Tag Archives: Surat Kolose

Kolose 4:15-18

「Pesan akhir」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kolose 4:15-18 [ITB])
15 Sampaikan salam kami kepada saudara-saudara di Laodikia; juga kepada Nimfa dan jemaat yang ada di rumahnya. 16 Dan bilamana surat ini telah dibacakan di antara kamu, usahakanlah, supaya dibacakan juga di jemaat Laodikia dan supaya surat yang untuk Laodikia dibacakan juga kepadamu.
17 Dan sampaikanlah kepada Arkhipus: Perhatikanlah, supaya pelayanan yang kauterima dalam Tuhan kaujalankan sepenuhnya.
18 Salam dari padaku, Paulus. Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri. Ingatlah akan belengguku. Kasih karunia menyertai kamu.

Subparagraf ketiga (ayat 15-17) berisi pesan yang sepotong-sepotong. Ayat 15 Sampaikan salam kami kepada saudara-saudara di Laodikia; juga kepada Nimfa dan jemaat yang ada di rumahnya. Masuk akal untuk menyimpulkan bahwa ada dua atau lebih tempat pertemuan gereja di Laodikia. Rumah Nimfa merupakan salah satu tempat pertemuan bagi jemaat gereja Laodikia, dan dia mungkin adalah pengurus gereja. Ini adalah nama seorang wanita, dan Paulus tidak menyebut nama suaminya, menunjukkan bahwa dia adalah kepala rumah, diperkirakan dia masih lajang atau janda.

Kolose hanya sekitar sepuluh mil jauhnya dari Laodikia, jadi seharusnya ada hubungan erat antara kedua gereja itu, gereja-gereja di kedua tempat itu berhubungan erat, dan orang-orang percaya saling berkomunikasi. Paulus berpesan agar mereka berbagi surat dan ajaran yang Paulus berikan kepada mereka masing-masing.

Paulus yakin bahwa orang percaya di berbagai tempat juga mengetahui bahwa surat-suratnya tidak hanya ditulis untuk peristiwa-peristiwa khusus dari kelompok tertentu pada waktu tertentu, dan bahwa surat-surat itu tidak lagi relevan setelah waktu sudah berubah; tetapi merupakan wahyu dari Allah yang memiliki sifat universal dan otoritas berlaku untuk waktu kapan pun, tempat mana pun.

Surat ini bukan hanya surat Paulus kepada gereja Kolose, tetapi juga surat Paulus kepada gereja-gereja lain, dan juga surat yang diilhami oleh Roh Kudus kepada Paulus untuk ditulis kepada semua gereja; Anda dan saya, yang membaca Kolose hari ini, adalah penerima surat ini.

Perlu juga disebutkan bahwa baik kota Kolose maupun gereja Kolose dihancurkan oleh gempa bumi besar pada tahun 61 M; jika surat Kolose tidak dibagikan dan disalin secara luas di gereja-gereja di kota-kota lain, kita tidak akan dapat bacanya hari ini.

Paulus melanjutkan untuk membuat pesan pribadi. Arkhipus adalah rekan kerja yang dikirim oleh Paulus ke gereja Kolose, dan namanya disebutkan di awal Surat Filemon (Filemon 1-2). Arkhipus memiliki hubungan dekat dengan tim Paulus dan dikenal sebagai rekan seperjuangan.

Kalimat terakhir adalah kata-kata pribadi Paulus, termasuk salam, nasihat, dan berkat. Salam dari padaku, Paulus. Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri. Ingatlah akan belengguku. Kasih karunia menyertai kamu (4:18).

Surat-surat Paulus biasanya didikte olehnya dan ditulis oleh orang lain, dan terakhir setelah selesai barulah ia menandatangani untuk menunjukkan keaslian surat-surat dan kesungguhan salamnya (lih. 1 Korintus 16:21; 2 Tesalonika 3:17. Filemon 19). Alasan mempekerjakan seorang penulis lain bukanlah karena Paulus malas atau karena tulisan Yunani Paulus tidak cukup baik. Juru tulis adalah praktik umum pada saat itu, dan beberapa orang dilatih sebagai juru tulis, dan tulisan mereka kecil, menghemat papirus yang mahal, dan ditulis dengan rapi agar mudah dibaca.

Ingatlah akan belengguku, ini mungkin permintaan, atau peringatan dalam doa, atau bantuan keuangan (Galatia 2:10), atau bahkan harapan bahwa seseorang akan dikirim untuk merawat dia (gereja di Filipi mengutus Epafroditus, lihat Filipi 4:14-18). Ada orang yang percaya bahwa ini menambah bobot surat Kolose. Orang yang menulis surat itu sekarang berada di penjara. Ini adalah pelajaran dari seorang pria yang bersedia dan membayar harga hidupnya untuk imannya; ini adalah pesan perpisahan, surat dari penjara, dari rekan kerja yang mungkin akan segera meninggal.

Kita telah membaca seluruh Surat Kolose, dan kita juga telah membaca sebagian dari kehidupan pribadi penulis melalui surat ini. Paulus dipenjarakan, dia tidak merasa kasihan pada dirinya sendiri untuk situasinya, tetapi bertekad melanjutkan misinya yang belum selesai di dunia; bahkan di penjara, dia tidak punya waktu untuk memikirkan keselamatan pribadinya, tetapi hanya berharap bahwa Tuhan akan membuka pintu baru. untuknya, dan memberikan dia pesan dan kuasa dari Roh Kudus sehingga lebih banyak orang dapat diselamatkan. Ini adalah kehidupan penyangkalan diri.

Selain berkeinginan untuk memenuhi misi Injil, Paulus juga memperhatikan kebutuhan gereja-gereja di berbagai tempat, termasuk gereja-gereja yang tidak berhubungan dengannya dan tidak didirikan olehnya, seperti Kolose dan Laodikia. Ketika Epafras memberi tahu Paulus tentang masalah di gereja Kolose dan Laodikia, Paulus segera menjadi perantara bagi mereka dan menulis dua surat kepada mereka. Seperti yang dapat dibayangkan, bahkan dengan ilham Roh Kudus, menulis surat Kolose yang memiliki pembahasan doktrin yang mendalam, bukanlah tugas yang mudah, dan Paulus pasti telah menghabiskan banyak waktu untuk berdoa dan berpikir. Meskipun Paulus, yang berada di penjara, seharusnya memiliki lebih banyak waktu, tetapi mengagumkan bahwa ia bersedia memakai dirinya dengan cara ini.

Renungkan:
Paulus mengabdikan hidupnya untuk misi Injil dan untuk kesejahteraan gereja-gereja. Ini adalah contoh selain Yesus Kristus untuk kita kagumi dan tiru.
Izinkan saya mengulangi pernyataan sentimental ini: Orang Kristen hidup untuk misi, kelangsungan hidup tidak pernah menjadi perhatian utama kita, tetapi adalah misi.


Renungan pemahaman Surat Kolose

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Kolose ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Kolose 4:10-14

Enam orang menitipkan salam
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kolose 4:10-14 [ITB])
10 Salam kepada kamu dari Aristarkhus, temanku sepenjara dan dari Markus, kemenakan Barnabas–tentang dia kamu telah menerima pesan; terimalah dia, apabila dia datang kepadamu 11 dan dari Yesus, yang dinamai Yustus. Hanya ketiga orang ini dari antara mereka yang bersunat yang menjadi temanku sekerja untuk Kerajaan Allah; mereka itu telah menjadi penghibur bagiku.
12 Salam dari Epafras kepada kamu; ia seorang dari antaramu, hamba Kristus Yesus, yang selalu bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah. 13 Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang dia, bahwa ia sangat bersusah payah untuk kamu dan untuk mereka yang di Laodikia dan Hierapolis.
14 Salam kepadamu dari tabib Lukas yang kekasih dan dari Demas.

Paragraf ini adalah rangkaian salam. Nama enam orang yang disebutkan di sini semua menitipkan salam yang ditujukan kepada gereja di Kolose dengan melalui Paulus dalam surat-suratnya. Mereka semua adalah anggota tim pelayanan Paulus, atau pekerja gereja tempat Paulus dipenjarakan. Tiga orang pertama (Aristarkhus, Markus, dan Yustus) adalah orang Yahudi, dan tiga orang terakhir (Epafras, Lukas, Demas) adalah orang non Yahudi.

Nama yang pertama adalah Aristarkhus. Nama ini sangat umum, dan jika Aristarkhus adalah orang dengan nama yang sama yang tercatat dalam kitab Kisah Para Rasul, maka dia adalah orang Tesalonika Makedonia (Kisah Para Rasul 20:4; 27:2. Lihat juga 19:29), rekan penting Paulus di akhir perjalanan pelayanannya, dan paling akhirnya menemani Paulus ke Yerusalem dan kemudian ke Roma. Dia mungkin tidak memiliki karunia mengajar dan menggembalakan, dan murni berada di sisi Paulus, mengurus kehidupan sehari-hari sang rasul. Inilah sebabnya mengapa Paulus berkata Aristarkhus, temanku sepenjara (yang berada di penjara bersamaku). Paulus berada di penjara, dan begitu juga Aristarkhus, yang merawatnya.

Di balik setiap Maria yang sukses, ada satu atau lebih Martha yang memberi tanpa pamrih. Jika Paulus adalah peran utama di depan panggung, ada beberapa rekan kerja di belakangnya yang mendukung pelayanan dan kehidupannya di belakang layar. Terutama di tahun-tahun terakhir pelayanan Paulus, dia dipenjarakan dan lemah, jika tanpa perawatan dan bantuan rekan kerja lainnya, sulit bagi Paulus untuk memancarkan sisa cahaya di bagian akhir hidupnya. Oleh karena itu, penyelesaian misi Injil selalu tergantung pada koordinasi tim; setiap orang melayani sesuai dengan karunia mereka, dan tidak ada yang bisa menggantikan yang lain. Paulus mengakui bahwa Aristarkhus dan yang lainnya adalah temanku sekerja untuk Kerajaan Allah.

