Tag Archives: Injil Matius

Matius 4:1 (1)-PraPaskah

「Pra-Penderitaan」

Oleh Rev. Dr. Chén Wéi Ān (陳韋安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 4:1 [TB2])
1 Lalu Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis

Catatan tentang Yesus Kristus dicobai di padang gurun tidak diragukan lagi merupakan bab penting dalam perjalanan iman. Kisah ini bukan saja menjadi catatan sejarah, tetapi juga menjadi cermin bagi kita untuk senantiasa merenungkan diri dan bertumbuh dalam iman. Saat kita memasuki masa Prapaskah, masa ini menjadi kesempatan bagi kita untuk merenungkan secara mendalam penderitaan Kristus. Empat puluh hari Yesus di padang gurun sama seperti empat puluh hari orang percaya di masa Prapaskah. Periode waktu ini diisi oleh orang percaya dengan makna puasa, doa, dan pertobatan.

Tetapi, mari kita kembali ke pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa orang Kristen harus bersusah payah (mencari kesulitan untuk diri mereka sendiri)? Apa pentingnya penderitaan bagi iman kita? Sesungguhnya, dalam tradisi spiritual Kristen, asketisme pernah menjadi tradisi spiritual yang penting. Penderitaan itu sendiri mungkin tidak memiliki makna fungsional langsung, tetapi merupakan persiapan bagi manusia untuk meninggalkan belitan dunia sekuler. Oleh karena itu, kata pra-penderitaan menangkap makna spiritual: bukan persiapan untuk penderitaan, tetapi penderitaan sebagai persiapan. Pengalaman Yesus Kristus di padang gurun adalah contoh terbaik dari pelatihan rohani semacam ini.

Empat puluh hari Yesus Kristus dicobai di padang gurun, dicatat dalam Matius, Markus, dan Lukas. Masing-masing dari ketiga Injil memiliki perspektif dan wawasan yang berbeda, yang akan kita nikmati perlahan-lahan. Pengalaman rohani yang istimewa ini bukan hanya merupakan ujian bagi kehidupan pribadi Yesus, tetapi juga merupakan refleksi iman kita masing-masing. Selama perjalanan di padang gurun ini, Yesus menghadapi cobaan-cobaan besar. Cobaan-cobaan ini bukan hanya tantangan terhadap tubuh daging-Nya, tetapi juga ujian bagi iman dan misi-Nya. Cobaan-cobaan tersebut sama halnya dengan berbagai tantangan dan kesulitan yang kita hadapi dalam hidup. Yesus memilih untuk menghadapi cobaan-cobaan ini di padang gurun dan mengatasinya dengan iman dan kebijaksanaan-Nya, yang memberi kita contoh bagaimana mengandalkan kekuatan iman untuk mengatasi pencobaan.

Masa Prapaskah merupakan waktu bagi kita untuk merenung dan melakukan introspeksi. Kita seharusnya tidak sekadar merenungkan pengalaman Yesus di padang gurun, tetapi juga mengubah pengalaman ini menjadi kekuatan dalam hidup kita. Waktu ini memberi kita kesempatan untuk memeriksa kembali iman kita dan menemukan makna hidup di tengah kesulitan atau pun penderitaan. Saya percaya bahwa apa yang disebut sebagai spiritualitas adalah perjalanan panjang yang di dalamnya terdapat kehidupan, iman, dan penderitaan yang saling teranyam berkaitan.

Oleh karena itu, marilah kita mempersiapkan diri dan merenungkan masa penderitaan ini. Masa penderitaan ini merupakan makin mempererat hubungan kita dengan Tuhan. Masa penderitaan ini memampukan kita untuk lebih teguh dan berani menghadapi dunia yang agak pahit ini.

Refleksi:
Apakah Anda merasa hidup Anda pahit akhir-akhir ini? Sebaliknya, anggaplah itu sebagai persiapan untuk hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Injil Matius

Renungan Injil Matius Pra-Pasakah 2025 (Matius 4:1-11)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Yesus ditulis oleh Rev. Dr. Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan April 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Matius 28:1-10

「Kebangkitan penuh pengharapan」

Oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 28:1-10 [ITB])
1 Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. 2 Tiba-tiba terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit datang ke batu penutup itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. 3 Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. 4 Penjaga-penjaga itu pun gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati. 5 Akan tetapi, malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu, Janganlah takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. 6 Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia dibaringkan. 7 Segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya, aku telah mengatakannya kepadamu. 8 Mereka segera pergi dari kubur itu dengan takut dan sukacita yang besar, dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. 9 Tiba-tiba Yesus menjumpai mereka dan berkata, Salam bagimu. Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. 10 Kata Yesus kepada mereka, Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.

Matius 28:1-10 mencatat peristiwa kebangkitan Yesus dari kematian. Yesus mati di kayu salib dan tubuh-Nya diletakkan dalam kuburan. Bagi mereka yang dekat dengan Yesus, hari-hari itu adalah hari-hari yang paling tidak berdaya dan kelam. Setelah hari Sabat, pagi-pagi sekali Maria Magdalena dan Maria yang lain datang ke kuburan di mana tubuh Yesus diletakkan. Tiba-tiba bumi berguncang, dan malaikat Tuhan turun dari surga, menggulingkan batu itu, dan mengumumkan kepada mereka: Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Malaikat itu juga menyuruh mereka untuk menyampaikan kabar baik kepada murid-murid-Nya dan bahwa Yesus akan menemui mereka di Galilea.

Dengan rasa takut dan sukacita yang besar, para wanita itu berlari pergi memberi tahu para murid, di perjalanan mereka bertemu dengan Yesus yang telah bangkit. Yesus berkata kepada mereka, Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku. Bagian ini menunjukkan kuasa Allah dalam kebangkitan Yesus, Ia mengalahkan kematian dan membawa harapan hidup kekal.

