「Seruan agar Berdiri Kokoh dalam Perang yang Nyata」
Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Mazmur 120-134 ditulis oleh 黃天逸 (Huáng Tiān Yì) yang dipublikasi pada bulan Mei 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
(Maz. 120:1-7 [ITB])
1Nyanyian ziarah. Dalam kesesakanku aku berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab aku: 2「Ya TUHAN, lepaskanlah aku dari pada bibir dusta, dari pada lidah penipu.」
3Apakah yang diberikan kepadamu dan apakah yang ditambahkan kepadamu, hai lidah penipu? 4Panah-panah yang tajam dari pahlawan dan bara kayu arar.
5Celakalah aku, karena harus tinggal sebagai orang asing di Mesekh, karena harus diam di antara kemah-kemah Kedar! 6Cukup lama aku tinggal bersama-sama dengan orang-orang yang membenci perdamaian.
7Aku ini suka perdamaian, tetapi apabila aku berbicara, maka mereka menghendaki perang.
Menyambung 「dusta」 dan 「penipuan」 yang disebutkan dalam ayat 1-4, Pemazmur selanjutnya memakai 「Mesekh」 dan 「Kedar」 dua buah tempat, untuk membicarakan serangan dan tantangan dalam perjalanan ziarah yang berasal dari dua macam orang, yakni orang yang 「membenci perdamaian」 dan 「suka berperang」. 「Mesekh」 adalah sebuah sudut yang terpencil jauh terpisah dari Palestina ; 「Kedar」 adalah suku yang mempunyai reputasi buruk yang tinggal berserakan di daerah perbatasan Israel. 「Mesekh」 dan 「Kedar」 kedua tempat memiliki sebuah titik persamaan ─ diri mereka adalah orang-orang kuat yang suka berperang. Oleh karena itu, mereka juga dengan tepat mewakili kaum 「jenis yang berbeda」 dan 「kejam dan jahat」. Dari sini terlihat, Pemazmur di dalam perjalanan ziarah akan bertemu tidak hanya serangan berjenis 「berbohong」 dan 「penipuan」, terlebih lagi adalah celaka dari orang-orang bertindak merajalela kejam. Mungkin, 「kesesakan」 dalam ayat 1 secara kenyataannya bukanlah sesuatu yang dapat digambarkan dengan pena dan tinta, ada peneliti menunjukkan: jika memakai sebuah kata yang lebih terus terang lagi untuk menggambarkan Mazmur 120, mungkin Pemazmur hendak menunjukkan: 「kita berada di sebuah kumpulan garong penjahat dan binatang liar」!
Renungkan: yang berharga direnungkan adalah kita eksis hidup di sebuah dunia yang demikian, justru hendak menghidupi gaya hidup yang berbeda, seringkali sungguh akan membawakan kita banyak sekali pertentangan dan tantangan. Pada kenyataannya, seorang Kristen yang sesungguhnya, harus memiliki persiapan di dalam hati sendiri setiap saat bisa berada dalam tarikan tegangan yang kuat, dan juga sering akan menghadapi berbagai macam konflik. Ini adalah karena iman kepercayaan kita menghasilkan tuntutan moral terhadap kita yang tidak bisa ditolak, dan juga menekan kita harus merealisasikan semua tuntutan ini di dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, tidak ada seorang Kristen yang serius atas iman kepercayaan yang bisa mendapatkan pengecualian.
Di ayat 7 「Aku ini suka perdamaian」 tidak hanya merupakan sebuah suara hati sederhana dari Pemazmur, tetapi adalah ketekunannya bertahan di dalam lingkungan yang sulit ini, juga adalah target dirinya yang ia kejar selama ini ─ bahkan jikalaupun, begitu Pemazmur bersuara, mereka menghendaki 「berperang」.
Peziarah sebagai peziarah yang sesungguhnya, karena mereka mengetahui: jikalaupun berada di dalam dunia, dikepung oleh masyarakat dunia; bahkan disangkal oleh orang dunia, ditertawakan, bahkan dipinggirkan, tetapi peziarah yang sesungguhnya selalu mempertahankan 「iman」 yang sepenuhnya terhadap Allah, selalu bertahan untuk memperlakukan dengan perdamaian terhadap orang-orang yang sengaja mencari-cari kesalahan, menciptakan masalah yang ditujukan terhadap diri kita sendiri. Seluruh hati mencari 「perdamaian」, karena mengetahui: Allah berkenan mereka menjadi 「anak perdamaian」.
Pemazmur di dalam 「kesesakan」, ia 「memohon TUHAN」, karena ia tahu Allah tidak akan melipat lengan menjadi penonton di dalam 「kesesakan」 dirinya, dan juga ia mengetahui pasti bahwa Allah adalah Allah yang memiliki perasaan, Ia pasti kapanpun di manapun memelihara kita.