「Mengukuhkan Filemon dalam Mengambil Keputusan」
Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filemon ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
(Filemon 1:17-21 [ITB])
17Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri.
18Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku–
19aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri: Aku akan membayarnya–agar jangan kukatakan: “Tanggungkanlah semuanya itu kepadamu!” –karena engkau berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri.
20Ya saudaraku, semoga engkau berguna bagiku di dalam Tuhan: Hiburkanlah hatiku di dalam Kristus!
21Dengan percaya kepada ketaatanmu, kutuliskan ini kepadamu. Aku tahu, lebih dari pada permintaanku ini akan kaulakukan.
Paulus dalam ayat 10 dengan jelas mengatakan permohonannya kepada Filemon, juga mulai dari ayat 11-16 mencoba perlahan memperkuat kerelaan Filemon. Dalam ayat 17-21, Paulus memulai lagi dorongannya, mengharapkan Filemon menyetujui pemohonannya. Paulus memakai konsep dan kata-kata terkait relasi yakni: rekan, saudara dan anak rohani. Terlebih dahulu, Paulus menunjukkan relasinya dengan Filemon adalah rekan dalam Injil, rekan saling bisa menerima, ia lebih lanjut memberikan dorongan kepada Filemon menerima budak Onesimus, sama seperti menerima dirinya. Dengan kata lain, saat Filemon menerima Onesimus, adalah seperti menerima diri Paulus. Di antara rekan tidak akan saling membuat rugi, demi menggatikan kerugian Filemon akibat pencurian yang dilakukan Onesimus, Paulus rela menggantikan Onesimus untuk membayar. Kedua, Filemon adalah anak rohani Paulus, Paulus memimpin Filemon datang kepada Tuhan, juga dikatakan bahwa Paulus adalah ayah rohani Filemon. Ketiga, Paulus dan Filemon juga adalah saudara, ini adalah ketiga kalinya mengatakan 「saudara」, menyatakan relasi mereka yang intim. Pemakaian kata anggota keluarga muncul demikian banyak dalam ini surat, yakni: saudara, saudari, anak.
Karena Paulus dan Filemon memiliki relasi yang tebal serta mendalam, maka Paulus bisa dengan berani membeberkan isi hatinya secara terbuka kepada Filemon. Paulus juga secara mendalam percaya Filemon akan secara serius mempertimbangkan permohonannya, terlebih lagi berharap respon dari Filemon akan melampaui apa yang ia pikirkan. Sebenarnya, Paulus mengetahui secara mendalam keputusan yang hendak dibuat Filemon tidak mudah, adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan adat kebudayaan saat itu. Ia dengan tulus memohon pertolongan Filemon, agar bisa mendapatkan 「penghiburan」 di dalam hati (ayat 20). Paulus dengan yakin memahami apakah perkara ini bisa diselesaikan, semua bergantung kepada kehendak Allah. Di ayat 20, Paulus dua kali menyebutkan 「di dalam Tuhan」 dan 「di dalam Kristus」, maka ia dengan sungguh percaya hanya Tuhan Yesus Kristus yang bekerja, baru bisa mendapatkan pertolongan Filemon.
Mungkin ada orang percaya melihat sampai di sini, akan mempertanyakan Paulus, mengapa Paulus seperti kata per kata memaksa orang? Filemon bagi dia ini adalah saudara, rekan, dan anak rohani, apakah ia tidak terlalu banyak perhitungan? Melihat 25 ayat dalam surat ini, dalam penulisan Paulus telah memakai kata dengan tepat, alasan dan konsep yang sangat cukup, juga penuh persuasi. Tulisan yang menggerakkan hati, perkataan yang berdasarkan kebenaran, sehingga Filemon sungguh sulit menolak permohonannya. Walaupun Paulus mengatakan tidak ada paksaan, biarlah ia dengan kerelaan hati membuat keputusan, namun Filemon sesungguhnya sangat sulit tidak 「menuruti」 usul Paulus! Mungkin kita jangan terlalu cepat membuat kesimpulan, berhenti sejenak lebih dahulu, pikirkan Paulus mengapa bisa memiliki cara ekspresi yang demikian? Hari ini di mimbar khotbah, terdapat banyak gaya bicara yang tidak sama. Ada sekelompok yang sangat memiliki talenta dalam berbicara, segala yang keluar dari mulut bagaikan karya tulis, setiap kata bagaikan mutiara, membuat orang yang mendengar dapat paham dengan jelas. Juga ada sekelompok pengkhotbah yang perenungannya ketat dan detil, alur pikir yang jelas, penuh logika, apa yang diberitakan teratur tidak kacau, membuat orang dapat lebih mengenal kebenaran. Selain itu, juga ada sekelompok pengkhotbah, pewartaan khotbah mereka tidak tentu selalu membicarakan pemahaman Alkitab dalam bahasa aslinya, atau bagaimana struktur teks, tetapi sering akan memakai sesuatu contoh dari kehidupan dan kesaksian orang percaya, membuat orang hati terinspirasi, membangkitkan introspeksi diri. Dari sini dapat dilihat, Tuhan bisa memakai pengkhotbah yang berbeda gaya bicara, latar belakang dan talenta, untuk berkata-kata kepada orang.
Demikian juga, Tuhan berbicara kepada Filemon memakai gaya karakter Paulus. Kita mengetahui Paulus berada dalam budaya Yunani Romawi, ia adalah seorang yang memiliki pengetahuan, dan ilmu pidato retoris (rhetorical) yang penuh daya persuasi tidak hanya merupakan mata pelajaran pendidikan yang paling utama pada zaman itu, juga adalah alat yang sering dipakai pada zaman itu. Mungkin Paulus dalam menuliskan surat kepada Filemon, tanpa disadari memakai ilmu pidato retoris persuasi. Tidak peduli bagaimana, kita percaya Paulus adalah penuh kesungguhan dalam setiap perkataannya, dengan tulus hati mengharapkan Filemon membuat keputusan dengan rela hati dan yang baik bagi Tuhan Yesus. (Kiranya apa yang kita tuliskan atau bicarakan penuh kesungguhan dalam setiap perkataan, dengan pengharapan yang tulus hati kepada orang lain adalah bagi Tuhan Yesus.)
Renungkan: (1) Naikkan ucapan syukur bagi setiap pengkhotbah yang berbeda gaya bicara; (2) Pikirkan bagaimana saya bisa mempersembahkan diri dipakai bagi Tuhan? (Ayat 20 「… semoga engkau berguna bagiku di dalam Tuhan … 」, bagaimana kita dapat berguna bagi orang lain di dalam Tuhan?)