「Melestarikan dan memelihara relasi」
Oleh Rev. Dr. Wong Tin-yat (黃天逸)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Kid. 7:11-13 [ITB])
11 Mari, kekasihku, kita pergi ke padang,
………bermalam di antara bunga-bunga pacar!
12 Mari, kita pergi pagi-pagi ke kebun anggur
………dan melihat apakah pohon anggur sudah berkuncup,
………apakah sudah mekar bunganya,
………apakah pohon-pohon delima sudah berbunga!
Di sanalah aku akan memberikan cintaku kepadamu!
13 Semerbak bau buah dudaim;
dekat pintu kita ada pelbagai buah-buah yang lezat,
………yang telah lama dan yang baru saja dipetik.
Itu telah kusimpan bagimu, kekasihku!
Dalam 《Kitab Kidung Agung》, 「kebun anggur」 tidak hanya merupakan metafora tubuh tokoh wanita (1:6), tetapi juga mengacu pada tempat di mana tokoh pria dan tokoh wanita menikmati cinta kasih romantis, dan juga melambangkan tokoh wanita itu sendiri; ayat 12 「melihat apakah pohon anggur sudah berkuncup, apakah sudah mekar bunganya」 dengan jelas menggemakan ayat 6:11 「Ke kebun kenari aku turun melihat kuntum-kuntum di lembah, melihat apakah pohon anggur berkuncup dan pohon-pohon delima berbunga.」 Jadi, bagaimana memahami ketiga ayat ini?
Melanjutkan teks sebelumnya di atas 「Puisi nyanyian tubuh」 dari tokoh pria kepada tokoh wanita, dan keinginan tokoh wanita yang kuat atas cinta kasih, lalu kita perhatikan ayat 11 dimulai dengan kata kerja 「mari」 (לְכָ֤ה) dalam bentuk perintah (imperatif), diikuti oleh dua frasa 「kita pergi … נֵצֵ֣א / let’s go out …」 dan 「kita … bermalam … נָלִ֖ינָה / let’s spend」dalam bentuk kalimat mendorong (cohortative), dan beberapa kata kerja dinyatakan dalam bentuk jamak, semua menunjukkan bahwa tokoh utama wanita bertekad untuk memasuki sebuah perjalanan bersama dengan sang tokoh. Selain itu, kelompok kata kerja ini muncul dalam urutan perkembangan secara kronologis, yaitu: mereka merencanakan ingin pergi ke padang, dan kemudian keduanya menghabiskan malam bersama di salah satu desa, sehingga keesokan paginya mereka dapat bersama menyaksikan mekarnya bunga di kebun anggur. Semua ini berasal dari seruan 「mari」 dari tokoh wanita.
Selain itu, hari 「bunga mekar」, juga berarti datangnya musim semi, bumi dipelihara dan direvitalisasi tumbuh lagi daya hidup, di sini penggambaran musim semi juga menyediakan banyak imajinasi penuh romantis bagi mereka berdua, dan perkataan tokoh wanita 「di sanalah aku akan memberikan cintaku kepadamu,」 selain secara struktur dapat dilihat sebagai klimaks, tokoh wanita juga mengklarifikasi niatnya untuk menjelajahi kebun-kebun anggur ── dia ingin memberikan cinta kasihnya kepada tokoh pria, dan「kebun-kebun anggur」 adalah tempat di mana kedua pengantin menikmati relasi intim jasmaniah.
Adapun mengenai 「buah dudaim」 dalam ayat 13, para ahli Perjanjian Lama sepakat bahwa 「buah dudaim」 di zaman kuno dianggap sebagai obat penggairah (lihat Kej. 30:14). dan kata 「semerbak bau」 secara literal adalah 「memberikan (נָתַן nathan) harum」 adalah kata 「memberi」 yang sama di ayat sebelumnya 「di sanalah aku akan memberikan (נָתַן nathan) cintaku kepadamu」; dari sudut pandang ini, di satu sisi, penulis 《Kitab Kidung Agung》 mengungkapkan bahwa waktunya telah tiba bagi tokoh wanita untuk 「memberikan cinta kasih」, dan di sisi lain, memungkinkan kita untuk melihat gelombang kuat menggebu cinta kasih tokoh wanita. Di sini, perlu kita perhatikan bahwa frasa 「dekat pintu kita ada pelbagai buah-buah yang lezat」 adalah ekspresi jamak 「kita」 (mereka berdua), menunjukkan bahwa 「buah-buah yang lezat, yang telah lama dan yang baru saja dipetik」 adalah hasil upaya bersama dari mereka berdua dalam cinta kasih ini. Jika 「buah」 adalah metafora pengalaman cinta kasih mereka secara jasmaniah, maka dalam hal ini sang wanita hendak memberitahu tokoh pria tentang kesetiaan satu sama lain, jika 「buah」 mengacu pada perasaan cinta kasihnya maka tokoh wanita mengekspresikan ia sepenuh hati dan tanpa pamrih hanya untuk tokoh pria saja, dan dia hanya satu orang saja, dan dia 「memelihara, melestarikan dan menyayangi」 semua ini adalah 「sangat berharga dan penting」.
Renungkan:
「Memelihara, melestarikan dan menyayangi」 adalah bertujuan agar dapat menjadi milik 「eksklusif」 dari kedua orang saja, dan pada saat yang sama menunjukkan 「kesetiaan」 atas relasi erat dan intim ini; mungkin, di zaman yang kacau ini, kita sebagai umat Allah harus mengakui dan memiliki konsep 「kesetiaan」!
Renungan pemahaman Kitab Kidung Agung
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kidung Agung ditulis oleh Rev. Dr. Wong Tin-yat (黃天逸) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.