Tag Archives: Kecantikan Paras

Kidung Agung 4:1-7

「Benar-benar cantik」 karena 「cinta kasih yang sepenuhnya」

Oleh Rev. Dr. Wong Tin-yat (黃天逸)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kid. 4:1-7 [ITB])
1 Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau! Bagaikan merpati matamu di balik telekungmu. Rambutmu bagaikan kawanan kambing yang bergelombang turun dari pegunungan Gilead.
2 Gigimu bagaikan kawanan domba yang baru saja dicukur, yang keluar dari tempat pembasuhan, yang beranak kembar semuanya, yang tak beranak tak ada.
3 Bagaikan seutas pita kirmizi bibirmu, dan elok mulutmu. Bagaikan belahan buah delima pelipismu di balik telekungmu.
4 Lehermu seperti menara Daud, dibangun untuk menyimpan senjata. Seribu perisai tergantung padanya dan gada para pahlawan semuanya.
5 Seperti dua anak rusa buah dadamu, seperti anak kembar kijang yang tengah makan rumput di tengah-tengah bunga bakung.
6 Sebelum angin senja berembus dan bayang-bayang menghilang, aku ingin pergi ke gunung mur dan ke bukit kemenyan.
7 Engkau cantik sekali, manisku, tak ada cacat cela padamu.

Ini adalah satu bagian Puisi nyanyian tubuh (Waṣf). Waṣf adalah suatu gaya puisi nyanyian Arab kuno, yang berarti deskripsi (penggambaran). Ada peneliti yang menunjukkan, ini adalah puisi penghargaan atas tubuh sang pasangan, pada saat yang sama, juga merupakan awal dari hubungan jasmaniah pasangan, tetapi terutama untuk mengekspresikan cinta dan rasa hormat kepada wanita melalui pengamatan yang cermat terhadap tubuh wanita dan ekspresi yang jujur.

Kejadian 2:25 mengatakan: Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. Para peneliti berpendapat bahwa selama Adam dan Hawa menjaga hubungan yang harmonis dengan Allah dan tanpa gangguan, maka kekudusan yang paling asali dan martabat kemuliaan hubungan seksual ini tidak akan hilang. Mungkin, di balik Puisi nyanyian tubuh dalam 《Kitab Kidung Agung》 ini, penulis Alkitab juga ingin mengungkapkan aspek kekudusan hubungan seksual yang paling asali dan bermartabat mulia tersebut. Oleh karena itu, pembaca harus menggunakan sudut pandang semacam ini untuk memahami makna yang terkandung dalam perikop 《Kitab Kidung Agung》 ini. Hollinger, mantan dekan Seminari Teologi Gordon Cornwell, menunjukkan: Seks harus bersifat pribadi, eksklusif, intim, tanpa pamrih, dan berbuah; berdasarkan prinsip-prinsip ini, ia mencantumkan beberapa contoh konkret larangan yang digunakan untuk melindungi hubungan seksual ── melarang seks di luar pernikahan, larangan seks sebagai transaksi, larangan homoseksual, larangan seks dengan binatang, larangan paedofil, larangan kekerasan seksual, larangan semua nafsu percabulan, dan sebagainya, karena kemurnian (purity) dan kesetiaan (fidelity) adalah nilai dan keyakinan penting dalam perihal seks. Penulis Alkitab di perikop ini tidak menyebutkan nama pengantin Salomo dan nama gadis Sulam (pernikahannya disebutkan sebelumnya di pasal 3), mungkin untuk memperkuat bahwa penerapannya untuk pasangan pria dan wanita secara umum (bukan hanya untuk Salomo dan gadis Sulam) bisa setuju dengan cinta kasih antara pria dan wanita yang dinyatakan dalam puisi nyanyian di perikop ini.

Tujuh ayat Puisi nyanyian tubuh ini bukan bertujuan melakukan evaluasi atas kecantikan sang tokoh wanita, juga bukan untuk membuat komentar apa terhadap pengantin wanita, terlebih bukan ingin membandingkan dengan wanita lain; dalam perikop ini sang pengantin pria hendak secara terbuka menyatakan bahwa sang wanita adalah cintanya, dan untuk menunjukkan komitmen dirinya yang kuat untuk bersama dengan sang wanita. Oleh karena itu, apakah sang tokoh wanita benar-benar sempurna tidak ada cacat, tidak ada kelemahan secara fundamental itu tidak masalah, karena di mata tokoh pria dan dalam pikirannya (ayat 1 bahasa asli הִנֵּה diterjemahkan sebagai lihatlah), dia benar-benar melihat bahwa sang tokoh wanita cantik; sebenarnya, melihat yang benar-benar cantik sejati ini berasal dari melihat dengan cinta kasih yang sepenuhnya!

