Tag Archives: Suffering

Filemon 12-16 (1)

「Mendorong Hati Filemon」

Bagaimana Paulus menolong Filemon untuk melihat peristiwa Onesimus melarikan diri dari sudut pandang Allah yang turut bekerja dalam segala sesuatu?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filemon ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Filemon 1:12-16 [ITB])
12Dia kusuruh kembali kepadamu–dia, yaitu buah hatiku–.
13Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil,
14tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela.
15Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, 16bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan.

Paulus menyuruh Onesimus kembali kepada tuannya, dengan sesungguhnya adalah tindakan mendamaikan kedua pihak. Sebenarnya keputusan yang Paulus ambil adalah didasarkan atas pertimbangan dua sumber hukum yakni Perjanjian Lama dan hukum dalam masyarakat. Pertama, hukum dalam Perjanjian Lama yang membicarakan hal terkait perlindungan bagi budak yang melarikan diri, terdapat perkataan demikian: 「Janganlah kauserahkan kepada tuannya seorang budak yang melarikan diri dari tuannya kepadamu. Bersama-sama engkau ia boleh tinggal, di tengah-tengahmu, di tempat yang dipilihnya di salah satu tempatmu, yang dirasanya baik; janganlah engkau menindas dia」 (Ul. 23:15-16). Namun dalam masyarakat Yunani Romawi, demi jangan memperbanyak kesempatan budak melarikan diri, hukum tidak mengijinkan orang menyediakan tempat berlindung bagi budak, jika dilanggar maka dianggap menyembunyikan pelaku kriminal, sama-sama melakukan pelanggaran hukum. Karena itu, tindakan paling baik bagi keadaan Onesimus adalah mendorongnya dengan sukarela kembali kepada tuannya. Pada saat yang sama, dengan cara ini kedua tuan dan hamba ini baru bisa ada kesempatan yang sesungguhnya untuk berdamai. Karena aturan hukum tersebut di atas, Paulus berpendapat hak mengambil keputusan yang sesungguhnya diberikan kembali kepada Filemon, mengharapkan ia dengan rela hati menerima permohonan Paulus, dan bukan karena terpaksa.

Paulus menolong Filemon untuk melihat sebuah pemikiran yang baru atas diri Onesimus. Budak ini adalah 「buah hati」 dari Paulus (ayat 12), ini adalah kedua kalinya Paulus memakai kata 「hati」. Pertama kali adalah dalam ayat 7, perbuatan baik Filemon membuat hati semua orang kudus dihiburkan, apakah buah hati Paulus juga akan sama mengalami penghiburan hati seperti semua orang kudus? (Onesimus menjadi orang percaya setelah bertemu Paulus, juga termasuk sebagai orang kudus). Selain itu, Onesimus tidak hanya merupakan 「buah hati」 Paulus, juga membuat Filemon mengalami sukacita 「mendapatkan setelah kehilangan」. Paulus mencoba mengajukan sebuah pandangan yang baru kepada Filemon, memberikan kepada dia sebagai referensi: 「Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya」 (ayat 15). Dalam bahasa aslinya, ayat ini dimulai dengan kata sambung 「karena」 (gar), apakah dalam perihal Onesimus terdapat makna yang setingkat lebih mendalam? Terjemahan Alkitab CCB (Chinese Contemporary Bible) menjelaskan ayat 15 sebagai: 「atau bisa dikatakan demikian, ia dahulu melarikan diri, adalah diijinkan Tuhan sementara meninggalkan engkau, agar engkau kelak kemudian selamanya mendapatkan ia kembali」. Penekanan Paulus dalam ayat 15 ini adalah terkait harapannya dalam ayat 14 bahwa keputusan Filemon janganlah berasal dari ketidakrelaan atau terpaksa, karena hal ini mungkin berasal dari Allah! (Lihatlah bahwa Onesimus menjadi orang percaya setelah bertemu Paulus)

Saat Yusuf melihat kembali penderitaan yang ia alami selama sepuluh tahun lebih yang telah berlalu, ia melihat tindakan TUHAN, maka saat memberikan penjelasan kepada saudara-saudaranya yang lebih tua, ia berkata: 「kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu」 (Kej. 45:5). Tepat seperti Yusuf tidak menyangkal perbuatan jahat yang pernah dilakukan saudara-saudara yang lebih tua kepada dia, di sini Paulus juga tidak menyangkal kesalahan Onesimus melarikan diri.

Paulus terlebih lagi memakai dua kata perbandingan untuk memperdalam perasaan Filemon, yakni perihal waktu 「sementara dan selamanya」, dan juga perihal relasi 「meninggalkan dan mendapatkan」. Ternyata sebuah kehilangan Filemon atas seorang budak, justru bisa membawakan introspeksi diri dalam banyak aspek kehidupan. Sekarang Onesimus datang di depan mata Filemon, dan dirinya tengah memegang surat tulisan tangan dari Paulus yang ia kasihi dan hormati, bagaimana perasaan di dalam hatinya?

Renungkan: (1) Pikirkan bagaimana Filemon berada di antara kasih dan aturan hukum, mungkin ada pergumulan dan pertentangan hati? (2) Mungkin kita pernah terombang-ambing dalam sesuatu hal antara kerelaan dan terpaksa, bagaimana mengatasinya dengan tenang dan damai? (3) Untuk introspeksi diri, cobalah melihat suatu hal kehilangan atau kegagalan di masa lalu melalui cara pandang dari Tuhan (seperti cara Yusuf tersebut di atas). Sebuah pepatah kuno berbicara tentang seorang tua yang kehilangan seekor kuda namun mendapatkan kembali kuda tersebut pulang dan membawa sekawanan kuda liar.


Tambahan Penerjemah:

Bandingkan dengan perkataan Paulus (Roma 8:28 [ITB]) 「Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.」