Tag Archives: Kitab 1 Samuel

1 Samuel 7:12

TUHAN telah menolong kita sampai sekarang

Oleh Rev. Dr. Fung Yiu-wing (馮耀榮)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Samuel 7:12 [ITB])
12 Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: Sampai di sini TUHAN menolong kita.

Setelah Samuel tumbuh dewasa, dia memimpin orang Israel untuk kembali kepada Allah, dan sekali lagi berperang melawan orang Filistin yang telah merampas Tabut Perjanjian, dan mengalahkan mereka dengan hebat. Dia tidak hanya merebut kembali kota-kota yang telah dirampas sebelumnya, tetapi dia juga menaklukkan musuh yang perkasa ini sehingga mereka tidak akan berani menginjakkan kaki di tanah orang Israel lagi (7:13-14).

Kegagalan tidak mengerikan, tetapi tidak mudah untuk bisa keluar dari bayang-bayang kegagalan. Samuel tidak hanya memimpin orang Israel menuju kemenangan, tetapi untuk menginspirasi orang Israel yang telah dikalahkan, dia mendirikan sebuah batu untuk mengenang kemenangan dan menamakannya Eben-Haezer. Tempat Eben-Haezer ini adalah tempat orang Israel dikalahkan terakhir kali, dan Tabut Perjanjian ditawan di sana (4:1). Tujuan Samuel mendirikan batu sebagai tugu peringatan bukan hanya untuk mengenang kemenangan, tetapi yang lebih penting, untuk menginspirasi bangsa Israel agar percaya bahwa Allah menolong mereka mengatasi kekalahan di masa lalu. Dengan kata lain, gagal di sana (Eben-Haezer), berdiri lagi di sana. Di masa lalu, para tua-tua Israel berkemah di tempat Eben-Haezer , mengeluh bahwa Allah telah membuat mereka dikalahkan di depan musuh mereka (4:3), tetapi Samuel ingin mengingatkan orang Israel untuk selalu mengingat bahwa TUHAN telah selalu menjadi penolong kita (artinya Eben-Haezer adalah Sampai di sini TUHAN menolong kita).

Renungkan:
Orang-orang yang menjadi milik Allah mengalami kegagalan, dan tidak mudah untuk memulai lagi, tentu saja karena mereka lumpuh oleh pengalaman kegagalan, tetapi yang lebih penting, iman mereka kepada Allah telah hilang sama sekali. Hanya dengan menyalakan kembali harapan kepada Allah dan percaya bahwa Allah adalah pertolongan kita, kita dapat keluar dari bayang- bayang kegagalan dan mengambil langkah baru dalam hidup.


Renungan pemahaman Kitab 1, 2 Samuel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab 1, 2 Samuel ditulis oleh Rev. Dr. Fung Yiu-wing (馮耀榮) dipublikasi pada bulan April 2014 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Samuel 5:4-5

Tidak menginjak ambang pintu kuil Dagon

Oleh Rev. Dr. Fung Yiu-wing (馮耀榮)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Samuel 5:4-5 [ITB])
1 Sesudah orang Filistin merampas tabut Allah, maka mereka membawanya dari Eben-Haezer ke Asdod. 2 Orang Filistin mengambil tabut Allah itu, dibawanya masuk ke kuil Dagon dan diletakkannya di sisi Dagon.
3 Ketika orang-orang Asdod bangun pagi-pagi pada keesokan harinya, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN; lalu mereka mengambil Dagon dan mengembalikannya ke tempatnya.
4 Tetapi ketika keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN, tetapi kepala Dagon dan kedua belah tangannya terpenggal dan terpelanting ke ambang pintu, hanya badan Dagon itu yang masih tinggal. 5 Itulah sebabnya para imam Dagon dan semua orang yang masuk ke dalam kuil Dagon tidak menginjak ambang pintu rumah Dagon yang di Asdod, sampai hari ini.