Renungkan:
Terkadang, hubungan dekat akan menambah banyak kotoran seiring waktu dan pengalaman, yang menghancurkan keindahan yang selama ini ada. Jangan lupa, cinta kisah antara pria dan wanita 《Kitab Kidung Agung》 membuat kita melihat bagaimana mereka dalam gairah dan suasana romantis masih mengutamakan saling mendalami dunia batin satu sama lain, bahkan jika mereka berpisah, tetapi tidak membuat hubungan itu mencapai titik terendah, mereka malah bekerja lebih keras untuk mengatasi tantangan ini dan membangun hubungan dalam rasa aman dan saling percaya yang sepenuhnya. Dengan demikian, benar-benar cantik dan sempurna yang dikatakan pengantin pria dalam perikop ini bukan sekadar deskripsi tentang tubuh jasmani pengantin wanita, tetapi juga gambaran paling nyata tentang relasi antara mereka berdua!


Renungan pemahaman Kitab Kidung Agung

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kidung Agung ditulis oleh Rev. Dr. Wong Tin-yat (黃天逸) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ester 2:12-18

「Kecantikan Paras dan Karakter」

Ditulis oleh 何啟明 (Hé Qǐ Míng) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Kristen.)

(Est. 2:12-18 [ITB])
12 Tiap-tiap kali seorang gadis mendapat giliran untuk masuk menghadap raja Ahasyweros, dan sebelumnya ia dirawat menurut peraturan bagi para perempuan selama dua belas bulan, sebab seluruh waktu itu digunakan untuk pemakaian wangi-wangian: enam bulan untuk memakai minyak mur dan enam bulan lagi untuk memakai minyak kasai serta lain-lain wangi-wangian perempuan. 13 Lalu gadis itu masuk menghadap raja, dan segala apa yang dimintanya harus diberikan kepadanya untuk dibawa masuk dari balai perempuan ke dalam istana raja. 14 Pada waktu petang ia masuk dan pada waktu pagi ia kembali, tetapi sekali ini ke dalam balai perempuan yang kedua, di bawah pengawasan Saasgas, sida-sida raja, penjaga para gundik. Ia tidak diperkenankan masuk lagi menghadap raja, kecuali jikalau raja berkenan kepadanya dan ia dipanggil dengan disebutkan namanya. 15 Ketika Ester–anak Abihail, yakni saudara ayah Mordekhai yang mengangkat Ester sebagai anak–mendapat giliran untuk masuk menghadap raja, maka ia tidak menghendaki sesuatu apapun selain dari pada yang dianjurkan oleh Hegai, sida-sida raja, penjaga para perempuan. Maka Ester dapat menimbulkan kasih sayang pada semua orang yang melihat dia. 16 Demikianlah Ester dibawa masuk menghadap raja Ahasyweros ke dalam istananya pada bulan yang kesepuluh–yakni bulan Tebet–pada tahun yang ketujuh dalam pemerintahan baginda. 17 Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti. 18 Kemudian diadakanlah oleh baginda suatu perjamuan bagi semua pembesar dan pegawainya, yakni perjamuan karena Ester, dan baginda menitahkan kebebasan pajak bagi daerah-daerah serta mengaruniakan anugerah, sebagaimana layak bagi raja.

Ahasyweros menyalahgunakan kekuasaan sebagai raja, menggunakan sumber daya finansial dan material negara, untuk mengumpulkan semua peserta pemilihan kecantikan 127 provinsi Persia, butuh waktu setahun penuh mempersiapkan para gadis dengan perawatan minyak mur dan minyak kasai serta lain-lain wangi-wangian. Persiapan satu tahun ini, tentu saja juga mencakup pelatihan etika istana dan kerajaan. Pemborosan dan usaha yang demikian besar hanya untuk memuaskan keinginan sendiri. (Orang merasa berkuasa maka bisa dan boleh melakukan apapun yang ia mau dengan alasan pembenaran apapun. Antara karakter dan kekuasaan.)

