Tag Archives: Kitab Yosua

Yosua 9:1-15

「Orang Gibeon mendapat selamat」

Oleh Rev. Dr. Ho Kai-Ming (何啟明)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yosua 9:1-15 [TB2])
1 Hal itu didengar oleh raja-raja di sebelah barat Sungai Yordan, di Pegunungan, di Syefela, dan sepanjang pantai Laut Besar sampai ke seberang Gunung Libanon, yakni raja-raja orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus. 2 Lalu dengan seia sekata mereka bergabung untuk memerangi Yosua dan orang Israel. 3 Penduduk negeri Gibeon juga mendengar apa yang dilakukan Yosua terhadap Yerikho dan Ai. 4 Tetapi, mereka bertindak dengan tipu muslihat: mereka pergi menyediakan bekal, mengambil karung usang untuk dimuatkan di atas keledai dan kantong anggur dari kulit yang sudah usang, robek dan dijahit kembali, 5 kasut usang yang bertambal untuk kaki mereka, dan pakaian usang untuk mereka kenakan. Semua roti bekal mereka pun sudah kering, tinggal remah-remah saja. 6 Lalu mereka pergi kepada Yosua, ke perkemahan di Gilgal. Mereka berkata kepadanya dan kepada orang Israel, Kami datang dari negeri yang jauh. Sekarang, ikatlah perjanjian dengan kami. 7 Namun, jawab orang Israel kepada orang-orang Hewi itu, Barangkali kamu justru tinggal di antara kami. Bagaimana mungkin kami mengikat perjanjian dengan kamu? 8 Lalu kata mereka kepada Yosua, Kami ini hamba-hambamu. Tanya Yosua, Siapa kamu ini? Dari mana kamu datang? 9 Jawab mereka kepadanya, Hamba-hambamu ini datang dari negeri yang sangat jauh karena kemasyhuran nama TUHAN, Allahmu. Sesungguhnya kami telah mendengar tentang Dia, segala yang dilakukan-Nya di Mesir 10 dan semua yang dilakukan-Nya terhadap kedua raja orang Amori di seberang Sungai Yordan, Sihon, raja Hesbon, dan Og, raja Basan, yang di Astarot. 11 Sebab itu, tua-tua kami dan seluruh penduduk negeri kami berkata kepada kami: Bawalah bekal untuk perjalanan. Pergilah menemui mereka dan berkatalah kepada mereka: Kami ini hamba-hambamu. Sekarang, ikatlah perjanjian dengan kami. 12 Ini roti kami, masih hangat ketika kami bawa sebagai bekal dari rumah pada hari kami berangkat menemui kamu. Tetapi, sekarang lihat, roti ini sudah kering dan tinggal remah-remah saja. 13 Ini kantong anggur yang masih baru ketika kami mengisinya, tetapi lihatlah, telah robek. Inilah pakaian dan kasut kami yang sudah usang karena perjalanan kami sangat panjang. 14 Lalu orang-orang Israel mengambil sebagian dari bekal orang-orang itu, tetapi tidak meminta petunjuk TUHAN. 15 Lalu Yosua mengadakan perdamaian dengan mereka dan mengikat perjanjian dengan mereka bahwa ia akan membiarkan mereka hidup. Para pemimpin umat pun bersumpah kepada mereka. 16 Namun, tiga hari kemudian, setelah mereka mengikat perjanjian, orang Israel mendengar bahwa orang-orang itu tinggal tidak jauh dari mereka, bahkan di antara mereka. 17 Orang Israel bergerak maju, dan pada hari ketiga tiba di kota-kota mereka, Kota Gibeon, Kefira, Be’erot, dan Kiryat-Yearim. 18 Orang Israel tidak menewaskan mereka, sebab para pemimpin umat telah bersumpah kepada mereka demi TUHAN, Allah Israel. Lalu segenap umat bersungut-sungut kepada para pemimpin. 19 Pemimpin-pemimpin itu pun berkata kepada seluruh umat, Kami telah bersumpah demi TUHAN, Allah Israel. Oleh sebab itu, kita tidak dapat berbuat apa-apa terhadap mereka. 20 Beginilah harus kita perlakukan mereka: Kita biarkan mereka hidup supaya kita tidak ditimpa murka karena sumpah yang kita ikrarkan kepada mereka. 21 Pemimpin-pemimpin itu berkata lagi kepada mereka, Biarlah orang-orang itu hidup. Lalu mereka dijadikan pembelah kayu dan penimba air untuk seluruh umat, seperti yang ditetapkan oleh pemimpin-pemimpin mengenai mereka. 22 Kemudian Yosua memanggil orang-orang itu dan berkata kepada mereka, Mengapa kamu menipu kami dengan berkata: Kami tinggal sangat jauh dari kamu, padahal kamu tinggal di antara kami? 23 Oleh sebab itu, terkutuklah kamu dan tak putus-putusnya kamu akan menjadi budak, menjadi pembelah kayu dan penimba air untuk Rumah Allahku. 24 Jawab mereka kepada Yosua, Telah diberitahukan dengan sungguh-sungguh kepada hamba-hambamu ini bahwa TUHAN, Allahmu, memerintahkan kepada Musa hamba-Nya, untuk memberikan seluruh negeri itu kepadamu dan membinasakan seluruh penduduk negeri itu dari hadapanmu. Oleh karena kamu, kami sangat mengkhawatirkan nyawa kami. Itulah sebabnya kami melakukan hal itu. 25 Sekarang, kami ini ada dalam tanganmu. Lakukanlah terhadap kami apa yang kaupandang baik dan benar. 26 Demikianlah dilakukannya kepada mereka. Yosua melepaskan mereka dari tangan orang Israel, sehingga mereka tidak dibunuh. 27 Pada hari itu juga Yosua menjadikan mereka pembelah kayu dan penimba air untuk umat dan mezbah TUHAN, sampai hari ini, di tempat yang dipilih-Nya.

Yosua pasal 9–11 memiliki narasi yang berbeda, mencatat pergeseran Israel dari serangan proaktif terhadap Yerikho dan Ai berubah menjadi konfrontasi pasif menghadapi serangan orang Kanaan. Israel tidak lagi menghadapi kota-kota yang berdiri sendirian, melainkan koalisi yang terdiri dari beberapa kota atau wilayah. Raja-raja Kanaan, yang sebelumnya TUHAN telah mengeringkan Sungai Yordan di depan orang Israel, sehingga mereka dapat menyeberang, ciutlah hati mereka dan hilanglah semangat mereka menghadapi orang Israel (5:1b), kini, setelah Hal itu didengar oleh raja-raja di sebelah barat Sungai Yordan (9:1), lalu dengan seia sekata mereka bergabung untuk memerangi Yosua dan orang Israel (ayat 2). Teks tersebut tidak secara jelas menyebutkan apa yang didengar raja-raja ini, dan tidak jelas apakah mereka memanfaatkan kekalahan Israel di Ai, mereka percaya bahwa mereka bukanlah tidak terkalahkan, dan dengan demikian mengambil inisiatif untuk menyerang Israel. Singkatnya, Israel mau tidak mau dihadapkan pada pertempuran yang menentukan melawan koalisi Kanaan. Inilah saat perjanjian dengan orang Gibeon terjadi.

Peristiwa itu terjadi ketika penduduk empat kota yang terletak kurang dari 16 kilometer barat daya Ai (9:17), yang diwakili oleh orang Gibeon, berpura-pura berasal dari negeri yang jauh dan meminta perdamaian dengan orang Israel. Mereka bertindak dengan tipu muslihat (ayat 4a) untuk menipu Yosua. Kata tipu muslihat (ʿārmāh) aslinya berarti kecerdikan dan kebijaksanaan, dan memiliki konotasi positif dan negatif. Makna positifnya adalah kecerdikan (lih. Ams. 1:4; 8:5, 12), sedangkan makna negatifnya adalah kelicikan (lih. Kel. 21:14). Di sini, makna positifnya bisa jadi adalah bahwa orang Gibeon dengan hati-hati mempertimbangkan dan menggunakan cara-cara yang cerdik untuk memilih untuk mengadakan perjanjian dengan orang Israel. Mereka pertama-tama menggunakan bukti: barang-barang kedaluwarsa yang dipalsukan, demi menunjukkan bahwa mereka berasal dari negeri yang jauh. Barang-barang yang mengonfirmasi asal-usul mereka antara lain karung-karung tua dan kantong anggur yang ditambal, sepatu dan pakaian tua yang ditambal, serta roti yang telah menjadi kering, tinggal remah-remah saja (ayat 5b). Mereka kemudian hanya berbicara kepada Yosua tentang peristiwa-peristiwa sebelumnya di luar tanah Kanaan, yaitu segala yang dilakukan-Nya di Mesir, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kedua raja orang Amori di seberang Sungai Yordan, Sihon, raja Hesbon, dan Og, raja Basan, yang di Astarot, di sebelah timur Sungai Yordan (ayat 9-10). Mereka tidak membicarakan peristiwa-peristiwa yang lebih baru di Yerikho dan Ai, yang membuat orang Israel percaya bahwa mereka memang berasal dari negeri yang jauh.

Yosua dan para pemimpin Israel, tanpa menyadari tipu daya mereka, sehingga percaya kepada orang Gibeon dan membuat perjanjian dengan mereka. Keputusan mereka keliru, sebagaimana dijelaskan dalam teks: tidak meminta petunjuk TUHAN (ayat 14b). Orang Israel sebelumnya telah belajar menaati TUHAN, rahasia penaklukan Yerikho dan kemenangan mereka atas Ai, tetapi mereka gagal mencari bimbingan ilahi dalam hal ini. Kekalahan mereka di Ai bermula dari ketergantungan mereka pada kekuatan sendiri, sementara kali ini, kegagalan mereka bermula dari kebijaksanaan mereka sendiri. TUHAN telah berulang kali memperingatkan orang Israel untuk tidak membuat perjanjian dengan orang Kanaan, melainkan untuk membinasakan penduduk negeri itu sepenuhnya. Dia tidak ingin orang Kanaan menjadi jerat bagi orang Israel, menggoda mereka untuk mengadopsi adat istiadat Kanaan dan menyembah dewa-dewa mereka (lihat Ulangan 7:2-4). Namun, orang Israel diizinkan untuk merundingkan perdamaian dengan kota-kota yang jauh di luar negeri. Lebih lanjut, jika mereka melawan negara-kota yang jauh, jika mereka kalah, mereka hanya boleh membunuh laki-laki di kota itu, tetapi membiarkan perempuan, anak-anak, ternak, dan segala sesuatu di dalamnya hidup (lihat Ulangan 20:10-15). Orang Gibeon memanfaatkan situasi ini dan menyamar sebagai orang-orang yang jauh untuk mencari perdamaian dengan orang Israel.

Yosua dan para pemimpin Israel terjebak dalam dilema karena kecerobohan mereka sendiri. Seharusnya mereka memusnahkan orang Gibeon sepenuhnya, yang tinggal di Kanaan, tetapi mereka tidak dapat mengingkari perjanjian mereka dengan orang-orang itu karena sumpah yang telah mereka ucapkan kepada TUHAN. Satu-satunya solusi yang bijaksana adalah menghormati pengakuan orang Gibeon sebagai hamba (ayat 8, 9, 11, dan 24), menjadikan mereka hamba tetap bagi Allah Israel, yang senantiasa menebang kayu dan menimba air untuk tempat kudus-Nya. Orang Gibeon telah mencari selamat melalui tipu daya, tetapi sebagai imbalannya, mereka menjadi hamba tetap di Bait Suci, yang bertanggung jawab untuk menebang kayu dan menimba air.

Refleksi:
Orang Gibeon seharusnya dihukum kebinasaan, tetapi karena ketundukan dan kepercayaan mereka kepada TUHAN, mereka akhirnya diizinkan untuk melayani secara eksklusif di tempat yang dikuduskan dan menjadi sekelompok orang yang melayani TUHAN. Pintu kasih karunia Allah tidak pernah tertutup. Apa yang mengingatkan Anda tentang hal ini?