Kebangkitan Yesus memproklamirkan kemenangan-Nya atas kematian dan memberikan harapan hidup kekal kepada semua orang percaya. Ini bukanlah doktrin abstrak, namun fakta yang mengubah hidup. Dalam menghadapi kematian dan kesulitan, kita dapat memiliki jaminan kebangkitan Kristus. Sebesar apa pun tantangannya, kuasa Tuhan akan membawa kita keluar dari kegelapan dan menuju terang. Memang benar bahwa masing-masing dari kita memutuskan untuk percaya kepada Tuhan pada waktu yang berbeda-beda. Selama bertahun-tahun beriman, kita telah mendengar banyak peristiwa dalam Alkitab dan berulang kali membaca catatan tentang kebangkitan Yesus, tetapi marilah bertanya kepada diri kita apakah saya benar-benar percaya kebangkitan tubuh Yesus? Marilah bertanya lagi, apa hubungannya kebangkitan Yesus dengan diri saya? Apa dampaknya bagi saya? Pengakuan iman ini sebenarnya sangat penting, karena jika kita mempunyai pengakuan ini, maka pengharapan akan kebangkitan ini akan menjadi motivasi dan sumber kekuatan bagi tindakan dalam kehidupan iman kita.

Transformasi para wanita ini dari rasa takut menjadi sukacita mengingatkan kita bahwa iman akan kebangkitan harus dipenuhi dengan harapan. Betapapun sulitnya hidup, kuasa Tuhan dapat mendatangkan pembaharuan hidup, sehingga manusia dapat menghadapi kesulitan yang ada dihadapannya dengan penuh pengharapan. Apakah kita bersedia membuka hati kita dan membiarkan kuasa kebangkitan Tuhan bekerja dalam hidup dan mengubah ketakutan dan kesulitan kita? Kiranya kita menjalani setiap hari dengan iman kebangkitan dan menjadi kesaksian tentang kasih dan kuasa Kristus.

Refleksi Iman:
1. Kebangkitan Yesus menunjukkan kemenangan-Nya atas kematian dan membawa jaminan hidup kekal. Bagaimana harapan ini mengubah cara kita berpikir mengenai tujuan dan prioritas hidup kita?

2. Kebangkitan Yesus membawa jaminan hidup kekal dan kemenangan atas ketakutan akan kematian. Apakah kita masih takut akan kematian atau ketidakpastian?


Renungan pemahaman Injil Matius (Januari 2025)

Renungan pemahaman Injil Matius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Matius ditulis oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡) yang dipublikasi pada bulan Januari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Matius 27:11-54

「Kristus yang mengalami penderitaan」

Oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 27:11-54 [ITB])
11 Ketika Yesus berdiri dihadapkan kepada gubernur, gubernur itu bertanya kepada-Nya, Engkaukah raja orang Yahudi? Jawab Yesus, Engkau sendiri mengatakannya.
12 Ketika tuduhan terhadap Dia diajukan oleh imam-imam kepala dan tua-tua, Ia tidak menjawab sepatah kata pun. 13 Lalu kata Pilatus kepada-Nya, Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau? 14 Namun, Ia tidak menjawab sepatah kata pun, sehingga gubernur itu sangat heran.
15 Telah menjadi kebiasaan bagi gubernur untuk membebaskan satu orang tahanan pada tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak. 16 Pada waktu itu ada seorang tahanan yang terkenal bernama Yesus Barabas. 17 Ketika mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka, Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus yang disebut Kristus? 18 Ia sudah mengetahui bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki. 19 Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, istrinya mengirim pesan kepadanya, Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.
20 Namun, imam-imam kepala dan tua-tua menghasut orang banyak untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati. 21 Gubernur itu berkata kepada mereka, Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu? Kata mereka, Barabas. 22 Kata Pilatus kepada mereka, Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus? Mereka semua berseru, Ia harus disalibkan! 23 Katanya, Namun, kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya? Mereka malahan makin keras berteriak, Ia harus disalibkan!
24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, bahkan sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata, Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri! 25 Seluruh rakyat itu menjawab, Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami! 26 Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus dicambuknya lalu diserahkannya untuk disalibkan.
27 Kemudian serdadu-serdadu gubernur membawa Yesus ke istana gubernur, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. 28 Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah merah kepada-Nya. 29 Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olok Dia, katanya, Salam, hai raja orang Yahudi! 30 Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. 31 Sesudah mengolok-olok Dia mereka menanggalkan jubah dari-Nya dan mengenakan lagi pakaian-Nya kepada-Nya. Serdadu-serdadu membawa Dia ke luar untuk disalibkan.
32 Ketika mereka berjalan ke luar kota, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang bernama Simon. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.
33 Mereka sampai di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak. 34 Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya. 35 Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi. 36 Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia. 37 Di atas kepala-Nya mereka memasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum, Inilah Yesus Raja orang Yahudi.
38 Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya.
39 Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, 40 mereka berkata, Hai Engkau yang mau meruntuhkan Bait Suci dan membangunnya kembali dalam tiga hari, jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu dan selamatkanlah diri-Mu! 41 Demikian juga imam-imam kepala bersama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olok Dia dan berkata, 42 Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Bukankah Ia Raja Israel? Biarlah Ia turun dari salib itu, maka kami akan percaya kepada-Nya. 43 Ia mempercayakan diri-Nya kepada Allah; biarlah Allah menyelamatkan Dia sekarang, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku Anak Allah. 44 Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama Dia juga mencela-Nya demikian juga.
45 Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. 46 Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring, Eli, Eli, lama sabakhtani? Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? 47 Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata, Ia memanggil Elia. 48 Segera seorang dari mereka datang; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu melilitkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum. 49 Namun, orang-orang lain berkata, Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia. 50 Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.
51 Lihatlah, tabir Bait Suci terkoyak menjadi dua dari atas sampai ke bawah. Terjadilah gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah. 52 Kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal dibangkitkan. 53 Sesudah kebangkitan Yesus, mereka keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.
54 Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata, Sungguh, Orang ini Anak Allah.

Matius 27:11-54 mencatat persidangan dan penyaliban Yesus. Ketika Yesus dituduh di hadapan Pilatus, Dia tidak membela diri, menunjukkan ketenangan dan ketaatan-Nya. Untuk menenangkan masyarakat, Pilatus melepaskan Barabas dan menyerahkan Yesus kepada para prajurit. Yesus diejek, dihina, dicambuk, dan akhirnya memikul salib-Nya sendiri ke Golgota.

