Author Archives: lukasleo

About lukasleo

Aku percaya kepada Allah Khalik Langit dan Bumi. Allah TriTunggal yang Maha Esa. Alkitab adalah Firman Allah yang sempurna.

Yohanes 19:24, 28-30, 36

「Menghadapi banyak kesulitan, taat kehendak Bapa: Sudah selesai!」

Oleh Rev. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 19:24, 28-30, 36 [TB])
24 Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya. Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku. Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu.
28 Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: Aku haus! 29 Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. 30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: Sudah selesai. Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
36 Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan.

Yohanes 19:24, 28, dan 36 tiga kali menyebutkan supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci, mengingatkan kita bahwa selama meditasi Jumat Agung, kita tidak sekadar merenungkan penderitaan Yesus dengan saksama tetapi juga memahaminya dari perspektif kemahakuasaan dan kedaulatan Allah. Kita harus merenungkan bagaimana Allah secara ajaib bernubuat, bagaimana Ia menyelesaikan rencana keselamatan-Nya dalam sejarah, dan bagaimana Ia menggenapi nubuat-nubuat-Nya. Meditasi ini dapat mengajarkan kita untuk lebih mempercayai kedaulatan Allah dalam penderitaan dan untuk memahami bagaimana tunduk bekerja di bawah bimbingan-Nya.

Kita dapat merenungkan ketiga ayat ini dengan menggunakan kerangka mengikuti sebab, tanpa sebab, dan melawan sebab. Teolog John Calvin, dalam mengajarkan tentang kedaulatan Allah yang menakjubkan, menunjukkan: Kedaulatan Allah meliputi masa lalu dan masa depan; Dia mengatur segala sesuatu, kadang-kadang beroperasi mengikuti sebab (with means), kadang-kadang tanpa sebab (without means), dan kadang-kadang melawan sebab (against means). (Institutes of the Christian Religion, 1.17.1)

1. Mengikuti sebab mengacu pada tindakan positif kita yang didorong oleh niat baik. Allah secara ajaib menggunakan perbuatan baik kita untuk selaras dengan rencana dan nubuat-Nya. Misalnya, jika Allah ingin membantu seseorang, meskipun kita tidak mengetahui niat-Nya, kita melayani orang itu karena kasih, sehingga menghasilkan kebaikan. 2. Tanpa sebab berarti bahwa suatu peristiwa terjadi sepenuhnya sesuai dengan kehendak Allah, tanpa campur tangan manusia. 3. Melawan sebab mengacu pada tindakan jahat manusia, yang secara terampil digunakan Allah untuk secara tidak langsung mencapai kehendak baik-Nya. Misalnya, dalam Perjanjian Lama, pengkhianatan Yusuf oleh saudaranya sebenarnya memenuhi rencana Allah. Motif Allah bertentangan dengan kejahatan manusia, namun Dia dapat mencapai rencana-Nya melalui kejahatan manusia.

Tindakan para prajurit membagi pakaian Yesus dengan undian adalah melawan sebab (against means); mereka bertindak dengan niat jahat, namun hal itu menggenapi nubuat dalam Mazmur 22:18, Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.

Yesus berkata, Aku haus, yang merupakan mengikuti sebab (with means). Ia jelas akan nubuat tersebut dan taat dengan sukarela mencicipi cuka, sehingga menggenapi nubuat dalam Mazmur 69:21 Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.

Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan adalah tanpa sebab (without means). Para prajurit seharusnya sesuai kebiasaan mematahkan tulang-tulang orang yang dihukum, tetapi karena Yesus sudah mati, mereka tidak melakukannya; nubuat dalam Keluaran 12:46 satu tulangpun tidak boleh kamu patahkan bahwa tulang-tulang Anak Domba tidak akan dipatahkan telah terpenuhi.

Yesus menderita siksaan yang hebat dan tampak tak berdaya, namun Allah sepenuhnya memegang kendali di saat-saat kegelapan. Orang percaya hendaknya merenungkan penderitaan Yesus di saat-saat terendah mereka untuk menemukan dorongan dan harapan: segala sesuatu bekerja bersama untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah. (Roma 8:28; lihat Lukas 24:44 Ia berkata kepada mereka: Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.』」)

Kata Yunani Sudah selesai (Tetelestai) hanyalah satu kata, namun kata itu merangkum rencana penebusan Allah yang menakjubkan sejak kejatuhan Adam, yang telah terlaksana melalui Kristus, meliputi perjalanan hidup Yesus dari kelahiran-Nya di palungan hingga penderitaan-Nya di kayu salib. Di balik Sudah selesai terdapat upaya yang berat, pengorbanan yang besar, dan kedaulatan serta kerja Allah yang menakjubkan. Kiranya kita meneladani Yesus dan menjadi mengikuti sebab (with means) sebagai alat ketaatan di tangan Allah.

