「Dukacita demi sukacita yang lebih besar」
Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.
(2 Kor. 2:1-11 [ITB])
1 Aku telah mengambil keputusan di dalam hatiku, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu dalam dukacita. 2 Sebab, jika aku mendukakan hatimu, siapa lagi yang dapat membuat aku menjadi gembira selain dia yang berdukacita karena aku. 3 Dan justru itulah maksud suratku ini, yaitu supaya jika aku datang, jangan aku berdukacita oleh mereka, yang harus membuat aku menjadi gembira. Sebab aku yakin tentang kamu semua, bahwa sukacitaku adalah juga sukacitamu. 4 Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua.
5 Tetapi jika ada orang yang menyebabkan kesedihan, maka bukan hatiku yang disedihkannya, melainkan hati kamu sekalian, atau sekurang-kurangnya, supaya jangan aku melebih-lebihkan, hati beberapa orang di antara kamu.
6 Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu, 7 sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat. 8 Sebab itu aku menasihatkan kamu, supaya kamu sungguh-sungguh mengasihi dia. 9 Sebab justru itulah maksudnya aku menulis surat kepada kamu, yaitu untuk menguji kamu, apakah kamu taat dalam segala sesuatu.
10 Sebab barangsiapa yang kamu ampuni kesalahannya, aku mengampuninya juga. Sebab jika aku mengampuni, seandainya ada yang harus kuampuni, maka hal itu kubuat oleh karena kamu di hadapan Kristus, 11 supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya.
Paulus dalam pembelaan diri di teks sebelumnya menyebutkan, dia tidak datang ke Korintus ialah untuk menyayangkan mereka (1:23). Apa apa yang terjadi dalam gereja, sehingga Paulus perlu 「toleran」 atau 「menyayangkan」 mereka? Ayat 2:1-11 membuat pembaca dapat melihat dengan jelas hal ini. Di ayat 2:1 menunjukkan bahwa Paulus telah mengambil keputusan, 「aku telah mengambil keputusan di dalam hatiku, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu dalam dukacita,」 dari keputusan ini dapat kita lihat bahwa Paulus pernah di dalam kesedihan (in sorrow) pergi ke Korintus, dan kunjungan tersebut juga membuat orang-orang percaya setempat merasa sedih (2:2). Paulus tidak ingin lagi mengalami suasana yang begitu tidak menyenangkan, sehingga semua mengalami kesedihan, maka ia mengambil keputusan, jika dia pergi ke Korintus, hanya akan supaya mereka boleh menerima kasih karunia untuk kedua kalinya (1:15). Pada akhirnya, ia 「mau turut bekerja untuk sukacita mereka」, yakni agar mereka mendapatkan sukacita adalah apa yang paling ia ingin lakukan (1:24).
Hanya saja orang Kristen sering tidak mencari masalah yang tak terlihat, bahagia yang didapatkan dari tidak dengan serius menyelesaikan masalah. Bahagia permukaan kulit ── 「anda baik saya baik」 ── memang bisa mempertahankan suasana harmonis di antara anggota dalam kelompok, asalkan tidak saling mengurus sesama, maka tidak ada masalah antara satu sama lain. Namun, pengalaman memberitahu kita bahwa kebahagiaan yang didapatkan dari melarikan diri dari masalah sering kali hanya kebahagiaan jangka pendek. Jika ada masalah tidak diselesaikan, dan tutup mata, ketika semakin buruk, suatu hari itu akan membawa kerugian bagi kelompok, jika setelah itu baru ditangani mungkin sudah terlambat. Kebahagiaan yang nyata dan bertahan lama datang dari mengatasi masalah, memperbaiki kesalahan dan tindakan dosa, jadi memang tingkat kesedihan dan kesusahan tertentu tidak dapat dihindari. Semakin besar masalah dan kesalahannya, semakin tidak nyaman ketika menghadapinya. Menghadapi masalah bukanlah hal yang menyenangkan, tetapi akan selalu membawa kebahagiaan / sukacita yang lebih besar di masa depan. Paulus berharap orang-orang percaya di Korintus mendapat bahagia, justru karena itu, ketika dia melihat adanya masalah yang merugikan gereja, saat itu juga harus segera tangani dengan serius, bahkan jika harus membawa kesedihan datang kepada mereka. Sukacita dan dukacita bukanlah dua konsep yang saling bertentangan dan tidak bisa berada bersamaan, apakah itu membuat orang sedih atau gembira, di balik itu ada kebaikan untuk orang percaya, adalah berdasarkan cinta kasih kepada mereka.
