1 Raja-raja 22:1-4

「Engkau bersama aku, dan aku bersama engkau?」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 22:1-4 [TB2])
1 Tiga tahun berlangsung tanpa perang antara Aram dan Israel. 2 Pada tahun yang ketiga Yosafat, raja Yehuda, pergi menemui raja Israel. 3 Sebelumnya raja Israel telah berkata kepada pegawai-pegawainya, 「Tahukah kamu bahwa Ramot-Gilead sebenarnya milik kita? Tetapi, kita diam saja dan tidak merebutnya dari tangan raja negeri Aram.」 4 Lalu ia berkata kepada Yosafat, 「Maukah engkau pergi bersamaku untuk memerangi Ramot-Gilead?」 Jawab Yosafat kepada raja Israel, 「Aku dan engkau bersama-sama, rakyatku dan rakyatmu, kudaku dan kudamu.」

Kitab 1 Raja-raja pasal 22 menceritakan peperangan di Ramot-Gilead dan narasi terakhir tentang kematian Ahab. Penulis menggunakan pasal ini untuk secara resmi meringkas pemerintahan Ahab, termasuk persekutuannya dengan Yosafat dari Yehuda dan bagaimana Allah menggenapi nubuat penghakiman yang telah disampaikan melalui nabi Elia.

Pasal 22, ayat 1 dimulai dengan menyatakan bahwa tidak ada perang antara Israel dan Aram selama tiga tahun. Hal ini membawa pembaca kembali ke pertempuran di Pasal 20, menjelaskan bahwa setelah pertempuran itu tidak ada perang antara Israel dan Aram selama tiga tahun. Hal ini juga menjelaskan bahwa narasi tentang penaklukan kebun anggur Nabot oleh Ahab terjadi selama periode ini. Pertempuran yang disebutkan dalam Pasal 20 diprakarsai oleh Benhadad, raja Aram; namun, pertempuran yang tercatat dalam Pasal 22 diprakarsai oleh Ahab, raja Israel, untuk merebut kembali Ramot-Gilead.

Ayat 3 menyebutkan bahwa Ramot-Gilead berada di tangan raja Aram. Mengapa demikian? Kita tahu dari 1 Raja-raja 4:13 bahwa Ramot-Gilead adalah distrik administratif pada zaman Salomo, yang awalnya dikuasai oleh Kerajaan Israel. Kita tidak tahu mengapa tempat ini jatuh ke tangan raja Aram. Mungkin karena raja Benhadad dari Aram awalnya telah berjanji untuk mengembalikan tanah yang telah direbut ayahnya dari Israel (1 Raj. 20:34 「Kata Benhadad kepadanya, 『Kota-kota yang telah diambil ayahku dari ayahmu akan kukembalikan. Engkau juga boleh membuka pasarmu di Damsyik, seperti yang dilalukan ayahku di Samaria.』 Kata Ahab, 『Dengan perjanjian itu aku sendiri, akan membiarkan engkau pergi.』」), tetapi kemudian tidak mengembalikan Ramot-Gilead, sehingga Ahab berharap untuk merebut kembali tanah tersebut.

Ayat 4 menggambarkan bagaimana Ahab mengajak Yosafat untuk ikut berperang bersamanya di Ramot-Gilead, tetapi Yosafat menjawab, 「Aku dan engkau bersama-sama, rakyatku dan rakyatmu, kudaku dan kudamu.」 (כמוני כמוך כעמי כעמך כסוסי כסוסיך kə·sū·se·ḵā kə·sū·say ḵə·‘am·me·ḵā kə·‘am·mî ḵā·mō·w·ḵā kā·mō·w·nî) Ketika kita membandingkan ayat ini dengan versi Kitab Tawarikh, kita memahami keunikan Kitab Raja-raja. Tata letak urutan kata dalam versi Kitab Tawarikh 「as your people—my people (rakyatmu—rakyatku) (כעמך עמי ‘am·mî ḵə·‘am·mə·ḵā)」 (2 Taw. 18:3), sedangkan urutan kata dalam versi Kitab Raja-raja 「rakyatku—rakyatmu」 (כעמי כעמך ḵə·‘am·me·ḵā kə·‘am·mî) (1 Raj. 22:4) 。 Dengan demikian, versi Kitab Raja-raja digambarkan Ahab tampaknya lebih unggul, terlebih dahulu menekankan 「rakyatku」 barulah kemudian rakyat Yosafat (「rakyatmu」) dimasukkan sebagai rakyatnya sendiri. Frasa 「kudaku dan kudamu」 mengingatkan kita pada perintah dalam Ulangan, 「janganlah ia memelihara banyak kuda dan janganlah ia mengembalikan bangsa ini ke Mesir untuk mendapat banyak kuda」 (Ul. 17:16). Ini menunjukkan keinginan Ahab untuk memasukkan kuda-kuda Yosafat dan juga menggambarkannya sebagai raja yang melanggar hukum Ulangan, sehingga menyoroti citra negatifnya.

Refleksi:
Yosafat digambarkan sebagai raja yang melakukan apa yang benar di mata TUHAN, namun ia bersekutu dengan raja Ahab yang jahat, bahkan sampai pada titik 「apa yang menjadi milikmu adalah milikku, dan apa yang menjadi milikku adalah milikmu.」 Yosafat tidak memahami konsekuensi bersekutu dengan raja yang jahat, mungkin karena ia juga berharap Yehuda dan Israel akan berdamai, sehingga membawa kedamaian dan ketenangan bagi negaranya sendiri. Namun, tindakannya ini tidak melihat dari perspektif apa yang benar atau salah di mata TUHAN. Sekalipun sesuatu masuk akal menurut akal dan perasaan manusia, apakah itu berarti masuk akal di mata Allah? Pernahkah Anda mengalami pengalaman serupa?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 21:27-29

「Ahab merendahkan diri」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:27-29 [TB2])
27 Mendengar perkataan itu, Ahab mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya, dan berpuasa. Ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan lunglai. 28 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu, 29 「Sudahkah kaulihat betapa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, Aku tidak akan mendatangkan malapetaka semasa hidupnya. Barulah pada masa anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya.」

Tiga ayat terakhir dari 1 Raja-raja 21 (1 Raj. 21:27-29) mencatat Ahab merendahkan diri di hadapan Allah dan penundaan penghukuman Allah atasnya.

Ayat 27 dimulai dengan 「Mendengar perkataan itu, Ahab …」 secara sintaksis mirip dengan permulaan ayat 15 dan 16. Ayat 15 menyebutkan bahwa Izebel bertindak segera setelah mendengar kematian Nabot; ini mirip dengan ayat 27, di mana Ahab segera merendahkan diri setelah mendengar perkataan ini. Ayat 16 menyebutkan bahwa Ahab segera merebut kebun anggur Nabot setelah mendengar kematiannya; format ini juga mirip dengan ayat 27 Ahab segera merendahkan diri. Kesamaan ini menunjukkan bahwa Ahab tampaknya adalah seorang pria tanpa penilaian sendiri, secara membabi buta mengikuti nasihat Izebel, dan pada saat yang sama merendahkan diri setelah mendengar penghakiman TUHAN yang disampaikan melalui Elia. Dengan demikian, Ahab tampaknya sekadar karena tidak memiliki prinsip diri, alih-alih benar-benar bertobat. Namun, tindakan pertobatannya relatif komprehensif, termasuk 「mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya, dan berpuasa. Ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan lunglai.」 Semua tindakan ini menunjukkan bahwa Ahab dipenuhi dengan kerendahan hati dan kesedihan, dan bahwa ia berduka atas akibat dosa-dosanya; namun, teks tersebut tidak menyebutkan tindakan pertobatan nyata apa pun dari pihaknya, seperti mengembalikan kebun anggur Nabot kepada keturunan Nabot atau menceraikan Izebel. Pertobatan Ahab tampaknya lebih seperti reaksi psikologis daripada pertobatan yang sebenarnya.