Tabut TUHAN ditawan dan ditempatkan di kuil Dagon oleh orang Filistin. Meskipun bangsa Israel dikalahkan oleh bangsa-bangsa lain, ironisnya, berhala-berhala mereka tidak sebanding dengan tabut Allah, kepala serta kedua belah tangan Dagon patah terpenggal dan terpelanting ke ambang pintu. Akan tetapi, orang Filistin tidak karena hal ini sehingga memandang rendah berhala-berhala mereka, sebaliknya menghormati berhala-berhala mereka, ketika mereka memasuki kuil untuk beribadah, mereka tidak menginjak tempat-tempat di mana penggalan berhala-berhala mereka telah dipatahkan, dan tempat-tempat di mana mereka gagal malahan menjadi tempat-tempat suci (… semua orang yang masuk ke dalam kuil Dagon tidak menginjak ambang pintu rumah Dagon yang di Asdod ayat 5, lihat BIMK Itulah sebabnya, sampai hari ini para imam dewa Dagon dan semua penyembahnya di Asdod melangkahi ambang pintu kuil Dagon itu dan tidak menginjaknya).

Penulis Alkitab dengan jelas dan teliti menggambarkan tubuh Dagon yang patah di ambang pintu, yang pada awalnya tampak menjadi ejekan besar terhadap orang-orang non Yahudi dan berhala-berhala asing. Namun, penulis Alkitab segera menambahkan kebiasaan orang Filistin memasuki kuil untuk beribadah, yang mengingatkan kita bahwa penulis Alkitab menggunakan kesalehan bangsa-bangsa asing untuk menegur orang-orang dan tua-tua Israel pada waktu itu tidak tahan uji kekalahan sementara dan tidak sungguh-sungguh introspeksi kesalahan mereka sendiri, malahan mereka menyalahkan Allah karena menyebabkan mereka kalah di hadapan bangsa-bangsa lain (4:3).

Renungkan:
Kisah ini sekali lagi membuktikan bahwa menghadapi kegagalan adalah kesempatan terbaik untuk menunjukkan kesalehan sejati. Para imam Dagon dan semua orang yang memasuki kuil Dagon di Asdod mengungkapkan penghormatan mereka terhadap berhala dengan tindakan nyata; orang-orang Israel dan para tetua mereka malah menjadi bahan pengajaran yang negatif. Kegagalan itu menakutkan, tetapi lebih tragis lagi bahwa orang tidak bisa belajar dari kegagalan atau belajar dari sejarah.


Renungan pemahaman Kitab 1, 2 Samuel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab 1, 2 Samuel ditulis oleh Rev. Dr. Fung Yiu-wing (馮耀榮) dipublikasi pada bulan April 2014 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Samuel 4:19-21

Tidak menaruh di dalam hati

Oleh Rev. Dr. Fung Yiu-wing (馮耀榮)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Samuel 4:19-21 [ITB])
19 Adapun menantunya perempuan, isteri Pinehas, sudah hamil tua. Ketika didengarnya kabar itu, bahwa tabut Allah telah dirampas dan mertuanya laki-laki serta suaminya telah mati, duduklah ia berlutut, lalu bersalin, sebab ia kedatangan sakit beranak. 20 Ketika ia hampir mati, berkatalah perempuan-perempuan yang berdiri di dekatnya: Janganlah takut, sebab engkau telah melahirkan seorang anak laki-laki. Tetapi ia tidak menjawab dan tidak memperhatikannya. 21 Ia menamai anak itu Ikabod, katanya: Telah lenyap kemuliaan dari Israel— karena tabut Allah sudah dirampas dan karena mertuanya dan suaminya.

Kitab 1 Samuel dimulai dengan kisah dua wanita melahirkan: Hana melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Samuel, arti nama ini adalah mengenang anak laki-laki yang ia minta dari Allah (1:20); menantu imam Eli, istri Pinehas, juga melahirkan seorang putra, dan ibu ini yang namanya tidak tercatat dalam Alkitab, menamai putranya Ikabod, untuk mengenang tabut Allah sudah dirampas dan Telah lenyap kemuliaan dari Israel (Ikabod dalam bahasa Ibrani berarti kemuliaan).