Di kayu salib, Yesus diejek oleh orang banyak dan para pemimpin agama, tetapi Dia menanggung semua penderitaan itu dalam kebisuan dan diam. Sebelum meninggalkan dunia ini, Dia berseru dengan lantang: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Ini mengungkapkan rasa sakit penderitaan dan kesepian yang luar biasa ketika menanggung dosa umat manusia. Setelah Yesus meninggalkan dunia, tabir tempat kudus terbelah, melambangkan pembatas antara manusia dan Allah telah diruntuhkan oleh pengorbanan-Nya. Perwira yang melihat gempa bumi dan berbagai penglihatan, mengenali Yesus sebagai Anak Allah.

Pengorbanan Yesus di kayu salib mengingatkan kita bahwa harga dosa sedemikian berat. Penderitaan-Nya bukan sekadar sebuah peristiwa sejarah, tetapi juga merupakan tindakan penebusan dosa seluruh umat manusia. Benar bahwa setiap tetes darah-Nya dan setiap penderitaan Yesus adalah menanggung akibat dosa bagi kita. Kasih-Nya memanggil kita untuk bertobat, meninggalkan dosa, dan bergerak menuju terang Tuhan. Saat ini, apakah kita masih menganggap rendah dosa kita, berpikir bahwa itu tidak penting? Kepekaan terhadap dosa berkaitan dengan pemahaman seseorang terhadap ajaran Alkitab dan apakah seseorang memiliki rasa hormat dan takut terhadap Tuhan.

Kompromi Pilatus dan ejekan orang banyak menunjukkan kejatuhan dan keberdosaan hati manusia. Hal ini juga membuat kita berpikir bahwa ketika kita menghadapi godaan dan kesulitan, terutama ketika itu menyangkut merugikan orang lain, sebenarnya kita tahu jauh di lubuk hati apa yang benar dan salah. Namun, apakah kita memilih untuk berkompromi dan menghindari keadilan karena tekanan massa, dan terserat ikut merugikan orang lain? Sengsara Yesus mengajarkan kepada kita bahwa dosa mempunyai harga besar yang harus dibayar, dan Dialah yang menanggung semuanya itu bagi kita. Sebagai murid-Nya, kita hendaknya berhati-hati dalam perkataan dan perbuatan, mengandalkan rahmat-Nya untuk menjauhi dosa, dan menjalani kehidupan yang kudus.

Robeknya tabir Bait Suci melambangkan rekonsiliasi antara Allah dan manusia, dengan demikian kita tidak lagi terpisah dari Allah karena dosa. Hendaknya kita menghargai anugerah ini, sering menghampiri Tuhan, dan menyaksikan kasih dan penebusan Kristus kepada dunia dengan hati yang bersyukur dan bertobat.

Refleksi Iman:
1. Kompromi Pilatus dan ejekan orang banyak menyingkapkan sifat berdosa dari hati manusia dan penolakan manusia terhadap keadilan. Apakah kita pernah putus asa untuk melakukan hal yang benar karena keadaan atau tekanan kelompok?

2. Seruan Yesus di kayu salib, Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? menunjukkan keterisolasian dan kepedihan-Nya dalam menanggung dosa. Apakah kita pernah dalam situasi sulit merasakan keterbisuan Allah (seakan-akan Allah tidak peduli terhadap kita)?


Renungan pemahaman Injil Matius (Januari 2025)

Renungan pemahaman Injil Matius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Matius ditulis oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡) yang dipublikasi pada bulan Januari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Matius 25:31-46

「Tindakan konkret dari kasih」

Oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 25:31-46 [ITB])
31 Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama Dia, Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. 32 Semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing. 33 Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. 34 Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. 35 Sebab, ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. 37 Lalu orang-orang benar itu akan menjawab Dia: Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 38 Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 39 Kapan kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? 40 Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. 41 Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. 42 Sebab, ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; 43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak menjenguk Aku. 44 Mereka pun akan menjawab: Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? 45 Ia akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. 46 Orang-orang ini akan masuk ke tempat hukuman yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.

Dalam Matius 25:31-46, Yesus memberikan gambaran tentang Penghakiman Terakhir. Ketika Anak Manusia datang kembali dalam kemuliaan, Dia akan mengumpulkan semua bangsa-bangsa di hadapan-Nya, seperti seorang gembala memisahkan domba dari kambing. Domba ditempatkan di sebelah kanan dan kambing di sebelah kiri. Raja berbicara kepada domba di sebelah kanan dan kambing di sebelah kiri. Faktanya, baik domba maupun kambing percaya bahwa mereka tidak melakukan apa pun terhadap raja, tetapi standar raja adalah Segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Standar Kerajaan Allah adalah pengamalan kasih dalam kehidupan sehari-hari, bukan perilaku keagamaan secara lahiriah.

Perumpamaan Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa kasih bukanlah gagasan abstrak melainkan tindakan konkret. Iman yang sejati perlu ditunjukkan melalui praktik nyata kasih sayang, khususnya bagi orang-orang di sekitar kita yang paling kecil dan paling membutuhkan. Hal ini juga mencakup kepekaan terhadap perhatian dan pengambilan tindakan. Kristus menantang kita untuk menunjukkan kasih kita kepada-Nya dalam tindakan praktis, bukan sekadar kata-kata atau keyakinan formal. Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa gereja-gereja Kristen menjalankan pelayanan sosial yang berbeda-beda, yaitu karena gereja memandang orang-orang, atau bahkan kelompok, yang membutuhkan pertolongan, tetapi diabaikan oleh masyarakat.