Karena Ahab merendahkan dirinya baik secara psikologis maupun dalam sikapnya, TUHAN, melalui Elia, menyatakan penghakiman baru. Pertama, ayat 29 mencatat, 「Sudahkah kaulihat betapa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku?」 Kata 「merendahkan diri」 yang disebutkan dalam ayat ini memang merupakan kerendahan hati di hadapan TUHAN, artinya setelah Ahab mendengar penghakiman yang telah Allah tetapkan, ia menegaskan kembali sikap rendah hatinya di hadapan TUHAN. Berdasarkan sikap ini, TUHAN tidak mendatangkan malapetaka yang dijanjikan kepadanya selagi ia masih hidup, tetapi menundanya kepada anak-anaknya dan keluarganya. Dengan kata lain, kerendahan hati Ahab tidak cukup untuk membalikkan penghakiman Allah; kerendahan hatinya hanya dapat menunda waktu penghakiman, yang akan menimpa keturunannya.

Dalam Kitab Keluaran, kita melihat bahwa berkat dan hukuman atas diri seorang ayah dapat meluas hingga keturunannya: 「Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: 『TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.』」 (Keluaran 34:6-7) Ayat ini menunjukkan bahwa meskipun TUHAN adalah Allah yang penuh belas kasihan dan rahmat, Ia tidak akan membiarkan orang yang bersalah lolos dari hukuman; dan cara-Nya menghukum dosa adalah dengan memperluas hukuman tersebut hingga generasi ketiga dan keempat dari orang yang berdosa. Kitab Raja-raja melanjutkan pemahaman ini bahwa dosa akan meluas hingga tiga atau empat generasi keturunan. Penghukuman TUHAN atas Ahab benar-benar mendatangkan malapetaka atas putranya, Yoram (2 Raj. 9:25-26) dan ketujuh puluh putra Ahab (2 Raj. 10:1-11). Lebih jauh lagi, karena putri Ahab, Atalia, menikah dengan Yoram, putra Yosafat, raja Yehuda, TUHAN memperluas malapetaka ini kepada putra Yoram, Ahazia (2 Raj. 9:27-28). Peristiwa-peristiwa ini menggenapi nubuat TUHAN tentang penghukuman yang disampaikan melalui Elia.

Refleksi:
Apakah pengakuan dan perendahan diri Anda di hadapan Tuhan hanyalah reaksi psikologis, atau titik awal pertobatan yang sungguh-sungguh?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 21:25-26

「Engkau telah menjual diri sendiri」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:25-26 [TB2])
25 Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak diri dengan melakukan yang jahat di mata TUHAN, karena ia telah dihasut oleh Izebel, istrinya. 26 Bahkan ia telah bertindak sangat menjijikkan dengan mengikuti berhala-berhala, sama seperti yang dilakukan oleh orang Amori yang telah dihalau TUHAN dari hadapan orang Israel.

Dari perspektif susunan teks, ayat 25-26 tampaknya merupakan sisipan oleh narator, yang dimaksudkan untuk mengklarifikasi perilaku dan dosa Ahab, sehingga pembaca dapat memahami seperti apa kepribadiannya. Ayat 25 dimulai dengan 「Sesungguhnya,」 yang menunjukkan makna 「Sesungguhnya hanya … yang seperti ini,」 artinya sepanjang sejarah Kerajaan Utara, hanya Ahab yang seperti ini. Teks tersebut menggunakan empat kata 「yang (who)」 (אשר ’ă·šer) untuk menggambarkan karakteristik uniknya :

1. 「『yang (who)』 memperbudak diri dengan melakukan yang jahat di mata TUHAN」, kata 「memperbudak diri」 berkaitan dengan menjual diri menjadi budak, dan kalimat ini menjelaskan bahwa Ahab menjual dirinya dan menjadi budak yang 「melakukan apa yang jahat di mata TUHAN」.

2. 「『yang (who)』 telah dihasut oleh Izebel, istrinya」, kata 「dihasut」 (סות sûiṯ) dapat merujuk pada godaan dalam arti politik. Jika demikian, godaan Izebel terhadap Ahab bukanlah godaan seksual, melainkan godaan politik; karena Izebel adalah putri raja Sidon (1 Raj. 16:31), tindakan Ahab menikahinya adalah aliansi politik. Untuk mempertahankan aliansi politik ini, Ahab mengizinkan penyembahan Ba’al oleh Izebel pada aspek keagamaan. Dengan demikian, godaan politik meluas ke godaan keagamaan.

3. 「Ia telah bertindak sangat menjijikkan dengan mengikuti berhala-berhala, sama seperti 『yang (that)』 dilakukan oleh orang Amori」, Kata 「menjijikkan」 (תועבה tôʿēḇah) sering muncul dalam Kitab Ulangan, merujuk pada hal-hal seperti: berhala dan patung-patung dewa yang diukir (Ul. 7:25-26; 12:31; 13:12-15; 17:3-4; 32:16), mempersembahkan domba dan sapi yang sakit (Ul. 17:1), berbagai mantra (Ul. 18:9-12), mengenakan pakaian lawan jenis (Ul. 22:5), menikahi wanita yang pernah diceraikannya sendiri (Ul. 24:4), dan timbangan yang tidak adil (Ul. 25:13-16), dan lain-lain. Semua ini adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang asing non Yahudi. Oleh karena itu, ayat 26 menghubungkan kedua perilaku ini (pembunuhan dan perebutan tanah serta penyembahan berhala), menunjukkan bahwa keduanya adalah perbuatan keji dan praktik umum orang Amori.

4. 「orang Amori 『yang (who)』 telah dihalau TUHAN dari hadapan orang Israel」, pernyataan ini menunjukkan bahwa orang Amori telah diusir oleh TUHAN, dan bangsa Israel menyaksikan peristiwa ini. Hal ini mungkin didasarkan pada Imamat 18:24-30, yang menyatakan bahwa orang Kanaan (orang Amori) menajiskan tanah Kanaan karena perbuatan-perbuatan keji dan kejahatan lainnya, sehingga tanah itu memuntahkan mereka. Ini melambangkan mereka diusir oleh TUHAN, dan bangsa Israel yang menyaksikan pengusiran orang Kanaan, harus belajar dari pengalaman mereka dan diperingatkan agar tidak melakukan hal-hal keji yang sama, supaya mereka tidak diusir seperti mereka.