Renungan pemahaman Kitab Yosua

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yosua ditulis oleh Rev. Ho Kai-Ming (何啟明) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yosua 8:30-35

「Memperbarui tekad」

Oleh Rev. Dr. Ho Kai-Ming (何啟明)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yosua 8:30-35 [TB2])
30 Setelah itu, Yosua mendirikan mezbah bagi TUHAN, Allah Israel, di Gunung Ebal, 31 seperti yang diperintahkan Musa, hamba TUHAN, kepada orang Israel, sebagaimana tertulis dalam kitab Taurat Musa, Suatu mezbah dari batu yang tidak dipahat, yang tidak dikerjakan dengan perkakas besi. Di atasnya mereka mempersembahkan kurban bakaran kepada TUHAN dan mengadakan kurban keselamatan, 32 Di sanalah di atas batu-batu itu, Yosua menuliskan salinan Taurat Musa, yang ditulisnya di depan orang Israel. 33 Seluruh orang Israel, warga pendatang maupun warga asli, tua-tuanya, para pengatur pasukannya, dan hakim-hakimnya berdiri sebelah-menyebelah tabut, berhadapan dengan para imam dari suku Lewi yang mengusung Tabut Perjanjian TUHAN itu. Setengah dari mereka menghadap Gunung Gerizim dan setengahnya lagi menghadap Gunung Ebal, seperti yang dahulu diperintahkan oleh Musa, hamba TUHAN, untuk memberkati bangsa Israel, 34 Sesudah itu, Yosua membacakan seluruh perkataan hukum, baik berkat maupun kutuk, tepat seperti yang tertulis dalam kitab Taurat itu. 35 Tidak sepatah kata pun dari semua yang diperintahkan Musa, yang tidak dibacakan Yosua di hadapan seluruh jemaah Israel, termasuk kaum perempuan, anak-anak, dan pendatang yang ikut serta.

Setelah kemenangan bangsa Israel atas Yerikho dan Ai, mereka seharusnya melancarkan kampanye melawan koalisi para musuh di selatan dan di utara. Namun, narator menyisipkan kisah pembangunan mezbah dan pembacaan Hukum TUHAN kepada bangsa Israel di tengah rangkaian kisah pertempuran ini. Bagian ini terasa agak mendadak, karena Gunung Ebal dan Gunung Gerizim berjarak sekitar 48 kilometer dari bangsa Israel. Kecil kemungkinan Yosua, setelah mengalahkan Ai, langsung berherak ke utara melalui Kanaan menuju Sikhem, yang terletak di antara Gunung Gerizim dan Gunung Ebal. Mungkin karena alasan inilah, penempatan bagian ini bervariasi dalam berbagai versi bagian. Naskah Qumran menempatkannya di 5:1, Septuaginta menempatkannya setelah 9:2, dan versi Masoret yang kita ikuti menempatkannya setelah kemenangan atas Yerikho dan Ai. Variasi dalam teks-teks salinan ini memungkinkan pembaca untuk memahami bahwa kisah masuknya Israel ke Kanaan umumnya disusun secara kronologis, tetapi terkadang susunannya disesuaikan untuk mencerminkan pesan teologis yang disampaikan. Perikop kecil ini disisipkan di antara pertempuran Yerikho dan Ai serta kampanye melawan koalisi para musuh dikoalisi para musuh di selatan dan utara, membentuk struktur poros, yang menunjukkan bahwa Yosua menaati perintah TUHAN dalam pasal 1 agar menaati dan mematuhi hukum Allah (Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, untuk bertindak dengan saksama sesuai dengan segenap hukum yang diperintahkan Musa, hamba-Ku, kepadamu. Jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau jaya dalam setiap langkahmu. Janganlah engkau lupa menuturkan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak dengan saksama sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan jaya).
Di saat ini Yosua membangun sebuah mezbah bagi TUHAN, mempersembahkan kurban, dan membacakan hukum Allah kepada seluruh jemaat Israel, meneguhkan kembali tekad untuk menaati ketetapan dan hukum TUHAN. Gunung Ebal, yang terletak di tengah-tengah antara Palestina utara dan Bersyeba di selatan, pusat tepat dari Tanah Perjanjian. Berdiri di Gunung Ebal, seseorang dapat melihat hampir seluruh Tanah Perjanjian, dengan pengecualian area kecil di selatan. Sikhem, yang terletak di antara Gunung Ebal dan Gunung Gerizim, adalah tempat pertama di mana Abraham membangun mezbah saat memasuki Kanaan (lihat Kejadian 12:6-8), di mana Yakub juga tinggal dan membangun mezbah (lihat Kejadian 33:18-20), dan kelak di mana Yosua yang tua mengumpulkan orang-orang untuk memperbarui perjanjian mereka dan mengikrarkan kesetiaan mereka kepada TUHAN (Yosua 24:1).
Yosua sesuai perintah TUHAN, membangun sebuah mezbah batu dan mempersembahkan kurban bakaran serta kurban keselamatan kepada TUHAN. Kurban bakaran adalah untuk pendamaian dan simbol pengabdian yang sempurna, sementara kurban keselamatan adalah ucapan syukur dan pemenuhan nazar, yang menandakan persekutuan antara pemberi kurban dan TUHAN. Yosua melakukan apa yang diperintahkan Musa, hamba TUHAN, kepada orang Israel: Suatu mezbah dari batu yang tidak dipahat, yang tidak dikerjakan dengan perkakas besi (ayat 31a). Orang Israel memilih menggunakan batu mentah yang belum dipotong untuk menghindari batu yang mungkin telah digunakan untuk penyembahan berhala oleh orang Kanaan. Yosua kemudian menuliskan salinan Taurat Musa di atas batu itu di hadapan seluruh orang Israel (ayat 32) dan membacakan hukum itu di depan umum. Semua tindakan ini dilakukan sesuai dengan perintah TUHAN kepada Musa (lihat ayat 33, 34, dan 35). Ketaatan mendatangkan berkat, sementara ketidaktaatan mendatangkan kutuk.
Ketika Yosua membacakan hukum Taurat, jemaat yang hadir termasuk para tua-tua, para pengatur pasukannya, dan hakim-hakim Israel (ayat 33b), serta perempuan dan anak-anak yang sering terabaikan (ayat 35a). Lebih lanjut, jemaat juga mencakup para perantau dan orang asing yang sering terpinggirkan (ayat 33a dan 35b). Para warga asing ini, telah meninggalkan tanah air mereka untuk tinggal di tengah-tengah Israel, sekarang adalah orang Israel yang dinaturalisasi dan percaya kepada TUHAN. Mereka juga dapat menerima berkat TUHAN. Ternyata garis keturunan atau etnis bukanlah kriteria untuk mendefinisikan umat TUHAN, tetapi yang terpenting adalah apakah mereka menaati hukum dan perintah Allah, serta hanya menyembah TUHAN secara eksklusif.

Refleksi:
Mempersembahkan kurban dan membaca hukum Taurat bukanlah buang-buang waktu; sebaliknya, keduanya merupakan langkah penting dalam menaklukkan tanah Kanaan. Dalam gaya hidup rohani yang mengutamakan ritual di atas ibadah dan pelayanan, di atas hubungan yang benar dengan Allah, marilah kita semua berhenti sejenak, memeriksa kehidupan rohani pribadi kita, dan memperbarui tekad kita untuk menaati semua ketetapan dan hukum yang diperintahkan TUHAN.


Renungan pemahaman Kitab Yosua

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yosua ditulis oleh Rev. Ho Kai-Ming (何啟明) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yosua 8:1-2, 14-23

「Menyerang kota Ai」

Oleh Rev. Dr. Ho Kai-Ming (何啟明)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yosua 8:1-2, 14-23 [TB2])
1 Kemudian TUHAN berfirman kepada Yosua, Jangan takut dan jangan kecut hatimu. Bawalah seluruh tentara bersamamu dan majulah menyerang Kota Ai. Ketahuilah, Aku sudah menyerahkan ke dalam tanganmu raja dan rakyatnya, kota dan negerinya. 2 Engkau harus lakukan terhadap Ai dan rajanya seperti yang kaulakukan terhadap Yerikho dan rajanya. Hanya, barang dan ternaknya boleh kamu jarah. Tempatkanlah bagimu orang untuk mengadang kota itu dari belakang. 3 Lalu Yosua dan seluruh tentara maju menyerang Ai. Yosua memilih tiga puluh ribu pejuang gagah perkasa, dan menyuruh mereka berangkat pada waktu malam. 4 Kepada mereka ia memberi perintah, Perhatikan! Kamu yang mengadang Ai dari belakang kota itu, janganlah terlalu jauh dari kota itu! Siap siagalah kamu semua! 5 Aku dan semua orang yang bersamaku akan mendekati kota itu. Ketika mereka keluar menyerbu kami seperti sebelumnya, kami akan melarikan diri dari hadapan mereka. 6 Mereka akan keluar mengejar kami sampai kami memancing mereka menjauhi kota itu, sebab mereka akan menyangka: Orang-orang itu melarikan diri dari hadapan kita seperti sebelumnya. Ketika kami melarikan diri dari hadapan mereka, 7 kamu harus keluar dari persembunyianmu dan merebut kota itu. TUHAN, Allahmu, telah menyerahkan kota itu ke dalam tanganmu. 8 Segera setelah kamu merebut kota itu, haruslah kamu membakarnya. Kamu harus melakukannya sesuai dengan firman TUHAN, Perhatikanlah perintahku kepadamu. 9 Demikianlah Yosua menyuruh mereka bergerak, lalu mereka pergi ke tempat persembunyian dan mengambil tempat di antara Betel dan Ai, di sebelah barat kota itu, sementara Yosua bermalam di antara prajuritnya pada malam itu. 10 Keesokan harinya pagi-pagi benar Yosua memeriksa barisan prajuritnya itu. Bersama tua-tua Israel ia berjalan di depan prajurit itu dan maju menuju Ai. 11 Seluruh prajurit yang bersama dia bergerak maju mendekati kota itu sampai di seberangnya. Mereka mendirikan kemah di sebelah utara Ai, dan ada lembah di antara mereka dan Ai. 12 Yosua memilih kira-kira lima ribu orang dan menyuruh mereka bersembunyi di antara Betel dan Ai, di sebelah barat kota itu. 13 Demikianlah seluruh tentara itu diatur, baik pasukan yang di sebelah utara kota maupun barisan belakang di sebelah barat kota itu. Lalu pada malam itu Yosua pergi ke lembah. 14 Pagi-pagi, ketika raja negeri Ai melihat hal itu, ia dan seluruh tentaranya, orang-orang kota itu, segera keluar untuk memerangi orang Israel, ke titik pertemuan yang menghadap ke dataran. Tetapi, ia tidak tahu ada yang mengadangnya di belakang kota. 15 Yosua dan seluruh orang Israel berpura-pura dikalahkan oleh mereka, lalu melarikan diri ke arah padang gurun. 16 Seluruh penduduk kota itu dikerahkan untuk mengejar orang Israel. Mereka mengejar Yosua, sehingga mereka terpancing makin jauh dari kota. 17 Tak seorang pun tertinggal di Ai dan di Betel yang tidak keluar memburu pasukan Israel. Mereka meninggalkan kota itu terbuka begitu saja karena mengejar orang Israel. 18 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Yosua, Acungkanlah lembing yang ada di tanganmu ke arah Ai, sebab Aku menyerahkan kota itu ke dalam tanganmu. Kemudian Yosua mengacungkan lembing yang di tangannya ke arah kota itu. 19 Ketika tangannya diangkat, orang-orang yang bersembunyi itu cepat-cepat keluar dari tempat persembunyiannya, lalu berlari memasuki kota itu. Mereka merebutnya dan segera membumihanguskan kota itu. 20 Ketika orang Ai menoleh ke belakang, mereka melihat asap membubung ke langit dari kota itu. Mereka tak dapat lagi melarikan diri ke mana pun. Pasukan yang tadinya melarikan diri ke padang gurun berbalik melawan pengejar-pengejarnya. 21 Ketika Yosua dan seluruh Israel melihat bahwa orang-orang yang tadinya bersembunyi telah merebut kota itu dan asap membubung dari kota itu, mereka berbalik dan menewaskan orang Ai. 22 Sementara itu, orang Israel lainnya keluar juga dari kota itu untuk menyerbu orang Ai, sehingga mereka terkepung di antara orang Israel dari dua arah. Orang Israel menewaskan mereka, hingga tidak seorang pun dibiarkan selamat atau luput. 23 Tetapi, raja Ai ditangkap mereka hidup-hidup dan dihadapkan kepada Yosua. 24 Sesudah orang Israel membunuh habis seluruh penduduk Kota Ai di padang gurun terbuka ke mana orang-orang itu tadinya mengejar mereka dan semuanya ditewaskan dengan mata pedang sampai tuntas, maka seluruh Israel kembali ke Ai. Mereka mengalahkan kota itu dengan mata pedang. 25 Semua orang yang tewas pada hari itu, baik laki-laki maupun perempuan sebanyak dua belas ribu orang, jumlah seluruh orang Ai. 26 Yosua tidak menarik kembali tangannya yang mengacungkan lembing itu, sebelum seluruh penduduk Kota Ai ditumpasnya. 27 Hanya ternak dan barang-barang di kota itu dijarah oleh orang Israel, sesuai dengan perintah TUHAN yang difirmankan-Nya kepada Yosua. 28 Yosua membakar Ai dan membuatnya menjadi timbunan puing selama-lamanya, menjadi tempat yang terlantar sepi sampai hari ini. 29 Raja Ai digantungnya pada sebuah tiang sampai petang. Ketika matahari terbenam, Yosua memerintahkan orang menurunkan mayatnya dari tiang dan melemparkannya ke depan pintu gerbang kota. Kemudian orang mendirikan timbunan batu besar di atasnya, yang masih ada sampai hari ini.

