Oleh
Rev Dr Alby Yip
Senior Pastor
Zion Bishan Bible-Presbyterian Church
Penerjemah: Team WMC
Mazmur 50:8, 16-23
8 Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau;
bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku?
16 Tetapi kepada orang fasik Allah berfirman:
“Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku,
dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu,
17 padahal engkaulah yang membenci teguran,
dan mengesampingkan firman-Ku?
18 Jika engkau melihat pencuri, maka engkau berkawan dengan dia,
dan bergaul dengan orang berzinah.
19 Mulutmu kaubiarkan mengucapkan yang jahat,
dan pada lidahmu melekat tipu daya.
20 Engkau duduk, dan mengata-ngatai saudaramu,
memfitnah anak ibumu.
21 Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri;
engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau.
Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu.
22 Perhatikanlah ini, hai kamu yang melupakan Allah;
supaya jangan Aku menerkam, dan tidak ada yang melepaskan.
23 Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku;
siapa yang jujur jalannya,
keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya.”
Renungan
Ibu saya buta huruf tetapi dia mengajarkan saya salah satu pelajaran paling penting dalam hidup. Dia sering mengingatkan saya dalam bahasa Kanton, “知 恩 莫 忘 报”, yang berarti “Jangan lupa untuk membalas anugerah yang diberikan kepada Anda.” Apa yang ibu saya maksudkan, dan apa yang dia jalani, adalah bahwa rasa terima kasih dan ucapan syukur yang sejati bukanlah respons satu kali atau membayar kembali. Ini adalah untuk menjalani hubungan timbal balik seumur hidup dengan orang yang menjadi saluran perpanjangan anugerah itu.
Israel, bangsa perjanjian, diperingatkan dalam Mazmur 50 menentang penyembahan yang dangkal di permukaan saja, kemunafikan tersembunyi dan kejahatan yang terang-terangan. Persembahan bakaran dibutuhkan sebagai persiapan bagi orang-orang yang bertemu Allah (Kel. 29: 38-42). Mereka adalah korban pendamaian. Ini adalah teka-teki tingkat tertinggi jika orang mengaku disucikan di hadapan Allah namun hati dan kehidupan mereka jauh dari Allah. Adalah suatu ironi bagi seorang yang mengaku Kristen menjalani kehidupan yang tidak patuh.
Kita harus diingatkan pada periode Pra-Paskah ini bahwa Tuhan Yesus mempersembahkan diri-Nya sebagai korban yang sempurna. Kita tidak perlu lagi menawarkan korban bakaran; alih-alih, kita menawarkan diri kita sebagai korban yang hidup. Sama seperti penulis Ibrani menasihati, “betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.” (Ibr. 9:14)
Marilah kita benar-benar merespons dengan menjaga kekudusan dalam hidup sehari-hari atas kasih karunia yang telah diberikan Allah kepada kita melalui Yesus Kristus! Melalui kematian-Nya, Dia memberi kita kehidupan. Melalui hidup kita, kita membalas kematian-Nya.
Doa
Ya Tuhan, tolong aku untuk benar-benar memahami luasnya kasih-Mu kepadaku. Betapa berkuasanya kematian Kristus untuk membebaskan saya dari belenggu dosa. Roh-Mu yang penuh kuasa ada di dalam diriku untuk menjalani kehidupan ibadat dan ucapan syukur sebagai pengorbanan yang hidup.
Tindakan
Hal-hal apa saja yang mungkin menghalangi ibadat Anda kepada Allah?
Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen
(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)