「Injil! Menantang Kebiasaan Kita!」
Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
(Luk. 6:46-49 [ITB])
46「Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?
47Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya–Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan–,
48ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.
49Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.」
Di bagian penutupan 「Khotbah di Dataran」, Yesus selanjutnya memakai perumpamaan untuk menjelaskan kepada kita bagaimana terhindarkan menjadi murid yang munafik. Selain sesuai berjalannya waktu untuk melihat buah yang dihasilkan dari kehidupan seseorang, Yesus lebih lanjut menjelaskan bagaimana menjadi orang yang sama antara hati dan mulut. Seorang pengikut Tuhan Yesus yang sama antara mulut dan hati, adalah setelah mendengarkan pengajaran Tuhan di dataran ini, mengambil tekat untuk menjalankannya juga memiliki tindakan yang riil, barulah dapat menghilangkan niat jahat di dalam hati orang, dengan menghasilkan buah yang baik untuk melawan ketidakpercayaan atau kebimbangan di dalam hati.
Tuhan Yesus terlebih dahulu membicarakan, sebagian orang yang hanya menyerukan 「Tuhan! Tuhan!」, orang yang demikian ini hanya secara kulit luar basa basi berseru kepada Allah, dan bukan sungguh hati dan niat yang jujur bersedia meneladani Tuhan Yesus; yang ingin didapatkan orang yang demikian ini, hanya memenuhi rasa ingin tahu nimbrung sebentar mendengarkan pengajaran Yesus sang 「rabbi」, 「nabi」, 「guru」 yang memiliki kuasa, tetapi justru dari dahulu tidak menuntut kehidupan diri sendiri berubah dan diperbarui. Keras kepala yang demikian ini, adalah tepat merupakan orang di waktu yang dahulu yang dicela oleh Yesus, orang yang demikian ini tepat sama seperti nenek moyang mereka, semuanya memperlakukan seruan para nabi di waktu yang dahulu dengan hati yang menolak, tidak aneh jika sampai pada zaman Yesus, saat datangnya Anak Kekasih Allah, mereka juga demikian memperlakukan Yesus (ini buah yang mereka hasilkan). Dalam kumpulan masyarakat luas yang demikian ini, sebenarnya ada berapa banyak orang di antaranya yang di kemudian hari di Yerusalem berteriak 「lepaskan Barabas」? Kita juga tidak dapat mengetahuinya.
Masyarakat luas tersebut di atas membuat kita memahami, kehidupan orang apakah sungguh benar mengikut Allah, dari dahulu tidak hanya merupakan tanggung jawab orang yang menyampaikan Firman. Tentu saja bagaimana memperkuat penyampaian berita, harus dipelajari setiap orang yang menyampaikan Firman. Tetapi mungkin yang kita kurang perhatikan justru adalah bagaimana memandang penting dan melatih setiap pendengar Firman untuk menjalankan Firman. Oleh karena itu, kiranya kita banyak merenungkan, bagaimana di antara komunitas gereja dapat memiliki makin banyak pelaku Firman, gereja bukanlah sebuah komunitas murni demi berteman, jikalau tidak demikian ini maka komunitas gereja akan seperti selesai membangun rumah justru roboh (dan di kemudian hari di Yerusalem berteriak 「lepaskan Barabas」?)
Perumpamaan tentang rumah yang roboh atau rumah yang tidak dapat digoyahkan, sama seperti perumpamaan tentang menghasilkan buah, demikian membuat orang sesungguhnya melihat, pada akhirnya buah apa yang dihasilkan oleh orang munafik atau juga orang yang hanya mendengarkan Firman namun justru tidak bersedia berubah. Di dalam perikop telah memakai hebatnya kerusakan untuk menggambarkan orang yang demikian ini, agar pembaca memahami bahwa akhir dari mereka yang demikian ini adalah penghakiman yang nyata dapat terlihat, di hari akhir zaman, penghukuman Allah akan datang di antara mereka, dan membongkar segala kebohongan dan kepalsuan, paling akhir tidak ada orang yang dapat terhindarkan dari buah yang dihasilkan diri sendiri.
Tetapi yang paling berharga adalah orang yang telah mendengarkan Firman Tuhan dan menjalankannya, mereka adalah yang kekal tidak tergoyahkan, di dalam perikop dengan sengaja menyebutkan saat banjir besar, orang yang demikian menjalankan Firman Tuhan akan aman tenteram. Ini menjelaskan bahwa orang yang mendengarkan Firman, walaupun mungkin secara kulit luar setuju dengan kebenaran berita didengar oleh diri sendiri, tetapi adalah hal yang tidak mudah jika di dalam keadaan teraniaya dan diharuskan mengasihi musuh, sungguh-sungguh mampu tetap bertahan mengasihi, tegak berdiri bagi kebenaran Firman. Saat kita berpikir di dalam semua keadaan ini jika tetap bertahan untuk mengasihi, biasanya kita akan berpendapat hanya akan membawakan kerugian dan ketidakadilan yang makin besar kepada diri sendiri. Tetapi perikop ini sekali lagi menantang dan menunggangbalikkan kita, hanya demikian melakukan barulah mengikuti pengajaran Yesus Rabi ini, juga barulah merupakan tindakan membangun fondasi, ini sebaliknya membuat kehidupan diri kita sendiri tidak sampai rusak tambah parah.
Renungkan: iman Injil menantang sisi gelap kehidupan manusia, dan menyediakan satu-satunya jalan keluar, membuat orang menang atas kegelapan di dalam hati. Dalam khotbah di dataran, pengajaran Yesus menunggangbalikkan niat dan konsep nilai yang gelap dari manusia. Kita dari dahulu bukanlah hendak mengadakan hal baru agar berbeda dengan masyarakat umum di dunia, tetapi berita dari Injil justru memampukan kita berani berbeda dengan pemikiran manusia dunia, karena yang kita ikuti dan teladani adalah Yesus. Tuhan bagaimana melakukannya di waktu yang dahulu, mohon Tuhan mengajarkan kami berani untuk hidup menyatakan keindahan-Mu agar dilihat manusia dunia, dan sekali lagi bertobat berbalik kepada Tuhan. (Kiranya kita terhindar di kemudian hari menjadi orang yang di Yerusalem berteriak 「lepaskan Barabas」)