Refleksi:
Melalui nabi Elia, TUHAN menyatakan penghukuman-Nya atas Ahab, Izebel, dan seluruh keluarga Ahab. Keluarga Ahab akan mengalami kehancuran dan pemusnahan yang sama seperti keluarga Yerobeam dan Baesa. Lebih jauh lagi, TUHAN akan menghukum Izebel dengan berat, menyebabkan dia mati dengan kematian yang mengerikan, seperti terkutuk. Penulis mengingatkan pembaca bahwa Ahab adalah seorang yang menjual dirinya ke dalam perbudakan dosa, mengikuti orang Kanaan dalam perbuatan-perbuatan keji mereka dan tergoda oleh Izebel untuk melakukan apa yang jahat di mata TUHAN. Semua dosa ini dilaporkan dengan jelas untuk memperingatkan pembaca.


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 21:20-24

「Engkau sudah mendapati aku?」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:20-24 [TB2])
20 Kata Ahab kepada Elia, 「Jadi, aku sudah kaudapati, hai musuhku?」 Jawabnya, 「Memang aku mendapati engkau, karena engkau sudah memperbudak dirimu dengan melakukan yang jahat di mata TUHAN. 21 Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan malapetaka kepadamu. Aku akan menyapu habis engkau dan melenyapkan setiap laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang terikat ataupun yang bebas, di Israel. 22 Aku akan memperlakukan keluargamu sama seperti keluarga Yerobeam bin Nebat dan keluarga Baesa bin Ahia, karena engkau menimbulkan murka-Ku, dan karena engkau mengakibatkan orang Israel berbuat dosa pula. 23 TUHAN juga telah berfirman mengenai Izebel: Anjing-anjing akan memakan Izebel di tembok luar Yizre’el. 24 Siapa saja dari keluarga Ahab yang mati di kota akan dimakan anjing dan yang mati di padang akan dimakan burung di udara.」

1 Raja-raja 21:20 mencatat tanggapan Ahab terhadap nubuat penghakiman Elia: 「Jadi, aku sudah kaudapati, hai musuhku?」 Ahab menggambarkan Elia sebagai 「musuhku」; sebelumnya, Ahab menggambarkan Elia sebagai 「orang yang mencelakakan Israel」 (18:17), dan sekarang Elia naik tingkat menjadi 「musuhku,」 menunjukkan bahwa Ahab menganggap Elia sebagai musuh bebuyutan. Pada saat yang sama, pertanyaan 「Jadi, aku sudah kaudapati?」 dijawab sesuai oleh Elia di bagian kedua ayat 20 「Memang aku mendapati engkau.」 Dialog tentang 「mendapati」 ini secara permukaan menggambarkan pencarian lokasi keberadaan Ahab, tetapi pada kenyataannya, itu menunjukkan bahwa jati diri Ahab yang berdosa telah didapati oleh Elia, dan bahkan oleh TUHAN. Frasa 「aku sudah kaudapati」 menunjukkan bahwa Elia telah menemukan sifat berdosa Ahab.

Ayat 21-22 mencatat penghakiman TUHAN atas keluarga Ahab, yang berfokus pada 「menyapu habis」 (ayat 21). Bahasa aslinya tampaknya mengatakan 「Aku akan membinasakan keturunanmu,」 yang menunjukkan bahwa bukan hanya Ahab sendiri yang dibinasakan, tetapi juga 「keturunanmu,」 yaitu, semua keturunan dan orang-orang dari keluarga Ahab. Daftarnya adalah 「setiap laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang terikat ataupun yang bebas, di Israel.」 Ungkapan ini mengulangi isi penghakiman TUHAN atas keluarga Yerobeam dan Baesa (1 Raj. 14:8-11, 16:3, 4, 7). Keluarga Ahab mengulangi kesalahan keluarga Yerobeam dan juga menerima nasib keluarga Yerobeam. Oleh karena itu, ayat 22 menyatakan: 「Aku akan memperlakukan keluargamu sama seperti keluarga Yerobeam bin Nebat dan keluarga Baesa bin Ahia.」

Penghukuman TUHAN atas Izebel tercatat dalam ayat 23. Penghukuman itu menyatakan, 「Anjing-anjing akan memakan Izebel di tembok luar Yizre’el.」 Teks bahasa aslinya menghilangkan kata 「daging,」 yang menyiratkan bahwa anjing-anjing itu akan melahap Izebel secara utuh. 「Tembok luar」 kemungkinan merujuk pada tembok kota (Ratapan 2:8; Nahum 3:8; Yesaya 26:1), sebuah kata yang kadang-kadang dikaitkan dengan istana (Mazmur 48:14, 122:7). 「Tembok luar Yizre’el」 mungkin merujuk pada daerah dekat istana Ahab di Yizre’el. Mengenai penggenapan nubuat ini, 2 Raja-raja 9:36 menyebutkan bahwa Izebel pada akhirnya dimakan oleh anjing-anjing di ladang Yizre’el, yang mungkin merupakan kebun anggur Nabot, karena kebun anggur ini terletak tepat di dekat istana di Yizre’el.

Ayat 24 lebih lanjut menjelaskan bahwa keluarga Ahab dimakan oleh anjing di kota dan burung-burung di ladang. Artinya, baik di dalam maupun di luar kota, mereka akan dimakan oleh anjing atau burung, seperti yang akan terjadi pada Yerobeam dan keluarga Baesa (1 Raj. 14:11, 16:4). Ini adalah kematian yang memalukan, jahat, dan terhina; mereka tidak hanya akan mati tanpa penguburan yang layak, tetapi tubuh mereka juga akan dimakan oleh binatang, sehingga mereka tidak memiliki mayat yang utuh, dan menggenapi kutukan dari Allah.

Refleksi:
Apakah saya juga telah 「mendapati」 sifat dosa saya yang sebenarnya? Sekalipun seseorang memiliki kemampuan untuk menipu orang lain, pada akhirnya tidak seorang pun dapat lolos dari 「didapati」 oleh Allah. Pertanyaannya adalah, apakah kita terlebih dahulu memiliki kesadaran diri untuk segera 「mendapati」 sifat dosa kita yang sebenarnya sehingga kita dapat bertobat sesegera mungkin?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 21:17-19

「Hukuman yang setimpal」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:17-19 [TB2])
17 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu, bunyinya, 18 「Bangunlah, pergilah menemui Ahab, raja Israel yang di Samaria. Ia ada di kebun anggur Nabot. Ia pergi ke sana untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya. 19 Katakanlah kepadanya, demikian: Beginilah firman TUHAN: Setelah membunuh, masih juga engkau merampas? Katakan pula kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu.」

1 Raja-raja 21:17 dimulai dengan 「Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu,」 sebuah ungkapan yang mirip dengan pernyataan Elia dalam 17:2 dan 18:1. Ini menunjukkan bahwa firman TUHAN datang kepada Elia tiga kali, dan ketiga kalinya menyangkut Ahab. Dengan demikian, dalam keseluruhan narasi Elia, kita menemukan setidaknya tiga contoh yang menunjukkan bahwa Elia bertindak sesuai dengan perintah TUHAN. Ketiga contoh ini ditemukan dalam pasal 17, 18, dan 21.

