「Siapakah yang sanggup menunaikan tugas yang demikian?」
Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.
(2 Kor. 2:12-3:3 [ITB])
12 Ketika aku tiba di Troas untuk memberitakan Injil Kristus, aku dapati, bahwa Tuhan telah membuka jalan untuk pekerjaan di sana. 13 Tetapi hatiku tidak merasa tenang, karena aku tidak menjumpai saudaraku Titus. Sebab itu aku minta diri dan berangkat ke Makedonia.
14 Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana. 15 Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa. 16 Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan.
Tetapi siapakah yang sanggup menunaikan tugas yang demikian?
17 Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.
3:1 Adakah kami mulai lagi memujikan diri kami? Atau perlukah kami seperti orang-orang lain menunjukkan surat pujian kepada kamu atau dari kamu?
2 Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. 3 Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.
Dalam paragraf ini Paulus mulai menanggapi tuduhan mempertanyakan dari orang yang lain, yang tersirat dapat dilihat adalah mempertanyakan kualifikasi sebagai pemberita Injil — 「siapakah yang sanggup menunaikan tugas yang demikian?」 (2:16), 「Adakah kami mulai lagi memujikan diri kami?」 (3:1) Paulus menegaskan sebagai rasul bahwa dia dipilih oleh kehendak Allah (1:1). Memiliki pengenalan ini adalah salah satu sumber penegasan diri terbesar. Apakah yang lebih penting, lebih besar dari panggilan dan penegasan pribadi dari Allah? Apakah seseorang yang memiliki gelar doktor, perlu memakai ijazah Sekolah Menengah Atas dan Universitas, untuk mendukung dan mengonfirmasi tingkat pendidikannya? Tentu tidak perlu, karena identitas doktor sebelumnya sudah mencakup berbagai kualifikasi pendidikan sebelumnya. Demikian pula, ketika seorang rasul Allah telah dipilih dan dipanggil dari Allah sendiri, ini adalah pengakuan terbesar dan akreditasi, bahkan Allah sendiri menegaskan bahwa orang ini memenuhi syarat sebagai rasul pemberita firman Allah, siapa yang bisa mempertanyakan dia? Tanpa dipilih dan dipanggil dari Allah sendiri, tidak ada peduli berapa banyak sertifikat dan pengakuan manusia tidak ada gunanya, selain hanya membuat orang merasa lebih baik tentang diri sendiri, sebenarnya tidak akan bisa benar-benar membantu orang menghadapi tantangan besar dan ketidakpastian yang akan dihadapi pemberita Injil. Ketika seorang pemberita Injil menghadapi serangan jahat dari dalam ataupun segala macam penindasan dari dunia, apa gunanya meminta lebih banyak sertifikat pengakuan manusia? Pada saat ini, yang penegasan yang paling dibutuhkan, hanya penegasan dari Allah sendiri saja yang dapat membuat orang penuh rasa syukur berdiri teguh dalam terpaan angin dan hujan. Ini bukan untuk mengatakan segala macam sertifikat dan ijazah tidak penting, tetapi yang disebut 「sertifikasi kualifikasi」 dari manusia tidaklah sebanding penegasan Tuhan sendiri.
Sayangnya, orang selalu terlalu menitik beratkan untuk melihat bukti eksternal, di dalam resume ada berapa banyak ijazah dan pengalaman kerja, itu berarti bahwa orang memiliki kemampuan lebih dan bisa diberikan pekerjaan atau tugas. Orang-orang di gereja juga seperti untuk menilai diri hamba Tuhan (termasuk studi masa lalu, pekerjaan dan pengalaman pelayanan), jika ada tokoh penting yang memberikan surat rekomendasi akan lebih dihargai. Sertifikasi eksternal ini bukan sesuatu yang buruk, merupakan indikator yang diperlukan orang yang belum mengenal kita untuk membuat penilaian objektif, hanya ketika seseorang memiliki motif tersembunyi memakai hal-hal eksternal ini untuk menyerang dan memfitnah, maka itu adalah masalah yang harus ditangani dengan serius. Paulus juga menghadapi serangan serupa di masa lalu, sesamanya mempertanyakan dia tidak memiliki surat rekomendasi (3:1 「perlukah kami seperti orang-orang lain menunjukkan surat pujian kepada kamu atau dari kamu?」), dan ada banyak liku-liku dan kepahitan dalam pelayanannya (11:23-27). Di mata orang-orang ini, tidak ada yang istimewa pada diri Paulus, hanya bertindak serampangan, lemah dan tidak kompeten, dan