1 Petrus 2:21-25

「Teladan penderitaan Kristus」

Oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:21-25 [TB2])
21 Sebab, untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.
…22 Ia tidak berbuat dosa,
…………dan tipu tidak ada dalam
…………mulut-Nya.
23 Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkan diri-Nya kepada Dia yang menghakimi dengan adil. 24 Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah disembuhkan. 25 Sebab, dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.

Sebelum dan sesudah bagian ini, Petrus juga membahas kelompok-kelompok rentan dalam masyarakat pada waktu itu: warga negara kelas dua, hamba, dan istri. Saudara-saudari seiman yang 「tidak berdaya」 ini tidak hanya hidup dalam masyarakat yang tidak ramah terhadap orang Kristen, tetapi juga merupakan kelompok yang terpinggirkan dan tidak dihargai oleh orang lain. Dalam 1 Petrus 2:21, Petrus memberikan alasan teologis untuk ketaatan yang tidak lazim ini: 「untuk itulah kamu dipanggil.」 Dalam Surat 1 Petrus, 「dipanggil」 (kaleō) adalah pengalaman transformatif untuk terhubung dengan kehidupan Allah: orang Kristen dipanggil ke dalam kekudusan Allah (1:15 「hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu」). Kita dipanggil dari kegelapan masa lalu ke dalam terang Allah yang menakjubkan (2:9). Kita tidak akan lagi membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi memberkati orang lain (3:9), dan setelah penderitaan dunia ini, kita dapat menikmati kemuliaan kekal yang diberikan-Nya (5:10).

Di sini, Petrus menghubungkan 「ketaatan」 orang Kristen dengan 「ketaatan」 Kristus di masa lalu yang menderita bagi kita. Kristus meninggalkan kita 「teladan」 terbaik (2:21); kata 「teladan」 hanya muncul sekali dalam teks asli Perjanjian Baru, secara harfiah berarti 「model」 atau 「pola,」 merujuk pada salinan yang dibuat dengan kata-kata atau gambar, sering digunakan untuk menggambarkan anak-anak yang belajar menulis dengan benar. Ini sama seperti Kristus mengenakan mahkota duri, menanggung penderitaan, ejekan, dan ketidakadilan bagi kita di kayu salib, dan akhirnya mati di kayu salib untuk menanggung dosa kita semua. Oleh karena itu, panggilan ini juga berarti bahwa kita harus meneladani contoh Kristus dalam penderitaan. Lebih jauh lagi, kita harus taat kepada Allah dan belajar dari Tuhan Yesus Kristus untuk 「menyerahkan diri hanya kepada hakim yang adil」 (2:23). Sebagai murid Kristus, kita harus menderita demi kebenaran seperti Dia, menanggung semua rasa sakit dan penghinaan yang diderita karena setia kepada Tuhan. Meskipun orang Kristen tidak mencari penderitaan, kita harus siap menderita bagi Tuhan kapan saja dan di mana saja. Dengan kata lain, mereka yang mengikuti Kristus harus tanpa syarat berbagi dalam kehidupan penderitaan bagi orang lain bersama Tuhan. Ini bisa menjadi bagian dari misi yang memanggil orang kepada Kristus, dan juga bagian dari panggilan Tuhan bagi kita untuk mengalami proses transformasi kehidupan Kristen.

Dalam ayat 24-25, Petrus berulang kali mengingatkan kita bahwa Tuhan menanggung semua penderitaan ini 「untuk kita.」 Karena pengorbanan-Nya, kita 「mati terhadap dosa dan hidup untuk kebenaran,」 dan 「disembuhkan.」 Lebih jauh lagi, kita dapat keluar dari kehidupan kita yang tidak percaya di masa lalu, 「seperti domba yang sesat,」 pindah masuk ke dalam pelukan 「gembala dan pemelihara jiwamu.」 Ini adalah kabar baik bagi orang-orang Kristen yang terpinggirkan ini! Meskipun mereka menderita di dunia ini karena iman mereka, mereka tidak hilang, karena Kristus Gembala Agung ada bersama mereka. Sekalipun pengalaman mereka saat ini di dunia tidak menyenangkan, mereka tetap berada di bawah pemeliharaan kekal Kristus. Karena itu, menderita dan memberi kesaksian bagi Tuhan adalah berharga! Dan mempertahankan perilaku yang baik seperti teladan Kristus ketika orang Kristen dihina justru bertujuan untuk menuntun orang lain kepada keselamatan.

Refleksi:
1. Pernahkah Anda merenungkan bahwa 「panggilan」 Tuhan sebenarnya sedang menuntun Anda ke dalam proses transformasi dalam hidup Anda? Apa yang menurut Anda perlu Anda praktikkan selanjutnya?

2. Karena Tuhan kita menanggung semua penderitaan 「demi kita,」 apa yang dapat Anda lakukan untuk menghidupi rahmat-Nya yang besar?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Petrus ditulis oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基) yang dipublikasi pada bulan September 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Petrus 2:18-20

「Sebagai hamba di bumi」

Oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:18-20 [TB2])
18 Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis. 19 Sebab, adalah anugerah jika seseorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan secara tidak adil. 20 Sebab, dapatkah disebut pujian, jika kamu sabar menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi, jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu sabar menderita, hal itu adalah anugerah di hadapan Allah.