Ayat 21:18, tercatat bagaimana TUHAN memberi dua kata kerja perintah kepada Elia, yang secara harfiah diterjemahkan sebagai: 「Bangunlah! Turunlah untuk menemui Ahab, raja Israel.」 Perintah 「bangunlah!」 secara harfiah sesuai dengan perintah Izebel kepada Ahab (1 Raj. 21:15 「Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizre’el itu, menjadi milikmu. …」). Setelah Izebel memerintahkan Ahab untuk bangun dan mengambil alih kebun anggur Nabot, TUHAN memerintahkan Elia untuk bangun dan menemui Ahab. Bersamaan dengan itu, teks tersebut menggunakan 「Turunlah!」 untuk menggambarkan perintah kedua Allah kepada Elia. Karena Yizre’el adalah dataran utara, seseorang harus 「turun」 jika bepergian dari lokasi yang lebih tinggi, seperti barat atau tengah Kanaan. Lebih lanjut, ayat 18 menggambarkan Ahab sebagai 「raja Israel」 dan 「di Samaria.」 Kita ingat bahwa dalam pasal 21, ayat 1 Ahab digambarkan sebagai 「raja Samaria,」 sebutan ini menyoroti identitas asli daerah asal Ahab, membandingkannya dengan identitas asli Nabot sebagai orang Yizre’el, sehingga menunjukkan bahwa Ahab seharusnya tidak merebut tanah leluhur orang lain. Namun, ayat 18 mencatat bahwa TUHAN menyebut Ahab 「raja Israel,」 menunjukkan bahwa identitasnya jabatannya adalah raja Israel, tetapi pada saat yang sama juga 「raja Samaria.」 Artinya, Ahab lahir dan tinggal di Samaria, dan itu sudah cukup baginya untuk menjadi raja Israel. Lalu mengapa ia perlu merebut tanah Yizre’el di luar Samaria?

Ayat 19 dua kali menggunakan frasa 「Beginilah firman TUHAN」 untuk menunjukkan dosa dan hukuman terhadap Ahab. Pertama, dosa Ahab adalah, 「Setelah membunuh, masih juga engkau merampas?」 Di sini kata 「membunuh」 adalah kata kerja yang sama yang digunakan dalam perintah keenam dari Sepuluh Perintah Allah, 「Jangan membunuh,」 dalam Keluaran 20:13 atau Ulangan 5:17, yang menunjukkan bahwa Ahab melanggar perintah keenam. Adapun 「merampas warisan,」 ini juga merupakan konsep penting dalam Ulangan. Hanya mereka yang menaati hukum dan perintah Allah yang dapat menerima warisan dari Allah (Ul. 5:31, 33), tetapi Ahab memperoleh warisan dengan melanggar Sepuluh Perintah Allah, yang merupakan dosa Ahab. Nubuat tentang darah Ahab yang dijilat anjing akan menggantikan nubuat tentang darah Nabot yang dijilat anjing, artinya darah Nabot tidak dijilat anjing; sebaliknya, darah Ahab akan dijilat anjing. Oleh karena itu, kunci untuk menafsirkan nubuat ini bukanlah tempat anjing menjilatnya, melainkan bahwa darah Ahab akan dijilat anjing (di mana pun itu).

Refleksi:
Ahab adalah raja Israel, dan kedudukannya seharusnya ditinggikan. Mengapa kemudian ia hanya fokus pada kebun anggur Nabot? Karena Ahab menumpahkan darah, ia harus menghadapi penghakiman timbal balik yang setimpal dari TUHAN: keluarga Ahab juga akan tertumpahkan darah. Bagaimana pembalasan setimpal semacam ini bisa menjadi awal dari rasa hormat kita kepada Allah?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 21:5-16

「Memakai hukum melanggar hukum」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:5-16 [TB2])
5 Izebel, istrinya, datang dan berkata kepadanya, 「Mengapa hatimu kesal sampai-sampai engkau tidak mau makan?」 6 Jawab Ahab kepadanya, 「Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizre’el itu: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya. Tetapi, sahutnya, Aku tidak akan memberikan kebun anggurku itu kepadamu.」 7 Kata Izebel, istrinya, kepadanya, 「Bukankah engkau sekarang yang berkuasa sebagai raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan hendaklah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizre’el itu.」
8 Kemudian ia menulis surat atas nama Ahab, memeteraikannya dengan meterai raja, lalu mengirim surat-surat itu kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang tinggal sekota dengan Nabot. 9 Dalam surat-surat itu ditulisnya demikian, 「Umumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat. 10 Suruhlah juga dua orang durjana duduk menghadapinya, dan mereka harus menjadi saksi melawan dia, dengan mengatakan, Engkau telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati.」
11 Orang-orang sekotanya, tua-tua dan pemuka-pemuka yang tinggal di kotanya itu, melakukan seperti yang diperintahkan Izebel kepada mereka, sebagaimana tertulis dalam surat yang dikirimkannya kepada mereka. 12 Mereka mengumumkan puasa dan menyuruh Nabot duduk paling depan di antara rakyat. 13 Kemudian dua orang durjana datang dan duduk menghadapi Nabot. Orang-orang durjana itu menjadi saksi melawan Nabot di depan rakyat, katanya, 「Nabot telah mengutuk Allah dan raja.」 Sesudah itu mereka membawa dia ke luar kota, lalu melempari dia dengan batu sampai mati. 14 Setelah itu mereka mengutus orang kepada Izebel dengan kabar ini, 「Nabot sudah dilempari dengan batu sampai mati.」
15 Segera sesudah mendengar bahwa Nabot sudah dilempari dengan batu sampai mati, Izebel berkata kepada Ahab, 「Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizre’el itu, menjadi milikmu. Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi; ia sudah mati.」 16 Mendengar bahwa Nabot sudah mati, Ahab bangun dan pergi ke kebun anggur Nabot, orang Yizre’el itu, untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya.

Perikop ini mencatat serangkaian tindakan Izebel untuk membunuh Nabot dan kemudian merebut kebun anggur Nabot untuk Ahab. Banyak aspek dari proses ini memerlukan interpretasi dalam kerangka Hukum Musa, termasuk pengaturan untuk saksi, pengadilan, dan eksekusi. Izebel menggunakan prosedur Musa untuk menganiaya Nabot, mengubah hukum menjadi alat politik di tangannya. Dia secara terang-terangan melanggar Sepuluh Perintah Allah, termasuk memberikan kesaksian palsu (Ul. 5:20), pembunuhan (Ul. 5:17), dan mencuri tanah orang lain (Ul. 5:19). Dia mengarang tuduhan dengan menggunakan tuntutan dua saksi (Ul. 17:6, 19:15), melanggar Sepuluh Perintah Allah dalam Ulangan melalui prosedur hukum, memanipulasi hukum untuk mencapai rencana pembunuhannya yang bermotivasi politik.