Penyerbuan ke kota Ai terjadi setelah Allah memerintahkan Yosua untuk membersihkan Israel dari dosa. Kali ini, Israel berhasil meraih kemenangan lagi karena Yosua dan bangsa Israel menaati perintah TUHAN. Sebelum kita memahami detail pertempuran ini, ada beberapa hal yang perlu kita bahas terlebih dahulu.
Pertama, narasi dapat dibagi menjadi tiga tahap, masing-masing tahap mengulangi secara singkat tahap sebelumnya dan menambahkan detail yang tidak disebutkan pada tahap sebelumnya. Teknik sastra ini tidak hanya memungkinkan pembaca untuk memahami secara bertahap keseluruhan perkembangan peristiwa, tetapi juga memungkinkan pembaca untuk melihat urutan penyaluran kuasa dari perintah Allah kepada Yosua dan kemudian dari Yosua kepada bangsa Israel. Allah pertama-tama memberikan rencana pengepungan kepada Yosua (ayat 1-2), dan kemudian Yosua mengerahkan pasukannya sesuai dengan rencana Allah (ayat 3-8). Akhirnya, pelaksanaan dan hasil pertempuran yang sebenarnya dijelaskan secara rinci (ayat 9-29).
Kedua, berapa banyak pasukan penyergap yang ditempatkan Yosua di antara Ai dan Betel? Sebelumnya dikatakan, Yosua memilih tiga puluh ribu pejuang gagah perkasa, dan menyuruh mereka berangkat pada waktu malam. Kepada mereka ia memberi perintah, Perhatikan! Kamu yang mengadang Ai dari belakang kota itu, janganlah terlalu jauh dari kota itu! Siap siagalah kamu semua!(ayat 3b-4). Kemudian, di ayat 12, dikatakan, Yosua memilih kira-kira lima ribu orang dan menyuruh mereka bersembunyi di antara Betel dan Ai, di sebelah barat kota itu. Jadi, apakah pasukan penyergap itu tiga puluh ribu atau lima ribu? Para ahli berpendapat bahwa jumlah pasukan penyergap hanya lima ribu. Alur pemikirannya adalah bahwa penyergap lima ribu orang yang bersembunyi di antara Betel dan Ai (ayat 9 dan 12) akan lebih mudah menghindari pandangan musuh. Akibatnya, ketika 25.000 prajurit Israel sedang memancing musuh, orang-orang kota Betel yang terletak di sebelah barat laut Ai ikut termakan siasat dan mengikuti tindakan pasukan Ai keluar kota untuk menyerang orang Israel (ayat 17).
Terakhir, apa peran Betel dalam pertempuran ini? Para ahli umumnya sepakat bahwa Ai adalah kota yang lebih kecil, sebuah pos terdepan Betel. Ketika orang Israel menyerang Ai, Betel merasa terancam dan bergabung dengan pasukan orang Ai dalam penyerangan tersebut. Kemudian, dalam ringkasan Yosua tentang pertempuran tersebut, ia menyebutkan raja-raja Ai dan Betel (lihat 12:9, 16). Oleh karena itu, secara teknis pertempuran itu adalah pertempuran melawan Ai dan Betel. Namun, narasi tersebut berfokus pada akibat kekalahan di Ai yang disebabkan oleh dosa Akhan, sehingga penekanan diletakkan pada Ai, fokus pada Betel menjadi minimal.
Yosua berperan aktif dan proaktif dalam serangan ke Ai ini. Dari perencanaan hingga eksekusi, dan akhirnya pembakaran kota dan pembuangan mayat-mayat, ia mengikuti dan menaati perintah TUHAN (lihat ayat 18-29). TUHAN memberikan instruksi langsung kepada Yosua, pertama-tama memberitahukan kepada dia agar tidak takut atau gentar, dan kemudian memerintahkannya untuk memimpin pasukan dan bergerak menuju Ai. Orang Israel sebelumnya telah melarikan diri dari penduduk Ai (7:8), tetapi sekarang, dalam keadaan yang berbalik, mereka balik dan menyerang para pengejar Ai (8:20).
Ketaatan Yosua dan orang Israel sangat kontras dengan insiden Akhan. Kali ini, perintah TUHAN identik dengan perintah yang berkaitan dengan Yerikho, hanya dengan satu perbedaan: orang Israel diizinkan mengambil semua ternak dan harta benda, kecuali kota Ai dan penduduknya. Ironisnya, seandainya Akhan menaati perintah TUHAN, ia bisa saja merebut rampasan sebanyak orang Israel dalam pertempuran-pertempuran berikutnya. Namun, kurangnya imannya, keserakahannya akan harta rampasan yang instan, dan ketidaktaatannya yang disengaja terhadap perintah TUHAN yang jelas mengakibatkan kerugian yang lebih besar daripada keuntungannya, yang membawa malapetaka bagi keluarganya dan seluruh komunitas Israel.

Refleksi:
Ketidaksabaran Akhan justru mendatangkan lebih banyak kerugian daripada kebaikan, sementara bangsa Israel menaati perintah Allah dan bukan saja berhasil merebut Ai, tetapi juga mendapatkan harta kemenangan perang. Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kejadian ini?


Renungan pemahaman Kitab Yosua

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yosua ditulis oleh Rev. Ho Kai-Ming (何啟明) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yosua 7:1-5

「Insiden Akhan」

Oleh Rev. Dr. Ho Kai-Ming (何啟明)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yosua 7:1-5 [TB2])
1 Orang Israel berlaku tidak setia mengenai barang-barang yang dikhususkan untuk dimusnahkan itu. Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu. Murka TUHAN pun menyala-nyala terhadap orang Israel. 2 Yosua mengutus orang dari Yerikho ke Kota Ai, yang terletak dekat Bet-Awen, di sebelah timur Betel, dengan perintah, Pergilah mengintai negeri itu. Lalu orang-orang itu pergi mengintai Kota Ai. 3 Kemudian mereka kembali kepada Yosua dan berkata kepadanya, Tidak perlu seluruh bangsa itu pergi, cukuplah dua atau tiga ribu orang pergi menggempur kota itu. Jangan melelahkan seluruh bangsa itu ke sana, sebab orang-orang di sana hanya sedikit saja. 4 Lalu berangkatlah kira-kira tiga ribu orang dari bangsa itu ke sana. Tetapi, mereka melarikan diri dari orang Ai. 5 Orang Ai menewaskan kira-kira tiga puluh enam orang dari mereka. Orang-orang Israel itu dikejar dari depan gerbang kota sampai ke Syebarim dan dipukul kalah di lereng. Lalu kecut dan ciutlah hati bangsa itu. 6 Yosua pun mengoyak pakaiannya dan sujud dengan mukanya sampai ke tanah di depan tabut TUHAN hingga petang, bersama tua-tua Israel. Mereka menabur debu di kepala mereka. 7 Yosua berkata, Ah, Tuhan ALLAH, mengapa Engkau menyuruh bangsa kami ini menyeberangi Sungai Yordan untuk diserahkan kepada orang Amori dan dibinasakan? Lebih baik dulu kami putuskan untuk tetap tinggal di seberang Sungai Yordan! 8 Tuhan, apakah yang akan kukatakan setelah orang Israel berbalik lari dari hadapan musuhnya? 9 Orang Kanaan dan seluruh penduduk negeri ini akan mendengar hal itu. Mereka akan mengepung kami, melenyapkan nama kami dari muka bumi. Apa yang akan Kaulakukan demi nama-Mu yang besar itu? 10 Lalu TUHAN berfirman kepada Yosua, Bangunlah! Mengapa engkau sujud seperti itu? 11 Orang Israel telah berbuat dosa. Mereka melanggar perjanjian-Ku yang Kuperintahkan kepada mereka. Mereka mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan untuk dimusnahkan itu. Mereka mencurinya dan dengan tipu daya menaruhnya di antara barang-barang mereka. 12 Oleh sebab itu, orang Israel tidak mampu menghadapi musuh mereka. Mereka berbalik lari dari hadapan musuh mereka karena mereka sendiri telah dikhususkan untuk dimusnahkan. Aku tidak akan lagi menyertai kamu, kecuali segala yang dikhususkan untuk dimusnahkan itu kamu lenyapkan dari antara kamu. 13 Pergilah, kuduskan bangsa itu dan katakan: Kuduskanlah dirimu untuk esok hari, sebab demikianlah firman TUHAN, Allah Israel: Hai orang Israel, ada yang dikhususkan untuk dimusnahkan di antaramu. Kamu tidak akan mampu menghadapi musuhmu sebelum kamu menyingkirkan barang-barang yang dikhususkan itu dari antaramu. 14 Besok pagi kamu suku demi suku harus maju ke depan dan suku yang ditunjuk oleh TUHAN harus maju ke depan kaum demi kaum. Kaum yang ditunjuk oleh TUHAN harus maju ke depan keluarga demi keluarga dan keluarga yang ditunjuk oleh TUHAN harus maju ke depan seorang demi seorang. 15 Siapa pun yang didapati menyimpan barang-barang yang dikhususkan itu harus dibakar dengan api, bersama dengan segala miliknya, sebab ia telah melanggar perjanjian TUHAN dan melakukan kekejian di antara orang Israel. 16 Keesokan harinya Yosua pagi-pagi benar menyuruh orang Israel maju ke depan suku demi suku, lalu kedapatanlah suku Yehuda. 17 Ketika kaum-kaum Yehuda disuruhnya maju ke depan, kedapatanlah kaum Zerah. Ketika kaum Zerah disuruhnya maju ke depan satu demi satu, kedapatanlah keluarga Zabdi. 18 Ketika disuruhnya keluarga orang itu maju ke depan seorang demi seorang, kedapatanlah Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda. 19 Lalu Yosua berkata kepada Akhan, Anakku, muliakanlah TUHAN, Allah Israel, dan mengakulah di hadapan-Nya. Katakanlah kepadaku apa yang telah kaulakukan, jangan sembunyikan apa pun dariku. 20 Lalu Akhan menjawab Yosua, Benar, akulah yang berbuat dosa terhadap TUHAN, Allah Israel. Seperti inilah yang kuperbuat: 21 Aku melihat jubah yang indah buatan Sinear di antara jarahan itu dan dua ratus syikal perak serta sebatang emas seberat lima puluh syikal. Aku mengingininya, lalu mengambilnya. Semuanya itu disembunyikan dalam tanah di kemahku, dan perak itu di bagian bawah. 22 Lalu Yosua menyuruh orang lari ke kemah itu, dan benarlah, semuanya itu disembunyikan dalam kemahnya, dan perak itu ada di bagian bawah. 23 Mereka mengambil semuanya dari dalam kemah, dan membawanya kepada Yosua serta kepada semua orang Israel, lalu menghamparkannya di hadapan TUHAN. 24 Kemudian Yosua bersama semua orang Israel mengambil Akhan bin Zerah, serta perak, jubah dan sebatang emas itu, anak-anaknya laki-laki dan perempuan, lembu, keledai dan kambing dombanya, kemah, dan segala miliknya. Ia membawa semuanya itu ke Lembah Akhor. 25 Berkatalah Yosua, Engkaulah yang sudah mencelakakan kami! Karena itu, TUHAN mencelakakan engkau hari ini. Lalu seluruh Israel melontari dia dengan batu. Semuanya dibakar dengan api dan dilempari dengan batu. 26 Sesudah itu, mereka mendirikan di atasnya timbunan batu yang besar, yang masih ada sampai hari ini. Lalu surutlah murka TUHAN yang menyala-nyala itu. Oleh sebab itu, sampai hari ini tempat itu disebut Lembah Akhor.