Di sini Petrus menunjukkan bahwa model kehidupan saleh ini juga mencakup saudara-saudari yang adalah 「hamba.」 Dalam masyarakat Yunani dan Romawi kuno pada masa itu, budak hampir sepenuhnya bergantung pada tuan mereka; mereka tidak memiliki hak independen dan sangat rentan. Dapat dikatakan bahwa hamba adalah kelompok yang rentan dalam masyarakat pada masa itu. Oleh karena itu, hamba tidak dapat memastikan apakah tuan mereka akan menyiksa atau memperlakukan mereka dengan buruk karena iman mereka. Namun, yang dapat dilakukan oleh para budak adalah 「tunduk kepada tuan mereka dengan penuh hormat.」 Bahkan lebih sulit lagi adalah instruksi Petrus selanjutnya kepada mereka: mereka harus tunduk kepada tuan mereka, baik tuan yang 「baik dan peramah」 atau yang 「bengis/jahat」 (2:18). Di Kisah Para Rasul, Petrus menggunakan kata yang sama 「σκολιός skolios」 untuk menggambarkan angkatan yang jahat, yang tidak percaya itu (Kis. 2:40). Jelas, tuan-tuan yang 「jahat」 ini memang akan memperlakukan hamba mereka dengan buruk dan melakukan tindakan kejam dan sama sekali tidak adil, itulah sebabnya hamba perlu 「menanggung penderitaan ketidakadilan」 (2:19). Oleh karena itu, 「ketundukan」 dapat dilihat sebagai tanggapan saleh dari hamba-hamba Kristen yang 「memiliki Allah di dalam hati mereka」 terhadap perlakuan buruk tuan mereka. Karena mereka mengatasi kejahatan dengan kebaikan, mereka pasti akan menerima perkenan Allah. Petrus menekankan, 「jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu sabar menderita, hal itu adalah anugerah di hadapan Allah」 (2:20), ia terpuji di mata Allah.

Bagian ini meminta para hamba untuk menerima otoritas tuan mereka dengan hormat. 「Hormat takut」 ini terutama merujuk pada hormat takut kepada Tuhan, bukan takut kepada manusia. Seperti yang dikatakan ayat 1:17, 「Jika kamu menyebut Dia Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.」 Hamba-hamba Kristen menaati tuan mereka karena hubungan mereka sendiri dengan Tuhan. Oleh karena itu, jika seorang tuan memerintahkan seorang hamba untuk melanggar kehendak Allah, hamba tersebut berkewajiban untuk tidak tunduk pada perintah tuannya tersebut, bahkan jika itu berarti harus menderita akibat tidak tunduk oleh karena imannya. Ini mirip dengan pengalaman Daniel di gua singa (Daniel 6:1-28). Mohon jangan salah paham; ini tidak berarti bahwa Petrus memandang perbudakan sebagai kehendak Allah, juga tidak berarti bahwa orang Kristen harus menyerah pada kejahatan institusional. Namun, menurut Petrus, menanggung penderitaan yang tidak pantas diterima demi memberi kesaksian dan melakukan apa yang benar pasti akan mendapat perkenan Tuhan. Petrus tidak sedang dalam fokus untuk mengubah sistem zaman itu; fokus dia saat itu adalah memperhatikan apakah para hamba Kristen menjalankan perilaku baik orang Kristen dalam hidup mereka. Oleh karena itu, Petrus di sini menerapkan ajaran 「tidak membalas dendam」 dan 「mengasihi musuh」 pada situasi para budak Kristen yang menderita karena perlakuan tidak adil dari tuan-tuan yang 「jahat」. Kata 「χάρις charis」 (diterjemahkan sebagai anugerah/pujian) muncul dua kali dalam ayat 19-20, dalam dalam bahasa aslinya secara harfiah berarti 「kasih karunia」; ini menandakan bahwa Allah menyetujui dan mengakui partisipasi orang Kristen dalam tindakan Yesus Kristus yang penuh kasih karunia terhadap umat manusia. Dalam menghadapi ketidakadilan, tanpa kualitas transformatif Kristus, hamba-hamba Kristen tidak mungkin dapat melakukan perbuatan baik untuk menang atas kejahatan.

Refleksi:
1. Meskipun Anda bukan seorang hamba/budak dalam masyarakat kuno, apakah Anda juga memiliki 「hati yang penuh hormat」 untuk menaati atasan Anda di tempat kerja? Bagaimana Anda dapat benar-benar menghidupi perilaku baik seorang Kristen dalam pekerjaan Anda?

2. Renungkanlah: Apakah Anda bekerja dan bersaksi bagi Tuhan dengan 「hormat takut」 yang Petrus bicarakan, meskipun itu membutuhkan pengorbanan atau usaha demi untuk Tuhan?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Petrus ditulis oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基) yang dipublikasi pada bulan September 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Petrus 2:13-17

「Menjadi warga yang baik di bumi」

Oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:13-17 [TB2])
13 Tunduklah, karena Tuhan, kepada semua lembaga manusia, baik kepada Kaisar sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14 maupun kepada gubernur-gubernur yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan memuji orang-orang yang berbuat baik. 15 Sebab, inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. 16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan jangan menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan, melainkan hiduplah sebagai hamba Allah. 17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah Kaisar!

Mengenai 「perbuatan baik」 dalam Kristus, Petrus mulai membahas beberapa situasi yang sangat praktis. Praktik moral publik pertama yang dikemukakan oleh Petrus adalah hubungan antara orang percaya dan pemerintah yang berkuasa. Pandangannya tentang hal ini sangat mirip dengan yang ada dalam Roma pasal 13, di mana Paulus menunjukkan: 「Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah」 (Roma 13:1). Demikian pula, teks bahasa asli 1 Petrus 2:13 dimulai dengan kata kerja 「Tunduklah」 (kata dasar hypotassō). Alasan utama untuk 「tunduk kepada semua lembaga manusia」 bukanlah didasarkan pada perilaku raja dan pejabat, juga tidak bergantung pada apakah mereka memperlakukan orang Kristen dengan baik, tetapi semata-mata 「karena Tuhan.」 Ini tidak mengharuskan orang Kristen untuk tunduk secara membabi buta, tetapi lebih mengajak kita untuk secara aktif mempertimbangkan bagaimana kita dapat lebih baik mewakili Kristus dalam kesulitan sosial. Alasan kita untuk 「tunduk」 semata-mata karena Tuhan. Orang percaya yang tunduk kepada 「lembaga manusia」 akan mempermalukan mereka yang bermaksud memfitnah orang Kristen di hadapan penguasa duniawi. Dalam ayat 15, Petrus lebih lanjut menunjukkan, 「Sebab, inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkam kepicikan orang-orang yang bodoh.」

Ini mengingatkan kita pada Daniel dalam sejarah Perjanjian Lama. Alkitab menggambarkan bagaimana beberapa orang ingin mencelakainya: 「Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya. Maka berkatalah orang-orang itu: 『Kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya!』」 (Daniel 6:4-5)