Tabut Allah menempati posisi yang sangat penting dalam iman orang Israel. Sejak Musa membangun tabut sesuai dengan kehendak Allah, tabut yang ditempatkan di kemah pertemuan selalu mewakili kehadiran penyertaan Allah dengan orang Israel. Kitab 1 Samuel mencatat bahwa tabut Allah ditawan oleh bangsa-bangsa asing, untuk memperingati peristiwa menyakitkan ini, penulis Alkitab menggambarkan wanita yang melahirkan seorang bayi, tidak menaruh dalam hati tentang putranya, dan dalam menjelang kematian ia berkabung untuk kemuliaan Allah. Dibandingkan dengan Hana yang mendapatkan anugerah anak laki-laki, menantu perempuan imam Eli lebih mencerminkan perubahan drastis keadaan Israel pada waktu itu!

Sepanjang sejarah, para wanita Israel selalu mengejar melahirkan anak laki-laki sebagai impian mereka dalam hidup — Sarah, Ribka, Lea, dan Rahel, istri para bapa leluhur ini merupakan contoh kerinduan memiliki anak laki-laki, merupakan potret dari setiap wanita Israel (termasuk Hana, ibu Samuel, tentu saja). Bukankah para wanita yang berdiri di samping menantu perempuan Eli, mereka yang mengutamakan anak laki-laki, adalah datang untuk menghibur ibu yang menderita ini? (mertuanya laki-laki serta suaminya telah mati) Namun, dia menolak untuk dihibur dan tidak mengambil hati tentang putranya, percaya bahwa dia bukan dalam kesengajaan hendak menumbangkan pemikiran tradisional wanita Israel, dan lebih mungkin bahwa tempat Allah di hatinya tidak dapat digantikan oleh apa pun di dunia.

Hana dengan sungguh-sungguh berdoa mendapatkan seorang putra mengungkapkan kesalehannya; menantu perempuan imam Eli tidak menaruh hati telah memiliki seorang putra, lebih mencerminkan doa Hana atas pengabdiannya yang mutlak kepada Allah: Tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita (2:2).

Renungkan:
Eli digantikan oleh Samuel, rela menerima hukuman malah menjadi contoh menghormati kehendak Allah. Menantu perempuan Eli, yang berada dalam keluarga terkutuk, bisa menjadi contoh tertinggi dari hormat takut akan Allah seperti yang disebutkan dalam doa himne Hana. Pengalaman buruk Eli dan istri Eli hanya mengingatkan kita bahwa kegagalan dan ketidakberuntungan hidup bukanlah jalan buntu, dan kita masih bisa menghadapi berbagai situasi dalam hidup dengan penuh hormat takut akan Allah.


Renungan pemahaman Kitab 1, 2 Samuel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab 1, 2 Samuel ditulis oleh Rev. Dr. Fung Yiu-wing (馮耀榮) dipublikasi pada bulan April 2014 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Samuel 3:17-18

Biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik

Oleh Rev. Dr. Fung Yiu-wing (馮耀榮)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Samuel 3:17-18 [ITB])
17 Kata Eli: Apakah yang disampaikan-Nya kepadamu? Janganlah kausembunyikan kepadaku. Kiranya beginilah Allah menghukum engkau, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika engkau menyembunyikan sepatah katapun kepadaku dari apa yang disampaikan-Nya kepadamu itu. 18 Lalu Samuel memberitahukan semuanya itu kepadanya dengan tidak menyembunyikan sesuatupun. Kemudian Eli berkata: Dia TUHAN, biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik.

Samuel dibesarkan dan dididik di bawah imam Eli, tetapi TUHAN menggunakan siswa muda ini untuk menyampaikan kepada gurunya pesan kutukan yang akan menghukum keluarganya, dan siswa ini akan menggantikan keluarganya menjadi imam yang setia kepada TUHAN (2:35). Dihukum oleh TUHAN, dan penyampainya adalah muridnya sendiri, betapa memalukannya ini, dan bagaimana Eli harus menghadapinya?

Membuat orang tidak terduga, Eli tidak menunjukkan perlawanan apa pun, tetapi mengucapkan kalimat terkenal yang sebanding dengan penghormatan Hana kepada Allah (2:2): Dia TUHAN, biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik. Hana hormat takut akan Allah, dan setelah bertahun-tahun bersungguh-sungguh doa, dia diberkati oleh Allah untuk melahirkan Samuel, dan mendedikasikannya kepada Allah untuk melayani Dia sepanjang hidupnya. Imam Eli gagal dalam tugasnya dan tidak mendisiplinkan kedua putra imamnya dengan benar, yang mengakibatkan hukuman Allah. Hana yang diberkati dan Eli yang dihukum memiliki kontras yang mencolok antara yang baik dan yang jahat, berkat dan hukuman memiliki jalan yang berbeda, sehingga memudahkan orang untuk belajar dari contoh dari yang pertama dan menghindari pelajaran yang kedua.