Bangsa Israel memenangkan Pertempuran Yerikho tanpa kehilangan seorang pun prajurit. Namun, dalam Pertempuran Ai, mereka menderita banyak korban dan terpaksa melarikan diri dengan panik. Apa alasannya? Narator langsung memberi tahu kita bahwa bangsa Israel berlaku tidak setia mengenai barang-barang yang dikhususkan untuk dimusnahkan itu (ayat 1a). Pasal 7 dan 8 membahas Pertempuran Ai. Alasan kekalahan Israel adalah karena Akhan mengambil jubah indah buatan Sinear, perak, dan emas yang relatif kecil, mudah dibawa, dan mudah disimpan dari rampasan yang ia curi dari Yerikho (ayat 21). Namun, Yosua telah sejak awal memberi tahu mereka bahwa penduduk dan harta benda Yerikho dikhususkan untuk dimusnahkan, adalah menjadi milik TUHAN. Siapa pun yang mengambilnya secara diam-diam berarti melanggar perjanjian TUHAN, dan itu merupakan tindakan kekejian (lihat ayat 15). Akhan mengambil harta benda dikhususkan untuk dimusnahkan, ia pun menjadi bagian dari dikhususkan untuk dimusnahkan itu sendiri.
Teks ayat 1 dua kali menyatakan bahwa Orang Israel berlaku tidak setia mengenai barang-barang yang dikhususkan untuk dimusnahkan itu. Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu. Murka TUHAN pun menyala-nyala terhadap orang Israel. Akhan satu orang yang melanggar perjanjian TUHAN, dan seluruh Israel harus ikut bertanggung jawab. Dosa satu orang juga membawa konsekuensi tanggung jawab komunitas; individu dan komunitas saling terkait erat. Dosa itu menular, seperti yang dikatakan Rasul Paulus, Sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan (Gal. 5:9). Karena itu, TUHAN meminta pertanggungjawaban orang Israel. Ketika Allah memerintahkan Yosua untuk mencari siapa pelaku kejahatan, Dia menggunakan bentuk jamak mereka, kamu sekalian untuk menjelaskan: Orang Israel telah berbuat dosa (ayat 11a), Aku tidak akan lagi menyertai kamu sekalian, kecuali segala yang dikhususkan untuk dimusnahkan itu kamu lenyapkan dari antara kamu sekalian (ayat 12b), dan Kamu sekalian tidak akan mampu menghadapi musuhmu sebelum kamu sekalian menyingkirkan barang-barang yang dikhususkan itu dari antaramu. (ayat 13b).
Awalnya, Yosua tidak mengerti alasan kekalahan di Ai. Karena itu, ia mengeluh kepada Allah dengan tiga pertanyaan mengapa. Pertanyaan pertama adalah keluhan tentang mengapa Allah memimpin mereka ke Kanaan, hanya untuk menyerahkan mereka kepada orang Amori (ayat 7). Jika demikian halnya, lebih baik kami tetap tinggal di sebelah timur Sungai Yordan. Keluhan ini menggemakan keluhan bangsa Israel dahulu di padang gurun mereka ingin kembali ke Mesir (lihat Bilangan 14:2-4). Pertanyaan kedua adalah kebingungan tentang mengapa bangsa Israel sampai melarikan diri dari hadapan musuh-musuh mereka (ayat 8). Yosua mengungkapkan ketidakpahamannya, sampai tidak bisa berkata-kata. Pertanyaan ketiga adalah kekhawatiran atas aib yang menimpa nama Allah dan serangan musuh-musuh mereka terhadap bangsa Israel (ayat 9). Ketiga pertanyaan ini menunjukkan bahwa Yosua mengabaikan akar permasalahan: penjarahan harta rampasan oleh bangsa Israel. Akibatnya, protesnya tidak mengandung unsur pengakuan dosa. Sebenarnya, Yosua sebelumnya telah memerintahkan orang Israel untuk tidak mengambil barang yang dikhususkan untuk dimusnahkan itu (6:8), maka sepatutnya ia menyadari bahwa kegagalan ini ada hubungannya karena di antara mereka ada orang yang berbuat dosa melakukan pelanggaran.
TUHAN dengan sabar menginstruksikan Yosua tentang apa yang harus dilakukan, memerintahkannya untuk menangkap pelaku dari antara suku, klan, keluarga, dan laki-laki Israel. Di ayat 14, kata ditunjuk (lkd) atau mengambil sering diterjemahkan sebagai merebut atau ditangkap (lih. 6:20; 8:19, 21), yang sering digunakan untuk merujuk pada hewan yang terperangkap dalam perangkap atau tentang direbut musuh dalam pertempuran. Pilihan kata ini oleh narator tampaknya menunjukkan bahwa pelaku telah direbut dan ditangkap oleh TUHAN. Seluruh Israel berpartisipasi dalam proses ini dan menyaksikan langsung bagaimana TUHAN merebut dan menangkap pelaku, yang bersembunyi di antara mereka. Akhan, yang dihadapkan kepada TUHAN, mau tidak mau mengakui dan menyerahkan barang-barang curian tersebut. Akibatnya, Akhan, seisi rumahnya, dan semua ternaknya dirajam dengan batu sampai mati, dan harta benda mereka dibakar (ayat 24-25). Kemudian surutlah murka TUHAN yang menyala-nyala itu (ayat 26b), yang menunjukkan penyelesaian yang sepatutnya atas masalah tersebut.
Dalam konteks ini, kita mungkin bertanya-tanya apakah Allah itu berlebihan. Bukankah Allah berfirman, Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri (Ulangan 24:16)? Kasus Akhan melibatkan pelanggaran perjanjian dengan TUHAN, sebuah pelanggaran perjanjian kudus yang mendatangkan hukuman. Ketika Akhan menyembunyikan hal-hal yang dikhususkan untuk dibinasakan, anak-anaknya yang sudah dewasa kemungkinan besar mengetahuinya dan merahasiakannya, sehingga mereka pun menjadi kaki tangan-Nya. Karena itu, mereka juga dihakimi dan menanggung kebinasaan.

Refleksi:
Rahab di akhir pasal 6 dan Akhan di pasal 7 membentuk kontras yang mencolok. Rahab adalah seorang perempuan Kanaan, sementara Akhan adalah seorang laki-laki Israel; Rahab menyembunyikan dua mata-mata, sementara Akhan menyembunyikan hal-hal yang ditakdirkan untuk dihancurkan; Rahab dan keluarganya diselamatkan, sementara Akhan dan keluarganya menderita kehancuran fana. Apa yang mengingatkan Anda pada kontras antara iman dan ketaatan serta keserakahan dan ketidaktaatan ini?


Renungan pemahaman Kitab Yosua

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yosua ditulis oleh Rev. Ho Kai-Ming (何啟明) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yosua 6:17-25

「Penghakiman dan Penebusan」

Oleh Rev. Dr. Ho Kai-Ming (何啟明)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yosua 6:17-25 [TB2])
17 Kota itu dengan segala isinya harus dikhususkan bagi TUHAN untuk dimusnahkan. Hanya Rahab, pelacur itu, yang akan tetap hidup serta semua orang yang bersama dia dalam rumahnya, karena ia telah menyembunyikan orang-orang yang kita utus. 18 Tetapi, kamu, jagalah dirimu terhadap barang-barang yang dikhususkan untuk dimusnahkan. Setelah mengkhususkannya untuk dimusnahkan, jangan sampai kamu mengingini dan mengambil sesuatu dari barang-barang itu, agar jangan perkemahan orang Israel yang justru dimusnahkan dan mengalami malapetaka. 19 Segala emas dan perak serta barang-barang tembaga dan besi adalah kudus bagi TUHAN dan masuk dalam perbendaharaan TUHAN. 20 Lalu bangsa itu bersorak sementara sangkakala ditiup. Ketika bangsa itu mendengar bunyi sangkakala dan bersorak-sorai dengan nyaring, robohlah tembok itu. Bangsa itu menaikinya, masing-masing di bagian yang terdekat, masuk kota dan merebut kota itu. 21 Mereka menumpas dengan mata pedang semua yang ada dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik orang tua maupun orang muda, juga lembu, domba dan keledai. 22 Yosua memerintahkan kedua orang yang telah mengintai negeri itu, Masuklah ke rumah pelacur itu dan bawalah dia ke luar dari sana dengan semua yang bersama dia, seperti yang telah kamu janjikan kepadanya dengan sumpah. 23 Lalu masuklah kedua pengintai yang masih muda itu dan membawa Rahab ke luar bersama ayah, ibu, dan saudara-saudaranya serta semua yang bersama dia, bahkan seluruh kaum keluarganya. Kedua pengintai itu mengungsikan mereka di luar perkemahan orang Israel. 24 Namun, kota itu dan segala sesuatu yang ada di dalamnya mereka bumihanguskan; hanya perak dan emas, barang-barang tembaga dan besi mereka serahkan ke dalam perbendaharaan Rumah TUHAN. 25 Demikianlah Rahab, pelacur itu dan keluarganya serta semua yang bersama dia dibiarkan hidup oleh Yosua. Perempuan itu tinggal di Israel sampai hari ini, karena ia telah menyembunyikan orang-orang yang diutus Yosua untuk mengintai Yerikho. 26 Pada waktu itu, Yosua bersumpah, katanya, Terkutuklah di hadapan TUHAN orang yang berupaya membangun kembali Kota Yerikho ini: Dengan nyawa anak sulungnya ia akan meletakkan dasar kota itu dan dengan nyawa anak bungsunya ia akan memasang pintu gerbangnya! 27 TUHAN menyertai Yosua dan terdengarlah kabar tentang dia di seluruh negeri itu.

Hal yang mencengangkan dari peristiwa Yerikho bukan hanya cara kejatuhannya, tetapi juga kehancuran total seluruh penduduknya — pria, wanita, muda, tua, dan seluruh ternaknya — tanpa satu pun yang selamat (ayat 21). Tetapi, emas, perak, dan bejana-bejana perunggu dan besi yang tidak dapat dibakar harus dibawa ke perbendaharaan sebagai persembahan bagi TUHAN (ayat 19, 24). TUHAN telah memerintahkan orang Israel mengenai penaklukan Yerikho: Kota itu dengan segala isinya harus dikhususkan bagi TUHAN untuk dimusnahkan (ayat 17a). Istilah segala isinya harus dikhususkan untuk dimusnahkan (ḥērem) harus dipahami dari dua makna dasar: pertama, penghancuran total benda-benda ini; kedua, milik TUHAN, harus dipersembahkan kepada-Nya untuk dikuduskan dan tidak dapat digunakan untuk tujuan umum/dunia. Makna ini dapat dipahami dalam dua konteks. Pertama, konteks persembahan kurban, memiliki kaitan dengan konsep kekudusan. Segala sesuatu yang menjadi milik TUHAN tidak dapat dijual, ditebus, atau diambil menjadi milik diri sendiri; itu milik TUHAN (lihat Im. 27:28). Kedua adalah konteks perang: musuh yang kalah dan semua yang mereka miliki harus dihancurkan sepenuhnya dan tidak boleh diklaim sebagai milik diri sendiri, harus sepenuhnya menjadi milik TUHAN. Siapa pun yang merampas barang dikhususkan bagi TUHAN untuk dimusnahkan akan menjadi dikhususkan bagi TUHAN untuk dimusnahkan, menjadi seperti barang-barang itu (lihat Ulangan 7:1-6; 13:12-18). Yerikho adalah pertempuran pertama yang diperjuangkan oleh orang Israel setelah memasuki Kanaan, dan itu juga kota pertama yang direbut. Kota pertama yang direbut ini adalah rampasan perang TUHAN, buahnya seperti anak sulung manusia dan ternak, atau seperti buah sulung buah — semua sepenuhnya milik TUHAN dan tidak dapat diklaim oleh siapa pun (lihat Keluaran 13:2, 12-13; Ulangan 26:1-10).
Apakah terlalu berdarah-darah dan kejam bagi orang Israel untuk menerima perintah untuk memusnahkan kota Yerikho dan penduduknya? Sebenarnya, Allah telah membuat perjanjian dengan Abraham, memberinya tanah Kanaan (lihat Kejadian 15:7-21). Setidaknya enam ratus tahun berlalu antara perjanjian Allah dengan Abraham dan penaklukan Yerikho oleh Yosua. Kesabaran Allah terhadap dosa-dosa orang Kanaan berupa pengorbanan bayi (Imamat 18:21), membakar anak-anak mereka, praktik tenung, pemakaian mantra, memanggil roh, dan mempraktikkan ilmu sihir, telah mencapai batasnya (lihat Ulangan 18:9-12). Mereka pada akhirnya harus menanggung penghakiman atas praktik-praktik jahat yang keji ini. Ketika Allah menghakimi orang Kanaan, Dia juga menjelaskan kepada orang Israel bahwa kedaulatan atas seluruh tanah Kanaan berada di tangan-Nya. Namun, perintah untuk pemusnahan total ini dilakukan dalam waktu dan tempat tertentu, dalam lingkup tertentu, dan untuk alasan tertentu. Oleh karena itu, orang Israel tidak dapat membesar-besarkan hal ini dan menggunakannya sebagai pembenaran untuk membunuh tanpa pandang bulu.
Penghakiman atas Yerikho sungguh mengerikan. Namun, sisi lain dari penghakiman ini adalah keselamatan dari Allah. Ayat 17 mengatakan, Hanya Rahab, pelacur itu, yang akan tetap hidup serta semua orang yang bersama dia dalam rumahnya, karena ia telah menyembunyikan orang-orang yang kita utus. Karena iman Rahab kepada Allah, ia menyembunyikan dua mata-mata yang diutus Yosua untuk memata-matai Yerikho, dan ia beserta keluarganya terhindar dari penghakiman (lihat pasal 2). Ketika Yerikho jatuh, rumah Rahab terletak di tembok kota, dan dari jendelanya menyatu dengan tembok kota, seutas tali merah tua terlihat jelas tergantung, simbol keselamatan mereka dari penghakiman Allah yang penuh murka. Rahab dan keluarganya pertama-tama diselamatkan dan terlebih dahulu diungsikan di luar perkemahan orang Israel (ayat 23), dan akhirnya tinggal di antara orang Israel, menjadi bagian dari bangsa mereka (ayat 25).