Seperti yang Petrus tunjukkan dalam ayat 16, jika orang Kristen menderita karena benar-benar melakukan kesalahan, bahkan jika kesalahan itu hanya tidak taat pada lembaga-lembaga manusia, mereka tidak akan dipertanyakan oleh orang-orang yang tidak percaya tentang alasan pengharapan iman mereka. Sebaliknya, kebebasan Kristen bukanlah tentang bebas dari semua pembatasan hukum dan aturan dunia, tetapi bebas dari belenggu kejahatan, sebagai hamba Allah. Kebebasan sejati hanya dapat dicapai di bawah ketundukan sepenuhnya yang penuh sukacita kepada Allah. Seperti yang dijelaskan oleh sarjana Perjanjian Baru Amerika, Craig S. Keener, 「Seseorang Kristen tidak boleh mengikuti dunia, seakan-akan merupakan milik dunia (2:11-12). Ia juga tidak boleh melanggar orang-orang non percaya dengan tidak taat pada hukum dunia atau tidak menghormati pemimpin dunia (bdk. 2:13-18, 3:1) … Dalam istilah modern, orang percaya harus membuat pilihan.」 Selain itu, ketaatan kudus orang Kristen dapat secara aktif membangkitkan rasa ingin tahu dan minat orang-orang yang tidak percaya pada Injil. Jika Petrus menulis kata-kata ini pada masa pemerintahan Nero yang menganiaya gereja, maka ketaatan kepada raja seperti itu adalah kebajikan Kristen yang terlebih luar biasa lagi. Tanpa kualitas transformatif Kristus, mustahil bagi seorang Kristen untuk melakukan hal ini. Ketaatan yang luar biasa seperti itu sendiri merupakan kesaksian! Karena perintah untuk 「menghormati semua orang」 mencakup saudara-saudari kita yang terkasih, Allah kita, dan bahkan raja-raja yang belum tentu kita kasihi (2:17).

Refleksi:
1. Apakah sulit bagi Anda untuk tunduk pada 「semua lembaga manusia」? Bagaimanapun, apakah Anda bersedia berusaha 「karena Tuhan」?

2. Renungkanlah: Anda adalah 「hamba Allah,」 bagaimana hal ini akan merubah perilaku Anda? Apakah Anda bersedia mempraktikkan identitas sebagai 「hamba Allah」 di tengah masyarakat yang tidak percaya?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Petrus ditulis oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基) yang dipublikasi pada bulan September 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Petrus 2:11-12 (2)

「Kesaksian orang Kristen sebagai pendatang dan pengembara」

Oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:11-12 [TB2])
11 Saudara-saudara yang terkasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12 Milikilah cara hidup yang baik di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai pelaku kejahatan, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.

Seringkali, ketika kita membaca deskripsi bahwa 「orang Kristen adalah pendatang dan perantau,」 kita cenderung menafsirkannya secara statis. Artinya, menjadi pengembara dan perantau adalah realitas yang negatif, pasif, dan statis, kurang ideal. Seperti nasib Abraham, ia selalu menjadi pengembara, mengembara dari satu tempat ke tempat lain, tidak pernah benar-benar menetap dan makmur. Akibatnya, 「menjadi pengembara dan orang perantau」 tampaknya menjadi deskripsi yang suram dan pasif. Seolah-olah kita telah melupakan bahwa kelompok warga Kerajaan Surga yang merupakan 「pengembara dan orang perantau」 ini sebenarnya hidup di bumi dengan sebuah misi (2:9). Justru karena orang Kristen adalah komunitas warga Kerajaan Surga, kita dapat memberitakan kasih anugerah penebusan Kristus, yang bukan dari dunia ini, dan menjalani kehidupan yang bukan dari dunia ini, yang dibangun di atas identitas kita yang bukan milik dunia ini. Kewarganegaraan surgawi kita tidak hanya menunjukkan bahwa kita bukan dari dunia ini, tetapi juga menunjukkan bahwa orang percaya adalah sekelompok orang yang telah bermigrasi ke dunia yang tidak percaya dengan sebuah misi. Ini seperti misi yang diterima Abraham: 「Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat」 (Kejadian 12:1-2). Alasan orang Kristen memasuki dunia adalah untuk menggunakan hikmat untuk 「memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib」 (2:9).

Oleh karena itu, Petrus pertama-tama dengan tegas menasihati orang Kristen untuk 「menjauhi keinginan daging」 (2:11), karena keinginan-keinginan ini berperang melawan jiwa, suatu perintah berbentuk negatif. Dalam ayat 1:14, Petrus telah mengingatkan kita untuk waspada terhadap keinginan-keinginan kita sebelum kita percaya kepada Tuhan; dalam ayat 2:12, ia lebih lanjut menasihati pembaca: 「milikilah cara hidup yang baik di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi」 (good deeds). Tujuan dari perilaku baik ini adalah untuk memenangkan hati mereka yang belum percaya kepada Tuhan, sehingga mereka pun dapat ikut memuji Allah 「pada hari Ia melawat mereka (hari penghakiman).」 Jika orang-orang yang tidak percaya menyaksikan perilaku baik orang percaya, mereka akan lebih mudah mengalami kuasa Injil Kristus. Di sini Petrus menggemakan ajaran Yesus Kristus: 「Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga」 (Matius 5:16). Ketika orang-orang bukan Yahudi melihat perbuatan baik yang dilakukan orang Kristen melalui transformasi rohani, mereka tidak akan mampu memfitnah orang Kristen, dan sebaliknya akan lebih cenderung memuji Tuhan. Perilaku baik orang Kristen akan membuat tuduhan palsu mereka terhadap orang percaya menjadi lemah dan tidak efektif. Seperti yang kemudian dinyatakan Petrus dengan jelas, 「supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu」 (3:16). Petrus tidak hanya ingin para penerima memahami status mereka sebagai orang asing di bumi, tetapi juga merindukan agar orang-orang yang bertobat ini mengalami transformasi hidup, sehingga mereka dapat memuliakan Tuhan. Perilaku baik mereka, yang diubah oleh firman Tuhan, akan dengan kuat 「berbicara」 kepada komunitas yang tidak percaya! Perilaku baik orang Kristen saat ini adalah bukti nyata Injil!

