「Pulang dengan Kosong 」
Di pintu gerbang kota, Naomi berkata bahwa ia pulang “dengan tangan yang kosong”. Tetapi apakah benar-benar demikian? Lihatlah bagaimana penulis kitab dengan gaya penulisan satra yang indah merekam kesalahan Naomi, ditonjolkan untuk menjadi pelajaran bagi kita.
(Rut 1:19-21 [ITB])
19… Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu karena mereka, dan perempuan-perempuan berkata: “Naomikah itu?”
20Tetapi ia berkata kepada mereka: “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. 21Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.”
Rut memilih ikut Naomi pulang ke Betlehem di tanah Yudea, penulis kitab tidak menyebutkan reaksi hati Naomi, hanya menggambarkan ia berhenti menghalangi Rut. Bagi Naomi, adanya Rut yang mendampingi dia sebenarnya akan menjadi beban, atau akan menjadi mediator berkat bagi dia? Naomi hanya diam tidak berbicara, sehingga kita tidak bisa mengetahuinya. Penulis kitab segera meletakkan fokus pada pintu gerbang kota Betlehem. Para wanita terkejut serta antusias terhadap Naomi yang sudah lama tidak bertemu dan tiba-tiba muncul. Namun perhatian mereka hanya tertuju pada Naomi seorang diri saja, pada saat ini peran Rut memudar, tidak hanya para wanita tidak menyebutkan tentang dia, jawaban Naomi pun tidak menyebutkan dia. Sampai episode ini selesai barulah nama Rut disebutkan (Rut 1:22). Peran para wanita adalah mengangkat pernyataan dari perasaan Naomi atas pengalaman sedih selama sepuluh tahun yang lalu.
Nama Naomi aslinya mempunyai makna 「manis 」 dan 「indah, 」 Naomi telah mengalami berbagai goresan kehidupan, kata「pahit 」adalah gambaran yang tepat tentang sepuluh tahun ini. Oleh karena itu, ia meminta para wanita menyebut dia sebagai Mara, artinya 「pahit. 」 Kemudian ia langsung menimpahkan tangung jawab atas pengalaman pahit sepuluh tahun ini kepada Yang Mahakuasa. Keluhan Naomi tidak seperti Ayub dan Yeremia, ia tidak langsung mengeluh kepada Allah, ia hanya menyebutkan Allah sebagai pihak ketiga; Ia juga tidak mempertanyakan apa alasan terjadinya semua penderitaan tersebut, juga tidak meminta pembenaran kepada Allah, ia hanya berpendapat dirinya adalah orang yang bernasib pahit. Sekarang ia tidak dapat menahan lagi mengeluarkan isi hati yang disimpan selama bertahun-tahun.
Naomi menyebut pihak yang memukul dia sebagai Yang Mahakuasa (Rut 1:20-21); Nama ini sering dipakai di zaman para kepala suku, nama yang dipakai berkenaan dengan janji berkat keturunan yang banyak, orang yang mendapatkan berkat ini mengganti namanya terkait dengan nama ini serta dikaitkan dengan akan adanya Raja yang lahir dari keturunan bapa leluhur. Naomi menyebut Allah sebagai Yang Mahakuasa mengisyaratkan pertanyaannya atas janji Allah di zaman para kepala suku. Oleh karena itu ia berkata: 「TUHAN naik saksi menentang aku 」(Rut 1:21b) atau dalam terjemahan lain「TUHAN bersaksi mencela aku. 」 Dalam pandangan Naomi, ia sepertinya telah berbuat sesuatu sehingga sekarang mendapatkan tuduhan TUHAN dan ia adalah terdakwa. Yang Mahakuasa seperti hakim, membacakan tuduhan dan menghukum.
Dalam hati Naomi, TUHAN berkuasa atas segalanya, mengendalikan segala sesuatu di balik layar. Penderitaan yang ia alami adalah serangan dari Tuhan; namun ia tidak tahu apa alasannya, seperti Ayub tidak tahu apa alasan mengalami penderitaan. Kesulitan membuat dia menghasilkan serangkaian pertanyaan, bahkan tanpa disadari isi dari naik bandingnya pun telah dibesar-besarkan. Apakah benar ia pergi dengan tangan penuh, pulang dengan tangan hampa? (Rut 1:21a). Jika yang dimaksudkan dia “dengan tangan yang penuh” adalah kelimpahan sandang pangan, tetapi ia mengikuti suaminya meninggalkan Betlehem adalah karena bencana kelaparan, bukankah apa yang ia katakan sebagai “dengan tangan yang penuh” tidak sesuai kenyataan? Jika yang ia maksudkan “dengan tangan yang penuh” adalah memiliki dua anak pada waktu ia mengikuti suaminya pergi, kemudian di Moab bertambah dua menantu, dan sekarang ia kehilangan suami, kehilangan kedua anak, ini dapat dikatakan terkait pulang “dengan tangan yang kosong”.
Tetapi apakah ia benar-benar pulang dengan tangan yang kosong? Naomi lupa kepada Rut (lihat bagaimana hal ini dinyatakan dengan memudarnya peran Rut dari percakapan di pintu gerbang kota), para wanita Betlehem juga tidak memperhatikan Rut. Bukankah ada Rut di samping dirinya, bagaimana ia bisa mengatakan ia tidak punya apa-apa, pulang dengan tangan yang kosong? Naomi sesungguhnya tersiksa oleh penderitaan begitu dalam. Penderitaan membuat pandangannya buram, kemampuan menarik kesimpulan juga terganggu, tidak dapat akurat. Naomi terlalu meletakkan pandangannya hanya tertuju pada penderitaan masa lalu dan yang yang sedang dihadapi, ia melupakan orang yang ada di sampingnya, Rut. Penulis kitab sengaja di akhir fasal sekali lagi memperkenalkan Rut.
Renungkan: orang pada saat mendapatkan penderitaan, akan meletakan pandangan hanya pada penderitaan, sehingga fokus pandangannya menjadi kabur, seperti seorang yang hanya melihat air setengah gelas yang belum penuh. Demikian juga kitab Mazmur mencatat pemazmur yang mengalami penderitaan, pemazmur mengerti bahwa rahasianya adalah datang ke Bait Kudus TUHAN (Maz. 73:17, 23), akan mendapatkan jawaban yang berbeda jika memandang penderitaan yang dialami sekarang dari sudut pandang Allah dan kekekalan. Mohon Tuhan membantu kita untuk dapat memandang penderitaan yang dialami sekarang dari sudut pandang Allah dan kekekalan.
Daftar Renungan pemahaman Kitab Rut
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Kitab Rut ditulis oleh 何啟明 (Hé Qǐ Míng) yang dipublikasi pada bulan September 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).