Dalam suratnya, Izebel menyatakan bahwa ia akan menyuruh dua orang durjana duduk berhadapan dengan Nabot (1 Raja – raja 21:10). Dalam bahasa aslinya, kedua durjana itu dapat diterjemahkan sebagai 「dua orang – anak dari yang tidak berharga (sons of worthlessness)」; dan frasa 「anak dari yang tidak berharga (sons of worthlessness)」 itu bisa difrasakan sebagai 「anak-anak Belial/the men of Belial (lihat KJV, ),」 Belial yang sama yang disebutkan Paulus dalam Surat 2 Korintus: 「Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? …」 (2 Kor. 6:15-16). Dalam Perjanjian Baru, 「Belial」 adalah nama lain untuk Setan, sedangkan dalam Perjanjian Lama, 「anak dari yang tidak berharga (sons of worthlessness)」 atau 「anak-anak Belial」 biasanya digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang: memimpin orang banyak untuk menyembah dewa-dewa lain yang tidak mereka kenal (Ul. 13:13; 「orang durjana」), semaunya mengikuti keinginan mereka dan menginginkan hubungan seksual dengan orang lain (Hakim 19:22, 20:13」), kedua putra Eli (1 Sam. 2:12), dan mereka yang menghina Saul, orang yang diurapi TUHAN (1 Sam. 10:27). Teks Alkitab menggambarkan beberapa individu, termasuk Nabal (1 Sam. 25:17, 25), dan Seba bin Bikri, orang Benyamin yang mengutuk Daud (2 Sam. 20:1). Deskripsi ini menunjukkan bahwa 「anak dari yang tidak berharga (sons of worthlessness)」 atau 「anak-anak Belial」 merujuk kepada mereka yang secara moral korup, membenci Allah, dan mengutuk orang lain. Dan Izebel secara khusus meminta individu-individu semacam ini untuk digunakan sebagai saksi untuk menjebak Nabot, sehingga memenuhi persyaratan hukum dua atau tiga saksi (Ul. 17:6, 19:15). Dia menggunakan individu-individu yang secara moral bangkrut ini untuk menuduh Nabot yang saleh. Di sini, kita melihat ironi: Nabot, yang seharusnya tidak dikutuk, justru dikutuk; Mereka yang mengutuk orang lain dan tidak memiliki prinsip moral menjadi saksi yang menuduh orang lain. Pembalikan antara kebaikan dan kejahatan ini, pemutarbalikan antara benar dan salah, dengan sempurna mengungkapkan kepribadian dan kelicikan Izebel.

Menurut bahasa asli ayat 15, ketika Izebel mendengar bahwa Nabot telah dirajam sampai mati, ia segera memerintahkan Ahab dengan dua kata perintah: 「Bangunlah! Ambil alih kebun anggur Nabot orang Yizre’el!」 Fakta bahwa Izebel menggunakan kata-kata perintah untuk memerintah Ahab menunjukkan ketidakseimbangan kekuasaan di antara mereka; Izebel adalah orang yang memegang kendali, dan Ahab adalah orang yang menerima perintah. Ini menunjukkan bahwa Izebel yang bertanggung jawab, dan Ahab mungkin tidak tahu apa yang sedang dilakukan Izebel. Ia hanya tahu bahwa Nabot telah mati, tetapi ia mungkin tidak tahu mengapa Nabot meninggal, dan ia tidak bertanya, hanya mengikuti instruksi Izebel, seperti para tetua dan para pemuka. Kemudian, ayat 16 mencatat bahwa Ahab, mengikuti perintah Izebel, mengambil alih kebun anggur Nabot.

Refleksi:
Izebel menggunakan hukum untuk melanggar hukum, melakukan pembunuhan dan memfitnah orang benar sebagai orang berdosa. Distorsi antara benar dan salah ini mungkin merupakan fenomena umum dalam masyarakat modern. Bagaimana Anda dapat menjaga hati Anda tetap murni agar tidak jatuh ke dalam dosa Izebel? Bagaimana Anda akan menghadapi 「Izebel」 dalam masyarakat?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 21:1-4

「Pergi dengan hati kesal」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 21:1-4 [TB2])
1 Sesudah itu terjadilah peristiwa ini. Nabot, orang Yizre’el, mempunyai kebun anggur di Yizre’el, di samping istana Ahab, raja Samaria. 2 Berkatalah Ahab kepada Nabot, 「Berikanlah kebun anggurmu itu kepadaku untuk kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik sebagai gantinya. Tetapi, jika engkau anggap lebih baik, aku akan memberimu uang senilai harganya.」 3 Jawab Nabot kepada Ahab, 「Kiranya TUHAN mencegah aku memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu!」 4 Lalu Ahab masuk ke dalam istananya dengan hati kesal dan gusar karena perkataan yang diucapkan Nabot, orang Yizre’el itu, kepadanya, 「Aku tidak akan memberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku.」 Ia berbaring di tempat tidurnya sambil menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan.

Ayat 1 diterjemahkan secara literal adalah: 「Ada kebun anggur milik Nabot orang Yizre’el, yang terletak di Yizre’el.」 Penekanan pada 「kebun anggur」 ini menunjukkan bahwa pasal 21 adalah narasi tentang kebun anggur, dan bahwa kebun anggur ini milik Nabot orang Yizre’el, yang terletak di Yizre’el. Gema pengulangan antara 「orang Yizre’el」 dan 「Yizre’el」 dalam teks tersebut menggarisbawahi hubungan erat antara kelahiran Nabot dan warisan pusakanya, dan juga menunjukkan bahwa kebun anggur ini adalah tanah milik Nabot ini diwarisi dari leluhurnya; detail-detail ini menjadi informasi penting untuk pengembangan narasi selanjutnya.

Kebun anggur ini berada di samping istana Ahab. Bagaimana kita memahami istana Ahab yang terletak di Yizre’el? Ibu kota kerajaan Israel utara berada di Samaria, jadi Ahab seharusnya memiliki istana di sana. Namun, ia juga memiliki istana lain di Yizre’el, untuk liburannya atau keperluan lain. Kita melihat dari ayat-ayat lain bahwa Ahab memiliki tempat tinggal di Yizre’el, terutama setelah peristiwa di Gunung Karmel, ketika ia kembali ke tempat tinggalnya di sana (ayat 46); dan putra Ahab, Yoram, setelah terluka dalam pertempuran dengan Aram, juga kembali ke Yizre’el (2 Raj. 8:29, 9:15). Catatan-catatan ini menegaskan bahwa Ahab memiliki istana yang terletak di Yizre’el.

Ayat 2 mencatat tuntutan Ahab kepada Nabot. Bagian ini dimulai dengan 「Berikanlah kebun anggurmu itu kepadaku,」 yang dalam bahasa aslinya merupakan perintah, mewakili perintah kerajaan Ahab kepada Nabot mendesaknya memberikan kebun anggurnya kepadanya. Ini juga mencerminkan pandangan Ahab terhadap kebun anggur orang lain sebagai komoditas bisnis yang dapat diperdagangkan semata, yang dapat dibeli dan dijual secara bebas (tradable commodity). Ahab kemudian menyatakan bahwa keinginannya untuk memperoleh kebun anggur Nabot adalah untuk mengubahnya menjadi 「kebun sayur」 (גן־ירק). Dalam Kitab Ulangan, kata 「kebun sayur」 memiliki konotasi negatif: 「Sebab negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, bukanlah negeri seperti tanah Mesir, dari mana kamu keluar, yang setelah ditabur dengan benih harus kauairi dengan jerih payah, seakan-akan kebun sayur」 (Ul. 11:10). Artinya, 「kebun sayur」 melambangkan tanah Mesir, tempat orang Israel hidup sebagai budak. Sebaliknya, 「kebun anggur」 dalam Perjanjian Lama sering melambangkan Israel, yang dikasihi Allah (Yesaya 3:14, 5:1-2; Yeremia 12:10). Oleh karena itu, kontras antara 「kebun sayur」 dan 「kebun anggur」 lebih lanjut melambangkan kontras antara tanah Mesir dan tanah Kanaan (Tanah Perjanjian). Jika Israel bercita-cita untuk diubah menjadi 「kebun sayur」 seperti Mesir, maka mereka akan rusak, menjadi tanah tandus, pada akhirnya hanya cocok untuk kayu bakar — situasi yang mirip dengan perumpamaan tentang pohon anggur dan ranting-rantingnya dalam khotbah Yesus Kristus (Yohanes 15:1-10).