Penghakiman memisahkan kambing di sebelah kiri mengingatkan kita bahwa ketidakpedulian dan pengabaian terhadap orang-orang yang membutuhkan juga merupakan dosa. Yesus menekankan bahwa Dia dinyatakan dalam diri kita yang terkecil dari saudara-saudara kita dan bahwa setiap tindakan atau kelambanan kita akan menjadi ujian iman. Ketika kita mengabaikan orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan karena kita sibuk atau acuh tak acuh, kita kehilangan kesempatan untuk berjalan bersama Kristus. Janganlah kita berpikir bahwa asalkan kita pergi ke gereja untuk beribadah setiap hari Minggu, kita sudah pasti menjadi domba di mata Tuhan. Namun, kenyataan sebenarnya domba pasti memiliki kehidupan seperti domba, ini akan terlihat dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kehidupan kecil hal-hal. Apakah kita mempunyai kesadaran dan hati ini?

Refleksi Iman:
1. Yesus berbicara tentang salah seorang dari yang paling hina ini. Apakah kita mengabaikan mereka yang terpinggirkan dalam masyarakat atau dalam kehidupan?
2. Apakah kita salah mengira bahwa mengikuti kegiatan keagamaan saja sudah cukup untuk mengungkapkan iman kita, tetapi mengabaikan tindakan konkret kasih dalam kehidupan sehari-hari?


Renungan pemahaman Injil Matius (Januari 2025)

Renungan pemahaman Injil Matius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Matius ditulis oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡) yang dipublikasi pada bulan Januari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Matius 25:14-30

「Hamba yang setia」

Oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 25:14-30 [ITB])
14 Sebab, Kerajaan Surga seumpama seorang yang mau bepergian ke luar negeri. Ia memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. 15 Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua, dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. 16 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. 17 Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan beroleh laba dua talenta. 18 Namun, hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. 19 Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. 20 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta Tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. 21 Kata tuannya itu kepadanya: Bagus, hai hambaku yang baik dan setia! Engkau telah setia dalam hal kecil; aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah ke dalam sukacita tuanmu. 22 Sesudah itu, datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta Tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. 23 Kata tuannya itu kepadanya: Bagus, hai hambaku yang baik dan setia! Engkau telah setia dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah ke dalam sukacita tuanmu. 24 Datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata, Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat Tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam. 25 Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta Tuan itu di dalam tanah. Ini, terimalah kepunyaan Tuan! 26 Tuannya itu menjawab: Hai hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat aku tidak menabur dan memungut dari tempat aku tidak menanam? 27 Kalau begitu, seharusnya uangku itu kauberikan kepada bankir, supaya pada waktu aku kembali, aku menerima milikku dengan bunganya. 28 Sebab itu, ambillah talenta itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. 29 Sebab, setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Namun, siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil darinya. 30 Tentang hamba yang tidak berguna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan di luar. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Matius 25:14-30, Yesus menggambarkan sebuah perumpamaan. Sang tuan membagi talenta di antara hamba-hambanya menurut kesanggupan masing-masing, yakni lima, dua, dan satu talenta. Hamba yang menerima lima dan dua talenta itu bekerja keras memanfaatkan uang itu sebaik-baiknya untuk meningkatkan nilai harta titipan, dan mendapat pujian dari tuannya: Bagus, hai hambaku yang baik dan setia! … Masuklah ke dalam sukacita tuanmu. Namun, hamba yang menerima satu talenta itu memilih untuk tidak berbuat apa-apa karena takut, dan hanya mengubur uang itu di dalam tanah, dan akhirnya mengembalikannya secara penuh. Dia akhirnya ditegur oleh tuannya karena malas dan tidak setia, kehilangan apa yang dimilikinya. dan ditolak dalam kegelapan.

Hamba yang menerima lima dan dua telenta mendengarkan instruksi tuannya dan memanfaatkan dengan baik apa yang diberikan tuannya, pada akhirnya mereka diberi imbalan. Sebaliknya hamba yang menerima satu talenta tidak memenuhi tanggung jawabnya untuk menggunakan talenta tersebut dengan baik. Terlebih lagi, ia tidak menyadari bahwa sebagai seorang hamba, ia harus memenuhi tanggung jawabnya kepada tuannya dan menjalankan tugasnya. Dan hamba yang gagal ini bahkan mengatakan bahwa tuannya kejam (tega hati), dia menuduh tuannya serakah atau memperalat tenaga kerja orang lain, menunjukkan rasa tidak puas terhadap tuannya. Alih-alih setia, ia menyalahkan diri tuannya atas kegagalannya sendiri. Pada akhirnya, hal ini menyebabkan sang tuan marah, bukan saja mengambil kembali satu talenta yang telah diberikan kepadanya, tetapi juga menyebutnya sebagai hamba yang jahat dan malas.

Ayat ini membuat kita berpikir secara mendalam, di mata Tuhan, apakah kita adalah hamba yang baik dan setia? Atau seorang hamba yang jahat dan malas? Berbagai rahmat dan karnuia yang Tuhan berikan kepada kita selalu memiliki maknanya masing-masing. Apakah kita menganggap apa yang Tuhan berikan sebagai milik kita dan tidak menggunakannya dengan baik untuk Tuhan? Kita tidak boleh lupa bahwa apa yang kita miliki, meskipun mengandung unsur usaha kita, sebenarnya adalah pemberian Tuhan. Jika apa yang Tuhan berikan kepada kita tidak digunakan dengan baik, lambat laun akan kehilangan makna dan nilainya. Tanggung jawab kita sebagai murid Kristus adalah berusaha sebaik mungkin memanfaatkan apa yang telah Tuhan berikan kepada kita, bukannya menutup-nutupinya dan membatasinya pada diri kita sendiri. Jika tanggung jawab ini tidak dipenuhi, maka seseorang adalah hamba yang tidak jahat dan malas.