perkataan-perkataannya kasar tidak berarti (1:17; 10:10). Bagaimana Paulus menanggapi kata-kata buruk dan fitnah? Ayat 2:1 sampai 3:3 membuat kita melihat dasar atau sikap dia, yakni terlebih dahulu 「hati syukur」 . Ketika seorang pemberita Injil atau seorang pelayan dipertanyakan tentang kualifikasi dan kelebihan apa untuk melakukan pekerjaan atau tugas tertentu, reaksi pertama bukan mengeluarkan semua jenis sertifikat bukti eksternal untuk mendukung diri sendiri, tapi pertama-tama menjawab dengan rasa syukur: Ya, saya tidak memenuhi syarat, tetapi karena kasih karunia dan anugerah Allah, saya beruntung diizinkan berdiri di Allah untuk melayani sampai sekarang! Orang-orang yang mengangkat isu apakah punya kualifikasi, biasanya hanya menempatkan pandangan mata pada kemampuan individu, dan menuntut orang memenuhi segala macam persyaratan indikator yang ditetapkan dirinya sendiri, pada akhirnya menjunjung tinggi kapasitas manusia dan kesuksesan manusia. Jadi, ketika saya menunjukkan berbagai alasan dan kondisi bahwa saya mampu melakukan pekerjaan, tidak dapat dihindari saya merekomendasikan diri di depan orang dan membuat iklan bagi diri sendiri. Paulus boleh melakukan ini, dan ia memenuhi syarat untuk merekomendasikan diri sendiri atas kemampuan dan karunia talenta dari Tuhan, tetapi Paulus tidak bermain permainan manusia dengan mereka (dalam teks di bawah kita akan melihat bahwa Paulus masih merespons super positif terhadap mereka yang merasa dirinya super rasul, 11:5). Paulus terlebih dahulu menjelaskan bahwa semuanya tergantung pada kasih karunia dan tindakan Allah, jika ada kebutuhan untuk rekomendasi, yang perlu ditinggikan itu hanya Yesus Kristus saja. Paulus menyadari dengan jelas, kecuali Tuhan saja yang membuka pintu untuk dia, jika mengandalkan diri tidak mungkin ia mampu memberitakan Injil Kristus ke tempat-tempat yang berbeda (2:12-13); Paulus juga percaya secara mendalam bahwa Kristus tiada henti memimpin mereka, sehingga walaupun mereka jatuh ke dalam bahaya apa pun tetap dapat melaluinya dengan berkemenangan (2:14).
Semua ini bukan prestasi pribadi, bukan bukti kemampuan dan kualifikasi pribadi. Di mata Paulus, ia (dan tim misinya) tidak lain hanyalah aroma Kristus (2:15). Ada dua makna tentang 「aroma Kristus」, yang satu menunjukkan bahwa aroma ini berasal dari Yesus Kristus (yaitu apa yang Yesus Kristus lakukan kepada seseorang), dan yang lainnya mengacu pada aroma yang menarik orang kepada Yesus Kristus (yaitu hidup dan pengalaman seseorang menjadi media bagi orang lain untuk mengenal Kristus). Bagaimanapun, pemberita Injil, hamba Tuhan dan pelayan Tuhan tidak dapat fokus pada diri mereka sendiri. Saya memiliki kesempatan dan kemampuan untuk memberitakan Injil, itu adalah apa yang Yesus Kristus lakukan melalui diri saya; jika saya memiliki pencapaian atau hasil dalam melayani apa pun itu adalah untuk membuat orang mengenal dan meninggikan Kristus. Semuanya harus berpusat tertuju kepada Yesus Kristus, jadi hanya Yesus Kristus yang harus saya rekomendasikan, dan mutlak pasti bukan diri saya yang hanyalah pemberita Injil Yesus. Peran aroma wewangian selalu adalah untuk menarik orang ke objek yang memancarkan keharuman (juga menyiratkan persembahan korban). Apapun respons tanggapan orang lain, pada akhirnya apakah bersedia menerima Yesus Kristus, kita sebagai pemberita Injil atau yang melayani Tuhan semuanya adalah aroma Kristus saja (2:15-16), bukan aroma harum diri. Di mata Paulus, ini adalah sesuatu yang harus disyukuri, dimuliakan, dibanggakan dan dimegahkan oleh orang Kristen (bukan diri sendiri atau karisma diri pendeta).
Renungkan:
Ketika orang mempertanyakan kualifikasi saya, bagaimana saya biasanya akan bereaksi terhadapnya? Bagaimana Paulus menanggapi insiden serupa? Mengapa 「bersyukur kepada Allah」 merupakan respons terbaik dan paling memiliki kuasa?
Renungan pemahaman Surat 2 Korintus
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 2 Korintus ditulis oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀) yang dipublikasi pada bulan September 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.