadi raja Yehuda, mengadakan perjanjian dengan dia dan membuatnya bersumpah (ayat 13), sehingga kerajaan Yehuda menjadi rendah tidak boleh memperkuat diri (ayat 14), setelah Zedekia mengkhianati Babel dan meminta bantuan Mesir (ayat 15), dan akhirnya dia mati di Babel (ayat 16). Dalam seluruh penjelasan, menjaga perjanjian dan mengkhianati perjanjian menjadi tema kunci pemahaman perikop ini.

Pertama, semula Zedekia membuat perjanjian dengan Babel, ia telah bersumpah (ayat 13), ia berjanji bahwa dirinya sendiri akan menjadi sebuah negara kecil yang lemah, dapat tetap ada hanya karena mematuhi perjanjian (ayat 14), ini wajar berdasarkan kekuatan politik dan militer pada saat itu, karena situasi tanpa harapan Yehuda, tidak ada modal politik dan militer, hanya bisa membuat aliansi dengan Babel kerajaan besar saat itu, dengan demikian barter untuk mendapatkan damai sejahtera bagi rakyat Yehuda, dapat menghindari perang dan kematian, ini merupakan pengaturan yang terbaik bagi Yehuda saat itu. Tetapi, Zedekia seperti raja sebelumnya, adalah orang-orang yang mudah mengingkari perjanjian, ia tidak puas menjadi negara kecil, maka hendak memperkuat diri melalui beraliansi dengan Mesir, maka ia mengkhianati raja Babel (ayat 15). Kitab Suci menjelaskan bahwa ia memandang ringan kepada sumpah yang dimintakan raja itu dari padanya dan mengingkari perjanjian raja itu dengan dia (ayat 16), dan Ya, ia memandang ringan kepada sumpah dan mengingkari perjanjian (ayat 18), ini jelas menunjukkan pada perjanjian Zedekia dengan raja Babel, namun sebenarnya juga menyatakan sifat dan hakikat asali Zedekia suka melanggar perjanjian, menunjukkan bahwa dia sama dengan raja-raja sebelumnya sama-sama berkhinat atas perjanjian umat Israel dengan TUHAN. Pada kenyataannya, segera TUHAN menunjukkan masalah Zedekia adalah sumpahnya kepada-Ku, yang dipandangnya ringan dan perjanjiannya di hadapan-Ku, yang diingkarinya (ayat 19), ini karena perjanjian dengan Babel dilakukan dengan sumpah menunjuk kepada TUHAN, jadi ketika ia mengkhianati perjanjian, itu sama saja dengan mengkhianati TUHAN. Sifat arogan dan tidak dapat dipercaya Zedekia menjadi penyebab fatal bagi pembuangan dirinya.

Masalah terbesar Zedekia dan kerajaan Yehuda adalah mengkhianati perjanjian, dan TUHAN akan menjatuhkan hukuman-Nya. Nabi Yehezkiel terlebih dahulu menjelaskan bahwa bantuan Firaun Mesir tidak ada gunanya (ayat 17) dan menjelaskan bahwa Zedekia akan tertangkap dalam jerat Allah, dibawa ke Babel dan mati di sana (ayat 20). Zedekia bukan saja tidak berhasil memperkuat diri sendiri, bahkan binasa karena kebodohannya. Ternyata, meninggikan diri akan direndahkan, merendahkan diri akan diangkat.

Renungkan:
Allah sangat serius menuntut kesetiaan perjanjian, membenci perilaku pengkhianatan perjanjian. Mari merenungkan hidup kita, pada akhirnya apakah akan karena ketenaran, mengejar uang dan status, dan tanpa disadari membiarkan diri jatuh melanggar perjanjian?


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 12-20 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) dipublikasi pada bulan Oktober 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Bilangan 30:1-2, 16

Nazar dan pembatalan

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 30:1-2, 16 [ITB])
1 Musa berkata kepada kepala-kepala suku Israel, demikian: Inilah yang diperintahkan TUHAN. 2 Apabila seorang laki-laki bernazar atau bersumpah kepada TUHAN, sehingga ia mengikat dirinya kepada suatu janji, maka janganlah ia melanggar perkataannya itu; haruslah ia berbuat tepat seperti yang diucapkannya.
16 Itulah ketetapan-ketetapan yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, yakni antara seorang suami dengan isterinya, dan antara seorang ayah dengan anaknya perempuan pada waktu ia masih gadis di rumah ayahnya.

(Bacalah Bilangan 30, klik untuk membuka)

Laki-laki atau wanita, bernazar kepada Allah itu selalu merupakan hal yang serius.