Meskipun pelayanan Kerajaan Allah tidak dapat dinilai dari perspektif kinerja ilmu ekonomi dunia, tetapi di segala zaman perluasan Kerajaan Allah selalu disebabkan oleh orang-orang yang memberikan uang, waktu, bakat, hidup, dan bahkan nyawa mereka. Hari ini kita dapat mendengar Injil dan menerima kasih karunia Tuhan karena banyak orang sebelum kita melakukan tugas mereka dan memanfaatkan dengan baik apa yang Tuhan berikan kepada mereka. Namun, kita sebagai penerima kasih karunia, sudahkah kita memenuhi tanggung jawab kita, memberikan kontribusi dalam pekerjaan Kerajaan Surga, dan memanfaatkan sepenuhnya apa yang telah Tuhan berikan kepada kita untuk Kerajaan Allah? Hal ini bukan karena preferensi pribadi, tetapi taat mengikuti ajaran Tuhan. Kiranya kita tidak takut dan bimbang, tetapi setia menggunakan segala yang Tuhan berikan kepada kita untuk menghidupi kehendak-Nya.

Refleksi Iman:
1. Apakah kita benar-benar menyadari bahwa karunia dan sumber daya yang Tuhan berikan kepada kita adalah untuk kerajaan-Nya?
2. Sebagai orang Kristen, apakah kita secara sadar menjadi teladan, memberikan inspirasi dan membina orang lain (terutama generasi muda) dalam pelayanan Kerajaan Allah?


Renungan pemahaman Injil Matius (Januari 2025)

Renungan pemahaman Injil Matius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Matius ditulis oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡) yang dipublikasi pada bulan Januari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Matius 25:1-13

「Waspada siap sedia」

Oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 25:1-13 [ITB])
1 Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempelai laki-laki. 2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. 3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, 4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. 5 Karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. 6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Sambutlah dia! 7 Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. 8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. 9 Namun, jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli bagimu sendiri. 10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. 11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata, Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami! 12 Namun, ia menjawab: Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Aku tidak mengenal kamu. 13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya.

Matius 25:1-13 mencatat perumpamaan sepuluh gadis, menggambarkan keadaan Kerajaan Surga. Yesus berkata bahwa sepuluh gadis membawa pelitanya dan pergi menemui mempelai laki-laki, lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh. Gadis bijaksana menyiapkan pelita dan minyak yang cukup, sedangkan gadis bodoh hanya membawa pelitanya dan tidak menyiapkan minyak dalam jumlah banyak. Pelita di sini mungkin berupa lampu minyak kecil pada saat itu, atau bahkan bisa berupa obor. Singkatnya, minyak perlu terus ditambahkan untuk melanjutkan nyala api agar bersinar.

Mempelai laki-laki lama tidak datang-datang juga, dan semua gadis tertidur. Pada tengah malam, ketika mempelai laki-laki datang, gadis-gadis itu bangun dan mengemasi pelitanya. Gadis-gadis yang bodoh mendapati bahwa mereka tidak mempunyai cukup minyak, maka mereka meminta bantuan kepada gadis-gadis yang bijaksana. Tetapi meskipun gadis bijak menyiapkan minyak tambahan, tetapi jumlahnya hanya cukup untuk dirinya sendiri dan tidak cukup untuk dibagikan kepada orang lain, sehingga gadis-gadis bodoh harus pergi membelinya sendiri. Ketika mereka kembali, pesta pernikahan telah dimulai dan pintu ditutup, mencegah gadis-gadis bodoh itu masuk. Peringatan terakhir Yesus adalah: berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya.

Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk menekankan pentingnya mempersiapkan diri. Gadis-gadis bijaksana dapat masuk ke pesta karena persiapannya sudah matang, tetapi gadis-gadis bodoh tidak boleh ikut karena persiapannya kurang. Hal ini mengingatkan kita bahwa dalam masyarakat modern, kita sering disibukkan dengan berbagai urusan kehidupan, besar dan kecil, dan pengamalan kehidupan beriman semakin kabur. Peranan kehidupan beriman dalam kehidupan sehari-hari semakin mengecil, menjadi hiasan dalam hidup. Namun, apakah kita selalu berjaga-jaga dan mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan kembali? Ini adalah sesuatu yang perlu kita pikirkan.

Gadis-gadis yang bodoh akhirnya ditolak di luar pintu, sebuah peringatan yang harus kita renungkan. Dalam hidup kita, kita akan selalu menghadapi banyak hal yang tidak terduga. Hal-hal di luar dugaan merupakan hal yang tidak terpikirkan sebelumnya dan pasti dialami oleh setiap orang. Namun, ketika situasi tak terduga muncul, banyak keputusan penting dalam memilih dan pertumbuhan iman tidak dapat ditangani secara mendadak. Oleh karena itu, selalu waspada berjaga-jaga dalam iman dan selalu berpegang pada firman serta kasih Tuhan, agar kita selalu siap sedia. Baik untuk menghadapi kejadian yang tidak terduga maupun untuk menyambut kedatangan Tuhan, kiranya di jalan iman kita selalu mempersiapkan diri sesuai ajaran Alkitab. Jangan sampai di saat krusial diri sendiri gagal memasuki pintu kasih karunia.

Refleksi Iman:
1. Sementara mempelai laki-laki lama tidak datang-datang juga, semua gadis tertidur. Apakah ini mencerminkan bahwa kita terkadang kehilangan kewaspadaan karena kelambanan rohani? Bagaimana dalam kesibukan kita bisa selalu mengingatkan diri kita untuk tetap menjaga iman dan mempersiapkan hati?

2. Peringatan Yesus yang terakhir, Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya, menantang sikap kita terhadap kekekalan. Apakah kita sering berfokus pada kehidupan yang singkat ini dan mengabaikan persiapan kita untuk kehidupan kekal?


Renungan pemahaman Injil Matius (Januari 2025)

Renungan pemahaman Injil Matius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Matius ditulis oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡) yang dipublikasi pada bulan Januari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Matius 21:23-32

「Tindakan pertobatan」

Oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 21:23-32 [ITB])
23 Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya, Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu? 24 Jawab Yesus kepada mereka, Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. 25 Dari manakah baptisan Yohanes? Dari surga atau dari manusia? Mereka membahasnya di antara mereka, dan berkata, Jikalau kita katakan: Dari surga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapa kamu tidak percaya kepadanya? 26 Namun, jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap Yohanes ini nabi. 27 Lalu mereka menjawab Yesus, Kami tidak tahu. Yesus pun berkata kepada mereka, Jika demikian, Aku juga tidak akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.
28 Apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang satu dan berkata, Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini di kebun anggur. 29 Jawab anak itu: Aku tidak mau. Namun, kemudian ia menyesal dan pergi. 30 Lalu orang itu pergi kepada anak yang lain dan mengatakan hal yang sama. Anak itu menjawab: Baik, Bapa. Namun, ia tidak pergi. 31 Siapakah di antara keduanya yang melakukan kehendak ayahnya? Jawab mereka, Yang pertama. Kata Yesus kepada mereka, Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pemungut-pemungut cukai dan pelacur-pelacur mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. 32 Sebab, Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Namun, pemungut-pemungut cukai dan pelacur-pelacur percaya kepadanya. Kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.

