Mazmur 126:1-2

「Allah Masih Tetap Memegang Kendali」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Mazmur 120-134 ditulis oleh 黃天逸 (Huáng Tiān Yì) yang dipublikasi pada bulan Mei 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Maz. 126:1-6 [ITB])
1Nyanyian ziarah.
Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. 2Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: 「TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!」
3TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. 4Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!
5Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
6Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Di pembukaan Mazmur 126 dengan jelas ditujukan sebagai mazmur ucapan syukur kembali dari penawanan.

Dari ayat 1 「kita seperti orang-orang yang bermimpi」 sampai kepada ayat 2 「kita mulut penuh tertawa, lidah penuh sorak-sorai」 , sebenarnya kita kehilangan sesuatu yang sangat penting ─ yakni sebuah titik balik sangat penting dalam emosi seorang Pemazmur.

Apa maksud perkataan 「kita seperti orang-orang yang bermimpi」? Berharga untuk direnungkan: terhadap perihal kembali dari pembuangan, reaksi pertama Pemazmur ternyata bukanlah 「mulut penuh tertawa, lidah penuh sorak-sorai」 , justru adalah 「tertegun, mata terpanah mulut ternganga」 yakni merasa 「seperti bermimpi」. Mengapa terjadi demikian?

Membuka kembali sejarah, dalam begitu banyak pengalaman krisis yang telah dilalui Yehuda, tidak ada yang lebih berbahaya daripada penawanan Babilon. Pada kenyataannya, kejadian ini telah menguji dengan keras iman Yahudi ortodoks, dari pandangan mata orang-orang Yehuda, TUHAN Allah, yang telah melakukan hal-hal besar bagi mereka di masa dahulu, dalam hal penawanan ini rupanya Ia nyata kalah secara total.

Berbicara terus terang, hari-hari penawanan bukanlah urusan satu atau dua hari, maka tidak mungkin dalam 3 atau 5 tahun bisa selesai menghimpun tenaga serta bangkit kembali setelah kalah, dan dalam masa waktu 70 tahun kelompok tawanan ini segala sesuatu telah menjadi sia-sia punah harapan dan semua pengharapan sudah dilupakan. Masa 70 tahun seolah-olah memaksa mereka mengakui dan menerima ─ bahwa sejarah tidak dapat diulang, dan TUHAN tidak akan melakukan mujizat-mujizat yang ajaib apapun bagi mereka! Dalam pengertian ini, bagi kelompok orang Yahudi tawanan ini 「tertegun, mata terpanah mulut ternganga」 bukan tanpa alasan. Marilah bayangkan, sebuah mimpi yang sudah punah selama 70 tahun, harapan telah dilupakan, hilang selama 70 tahun, dan akhirnya dihidupkan kembali di antara keputusasaan. Allah telah menghidupkan kembali harapan-harapan mereka, pada akhirnya membara kembali; sehingga yang memenuhi mereka adalah 「mulut penuh tertawa, lidah penuh sorak-sorai」.

Renungkan: Peralihan dari 「menabur dengan mencucurkan air mata」 sampai 「menuai dengan sorak-sorai」 (ayat 5) bagaimanakah bisa merupakan urusan dua atau tiga hari? Pada kenyataannya, demikianlah sesungguhnya perjalanan ziarah, karena dalam proses kita harus pergi mengalami banyak sakit, perjuangan, nyeri, lemah bahkan jatuh, namun di setiap tempat yang demikian justru merupakan tempat di mana kita mengalami Tuhan. Ketika Pemazmur berteriak: 「Tuhan telah melakukan perkara besar bagi kita」 pada saat yang sama ia menyatakan bahwa Allah masih memegang kendali betapapun keadaannya bahkan sekalipun pada perjalanan yang tersulit.

Apakah kita memiliki iman yang demikian terhadap Allah?


(silahkan klik untuk membuka)