Ada orang ketika menghadapi keadaan darurat atau ketika penuh semangat terhadap Allah, maka akan datang kepada Allah untuk meminta pertolongan atau bernazar. Ketika telah melewati kesulitan atau ketika hal itu sudah selesai, maka patut membayar nazar atau janji sumpahnya kepada Allah, karena Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya (Pengkhotbah 5:4-5). Namun, banyak hal di dunia ini demikian juga hati orang mudah berubah-ubah. Beberapa orang tidak berterima kasih dan dengan sengaja menunda-nunda untuk tidak membayar nazar atau sumpah mereka; beberapa orang tidak membayar nazar atau sumpah mereka karena mereka menemukan bahwa nazar atau sumpah mereka di luar kemampuan mereka. Bilangan 30 berbicara aspek ini, dan dari hubungan antara suami istri, hubungan orang tua-anak untuk memperjelas siapa yang bertanggung jawab atas membayar nazar ini. Ringkasannya adalah sebagai berikut:

• Orang harus menepati janji: Bil. 30:2 terlebih dahulu berbicara tentang tanggung jawab laki-laki, karena dia adalah orang yang mandiri, dia harus memegang kata-kata yang ia ucapkan, baik itu sumpah bernazar (yiddōr neder) secara aktif melakukan sesuatu atau menjauhkan diri (le’sōr ‘issār) dari sesuatu, kita harus merealisasikan apa yang kita katakan, dan kita tidak boleh menelan kata-kata kita sendiri. Misalnya, laki-laki atau wanita membuat keinginan sebagai orang Nazir (Bilangan 6), atau seperti Zakheus si pemungut pajak yang bernazar membagikan setengah dari hartanya kepada orang miskin (Lukas 19:1-10).

• Orang tua harus bertanggung jawab: dalam masyarakat patriarkat Israel kuno, secara hukum rata-rata wanita bukanlah individu yang sepenuhnya independen, ia harus tunduk pada otoritas orang tua laki-laki. Pada zaman itu, seorang gadis Israel menikah pada usia empat belas atau lima tahun, dan jika dia masih muda dan belum menikah, ayahnya akan menjadi perwakilan hukumnya. Jika dia sudah menikah atau bertunangan, dia tunduk pada otoritas suaminya. Jika kepala keluarga diam menutup mulut ketika mendengar wanita ini bernazar, dianggap sudah memberikan persetujuan tanpa bersuara, itu sah secara hukum. Tetapi jika saat mendengar segera melarang dan menyangkalnya (hēnî’),TUHAN akan mengampuni perempuan itu, sebab ayahnya telah melarang dia(ayat 5).

• Wanita yang otonom: jika mereka menjanda atau bercerai, dia dianggap sebagai individu independen yang bertanggung jawab atas tindakannya sebagaimana seorang laki-laki, ia harus setia pada janji. Seperti Naomi dan Ruth, seorang wanita Moab, dapat mengusahakan lembaran kehidupan yang baru.

Renungkan:
• Siapa yang berhak bernazar: sebenarnya siapa saja. Apalagi saat ini, status wanita sudah sangat meningkat, keberanian serta wawasan tidak kalah dengan laki-laki. Selama benar-benar bersandar dan percaya kepada Tuhan, semua orang boleh bernazar. Tetapi kalau belum mencapai usia hukum, masih harus ada wali yang mandiri dan berwawasan yang bertanggung jawab, kalau memberikan ketidaksetujuan maka dibatalkan dan Allah akan mengampuni.

• Bernazar yang efektif: apakah itu situasi kritis yang orang tidak dapat berbicara dengan tepat, atau pikiran pusing dan kehilangan akal sehat, terkadang tidak dapat dihindari bahwa orang membuat permintaan yang melebihi kemampuan untuk membayar, atau itu sama sekali tidak masuk akal, misal sampai harus menelantarkan atau meninggalkan keluarga di rumah. Ini tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin dan usia, tetapi terkait dengan menegakkan kebenaran. Seperti Yefta, karena kurangnya pengetahuan rohani yang benar, dia terburu-buru bernazar, dan dia menyesalinya. Sebaliknya, Hana bernazar meminta anak laki-laki, ada imam yang memberkati, didukung oleh suaminya, dan mempersembahkan anak laki-lakinya Samuel kepada Allah agar sepanjang hidupnya dipakai untuk Tuhan dan menjadi kisah indah sepanjang zaman.


Renungan pemahaman Kitab Bilangan 1-16

Renungan pemahaman Kitab Bilangan 17-36

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 17-36 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Nopember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.