Nama Markus sudah tidak asing lagi bagi kita. Ibunya adalah anggota penting dari pertemuan keluarga (Kisah 12:12), dan dia adalah sepupu Barnabas, sebelumnya dikenal sebagai Yohanes (Kisah 12:25), dan diperkenalkan sebagai anggota tim misionaris Paulus dan Barnabas; tetapi karena Markus meninggalkan tim di tengah perjalanannya di Pamfilia (Kis. 15:38), ia dianggap oleh Paulus sebagai orang yang tidak bertanggung jawab. Ketika Paulus dan Barnabas merencanakan perjalanan misi kedua mereka di Antiokhia, Barnabas ingin membawa Markus lagi, tetapi Paulus dengan tegas menentangnya. Akibatnya, keduanya berpisah. Barnabas pergi dengan Markus, sementara Paulus pergi ke Barat bersama Silas sebagai pendampingnya (lihat Kis. 15:33-40). Justru karena Paulus menolak Markus, maka ia memilih seorang pemuda lain, Timotius, sebagai rekan kerja di Listra, dan ia membuat pengecualian karena Timotius belum disunat dan harus segera dilakukan (lihat Kis. 16: 1-4).

Mungkin ketekunan Barnabas terhadap Markus, dan pembinaan yang sungguh-sungguh, yang pada akhirnya membantu Markus tumbuh dan dewasa. Dia kemudian bergabung dengan tim Paulus sebagai anggota. Meskipun dia tidak ditugaskan sebanyak Timotius.

Orang ketiga yang menitipkan salam adalah Yesus yang disebut Yustus, atau yang namanya atau Yosua, nama khas Yahudi yang kita tidak tahu apa-apa. Yesus disebut Yustus, karena nama Yesus terlalu umum, menurut konvensi, sebutan tambahan akan berguna untuk identifikasi.

Hanya ketiga orang ini dari antara mereka yang bersunat yang menjadi temanku sekerja untuk Kerajaan Allah; mereka itu telah menjadi penghibur bagiku.

Yang dimaksud Paulus adalah: satu, hanya ada tiga orang Yahudi ini dalam tim pemberita Injilnya. Kedua, Paulus mungkin tidak berbicara tentang seluruh tim, tetapi hanya orang-orang yang mengurus kehidupan dan makanannya sehari-hari, mereka itu telah menjadi penghibur bagiku adalah arti dari penolong dalam kehidupan sehari-hari.

Penitip salam keempat, Epafras, yang namanya sudah muncul di 1:7. Epafras memberi tahu Paulus tentang situasi gereja di Kolose, sehingga Paulus terhubung dengan gereja di sini. Meskipun Epafras tinggal bersama Paulus untuk sementara waktu, dia masih peduli dengan gereja di Kolose dan berdoa untuk mereka. Paulus memperkenalkan Epafras sebagai orang yang memiliki karunia dan beban menjadi pendoa syafaat.

Dua nama terakhir: tabib Lukas yang kekasih dan dari Demas. Tradisi sejarah gereja mengatakan bahwa Lukas berasal dari Antiokhia. Dia menemani Paulus selama berada di penjara, dan tidak diketahui apakah dia melayani sebagai praktisi kesehatan Paulus.

Nama Demas juga muncul dalam 2 Timotius, tetapi yang dituliskan bukanlah hal yang baik: Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika (2 Timotius 4:10a). Tim misi Paulus menerima tanggung jawab yang sulit, dan harganya terlalu tinggi. Beberapa orang tidak tahan dan pergi.

Nama orang-orang yang disebutkan dalam laporan keluarga ini yakni yang menitipkan salam dan juga yang diutus membawa surat, seperti Onesimus dan Markus, semuanya terlibat dalam masalah kepegawaian gereja. Ada banyak perselisihan jangka panjang dan jangka pendek, yang harus ditangani dengan hati-hati. Lagi pula, tidak ada masalah dengan personel, masalah lain dapat diselesaikan dengan mudah.

Tidak ada solusi sederhana untuk masalah personel. Kunci masalahnya biasanya bukan keterampilan yang salah, tetapi penyimpangan dalam mentalitas. Terlalu umum bagi orang yang berbeda untuk memiliki kepribadian yang berbeda, pengetahuan dan pengalaman yang berbeda, dan pandangan yang berbeda tentang berbagai hal. Masalahnya bukan perbedaan pendapat, tetapi bagaimana mengelola perbedaan, mencari titik temu sambil menyimpan perbedaan, dan mencapai konsensus. Di sini kasih dan kepercayaan sangat penting. Paulus mengatakan dalam Efesus 4:2-3 enam prinsip dasar hubungan antar personal Kristen: rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera, itu adalah rahasia untuk membangun persekutuan hidup yang kuat dan tim pelayanan. Tentu saja, ini selalu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, dan kita perlu bersama-sama mengusahakannya.


Renungan pemahaman Surat Kolose

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Kolose ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Kolose 4:5-9

Tanggung jawab memberitakan Injil
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kolose 4:5-9 [ITB])
5 Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. 6 Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.
7 Semua hal ihwalku akan diberitahukan kepada kamu oleh Tikhikus, saudara kita yang kekasih, hamba yang setia dan kawan pelayan dalam Tuhan. 8 Ia kusuruh kepadamu dengan maksud, supaya kamu tahu akan hal ihwal kami dan supaya ia menghibur hatimu. 9 Ia kusuruh bersama-sama dengan Onesimus, saudara kita yang setia dan yang kekasih, seorang dari antaramu. Mereka akan memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang terjadi di sini.

Pengingat kecil kedua menyangkut hubungan orang percaya Kolose dengan tetangga mereka yang tidak percaya (4:5-6 Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang). Pengingat ini terkait dengan pengingat untuk berdoa syafaat di perikop sebelumnya, ketika Paulus mengajak orang-orang percaya di Kolose untuk berdoa, dia menunjukkan bahwa tujuan seumur hidupnya dan perhatian terbesarnya adalah untuk memberitakan Injil dan memimpin orang-orang non Yahudi untuk percaya kepada Tuhan Yesus, di sini dia mengalihkan fokusnya kepada diri orang-orang percaya di Kolose, mengharapkan mereka untuk berdoa bagi misi Injilnya. Selain itu, mereka juga harus berjuang untuk menyelesaikan misi Injil yang telah mereka terima dan jalani. Orang-orang luar berarti non-Kristen. Jika tidak berelasi dengan orang-orang yang tidak percaya, lalu bagaimana misi Injil dapat dipenuhi?

Banyak orang Kristen telah lama percaya kepada Tuhan, dan lingkaran kehidupan mereka menjadi semakin sempit, dan mereka hampir hanya bergaul dengan orang-orang Kristen. Orang kuno berkata: Tidak ada orang tidak terpelajar dalam komunitas kami, tetapi ada pelajar besar yang berbicara dan tertawa. Lalu kita berkata, Tidak ada orang berdosa dalam komunitas kami, tetapi ada orang suci yang berbicara dan tertawa. Kita memuliakan diri kita sendiri, mengklaim bahwa ini adalah pengudusan hidup; tetapi tentu saja ini bukan hal yang baik bagi gereja, karena sumber-sumber Injil telah dikeringkan. Gereja menganjurkan penginjilan persahabatan, jika kita tidak memiliki banyak teman-teman non-Kristen, bahkan jika kita tidak memiliki persahabatan, bagaimana kita bisa melakukan penginjilan persahabatan?

Pergunakanlah waktu yang ada berarti menghargai waktu, dan terjemahan literalnya adalah menebus waktu, dan di sini waktu tidak hanya waktu dalam pengertian umum, tetapi mengacu pada rencana penebusan Tuhan. Sekarang adalah waktunya yang telah menetapkan Allah bahwa orang-orang dapat diselamatkan dari murka Allah dengan menerima keselamatan Yesus Kristus, dan ini satu-satunya kesempatan mereka untuk keselamatan. Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu (2 Korintus 6:2), oleh karena itu, Pergunakanlah waktu yang ada tidak hanya menunjuk kepada berharganya waktu seperti emas, bukan sekadar menasihati Anda untuk menghargai masa muda Anda, tetapi terlebih pegang kesempatan, terutama untuk pegang kesempatan terakhir untuk memberitakan Injil. Seperti yang Yesus katakan, Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja (Yohanes 9:4) Kesadaran atas akhir zaman mendesak kita untuk segera memberitakan Injil.

Paulus memberikan dua nasihat tentang metode memberitakan Injil. Yang pertama adalah bertindak dengan bijaksana. Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, ayat 5 Ini bukan hanya menggunakan kata-kata dengan tepat ketika berbicara, tetapi juga menggunakan hikmat dalam interaksi sehari-hari, yang mencakup kebajikan Kristen dan keterampilan dalam tindakan. Yang kedua adalah untuk mengekspresikan perdamaian. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang (ayat 6), bicaralah dengan tenang, cobalah untuk tidak berdebat dan terjadi perselisihan dengan orang lain, dan gunakan titik masuk yang dapat dipahami dan disetujui orang lain untuk berbicara tentang iman keyakinan.

Banyak orang selalu berpikir bahwa memberitakan Injil kepada orang lain adalah untuk menyoroti perbedaan antara orang percaya dan orang yang tidak percaya: Saya seorang Kristen, Anda adalah non-Kristen; kita mempraktikkan monogami, satu pria dan satu wanita, seumur hidup; Anda sering terlibat dalam perselingkuhan dan pluralisme Seksualitas, dan bercengkeraman dan kumpul atau cerai sesuka hati …. Ada banyak orang yang bersikeras bahwa orang non-Kristen harus terlebih dahulu dituduh sebagai orang berdosa dan sudah tidak ada obatnya; jika pihak lain menolak untuk menundukkan kepalanya dan mengakui dosa-dosanya, maka tidak akan dapat berbicara dengannya tentang keselamatan dari Yesus Kristus. Jika kita memberitakan Injil selalu menekankan berbeda dan mengutuk orang, maka perselisihan antara pembicara dan pendengar tidak bisa dihindari, dan memberitakan Injil hanya menjadi tindakan menyinggung orang lain ! Aku benar, kamu salah; Aku benar, kamu jahat; Kamu pendosa terkutuk, jika kamu tidak percaya pada Tuhan, kamu pantas binasa.