Refleksi:
1. Karena kita adalah pengembara dan orang perantau, adalah warga Kerajaan Surga, apakah kita dengan tekun menjauhkan diri dari keinginan daging dalam kehidupan sehari-hari kita? Mohon doakan agar Roh Kudus menolong kita.

2. Sekarang kita adalah warga Kerajaan Surga, di bumi adalah 「orang asing dan pendatang,」 apakah saya mempraktikkan ajaran 「berperilaku jujur di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi」 hari ini? Mohon berdoa agar Roh Kudus membantu saya sehingga saya dapat lebih banyak bersaksi tentang Kristus melalui tindakan dan perilaku saya.


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Petrus ditulis oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基) yang dipublikasi pada bulan September 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Petrus 2:11-12

「Orang Kristen adalah pendatang dan pengembara」

Oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:11-12 [TB2])
11 Saudara-saudara yang terkasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12 Milikilah cara hidup yang baik di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai pelaku kejahatan, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.

Bagian-bagian sebelumnya terutama membahas hubungan antara orang Kristen dan Allah, yang mengarah pada misi umat Kerajaan Surga di bumi (2:9). Sekarang, fokusnya beralih ke hubungan antara orang percaya dan dunia yang mereka huni. Melanjutkan dari identitas 「umat pilihan, orang asing pendatang」 (1:1), kita orang Kristen sekali lagi disebut di sini sebagai 「pendatang dan perantau」 (2:11). Di sini 「pendatang」 (paroikos) mengacu orang asing di tempat yang bukan tanah air sendiri. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, kata ini digunakan untuk menggambarkan orang Israel yang diperbudak di Mesir selama empat ratus tahun dan 「pendatang menumpang di negeri asing,」 serta Musa yang melarikan diri dan 「menumpang hidup sebagai pendatang」 di Midian (Kis. 7:6, 29). Adapun kata sifat 「perantau」 (parepidēmos), maknanya mirip dengan 「pendatang,」 yang merujuk pada pengembara yang menumpang tinggal di tempat asing atau negeri asing untuk jangka waktu tertentu, hanya sebagai tempat tinggal sementara. Dalam Kitab Ibrani, kata ini digunakan untuk menggambarkan sekelompok orang beriman yang hebat yang semuanya mengakui diri mereka sebagai orang asing di bumi, sebagai 「pendatang di bumi ini」 (Ibrani 11:13). Namun, dengan mata iman, mereka dengan penuh semangat menantikan tanah air yang lebih baik yang benar-benar menjadi milik mereka (Ibrani 11:13-16), merindukan kerajaan baru. Kata-kata ini juga mengingatkan pembaca akan status Abraham sebagai pendatang, sebagaimana Kejadian 23:4 dalam Septuaginta menggambarkannya sebagai 「orang asing dan pendatang」 (paroikos kai parepidēmos); pada waktu itu, Abraham bahkan tidak memiliki tanah untuk mengubur istrinya. Namun, Abraham tetap percaya bahwa janji Allah tentang tanah yang baik suatu hari akan terpenuhi. Demikian pula, para pembaca surat Petrus, meskipun tidak memiliki tanah air tetap di dunia ini, dapat percaya bahwa Tuhan yang sama yang menepati janji-Nya telah menyiapkan tanah air yang lebih baik bagi mereka!

Seperti yang telah disebutkan di atas, orang Kristen, yang terhubung dengan Allah, memiliki status sebagai umat pilihan dan yang dipilih secara ilahi. Namun mengapa mereka masih menghadapi penderitaan di dunia? Beberapa ahli Alkitab bahkan percaya bahwa para penerima surat itu hidup dalam masyarakat yang tidak ramah terhadap orang Kristen, dan mungkin telah kehilangan hak-hak sipil mereka dan diturunkan menjadi 「warga negara kelas dua」 karena iman mereka. Meskipun memiliki hak istimewa imamat, Petrus dengan jelas menunjukkan bahwa para pembacanya akan menghadapi berbagai cobaan di dunia. Fakta bahwa orang Kristen adalah warga Kerajaan Surga yang hidup di bumi sebagai 「orang asing dan pengembara」, yang bukan milik dunia ini, adalah alasan utama penderitaan mereka. Ini bukan karena orang Kristen telah melakukan kesalahan, tetapi karena, seperti Tuhan Yesus Kristus, kita tidak diterima oleh dunia!

Refleksi:
1. Silakan renungkan: Sebagai warga Kerajaan Surga yang merupakan 「orang asing dan pengembara」 di bumi, bagaimana identitas ini memengaruhi kehidupan Anda saat ini, dan bagaimana hal itu membimbing keputusan harian Anda, baik besar maupun kecil?

2. Apakah Anda bangga memiliki status sebagai warga kerajaan surgawi yang saat ini hidup sebagai 「orang asing dan pengembara,」 yang bukan milik dunia ini? Bersyukurlah kepada Allah atas status Anda sebagai orang pilihan dan kudus!


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Petrus ditulis oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基) yang dipublikasi pada bulan September 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Petrus 2:10

「Dari yang dahulu, menjadi yang sekarang」

Oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:10 [TB2])
10 Kamu, yang dahulu bukan umat
Allah,
…..tetapi sekarang telah menjadi
…. umat-Nya,
yang dahulu tidak dikasihani
…..tetapi sekarang telah beroleh belas
…..kasihan.