Seleksi kompetisi kecantikan ini cukup intens, setiap wanita hanya satu kesempatan untuk bertemu raja. Gadis-gadis cantik ini tentu saja tidak begitu sederhana dipanggil oleh raja, tetapi harus menggunakan tubuh mereka untuk menyenangkan Ahasyweros (Est. 2:13-1413 … dibawa masuk dari balai perempuan ke dalam istana raja. 14 Pada waktu petang ia masuk dan pada waktu pagi ia kembali」). Penulis kitab dalam ayat 12-14 telah menggunakan lima kata kerja 「masuk」 (bo), secara permukaan terlihat adalah merujuk para gadis pergi menemui raja, tetapi pada saat yang sama secara eufemisme (ungkapan yang diperhalus) menunjukkan bermalam satu malam dengan raja. Banyak perempuan muda hanya melihat raja sekali, peluang dipilih benar-benar sangat kecil, tapi bagi mereka resiko yang harus ditanggung adalah sangat besar. Setelah tidak dipilih, maka akan dikirim kembali ke harem, kecuali raja senang dan memanggil dia ke istana lagi, jika tidak maka ia tidak akan memiliki kesempatan untuk bertemu raja lagi dan tinggal di sana sampai tua mati dalam kesendirian.

Menurut aturan kerajaan Persia, pemilihan ratu biasanya dilakukan oleh 7 pembesar yang terdekat dengan raja (Est. 1:14), namun beberapa raja Persia melanggar aturan dan memilih wanita favoritnya sendiri. Dalam catatan sejarah raja Artahsasta II dalam harem memiliki 360 orang selir yang cantik luar biasa, dan raja Persia setiap tahun merekrut 500 pria muda, dikebiri menjadi kasim untuk menjadi pelayan keluarga kerajaan. Rabi Yahudi memperbandingkan Ester, Sarah, Rahab dan Abigail sebagai empat wanita tercantik. Walau Ester adalah wanita dari golongan rakyat biasa namun ia dipanggil ke Istana karena kecantikannya. Ester dipanggil ke Istana untuk menjadi ratu Ahasyweros, pernikahan ini dengan bangsa asing mungkin membingungkan bagi pembaca (Ul. 7:3-4), tetapi penulis kitab tidak secara langsung mengatasi pertanyaan ini. Ester menikah dengan Ahasyweros dapat dianggap sebagai 「karena terpaksa maka memilih kesalahan yang paling ringan dari pilihan yang ada,」 hasilnya membawakan kebaikan orang-orang Yahudi. Ester memiliki tempat tertentu dalam hati orang Yahudi, dia tidak dianggap sebagai orang luar atau orang yang menumpang lewat, dan disebut putri dari Abihail, terlebih adalah anak angkat Mordekhai (Est. 2:17).

Ester tidak hanya seperti Wasti dan wanita-wanita lain 「elok rupanya」 (Est. 1:1; 2:3), tetapi terlebih lagi 「elok perawakannya dan cantik parasnya」 (Est. 2:7). Singkatnya, dia terlihat sangat menonjol dibandingkan yang lain, mendapatkan kesukaan dari Ahasyweros, sehingga memilih dia sebagai ganti ratu Wasti. Namun, keelokan paras luar adalah hanya merupakan pintu masuk, kecantikan batin Ester adalah faktor ia melampaui gadis yang lain. Keelokan batinnya termasuk ketaatan, lembut, menjaga perkataan Mordekhai (Est. 2:10, 20), menahan diri, tidak sembarangan membocorkan identitas Yahudi dari dirinya (Est. 2:10), ketika giliran masuk menghadap raja, maka ia tidak tidak serakah sesuai nasihat Hegai, sida-sida raja, penjaga para perempuan (Est. 2:15), dan Ester bergaul harmonis dengan orang lain sehingga dapat menimbulkan kasih sayang dari Hegai dan semua orang yang melihat dia (Est. 2:15).

Renungkan:
Lagu pujian 「Tuhan, saya ingin serupa Engkau」 《391 Mazmur kehidupan》 mengatakan 「Tuhan, saya ingin serupa Engkau, Tuhan, saya ingin serupa Engkau, Juruselamat mulia, seperti Engkau yang kudus; kiranya manisnya Engkau, kepenuhan-Mu, dan rupa kudus-Mu tercetak dalam roh hatiku.」 Kecantikan luar adalah bawaan lahir, tapi kecantikan dalam adalah karakter yang lebih penting, mohon Roh Kudus mengubah kehidupan kita, lebih serupa Tuhan kita yang penuh anugerah.

Tambahan Penerjemah:

Bandingkan kontrol diri dan karakter dari Ahasyweros sebagai raja mulia berkuasa besar, apakah sebanding dengan Ester seorang rakyat rendah tawanan? Identitas dan perkataan boleh mulia, namun tindakan manusia menunjukkan kemuliaan sifat dan karakter asli dari seseorang.


Daftar renungan pemahaman Kitab Ester (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ester ditulis oleh Penulis: 何啟明 (Hé Qǐ Míng) yang dipublikasi pada bulan September 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.