Refleksi:
Penghakiman dan penebusan bagaikan dua sisi dari satu koin. Penghakiman Yerikho dan keselamatan Rahab beserta keluarganya sepenuhnya bergantung pada bagaimana mereka menanggapi perintah Allah. Mereka yang berkeras tidak taat, memberontak, berbuat dosa, dan melakukan kejahatan akan dihakimi, sementara mereka yang taat untuk menerima akan diselamatkan. Apa yang diajarkan hal ini kepada Anda?


Renungan pemahaman Kitab Yosua

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yosua ditulis oleh Rev. Ho Kai-Ming (何啟明) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yosua 6:6-16

「Penaklukan Yerikho」

Oleh Rev. Dr. Ho Kai-Ming (何啟明)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yosua 6:6-16 [TB2])
6 Kemudian Yosua bin Nun memanggil imam-imam dan berkata kepada mereka, Angkatlah Tabut Perjanjian itu! Tujuh imam harus membawa tujuh sangkakala dari tanduk domba di depan tabut TUHAN. 7 Ia berkata kepada bangsa itu, Majulah, kelilingi kota itu, dan prajurit bersenjata harus berjalan di depan tabut TUHAN. 8 Segera sesudah Yosua berkata kepada bangsa itu, berjalanlah maju ketujuh orang imam, yang membawa tujuh sangkakala dari tanduk domba itu di hadapan TUHAN. Mereka meniup sangkakala, sementara Tabut Perjanjian TUHAN mengikuti mereka. 9 Prajurit bersenjata berjalan di depan para imam yang meniup sangkakala dan barisan penutup mengikuti tabut, sementara sangkakala ditiup terus-menerus. 10 Yosua memberi perintah kepada bangsa itu, Jangan bersorak dan jangan perdengarkan suaramu, sepatah kata pun jangan keluar dari mulutmu, sampai pada hari aku perintahkan padamu: Bersoraklah, barulah kamu bersorak! 11 Demikianlah tabut TUHAN mengelilingi kota itu, mengitarinya satu kali. Kemudian mereka kembali ke perkemahan dan bermalam di perkemahan itu. 12 Keesokan harinya Yosua bangun pagi-pagi, lalu imam-imam mengangkat tabut TUHAN. 13 Ketujuh imam yang membawa ketujuh sangkakala dari tanduk domba itu berjalan di depan tabut TUHAN sambil meniup sangkakala terus-menerus. Prajurit bersenjata berjalan di depan mereka dan barisan penutup berjalan di belakang tabut TUHAN, sementara sangkakala-sangkakala ditiup terus-menerus. 14 Pada hari kedua mereka mengelilingi kota itu satu kali, lalu kembali ke perkemahan. Begitulah mereka lakukan selama enam hari. 15 Pada hari ketujuh pagi-pagi benar, ketika fajar menyingsing, mereka mengelilingi kota itu tujuh kali dengan cara yang sama. Hanya pada hari itu mereka mengelilingi kota itu tujuh kali. 16 Lalu pada kali yang ketujuh, ketika para imam meniup sangkakala, Yosua memerintahkan bangsa itu, Bersoraklah, sebab TUHAN telah menyerahkan kota itu kepadamu! 17 Kota itu dengan segala isinya harus dikhususkan bagi TUHAN untuk dimusnahkan. Hanya Rahab, pelacur itu, yang akan tetap hidup serta semua orang yang bersama dia dalam rumahnya, karena ia telah menyembunyikan orang-orang yang kita utus. 18 Tetapi, kamu, jagalah dirimu terhadap barang-barang yang dikhususkan untuk dimusnahkan. Setelah mengkhususkannya untuk dimusnahkan, jangan sampai kamu mengingini dan mengambil sesuatu dari barang-barang itu, agar jangan perkemahan orang Israel yang justru dimusnahkan dan mengalami malapetaka. 19 Segala emas dan perak serta barang-barang tembaga dan besi adalah kudus bagi TUHAN dan masuk dalam perbendaharaan TUHAN. 20 Lalu bangsa itu bersorak sementara sangkakala ditiup. Ketika bangsa itu mendengar bunyi sangkakala dan bersorak-sorai dengan nyaring, robohlah tembok itu. Bangsa itu menaikinya, masing-masing di bagian yang terdekat, masuk kota dan merebut kota itu. 21 Mereka menumpas dengan mata pedang semua yang ada dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik orang tua maupun orang muda, juga lembu, domba dan keledai. 22 Yosua memerintahkan kedua orang yang telah mengintai negeri itu, Masuklah ke rumah pelacur itu dan bawalah dia ke luar dari sana dengan semua yang bersama dia, seperti yang telah kamu janjikan kepadanya dengan sumpah. 23 Lalu masuklah kedua pengintai yang masih muda itu dan membawa Rahab ke luar bersama ayah, ibu, dan saudara-saudaranya serta semua yang bersama dia, bahkan seluruh kaum keluarganya. Kedua pengintai itu mengungsikan mereka di luar perkemahan orang Israel. 24 Namun, kota itu dan segala sesuatu yang ada di dalamnya mereka bumihanguskan; hanya perak dan emas, barang-barang tembaga dan besi mereka serahkan ke dalam perbendaharaan Rumah TUHAN. 25 Demikianlah Rahab, pelacur itu dan keluarganya serta semua yang bersama dia dibiarkan hidup oleh Yosua. Perempuan itu tinggal di Israel sampai hari ini, karena ia telah menyembunyikan orang-orang yang diutus Yosua untuk mengintai Yerikho. 26 Pada waktu itu, Yosua bersumpah, katanya, Terkutuklah di hadapan TUHAN orang yang berupaya membangun kembali Kota Yerikho ini: Dengan nyawa anak sulungnya ia akan meletakkan dasar kota itu dan dengan nyawa anak bungsunya ia akan memasang pintu gerbangnya! 27 TUHAN menyertai Yosua dan terdengarlah kabar tentang dia di seluruh negeri itu.

Kitab Yosua pasal 6 sampai 12 merupakan bagian kedua dari kitab ini, yang membahas penaklukan Kanaan. Pasal 6 membahas kejatuhan Yerikho, dan pasal 8 membahas serangan terhadap Ai, di antara kedua pasal disisipkan insiden dosa Akhan (pasal 7) di antaranya. Pasal 10 menyajikan konfrontasi dengan aliansi selatan, dan pasal 11 membahas aliansi utara yang dipimpin oleh raja Hazor, di antara kedua pasal disisipkan perjanjian dengan orang Gibeon (pasal 9). Di bawah kepemimpinan Yosua, bangsa Israel maju dari timur ke pusat Kanaan, dan kota pertama yang mereka temui adalah Yerikho. Peristiwa Yerikho akan dibahas selama dua hari. Hari ini, kita akan berfokus pada penaklukan Yerikho, sementara besok akan membahas pemusnahan barang-barang jarahan dan penyelamatan keluarga Rahab.
Narasi penaklukan Yerikho secara sederhana dapat dibagi menjadi tiga tahap, masing-masing menambahkan detail yang tidak disebutkan sebelumnya. Tahap pertama mencatat instruksi TUHAN kepada Yosua mengenai rencana pengepungan (ayat 2-5); tahap kedua adalah instruksi terperinci Yosua kepada orang Israel tentang cara melaksanakan instruksi TUHAN (ayat 6-7); dan tahap ketiga mencatat tindakan Israel sesuai dengan instruksi Yosua (ayat 8-21). Perebutan Yerikho jelas bukan latihan taktis, melainkan pelajaran bagi orang Israel dalam pertempuran Yerikho ini. Secara taktis, ada beberapa cara untuk merebut sebuah kota: pertama, menyusup ke dalam kota melalui siasat, seperti dalam Kuda Troya; kedua, mengidentifikasi titik-titik lemah di tembok dan menyerbu gerbang-gerbangnya; dan ketiga, mengepung kota, merampas air dan makanannya, dan menunggu musuh menyerah. Namun, dihadapkan dengan kota yang tidak lebih besar dari beberapa lapangan sepak bola dan dijaga ketat dengan gerbang-gerbang, orang Israel menggunakan taktik yang tidak biasa.
Taktik ini benar-benar membingungkan para ahli militer. Bangsa Israel membentuk barisan pergi mengelilingi Yerikho, dengan orang-orang bersenjata di depan barisan, diikuti oleh tujuh imam yang memegang terompet. Tabut perjanjian mengikuti para imam, dan barisan tentara bersenjata lainnya mengikuti tabut sebagai penutup barisan (ayat 8-9). Oleh karena itu, tidak semua orang diharuskan mengelilingi kota, hanya orang-orang bersenjata dan para imam yang ditunjuk. Mereka harus mengelilingi kota Yerikho selama tujuh hari, sekali sehari, dengan para imam meniup terompet di sepanjang jalan. Pada hari ketujuh, bangsa Israel mengelilingi kota itu tujuh kali,Lalu pada kali yang ketujuh, ketika para imam meniup sangkakala, Yosua memerintahkan bangsa itu, Bersoraklah, sebab TUHAN telah menyerahkan kota itu kepadamu! (ayat 16)
Penaklukan Yerikho oleh bangsa Israel sungguh tak tertandingi dan belum pernah terjadi sebelumnya, dan yang lebih membingungkan lagi adalah strateginya yang pada dasarnya tidak logis. Namun, ini adalah strategi yang jelas-jelas diperintahkan oleh TUHAN kepada Yosua, yang dirancang untuk menanamkan kepada bangsa Israel bahwa kejatuhan Yerikho sepenuhnya adalah pekerjaan Allah. Bangsa Israel hanya perlu mengikuti instruksi TUHAN melalui Yosua. Yosua memerintahkan bangsa Israel yang mengepung kota itu untuk tidak berteriak, tidak bersuara, atau bahkan mengucapkan sepatah kata pun (ayat 10). Singkatnya, bangsa Israel harus tetap diam sepenuhnya. Sepanjang pengepungan, tidak ada suara manusia atau teriakan perang, hanya suara sangkakala Allah. Ini adalah pertempuran TUHAN sendiri, dan Dialah yang menyerahkan Yerikho dan segala isinya ke tangan bangsa Israel (ayat 2, 16).
Penduduk Yerikho, yang mengamati taktik pengepungan Israel yang aneh, mungkin merasa heran atau bingung, bertanya-tanya apa yang sedang direncanakan orang Israel. Meskipun sudah gentar dan malu (lihat 5:1), bunyi terompet musuh pasti telah meningkatkan kepanikan mereka, membuat mereka tidak bisa tidur atau makan. Ketakutan dan kecemasan yang mereka rasakan semuanya merupakan campur tangan ilahi. Kenyataannya, orang Israel tidak tahu apa sebenarnya pengepungan itu; mereka hanya menaati perintah TUHAN melalui Yosua, dan dengan demikian dirampungkan.

Refleksi:
Kejatuhan Yerikho sepenuhnya merupakan karya Allah; bangsa Israel bahkan tidak menggunakan satu pedang atau satu tombak pun. Setelah mengetahui dari Yosua bahwa Tuhan telah menyerahkan kota itu ke tangan mereka, mereka menaati instruksi Yosua, saat itu masih tidak tahu bagaimana akan mendapatkan hasil akhirnya. Kehendak dan jalan Allah terkadang sulit dipahami, tampak berlawanan dengan akal sehat, tetapi sebenarnya transendental. Jalan Allah lebih tinggi daripada jalan kita, dan pikiran-Nya lebih tinggi daripada pikiran kita (lihat Yesaya 55:9). Ketika Allah dengan jelas menunjukkan jalan ke depan, tetapi tampaknya tidak sesuai dengan apa yang Anda lihat, apa yang akan Anda lakukan? Maukah Anda melalui iman mengikuti jejak-Nya dengan saksama?