Namun jika direnungkan baik-baik, dalam hal menaati kehendak Allah tentu saja mudah bagi manusia untuk menerima berkat yang diberikan Allah, tetapi harus lebih sulit lagi untuk menaati kehendak hukuman Allah. Meskipun Eli bersalah dalam mendisiplinkan putranya, dia telah mengajar Samuel untuk menanggapi panggilan Allah, dengan mengatakan, Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar (3:9) Eli mendengar kutukan Allah dari mulut Samuel, dan mampu mengajar Samuel dengan contoh: Dia TUHAN, biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik.

Renungkan:
Ketika hidup menghadapi bencana dan berkat, kita harus merenungkan kesalahan kita sendiri. Orang yang takut akan Allah harus belajar dari teladan Eli dan bersedia menghormati kehendak Allah. Jangan buang waktu sekadar menyesali, tetapi dengan berani hadapi konsekuensi dari kesalahan. Jika kita pernah tidak dapat memuliakan Allah, namun jangan melawan disiplin Allah dan semakin kehilangan kesaksian kita. Ingatlah bahwa walaupun hidup yang sukses adalah suatu kegembiraan, menghadapi konsekuensi dari kegagalan juga merupakan kesempatan yang baik untuk mengungkapkan rasa hormat takut akan Allah.


Renungan pemahaman Kitab 1, 2 Samuel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab 1, 2 Samuel ditulis oleh Rev. Dr. Fung Yiu-wing (馮耀榮) dipublikasi pada bulan April 2014 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Samuel 1:17-18

Mukanya tidak muram lagi

Oleh Rev. Dr. Fung Yiu-wing (馮耀榮)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Samuel 1:17-18 [ITB])
17 Jawab Eli: Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya. 18 Sesudah itu berkatalah perempuan itu: Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu. Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi.

Kisah Hana adalah model doa yang dijawab, setelah bertahun-tahun berdoa, mengalami kesulitan, akhirnya melihat pemeliharaan Allah dan melahirkan Samuel seorang nabi besar Perjanjian Lama. Setelah itu, himne pujian Hana tentang kemuliaan Allah (2:1-10) sama terkenalnya dengan himne Maria dalam Perjanjian Baru (Lukas 1:46-56).

Harapan setiap orang percaya untuk mendapatkan jawaban doa. Jika apa yang kita impikan menjadi kenyataan suatu hari, kita akan, seperti Hana, bersukacita dan menyanyikan pujian bagi Allah yang telah memenuhi impian kita.

Banyak yang harus kita pelajari dari teladan doa Hana. Pertama-tama, dia bertekun terus berdoa dan tidak mudah melepaskan apa yang dia impikan. Meskipun suaminya mengeluh bahwa dia tidak menerima kenyataan kemandulan dan mengabaikan cintanya (1:8), Hana tidak terpengaruh, ia terus menangis dan berdoa di hadapan TUHAN. Tindakannya yang terus-menerus dan doa yang sungguh-sungguh bahkan disalahartikan oleh imam Eli sebagai tindakan mabuk dan bejat (1:14). Dipertanyakan dan diragukan orang lain, akan dengan mudah menggoyahkan iman doa kita yang bersungguh-sungguh, tetapi Hana telah menjadi panutan kita, baik celaan dari kerabat maupun kesalahpahaman dari orang asing tidak mengurangi ketekunannya.

Doa Hana menjadi kenyataan, ia tidak hanya datang kembali kepada Allah untuk menyanyikan pujian, tetapi dia juga berjanji nazar untuk mempersembahkan Samuel kepada TUHAN (1:27). Ketekunan dalam doa dan nazar, inilah keutamaan Hana memuliakan Allah. Yang lebih langka lagi, setelah penantian yang panjang dan menyakitkan bagi Hana, momen transformasinya bukan saat ia hamil dan melahirkan, melainkan saat imam Eli meminta Allah mengabulkan permintaannya, Hana langsung meletakkan beban dari masa lalu dan pergi makan.Tidak ada lagi kesedihan di wajahnya. Kenyataan dan fakta belum terjadi, hanya mendapat janji, Hana segera diubahkan, ini adalah manifestasi iman yang mengagumkan!