Perjalanan Paulus, dari Efesus => Korintus (kunjungan kedua, tidak menyenangkan dan menyedihkan) => kembali ke Efesus => Makedonia (Kis. 20:1. Menuliskan Surat 2 Korintus) => Korintus (kunjungan ketiga, Kis. 20:2-3) => Yudea.
Untuk memperbaiki kesalahan, Paulus pergi ke jemaat Korintus sambil membawa kesedihan. Para ahli berpendapat bahwa ini adalah kunjungan yang agak singkat, Paulus di sana tidak lama lalu segera kembali ke Efesus. Menurut ayat 2:3-4, sebelum berangkat Paulus mengirimkan surat kepada orang-orang Korintus (para peneliti menyebutnya 「surat yang menyakitkan dan penuh air mata」) dan mengacu pada 「aku mendukakan hatimu」, diyakini ini adalah penyebab utama perjalanan tersebut.
Ayat 2 「dia yang berdukacita karena aku」, bahasa aslinya 「satu orang itu」 (the one whom I made sorrow), beberapa peneliti berpendapat kata itu seharusnya mengacu pada semua orang, yaitu Korintus secara keseluruhan, tetapi dari 2:5-8 tampaknya lebih mirip tertuju pada orang tertentu di antara orang-orang percaya. Apa sebenarnya yang dilakukan orang ini melakukan sehingga Paulus perlu menulis surat dengan kesedihan, dan kemudian dia harus pergi ke mereka untuk berurusan dengan hal itu secara pribadi? Karena Paulus tidak menjelaskan, pembaca sulit untuk tahu pasti. Para peneliti berpendapat bahwa orang seharusnya melakukan beberapa hal yang membuat Paulus harus membuat teguran yang serius, dan kebanyakan orang dalam gereja juga menegurnya (2:6 「Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu」), ketika Paulus tahu gereja terlalu keras menegur orang ini, maka kemudian dalam 《Surat 2 Korintus》 ini ia menasihati mereka untuk mengampuni dan menghibur orang itu, jangan sampai dia terlalu sedih dan jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat (2:7). Paulus mengharapkan orang-orang percaya di Korintus dapat mendengarkan nasihat Paulus, seperti yang ia katakan bahwa surat yang ia kirimkan sebelumnya adalah untuk menguji apakah mereka menaatinya dalam segala hal (2:9). Ini adalah masalah yang krusial bagi gereja, apakah orang percaya bersedia taat atau tidak pada identitas dan otoritas rasul. Oleh karena itu, sebelumnya Paulus pergi kepada orang-orang percaya di Korintus dengan membawa kesedihan, selain menyelesaikan urusan 「satu orang itu」, ia juga harus menetapkan status dan otoritas rasulnya di antara mereka. Maka hasilnya adalah status dan otoritas Paulus sebagai rasul sekali lagi didirikan, dan orang itu juga mendapat teguran yang pantas. Tapi setelah Paulus meninggalkan mereka, sebagian besar jemaat gereja terus menyalahkan orang itu dan membuat orang itu tidak tahan. Maka dalam 《Surat 2 Korintus》 ini Paulus menasihati mereka untuk berhenti sebab sudah cukup, dan agar sungguh-sungguh mengasihi dia (2:8). Memang penting untuk menangani masalah dengan serius, tetapi harus ada kasih di dalam menghadapi masalah. Menegur adalah bertujuan membawa orang kembali, mengampuni dan membangun kembali hubungan, namun Iblis berusaha menciptakan perselisihan dan kehancuran dalam komunitas iman (2:11).
Renungkan:
Melihat ada masalah tetapi tidak ditangani dengan serius, sungguh bukan perwujudan kasih. Mengabaikan masalah hanya akan membuat masalah lebih buruk. Akibatnya, generasi berikutnya akan menanggung rasa sakit, dan orang yang membuat masalah tidak akan pernah belajar seumur hidupnya. Demi kepentingan orang percaya, Paulus menangani masalah dengan serius, bila perlu akan dengan berani mengingatkan dan menegur orang yang melakukan kesalahan. Gereja adalah tubuh yang mendengarkan firman Tuhan, dan juga merupakan tempat untuk menguji apakah orang akan menaati Allah dan tindakan disiplin gereja juga merupakan perwujudan kasih. Ketika kita melihat saudara atau saudari memiliki masalah, bahkan melakukan beberapa hal yang membuat kita tersinggung, bagaimana kita harus menghadapi dan menyelesaikan hal itu? Apakah kita bersedia dengan kesedihan, kita memakai firman Tuhan memberikan peringatan dan teguran yang penuh kasih kepada orang ini?
Renungan pemahaman Surat 2 Korintus
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 2 Korintus ditulis oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀) yang dipublikasi pada bulan September 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.