Renungan pemahaman Kitab Yosua

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yosua ditulis oleh Rev. Ho Kai-Ming (何啟明) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yosua 5:13-6:5

「Panglima Balatentara TUHAN」

Oleh Rev. Dr. Ho Kai-Ming (何啟明)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yosua 5:13-6:5 [TB2])
13 Ketika Yosua ada di dekat Yerikho, ia melayangkan pandang dan melihat, tiba-tiba seseorang berdiri di depannya dengan pedang terhunus di tangannya. Yosua mendekatinya dan bertanya kepadanya, Apakah engkau kawan atau lawan kami? 14 Jawabnya, Bukan, tetapi aku adalah Panglima Balatentara TUHAN. Aku di sini sekarang. Lalu Yosua sujud dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya, Apa yang hendak Tuanku katakan kepada hambamu ini? 15 Jawab Panglima Balatentara TUHAN itu kepada Yosua, Lepaskanlah kasutmu, sebab tempat engkau berdiri itu kudus! Yosua pun berbuat demikian.
6:1 Kota Yerikho sudah ditutup dan tertutup rapat oleh karena orang Israel. Tidak ada orang keluar masuk kota itu.
2 Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua, Lihatlah, Aku sudah menyerahkan ke dalam tanganmu Yerikho dengan rajanya dan pejuang-pejuangnya yang gagah perkasa. 3 Kamu, para prajurit sekalian, harus mengelilingi kota itu, dan mengitarinya satu kali. Engkau harus berbuat demikian selama enam hari, 4 dan tujuh imam membawa tujuh sangkakala dari tanduk domba di depan tabut. Tetapi, pada hari ketujuh kamu harus mengelilingi kota itu tujuh kali, sementara imam-imam itu meniup sangkakala. 5 Ketika sangkakala dari tanduk domba itu ditiup dengan bunyi yang panjang, dan kamu mendengar bunyi sangkakala itu, seluruh bangsa itu harus bersorak-sorai dengan nyaring. Pada saat itu tembok kota akan roboh, lalu bangsa itu harus menaikinya, masing-masing di bagian yang terdekat.

Setelah bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan dan merayakan sunat serta Paskah di Gilgal, manna berhenti dan mereka mulai memakan hasil bumi Kanaan, menandai akhir resmi perjalanan mereka di padang gurun. Langkah selanjutnya adalah serangkaian tindakan untuk merebut tanah Kanaan. Karena Yosua adalah pemimpin pasukan Israel, pada malam hari ia pergi mendekati untuk memata-matai kota pertama yang direbut, Yerikho. Yosua dengan cermat mengamati Yerikho sendirian untuk merencanakan berapa banyak kekuatan militer dan strategi apa yang dibutuhkan untuk merebut kota itu. Saat ia mendongak, tiba-tiba seseorang berdiri di depannya dengan pedang terhunus di tangannya (ayat 13b). Karena pria ini adalah seorang prajurit dengan pedang, jika ia bukan seorang prajurit Israel, ia pastilah seorang prajurit musuh. Oleh karena itu, Yosua tentu saja bertanya kepadanya, Apakah engkau kawan atau lawan kami? (ayat 13c)

Pertanyaan Yosua masuk akal: jika dia bukan salah satu dari mereka, dia pasti dari kubu musuh. Yosua ingin memahami hubungan orang ini dengannya, apakah dia berada di pihak Israel, bertugas sebagai pasukan pendukung. Namun, jawaban orang ini mengejutkan Yosua. Dia bukan tentara Israel yang membantu Yosua, juga bukan orang di pihak musuh. Dia adalah Panglima balatentara TUHAN (ayat 14a). Singkatnya, orang ini tidak berada di sana untuk membantu Yosua melaksanakan rencana militernya, tetapi untuk memimpin Yosua dan pasukan Israel. Dia adalah Panglima, pemimpin, aktor utama dalam penaklukan Yerikho, sementara Yosua dan pasukan Israel adalah asistennya, pendukung dalam seluruh pertempuran. Panglima balatentara TUHAN ini tidak berada di pihak Yosua; sebaliknya, Yosualah yang diminta untuk berpihak padanya, mengikuti instruksi dan kepemimpinannya dalam penaklukan Yerikho.

Di puncak Perang Saudara Amerika, salah satu ajudan Presiden Lincoln mengungkapkan rasa syukurnya kepada Allah karena berada di pihak Tentara Union. Lincoln menjawab, Kekhawatiran saya bukanlah apakah Tuhan ada di pihak kita. Kekhawatiran terbesar saya adalah apakah kita ada di pihak Tuhan, karena Tuhan selalu benar. Poin Lincoln adalah: Jangan berasumsi Tuhan selalu mendukung rencana, pendapat, keputusan, dan keinginan kita. Sebaliknya, kita harus berusaha memahami kehendak Tuhan dan bertindak sesuai dengan rencana-Nya dan menaati perintah-Nya.

Yosua awalnya tidak yakin akan identitas pria ini, tetapi ia yakin itu pasti utusan Allah. Karena itu, ia membungkuk sopan dengan wajah menghadap ke tanah, sambil berkata, Apa yang hendak Tuanku katakan kepada hambamu ini? (ayat 14b). Yosua menggunakan istilah yang lebih netral, tuanku (ʾădōni; my lord) alih-alih sebutan hormat hormat kepada Yahweh: TUHAN (YHVH; the LORD), untuk menyapa pria di hadapannya. Awalnya ia ragu bahwa pria ini memang TUHAN sendiri. Panglima bala tentara TUHAN kemudian berkata kepada Yosua, Lepaskanlah kasutmu, sebab tempat engkau berdiri itu kudus! (ayat 15a). Mengapa melepas kasut itu? Utusan itu menjelaskan bahwa meskipun Yosua berada di tanah Kanaan yang kafir, tempat itu kudus dan milik Allah karena kehadiran TUHAN. Melepaskan kasut juga berarti melepaskan otoritas dan hak pribadi untuk tunduk kepada bimbingan Tuhan.

TUHAN telah berjanji kepada Yosua dan bangsa Israel bahwa di mana pun telapak kakinya melangkah, di sanalah akan diberikan kepada mereka (1:3). Perintah sang Panglima balatentara TUHAN kepada Yosua untuk melepas sandalnya di tempat ia berdiri, membiarkan kakinya berpijak langsung di tanah, seolah menyiratkan bahwa Yerikho telah diberikan kepada mereka. Oleh karena itu, Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua, Lihatlah, Aku sudah menyerahkan ke dalam tanganmu Yerikho dengan rajanya dan pejuang-pejuangnya yang gagah perkasa …』」 (6:2). Allah berkata, Aku sudah bukan Aku akan; merebut Yerikho memang belum terjadi, tetapi sudah menjadi kenyataan.

Refleksi:
Apakah kita sering bertindak atau berdoa dari sudut pandang kita sendiri, tanpa sadar memohon kepada Tuhan untuk bekerja sama dengan rencana kita dan menaati keinginan kita? Jangan pernah lupa bahwa Tuhan adalah tokoh utama; kita hanya perlu bekerja sama dengan kehendak-Nya dan mengikuti langkah-langkah-Nya. Lebih lanjut, perjumpaan Yosua dengan TUHAN sangat mirip dengan perjumpaan Musa, perbedaannya adalah Musa awalnya mencoba menghindari pertanyaan itu, sementara Yosua langsung mengikutinya. Hari ini: jika Tuhan dengan jelas memberi Anda petunjuk tentang apa yang harus dilakukan atau jalan yang harus Anda tempuh, apakah Anda akan merespons seperti Musa atau Yosua?


Renungan pemahaman Kitab Yosua

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yosua ditulis oleh Rev. Ho Kai-Ming (何啟明) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yosua 5:2-5, 9-12

「Identitas baru」

Oleh Rev. Dr. Ho Kai-Ming (何啟明)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yosua 5:2-5, 9-12 [TB2])
1 Ketika semua raja orang Amori di sebelah barat Sungai Yordan dan semua orang Kanaan di tepi laut mendengar bahwa TUHAN telah mengeringkan Sungai Yordan di depan orang Israel, sehingga mereka dapat menyeberang, ciutlah hati mereka dan hilanglah semangat mereka menghadapi orang Israel. 2 Pada waktu itu, TUHAN berfirman kepada Yosua, Buatlah pisau-pisau dari batu dan adakan sunatan lagi bagi orang Israel. 3 Lalu Yosua membuat pisau-pisau dari batu dan menyunat orang Israel di Bukit Aralo. 4 Inilah alasannya mengapa Yosua menyunat mereka: semua orang yang keluar dari Mesir yakni semua laki-laki yang menjadi prajurit telah mati dalam perjalanan di padang gurun, setelah mereka keluar dari Mesir. 5 Sebab, semua orang yang keluar dari sana telah di sunat, tetapi semua orang yang lahir dalam perjalanan di padang gurun sejak keluar dari Mesir, belum disunat. 6 Selama empat puluh tahun orang Israel berjalan di padang gurun sampai binasa seluruh prajurit di antara bangsa itu yang keluar dari Mesir, karena mereka tidak mau mendengarkan firman TUHAN. Mengenai mereka TUHAN telah bersumpah bahwa mereka tidak akan melihat negeri yang dijanjikan TUHAN dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. 7 Yosua menyunat anak-anak mereka yang telah diberikan TUHAN sebagai pengganti mereka. Mereka masih berkulup, karena mereka belum disunat dalam perjalanan. 8 Setelah seluruh bangsa itu selesai disunat, mereka tinggal di tempat masing-masing di perkemahan itu sampai mereka sembuh. 9 TUHAN berfirman kepada Yosua, Hari ini Aku telah menyingkirkan darimu cela dari Mesir. Itulah sebabnya nama tempat itu disebut Gilgal sampai hari ini. 10 Ketika berkemah di Gilgal, orang Israel merayakan Paskah pada tanggal empat belas bulan itu, pada waktu petang di dataran Yerikho. 11 Sehari sesudah Paskah, tepat pada hari itu, mereka makan roti tidak beragi dan gandum panggang, hasil bumi dari negeri itu. 12 Lalu manna berhenti turun pada hari itu ketika mereka makan hasil bumi dari negeri itu. Tidak ada lagi manna bagi orang Israel. Pada tahun itu mereka makan hasil bumi Kanaan.