Di sini Petrus meminjam dari Hosea 2:23, yang mengatakan, 「Aku akan menaburkan dia bagi-Ku di bumi, dan akan menyayangi Lo-Ruhama, dan Aku berkata kepada Lo-Ami: 『Umat-Ku engkau!』 dan ia akan berkata: 『Allahku!』」. Namun, tema Hosea adalah penolakan terhadap bangsa Israel; meskipun mereka kemudian sekali lagi diterima oleh Allah yang setia dan penuh kasih ketika mereka berbalik kembali kepada-Nya. Tidak seperti bangsa Israel, para penerima surat ini, yang sebagian besar terdiri dari orang-orang bukan Yahudi, tidak pernah melanggar perjanjian Allah; tetapi mereka menyadari bahwa mereka dahulu pernah ditolak oleh Allah, dan bahwa mereka dahulu tidak memiliki sangkut paut dan bagian dalam kerajaan Allah. Mereka dahulu 「bukan umat Allah,」 karena dalam Perjanjian Lama istilah 「umat Allah」 secara khusus merujuk kepada bangsa Israel. Mereka dahulu hidup dalam 「kegelapan」 (2:9), tetapi sekarang secara ajaib menjadi umat Allah. Dalam ayat 10, dua kalimat paralel memisahkan orang Kristen 「dahulu」 dan 「sekarang」: Dahulu kita bukanlah umat Allah, dan belum menerima belas kasihan; sekarang kita adalah umat Allah, dan kita telah menerima belas kasihan Allah. Dahulu, kita adalah 「orang luar」 di kerajaan Allah; sekarang, kita telah menjadi 「umat-Nya,」 atau 「orang dalam」 kerajaan Allah. Saat ini, orang-orang Kristen ini tahu bahwa mereka dipilih dan telah menjadi umat Allah.

Transformasi identitas ini bukan karena apa pun yang telah kita lakukan sebagai orang Kristen atau jasa apa pun yang telah kita kumpulkan, tetapi sepenuhnya karena belas kasihan dan anugerah Allah. 「Belas kasihan」 yang sama dialami oleh Paulus, itulah sebabnya ia berkata kepada Timotius, 「aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman」 (1 Tim. 1:13).

1 Petrus menyebut orang Kristen sebagai 「pendatang」 dan 「perantau」 di bumi (2:11), sebuah gambaran tentang bagaimana penerima surat ini, karena iman mereka, menjadi orang luar dan terasing dari masyarakat. Secara permukaan, orang-orang percaya ini mengalami keterasingan dari orang-orang yang tidak percaya di masyarakat; tetapi yang menarik, mereka yang tidak percaya juga, pada kenyataannya, 「secara rohani terasing」 dari Tuhan, sama seperti mereka dahulu. Orang-orang yang tidak percaya ini adalah 「orang luar」 Kerajaan Allah, mereka belum menerima belas kasihan Allah. Petrus menggunakan kontras ini untuk menggambarkan bagaimana orang Kristen membangun hubungan dengan Allah melalui Kristus, sekaligus menyiratkan bahwa mereka yang benar-benar terasing dari Allah adalah orang-orang yang tidak percaya yang mendiskriminasi dan dengan buruk memperlakukan para penerima surat ini.

Dari perspektif lain, merekalah yang perlu diterima. Ayat ini merangkum tema pemilihan dalam perikop ini dan menghibur orang-orang Kristen yang menderita dan ditolak, berharap mereka memahami bahwa penolakan yang mereka terima di dunia hanyalah sementara. Bahkan, merekalah kelompok yang diberkati dan diterima secara kekal oleh Allah. Sebaliknya, yang benar-benar memiliki kebutuhan spiritual yang mendesak adalah 「orang luar」 Kerajaan Allah.

Refleksi:
1. Bersyukurlah kepada Tuhan karena Anda dahulu 「bukan umat Allah」, tetapi sekarang menjadi bagian dari 「umat Allah.」

2. Jika teman dan anggota keluarga Anda masih belum percaya, masih menjadi 「orang luar」 di Kerajaan Allah, dan belum menerima belas kasihan Allah, apakah Anda merasa sedih? Ketika Anda tahu mereka masih berada di luar kandang domba dan belum kembali kepada Gembala Agung, apa yang dapat Anda lakukan untuk mereka? Tolong coba lakukan sesuatu untuk mereka!


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Petrus ditulis oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基) yang dipublikasi pada bulan September 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Petrus 2:9 (2)

「Misi orang Kristen」

Oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:9 [TB2])
9 Namun, kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:

Seperti yang disebutkan dua hari yang lalu, Petrus dengan membawakan serangkaian gelar kehormatan yang awalnya hanya berlaku untuk orang Israel diperluas kepada komunitas Kristen. Kita orang Kristen adalah bait Allah, yang harus dibangun sebagai 「batu-batu hidup」 menjadi 「bait rohani」 (2:5). Namun, bangunan yang kita bangun ini bukanlah bangunan statis, melainkan bergerak ke luar. Oleh karena itu, kunci ayat 9 terletak pada bagian kedua. Petrus pertama-tama memberikan deskripsi rinci tentang komunitas baru Kristus yang terpilih ini, kemudian menjelaskan tujuan utama kita untuk tetap tinggal di bumi: 「supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.」 Dari teks tersebut, kita dapat melihat bahwa kerajaan kudus yang hidup di tengah generasi yang tidak percaya ini telah menemukan tujuannya: untuk memberitakan kebesaran Allah kita.

Dalam ayat 9 「supaya kamu memberitakan …,」 kata kerja (exangellō) memiliki akar kata yang mencakup arti 「menyatakan, memberi tahu, atau melaporkan.」 Dalam Mazmur 9:15 terjemahan Septuaginta, pemazmur yang menderita 「memberitakan」 semua hal yang terpuji tentang Allah. Demikian pula, orang Kristen di sini, sebagai pengembara di bumi, 「memberitakan」 kuasa dan kebajikan ilahi Allah dalam menyelamatkan kita dari kegelapan setelah Ia menjumpai kita dalam hidup kita. Saat ini, apa yang kita beritakan semuanya berdasarkan pengalaman pribadi kita — karya penebusan Allah yang menuntun kita 「keluar dari kegelapan menuju terang yang menakjubkan.」 Seorang pendeta tua pernah berkata, 「Saya percaya mukjizat terbesar di dunia ini adalah bahwa seorang berdosa yang tidak layak seperti saya dapat bertobat dan kembali kepada Tuhan di bawah terang-Nya!」 Sebelum percaya kepada Tuhan, kita hidup dalam 「kegelapan」; setelah percaya, kita dipanggil oleh Allah untuk 「masuk ke dalam terang」; ini adalah gambaran umum pertobatan dalam Perjanjian Baru (misalnya, Kis. 26:18; 2 Kor. 4:6).