Ahab awalnya mengusulkan kesepakatan: kebun anggur 「kebun anggur yang lebih baik sebagai gantinya.」 Namun, ayat 3 mencatat tanggapan Nabot yang sederhana dan langsung kepada Ahab, tanpa adanya tawaran balasan atau negosiasi. Ia memulai dengan 「Kiranya TUHAN mencegah aku,」 teks bahasa aslinya dapat diterjemahkan sebagai 「Itu adalah penghujatan bagiku,」 yang berarti bahwa keinginan Ahab untuk membeli kebun anggur itu adalah penghujatan di mata Nabot, dan juga penghujatan di mata TUHAN. Ini sesuai dengan frasa 「di matamu」 (בעיניך) dalam ayat 2 「Tetapi, jika engkau anggap lebih baik (di matamu), aku akan memberimu uang senilai harganya」; Ahab berharap untuk memperoleh tanah itu melalui kesepakatan yang baik dengan Nabot di mata manusia, tetapi di mata Allah ini adalah jahat dan menghujat. Reaksi yang sangat berbeda dari kedua orang itu menciptakan kontras.

Terakhir, ayat 4 mencatat reaksi Ahab setelah mendengar jawaban Nabot, hatinya 「kesal dan gusar」 (סר וזעף), yang mengungkapkan kekhawatiran dan kejengkelan Ahab atas terganggunya rencananya, rasa kesal, tersinggung, dan bahkan amarah. Kata ini juga muncul dalam pasal 20, ayat 43, yang menggambarkan reaksi Ahab setelah mendengar penghakiman dan teguran nabi. Tampaknya Ahab 「kesal hati dan gusar」 setiap kali segala sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya; bahkan ketika kehendaknya bertentangan dengan perintah Allah, ia tetap merasa tersinggung dan marah.

Refleksi:
Rasa hormat takut Nabot kepada Allah dan kekesalan hati serta kegusaran Ahab membentuk sebuah kontras. Pelajaran apa yang dapat Anda ambil dari kontras ini?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 20:35-43

「Pergi dengan hati kesal dan gusar?」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 20:35-43 [TB2])
35 Seorang dari rombongan nabi berkata kepada temannya atas perintah TUHAN, 「Pukullah aku!」 Tetapi, orang itu menolak memukulnya. 36 Lalu ia berkata kepadanya, 「Karena engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, ketahuilah, segera setelah engkau meninggalkan aku, seekor singa akan menerkam engkau.」 Ketika orang itu meninggalkan dia, seekor singa mendapati orang itu, lalu menerkam dia.
37 Kemudian nabi itu bertemu dengan orang lain, lalu ia berkata, 「Pukullah aku!」 Orang itu memukulnya dengan keras sampai ia terluka.
38 Lalu nabi itu pergi dan berdiri menantikan raja di jalan. Ia menyamar dengan memakai penutup pada matanya. 39 Ketika raja lewat, ia berseru mengadu kepada raja, katanya, 「Ketika hambamu ini maju ke medan pertempuran, tiba-tiba ada seorang meninggalkan barisan dan membawa seorang kepadaku sambil berkata, Jagalah orang ini, jika sampai ia hilang, nyawamulah ganti nyawanya, atau engkau harus membayar setalenta perak. 40 Ketika hambamu ini sedang sibuk-sibuknya, orang itu menghilang.」 Kemudian raja Israel itu berkata kepadanya, 「Begitu jugalah hukumanmu, engkau sendiri telah menetapkannya.」
41 Lalu ia segera membuka kain penutup matanya, sehingga raja Israel mengenali dia sebagai seorang dari rombongan nabi. 42 Kata nabi itu kepadanya, 「Beginilah firman TUHAN: Karena engkau telah membiarkan lolos orang yang dikhususkan bagi-Ku untuk ditumpas, nyawamu adalah ganti nyawanya dan rakyatmu ganti rakyatnya.」 43 Raja Israel pun pulang ke istananya dengan hati kesal dan gusar, lalu ia sampai di Samaria.

1 Raja-raja 20:35-43 adalah bagian khusus yang mencatat akibat dari Ahab mengadakan perjanjian dengan Benhadad, menunjukkan bahwa seorang nabi pergi kepada Ahab untuk menjelaskan penghukuman terhadapnya karena mengadakan perjanjian tersebut. Nabi itu menggunakan metode 「drama kenabian」 atau 「tindakan tanda kenabian」 (prophetic drama or prophetic sign-acts,) yang berarti bahwa nabi itu tidak hanya menyampaikan kehendak Allah tetapi juga menyampaikan penghukuman Allah melalui tindakan simbolis atau komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal ini memungkinkan pendengar untuk memahami penghukuman dan kehendak Allah lebih dalam melalui ingatan visual (bukan hanya suara), sehingga memungkinkan mereka untuk memahami dan menerimanya dengan lebih efektif.

Ayat 35 dimulai dengan menyebutkan seorang dari rombongan nabi yang tidak disebutkan namanya, mengingatkan kita pada saat Elia merasa sendirian, dan TUHAN berbicara kepadanya tentang tujuh ribu orang yang menolak untuk sujud kepada Ba’al (1 Raj. 19:18); Allah telah memelihara bagi-Nya sekelompok nabi yang bersatu melawan Ba’al dan keluarga Ahab. Nabi ini, atas perintah TUHAN, memerintahkan teman-temannya untuk memukulnya. Kita tidak tahu apakah teman ini juga bagian dari rombongan nabi — mungkin saja — tetapi poin kuncinya adalah bahwa perintah ini 「atas perintah TUHAN.」 Karena itu adalah perintah dari Allah, teman-temannya harus taat. Ayat 36 menggambarkan bagaimana 「orang itu」 (teman nabi) tidak taat pada perintah TUHAN dan tidak memukul nabi; penghakiman konkret yang ia terima adalah seekor singa membunuhnya, yang menggambarkan betapa serius ketidaktaatan.

Kemudian, ayat 39, nabi menggambarkan raja Israel melewati jalan itu, dan menjelaskan kepadanya bahwa ia bertanggung jawab untuk menjaga seorang tawanan perang. Sebagai penjaga, ia harus memastikan perjalanan tawanan itu aman dan mencegahnya melarikan diri; jika tidak, nyawanya akan menggantikan nyawa tawanan itu. Pesan nabi adalah bahwa Ahab harus melihat penggantian nyawa untuk nyawa ini, dan melalui itu, ia harus menyampaikan kepada Ahab bahwa jika ia bertanggung jawab untuk menjaga seorang tawanan perang yakni Benhadad tetapi membiarkannya pulang, Ahab akan membayar dengan nyawanya, menggantikan Benhadad sebagai orang yang akan dimusnahkan. Jika Ahab tidak memusnahkan Benhadad, Ahab akan menjadi tawanan menggantikannya, dan tidak mungkin baginya untuk menebus dirinya dengan uang.