Ketika raja-raja Kanaan mendengar bahwa bangsa Israel telah berhasil menyeberangi Sungai Yordan selama musim banjir dan tiba di Kanaan dengan selamat, mereka ketakutan dan keberanian mereka pun sirna (5:1b). Yosua seharusnya akan memanfaatkan situasi ini untuk mengejar mereka, atau setidaknya mengerahkan pasukannya untuk berperang, mencegah serangan sementara moral musuh masih belum dapat dipastikan. Namun, setelah mencapai tepi barat Sungai Yordan, hal yang dilakukan oleh Yosua dan bangsa Israel adalah menyunat laki-laki Israel dan merayakan Paskah bersama seluruh Israel. Sunat dan Paskah adalah ritual pertama yang harus dilakukan bangsa Israel setelah menyeberangi Sungai Yordan; sunat merupakan tanda perjanjian Allah dengan umat-Nya, sedangkan Paskah merupakan peringatan akan hubungan mereka dengan Allah.
Allah memerintahkan Yosua untuk menyunat semua orang yang lahir di padang gurun, karena nenek moyang mereka tidak menyunat mereka. Karena generasi yang telah meninggalkan Mesir melanggar perintah TUHAN, mereka tidak akan mewarisi Tanah Perjanjian dan akan mati di padang gurun. Yosua harus menyunat anak-anak mereka yang telah diberikan TUHAN sebagai pengganti mereka (ayat 7b), yang berarti generasi di sepanjang perjalanan yang belum menjalani ritual ini. Sunat adalah tanda perjanjian antara Allah dan Abraham (Kejadian 17:8). Bagian ini ayat 4-7 mengambil ruang tulis yang panjang (menunjukkan hal ini penting) untuk menjelaskan bahwa generasi sebelumnya telah gagal mewarisi Tanah Perjanjian karena pemberontakan dan ketidaktaatan mereka (ayat 6b). Sunat yang dilakukan Yosua terhadap generasi baru bukan hanya merupakan penggenapan perintah tersebut, tetapi juga pengingat akan ketaatan dan kesetiaan bagi generasi berikutnya. Bagian ini menunjukkan bahwa Tanah Perjanjian memang merupakan tanah yang berlimpah susu dan madu (ayat 6d), dengan sumber air yang melimpah, cocok untuk pertumbuhan dan reproduksi sapi dan domba, serta susu yang berlimpah. Daerah itu juga memiliki hasil panen yang melimpah dan banyak tanaman berbunga, sehingga menghasilkan madu yang melimpah.
Penyunatan para pria yang diadakan oleh Yosua memang merupakan tindakan yang sangat berisiko, karena mereka membutuhkan beberapa hari istirahat untuk pulih. Setelah seluruh bangsa itu selesai disunat, mereka tinggal di tempat masing-masing di perkemahan itu sampai mereka sembuh (ayat 8). Periode ini, di mana para prajurit tidak dapat bertempur, membuka peluang bagi serangan balik dari musuh. Namun, karena ini adalah perintah yang jelas dari TUHAN, Yosua menaati sepenuhnya, tetap setia pada perintah Allah. Baik dalam keadaan yang buruk maupun yang baik, ia percaya pada pemeliharaan TUHAN. Ini berarti bahwa prioritas Allah menjadi prioritas Yosua.
Pemotongan kulup dari tubuh laki-laki Israel juga menyiratkan bahwa cela dari Mesir telah dihapus dari mereka (ayat 9). Apa cela Mesir itu? Ketika orang Israel meninggalkan Mesir, orang Mesir percaya bahwa mereka telah tersesat dan terjebak di padang gurun (Keluaran 14:3). Empat puluh tahun pengembaraan orang Israel di padang gurun pasti akan membuat mereka menjadi bahan ejekan yang meluas. Orang Mesir mengejek TUHAN, yang telah memimpin orang Israel keluar dari Mesir, karena membiarkan mereka tersesat di padang gurun dan karena tidak mampu memimpin mereka ke Tanah Perjanjian. Oleh karena itu, frasa Hari ini Aku telah menyingkirkan darimu cela dari Mesir menandakan bahwa mereka telah tiba di tanah perjanjian TUHAN, dan bahwa janji Allah telah digenapi melalui ketaatan umat.
Yosua menyunat bangsa Israel pada hari kesepuluh bulan pertama, dan hari keempat belas bulan pertama adalah Paskah Israel. Sunat diwajibkan bagi mereka yang merayakan Paskah (Keluaran 12:48). Ini adalah Paskah pertama bagi kelompok bangsa ini, tetapi bagi bangsa Israel secara keseluruhan, ini adalah Paskah ketiga sejak Keluaran. Paskah pertama mengakhiri perbudakan mereka di Mesir dan menandai dimulainya Keluaran (Keluaran 12); Paskah kedua, di Gunung Sinai, menandai berakhirnya masa di padang gurun dan dimulainya perjalanan menuju Tanah Perjanjian (Bilangan 9). Paskah ini, yang dirayakan di Tanah Perjanjian, mengingatkan bangsa Israel bahwa janji-janji Allah telah mulai digenapi, dan mereka merayakannya bersama untuk memperingati anugerah penebusan Allah. Mereka makan roti tak beragi dan gandum panggang dari tanah (ayat 11). Manna yang disediakan Allah di padang gurun berhenti sehari setelah mereka memakan hasil bumi setempat (ayat 12a). Berakhirnya manna menandai berakhirnya perjalanan di padang gurun; bangsa Israel memulai hidup baru mereka di Tanah Perjanjian.

Refleksi:
Langkah pertama bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian, adalah sunat dan perayaan Paskah, menunjukkan bahwa perhatian utama Allah adalah hubungan mereka dengan-Nya. Perintah Allah jelas lebih penting daripada kesempatan untuk memanfaatkan kemenangan mereka saat ini atas musuh. Apa implikasi yang diajarkan oleh pengalaman memilih antara kesempatan emas saat ini dan perintah Allah yang jelas kepada Anda? Generasi baru bangsa Israel memulai hidup baru mereka di Tanah Perjanjian dengan melakukan sunat. Sunat menandakan pelepasan cara dan kebiasaan lama. Kebiasaan apa yang perlu Anda tinggalkan?


Renungan pemahaman Kitab Yosua

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yosua ditulis oleh Rev. Ho Kai-Ming (何啟明) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yosua 4:1-10

「Batu-batu itu akan menjadi tanda peringatan」

Oleh Rev. Dr. Ho Kai-Ming (何啟明)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yosua 4:1-10 [TB2])
1 Setelah seluruh bangsa itu selesai menyeberangi Sungai Yordan, TUHAN berfirman kepada Yosua, 2 Pilihlah dari bangsa itu dua belas orang, seorang dari tiap suku; 3 dan perintahkanlah kepada mereka, demikian: Angkatlah dua belas batu dari tengah Sungai Yordan ini, dari tempat berpijak para imam itu. Bawalah ke seberang dan letakkanlah semuanya itu di tempat kamu menginap malam ini. 4 Lalu Yosua memanggil kedua belas orang dari orang Israel yang ia tetapkan, seorang dari tiap suku. 5 Ia berkata kepada mereka, Pergilah ke tengah Sungai Yordan di depan tabut TUHAN, Allahmu, dan masing-masing angkatlah di atas bahumu sebuah batu, menurut jumlah suku orang Israel, 6 supaya ini menjadi tanda di antara kamu. Jika anak-anakmu di kemudian hari bertanya: Apa arti batu-batu itu bagi kamu? 7 kamu harus menjawab bahwa ketika Tabut Perjanjian TUHAN diseberangkan di Sungai Yordan, air sungai itu terputus di depan tabut itu. Sebab itu, batu-batu itu akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya. 8 Orang Israel melakukan seperti yang diperintahkan Yosua. Mereka mengangkat dua belas batu dari tengah Sungai Yordan, seperti yang difirmankan TUHAN kepada Yosua, menurut jumlah suku Israel. Mereka membawa batu-batu itu ke seberang, ke tempat mereka bermalam, dan meletakkannya di situ. 9 Lalu Yosua menempatkan pula dua belas batu di tengah Sungai Yordan, di bekas pijakan para imam yang mengangkat Tabut Perjanjian itu, Batu-batu itu masih ada di sana sampai hari ini. 10 Demikianlah para imam yang mengangkat tabut itu tetap berdiri di tengah Sungai Yordan sampai selesai dilakukan semua yang diperintahkan TUHAN kepada Yosua untuk disampaikan kepada bangsa itu, tepat seperti yang diperintahkan Musa kepada Yosua. Bangsa itu bergegas menyeberang. 11 Setelah seluruh bangsa selesai menyeberang, menyeberanglah para imam dan tabut TUHAN itu di depan mata bangsa itu. 12 Bani Ruben, bani Gad, dan suku Manasye yang setengah itu juga menyeberang dengan bersenjata di depan orang Israel, seperti yang dikatakan Musa kepada mereka. 13 Kira-kira empat puluh ribu prajurit yang siap berperang menyeberang di hadapan TUHAN ke dataran Yerikho untuk berperang. 14 Pada hari itu, TUHAN membuat Yosua besar di mata seluruh orang Israel. Mereka sangat menghormatinya seperti mereka menghormati Musa sepanjang hidupnya. 15 TUHAN berfirman kepada Yosua, 16 Perintahkanlah para imam yang mengangkat Tabut Hukum itu supaya naik dari Sungai Yordan. 17 Yosua memerintahkan para imam itu, Naiklah dari Sungai Yordan. 18 Pada saat para imam yang mengangkat Tabut Perjanjian TUHAN itu naik dari tengah Sungai Yordan, dan menjejakkan telapak kaki mereka ke tanah kering, air Sungai Yordan itu kembali ke tempatnya dan mengalir di sepanjang tepinya seperti dahulu. 19 Bangsa itu naik dari Sungai Yordan pada tanggal sepuluh bulan pertama dan berkemah di Gilgal, di batas timur Yerikho. 20 Kedua belas batu yang diambil dari Sungai Yordan itu ditegakkan oleh Yosua di Gilgal. 21 Lalu ia berkata kepada orang Israel, Apabila di kemudian hari anak-anakmu bertanya kepada ayahnya: Apa arti batu-batu ini? 22 Kamu harus menjelaskan kepada anak-anakmu demikian: Orang Israel telah menyeberangi Sungai Yordan ini di tanah yang kering! 23 TUHAN, Allahmu, telah mengeringkan Sungai Yordan di depan kamu, sehingga kamu dapat menyeberanginya, seperti yang dilakukan TUHAN, Allahmu, dengan Laut Teberau. Laut itu dikeringkan-Nya di depan kita, sehingga kita dapat menyeberanginya, 24 supaya semua bangsa di bumi menyadari betapa kuatnya tangan TUHAN, dan kamu senantiasa takut akan TUHAN, Allahmu.

Salah satu ciri Yosua pasal 3 dan 4 adalah bahwa peristiwa-peristiwa tertentu yang dikemukakan dalam pasal 3 tidak diuraikan secara lengkap menunggu sampai pasal 4 barulah dijelaskan. Misalnya, 3:12 menyebutkan pilihlah dua belas orang dari suku-suku Israel, seorang dari tiap suku, tetapi baru pada 4:2-3 dijelaskan secara konkret tujuan memilih seorang dari tiap suku adalah untuk mengambil dua belas batu dari tengah Sungai Yordan. Ayat 3:17 menyebutkan para imam yang mengangkat Tabut Perjanjian TUHAN itu tetap berdiri di tanah kering di tengah Sungai Yordan, sementara seluruh orang Israel menyeberang di tanah kering itu sampai seluruh bangsa itu selesai menyeberangi Sungai Yordan, tetapi baru pada ayat 4:10 dijelaskan bahwa ini dilakukan atas perintah TUHAN. Lebih lanjut, ayat 3 dan 8 menyebutkan dua belas batu yang diletakkan di tempat mereka menginap malam itu, tetapi lokasi ini tidak diidentifikasi sebagai Gilgal sampai ayat 19-20. Pengamatan ini menjelaskan mengapa narasi dalam pasal 4 tampak agak berulang, tetapi pemahaman lebih mendalam mengungkapkan bahwa ini adalah teknik sastra pengulangan dengan lebih rinci, lebih konkret dan spesifik.
Pendirian batu peringatan menjadi fokus pasal ini dan merupakan hal pertama yang harus dilakukan setelah menyeberangi Sungai Yordan. Setelah seluruh bangsa menyeberangi sungai (ayat 1a dan 11a), Yosua memilih dua belas orang dari kedua belas suku. Masing-masing mengambil batu dari tempat para imam berdiri di sungai dan meletakkannya di tempat mereka akan bermalam (ayat 3c dan 8c); tempat ini adalah Gilgal, sebelah timur Yerikho (ayat 19-20). Seluruh rakyat yang menyeberang tidak termasuk keluarga dan ternak dari dua setengah suku, yaitu suku Ruben, Gad, dan Manasye. Namun, mereka telah berjanji kepada Musa bahwa para prajurit mereka akan bergabung dengan suku-suku lain untuk menaklukkan tanah Kanaan sebelum kembali ke rumah mereka di sebelah timur Sungai Yordan. Pada saat itu, sekitar 40.000 orang dari dua setengah suku tersebut bergabung dengan para prajurit dari suku-suku yang tersisa dan bersiap untuk berperang (ayat 13).
Yosua menempatkan pula dua belas batu di tengah Sungai Yordan, di bekas pijakan para imam yang mengangkat Tabut Perjanjian itu (ayat 9a). Berdasarkan kata pula, menjadi pertanyaan apakah selain dua belas batu yang diambil dari Sungai Yordan tempat para imam berdiri dan ditempatkan di Gilgal, adakah dua belas batu lainnya? Banyak peneliti berpendapat bahwa ini hanyalah teknik sastra pengulangan retrospektif, untuk menunjukkan bahwa batu-batu yang didirikan Yosua awalnya terletak di kaki para imam yang berdiri di sungai. Namun, banyak peneliti berpendapat bahwa frasa tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa tumpukan batu lain ditempatkan di sungai, yang tampaknya lebih konsisten dengan maksud TUHAN untuk mendirikan batu-batu peringatan. Batu-batu di tepi sungai akan mengingatkan bangsa Israel akan kesetiaan Allah dalam membawa mereka ke Tanah Perjanjian; sedangkan ketika batu-batu yang ditempatkan di dalam sungai itu tersingkap selama musim kemarau atau ketika sungai itu surut, itu menunjukkan bahwa kuasa Allahlah yang membelah dan memulihkan sungai itu, dan bahwa para imam dan orang-orang Israel yang mengusung tabut perjanjian hanya menaati perintah-Nya (ayat 7).
Ketika keturunan dari generasi yang mengalami Sungai Yordan bertanya tentang arti batu-batu tersebut, mereka dapat langsung menceritakan mukjizat yang telah mereka alami (ayat 6-7). Namun, pertanyaan tersebut tidak terbatas pada generasi kedua; tetapi juga mencakup generasi setelah mereka. Ayat 21 menyatakan, Apabila di kemudian hari anak-anakmu bertanya kepada ayahnya: Apa arti batu-batu ini? Kata-kata ini menunjukkan bahwa pertanyaan tersebut ditujukan untuk generasi-generasi mendatang. Oleh karena itu, perintah TUHAN kepada Yosua untuk mendirikan batu peringatan bukan sekadar untuk memperingati perbuatan-Nya bagi generasi bangsa Israel yang mengalami Sungai Yordan, tetapi untuk mewariskannya dari generasi ke generasi, agar setiap generasi mengingat hal-hal besar yang telah TUHAN lakukan bagi nenek moyang mereka.
Mukjizat bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan, berjalan di tanah yang kering, dan memasuki Kanaan sangat mirip dengan pengalaman generasi bangsa Israel sebelumnya ketika menyeberangi Laut Merah (ayat 23). Generasi bangsa Israel memasuki Kanaan ini seperti mengalami Keluaran baru, dan pengalaman Keluaran baru ini memiliki dua tujuan bagi bangsa Israel: pertama, supaya semua bangsa di bumi menyadari betapa kuatnya tangan TUHAN (ayat 24a); kedua, kamu senantiasa takut akan TUHAN, Allahmu (ayat 24b). Lebih lanjut, mukjizat ini dimaksudkan untuk membuat semua raja orang Amori di sebelah barat Sungai Yordan dan semua orang Kanaan di tepi laut mendengar bahwa TUHAN telah mengeringkan Sungai Yordan di depan orang Israel, sehingga mereka dapat menyeberang, ciutlah hati mereka dan hilanglah semangat mereka menghadapi orang Israel (5:1b).