Tetapi Paulus meminta kita untuk memberitakan Injil dengan cara yang damai, seperti garam sebagai bumbu, yang selalu larut dalam air tanpa suara dan warna, meresap ke dalam makanan, dan mempengaruhi orang lain tanpa terlihat. Dalam hal memberitakan Injil, jangan memenangkan perdebatan dan kehilangan misi. Seperti yang kita lakukan di rumah dan gereja, jangan berpikir tentang berjuang untuk memecahkan masalah dengan memenangkan perdebatan dan kehilangan hubungan.

Ayat 7-9 Semua hal ihwalku akan diberitahukan kepada kamu oleh Tikhikus, saudara kita yang kekasih, hamba yang setia dan kawan pelayan dalam Tuhan. Ia kusuruh kepadamu dengan maksud, supaya kamu tahu akan hal ihwal kami dan supaya ia menghibur hatimu. Ia kusuruh bersama-sama dengan Onesimus, saudara kita yang setia dan yang kekasih, seorang dari antaramu. Mereka akan memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang terjadi di sini.itu adalah bagian pesan kepada Kolose, seperti warta gereja dalam ibadah hari Minggu.

Bagian kecil pertama adalah susunan para utusan penghubung, dua utusan yang mengirim surat: Tikhikus dan Onesimus (4:7-9). Paulus menyebut mereka saudara kita yang kekasih dan hamba yang setia dan kawan pelayan dalam Tuhan.

Orang-orang percaya di Kolose mengenal Paulus, tetapi belum tentu mengenal para utusan yang dikirim oleh Paulus, jadi Paulus harus memperkenalkan mereka secara singkat. Tikhikus adalah diaken yang setia yang bekerja dengan Paulus. Dari Kisah Para Rasul 20:4, kita tahu bahwa Tikhikus berasal dari provinsi Asia. Provinsi Asia terletak di bagian barat Asia Kecil dan dengan ibukota di Efesus. Dalam dua surat Paulus lainnya, Tikhikus dikirim ke Efesus sebagai seorang utusan (Efesus 6:21; 2 Timotius 4:12), dan dalam satu surat lainnya ia dikirim ke Kreta untuk menemui Titus (Terlalu 3 12). kita percaya bahwa Tikhikus adalah rekan kerja yang penting di akhir pelayanan Paulus, mungkin setelah Timotius dan Titus, tetapi tidak setara dengan Silas! Karena Paulus biasa mengirim asisten kembali ke kampung halamannya sebagai utusan dan penghubung, Tikhikus dikirim ke Efesus, dan dia mungkin orang Efesus.

Satu lagi adalah nama Onesimus. Dia awalnya adalah budak Filemon, menjadi budak buronan, percaya kepada Tuhan Yesus, dan menjadi asisten Paulus. Kisah yang relevan dapat dipahami dengan jelas dengan membaca kitab Filemon, dan tidak akan dijelaskan secara rinci di sini.


Renungan pemahaman Surat Kolose

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Kolose ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Kolose 4:2-4

Tanggung jawab doa syafaat
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kolose 4:2-4 [ITB])
2 Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.
3 Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan. 4 Dengan demikian aku dapat menyatakannya, sebagaimana seharusnya.

Di akhir surat, Paulus selalu seperti seorang ibu yang mengantar putranya pergi, memberikan instruksi yang tampaknya sepele atau klise, tetapi sebenarnya sangat penting.

Pengingat kecil pertama adalah agar berdoa (4:2-4). Paulus meminta mereka untuk berdoa syafaat bagi pelayanan Paulus.

Dalam surat-surat Paulus, terutama di bagian awal dan akhir, selalu ada banyak catatan tentang doa dan syafaat. Paulus ingat bahwa pekerjaan rohani tidak dapat dilakukan mengandalkan daging manusia saja, tetapi harus bergantung pada tuntunan dan pertolongan Tuhan. Dan kunci pertumbuhan kehidupan jiwa rohani dan pencapaian pelayanan terletak pada tindakan Allah sendiri, oleh karena itu orang percaya harus berdoa dengan sungguh-sungguh dan meminta Allah untuk bertindak. Di awal buku ini, Paulus berulang kali menyebutkan doa syafaatnya bagi orang percaya di Kolose (1:3, 9). Dan di bagian penutup, dia meminta orang-orang percaya Kolose untuk berdoa bagi timnya. Doa adalah koneksi: orang percaya di tempat terpisah, dan doa menjadi sarana koneksi. Doa juga berbagi: yakni melalui doa kita berpartisipasi dalam pelayanan orang lain di tempat lain.

Paulus memutuskan bahwa pekerjaan misionarisnya tidak dapat dilakukan oleh timnya sendiri, dan melalui doa dan permohonan doa syafaat, dia meminta Allah untuk campur tangan, dan dia mengundang orang percaya di mana pun untuk berpartisipasi.

Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur. Berdoa jugalah untuk kami … , ketekunan bukan saja berarti sering, dan di sini fokus dia bukan berpesan agar mereka membangun kebiasaan doa yang tiada henti; tetapi ia meminta mereka untuk mengambil tanggung jawab berdoa syafaat bagi Paulus. Bertekun dalam doa berarti secara bertanggung jawab dan sungguh-sungguh memenuhi peran pejuang syafaat; ini adalah tanggung jawab yang harus mereka penuhi, dan mereka harus setia memikul tanggung jawab, setia kepada Paulus, setia pada peran yang ditugaskan kepada mereka. Setia berdoa dan membangun kebiasaan berdoa adalah di tingkat pribadi; memainkan peran sebagai penjaga yang menaikkan doa syafaat adalah masalah kepedulian terhadap orang lain. Keputusan untuk tidak tidur di malam hari demi menonton pertandingan sepak bola itu adalah pilihan aspek pribadi; keputusan untuk tidak tidur saat bekerja shift malam, itu bukanlah pilihan pribadi, tetapi tanggung jawab. Di Hong Kong, tidur saat bertugas adalah tindak pidana, dapat dihukum penjara.

Terlalu sering kita berjanji untuk berdoa bagi orang lain, tetapi lupa; kita juga mengabaikan tanggung jawab kita untuk berdoa bagi pekerja dan pelayanan gereja. Saya berjanji tetapi tidak melakukannya, tetapi saya pikir tidak ada masalah. Hal ini biasanya disebabkan oleh dua pemikiran yang salah: pertama, kita tidak berpikir bahwa doa itu berguna, itu hanya seremonial, dan tidak ada kegunaan efektif; kedua, kita tidak berpikir bahwa berdoa syafaat itu sendiri adalah pelayanan, komitmen, harus loyalitas dan setia untuk memenuhi tanggung jawab. Berdoa mohon Tuhan memperbaiki dua pemikiran kita yang salah.

Berjaga-jagalah sambil mengucap syukur …, kata berjaga-jaga memiliki makna menjaga dan tanggung jawab, biasanya dikaitkan bersama dengan doa. Ketika orang-orang percaya Kolose berdoa untuk Paulus, mereka menjaga dia dalam doa dan berbagi tanggung jawab pelayanannya. Bertekun dalam doa adalah sikap waspada . Nasihat Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya di Taman Getsemani menggabungkan doa yang sungguh-sungguh dengan berjaga-jaga (lihat Markus 13:35, 37).

Doa yang tekun tidak hanya untuk menjaga , tetapi juga untuk bersyukur. Berjaga-jaga adalah membuat orang memperhatikan krisis dan kebutuhan di depan mereka, dan memperhatikan kelemahan dan ketidakberdayaan manusia; bersyukur adalah membuat orang memperhatikan apa yang telah dilakukan Tuhan di masa lalu dan sekarang, dan untuk memiliki iman kepercayaan yang lebih besar atas kesetiaan-Nya. Berjaga-jaga dan bersyukur adalah dua unsur doa. Berjaga-jaga memberi tahu kita bahwa kita perlu berdoa; bersyukur memberi tahu kita bahwa kita dapat berdoa dengan percaya dan rasa aman.

Paulus, yang berada di penjara, tidak berharap untuk menggunakan doa orang lain untuk meminta kasih karunia untuk menambahkan manfaat apa pun bagi dirinya sendiri; sebaliknya, ia hanya berfokus pada pemenuhan misi Injil, termasuk memberikan kesempatan untuk memberitakan pesan dan menjadi mampu menyampaikan Injil dengan benar. Kehidupan Paulus berpusat pada Kristus dan berpusat pada misi, tidak meminta apa pun untuk dirinya sendiri, segalanya untuk Tuhan.

Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan. Membuka pintu artinya memberi kesempatan untuk berhubungan dan memberitakan Injil. Dalam pengalaman pelayanan Paulus, misi penginjilan sepenuhnya dikendalikan oleh Roh Kudus. Roh Kudus membimbing para rasul untuk pergi atau tinggal, dan mendorongnya untuk meninggalkan satu tempat dan memasuki tempat lain; Roh Kudus menutup satu pintu baginya dan membukakan pintu lain (lihat Filipi 1:12-14), ini tidak direncanakan sebelumnya oleh orang.

Rahasia Kristus adalah apa yang Paulus sebar beritakan, artinya rahasia yang berhubungan dengan Kristus. Karena 2:2 mengatakan, rahasia Allah adalah Kristus. Rahasia ini relevan untuk semua orang, dan mengenal rahasia Allah membawa kepada hidup yang kekal di masa depan, dan pengharapan yang sekarang (1:27).