Dalam Matius 21:23-32, ketika Yesus sedang mengajar di Bait Suci, para imam kepala dan tua-tua bertanya kepada-Nya tentang sumber kuasa-Nya: Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu? Yesus tidak menjawab secara langsung, tetapi bertanya kepada mereka apakah baptisan Yohanes Pembaptis berasal dari surga atau dari bumi. Para imam kepala dan tua-tua tidak berani mengungkapkan sikap mereka dengan jelas terhadap hal ini, dan akhirnya menjawab dengan mengatakan Kami tidak tahu.

Yesus kemudian menceritakan sebuah perumpamaan yang menggambarkan dua anak laki-laki: yang satu awalnya menolak permintaan ayahnya, namun kemudian bertobat dan pergi bekerja; yang lainnya secara lisan setuju tetapi tidak bertindak; Yesus mencatat bahwa bukan kata-kata, tetapi tindakan yang menunjukkan ketaatan sejati, Ia menyatakan bahwa pemungut pajak dan pelacur akan masuk Kerajaan Allah sebelum para pemimpin agama karena orang-orang itu bersedia bertobat dan menanggapi kehendak Allah. Teks tersebut menunjukkan bahwa otoritas sejati datang dari Allah, dan menekankan perlunya pertobatan serta tindakan, lebih daripada kata-kata palsu dan status agama.

Imam-imam kepala dan tua-tua nampaknya adalah pemimpin agama, tetapi mereka tidak memiliki wawasan rohani dan pertobatan yang sejati. Sebaliknya, pemungut pajak dan pelacur, meskipun oleh masyarakat dianggap sebagai orang-orang berdosa, tetapi menerima rahmat Tuhan karena kesediaan mereka untuk bertobat. Memang benar bahwa kadang-kadang orang yang tidak beriman bertindak lebih seperti orang Kristen dibandingkan orang Kristen. Terlebih lagi, orang-orang Kristen kadang-kadang menyerang orang-orang Kristen dengan lebih kejam daripada orang-orang non-Kristen yang menyerang orang-orang Kristen. Meskipun hal ini belum tentu merupakan fenomena umum, bahkan beberapa contoh saja sudah cukup ironis. Sampai batas tertentu, hal ini menantang kita untuk merenungkan: Apakah iman kita hanya didasarkan pada tampilan eksternal dan rasa merasa benar sendiri? Atau, apakah kita menganggap diri kita lebih unggul dibandingkan orang lain karena kekayaan pengetahuan kita tentang agama? Tuhan menghargai pertobatan dan tindakan yang sejati, bukan kesalehan lahiriah. Ketika keyakinan kita ditantang, apakah kita mempunyai keberanian untuk mengakui kekurangan kita dan bertobat, atau apakah kita memilih untuk menghindari dan melindungi diri kita sendiri?

Perumpamaan Yesus tentang dua anak mengingatkan kita bahwa inti iman adalah tindakan dan ketaatan. Janji-janji kosong tanpa tindakan hanyalah kemunafikan dan penipuan diri sendiri. Saat ini, apakah janji kita kepada Tuhan benar-benar terealisasi dalam hidup kita, atau hanya sekadar kata-kata? Ekspresi iman yang sebenarnya terletak pada kesediaan kita untuk bertobat dan menanggapi kasih dan panggilan Tuhan dengan tindakan. Kiranya kita mengesampingkan sikap merasa benar sendiri, dengan tulus bertobat, dan melalui tindakan menunjukkan iman kita kepada Kristus.

Refleksi Iman:
1. Meskipun para imam kepala dan tua-tua adalah pemimpin agama, mereka ditegur oleh Yesus karena kurangnya pertobatan dan wawasan rohani. Apakah kita juga lalai memeriksa kehidupan rohani kita karena sikap merasa benar sendiri atau kedudukan kita di gereja?

2. Anak laki-laki pertama dalam perumpamaan Yesus akhirnya bertobat dan mengambil tindakan, sedangkan anak kedua membuat janji-janji kosong tetapi tidak menepatinya. Apakah kita pernah membuat komitmen lisan terhadap panggilan Tuhan, tetapi tidak melakukan tindakan nyata?


Renungan pemahaman Injil Matius (Januari 2025)

Renungan pemahaman Injil Matius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Matius ditulis oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡) yang dipublikasi pada bulan Januari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Matius 21:1-11

「Menyambut Sang Raja」

Oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 21:1-11 [ITB])
1 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah mendekati Yerusalem dan tiba di Betfage di Bukit Zaitun, Ia mengutus dua orang murid-Nya 2 dengan pesan, Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu segera akan menemukan seekor keledai betina tertambat dan anaknya ada di dekatnya. Lepaskanlah kedua keledai itu dan bawalah kepada-Ku. 3 Jikalau ada orang menanyakan sesuatu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya.
4 Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui nabi,
……5 Katakanlah kepada putri Sion:
……Lihat, Rajamu datang kepadamu,
…………Ia lemah lembut dan menunggang seekor keledai,
…………dan seekor anak keledai beban.
6 Lalu pergilah murid-murid itu dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka. 7 Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan jubah mereka dan Yesus pun duduk di atasnya. 8 Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menebarkannya di jalan. 9 Orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru,
……Hosana bagi Anak Daud,
……diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan,
……hosana di tempat yang mahatinggi!
10 Ketika Ia masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata, Siapakah orang ini? 11 Orang banyak itu menyahut, Inilah Nabi Yesus dari Nazaret di Galilea.