Terakhir, setelah mendengar pengumuman penghakiman Allah, raja Ahab dari Israel 「pulang ke istananya dengan hati kesal dan gusar, lalu ia sampai di Samaria」 (1 Raj. 20:43). Dalam bahasa aslinya, 「hati kesal」 dapat diartikan sebagai 「ketidakpuasan dan kejengkelan」 (סר וזעף). Ini mengungkapkan perasaan kompleks Ahab: di satu sisi, ia merasa terganggu dan tertekan oleh teguran nabi, tampaknya takut akan penghakiman yang akan datang; di sisi lain, ia juga merasa kesal terhadap teguran nabi, sehingga menimbulkan ketidakpuasan dan kemarahan. Keadaan pikiran yang bertentangan ini mencerminkan dengan sempurna sikap Ahab terhadap kehidupan. Di satu sisi, ia merasa sedikit kuatir dengan tindakannya; di sisi lain, ia merasa tersinggung dan bahkan marah oleh teguran nabi.

Refleksi:
Tidak menaati perintah Allah memiliki konsekuensi serius! Allah akan menggunakan para nabi untuk menjelaskan penghakiman-Nya kepada orang berdosa. Biasanya, ketika orang mendengar isi penghakiman tersebut, mereka seharusnya merasa hormat takut, dan bertobat; namun, Ahab pergi dengan hati gusar. Mentalitas macam apa yang tercermin dalam reaksinya? Bagaimana seharusnya Anda memandang perintah dan penghakiman Tuhan?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 20:31-34

「Membuat perjanjian dengan mereka yang seharusnya dihukum untuk binasa?」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 20:31-34 [TB2])
31 Lalu berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya, 「Ketahuilah, kami telah mendengar bahwa raja-raja kaum Israel itu adalah raja-raja yang berbelas kasih. Marilah kita memakai kain kabung pada pinggang kita dan tali pada kepala kita, dan keluar menghadap raja Israel; barangkali ia akan menyelamatkan nyawamu.」
32 Lalu mereka melilitkan kain kabung pada pinggang mereka dan tali pada kepala mereka. Kemudian mereka pergi menghadap raja Israel dan berkata, 「Demikian kata hambamu Benhadad: Biarkanlah aku hidup.」 Jawabnya, 「Masih hidupkah dia? Dia saudaraku.」 33 Orang-orang itu menganggap hal itu sebagai tanda baik dan segera memegang perkataannya, lalu berkata, 「Benhadad itu saudaramu!」 Ahab pun berkata, 「Pergilah, ambil dia!」 Benhadad keluar menemui dia, lalu diminta naik ke keretanya. 34 Kata Benhadad kepadanya, 「Kota-kota yang telah diambil ayahku dari ayahmu akan kukembalikan. Engkau juga boleh membuka pasarmu di Damsyik, seperti yang dilalukan ayahku di Samaria.」 Kata Ahab, 「Dengan perjanjian itu aku sendiri, akan membiarkan engkau pergi.」 Lalu Ahab mengadakan perjanjian dengan dia dan membiarkan dia pergi.

Ketika TUHAN menyerahkan Benhadad ke tangan Ahab, Ahab seharusnya menghancurkannya untuk mengamankan kemenangan bagi Israel dan membuktikan bahwa TUHAN adalah penguasa sejati, bukan dewa gunung atau dewa dataran. Namun, 1 Raja-raja 20:31-34 menunjukkan bahwa Ahab bukan saja tidak menghancurkan Benhadad, tetapi malah membuat perjanjian dengannya, menjadi sekutu, sehingga memutarbalikkan narasi seluruh pasal tersebut.

Ayat 31 dimulai dengan mencatat pendapat para pegawai kepada Benhadad, yang menunjukkan bahwa raja-raja Israel adalah raja-raja yang murah hati. Dalam bahasa aslinya, 「berbelas kasih」 dapat diartikan sebagai 「teguh/berkomitmen/setia」 (חסד che·sed), yang berarti bahwa raja-raja Israel selalu menepati janji perjanjian mereka. Ini menunjukkan bahwa para hamba Aram percaya bahwa raja -raja Israel secara konsisten setia pada perjanjian, tetapi ini dapat diartikan dalam dua cara: (1) Para hamba Aram percaya bahwa raja-raja Israel akan menepati janji mereka. Di masa lalu, Aram dan Israel memiliki hubungan penguasa – negeri bawahan, dan mereka mengharapkan raja-raja Israel untuk mempertahankan dan tetap setia pada hubungan mereka sebelumnya; (2) Para hamba Aram menganggap raja-raja Israel sebagai sekutu yang ideal karena ia 「teguh / berkomitmen / setia」 (חסד che·sed), dan dengan demikian menasihati raja-raja Aram untuk mencari aliansi dengannya. Kedua interpretasi tersebut menunjukkan bahwa raja-raja Israel setia pada perjanjian dan akan mengakui serta menghormatinya. Namun, ini sebenarnya ironis. Dalam narasi sejarah Kitab Raja-raja, semua raja Israel melakukan kejahatan di mata TUHAN, dan hampir tidak ada satu pun dari mereka yang mengakui atau menghormati perjanjian antara bangsa Israel dengan Allah. Oleh karena itu, anggapan bahwa raja-raja Israel setia pada perjanjian adalah ironis. Ini menunjukkan bahwa Ahab berpaling dan mengadakan perjanjian dengan Aram justru karena Ahab tidak menghormati perjanjian antara Israel dengan Allah.

Ayat 33 dimulai dengan menyebutkan 「menganggap hal itu sebagai tanda baik dan segera memegang perkataannya」 (TB/TB2). Terjemahan harfiahnya adalah 「orang-orang sedang meramal」 (והאנשים ינחשו), tetapi KJV menerjemahkan 「the men did diligently observe whether any thing would come from him (orang-orang itu dengan cermat menyelidiki apakah akan ada sesuatu yang muncul darinya),」 kata 「meramal」 diterjemahkan sebagai 「dengan cermat menyelidiki,」 yang mungkin dimaksudkan untuk menyatakan bahwa ramalan itu sendiri bertujuan untuk memahami kehendak para dewa (teks bahasa aslinya tidak menggunakan kata ganti 「dia」). Mengapa mereka membutuhkan ramalan bagi perjanjian mereka? Ini bisa jadi ritual yang dipraktikkan dalam perjanjian persekutuan Timur Dekat kuno, yang membutuhkan konsultasi dengan dewa-dewa tertentu dan kesaksian terhadap perjanjian tersebut. Dalam hal ini, Ahab bukan hanya gagal menghancurkan orang-orang yang diserahkan oleh TUHAN untuk dihancurkan, tetapi juga lebih jauh berpartisipasi dalam ritual ramalan dewa-dewa asing. Hal ini mencegahnya untuk memenuhi perannya sebagai raja Israel, ia gagal menyatakan bahwa setelah perang, hanya TUHAN yang merupakan Allah yang sejati, dan juga menyebabkan orang-orang secara keliru percaya bahwa Ahab memenangkan aliansi ini melalui dukungan dewa-dewa lain.