Kekristenan adalah iman yang berpusat pada Yesus Kristus, pesan kekristenan adalah bicaralah tentang Yesus, dan tidak ada yang lain. Karena kita dipercayakan dengan tanggung jawab untuk mengungkap rahasia Allah, dan rahasia Allah itu adalah Kristus.

Ketika Paulus meminta mereka berdoa syafaat ini, dia membuat catatan kecil di samping: yang karenanya aku dipenjarakan. Ini mungkin peristiwa dalam Kisah Para Rasul 28:30-31 Paulus berada di Roma dipenjarakan. Ini adalah pertama kalinya surat Kolose ini menyebutkan situasi penulis: di balik jeruji besi. Paulus bukan sedang memakai pemenjaraan dirinya untuk menunjukkan kepada orang percaya tentang pengorbanannya bagi Tuhan; dia mencoba untuk menggambarkan pentingnya misi Injil bagi dirinya, sehingga dia bersedia memberikan segalanya dan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Karena misi ini terlalu penting, dia memohon kepada orang-orang percaya Kolose untuk berdoa syafaat bagi pemenuhan misinya; dan karena misi ini terlalu penting, orang-orang percaya di Kolose harus dengan sungguh-sungguh memikul tanggung jawab berdoa syafaat dan berjaga-jaga, dan tidak dapat diabaikan.

Renungkan:
Tidak ada keadaan eksternal yang cukup untuk menggoyahkan tekad Paulus untuk memenuhi misinya dan putus asa pada prospek memenuhi misinya. Bahkan dalam penjara, Paulus berdoa meminta kesempatan baru untuk memberitakan Injil; bukan untuk pembebasan, tetapi untuk kesempatan memberitakan Injil. Semangat pemberitaan Injil belum mati, semuanya masih mungkin.

Hari ini, gereja kita harus mempertahankan semangat misionarisnya.


Renungan pemahaman Surat Kolose

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Kolose ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Kolose 3:1-25

Iman dan moralitas
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kolose 3:1-25 [ITB])
1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. 2 Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. 3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. 4 Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.
5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, 6 semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). 7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.
8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.
9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, 10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; 11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.
12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. 13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. 14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. 15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.
16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. 17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. 19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. 20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. 21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. 23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. 24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. 25 Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.
4:1 Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga.

Paulus memakai seluruh pasal tiga untuk memberikan ajaran etis. Kita secara komprehensif merenungkan hubungan antara iman dan perilaku moral.

Kekristenan bukanlah agama moral. Perkataan bahwa semua agama mengarah pada kebaikan tidak sepenuhnya berlaku untuk kekristenan. Kalimat pertama dalam kekristenan bukanlah manusia dasarnya baik, tetapi manusia dasarnya tidak baik. Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik … (Roma 7:18). Manusia memiliki hati nurani dan pikiran berbuat baik, dengan susah payah membedakan antara yang baik dan yang jahat, sifat dosa menghalangi manusia untuk melakukan yang baik walau mengetahui yang baik, Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Orang mungkin membuat dirinya terlihat baik dalam perilaku lahiriah, seperti orang-orang Farisi di zaman Tuhan Yesus; tetapi apakah dunia hatinya terang dan murni adalah hal lain, ini tidak dapat dikontrol dengan kemauan. Kritik Yesus terhadap orang Farisi berlaku bagi para moralis dari segala usia (Mat. 23:27-28).

Manusia tidak bisa mengandalkan kemampuan dirinya sendiri untuk berbuat baik, ini adalah diagnosis pertama dari Kekristenan terhadap manusia. Ada dua resep: pertama, kehidupan masyarakat perlu diubah total, yakni melalui penebusan Yesus Kristus, manusia memperoleh hidup baru, dan hidup baru adalah prasyarat untuk kehidupan yang baru. Kedua, manusia perlu mengandalkan kekuatan eksternal. Bahkan jika hidup diubah, tetapi karena diri lama masih ada, orang Kristen masih berjuang di antara kedua hukum sepanjang hidup mereka, jadi mereka harus menggunakan pertolongan dari luar dirinya. Ada dua jenis pertolongan dari luar dirinya: pertama, berdiamnya Roh Kudus, yang menolong kita memperkuat hati nurani kita yang rapuh; kedua, gereja, orang percaya harus hidup dalam komunitas dan menjalani kehidupan yang saling menguatkan. marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita (Ibrani 10:24) Kehidupan orang Kristen yang disucikan tidak dapat terpisah dari gereja, yang berperan dalam pengajaran dan disiplin. Dengan bantuan Roh Kudus dan gereja, orang Kristen walau bisa tersandung tetapi berusaha keras untuk hidup kudus.

Kekristenan bukanlah agama moral. Namun, harus dikatakan pada saat yang sama bahwa kekristenan adalah iman yang berbicara tentang moral.

Fakta bahwa orang tidak dapat mencapai standar moral yang benar dan lengkap tidak berarti bahwa standar moral tidak ada. Allah adalah Tuhan yang memiliki moral, dan Alkitab memberi tahu kita bahwa Allah memiliki tuntutan moral yang jelas bagi manusia, yang merupakan syarat untuk hubungan-Nya dengan manusia. Allah membuat perjanjian dengan manusia, dan apa yang dituntut dari manusia dalam perjanjian itu pertama-tama iman, agama dan moralitas. Bagian pertama dari Sepuluh Perintah adalah agama dan bagian kedua adalah moral. Allah tidak memandang berat kewajiban agama manusia untuk mempersembahkan korban dan melakukan ritual, tetapi menuntut manusia untuk menjadi manusia religius dan manusia bermoral. Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?” “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu? (Mikha 6:7-8)

Yesus Kristus meringkas tuntutan hukum Allah adalah mengasihi Allah dan mengasihi orang lain, yang pertama adalah religius dan yang terakhir adalah moral. Yesus Kristus menjelaskan bahwa Allah memperlakukan orang dengan ukuran dan cara yang sama seperti ia memperlakukan orang-orang di sekitarnya. Dia tidak mengatakan: Jika kita baik kepada Allah, maka Allah akan baik kepada kita; tetapi Dia berkata: Jika kita baik kepada sesama manusia, Allah akan baik kepada kita.

Allah menuntut manusia untuk taat. … Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan (1 Samuel 15:22) Dan sebagian besar perintah Allah kepada manusia berkaitan dengan tuntutan moral. Sebagian besar surat Paulus dan rasul Perjanjian Baru lainnya berhubungan dengan ajaran moral, seperti halnya kitab Kolose yang sedang kita pelajari.

Patut diperhatikan, kekristenan tidak meninggikan kesalehan seseorang untuk mencapai kesempurnaan di masa lalu dan sekarang, kita sama sekali tidak mengenali keberadaan manusia sempurnaatau orang kudus di masa lalu dan sekarang, tidak ada teladan di bumi yang layak untuk diikuti dan ditiru oleh hati dan jiwa kita selain Yesus Kristus. Yang terpenting, apa yang dicari orang Kristen di dunia bukanlah pemenuhan diri. Dan menghidupi diri Anda yang sebenarnya bukanlah apa yang Alkitab ajarkan; yang harus kita hidupi hanyalah Kristus di dalam kita, untuk menghidupi Kristus. Kita harus menghidupi karakter Kristus, tetapi yang terpenting adalah menjalankan dengan hidup misi yang dipercayakan Kristus.

Pemenuhan diri bukanlah perhatian Kristen. Ajaran etis kita, tuntutan etis Allah bagi manusia, semuanya berfokus pada hubungan antar pribadi. Surat Kolose mengharuskan kita untuk memperlakukan pasangan, orang tua dan anak-anak, tuan dan hamba dengan cara yang tepat; semua tuntutan moral adalah antar-pribadi dan relasional, dan hanya dapat dicapai di tengah masyarakat, bersembunyi di gunung, meninggalkan masyarakat, ada tidak perlu memiliki keikhlasan dan ketulusan.

Makna lain dari mementingkan etika adalah untuk menekankan realisasi dan pengamalan iman dalam kehidupan sehari-hari.

Penyimpangan umum di antara orang Kristen adalah mengabaikan signifikansi keagamaan dari tanggung jawab kehidupan sehari-hari. Kita memfokuskan latihan iman kita pada saat-saat tertentu yang dianggap suci dan terlibat dalam kegiatan tertentu yang diklasifikasikan sebagai spiritual, seperti pelayanan gereja dan penginjilan, tetapi sebenarnya kehidupan sehari-hari adalah tempat paling penting di mana iman dipraktikkan.

Ketika Paulus berbicara tentang peran dan tanggung jawab keluarga, dia selalu berbicara dari sudut pandang iman. Ini benar di dalam Allah. Karena ini menyenangkan Allah. Seperti dilakukan untuk Allah, bukan untuk manusia. Hanya ketika kita mengubah tanggung jawab manusia menjadi tanggung jawab iman barulah tepat barulah dapat melihat dengan benar nilai tanggung jawab manusia, itu penting karena ini adalah tempat di mana kita mempraktikkan iman kita. Tidak ada praktik iman yang terpisah dari dunia manusia, tidak ada praktik iman yang terlepas dari hubungan antar personal, dan tidak ada praktik iman yang terlepas dari kehidupan sehari-hari.

Renungkan:
Orang Kristen memang memiliki arah yang berbeda berbeda dari dunia, tetapi itu bukan secara fisik atau kehidupan, tetapi dalam sikap dan mental. Secara fisik, kita masih di dunia; secara mental, kita tidak mengikuti dunia, kita tidak duniawi. Kita ada di dunia tetapi bukan termasuk golongan dunia.
Kita hidup dalam kehidupan ini, saat ini juga, tanpa meninggalkan praktik iman di dunia, kita mengenal Allah dalam hidup ini, menerima misi-Nya, dan melakukan kehendak-Nya dalam hidup ini.


Renungan pemahaman Surat Kolose

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Kolose ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Kolose 3:22-4:1

Antara hamba dan tuan
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kolose 3:22-4:1 [ITB])
22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. 23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. 24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. 25 Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.
4:1 Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga.