Doa:
Bapa Surgawi, terima kasih karena kehendak-Mu telah sepenuhnya terlaksana dalam Yesus, yang menyatakan kepada kita, Sudah selesai! Meskipun Ia menanggung banyak kesulitan, Ia menerima mahkota kemuliaan. Berikanlah aku kekuatan untuk bekerja dengan kehendak-Mu, untuk tidak takut akan pengorbanan, untuk tetap menjalankan misi yang Engkau berikan kepadaku, dan untuk menyelesaikan perlombaan yang harus kujalani. Dalam nama Yesus aku berdoa, Amin.

Refleksi:
Yesus yang rela taat pada kehendak Bapa adalah contoh sempurna dari kepercayaan kepada Allah, ketaatan yang setia dalam penderitaan membuka jalan keselamatan bagi dunia. Ketika menghadapi kesulitan, ingatlah bahwa ketaatan kepada Tuhan adalah jalan terbaik, yang membawa sukacita dan kedamaian abadi meskipun dalam kesulitan.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Maret 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yohanes 19:26-27

「Kasih sayang dari atas Salib kepada ibu」

Oleh Rev. Jimmy Chan (陳偉明)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 19:26-27 [TB])
26 Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: Ibu, inilah, anakmu! 27 Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: Inilah ibumu! Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Memikul salib dan menjalankan misi sulit yang diberikan dari Bapa Surgawi, sekaligus memenuhi kewajiban berbakti di dunia, menghadirkan dilema yang sesungguhnya. Renungan ini dibagi menjadi tiga bagian: pertama, melalui himne 〈Kasih sayang dari atas Salib kepada ibu,〉 kita merenungkan perasaan Yesus terhadap ibunya; kedua, kita belajar dari ajaran Yesus tentang bagaimana menghadapi ketegangan antara pelayanan dan kesalehan berbakti; dan ketiga, kita menggunakan contoh untuk menggambarkan perjuangan mereka yang melayani dalam dilema ini, dan mendorong kita untuk lebih aktif memperhatikan keluarga para pelayan Injil.

〈Kasih sayang dari atas Salib kepada ibu〉
Tergantung di kayu salib, menyaksikan ibu yang terkasih dan murid kesayangan; terdengar hati ibu yang hancur, kasih ibu terukir dalam benak.
Sebelum ibu menikah di usia muda, seorang malaikat menampakkan diri kepadanya untuk memberitakan kasih karunia Allah, dan dengan rela menerima tanggung jawab mengandung oleh Roh Kudus, mengalami kesalahpahaman dan hampir diceraikan.
Kasih sayang seorang ibu tak terbatas selama sepuluh bulan; melahirkan dalam kemiskinan, di sebuah palungan. Simeon yang saleh bernubuat, dan hati seorang ibu yang penuh kasih seakan tertusuk pisau.
Sejak kecil di Nazaret, Galilea hidup dalam kemiskinan bersama ibu; mulai memberitakan Injil pada usia tiga puluh tahun, dan sering terpisah dari ibu dan jarang bersama.
Hari-hari penderitaan sangatlah sulit, dan ibu yang penyayang, meskipun patah hati, tetap mengikuti; karena tidak mampu melayani ibu hingga kematian, mempercayakan ibu kepada murid kesayangan untuk melindunginya.
Pesan dari salib menghibur hati ibu dan mendorong orang untuk memenuhi kewajiban berbakti: mengasihi Allah dan juga mengasihi sesama, mengasihi ibu, mengasihi ayah dan mengasihi keluarga.

Antara pelayanan dan kesalehan anak, Yesus mengajarkan tiga kebenaran yang tak berubah kepada orang tua yang anak-anaknya melayani Allah. Pertama, ketika Yesus berumur dua belas tahun dan tinggal di Bait Suci, Ia berkata, Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku (Lukas 2:42-52), yang menunjukkan bahwa mereka yang melayani Tuhan memusatkan pikiran mereka pada urusan Allah. Kedua, ketika Yesus sedang memberitakan Injil, datanglah ibu dan saudara-saudara-Nya yang mencari Dia, Ia berkata kepada murid-murid-Nya, … siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku (Matius 12:46-50). Mereka yang melayani memiliki kerabat sedarah, tetapi juga memiliki kerabat rohani. Akhirnya, mengenai memikul salib, Yesus berkata, Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku (Lukas 14:26). Mereka yang melayani terkadang harus melepaskan segalanya. Para gembala yang berpengalaman mengingatkan kita bahwa meskipun kita umumnya harus menghargai dan melindungi keluarga kita, dalam masa-masa khusus, Kerajaan Surga harus diutamakan.