Renungkan:
Manusia memiliki mimpi dan harapan untuk mewujudkannya. Dalam proses mengejar mimpi, mereka mendambakan anugerah Allah dan diubahkan karena janji-Nya. Dalam proses mencari, ini terkadang lebih berharga dari apa yang kita doakan.


Renungan pemahaman Kitab 1, 2 Samuel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab 1, 2 Samuel ditulis oleh Rev. Dr. Fung Yiu-wing (馮耀榮) dipublikasi pada bulan April 2014 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Samuel 1:8

Bukankah aku lebih berharga dari pada sepuluh anak laki-laki?

Oleh Rev. Dr. Fung Yiu-wing (馮耀榮)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Samuel 1:8 [ITB])
5 Meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan kepada Hana hanya satu bagian, sebab TUHAN telah menutup kandungannya. 6 Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya. 7 Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan.
8 Lalu Elkana, suaminya, berkata kepadanya: Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?

Meskipun Hana mandul, tetapi setiap tahun Elkana suaminya memberinya dua kali lipat daging korban untuk menunjukkan cintanya kepadanya (1:5, CUV atau NET But to Hannah he would give a double portion, because he loved Hannah). Suami tidak hanya berusaha menebus kesedihan ketidaksuburan istrinya dengan hal-hal materi, tetapi ketika dia melihat istrinya menangis karena disakiti orang, dia bahkan sangat ingin menghiburnya, bertanya mengapa dia menangis, tidak makan, dan bersedih hati. Alkitab mencatat bahwa Ishak mencintai istrinya Ribka, dan Yakub mencintai istrinya Rahel, tetapi Elkana adalah suami yang pertama tercatat dalam Alkitab yang mencintai istrinya dan mengambil inisiatif untuk bertanya memperhatikan perasaan istrinya. Meskipun Hana kurang beruntung mandul, tetapi memiliki suami yang mencintainya seperti ini termasuk beruntung dalam hidup. Sebenarnya, Elikanah juga secara sadar bahwa ia memperlakukan istrinya dengan baik, mengingatkan Hana bahwa memiliki Elikanah adalah lebih baik daripada sepuluh anak laki-laki.

Sayangnya, Hana bukan saja tidak menanggapi dan berdiam diri terhadap penghiburan suaminya, tetapi juga seorang diri menangis tersedu-sedu di hadapan TUHAN (1:10). Apakah Hana terlalu egois untuk mengabaikan perhatian suaminya? Apakah adalah perhatian sang suami, tampaknya merupakan perhatian di permukaan saja, tetapi di dalam hati penuh dengan sungut-sungut terhadap istrinya? Paruh pertama kalimat prihatin tentang istrinya menangis, tidak makan, dan suasana hatinya yang suram; paruh kedua kalimat menunjukkan bahwa dia merupakan jawaban atas masalah yang mengganggu Hana ── bukankah lebih baik memiliki suami daripada memiliki sepuluh anak laki-laki. Apakah ini penghiburan yang ramah? Atau sindiran menyalahkan? Itu tergantung pada apakah nada suara Elkanah lembut atau mencela, tetapi menilai dari reaksi istrinya yang menangis dan terdiam, sepertinya yang belakang lebih mungkin dari yang pertama! Bagi Hana, ucapan penghiburan sang suami berubah menjadi sindiran yang mempertanyakan bahwa sang istri tidak menempatkan suaminya di dalam hati.

Renungkan:
Memang benar bahwa kita melakukan yang terbaik untuk peduli dan berbela sungkawa ketika orang yang kita cintai menderita, tetapi kita harus berempati daripada mencoba memberikan jawaban yang gampangan. Tentu saja, tidak boleh seperti Elikanah, yang menganggap kontribusi kebaikannya lebih penting daripada permasalahan orang lain.


Renungan pemahaman Kitab 1, 2 Samuel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab 1,2 Samuel ditulis oleh Rev. Dr. Fung Yiu-wing (馮耀榮) dipublikasi pada bulan April 2014 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.