Akhirnya, sampai pada hubungan tuan-hamba. Dari kitab Filemon, kita tahu bahwa gereja Kolose ada tuan pemilik budak, dan tentu saja ada juga banyak budak (lihat 3:11); dapat dipercaya bahwa di beberapa keluarga, baik tuan maupun hamba menghadiri gereja pada waktu yang sama.

Melihat bagian kitab suci ini, peringatan Paulus kepada hamba ada 4 ayat, tetapi perintah kepada tuannya hanya ada 1 ayat, tetapi ini tidak berarti bahwa Paulus condong kepada tuannya. Sebenarnya, Paulus tidak membuat tuntutan baru kepada para hamba. Taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal bukanlah tuntutan baru sama sekali. Dalam masyarakat di mana tuan menjalankan kuasa hidup dan mati atas budak, bagaimanakah budak bisa tidak mematuhi tuan mereka? Apakah mereka punya pilihan?

Sama seperti sebelumnya, untuk pihak yang lebih lemah seperti istri dan anak-anak, Paulus tidak membuat tuntutan baru, tetapi hanya berharap mereka akan memahami kembali semua norma perilaku mereka dari perspektif iman, dan tetap melakukan hal yang sama, tidak ada peningkatan atau pengurangan, tetapi pemahamannya sama sekali berbeda. Paulus meminta istri untuk terus tunduk kepada suami mereka, tetapi menekankan bahwa ini adalah sikap yang tepat dari wanita Kristen, itu pantas di dalam Tuhan; dia juga meminta anak-anak untuk menaati orang tua mereka, mencatat bahwa ini adalah sesuatu yang menyenangkan Tuhan, karena ini menyenangkan Tuhan. Dengan kata lain, ini adalah tanggung jawab di dunia dan juga merupakan tanggung jawab dalam iman; terus lakukan itu untuk menyenangkan tidak hanya suami atau orang tua, tetapi juga berkenan kepada Tuhan.

Ketika berbicara tentang sikap hamba terhadap tuannya, Paulus mengatakan banyak hal, ketika kita melihat lebih dekat, itu adalah kata-kata penghiburan dan dorongan, bukan tuntutan perilaku. Memang benar bahwa suami yang buruk akan menganiaya istrinya, dan orang tua yang sesat akan menganiaya anak-anaknya, tetapi kemungkinannya tidak terlalu banyak. Kebanyakan suami akan memperlakukan istrinya dengan baik, dan kebanyakan orang tua akan memperlakukan anak-anaknya dengan baik. Berbeda dengan hubungan antara suami dengan istri dan ayah dengan anak, ketidakadilan dalam hubungan antara tuan dan hamba lebih serius, tidak ada hubungan darah sebagai penyangga, lebih mudah terjadi tindakan kekerasan. Istri terkadang melawan perilaku tidak masuk akal suaminya, dan anak-anak juga akan melawan perilaku tidak masuk akal orang tua mereka, tetapi hamba memiliki sedikit ruang untuk melawan tuannya. Bahkan dalam peradaban maju saat ini, hubungan antara tuan dan hamba tidak dapat dikatakan setara, dan masih menyebar dari waktu ke waktu berita tentang majikan yang melecehkan pembantu rumah tangga yang datang dari negara asing. Karena hamba lebih cenderung diperlakukan tidak adil oleh tuannya, Paulus memberikan nasihat yang lebih rinci kepada hamba-hamba Kristen.

Paulus pertama-tama meminta para hamba untuk menyesuaikan mentalitas mereka dan menganggap pekerjaan yang ada sebagai praktik iman dan tugas yang ada sebagai tugas iman. Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Lalu Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. Budak adalah untuk mematuhi tuannya, tetapi budak Kristen memahami bahwa yang mereka patuhi pada akhirnya adalah Tuan yang di surga, bukan tuan yang di bumi. Kita melayani Tuhan dalam pekerjaan kita sehari-hari, itu menghilangkan kebencian dari hati kita, dan tidak perlu bertanya-tanya apakah tuan yang tidak bermoral ini layak untuk hidupnya. Melakukannya untuk Tuhan sangat berharga, tidak peduli betapa sulitnya itu, kita tidak bekerja untuk menyenangkan tuan di bumi, tetapi untuk berkenan dan menyenangkan Tuhan, maka kita tidak bisa hanya bekerja asal kelihatan bagus di permukaan; tetapi dengan tulus melakukan setiap pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan jujur. Prinsip dalam bekerja. Paulus bukan sedang berbicara mewakili bos, berusaha membujuk hamba untuk bekerja dengan tekun dengan alasan iman. Harus dikatakan bahwa orang yang bekerja keras dan melakukan segala sesuatu dengan hati-hati akan memiliki kehidupan yang lebih mudah dan lebih bahagia daripada orang yang berpikir bagaimana bisa malas sepanjang hari. Seseorang yang mengabdikan dirinya untuk pekerjaan dengan sepenuh hati, memiliki tuntutan untuk dirinya sendiri, dan berusaha untuk keunggulan (craftmanship). Kita tahu bahwa banyak karya seni luar biasa yang diturunkan dari generasi ke generasi dibuat oleh budak.

Paulus tahu bahwa meskipun hamba melakukan segalanya dengan baik, dia tidak mendapatkan balasan yang adil dari tuannya. Jadi hamba hanya bisa mengharapkan balasan yang adil dari Tuhan. Kita percaya bahwa pekerjaan kita adalah melayani Tuhan, dan kita berharap mendapat upah dari Tuhan. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.

Paulus menambahkan: Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang (ayat 25). Seorang tuan yang memperlakukan hamba-hambanya secara tidak adil, pada akhirnya tidak akan luput dari hukuman Tuhan. Kebaikan dibalas dengan kebaikan, dan kejahatan dibalas dengan kejahatan, jika belum dibalas itu karena waktunya belum tiba.

Peringatan Paulus kepada tuan-tuan hanya satu kalimat sudah cukup: Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga. Ini mengulangi pesan utama dari Khotbah Yesus Kristus di Bukit: bagaimana Anda memperlakukan orang lain, Tuhan akan memperlakukan Anda seperti yang Anda lakukan. Jika seseorang berani mengeksploitasi, menindas, dan melecehkan hambanya? Tuhan akan mengukur dia dengan alat ukur yang sama dan membalaskan dengan memperlakukan dia dengan cara yang sama.

Dalam hubungan tiga pasang ini, Paulus mementingkan kewajiban dan tanggung jawab di dunia manusia dan dalam iman; tetapi ia tidak memperhatikan hak kedua belah pihak. Keyakinan yang membutuhkan penyangkalan diri tidak terlalu menekankan hak secara etis.

Renungkan:
Pentingnya keluarga bagi orang-orang tidak perlu banyak dijabarkan lebih panjang lagi. Keluarga adalah tempat kehidupan yang paling inti dari seseorang sejak saat lahir, setiap orang ditugaskan untuk sebuah keluarga, dengan orang tua dan hubungan turunan lainnya, tidak ada pilihan. Justru karena keluarga adalah inti dari kehidupan kita, itu juga merupakan tempat penting bagi kita untuk mengamalkan iman kita, dan tempat ujian untuk menyaksikan keaslian iman kita. Manifestasi iman saya di gereja sedikit banyak memiliki unsur pertunjukan di hadapan orang, dan manifestasi iman saya di rumah adalah yang paling nyata. Orang di luar bukan saksi terbaik atas iman saya, tetapi adalah istri dan anak saya. Oleh karena itu, untuk menjadi orang Kristen sejati, dimulai dari keluarga.


Renungan pemahaman Surat Kolose

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Kolose ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Kolose 3:18-21

Pentingnya etika keluarga
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kolose 3:18-21 [ITB])
18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. 19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. 20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. 21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.

Di sini Paulus memfokuskan tanggung jawab etis orang Kristen dalam kehidupan keluarga. Isi paragraf ini memiliki sedikit hubungan dengan dua pasal sebelumnya, dan dapat dianggap sebagai pasal yang berdiri sendiri. Menariknya, perikop ini sangat mirip dengan ajaran Paulus dalam Efesus 5:22-6:9, dan ada banyak kesamaan dengan ajaran 1 Petrus 2:18-3:7. Demikian juga 2 Timotius 8-15; 6:1-2; Titus 2:1-10 juga merupakan ajaran tentang etika keluarga. Berdasarkan fenomena di atas, kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

Pertama, etika keluarga ini berlaku untuk semua orang percaya: ajaran dalam perikop ini tidak unik untuk gereja Kolose, Paulus hanya membuat ajaran yang relatif standar tentang etika keluarga di akhir suratnya. Ajaran ini bersifat umum dan universal, dan tidak mengkritik atau mengoreksi kesalahan tertentu; ini merupakan pengingat positif, mendorong orang percaya untuk bertindak sesuai dengan kebenaran, yang universal dan berlaku untuk semua orang.

Kedua, etika keluarga adalah bagian dari apa yang oleh gereja mula-mula diidentifikasi sebagai kebenaran mendasar: jika pengajaran perikop ini tidak khusus untuk Kolose atau Efesus atau beberapa gereja, tetapi Paulus dan Petrus secara rutin mengajarkannya; kita bisa yakin bahwa ini adalah sebuah ajaran umum dari gereja mula-mula, dan itu adalah konsensus para rasul tentang penerapan kebenaran, dan bahwa ini adalah ajaran dasar iman Kristen dan tidak bisa tidak diajarkan.

Mengapa etika keluarga begitu penting? Orang-orang percaya dari gereja mula-mula hampir semuanya adalah orang biasa yang tidak memiliki kekuasaan dan kedudukan, dan hal-hal besar tentang negara bukanlah wilayah urusan mereka; selain misi Injil (dalam arti sempit, khotbah, pertobatan orang), praktik Kekristenan adalah kesaksian hidup di dunia kehidupan rakyat jelata, dan keluarga harus menjadi salah satu adegan terpenting.

