Daniel 4:28-37

「Kecongkakan Mendahului Kehancuran, Tinggi hati Mendahului Kejatuhan」

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 4:28-37 [ITB])
28Semuanya itu terjadi atas raja Nebukadnezar;
29sebab setelah lewat dua belas bulan, ketika ia sedang berjalan-jalan di atas istana raja di Babel, 30berkatalah raja: 「Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?」
31Raja belum habis bicara, ketika suatu suara terdengar dari langit: 「Kepadamu dinyatakan, ya raja Nebukadnezar, bahwa kerajaan telah beralih dari padamu; 32engkau akan dihalau dari antara manusia dan tempat tinggalmu akan ada di antara binatang-binatang di padang; kepadamu akan diberikan makanan rumput seperti kepada lembu; dan demikianlah akan berlaku atasmu sampai tujuh masa berlalu, hingga engkau mengakui, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya!」
33Pada saat itu juga terlaksanalah perkataan itu atas Nebukadnezar, dan ia dihalau dari antara manusia dan makan rumput seperti lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai rambutnya menjadi panjang seperti bulu burung rajawali dan kukunya seperti kuku burung.
34Tetapi setelah lewat waktu yang ditentukan, aku, Nebukadnezar, menengadah ke langit, dan akal budiku kembali lagi kepadaku. Lalu aku memuji Yang Mahatinggi dan membesarkan dan memuliakan

Yang Hidup kekal itu,
karena kekuasaan-Nya ialah kekuasaan yang kekal
dan kerajaan-Nya turun-temurun.
35Semua penduduk bumi dianggap remeh;
Ia berbuat menurut kehendak-Nya
terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi;
dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya
dengan berkata kepada-Nya: 「Apa yang Kaubuat?」

36Pada waktu akal budiku kembali kepadaku, kembalilah juga kepadaku kebesaran dan kemuliaanku untuk kemasyhuran kerajaanku. Para menteriku dan para pembesarku menjemput aku lagi; aku dikembalikan kepada kerajaanku, bahkan kemuliaan yang lebih besar dari dahulu diberikan kepadaku.
37Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, yang segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil, dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak.

Setelah Nebukadnezar mendapatkan mimpi, Daniel mengingatkan dia agar menerima nasehatnya sebagai bawahan kepada atasan, dengan melakukan keadilan melepaskan diri dari pada dosa, dan dari pada kesalahan dengan menunjukkan belas kasihan terhadap orang yang tertindas (Dan. 4:27). Dapat dilihat TUHAN walaupun mengeluarkan peringatan keras terhadap Nebukadnezar, justru di saat yang sama memberikan kesempatan bertobat. Tetapi penulis kitab selanjutnya dengan satu kalimat singkat mencatat hasilnya: 「Semuanya itu terjadi atas raja Nebukadnezar」 (Dan. 4:28). Dari penjelasan mimpi sampai digenapinya mimpi, terdapat jedah waktu 12 bulan. Nebukadnezar jika bersungguh hati secara tulus bertobat, pasti memiliki waktu yang cukup, Sayang sekali ia tidak ada mencintai kesempatan yang Allah berikan.

Berdasarkan penemuan arkeologi dan beberapa karya tulis zaman kuno, kota Babel adalah seuah ibukota yang sangat sangat megah besar. Tembok kota memanjang 8000 meter lebih, bagian atas tembok dapat dilalui 4 kereta; Taman Gantung yang termasuk sebagai salah satu pemandangan ajaib dunia. Saat Nebukadnezar di atas istana raja melihat semua ini, bergembira, lupa bahwa kuasa dan kekuatannya adalah karunia dari Yang Maha Tinggi, lebih lagi tidak mempedulikan peringatan yang datang dari atas, membanggakan diri mampu dengan kekuatan kuasa membangun kota, semua kemuliaan dikembalikan kepada diri sendiri (Dan. 4:30). Ia sama sekali tidak menduga bahwa suara perkataannya belum hilang, penghakiman sudah datang segera. Perikop menyebutkan Nebukadnezar dalam sekejap mata berubah dari raja penguasa yang paling tinggi di bawah langit, menjadi seperti seekor binatang yang berkeliaran, dan mengalaminya selama 7 masa. Ada peneliti memperkirakan ini adalah semacam fenomena kekacauan psikologis, yang disebut sebagai 「Therianthropy」 atau 「Lycanthropy」, pengidapnya akan berhalusinasi, merasa dirinya adalah binatang, tingkah laku dan kehidupan meniru binatang.