Mengingat seluruh surat ini menekankan perlunya orang Kristen dari semua lapisan sosial untuk berperilaku dengan benar, frasa 「memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia」 sangat mungkin merujuk pada menjalani kehidupan yang taat kepada kehendak Allah dengan mempertahankan gaya hidup kudus yang sesuai dengan standar Allah (bukan standar masyarakat), dan merupakan tindakan mewartakan Injil ke luar. Ini bukan tanggung jawab satu orang Kristen saja, tetapi kesaksian bersama dari sebuah komunitas Kristen. Bagi penulis, melestarikan identitas kudus Israel sebagai umat Allah tentu saja mencakup menerima misi orang Israel: untuk menyampaikan kehendak Allah kepada dunia dan memperluas jangkauan berkat-berkat Allah. Dengan kata lain, tindakan konkret ini memiliki arti bahwa misi umat Allah adalah untuk mewartakan karya-karya Allah yang penuh kuasa; ini bukan hanya melalui kata-kata tetapi juga melalui cara hidup Kristen. Poin kuncinya di sini adalah bahwa sebuah komunitas yang tinggal di dunia seperti Kristus harus mewartakan karya-karya Allah yang penuh kuasa kepada dunia di sekitar mereka. Inilah tujuan, kewajiban, dan tanggung jawab yang menyertai status mulia Allah. Dalam 1 Petrus, keberadaan kita, tindakan kita, dan pemberitaan kita terintegrasi dengan cara yang unik, yang juga menjadi cara efektif bagi orang Kristen untuk berpartisipasi dalam misi Allah.

Refleksi:
1. Mari merenungkan dengan saksama: Bagaimana Anda bisa percaya kepada Tuhan Yesus? Naikkan ucapan syukur yang tulus kepada Tuhan atas 「perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil Anda keluar dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib.」

2. Kapan terakhir kali Anda 「memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib」? Kapan terakhir kali Anda membagikan kesaksian pribadi Anda tentang keselamatan kepada seseorang? Dalam waktu dekat, melalui tindakan apa Anda dapat memberitakan tentang Tuhan 「yang telah memanggil Anda」?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Petrus ditulis oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基) yang dipublikasi pada bulan September 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Petrus 2:9

「Identitas orang Kristen」

Oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:9 [TB2])
9 Namun, kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:

Dibandingkan orang-orang yang disebutkan dalam teks sebelumnya, yang 「tersandung pada-Nya karena tidak taat kepada firman Allah,」 sebaliknya komunitas Kristen memiliki identitas yang mulia. Di sini, Petrus menggunakan beberapa gambaran untuk menghubungkan orang Kristen dengan narasi orang Israel. Empat identitas ini meliputi 「umat pilihan,」 「imamat yang rajani,」 「bangsa yang kudus,」 dan 「umat Allah.」 Gambaran-gambaran ini terutama diambil dari bagian-bagian Perjanjian Lama seperti Keluaran 19:5-6 dan Yesaya 43:20-21. Secara tradisional deskripsi tersebut hanya berlaku untuk orang Israel. Sekarang, cakupan identitas ini diperluas untuk mencakup orang-orang percaya yang sebagian besar bukan Yahudi di Asia Kecil. Penekanan Petrus bukanlah pada kontras antara 「orang Israel」 yang baru dan yang lama, tetapi hendak memberitakan bahwa: komunitas iman yang sejati telah melalui Tuhan Yesus Kristus bergabung dalam narasi Israel dan Allah yang sejati. Orang Kristen telah dipilih oleh Allah!

Identitas Kristen didefinisikan oleh Allah, bukan oleh manusia, dan tentu saja bukan oleh masyarakat yang tidak percaya. Frasa 「bangsa yang terpilih」 menghubungkan para penerima surat dengan Kristus (lihat 2:4, 6, 「Dia, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah」), menunjukkan bahwa mereka adalah kelompok yang dipilih menurut kehendak Allah. Ini adalah satu-satunya kali dalam Perjanjian Baru istilah 「génos」 (bangsa, jenis) digunakan untuk merujuk pada komunitas Kristen. Di tengah permusuhan dan kritik, berbagai bentuk pengucilan, orang Kristen dibentuk oleh Allah sebagai 「bangsa baru.」

Frasa 「imamat yang rajani」 berasal dari Keluaran 19:6 dalam Septuaginta, merujuk pada kelompok imam yang melayani seorang raja. Pada zaman dahulu, tidak jarang raja memiliki para imamnya sendiri. Di sini, komunitas Kristen secara eksklusif melayani sebagai imam, melayani Tuhan, Raja Agung. Ayat 2:5 sudah menyebutkan tugas para imam: untuk mempersembahkan persembahan rohani. Lebih jauh lagi, para imam juga memiliki hak istimewa; mereka dapat untuk orang lain datang di hadapan Allah, komunitas yang dekat dengan Allah.

Lebih lanjut, 「bangsa yang kudus」 tidak hanya merujuk pada kekudusan moral mereka, tentu ini juga merupakan panggilan bagi orang Kristen (lihat 1:15-16). Di sini, Petrus lebih lanjut menjelaskan bahwa mereka adalah kelompok yang dipisahkan oleh Allah, oleh karena itu tidak dapat berasimilasi dengan orang-orang yang tidak percaya, dan bahkan mungkin ditolak oleh orang lain karena iman mereka.

Identitas terakhir adalah 「umat Allah.」 「Umat Allah」 juga dapat diterjemahkan sebagai 「warisan Allah」 (2:9, lihat Terjemahan Lü Zhenzhong), menekankan bahwa kelompok ini terutama milik Allah — bahkan, Allah telah menebus mereka dengan harga yang sangat mahal (1:18). Sama seperti orang Israel menerima status yang mulia, orang Kristen juga memiliki hak istimewa di hadapan Allah, tetapi pada saat yang sama, mereka memikul kewajiban yang menyertai status tersebut.