Juga harus ditunjukkan bahwa sebagian besar gereja mula-mula mengadopsi bentuk gereja rumah. Orang percaya berkumpul di rumah dan memberitakan Injil kepada kerabat mereka. Banyak anggota gereja memiliki hubungan darah, dan keluarga adalah unit dasar gereja. Jika hubungan keluarga orang percaya tidak harmonis, dan perilaku di rumah tidak sesuai, pasti akan mempengaruhi hubungan antar anggota gereja. Jadi, hubungan keluarga mempengaruhi hubungan gereja. Etika keluarga juga merupakan bagian penting dari etika gereja.

Ini menyangkut praktik-praktik yang diperlukan untuk menjaga legitimasi dan stabilitas keluarga Kristen, dan memiliki kepraktisan yang kuat (bahkan melampaui etika), sehingga ini tidak hanya menjadi kode etik bagi keluarga Kristen, tetapi juga dapat dianggap sebagai pedoman menjalankan keluarga Kristen. Serupa dengan ajaran di Efesus, etika keluarga dibahas di sekitar tiga hubungan utama keluarga: suami dan istri, orang tua dan anak, dan tuan dan hamba.

Ada yang mengatakan bahwa etika keluarga yang dibahas oleh Paulus tampaknya bias terhadap laki-laki. Apakah Paulus memperlakukan pria lebih tinggi? Tidak, alasannya adalah bahwa Paulus memiliki tuntutan yang lebih tinggi terhadap pria yang adalah suami, ayah, dan tuan. Paulus berkata kepada mereka: Suami harus mengasihi istrinya, ayah tidak boleh menyakiti hati anak-anaknya, dan tuan harus berlaku adil terhadap hambanya. Dalam masyarakat patriarki, istri patuh pada suami, anak patuh pada orang tua, dan hamba patuh pada tuannya. Jika hamba tidak memiliki hak untuk memilih itu adalah wajar di zaman. Tetapi suami mengasihi istri, ayah menghormati anak, dan tuan memperlakukan hambanya dengan adil, itu bukan masalah biasa, ini melibatkan tuntutan etika. Bagaimanapun, suami, ayah, dan tuan adalah pihak yang kuat dan dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan kepada pihak yang tidak berdaya, tetapi ajaran Paulus dengan jelas membatasi kekuasaan mereka dan mengharuskan mereka untuk memperlakukan dengan hormat milik mereka.

Dalam hubungan antara suami dan istri, ajaran Paulus sangat sederhana, istri harus tunduk kepada suami, suami harus mengasihi istri (ayat 18-19). Alasan yang ia berikan sederhana: seorang istri tunduk kepada suaminya, sebagaimana adanya di dalam Tuhan; itu adalah sikap yang paling tepat seorang Kristen, sepadan dengan identitas iman. Adapun kasih suami kepada istrinya, dia tidak memberikan alasan apa pun, tetapi menambahkan: janganlah berlaku kasar terhadap dia. Paulus menunjukkan bahwa suami harus memperlakukan dengan baik kepada istrinya.

Kasih melampaui pertimbangan untung rugi. Seorang suami mengasihi istrinya dan tidak dapat memperlakukannya sebagai hamba, sekadar pasangan seksual, atau milik yang bisa dibuang; dia juga tidak dapat menuntut istri selalu hanya memberi tetapi sendiri ia harus mau membayar harga. Kasih iman kristiani berbicara dedikasi dan pengorbanan, terutama dalam kitab Efesus, Paulus menuntut kasih seorang suami kepada istrinya setinggi kasih Kristus kepada gereja, dan menuntut seorang suami untuk memberikan segalanya, termasuk hidupnya sendiri, untuk melengkapi istrinya (Efesus 5:25-33).

Permintaan Paulus agar para suami mengasihi istri mereka dan memperlakukan mereka dengan baik adalah instruksi yang paling tepat waktu dalam masyarakat Kolose saat itu; dan masih yang paling efektif di dunia saat ini. Kita dapat mendengar banyak ahli pernikahan dan keluarga berbicara tentang hubungan pernikahan yang ideal, sepuluh perintah tentang bagaimana suami dan istri, rahasia keluarga yang bahagia dan sebagainya; tetapi untuk mencapai kebahagiaan pernikahan dan keluarga, tidak perlu rumit, cukup memiliki kasih dan rasa hormat satu sama lain. Dalam banyak pernikahan yang bahagia, pasangan suami istri tidak mendapatkan pelatihan profesional, mereka hanya saling mengasihi dengan sepenuh hati, memberikan diri mereka sendiri tanpa syarat, dan menjalani kehidupan yang manis seumur hidup.

Adapun orang tua dan anak-anak, permintaan Paulus kepada orang tua bukanlah bagaimana membesarkan anak-anak mereka dengan cara yang positif sehingga mereka dapat tumbuh dengan sehat (lihat Ef 6:4), tetapi sebuah pengingat negatif khusus: janganlah sakiti hati anakmu, yang berarti tidak kasar terhadap mereka dan terlibat konflik serius dengan mereka, alasannya adalah supaya jangan tawar hatinya, yang dalam jangka panjang akan menyebabkan kerusakan emosional dan psikologis. Tawar hatinya adalah hilangnya harga diri dan kepercayaan diri, kecil hati, kehilangan tekad. Orang tua yang terlalu keras dan kuat dapat dengan mudah membayangi hati anak-anaknya, membuat mereka menjadi penakut dan menarik diri, melarikan diri saat menghadapi masalah, tidak berani berpendapat, dan menolak bertanggung jawab. Dengan mengubah perintah ini menjadi pengajaran yang positif, Paulus memperhatikan kesejahteraan emosional dan psikologis generasi berikutnya. Selain pembekalan materi dan penanaman pengetahuan dan keterampilan, juga penting untuk membudayakan mereka agar menjadi orang yang memiliki harga diri dan kepercayaan diri, menjadi positif, optimis, tegas dan berani.

Anak-anak harus mematuhi orang tua mereka, ini adalah aturan yang tidak diucapkan. Namun sebagai seorang ayah, jangan mudah melukai perasaan anak dan merusak kepercayaan dirinya. Dalam masyarakat Romawi 2.000 tahun yang lalu, anak-anak kecil yang belum dewasa belum memiliki kepribadian yang mandiri. Ini merupakan tuntutan yang besar, dan bahkan untuk hari ini, itu merupakan ajaran yang modern.


Renungan pemahaman Surat Kolose

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Kolose ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Kolose 3:16-17

「Hidup bersinar seperti cahaya terang」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kolose 3:16-17 [ITB])
16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. 17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

Tuntutan moral bukanlah penyamaran yang tidak disengaja, tetapi merupakan sebuah pilihan (choice): kita memutuskan untuk melakukannya; sebuah latihan (control): kita mendisiplinkan diri kita sendiri untuk menjadikannya kebiasaan; dan akhirnya sebuah perubahan (change): tekad dan latihan kita, membuat transformasi hidup.

Telah dikatakan bahwa masih sangat tidak cukup jika hanya mengakui bahwa Kristus adalah Juruselamat; kita juga harus dengan tulus mengakui bahwa Kristus adalah Tuhan kehidupan kita (Tuan atas kehidupan). Kristus adalah Tuhan adalah inti dari iman kita (1 Kor. 12:3). Jika Kristus tidak menjadi Tuan kita, maka Dia tidak menjadi Juruselamat kita. Karena keselamatan bukan berarti kita hanya menerima hadiah eksternal dan menambahkan sesuatu yang disebut keselamatan ke dalam hidup dan kehidupan asli kita; tetapi itu adalah bahwa kita dipersatukan dengan Kristus, mati, dikuburkan dan dibangkitkan bersama-Nya, mendapatkan kehidupan baru di dalam Kristus. Tanpa kelahiran kembali yakni mati dan bangkit bersama Kristus, dapatkah seseorang dianggap diselamatkan hanya sekadar dengan mengangkat tangannya? Tentu saja tidak.

Mari kita lihat dua ayat terakhir dari perikop ini.
Ayat 16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Karena hampir tidak ada ayat dalam Perjanjian Baru yang secara langsung mendukung kebaktian hari Minggu (hari Tuhan), liturgi, dan pelayanan musik gereja kita, banyak yang memandang ayat 16 sebagai dasar alkitabiah untuk liturgi penyembahan dan teologi musik penyembahan gereja, tetapi interpretasi seperti itu sama sekali di luar konteks perikop ini. Paulus jelas di sini adalah membahas masalah moral. Dia berbicara tentang cara orang Kristen bergaul satu sama lain. Paling-paling, itu terkait dengan kehidupan persekutuan. Tentu saja, menaikkan nyanyian rohani dalam situasi apa pun adalah tindakan penyembahan; tetapi bukan ini perhatian Paulus di sini, Paulus tidak bicara tentang ritual ibadah. Di gereja mula-mula pada masa Paulus, tidak ada format liturgi formal.

Dalam renungan 1:15-20 yang sebelumnya, kita sebenarnya telah menunjukkan arti sebenarnya dari 3:16. Di sini Paulus mendorong gereja-gereja dan pemimpin-pemimpin untuk menyampaikan ajaran Kristus dalam bentuk puisi atau mazmur, dengan tujuan memudahkan orang percaya untuk menghafal dan menyimpan ajaran itu di dalam hati mereka.

Kedua ayat ini memiliki empat poin pengingat berikut:
Pertama, medianya juga adalah pesannya: gereja harus memberitakan Injil dan mengajarkan apa yang benar, tetapi bagaimana hal itu diberitakan sama pentingnya dengan apa yang diberitakan. Kebenaran harus disampaikan, tetapi diberitakan dengan cara yang ketinggalan zaman dan bodoh yang tidak memperhitungkan tingkat dan minat pendengar, maka efek pengajaran tidak dapat dicapai. dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain, melakukan segala usaha kita untuk menemukan bentuk dan metode pemberitaan yang paling efektif, adalah sesuatu yang harus diingat oleh semua pemberita Firman, guru Sekolah Minggu, dan pembina. Izinkan saya terus terang mengatakan bahwa jika pembicara membuat pendengar tertidur, jangan salahkan pendengar karena tidak memperhatikan; tanggung jawab utama jatuh pada pembicara, yang gagal melakukan tugasnya dan gagal menggunakan segala hikmat mengajar orang.