Refleksi:
Bangsa Israel mengalami kesetiaan dan kuasa Allah saat mereka memasuki tanah Kanaan. Allah memerintahkan mereka untuk mendirikan tumpukan batu-batu untuk mengenang perbuatan-perbuatan-Nya. Demikian pula, Allah menggunakan pengalaman-pengalaman tertentu dalam iman kita untuk membantu kita bertumbuh, mengenal-Nya lebih dalam, dan memahami kehendak-Nya lebih dalam. Renungkanlah pengalaman-pengalaman tak terlupakan dalam perjalanan rohani Anda, hitung satu atau dua, lalu bersyukurlah kepada Allah dan mohon Dia membantu Anda untuk sepenuh hati lebih mempercayai-Nya di hari-hari mendatang.


Renungan pemahaman Kitab Yosua

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yosua ditulis oleh Rev. Ho Kai-Ming (何啟明) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yosua 3:1-6, 14-17

「Jalan yang belum pernah dilalui」

Oleh Rev. Dr. Ho Kai-Ming (何啟明)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yosua 3:1-6, 14-17 [TB2])
1 Pagi-pagi benar Yosua dan semua orang Israel berangkat dari Sitim. Mereka sampai di Sungai Yordan dan bermalam di sana sebelum menyeberang. 2 Tiga hari kemudian para pengatur pasukan berkeliling di seluruh perkemahan, 3 dan memberi perintah kepada bangsa itu demikian, Pada saat kamu melihat Tabut Perjanjian TUHAN, Allahmu, diangkat para imam, orang-orang Lewi itu, kamu juga harus berangkat dari tempatmu dan mengikutinya, 4 supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui sebelumnya. Hanya saja, harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta antara kamu dan tabut itu dan jangan kamu mendekatinya. 5 Kata Yosua kepada bangsa itu, Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan ajaib di antara kamu. 6 Yosua berkata kepada para imam demikian, Angkatlah Tabut Perjanjian dan menyeberanglah di depan bangsa itu. Lalu mereka mengangkat Tabut dan berjalan di depan bangsa itu. 7 TUHAN berfirman kepada Yosua, Mulai hari ini Aku akan membuat engkau besar di hadapan seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau. 8 Jadi, engkau harus memerintahkan para imam yang mengangkat Tabut Perjanjian itu, demikian: Setelah kamu sampai di tepi air Sungai Yordan, kamu harus tetap berdiri di Sungai Yordan itu. 9 Lalu Yosua berkata kepada orang Israel, Mendekatlah dan dengarkanlah firman TUHAN, Allahmu. 10 Kata Yosua lagi, Dari hal inilah akan kamu ketahui bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu, dan Ia sungguh-sungguh akan menghalau dari hadapanmu orang Kanaan, orang Het, orang Hewi, orang Feris, orang Girgasi, orang Amori, dan orang Yebus: 11 Lihatlah, Tabut Perjanjian Tuhan semesta bumi menyeberang di depan kamu di Sungai Yordan. 12 Sekarang, pilihlah dua belas orang dari suku-suku Israel, seorang dari tiap suku. 13 Akan terjadi, pada saat kaki para imam yang mengangkat tabut TUHAN, Tuhan semesta bumi, masuk ke dalam air Sungai Yordan, air Sungai Yordan itu akan terputus. Air yang turun dari hulu berhenti menjadi bendungan. 14 Ketika bangsa itu berangkat dari perkemahan mereka untuk menyeberangi Sungai Yordan, para imam yang mengangkat Tabut Perjanjian itu berjalan di depan bangsa itu. 15 Adapun Sungai Yordan meluap di sepanjang tepinya selama musim menuai. Pada saat para pengangkat tabut itu sampai ke Sungai Yordan, dan kaki para imam pengangkat tabut itu masuk ke dalam air di tepi sungai itu, 16 air sungai itu berhenti mengali dari hulu dan menjadi satu bendungan yang berdiri jauh sekali, di dekat Adam, kota di sebelah Kota Sartan. Aliran air ke Laut Araba Laut Asin, terputus sama sekali. Lalu bangsa itu menyeberang di seberang Kota Yerikho. 17 Para imam yang mengangkat Tabut Perjanjian TUHAN itu tetap berdiri di tanah kering di tengah Sungai Yordan, sementara seluruh orang Israel menyeberang di tanah kering itu sampai seluruh bangsa itu selesai menyeberangi Sungai Yordan.

Menyeberangi Sungai Yordan sangat penting bagi bangsa Israel untuk memasuki Kanaan, sebuah tugas yang dipimpin Yosua selama perjalanan mereka. Sungai Yordan, yang dialiri oleh Danau Huleh di utara, mengalir ke Laut Galilea, lalu bermuara ke Laut Mati di selatan, berkelok-kelok sepanjang lebih dari 300 kilometer. Karena dekat dengan Paskah (lih. 4:19; 5:10) saat memanen tiba, hujan akhir musim dingin dan salju meleleh dari kaki Gunung Lebanon menyatu ke Sungai Yordan, menyebabkannya meluap (ayat 15a). Bagi orang-orang zaman dahulu, yang tidak terlalu mahir berenang, menyeberangi Sungai Yordan di tengah arusnya yang deras pastilah menakutkan. Ini adalah rute yang belum pernah dilalui bangsa Israel sebelumnya (ayat 4a), namun tetap merupakan rute yang harus dilalui.
Generasi Israel sebelumnya, yang dipimpin oleh Musa, telah menghadapi pengejaran tentara Mesir dari belakang dan Laut Merah yang menghalangi jalan mereka. Namun, Allah, melalui tangan Musa yang terangkat, membelah Laut Merah, sehingga bangsa Israel dapat menyeberang dengan selamat. Generasi Israel yang dipimpin oleh Yosua telah mendengar tentang mukjizat terbelahnya Laut Merah, tetapi belum pernah menghadapi tantangan menyeberangi Sungai Yordan yang meluap. Namun, Yosua dengan jelas menyatakan bahwa TUHAN akan melakukan keajaiban-keajaiban di antara mereka (ayat 5b). Keajaiban-keajaiban ini berkaitan dengan kehadiran TUHAN dan pentingnya menaati perintah-perintah-Nya. Tabut Perjanjian adalah benda paling suci di dalam Kemah Suci, yang melambangkan kehadiran TUHAN (Keluaran 25:22; Bilangan 7:89). Para imam harus membawa Tabut di depan, yang menunjukkan kepemimpinan TUHAN. Kaum Kehat dari Lewi pada awalnya bertanggung jawab untuk membawa Tabut (Keluaran 25:12-13; Bilangan 4:4-15), tetapi kali ini, para imam dari keluarga Lewi, yang bahkan lebih kudus dari mereka, bertanggung jawab untuk mengangkat kayu pengusung (ayat 3a, 13a, 14a, 15b). Orang Israel yang mengikuti di belakang harus menjaga jarak sekitar satu kilometer dari Tabut (ayat 4b). Perintah ini tidak hanya memungkinkan orang Israel untuk melihat pergerakan Tabut dari kejauhan dan membantu mereka mengetahui kapan harus bergerak maju atau berhenti, tetapi yang lebih penting, itu mengingatkan orang Israel bahwa orang berdosa tidak dapat dengan mudah mendekati Allah yang kudus (ayat 5a). Pengaturan ini menunjukkan kehadiran penyertaan TUHAN dan transendensi-Nya. Kedua aspek ini adalah apa yang perlu dipahami dan dialami oleh umat-Nya.
Mukjizat penyeberangan Sungai Yordan ini sama sekali berbeda dengan penyeberangan Laut Merah. Para imam yang membawa Tabut Perjanjian harus berjalan di depan umat, dan sebelum air sungai yang meluap terbelah, dengan iman, kaki para imam pengangkat tabut itu masuk ke dalam air di tepi sungai itu (ayat 15b). Sungai itu, yang jauh di sana, air sungai itu berhenti mengali dari hulu dan menjadi satu bendungan yang berdiri jauh sekali, di dekat Adam, kota di sebelah Kota Sartan. Aliran air ke Laut Araba Laut Asin, terputus sama sekali (ayat 16a). Kota Adam, yang terletak sekitar 30,5 kilometer di hulu Sungai Yordan, membangun bendungan tak kasat mata di lokasi yang tersembunyi dari pandangan. Namun, butuh beberapa waktu bagi air untuk mengalir ke hilir dari Adam ke titik tempat para imam berdiri sebelum mengering, menjadi daratan kering, yang memungkinkan orang Israel menyeberangi sungai dengan percaya diri dan aman. Para imam yang membawa Tabut Perjanjian benar-benar mengalami sesuatu yang baru di sepanjang mukjizat tersebut. Bangsa Israel dapat berjalan dengan aman di daratan kering selama musim ini ketika banjir telah meluap; hal ini sungguh belum pernah terjadi sebelumnya.
Banyak ahli telah mencoba menjelaskan mukjizat ini melalui fenomena alam. Misalnya, Sungai Yordan runtuh tiga kali (pada tahun 1267, 1906, dan 1927), sehingga aliran airnya terhambat selama berjam-jam. Perintah Allah, yang dipadukan dengan ketaatan para imam, menghentikan aliran sungai segera setelah mereka melangkah masuk, hingga semua orang Israel tiba di seberang dengan selamat. Koordinasi waktu ini merupakan mukjizat. Allah dapat menggunakan fenomena alam atau tidak. Dialah yang menyebabkan mukjizat terjadi. Dia berkenan mengizinkan para imam pembawa Tabut Perjanjian untuk bekerja sama dengan-Nya dalam mewujudkan mukjizat yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, yang memungkinkan orang Israel menyeberangi Sungai Yordan dengan selamat dan menjadikan pahlawan di mata orang Israel (ayat 7a).

Refleksi:
Bangsa Israel harus menyeberangi Sungai Yordan untuk memasuki tanah Kanaan; ini merupakan titik krusial. Allah menjanjikan bangsa Israel jalan masuk ke Kanaan, tetapi Dia tidak menjelaskan secara rinci bagaimana cara menyeberangi Sungai Yordan yang banjir; tuntunan-Nya diungkapkan langkah demi langkah. Kehendak dan tuntunan Allah seringkali hanya memberikan arahan umum, sebuah cetak biru. Kita harus mengikuti-Nya langkah demi langkah dengan iman, sama seperti bangsa Israel mengikuti Tabut Perjanjian yang dibawa oleh para imam. Kesulitan apa yang baru-baru ini Anda hadapi? Jalan apa yang belum pernah Anda lalui yang perlu Anda tempuh dengan iman?


Renungan pemahaman Kitab Yosua

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yosua ditulis oleh Rev. Ho Kai-Ming (何啟明) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.