Pada saat invasi Jepang ke Korea, pendeta Korea Joo Ki-cheol (1897-1944) mengalami penderitaan dan kemartiran yang luar biasa, dengan teguh mempertahankan imannya dan terus menderita demi Tuhan. Ia pernah berkata, Jika aku ingin mempersingkat waktu penderitaanku, itu akan menjadi dosa yang tak terlukiskan di mata Tuhan yang mati di kayu salib. Dalam khotbah terakhirnya, ia menyampaikan 〈Lima Doa Saya〉: 1. Berilah aku kekuatan untuk mengatasi kematian. 2. Berilah aku kemampuan untuk menanggung penderitaan yang panjang. 3. Berdoa kepada Tuhan untuk ibuku, istriku, dan anak-anakku. 4. Kiranya aku hidup dalam kebenaran dan mati dalam kebenaran. 5. Aku mempercayakan jiwaku kepada-Mu. Anak laki-lakinya mengalami kesulitan setelah ayahnya menjadi martir: Ayahku tidak meninggalkan warisan materi ketika ia menjadi martir, dan keturunan para martir mengalami kelaparan dan kemunduran. Ibuku meninggal dua tahun kemudian, hanya meninggalkan ayat-ayat Alkitab untukku. Medali kemartiran tidak berarti apa-apa bagiku. Aku membenci ibuku karena mencegahku untuk mengambil keuntungan dari nama ayahku, dan aku bahkan menolak gereja, mengembara selama sepuluh tahun. Sampai Tuhan menyelamatkanku lagi, memberiku kasih karunia, dan mengubahku, memungkinkanku untuk melayani Tuhan lagi. Keluarga dari mereka yang telah menanggung penderitaan salib benar-benar mengalami masa-masa sulit.

Sama seperti Yohanes murid Yesus, kita harus memperhatikan dan mendukung keluarga mereka yang melayani, karena mereka bukan hanya keluarga dari para hamba Tuhan yang melayani, tetapi juga merupakan keluarga rohani kita. Kiranya Tuhan membangkitkan lebih banyak hamba yang meniru kesetiaan Kristus sampai mati dan yang menyayangi keluarga mereka yang melayani!

Doa:
Bapa di surga, terima kasih karena Tuhan Yesus di kayu salib sangat mengasihi ibu-Nya dan dengan penuh kasih sayang mempercayakan dia kepada murid-Nya. Ajarkanlah kami untuk menghargai keluarga kami sendiri, dan bangkitkanlah hati kami untuk dengan tulus memperhatikan serta mendukung keluarga para pelayan-Mu. Dalam nama Tuhan kami berdoa, Amin.

Refleksi:
Kita perlu mendorong banyak ibu untuk tetap teguh pada peran berharga mereka: Para ibu, Tuhan telah mempercayakan kepada Anda tugas penting untuk membesarkan anak-anak Anda agar mereka dapat melayani di gereja dan menjadi pelayan Tuhan. Pengabdian Anda kepada keluarga adalah bentuk pelayanan yang paling indah. Pelayanan Anda yang penuh pengabdian akan menghasilkan keturunan yang saleh yang akan melayani Tuhan.

(Lihat Spurgeon: Sekolah Minggu dan Kitab Suci (The Sunday-School and the Scriptures))


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Dr. Jimmy Chan Wai-ming (陳偉明) yang dipublikasi pada bulan Maret 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Lukas 23:39-43

「Keselamatan karena iman: Yesus dan penjahat yang sekarat」

Oleh Rev. Jimmy Chan (陳偉明)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Lukas 23:39-43 [TB])
39 Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami! 40 Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? 41 Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah. 42 Lalu ia berkata: Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja. 43 Kata Yesus kepadanya: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.