Dalam uraian tentang komunitas Kristen ini, tema sentralnya adalah bahwa: gereja, sebagai komunitas kudus milik Allah, merujuk kepada umat, imam, kerajaan, dan sebagainya, bukan kepada keberadaan individu setiap orang Kristen. Petrus menekankan bahwa setiap orang Kristen adalah bagian dari komunitas baru yang dipilih oleh Allah dan didirikan dalam hubungan dengan-Nya. Gereja adalah entitas kolektif dengan misi kolektif ilahi.

Refleksi:
1. Empat identitas Kristen ini —「bangsa yang terpilih,」 「imamat yang rajani,」 「bangsa yang kudus,」 dan 「umat Allah」— memberikan pengingat apa kepada Anda? Bagaimana Anda dapat menghidupkan kualitas yang sesuai dengan identitas-identitas ini dalam kehidupan sehari-hari Anda?

2. Karena gereja adalah komunitas kudus milik Tuhan, bukan eksistensi individual masing-masing orang Kristen, apakah Anda menjalani kehidupan gereja yang berkenan kepada Allah? Di bidang mana saja yang masih ada ruang untuk pembenahan dan perbaikan?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Petrus ditulis oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基) yang dipublikasi pada bulan September 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Petrus 2:4-8 (2)

「Sifat kolektif dari batu-batu hidup」

Oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:4-8 [TB2])
4 Datanglah kepada Dia, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah. 5 Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, menjadi imamat kudus untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. 6 Sebab, ada tertulis dalam Kitab Suci,
…『Sesungguhnya, Aku meletakkan
…di Sion sebuah batu,
……..sebuah batu penjuru yang terpilih
……..dan mahal,
…dan siapa yang percaya kepada-Nya,
…tidak akan dipermalukan.』
7 Karena itu, bagi kamu yang percaya, Ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya,
…『Batu yang dibuang oleh tukang-
…tukang bangunan,
……..telah menjadi batu penjuru,
…juga telah menjadi batu sandungan
……..dan batu besar yang membuat
……..orang jatuh.』
8 Mereka tersandung pada-Nya, karena mereka tidak taat kepada firman Allah. Mereka juga telah ditentukan untuk itu.

Komunitas Kristen 「dibangun menjadi bait rohani」 (2:5). Kristus adalah batu penjuru yang krusial (2:7), dan setiap orang Kristen, sesuai dengan kehendak Allah, mengikuti arahan batu penjuru, dibangun di dalam struktur ini. 「Batu-batu hidup」 ini membentuk komunitas Tuhan — gereja. Kata Yunani untuk bangunan ini (oikos) muncul lagi dalam 1 Petrus 4:17, diterjemahkan sebagai 「rumah,」 dan lebih lanjut dijelaskan dalam ayat itu sebagai 「rumah Allah.」 Dalam Surat 1 Petrus, Petrus tidak membahas orang Kristen secara individu, tetapi sebagai komunitas gereja Kristus. Dalam bagian tentang batu ini, semua batu itu 「hidup,」 mengingatkan pembaca akan 「pengharapan yang hidup」 (1:3) dan 「firman Allah yang hidup dan kekal」 (1:23) yang disebutkan di awal surat — kualitas yang dimiliki oleh komunitas Kristus. Selain itu, batu-batu hidup ini membentuk komunitas dengan satu misi, karena kita digambarkan sebagai pihak yang bersama-sama memenuhi tugas imamat. Dalam ayat 5, para penerima surat yang terutama adalah orang percaya non-Yahudi, disebut sebagai 「imamat kudus,」 yang harus 「mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.」 Dengan mempertimbangkan hubungan paralel antara ayat 5 dan 9, ayat 9 memberikan deskripsi yang lebih komprehensif tentang apa arti sebenarnya dari 「persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah」 ini; dan dalam ayat 9, tujuan imamat yang rajani adalah untuk 「memberitakan kebajikan Allah.」 Inilah misi para 「imamat kudus.」 Misi Allah tidak dicapai oleh misionaris individu, kelompok misionaris independen, atau lembaga, tetapi oleh komunitas orang Kristen yang bekerja bersama secara terkoordinasi untuk menyelesaikan rencana Allah atas bait suci rohani yang baru ini.

Kita tidak yakin apakah Petrus mempertimbangkan dirinya sendiri ketika menuliskan bagian ini. Dalam Matius 16:18, Yesus berkata kepadanya, 「Engkau adalah Petrus (Petros) dan di atas batu karang (petra) ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.」 Dalam ayat 8 「a stone of stumbling, and a rock of offence (batu yang membuat orang tersandung, dan yang membuat orang jatuh)」, batu ini (petra) melambangkan Kristus. Setiap orang Kristen, seperti Petrus, harus menjadi hamba Allah dan berpartisipasi dalam pembangunan jemaat Kristen. Pembangunan ini tidak dapat dicapai oleh orang-orang percaya yang bertindak secara independen, menurut kehendak mereka sendiri. Sebaliknya, semua batu hidup harus mengikuti Tuhan yang sama, berkoordinasi satu sama lain dan berjuang ke arah yang sama. Setelah menerima Roh Kudus yang dijanjikan (1:2, 11-12, 4:14), komunitas Kristen adalah bait suci yang baru dibangun kembali, tempat bangsa-bangsa datang untuk menyembah Allah. Sejak saat itu, bahkan orang-orang bukan Yahudi yang tidak mengenal Tuhan dapat berpaling ke Sion. Oleh karena itu, dalam 1 Petrus, bait (rumah) yang dibangun dari batu-batu hidup ini bersifat rohani karena terdiri dari orang-orang rohani dan ada untuk tujuan rohani.

Refleksi:
1. Apa yang dapat Anda persembahkan di hadapan Tuhan sebagai 「persembahan rohani yang berkenan kepada Allah」? Pertimbangkan tindakan apa yang dapat Anda lakukan minggu ini untuk 「menyatakan kebaikan Tuhan」.

2. Di gereja tempat Anda terlibat, apakah batu-batu hidup itu mengikuti batu penjuru yang sama, berkoordinasi satu sama lain dan berjuang menuju tujuan yang sama untuk membangun gereja? Apa pun jawabannya, mohon dengan tulus doakan 「komunitas batu hidup」 Anda sekarang, karena itu selamanya akan menjadi 「bait rohani」 Allah.


