Tag Archives: Herodes

Lukas 1:5-7

「Menantikan Cara Menyelamatkan yang Mengejutkan Hati?」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 1:5-7 [ITB])
5Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet.
6Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.
7Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.

Secara teknik sastra, Luk. 1:5 adalah sebuah permulaan dari perikop yang lain, menandakan mulainya sebuah zaman baru, mulainya sebuah zaman keselamatan. Kita telah membicarakan Luk. 1:1-4, keempat ayat sebenarnya adalah sebuah kalimat utuh yang indah, memakai teknik penulisan bahasa Yunani yang pada saat itu sangat rumit dan tinggi. Tetapi dalam ayat selanjutnya, teknik penulisan bahasa Yunani yang ia pakai seperti tiba-tiba turun menjadi yang biasa-biasa saja — ia memakai cara yang lebih mudah dimengerti orang dan teknik menulis bahasa Yunani tingkat dasar. Kita mungkin perlu menjawab pertanyaan mengapa Lukas tiba-tiba berubah?

Sebenarnya Lukas telah memakai teknik penulisan dalam Septuaginta (Perjanjian Lama bahasa Yunani) untuk menggambarkan catatan tentang Zakharia, karena bahasa Ibrani merupakan bahasa yang lebih kuno, tata bahasa dan strukturnya tidak serumit seperti bahasa Yunani, maka saat Alkitab Perjanjian Lama bahasa Ibrani hendak diterjemahkan menjadi bahasa Yunani yakni Septuaginta, maka diterjemahkan dengan mempertahankan dan mengikuti tata bahasa bahasa Ibrani. Maka saat Lukas merubah teknik penulisannya, ini menyatakan ia hendak terlebih dahulu kembali ke dalam cara pandang dunia Ibrani untuk menjelaskan pemahaman yang 「sungguh benar」 bahwa Yesus — Mesias yang dijanjikan.

Saat kita melihat ayat 6-7 「Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.」, maka akan menemukan ada beberapa pemakaian kata-kata Perjanjian Lama yang sangat penting: 「tidak bercacat」 (lihat Kej. 17:1), 「tidak mempunyai anak」, 「mandul」(tentang topik “tidak mempunyai anak, mandul”, “barren women motif”, lihat Kej. 16; 25; 1 Sam. 1). Semua ini membuat orang teringat dimulainya zaman Allah melaksanakan keselamatan oleh diri-Nya sendiri. Di zaman Abraham, Allah diri-Nya sendiri membangkitkan umat-Nya — keturunan Abraham hendak mewariskan generasi yang hormat takut dan menyembah Allah yang sesungguhnya, bagi Abraham, istri yang mandul mungkin adalah sebuah keadaan yang sangat sulit, bagaimana menggenapi janji Allah — agar keturunannya seperti bintang di langit, pasir di tepi laut demikian banyak? Tetapi topik 「istri yang mandul」, justru adalah perkara yang hendak Allah kerjakan oleh diri-Nya sendiri, juga dimulainya zaman keselamatan yang membuat orang terkejut tanpa habis. Oleh karena itu di kitab 1 Samuel melanjutkan topik Hana 「perempuan mandul」, menjelaskan hendak mulai berkembangnya topik keselamatan dari Allah. Allah telah membangkitkan Samuel, para nabi, hakim-hakim, imam bagi bangsa Israel untuk memulai berkembangnya sebuah zaman 「yang baru」. Oleh karena itu, Lukas dalam perpindahannya dari teknik penulisan bahasa Yunani beralih menjadi tata bahasa Ibrani, intinya adalah melalui topik 「perempuan mandul」 (barren women motif) menyatakan dimulai berkembangnya zaman baru, penulis memakai perikop pembukaannya untuk menjelaskan bahwa kedatangan Yesus merupakan datangnya zaman baru keselamatan.

Hal tersebut di atas tepat membentuk sebuah kontras perbandingan berintensitas kuat dengan ayat 5 「Pada zaman Herodes, raja Yudea」.

Pada zaman itu, jasa Herodes — telah membangun kembali sebuah Bait Suci yang lebih megah dibandingkan zaman raja Salomo — sehingga bagi sebagian kelompok komunitas orang Yahudi, ia seperti telah menjadi sang penyelamat yang diutus Allah, setidaknya dalam aspek keagamaan, jasanya tidak dapat dipungkiri. Tetapi zaman baru keselamatan yang dibawakan oleh topik 「perempuan mandul」Perjanjian Lama justru sesungguhnya menyatakan: jikalaupun Herodes Agung memiliki jasa dan nama terkenal, tetapi ia bukanlah Sang Penyelamat yang 「sungguh benar」, malah sebaliknya Maria yang rendah status sosialnya justru merupakan orang yang dipakai Allah, dan melahirkan Juruselamat yang 「sungguh benar」.

Renungkan: kita seringkali berpikir cara keselamatan dari Allah demikian megah dan mengejutkan hati, tetapi Alkitab benar-benar menantang pemikiran kita, cara keselamatan yang 「sungguh benar」 yakni digenapkan melalui seorang perempuan kecil, bukankah ini adalah apa yang pernah Allah lakukan di waktu yang dahulu pada diri Abraham, Sarah dan Hana? Ini mendefinisikan ulang apa yang disebut sebagai cara keselamatan yang「mengejutkan hati」. Apakah Allah menggunakan cara penyelamatan yang 「mengejutkan hati」 untuk ikut campur tangan saat kita mengalami kesulitan atau putus asa?


Tambahan Penerjemah:
Kita seringkali menantikan dan meminta pertolongan Allah dalam cara yang kita inginkan, yang 「mengejutkan hati」, tanpa menyadari pertolongan-Nya sudah Ia berikan.
Ataupun kita menolak cara keselamatan yang sudah Allah berikan, kita menghendaki menerima keselamatan dengan cara kita sendiri. Bukan menerima dalam kesadaran akan ketidakmampuan diri, tetapi berpikir kita mampu dengan kekuatan diri. Juga termasuk mengagungkan kemegahan iman diri sendiri yang dikatakan sebagai iman yang kuat 「mengejutkan」 menggetarkan Sorga?