Ayat ini menekankan dua hal utama: pertama, seorang penjahat yang sedang sekarat secara terbuka mengakui dosanya dan dengan iman bertobat, sehingga menjadi teladan orang yang mendapatkan anugerah keselamatan; kedua, Yesus sendiri menegaskan kebenaran keselamatan dibenarkan oleh iman, dan menyatakan bahwa siapa pun yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya pasti akan diselamatkan, bahkan pada saat-saat terakhir.

Penjahat narapidana itu, di ambang kematiannya, mengaku bahwa Yesus adalah Kristus, tanpa dosa, dan Raja. Pada saat itu, identitas Yesus sebagai Kristus diejek oleh orang banyak, para prajurit berkata, Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu! Para pemimpin berkata, Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah. Narapidana lain juga mengejek Yesus. Sementara orang banyak tidak percaya, narapidana ini sendirian membela ketidakbersalahan Yesus, mengatakan bahwa Dia tidak melakukan kesalahan apa pun dan menyangkal tuduhan dari otoritas Romawi dan imam besar. Orang percaya ini memiliki keyakinan yang jelas tentang identitas inti Kristus: percaya bahwa Yesus adalah Kristus, Raja, dan bahwa kerajaan-Nya bukan termasuk kekuasaan duniawi.

Terpidana mati itu, di ambang kematiannya, secara terbuka mengaku dan bertobat, mengakui bahwa eksekusi dirinya dan orang lain adalah hukuman yang adil; sebaliknya, terpidana mati lainnya tetap tidak bertobat, terus mengejek Yesus. Betapa berharganya pengakuan tulus orang percaya ini!

Pertobatan seorang narapidana di ranjang kematiannya menunjukkan kebenaran keselamatan oleh karena iman. Hidupnya dipenuhi dosa, dan ini adalah saat-saat terakhirnya; ia tidak mungkin diselamatkan melalui perbuatan baik, tetapi ia dapat diselamatkan oleh karena iman dan masuk Surga. Kesaksian ini menghibur banyak orang beriman yang sedang sekarat dan keluarga mereka.

Janji Yesus, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus, menegaskan kebenaran pembenaran oleh karena iman. Tidak peduli seberapa dalam dosa seseorang atau seberapa terlambat pertobatannya, selama seseorang benar-benar percaya, ia dapat diselamatkan. Janji ini membawa tiga pengingatan utama:

1. Sifat Injil yang langsung: Sekalipun seseorang percaya kepada Tuhan pada detik menjelang kematiannya, ia dapat masuk surga pada hari itu; tetapi ini tidak mendorong penundaan, karena penundaan itu sendiri adalah ketidakpercayaan.

2. Kepastian Injil: Orang berdosa yang bertobat diselamatkan hanya oleh karena iman, bukan oleh perbuatan setelah iman atau tindakan perbaikan lainnya.

3. Sifat universalitas Injil: setiap orang dapat diselamatkan oleh karena iman, bahkan narapidana hukuman mati yang paling berdosa sekalipun.

Betapa berharganya janji-janji Yesus! Injil-Nya memberkati semua orang!

Doa:
Bapa Surgawi, betapa besar penghiburan yang diberikan oleh janji Tuhan Yesus kepada orang berdosa yang bertobat bahkan yang di ambang kematiannya! Bahwa kita dapat dibenarkan oleh karena iman dan masuk ke Firdaus adalah anugerah besar yang diberikan-Mu secara cuma-cuma. Doronglah kami untuk memanfaatkan setiap saat dalam membagikan Injil, karena kami tahu bahwa kapan pun, siapa pun yang benar-benar bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus, dapat diselamatkan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, Amin.

Refleksi:
Para murid meninggalkan Yesus dan melarikan diri, Yudas mengkhianati-Nya, Petrus menyangkal Dia — tidak seorang pun membela-Nya. Hanya orang yang bertobat ini, di ambang kematiannya, yang membela Yesus, membela kesucian dan kemurnian-Nya, percaya bahwa Yesus adalah Kristus. Kesaksian ini sungguh indah: pada saat Kristus paling dipermalukan, ketika Ia sendiri dihukum di kayu salib, penjahat ini memberikan pengakuan yang telah menggerakkan generasi demi generasi. Kiranya Tuhan menganugerahkan kepadaku iman yang teguh yang sama, bahkan sampai mati!

(Lihat Spurgeon: Pencuri yang Sekarat dalam Sudut Pandang Baru (The Dying Thief in a New Light))


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Dr. Jimmy Chan Wai-ming (陳偉明) yang dipublikasi pada bulan Maret 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Lukas 23:34

「Tujuh kata yang diucapkan di kayu salib telah menggerakkan jutaan orang!」

Oleh Rev. Jimmy Chan (陳偉明)
Alliance Bible Seminary H.K.

1. Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Lukas 23:34)
2. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus. (Lukas 23:43)
3. Ibu, inilah, anakmu! Inilah ibumu! (Yohanes 19:26-27)
4. Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Matius 27:46; Markus 15:34; lihat Mazmur 22:1)
5. Aku haus! (Yohanes 19:28)
6. Sudah selesai. (Yohanes 19:30)
7. Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku. (Lukas 23:46)

Tujuh kata yang diucapkan Yesus di kayu salib dikenal sebagai Tujuh Firman Salib, yang mencakup tujuh tema: pengampunan, keselamatan, kasih, penderitaan, kebutuhan, pencapaian, dan kepercayaan. Renungan ini membimbing kita dalam meditasi melalui dua himne terkenal.

Himne Johann Böschenstein (1472-1539) : Ketika Yesus Digantung di Kayu Salib (Da Jesus an dem Kreuze stund). Dalam himne tersebut, Aku haus dan meninggalkan Aku tercantum sebagai perkataan keempat dan kelima secara berurutan.
1. Yesus Kristus tergantung di kayu salib, hati terluka dan tubuh penuh rasa sakit. Dalam penderitaan yang luar biasa, Ia meninggalkan tujuh firman. Pada Jumat Agung, mennggenapi karya keselamatan, nama-Nya akan dipuji oleh manusia sepanjang masa.
2. Mengampuni musuh; meskipun menderita penghinaan, hati tetap teguh; tetap mengasihi dan berdoa kepada Bapa Surgawi. Apa yang Ia lakukan tidak diketahui orang lain; mengajarkan kita untuk mengasihi musuh kita.
3. Mengingat rahmat Tuhan, perampok bertobat dan memohon, rahmat Tuhan dilimpahkan kepada semua orang: ikut dengan-Ku hari ini untuk menikmati kebahagiaan surgawi di Firdaus.
4. Ia mengucapkan tiga kata untuk menyatakan kasih kepada ibu-Nya, kasih ibu di dekat salib, dan mempercayakan ibu terkasih kepada murid kesayangan-Nya: memberitahu sang ibu bahwa ia adalah anakmu; memberitahu sang murid bahwa ia adalah ibumu.
5. Empat kata yang tertinggal adalah sebuah nubuat: bekas paku itu tak tertahankan, mulut kering dan hati lelah, Tuhan berseru Aku haus; dihina dan merasakan cuka.
6. Memakai sebuah mazmur untuk dibacakan: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Beban hutang dunia ini berat, tetapi hanya Tuhanlah yang menanggungnya sendirian.
7. Enam firman Tuhan pada mulanya adalah satu, yang menginspirasi semua orang berdosa. Firman kudus Tuhan bergema di seluruh dunia. Tuhan turun ke bumi untuk mewujudkan keselamatan, dan Dia berseru sebelum kematian-Nya.
8. Firman ketujuh adalah firman perpisahan dari dunia, firman terakhir, Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku. Tirai gelap langit dan bumi telah terkoyak: Engkau menjadi Anak Domba, Engkau menggenapkan keselamatan!
9. Tuhan yang menderita ditinggikan, tujuh firman suci terukir di hati, merasakan kasih Tuhan dan menikmati rahmat-Nya, menempuh jalan yang sempit dan rahmat-Nya menyertai kita, hingga kita mencapai kehidupan kekal dan menikmati kebahagiaan abadi.

Puisi terkenal Kaisar Kangxi, 〈Ode untuk Salib,〉 ditulis pada masa pencariannya akan kebenaran Tuhan dan termasuk dalam edisi baru Pujian Universal.
Keutamaan salib telah terlaksana, darah mengalir seperti sungai, dan rahmat sungai seratus kaki mengalir dari barat. Tubuh terkoyak, pada tengah malam di empat penjuru terpencar, murid-Nya membelakangi tiga kali dan ayam jantan berkokok.
Lima ribu cambukan merobek kulit hingga sedalam satu inci; dua pencuri digantung terpisah sejauh enam kaki; tragedi itu mengguncang delapan alam dan mengejutkan sembilan tingkatan; setelah tujuh kata diucapkan, semua roh menangis.
Puisi ini menggambarkan Yesus yang mewujudkan keselamatan, menumpahkan darah di kayu salib, menanggung berbagai cobaan dan cambukan, tubuh-Nya dipenuhi luka, dan disalibkan bersama dua pencuri. Baris terakhir, Setelah tujuh kata itu, semua roh menangis, mengungkapkan makna tujuh kata Yesus, mengguncang semua orang dan menunjukkan kasih agung yang menganugerahkan keselamatan.

