「Aku tidak malu」
Oleh Yè Sōng Mào (葉松茂)
Alliance Bible Seminary H.K.
(2 Tim. 1:8-12 [ITB])
8 Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. 9 Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman 10 dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. 11 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. 12 Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.
Tema pasal 1 adalah 「tidak malu」, diulang empat kali: ayat 8 meminta Timotius untuk tidak malu atas Injil, juga tidak malu atas diri Paulus; ayat 12 Paulus mengatakan dia tidak malu menderita; ayat 16 tersebut mengatakan bahwa Onesiforus tidak malu atas rantai pemenjaraan Paulus. Mengapa Paulus terus mengulang 「tidak malu」 dalam surat 「saat kematianku sudah dekat」 ini? Karena banyak orang percaya pada saat itu merasa sangat malu untuk percaya kepada Yesus dan malu pergi ke gereja. Tidak heran jika dari sudut pandang manusia, agama Kristen memang memiliki banyak hal yang memalukan. Pertama, mereka dipandang mengikuti nabi yang gagal, ditolak oleh warga sebangsanya sendiri, dan para murid hanyalah nelayan. Akhirnya Yesus dihukum sebagai penjahat oleh pemerintah, hukuman yang paling memalukan, digantung telanjang di atas alat penyiksaan di hadapan umum. Kedua, ayah Timotius adalah seorang Yunani, dan budaya Yunani memandang diri tinggi dan merasa memiliki filsafat paling 「tertinggi 」 Plato, Socrates, Aristoteles, dll. Bagi para filsuf Yunani, kekristenan menyebarkan Kristus yang disalibkan dan orang yang mati itu sebenarnya adalah Allah, itu bukan hanya sekadar absurd, tetapi juga semacam takhayul, merupakan agama 「rendah」, semacam kebodohan (1 Kor. 1:23). Akhirnya, Paulus yang disebut 「rasul」, yang mendirikan banyak gereja, ditolak dan dimusuhi oleh orang Yahudi sepanjang hidupnya, dan sekarang dipenjarakan oleh pemerintah Romawi, dipandang sebagai pemberontak, dan menunggu kematian sendirian. Agama Kristen yang demikian, di permukaan kulit memang menyebabkan orang percaya memiliki rasa malu yang kuat, dan hampir tidak ada tempat bagi mereka di dunia.
Tetapi Paulus mengatakan bahwa faktor-faktor ini hanya permukaan kulit, kita melihat semua hal secara rohani, 「tahu siapa yang kita percayai」 (ayat 12), kita tidak malu, karena kita mengenal Tuhan Kristus yang kita ikuti, 「telah mematahkan kuasa maut dan melalui Injil mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa」 (1:10). Teks bahasa asli dari 「hidup yang tidak dapat binasa」 adalah dua hal yakni 「hidup」 dan 「tidak dapat binasa」, dan 「mendatangkan」 memiliki arti menyatakan yakni membawa keluar dari yang tersembunyi ke hadapan mata semua orang. Kita yang percaya kepada Tuhan tidak akan lagi berada di bawah bayang-bayang kematian, karena di masa depan kita akan dibangkitkan dan bersama Tuhan dalam kekekalan; hari ini Kristus telah menyatakan hidup yang berkelimpahan ini, dengan karakter kekekalan tidak dapat binasa yang paling dihargai oleh orang Yunani, dengan jelas ditunjukkan di hadapan mata dunia! Jadi hari ini kita tidak malu di depan dunia!
Paulus juga mengingatkan kita bahwa kita dapat tidak malu, bukan karena kemampuan kita, tetapi karena anugerah Allah, yang 「yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman」 sebelum kekekalan (1:9), bukan karena perbuatan kita, tetapi menurut panggilan kudus Tuhan, 「panggilan kudus」 yang disebutkan dalam ayat 9 adalah kudus, di satu sisi, karena Allah yang memanggil kita itu kudus, dan di sisi lain adalah memanggil kita untuk menjalani hidup yang kudus.
Di zaman ini, umat Kristen juga merupakan minoritas dalam masyarakat, dan masih dianggap oleh masyarakat arus utama sebagai ideologi konservatif yang 「rendah」. Banyak orang masih menganggap pengunjung gereja sebagai orang lemah yang telah kehilangan kebebasan dan mencari kenyamanan spiritual. Terkadang untuk meringankan rasa malu ini, orang Kristen akan dengan sengaja mengejar kinerja yang luar biasa, sehingga dunia dapat melihat bahwa kita orang Kristen dapat unggul dalam bidang yang mereka anggap penting, dan kita mempercantik mentalitas ini dan mengatakan bahwa penampilan ini adalah kesaksian yang baik. Ketika saya masih muda, saya secara pribadi mencoba menjadi juara dalam ujian publik dan memenangkan kejuaraan dalam kompetisi antar sekolah, mungkin mentalitas yang demikian juga terlibat. Sebenarnya, mengejar keunggulan adalah apa yang seharusnya, tetapi kita sama sekali tidak perlu menggunakannya untuk mengurangi rasa malu kita. Kita tidak perlu merasa malu, itu bukan karena keunggulan diri, tetapi berasal dari dua keyakinan di lubuk hati: pertama adalah bahwa Kristus yang saya ikuti adalah Tuhan atas kehidupan, dan telah menyatakan kelimpahan hidup dan semua kebaikan indah yang tidak dapat binasa dinyatakan di depan mata dunia; kedua adalah bahwa Kristus, oleh kasih karunia, telah memanggil saya dengan panggilan kudus. Karena saya adalah orang yang dipanggil oleh Tuhan atas kehidupan, saya dapat menjadi orang dengan kepala terangkat dan dada yang tegak.
Renungkan:
Pernahkah Anda merasa malu menjadi orang percaya? Pernahkah Anda yakin bahwa Kristus adalah Tuhan atas kehidupan?
Renungan pemahaman Surat 2 Timotius
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 2 Timotius ditulis oleh Yè Sōng Mào (葉松茂) yang dipublikasikan pada bulan Februari 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.