Matius 21:1-11 mencatat bahwa Yesus memasuki Yerusalem mengendarai seekor keledai, menggenapi nubuat Zakharia 9:9: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan menunggang seekor keledai, dan seekor anak keledai beban (Matius 21:5). Hal ini menunjukkan bahwa Yesus memasuki kota sebagai Raja yang damai dan rendah hati, bukan Juruselamat militer seperti yang diharapkan dunia. Masuknya Dia ke dalam kota Yerusalem melambangkan identitas-Nya sebagai Mesias, namun tindakan ini melebihi ekspektasi orang-orang terhadap Mesias.

Massa membentangkan pakaian dan ranting-ranting sambil berseru, Hosana bagi Anak Daud! (Matius 21:8-9). Mereka menyambut Yesus dengan sangat antusias, mengharapkan Dia membawa pembebasan politik dan nasional. Namun, harapan mereka tidak sejalan dengan misi Yesus yang sebenarnya. Yesus tidak datang untuk memimpin revolusi militer, namun untuk membawa keselamatan rohani dan perubahan hidup.

Seluruh kota terkejut dengan kedatangan Yesus, dan orang-orang bertanya, Siapakah orang ini? Orang banyak itu menjawab, Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea (Matius 21:10-11). Meskipun mereka mengakui Yesus sebagai seorang nabi, mereka kurang memahami identitas dan misi-Nya yang sebenarnya.

Masuknya Yesus ke Yerusalem mengingatkan kita untuk memikirkan tentang sikap kita dalam menyambut Kristus. Meskipun antusiasme dan nyanyian orang banyak nampaknya merupakan penerimaan terhadap Yesus, harapan mereka didasarkan pada keinginan dan kepentingan mereka sendiri. Untuk benar-benar menyambut Kristus berarti melepaskan diri kita sendiri, membiarkan diri kita percaya pada bimbingan dan jalan-Nya, dan membiarkan Dia menjadi Tuhan dalam hidup kita. Dan iman kita kepada Tuhan, apakah karena kita berharap Tuhan mendengarkan perkataan kita? Atau apakah kita mendengarkan firman Tuhan?

Cara Yesus mengendarai keledai memasuki kota juga mengingatkan kita bahwa Dia tidak mengandalkan kekuasaan dan kekuatan eksternal untuk menaklukkan, tetapi menggunakan kasih dan kerendahan hati untuk mengubah hati manusia. Dalam masyarakat saat ini, kita sering kali tertarik pada kekuasaan dan kesuksesan. Seiring berjalannya waktu, bukan saja sulit untuk sepenuhnya menolaknya, kita bahkan tanpa menyadarinya mungkin terpengaruh dan berubah. Namun, Yesus memanggil kita untuk memilih jalan yang berbeda – untuk memberikan dampak pada dunia dengan kasih dan kerendahan hati, untuk memberikan dampak pada dunia dengan memberi, menderita, dan berkorban. Kiranya Tuhan bertakhta dalam hidup kita, dan melalui tindakan kita memberikan kesaksian akan kasih serta rahmat-Nya.

Refleksi Iman:
1. Yesus mengendarai keledai masuk ke kota, menunjukkan bahwa Dia tampil sebagai Raja yang damai dan rendah hati, bukan sebagai penyelamat militer seperti yang diharapkan dunia. Apakah kita sudah mendefinisikan Kristus berdasarkan pengharapan kita sendiri dan kehilangan pandangan akan misi-Nya yang sesungguhnya?

2. Yesus mengubah hati dengan kasih dan kerendahan hati, berbeda dengan cara penaklukan oleh dunia yang menggunakan kekuasaan dan kekuatan. Apakah kita masih memiliki kasih dan kerendahan hati ketika menghadapi tantangan atau melayani orang lain?


Renungan pemahaman Injil Matius (Januari 2025)

Renungan pemahaman Injil Matius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Matius ditulis oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡) yang dipublikasi pada bulan Januari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Matius 20:1-16

「Kebebasan Allah memberi anugerah」

Oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 20:1-16 [ITB])
1 Kerajaan Surga seumpama seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. 2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. 3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. 4 Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang adil akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. 5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan hal yang sama. 6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? 7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. 8 Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. 9 Datanglah mereka yang masuk kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. 10 Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. 11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, 12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. 13 Namun, pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Kawan, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? 14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. 15 Tidakkah aku boleh mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir.

Matius 20:1-16 Yesus memaparkan perumpamaan tentang Kerajaan Sorga: para pekerja di kebun anggur. Dalam perumpamaan ini, pemilik kebun anggur merekrut pekerja pada waktu yang berbeda-beda dalam satu hari, dari pagi hingga pukul lima sore, para pekerja memasuki kebun anggur untuk bekerja pada waktu yang berbeda-beda. Ketika tiba saat pada malam hari memberikan upah, pemilik kebun anggur memulai dengan pekerja yang datang terakhir, dan setiap orang mendapat upah yang sama satu dinar. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan di antara para pekerja yang mulai bekerja sejak pagi hari. Mereka berpikir bahwa mereka telah bekerja dengan jam kerja yang lebih panjang, sepatutnya berhak mendapatkan lebih banyak.
Namun, sang pemilik kebun anggur menjawab bahwa ia tidak menganiaya mereka, karena satu dinar adalah upah yang telah mereka sepakati sebelumnya. Sang pemilik kebun anggur menunjukkan bahwa dia mempunyai hak untuk memberi dengan murah hati sesuai dengan keinginannya sendiri dan bertanya: Tidakkah aku boleh mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk mengilustrasikan: orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir.
Anugerah Tuhan tidak diperoleh dengan usaha kita, tetapi diberikan secara cuma-cuma oleh-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Dalam perumpamaan tentang pekerja di kebun anggur, sang pemilik bersikap murah hati terhadap semua pekerja, tidak peduli berapa lama mereka bekerja. Namun, terkadang karena membanding-bandingkan diri dengan orang lain, sehingga orang mudah merasa iri, bahkan merasa tidak puas dengan anugerah Tuhan terhadap orang lain. Lebih penting lagi, mereka lupa bahwa apa yang mereka miliki sesungguhnya hanyalah karena anugerah Tuhan.
Kecemburuan dan perbandingan sering kali menyebabkan kita mengabaikan berkat yang telah Tuhan berikan dalam hidup kita. Yesus mengingatkan kita bahwa fokus sebenarnya haruslah pada anugerah dan kasih Allah kepada kita, bukan pada membandingkan diri kita satu sama lain. Rahmat berkat Tuhan berbeda-beda bagi setiap orang, jadi membanding-bandingkan seperti itu tidak ada artinya.
Sang pemilik bertanya kepada pekerjanya, Apakah kamu iri karena aku murah hati? Pertanyaan ini menantang ke dalam hati kita. Iman yang sejati mengharuskan kita menanggapi rahmat orang lain dengan rasa syukur dan sukacita. Marilah kita menerima rahmat yang Tuhan berikan kepada kita dengan kerendahan hati dan rasa syukur, dan saling mengasihi dalam kasih-Nya, bukan saling membanding-bandingkan diri kita satu sama lain.

