Merenungkan lagi tentang 「keinginan」
Oleh Rev. Dr. Wong Tin-yat (黃天逸)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Kid. 7:10 [ITB])
10 Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju.
Kejadian 2:18, mengatakan: 「TUHAN Allah berfirman: 『Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.』」 Septuaginta LXX menerjemahkan sebagai: 「Kami akan membuat pasangan untuknya.」 Alkitab Mandarin dalam menerjemahkan kehilangan unsur yang sangat penting, dalam teks bahasa aslinya telah digunakan כְּנֶגְדּֽוֹ ke·neg·do (in front of, suitable) dapat diterjemahkan sebagai 「di depannya, atau sepadan」, kata ini memiliki arti 「sepadan」 (lihat ITB); dengan kata lain, ayat 18b harus membaca: 「Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia (di depannya)」, dan 「penolong / pasangan」 ini sepadan sederajat dengan pria. Jika kita mengacu pada Kej. 1:27 「… laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka」, kita memahami bahwa 「tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja」 artinya 「tidak lengkap / tidak utuh」 di mata Allah, karena saat ini hanya ada 「laki-laki」 tetapi tidak ada 「wanita」. Dari sudut pandang ini, penulis 《Kitab Kejadian》 ingin kita memahami bahwa pria dan wanita bukan hanya hubungan yang sepadan setara, mereka bahkan harus ditambahkan untuk menjadi 「lengkap」 di mata Allah.
Para peneliti Perjanjian Lama menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan 「penolong」adalah termasuk dukungan perempuan kepada laki-laki dalam semua aspek dari 「fisik」, 「spiritual rohani」, dan 「psikologis」. Kita juga harus memperhatikan: keberadaan perempuan bukan untuk melengkapi kebutuhan laki-laki, begitu pula sebaliknya; apa maksudnya? 《Kitab Kejadian》 ini telah menekankan bahwa 「penolong」 adalah 「timbal balik」 ── saling bersedia untuk menjadi pembantu sama yang lain, hanya dengan demikian saja barulah tidak akan 「seorang diri saja」.
Seperti dijelaskan dalam Kej. 2:22 「Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu」, Allah memakai 「tulang rusuk」 dari tubuh 「manusia itu」 untuk membuat seorang 「wanita」, Alkitab menggambarkan dengan sangat penuh makna ── Allah sebagai Ayah pengantin wanita, membawanya ke depan pengantin pria. Ini benar-benar adegan yang sangat mengharukan dalam 《Kitab Kejadian》 , dan pada saat yang sama mendorong seluruh proses pendirian pernikahan ke puncaknya. Kata Ibrani 「wanita」 (אִשָּׁה ishshah) berasal dari akar kata 「laki-laki (man)」 (אִישׁ ‘iysh), karena itu, 「Lalu berkatalah manusia itu: 『Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.』」 bahkan Adam sendiri mengakui bahwa Hawa dan dia berada dalam hubungan yang setara sepadan sederajat dan erat intim. Tidak perlu heran bahwa 「mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu」 ini bukan masalah mereka 「tidak mengenakan pakaian」, tetapi menekankan bahwa 「tidak ada sekat setipis apapun」 di antara Adam dan Hawa ── keduanya dapat benar-benar 「menjadi satu daging」dalam segala aspek tubuh, pikiran, spiritual rohani; relasi mereka tidak hanya erat dekat dan intim, bahkan 「kepolosan」 seperti anak-anak dan 「saling menghormati」, karena itu tidak membuat satu sama lain merasa 「malu」, ini merupakan poin paling berharga dalam relasi dekat intim antara Adam dan Hawa di Taman Eden.
Sangat disayangkan bahwa dosa manusia yang dicatat dalam Kejadian 3 telah merusak hubungan yang indah dan intim ini. Dari relasi harmoni yang intim di Kej. 2, sampai di pasal 3 Adam dan Hawa saling lempar tanggung jawab, sampai kutukan atas 「ular」, 「Hawa」 dan 「Adam」, sejak saat itu semuanya telah berubah.
Kata 「menginginkan」 (תְּשׁוּקָה tshuwqah) di Kej. 3:16 「Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi (תְּשׁוּקָה tshuwqah) kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu」, bukan menunjuk kepada hubungan romantis antara Adam dan Hawa, tetapi penulis 《Kitab Kejadian》 melalui penggunaan kata ini, di satu sisi hendak menunjukkan: wanita masih memiliki keinginan kuat terhadap pria, tetapi dia akan menghadapi 「kuasa」 laki-laki; di sisi lain, kata 「menginginkan」 (תְּשׁוּקָה tshuwqah) juga dapat dipahami sebagai 「ide pemikiran」, artinya: wanita memiliki ide dan pendapat mereka sendiri, tetapi 「ide pemikiran」 dia akan menyebabkan konflik dengan pria, dengan kata lain, setelah keduanya melakukan dosa, mereka akan memasuki situasi di mana kedua belah pihak ingin dapat mengendalikan yang lain, mohon bertanya, bisakah masih ada 「relasi intim yang harmonis」?
Penulis 《Kitab Kidung Agung》 melalui penggambaran hubungan cinta kasih laki-laki dan wanita, sengaja memakai kata「menginginkan (תְּשׁוּקָה tshuwqah)」 (longing, desire) , menggemakan 「Adam dan Hawa」 dan kisah 「Kain」 dari 《Kitab Kejadian》mungkin bertujuan menghendaki kita menemukan kembali relasi indah kedekatan yang paling asali dan intim antara laki-laki dan wanita di Taman Eden ── ini adalah apa yang harus cita-cita yang kita tuju, yang kita harus usahakan.
Renungkan:
Berharga untuk kita renungkan: dalam relasi kedekatan yang erat, kita terjerumus dalam 「menginginkan」 secara negatif antara satu sama lain, sehingga sering muncul kesulitan dalam kehidupan bersama itu? Atau, apakah kita telah mengusahakan 「menginginkan」 yang positif dan sehat seperti tokoh pria dan tokoh wanita dalam 《Kitab Kidung Agung》? Bagaimana agar bisa membangun relasi erat intim yang sehat itu?
Renungan pemahaman Kitab Kidung Agung
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kidung Agung ditulis oleh Rev. Dr. Wong Tin-yat (黃天逸) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.