Refleksi:
Raja Ahab dari Israel seharusnya mengikuti perintah Allah untuk membinasakan raja Aram, sehingga membuktikan bahwa TUHAN adalah Tuhan seluruh bumi. Namun, ia hanya mementingkan visinya sendiri tentang perjanjian dan secara keliru membuat perjanjian persaudaraan dengan mereka yang seharusnya ia binasakan. Ia melakukan kesalahan ini karena ia mencari keuntungan politik dan karena ia ragu-ragu dalam ketaatannya pada perintah TUHAN, yang pada akhirnya mengundang penghukuman Allah. Pelajaran apa yang dapat Anda ambil dari kisah ini?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Raja-raja 20:22-30

「Allah gunungkah? Allah tanah datarkah?」

Oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Raja-raja 20:22-30 [TB2])
22 Lalu nabi itu mendekati raja Israel dan berkata kepadanya, 「Pergilah, kuatkanlah hatimu, sadarilah dan pertimbangkanlah apa yang harus kaulakukan, sebab pada pergantian tahun raja Aram akan maju menyerang engkau.」
23 Pegawai-pegawai raja Aram berkata kepadanya, 「Ilah-ilah mereka ialah ilah-ilah gunung. Itulah sebabnya mereka lebih kuat dari pada kita. Tetapi, bila kita berperang melawan mereka di tanah datar, pastilah kita lebih kuat daripada mereka. 24 Lakukanlah ini: Turunkanlah raja-raja itu masing-masing dari kedudukannya, dan angkatlah kepala-kepala daerah menggantikan mereka. 25 Lalu kerahkanlah tentara sebanyak tentara yang telah gugur dari pihakmu, demikian pula kuda dan kereta sebanyak yang dahulu. Marilah kita berperang melawan mereka di tanah datar, pasti kita lebih kuat daripada mereka.」 Raja mendengarkan usul mereka, dan bertindak demikian.
26 Pada tahun yang berikutnya Benhadad memeriksa barisan orang Aram, lalu maju ke Afek untuk berperang melawan orang Israel. 27 Setelah barisan orang Israel diperiksa dan dibekali, mereka berangkat menghadapi orang Aram. Orang Israel berkemah di hadapan mereka seperti dua kawanan kambing, sedang orang Aram membanjiri tanah itu. 28 Abdi Allah mendekati raja Israel dan berkata, 「Beginilah firman TUHAN: Oleh karena orang Aram itu telah berkata: TUHAN ialah Allah gunung dan bukan Allah lembah, maka Aku akan menyerahkan seluruh tentara yang besar itu ke dalam tanganmu, supaya kamu tahu bahwa Akulah TUHAN.」
29 Selama tujuh hari mereka berkemah berhadap-hadapan dan pada hari yang ketujuh pertempuran dimulai. Dalam satu hari orang Israel menewaskan seratus ribu orang Aram, tentara berjalan kaki. 30 Yang lainnya melarikan diri ke dalam Kota Afek, tetapi temboknya roboh menimpa kedua puluh tujuh ribu orang yang masih tinggal itu.
Benhadad juga melarikan diri, masuk ke kota dan bersembunyi di sebuah ruang dalam.

1 Raja-raja 20:23-25 mencatat nasihat yang diberikan oleh para pegawai raja Aram kepada raja Benhadad. Mereka percaya bahwa Allah Israel adalah ilah gunung, dan bahwa jika mereka berperang di dataran, mereka dapat mengalahkan tentara Israel. Para pegawai tersebut memiliki pandangan ini kemungkinan karena Samaria terletak di pegunungan, sehingga mereka menganggap Allah Israel sebagai ilah gunung. Lebih jauh lagi, tentara Aram terdiri dari kereta perang dan kuda perang (1 Raj. 20:25), yang akan lebih menguntungkan di dataran, sehingga mereka lebih memilih untuk berperang di dataran.

Ayat 26 menggambarkan tentara Aram, melancarkan kampanye militer melawan Israel, dengan medan pertempuran di Afek, seperti yang telah dinubuatkan oleh nabi. Beberapa tempat dalam Alkitab disebut sebagai Afek, tetapi Afek yang disebutkan dalam 20:26 diyakini terletak di Aram, dekat dataran yang menuju ke Israel. Afek juga muncul dalam 2 Raja-raja 13:17, tempat lain di mana Aram dan Israel berkonflik. Pada zaman Ahab, Afek seharusnya terletak di perbatasan antara Aram dan kerajaan Israel utara. Fakta bahwa orang Aram mundur ke Afek di ayat 20:30 menunjukkan bahwa Afek berada di bawah kendali Aram.

Ayat 28 menyebutkan seorang hamba Allah datang kepada raja Israel. Kita tidak yakin apakah hamba Allah ini adalah nabi tanpa nama yang disebutkan sebelumnya, dan gelar 「hamba Allah」 mengingatkan kita pada hamba Allah tanpa nama dari Yehuda yang disebutkan dalam 1 Raja-raja pasal 13. Teks tersebut mungkin menggunakan gelar yang berbeda, 「nabi」 dan 「hamba Allah,」 untuk menyebut dua orang yang berbeda, menunjukkan bahwa mereka berdua termasuk di antara tujuh ribu orang yang telah diperuntukkan bagi TUHAN yang tidak sujud kepada Ba’al (1 Raj. 19:18). Mereka melayani TUHAN pada waktu dan tempat yang berbeda, bertujuan untuk memberi tahu orang lain bahwa hanya TUHAN yang adalah Allah (1 Raj. 20:28).

Dalam hal ini, ayat 28 mencatat pesan hamba Allah, sekali lagi menanggapi argumen orang Aram bahwa TUHAN adalah ilah gunung dan bukan ilah dataran. Kesalahpahaman teologis ini merupakan penghujatan terhadap TUHAN. TUHAN adalah Tuhan seluruh bumi, Pencipta, dan Penguasa segala sesuatu; Bagaimana mungkin Dia terbatas pada wilayah tertentu? Oleh karena itu, karena nama-Nya yang kudus, TUHAN menyerahkan pasukan besar tersebut ke tangan pasukan Israel yang kecil seperti dua kawanan kambing, untuk mencapai tujuan 「supaya kamu tahu bahwa Akulah TUHAN.」 Jadi, tujuan perang bukanlah semata-mata untuk menentukan kemenangan atau kekalahan. Allah tidak berkewajiban untuk memihak dalam konflik tersebut. Allah menyerahkan orang Aram ke tangan orang Israel sepenuhnya demi nama-Nya yang kudus, untuk memberi tahu orang-orang bahwa: Dialah satu-satunya Allah yang sejati!

Refleksi:
TUHAN bukanlah sekadar dewa suatu wilayah tertentu, tetapi penguasa seluruh alam semesta. Orang Aram menganggap TUHAN sebagai ilah gunung atau ilah dataran, yang merupakan penghujatan. Konsep dewa-dewa regional ini mungkin ada dalam budaya dan tradisi kita; apakah Anda terpengaruh olehnya? Bagaimana Anda memandang TUHAN sebagai Tuhan seluruh alam semesta?


Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja 18-22

Renungan pemahaman Kitab 1 Raja-raja

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 1 Raja-raja 18-22 ditulis oleh Rev. Dr. Lawrence Ko (高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.