Kedua, banyak bentuk media: hanya doktrin Kristus yang tidak berubah; semua ritual, prosedur, bentuk, alat, dan sarana ekspresi tidak memiliki otoritas, dan tidak ada alasan media tidak dapat diubah. Dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani … Kebenaran tidak dapat dikompromikan, tetapi bisa memakai berbagai media dan cara untuk menyampaikan kebenaran banyak jalan menuju ke Roma; delapan cara menyeberangi laut, masing-masing memiliki keunggulannya. Dalam bentuk penyampaian, gereja harus benar-benar pragmatis: segala sesuatu media atau cara yang baik bisa dipertimbangkan cara yang tepat dan spiritual untuk menyimpan ajaran Kristus di hati.

Ketiga, mengajar berulang kali dan setiap saat: hal-hal penting disampaikan ulang tiga kali, dan kebenaran penting harus dikatakan tiga ratus kali. Sebuah Alkitab, yang dibaca berkali-kali seumur hidup, tidak akan terasa berlebihan. Selama kita bisa mengubah pola dan menyampaikan dalam cara yang baru, Matius 28:19-20 dapat didengar tiga ratus kali. (Saya memang telah mendengar ayat ini dikhotbahkan lebih dari seratus kali dalam berbagai kesempatan selama beberapa dekade.) Kuncinya adalah, kita harus berusaha membuat orang percaya memperkuat kebenaran, mengakar dalam kehidupan mereka, dan menerapkannya dalam kehidupan. Hendaklah perkataan Kristus dengan segala kekayaannya … dengan segala hikmat diajaran … diam di dalam hatimu, dengan demikian, pelayanan pengasuhan tidak terbatas pada pengajaran di mimbar atau kelas Sekolah Minggu; pembentukan orang percaya dilakukan dengan berbagai bentuk dalam semua pelayanan dan kegiatan gereja; semua komisi melakukan pelatihan pemuridan untuk membuat orang percaya menjadi murid. Selain itu, misi pengasuhan ini tidak satu arah, dan tidak hanya dilakukan oleh pendeta dan guru; setiap orang adalah guru dan pembelajar; mengajar dan menegur seorang akan yang lain, kita semua saling menggembalakan.

Keempat, hidup adalah iman: kualitas pelayanan pengajaran gereja tidak ditentukan oleh kualitas mimbar dan kurikulum Sekolah Minggu, tetapi oleh — dan hanya oleh manifestasi dalam kehidupan orang percaya. Berbicara itu penting, mendengarkan itu penting, melakukan lebih penting, dan perubahan hidup adalah yang paling penting. … menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu Bagaimana Anda melihat perubahan dalam hidup Anda? Paulus mengulangi di sini apa yang dia katakan dalam 3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah

Renungkan:
Yang paling penting adalah menyimpan ajaran Kristus di dalam hati kita dan mengubah praktik iman menjadi kebiasaan hidup.
Hidup bersinar seperti cahaya, mohon Tuhan membantu kita untuk menjalani kehidupan Kristen yang bersinar.


Renungan pemahaman Surat Kolose

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Kolose ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Kolose 3:12-15

Berperilaku hidup yang saleh
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kolose 3:12-15 [ITB])
12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. 13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. 14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. 15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

Kita masih mempelajari bagian Kolose tentang perilaku moral.

Kekristenan adalah iman yang menekankan kasih karunia. Allah telah terlebih dahulu memberikan anugerah kasih karunia tanpa syarat kepada manusia, dan kemudian orang harus membuat tanggapan iman dan moral yang sesuai. Tindakan Allah sebagai memimpin, tindakan manusia mengikuti. Oleh karena itu, sebelum Paulus mengajukan berbagai tuntutan moral kepada orang percaya, ia selalu terlebih dahulu menunjukkan apa yang telah dilakukan Allah di dalam diri mereka, dan bagaimana mereka memiliki transformasi yang berbeda dalam identitas dan hubungan mereka karena perbuatan kasih Allah, ini adalah alasan dan motivasi untuk melakukan perubahan yang sesuai. Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (ayat 12)

Di sini Paulus menjabarkan tiga hal yang telah dilakukan Allah bagi kita: pertama adalah pemilihan, kita dipilih dan dipanggil oleh-Nya di antara bangsa-bangsa untuk menjadi umat-Nya. Yang kedua adalah pengudusan, di mana pemilihan itu berarti dipisahkan, karena Allah itu kudus jadi umat-Nya dipisahkan sebagai yang kudus. Yang ketiga adalah untuk dikasihi, semua yang Allah lakukan kepada kita adalah karena kasih. Dia mengasihi kita dari awal dan mengasihi kita sampai akhir.

Ketiga tindakan Allah menunjuk pada perintah moral: pemilihan membuat kita menjadi umat Allah, identitas baru membawa tuntutan baru, umat Allah harus hidup sebagaimana seharusnya umat Allah, kita harus berperilaku sesuai dengan identitas itu. Kekudusan berarti kita harus berbeda dari diri kita yang lama dan dunia sekarang ini. Apa yang mereka sedang lakukan, apa yang kita lakukan dahulu, tidak dapat kita lakukan lagi hari ini. Dikasihi telah menjadi motivasi terbesar bagi kita untuk mengubah diri kita sendiri. Kita melakukannya bukan karena kita takut akan hukuman, tetapi karena kasih Kristus memotivasi kita. Kita tidak ingin mengecewakan Allah yang mengasihi kita; orang yang dikasihi tidak punya hak untuk menyerah atas diri sendiri dan mensia-siakan hidup.

Karena dipilih, dikuduskan, dan dikasihi Allah, kita mengubah perilaku kita seperti kita berganti pakaian, tanggalkan manusia lama dan kenakan manusia baru. Apa yang harus dikenakan? Paulus menjabarkan lima kebajikan: belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Tingkat pemaparan kelima kebajikan ini dalam Alkitab sangat tinggi, jadi tidak perlu menjelaskannya. Kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran semuanya disebutkan dalam Efesus 4:2; dalam pasal tentang kasih 1 Korintus 13 disertakan kesabaran dan kemurahan; Galatia 5:22-23 buah Roh tercantum kesabaran, kemurahan, dan kelemahlembutan.

Ampunilah seorang akan yang lain adalah tindakan yang penting. Paulus tidak hanya mengharapkan orang Kristen untuk bermurah hati, berwawasan luas, dan tidak hitung-hitungan segala hal, tetapi juga sikap yang harus dimiliki seseorang yang telah menerima kasih karunia Allah terhadap orang lain. Seperti disebutkan sebelumnya, tindakan Allah memimpin, dan tindakan manusia mengikuti. Allah pertama-tama memberikan anugerah tanpa syarat kepada manusia, dan kemudian manusia membuat respons iman dan moral yang sesuai. Paulus mengaitkan tuntutan ini dengan penebusan dari Allah kepada manusia, ampunilah seorang akan yang lain … sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

Pengajaran Paulus tidak lain adalah tanggapan terhadap ajaran Yesus Kristus. Pesan utama dari Khotbah di Bukit (Mat. 5-7) adalah: Seperti Allah memperlakukan kita, kita memperlakukan orang lain. Ini juga dapat dikatakan sebaliknya: bagaimana kita memperlakukan orang lain, demikian juga Allah memperlakukan kita. Kalimat yang pertama adalah dorongan positif, yang kedua adalah peringatan negatif. Doa Bapa kita mengingatkan kita bahwa Allah mengampuni kesalahan kita seperti kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Jika kita tidak mengampuni orang lain, Allah tidak akan mengampuni kita. Sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu telah menjadi alasan yang cukup agar kita mengampuni, dan kamu perbuat jugalah demikian telah menjadi perintah ilahi, dan kita tidak punya pilihan untuk menolak melakukan.

Paulus tidak ingin mencantumkan banyak tuntutan moral dan menghindari kesan bahwa kekristenan sangat dogmatis atau legalistik, jadi dia menyimpulkannya secara sederhana: di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (ayat 14)

Kekristenan adalah iman kasih. Hakikat Allah adalah kasih; segala tindakan-Nya terhadap manusia, termasuk mengutus Yesus Kristus untuk mengorbankan diri-Nya demi penebusan manusia, semuanya karena kasih; orang Kristen harus selalu memiliki iman, pengharapan, dan kasih, yang terbesar di antaranya adalah kasih. Iman dan harapan tidak memiliki tempat di Kerajaan kekal, tetapi kasih tidak berkesudahan.

Paulus menekankan bahwa pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Berbagai bajikan moral (moral items) tidak terpisah satu sama lain, salin terkait satu sama lain; jarang orang yang memiliki belas kasihan, tetapi tidak memiliki kemurahan hati; memiliki kerendahan hati, tetapi tidak kelemahlembutan. Jadi kita tidak bisa membagi buah Roh menjadi sembilan bagian terpisah, dan kemudian belajar menghidupi kasih di tahun pertama, sukacita di tahun kedua, dan penguasaan diri di tahun kesembilan; sementara kita belajar menghidupi kasih, kita juga bertumbuh dalam kedamaian dan kebaikan. Semua kebajikan terhubung satu sama lain, dan intinya adalah kasih. Jika kita mengasihi Allah dan manusia, secara alami kita akan memiliki sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Kasih mencakup segala sesuatu, itulah sebabnya Yesus Kristus menyimpulkan hukum Perjanjian Lama untuk mengasihi Allah dengan segenap hati dan jiwa, dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Selain mengasihi Allah dan mengasihi manusia, tuntutan moral apa yang kelupaan? Tidak ada yang terlupakan. Oleh karena itu saudara-saudari sekalian, mari berusaha untuk memupuk kasih kepada Allah dan sesama, mempraktikkan kasih, memulai dengan kasih, dan bertindak sesuai dengan prinsip kasih, inilah kunci pengudusan orang Kristen.

