Amsal 11:1-15

Kebajikan yang sejati
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 11:1-15 [ITB])
1 Neraca serong adalah kekejian bagi TUHAN,
…….tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat.
2 Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh,
…….tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.
3 Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya,
…….tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.
4 Pada hari kemurkaan harta tidak berguna,
…….tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut.
5 Jalan orang saleh diratakan oleh kebenarannya,
…….tetapi orang fasik jatuh karena kefasikannya.
6 Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya,
…….tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya.
7 Pengharapan orang fasik gagal pada kematiannya,
…….dan harapan orang jahat menjadi sia-sia.
8 Orang benar diselamatkan dari kesukaran,
…….lalu orang fasik menggantikannya.
9 Dengan mulutnya orang fasik membinasakan sesama manusia,
…….tetapi orang benar diselamatkan oleh pengetahuan.
10 Bila orang benar mujur, beria-rialah kota,
…. …dan bila orang fasik binasa, gemuruhlah sorak-sorai.
11 Berkat orang jujur memperkembangkan kota,
. ……tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya.
12 Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi,
……..tetapi orang yang pandai, berdiam diri.
13 Siapa mengumpat, membuka rahasia,
……..tetapi siapa yang setia, menutupi perkara.
14 Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa,
……..tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada.
15 Sangat malanglah orang yang menanggung orang lain,
……..tetapi siapa membenci pertanggungan, amanlah ia.

Amsal 11:1 Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat adalah kelanjutan dari ayat 10:32 bibir orang benar tahu akan hal yang menyenangkan (menyenangkan Allah), dua ayat yang sama menggambarkan tema sukacita (berkenan kepada Allah). Kepada siapakah hal yang disebut di sini bibir orang benar dan batu timbangan yang tepat membawakan sukacita perkenan itu? Kitab Suci menunjukkan bahwa itu adalah Ia, jadi siapa yang dimaksud dengan Ia ini? Paruh pertama ayat 1 menyatakan bahwa subjeknya adalah TUHAN. Di ayat ini, kita dengan jelas melihat sukacita perkenan TUHAN dan apa yang merupakan kekejian bagi Ia, yakni terkait bagaimana orang menggunakan neraca timbangan dan batu timbangan yang tepat. Neraca dan batu timbangan digunakan sebagai ukuran bobot dalam transaksi. Jika ada ketidakjujuran atau penipuan dalam perdagangan, mereka akan menggunakan batu timbangan yang berbeda dari standar untuk menipu orang lain dan mendapatkan keuntungan, ini adalah kekejian bagi TUHAN.

Frasa kekejian bagi TUHAN muncul 11 kali dalam Amsal bagian kumpulan kedua, menunjuk pada hal-hal yang Ia benci dan menjijikkan bagi Allah. Hal-hal yang disebutkan: serong hatinya (11:20), dusta bibirnya (12:22), tinggi hati (16:5), membenarkan orang fasik dan mempersalahkan orang benar (17:15), dan dua macam batu timbangan, dua macam takaran (20:10). Dengan kata lain, ketidakadilan, ketidakjujuran, penyelewengan, tidak memiliki integritas, dll. semuanya menjijikkan bagi Allah. Apa yang orang pikirkan, katakan, dan lakukan harus dipertanggungjawabkan kepada Allah, karena Dia memeriksa hati dan pikiran orang.

Jika kita melihat lebih dekat, kita menemukan bahwa pasal 11 ini melanjutkan perbandingan antara orang benar dan orang fasik dalam pasal 10. Dalam ayat 1-15, teks tersebut membandingkan dua tipe orang, yaitu orang benar / rendah hati / orang jujur / saleh / yang pandai, dengan orang fasik / pengkhianat / orang jahat. Yang pertama membangun kehidupan, sedangkan yang kedua menghancurkan kehidupan. Alasan perbedaan akhir mereka adalah karena mereka memiliki prinsip hidup yang berbeda untuk membimbing arah hidup mereka. Bagi orang fasik, apa yang telah mereka lakukan tidak hanya membuat diri mereka tersandung (ayat 5), tetapi juga di jalan menuju kehancuran diri (merusak diri, ayat 3). Akhirnya, jahat karena perbuatan jahat (vices) mereka merusak menghancurkan hidup mereka sendiri. Adapun orang benar, mereka memakai integritas atau kebajikan (virtues) untuk membimbing hidup mereka. Kisah Ester secara tepat mencerminkan kebenaran ini, Mordekhai dan Haman mewakili dua kualitas hidup dan cara bertindak yang berbeda. Mordekhai yang takut hormat akan Allah diselamatkan dari penderitaan pribadi dan krisis genosida; sementara Haman yang jahat, si pengkhianat, akhirnya menuai konsekuensinya, dan akhirnya menjadi korban dari konspirasi jahat dirinya sendiri.

11:9-13 adalah satu unit dan menyajikan struktur engsel (chiastic):
Ayat 9: sesama manusia
Ayat 10: kota
Ayat 11: Kota
Ayat 12: sesamanya

Di sini menjelaskan hubungan antar tetangga ini yang terkena dampak akibat karena bicaranya orang. Beberapa orang menyebarkan kata-kata di mana-mana (membuka rahasia, ayat 13), yang sebenarnya adalah gossip (NIV), menyebarkan cerita yang diubah-ubah kebenarannya (terjemahan LüZhenzhong), dan mengungkapkan rahasia orang lain. Sebagai pribadi yang berintegritas, ia tahu bagaimana menghormati privasi orang lain, sehingga hubungan kelompok dapat terjaga.

Renungkan:
(1) Mengandalkan Roh Kudus untuk terus-menerus memeriksa apakah hati saya lurus dan melakukan apa yang membawakan perkenan sukacita Tuhan;
(2) Bagaimana kita mengejar dan membangun kebajikan dalam perkataan dan membangun hubungan yang harmonis dengan orang-orang?


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 10-22 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Juni 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.