Dalam karya tulis sejarah Babel tidak dapat ditemukan catatan terkait Nebukadnezar mengidap penyakit ini. Salah satu penyebabnya adalah Babel karya tulis berfokus mencatat 13 tahun masa awal Nebukadnezar memerintah, hal-hal yang kemudian sangat jarang disebutkan; kemungkinan yang lain adalah Nebukadnezar tidak mau peristiwa ini dicatat (tepat seperti karya tulis Mesir tidak menyebutkan peristiwa orang Israel keluar dari Mesir). Tidak peduli bagaimanapun, Nebukadnezar pernah satu kali mengidap penyakit ini dan mundur dari takhta, memang benar-benar dicatat dalam Kitab Daniel.

Mencatat sampai di sini, kitab Daniel 4:34-37 kembali ke bentuk surat perintah (atau surat pengumuman). 7 masa yang ditentukan Allah sudah selesai (Dan. 4:25), Nebukadnezar menengadah ke langit (Dan. 4:34). Ini bukan tindakan melihat ke atas yang tanpa disadari, tetapi mengenal Allah yang melampaui (supra), mengakui dirinya sendiri adalah nihil di hadapan Allah (Dan. 4:35). Memahami hal ini, Nebukadnezar akhirnya kembali normal kesadarannya, ia segera memuji Yang Maha Tinggi ini. Pujian Nebukadnezar (Dan. 4:34-35, 37) memiliki beberapa titik berat:

  1. Allah adalah Mahatinggi, Tuhan Yang Hidup kekal (Dan. 4:34)
  2. Allah adalah Penguasa yang sebenarnya (Dan. 4:34)
  3. Allah adalah Tuhan yang bertindak menurut kehendak-Nya sendiri, tidak ada orang mampu menghalangi tangan-Nya (Dan. 4:35)
  4. Allah yang segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil (Dan. 4:37)
  5. Allah yang sanggup merendahkan mereka yang congkak (Dan. 4:37)

Setelah memahami Allah adalah besar dan mulia (Dan. 4:36) , Nebukadnezar tidak hanya kesadarannya kembali normal, juga kembali duduk di takhta raja. Surat pengumuman ditutup dengan pujian Nebukadnezar terhadap Yang Maha Tinggi.

Renungkan: Wibawa dan kuasa Nebukadnezar pada dunia saat itu sepertinya tidak ada tandingannya, tetapi kenyataan adalah 「Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya」 (Dan. 4:17, 25). Allah adalah Yang berkuasa, Dia mampu memakai orang siapapun untuk menggenapkan kehendak-Nya sendiri. Pada kenyataannya, Kitab Daniel dari sejak awal melalui peristiwa yang berbeda-beda membawakan pusat berita ini: adalah Allah yang membuat Nebukadnezar menang atas Yerusalem dan mengambil pergi perkakas-perkakas Bait Suci (Daniel 1:1-2); adalah Allah yang melalui mimpi memberi penyataan kepada Nebukadnezar, dan melalui hamba-Nya menjelaskan makna mimpi (Daniel fasal 2, 4); adalah Allah sendiri yang melindungi umat-Nya yang setia, dalam keadaan di bawah aniaya sama sekali tidak terluka (Daniel fasal 3); adalah Allah yang mengaruniakan negeri kepada Nebukadnezar. Tetapi saat Nebukadnezar menyombongkan diri merasa diri besar, melakukan berbagai ketidak-adilan, Allah menurunkan dia dari takhta raja: 「 yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak」 (Dan. 4:37)

“ Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing” (Rom. 12:3), saat seseorang melihat melampaui apa yang sepatutnya bagi dirinya sendiri, tanpa diragukan adalah mengijinkan diri terjerumus ke dalam sebuah bahaya krisis yang sangat besar. Di dalam Alkitab banyak tercatat contoh orang yang jatuh tersandung karena angkuh (lihat Kej. Fasal 3, 11). (Sesuai judul hari ini 「Kecongkakan Mendahului Kehancuran, Tinggi hati Mendahului Kejatuhan」)

Saudara dan saudari, kita harus waspada bertahan atas kemuliaan duniawi kosong yang berasal dari kuasa, harta, juga lebih lagi waspada keangkuhan rohani. Jika engkau memiliki berbagai kaarunia, pelayanan berbuah banyak, jangan lupa ini semua adalah datang dari karunia Allah, memahami 「Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga」 (Maz. 127:1)

Mohon Tuhan membantu kita, tidak peduli apakah berada di kedudukan tinggi atau tidak, memahami bahwa diri kita menempati tempat dan aturan yang diberikan Allah; agar kita selalu dengan hati Kristus Yesus sebagai hati kita, membuang pemusatan diri sendiri, berrendah hati, taat, dan bertekun menyelesaikan tugas dari Allah.