Paulus berkata, Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. Di sini disebutkan damai sejahtera dan syukur, meskipun itu bukan item kebajikan, tetapi memiliki pengaruh penting terhadap hubungan tubuh komunitas Kristen. Seseorang yang memiliki damai sejahtera di hatinya tidak akan memiliki kecemasan dan ketidaksabaran, dan toleransi serta kesabarannya terhadap orang lain akan sangat meningkat. Hubungan antar personal dalam masyarakat telah makin menjadi tegang, rentan terhadap konfrontasi, konflik dan robek, dan hubungan keluarga juga sangat sumbang. Hanya ketika dunia hati yang harmonis, barulah dunia luar dapat mencapai keharmonisan; hanya mereka yang damai sejahtera di dalam hatinya yang dapat menjadi anak-anak kedamaian. Demikian pula orang yang selalu bersyukur, yang selalu memperhatikan rahmat anugerah Allah dan kebaikan orang dalam hidupnya, akan menjadi baik dan sabar terhadap orang lain, akan selalu bersukacita, dan ia akan menjadi anak perdamaian dalam hidup di masyarakat.

Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu. Saya menyukai ungkapan ini. Seperti yang dijanjikan Yesus kepada murid-muridnya sebelum dia mati: Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu (Yohanes 14:27) Kedamaian dalam hati kita berasal dari Kristus, bukan dari dunia, sehingga tidak dikuasai atau diganggu oleh dunia. Damai sejahtera Kristus adalah untuk memerintah kita, untuk mengatur hidup kita, untuk mengatur perilaku kita.


Renungan pemahaman Surat Kolose

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Kolose ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Kolose 3:9-11

Transformasi perubahan dalam kelompok komunitas
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kolose 3:9-11 [ITB])
9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, 10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; 11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

Ajaran Paulus tentang perilaku disertai dengan mengingatkan: Jangan lagi kamu saling mendustai. Penekanan pada saling (satu sama lain) menunjukkan bahwa ini adalah pedoman internal, tuntutan etis bagi komunitas gereja. Tidak berbohong adalah larangan yang sering disebutkan oleh Roh Kudus, tidak hanya tertuju kepada jemaat Kolose.

Selanjutnya, Paulus menggunakan perumpamaan berganti pakaian untuk menggambarkan bahwa orang Kristen harus memiliki perubahan perilaku. Ini juga merupakan gambaran yang digunakan dalam Efesus 4:23-24 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (lihat juga Kol 3:9).

Perubahan perilaku tentu tidak semudah mengganti pakaian, namun yang ditekankan di sini bukan pada kemudahan, melainkan pada kebutuhan praktis. Setelah mandi, kita selalu berganti pakaian yang bersih, dan tidak memakai pakaian lama yang ternoda oleh keringat dan kotoran, jika tidak maka mandi akan sia-sia. Dengan cara yang sama, Kristus telah membeli kita dengan harga yang mahal, membuat kita memperoleh hidup baru, secara serempak kita harus memperbarui cara hidup kita, dan memiliki pikiran dan perilaku yang sepadan dengan hidup baru.

Pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya, dapat dipahami sebagai pengetahuan tentang Kristus. Kata ini digunakan dua kali sebelumnya dalam Kolose, 1:9-10 berbicara tentang hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, dan 2:2 berbicara tentang mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus. Frasaterus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar di sini juga harus dipahami agar memiliki pengetahuan yang benar tentang Kristus, dan kata diperbaharui tidak menekankan penambahan pengetahuan, tetapi perubahan. Itu tidak menambah pengetahuan baru di atas ide-ide lama; itu menghapus yang lama dan menyambut yang baru, melepaskan ide-ide lama dan menerima perspektif baru. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kita telah pindah ke Kerajaan Anak-Nya yang kekasih (1:13), hidup baru kita tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah Bapa (3:3), dan kita harus mengalami pergeseran perspektif dan posisi. Pembaharuan pengetahuan membawa transformasi hidup, memungkinkan manusia untuk menghidupi gambar Allah, yang merupakan tujuan awal Allah untuk menciptakan manusia (Kejadian 1:26).

Terus-menerus diperbaharui menekankan bahwa pembaruan tidak dicapai dalam satu waktu, tetapi terjadi terus-menerus, pembaruan bertahap dan tidak pernah berakhir di dunia manusia. Orang Kristen harus membuang kejahatan sebersih-bersihnya, tetapi pengudusan adalah perjuangan seumur hidup. Paulus berkata dalam 2 Korintus 4:16, manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Kita diperbarui dari hari ke hari, dan kita membuat kemajuan dari hari ke hari.

Orang Kristen mengikuti Kristus, meniru Kristus, menghidupi Kristus, dan bertumbuh menjadi seperti Kristus. Tujuan kita adalah mengikuti Kristus menjadi manusia, belajar meneladani Kristus hidup sebagai manusia. Kita akan menghidupi kembali wajah asli manusia yang terhilang karena dosa Adam. Selama berabad-abad, hanya manusia Yesus Kristus yang dapat menghidupi bentuk manusia asli ketika Allah menciptakan manusia, yaitu wajah asali yang sesuai dengan kehendak ciptaan Allah. Yesus Kristus adalah 100% manusia apa adanya (Ia adalah Allah yang datang menjelma menjadi manusia).

Pembaruan individu membawa pembaruan kelompok komunitas. Paulus tidak hanya peduli dengan perubahan hidup dan kehidupan pribadi, tetapi juga ketika hidup dan kehidupan individu berubah, kelompok komunitas tempat dia berada akan ikut berubah; setiap individu dan setiap kelompok komunitas di dunia diubah oleh Kristus, akhirnya dunia akan diubahkan dan ditransformasikan. Kristus adalah dasar penciptaan dan tujuan akhir dari segala sesuatu. Semua manusia, tanpa memandang ras, suku bangsa, akan bersama masuk di dalam Kristus.

Ayat 11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu, ini bukan tentang tidak diperlakukan dengan secara adil tidak adil, tetapi tidak akan ada perbedaan lagi. Paulus menekankan bahwa Kristus mengubah hidup kita menjadi gambar-Nya, dengan demikian menghilangkan semua perbedaan manusia.

Kristus adalah semua dan di dalam semua. Kristus adalah semua (Christ is all) berarti bahwa semua ada di dalam Kristus, dan Kristus di dalam semua (Christ in all) berarti bahwa kita melihat Kristus di dalam diri semua orang.

Nama delapan kelompok orang disebutkan di sini: empat yang pertama muncul dalam bentuk dua pasang, dan dua pasang dari masing-masing pasangan dihubungkan oleh kata sambung dan (kai), yang jelas digunakan sebagai pasangan kontras (linked as pairs). Orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, di bagian lain dalam Alkitab, Paulus menyebutkan dua kelompok yang berlawanan ini dan menjelaskan perbedaan mereka. Kedua pasangan tersebut merupakan klasifikasi manusia yang dikotomis dari sudut pandang Yahudi; singkatnya, hanya ada dua jenis manusia di muka bumi ini: Yahudi dan non-Yahudi.

Adapun orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, itu adalah daftar sederhana, dan tidak tentu ada makna kontras. Orang Barbar mengacu pada orang-orang non-Hellenis di luar lingkaran budaya Yunani Helenistik (non-Hellenized peoples). Orang Skit adalah suku yang tinggal di perbatasan utara kekaisaran Romawi, dan mereka juga berada di luar lingkaran budaya Yunani Romawi, mereka mungkin suku yang paling terbelakang dan barbar di mata Romawi pada waktu itu. Jika orang Barbar atau orang Skit dipasangkan, artinya tidak ada yang tahu lagi bagaimana mereka hendak dibandingkan. Lebih mudah untuk memahami budak atau orang merdeka, mereka dapat dicocokkan sebagai pasangan.

Paulus menekankan bahwa meskipun orang dapat dibagi berdasarkan ras (Yahudi dan Yunani), budaya (orang luar), dan kelas sosial (budak, bebas), di dalam Kristus mereka semua dapat menjadi satu, elemen yang dipakai mengategorikan manusia tidak berlaku lagi. Kristus hidup di antara kita, dan kesamaan-Nya menutupi perbedaan asli kita. Kristus meruntuhkan tembok yang memisahkan manusia dari manusia. Seperti yang kita katakan sebelumnya, poin Paulus bukanlah kesetaraan (equality), tetapi tidak ada pembedaan (no distinction).

Renungkan:
Apa yang dikatakan paragraf ini adalah logika sederhana. Namun, iman sesederhana itu: apa yang kita yakini, kita jalani dengan jujur. Kita percaya ini, kita berbicara seperti ini, dan kita bertindak seperti ini. Kita adalah orang Kristen, orang mengharapkan kita untuk hidup seperti orang Kristen, dan kita harus mengharapkan hal yang sama. Manusia melakukan, Allah mengawasi tidak hanya tindakan kita, tetapi juga hati dan pikiran kita. Orang yang konsisten antara hati dan penampilannya adalah yang paling sederhana dan nyaman, dan tidak membuat penyamaran diri, dan tidak perlu waspada terhadap orang yang mengintip dan mengungkap kebenaran.

Kita mungkin tidak sepenuhnya memahami doktrin tentang Kristus yang diuraikan Paulus dalam Surat Kolose, atau rahasia rohani tentang kematian bersama dan kebangkitan bersama Kristus; tetapi penerapan doktrin-doktrin ini dalam kehidupan: menjadi kudus, bersikap adil, bertindak jujur, adalah yang bisa dipahami oleh semua orang dan dapat dilakukan oleh semua orang. Jadi, jika kita tidak memahami dua pasal pertama dari Surat Kolose, dan kita dapat memahami dan mengikuti pasal ketiga, itu sudah cukup.


Renungan pemahaman Surat Kolose

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Kolose ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).