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Petrus ditulis oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基) yang dipublikasi pada bulan September 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Petrus 2:4-8

「Seperti batu yang hidup, seperti Kristus」

Oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:4-8 [TB2])
4 Datanglah kepada Dia, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah. 5 Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, menjadi imamat kudus untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. 6 Sebab, ada tertulis dalam Kitab Suci,
…『Sesungguhnya, Aku meletakkan
…di Sion sebuah batu,
……..sebuah batu penjuru yang terpilih
……..dan mahal,
…dan siapa yang percaya kepada-Nya,
…tidak akan dipermalukan.』
7 Karena itu, bagi kamu yang percaya, Ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya,
…『Batu yang dibuang oleh tukang-
…tukang bangunan,
……..telah menjadi batu penjuru,
…juga telah menjadi batu sandungan
……..dan batu besar yang membuat
……..orang jatuh.』
8 Mereka tersandung pada-Nya, karena mereka tidak taat kepada firman Allah. Mereka juga telah ditentukan untuk itu.

Dalam Surat 1 Petrus, pengalaman dan identitas para penerima surat sering dibandingkan dengan pengalaman dan identitas Kristus. Bahkan, surat ini dimulai dengan menyebut komunitas Kristen sebagai 「yang terpilih, sesuai dengan rencana Allah」 (1:2). Konsep 「dipilih」 juga disebutkan dalam ayat 2:4, 6, dan 9: Tuhan Yesus Kristus 「dipilih oleh Allah (Bapa)」 (2:4, 6), dan demikian pula, kita juga dipilih oleh Allah (2:9). Tuhan Yesus adalah 「batu hidup」 (2:4), dan orang Kristen juga 「batu hidup」 (2:5); namun, orang-orang yang tidak percaya 「tersandung」 (2:8) dan menghina ajaran Tuhan Yesus.

Dalam ayat 6, penulis meyakinkan bahwa 「siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan,」 karena Tuhan Yesus adalah batu penjuru Allah yang berharga. Sudut pandang mereka yang mengikuti Tuhan melihat Yesus sebagai berharga; dan karena hubungan mereka dengan Tuhan, 「bagi kamu yang percaya, Ia mahal」 (2:7). Dalam ayat 6, Petrus menggunakan kata sifat 「mahal (berharga)」 (éntimos) untuk menggambarkan Tuhan Yesus. Meskipun kata ini berarti 「berharga」 atau 「bernilai」 ketika menggambarkan benda, ketika menggambarkan seseorang, itu menandakan bahwa orang tersebut 「ditinggikan, dihormati, dan dimuliakan.」 Dalam ayat 7, ia menggunakan kata benda yang secara semantik terkait, 「kemuliaan」 (timé, TB menerjemahkan sebagai 「mahal」), untuk menunjukkan identitas orang-orang percaya ini yang hidup dalam masyarakat yang tidak ramah terhadap orang Kristen. Oleh karena itu, ada hubungan lebih lanjut antara Kristus dan mereka yang percaya kepada-Nya: mereka juga dijanjikan untuk berbagi dalam 「kemuliaan (timé).」 Orang percaya tidak akan dipermalukan; sebaliknya, mereka dijanjikan untuk menerima kemuliaan seperti Kristus. Pada akhirnya, apakah itu 「malu」 atau 「kemuliaan」 bukanlah dari perspektif manusia, tetapi dari perspektif Allah. Identitas sosial kita di dunia tidak lebih penting daripada identitas ilahi kita; kita memiliki nilai yang berharga di mata Allah!

Seperti yang dikatakan oleh pemikir Kristen kontemporer terkenal, Os Guinness, 「Kita tidak dipanggil terutama untuk melakukan sesuatu atau pergi ke suatu tempat; kita dipanggil untuk kembali kepada Allah. Kita tidak dipanggil terutama untuk melakukan pekerjaan khusus, tetapi untuk kembali kepada Allah. Kunci untuk menanggapi panggilan ini adalah kita mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah sendiri, bukan kepada siapa pun atau apa pun.」 Demikian pula, pokok bahasan di sini dimulai dengan 「datang kepada Tuhan.」 Orang Kristen datang di hadapan batu hidup, menyerahkan segala sesuatu sepenuhnya kepada Tuhan: orang Kristen mengikuti jejak Kristus, sama seperti Kristus adalah batu hidup (2:4), dan kita seperti batu hidup (2:5). Yesus ditolak oleh dunia selama hidup-Nya, namun dikasihi oleh Allah (2:4); demikian pula, orang percaya juga ditolak oleh dunia, dianggap sebagai orang buangan dan orang luar (1:2, 17, 2:11), tetapi karena hubungan kita dengan Kristus, kita tidak akan dipermalukan (2:6). Jika kita bertahan sampai akhir, kita akan dimuliakan ketika Kristus datang kembali (1:7). Bahkan di masa-masa sulit, orang percaya tidak perlu 「takut,」 karena kita menempuh jalan yang ditempuh Tuhan, memberikan kesaksian tentang Dia di dunia dengan Injil-Nya. Jika kita bertahan sampai akhir, meskipun kita menderita sementara di dunia seperti Kristus, pada akhirnya kita akan bersukacita dan bergembira ketika kemuliaan-Nya dinyatakan (4:13).

Refleksi:
1. Anda yang dipilih oleh Tuhan, apakah berusaha hidup seperti Kristus hari ini dan mengikuti jalan yang ditempuh Kristus?

2. Apakah Anda bangga akan Tuhan Yesus Kristus, yang 「dibuang oleh manusia」? Apakah Anda bersedia menempuh jalan sempit, yaitu dibuang oleh manusia, yang mungkin tampak memalukan, tetapi merupakan jalan yang benar dan dihormati oleh Allah? Apa yang menghalangi Anda? Mohon doakan diri Anda sendiri.


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Petrus ditulis oleh Rev. Dr. Kan Kwok-kei (簡國基) yang dipublikasi pada bulan September 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.