Refleksi Iman:
1. Dalam perumpamaan tersebut para pekerja yang masuk pagi tidak puas dengan pembagian upah karena mereka membanding-bandingkan dirinya dengan pekerja lain. Apakah kita pernah merasa tidak puas dengan anugerah Tuhan karena membandingkan diri kita dengan orang lain?

2. Yesus menumbangkan pemahaman duniawi tentang keadilan ketika Ia berkata, orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. Apakah kita menjalani hidup dengan sikap merasa benar sendiri, berpikir bahwa kita lebih layak menerima kasih karunia Tuhan dibandingkan orang lain?


Renungan pemahaman Injil Matius (Januari 2025)

Renungan pemahaman Injil Matius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Matius ditulis oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡) yang dipublikasi pada bulan Januari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Matius 18:21-35

「Tantangan mengampuni」

Oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 18:21-35 [ITB])
21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? 22 Yesus berkata kepadanya, Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh.
23 Sebab, Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. 24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berutang sepuluh ribu talenta. 25 Karena orang itu tidak mampu melunasi utangnya, tuannya itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar utangnya. 26 Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, semuanya akan kulunasi. 27 Tergeraklah hati tuannya oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan utangnya.
28 Ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekiknya, katanya: Bayar utangmu! 29 Sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, utangku itu akan kulunasi. 30 Namun, ia menolak, lalu pergi dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi utangnya.
31 Melihat itu hamba-hamba yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. 32 Kemudian tuan itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh utangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. 33 Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? 34 Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh utangnya.
35 Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.

Dalam Matius 18:21-35, Petrus bertanya kepada Yesus berapa kali ia harus mengampuni saudaranya dan ia menyarankan tujuh kali. Namun, Yesus berkata, Bukan tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh, yang artinya bahwa pengampunan harus tidak terbatas, tidak dibatasi oleh angka berapa kali. Selanjutnya Yesus menceritakan perumpamaan seorang hamba: Seorang hamba berutang sepuluh ribu talenta kepada tuannya, tetapi tuannya itu mengasihani dia dan mengampuni utangnya. Namun, hamba itu tidak mau memaafkan kawannya yang berutang seratus dinar, sehingga kawannya dijebloskan ke penjara. Ketika tuannya mengetahui hal ini, dia marah besar dan menyerahkan hamba yang tidak memiliki hati berbelas kasih itu kepada sipir penjara sampai utangnya lunas.

Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk menunjukkan bahwa Allah telah mengampuni hutang dosa kita yang tidak mampu kita bayar. Jika kita tetap tidak mengampuni orang yang telah menyakiti kita, Bapa Surgawi yang mengampuni kita akan menuntut hutang dosa kepada kita. Oleh karena itu, Ia mengharapkan kita untuk mengampuni orang lain juga. Pengampunan bukanlah suatu pemberian yang selektif, tetapi merupakan respon rasa syukur yang mencerminkan apakah kita benar-benar memahami dan mengalami pengampunan Tuhan.

Tentu saja, jika korban dipaksa untuk memaafkan pelakunya, hal ini dapat menimbulkan luka sekunder bagi sang korban. Pengampunan tidak bisa dipaksakan, dan prosesnya sangat sulit, karena melibatkan ingatan orang dan rasa sakit serta kepedihan yang mendalam di dalam jiwa, yang sangat sulit dipahami oleh orang luar. Namun, kita harus ingat bahwa pengampunan adalah mengalami kebebasan dan pembebasan dari Tuhan. Memaafkan adalah jalan menuju kebebasan. Ketika kita dalam keadaan tidak mampu memaafkan dalam jangka waktu yang lama, berarti hati kita akan terikat oleh kepahitan. Ketika saatnya tiba, ketika kita bisa memilih untuk memaafkan orang lain, kita sebenarnya sedang membebaskan diri dari rasa dendam dan kepahitan.

Pengampunan membebaskan kita dari belenggu rasa sakit dan kemarahan serta memungkinkan kita mengalami kedamaian dan pembebasan Tuhan lagi. Semoga kita, demi Tuhan, mempraktikkan pengampunan dalam hidup kita, menyaksikan kasih dan anugerah Tuhan, dan menjadikan hidup kita saluran berkat bagi sesama.

Refleksi Iman:
1. Apakah kita pernah tidak bisa melepaskan suatu rasa sakit hati dan bersikeras tidak mau memaafkan? Bagaimana kita dapat mengandalkan kasih karunia Tuhan dalam kesulitan dan secara bertahap mempelajari pelajaran tentang pengampunan?
2. Pengampunan tidak hanya membebaskan orang lain, tapi juga membebaskan diri kita dari kepahitan dan kebencian. Apakah kita memikul beban kronis di hati kita karena kita sulit memaafkan?


Renungan pemahaman Injil Matius (Januari 2025)

Renungan pemahaman Injil Matius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Matius ditulis oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡) yang dipublikasi pada bulan Januari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.