Tujuh Kata Yesus dari Salib mengungkapkan kasih dan anugerah yang tak terbatas, mencatat kisah pribadi-Nya tentang rasa haus dan penderitaan-Nya, dan hati-Nya yang menakjubkan di tengah penderitaan yang mendalam: mengampuni musuh-musuh-Nya, menyelamatkan seorang pencuri yang bertobat, kasih kepada ibu-Nya yang berduka, mengalami perpisahan dari Allah Bapa, dan akhirnya menyatakan Sudah selesai! Sudah selesai menandakan penyelesaian karya keselamatan, dari inkarnasi-Nya ke dunia yang dingin dan acuh tak acuh, kehidupan-Nya dalam menolong dan membimbing manusia, menderita ketidakadilan dan penganiayaan, bahkan kematian-Nya di kayu salib, dan akhirnya kembali kepada Allah Bapa. Tujuh Kata dari Salib menghibur kita selamanya: dengan setiap perenungan, anugerah Tuhan tampak jelas di hadapan mata kita! Mengingat penderitaan Tuhan, menghargai anugerah-Nya, dan melayani Tuhan adalah berkat terbesar!

Doa:
Bapa Surgawi, terima kasih karena Engkau telah mengutus Anak-Mu untuk menjadi manusia dan menanggung segala penderitaan demi menggenapkan keselamatan bagi manusia. Berikanlah aku kekuatan untuk dengan rela memikul salibku dan dengan setia melayani-Mu hingga akhir hidupku. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin.

Refleksi:
Tuhan, ajarkanlah kepadaku misteri rohani ini:
Jalan ke bawah adalah jalan ke atas.
Kerendahan hati adalah kemuliaan.
Yang hancur rusak disembuhkan,
roh yang menyesal dibebaskan menjadi roh yang sukacita,
hanya melalui pertobatan dapat meraih kemenangan.
Tidak memiliki apa pun, namun memiliki segalanya.
Memikul salib itu seperti mengenakan mahkota.
Memberi berarti menerima.
Lembah kekelaman menjadi tempat penyingkapan.
(Merujuk pada doa tradisional kaum Puritan Lembah Penglihatan (The Valley of Vision))


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Dr. Jimmy Chan Wai-ming (陳偉明) yang dipublikasi pada bulan Maret 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yohanes 18:13

「Penderitaan Yesus: Tiga belas jam penghinaan dan penderitaan sebelum kematian-Nya」

Oleh Rev. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

Ayat Alkitab: Kutipan dari ayat- ayat yang berkaitan dengan pengadilan dan penyaliban Yesus

Yohanes 18:13 Lalu mereka membawa-Nya mula-mula kepada Hanas, karena Hanas adalah mertua Kayafas, yang pada tahun itu menjadi Imam Besar

Matius 26:59, 67-68 Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati … Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia, dan berkata: Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?

Lukas 23:11 Maka mulailah Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olokkan Dia, ia mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus.

Matius 27:25-26 Dan seluruh rakyat itu menjawab: Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Yohanes 19:5 Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: Lihatlah manusia itu!

Markus 15:25, 33, 37-38 Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan. … Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. … Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya. Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah

Pada Jumat Agung, marilah kita merenungkan hari penderitaan dan kematian Tuhan Yesus — tiga belas jam yang panjang penuh penghinaan dan pengorbanan yang menyakitkan. Berdasarkan perhitungan berbagai ahli, kita dapat merekonstruksi pengadilan, penghinaan, dan penyaliban-Nya, sehingga kita dapat merenung secara mendalam dan mengingat kasih karunia Tuhan.

Pukul 2 pagi: Setelah semalaman tidak tidur, dikhianati oleh orang banyak, ditinggalkan orang yang terdekat, dan dipermalukan, ia dibawa ke hadapan Annas, mantan imam besar. (Yohanes 18:13)

Pukul 3 pagi: Yesus yang tidak bersalah dalam kegelapan malam hari dibawa ke hadapan Imam Besar Kayafas untuk diadili. Para imam kepala mengatur saksi-saksi palsu untuk menuduh-Nya, dan meludahi-Nya dengan penuh penghinaan serta memukuli-Nya. Petrus menyangkal Yesus tiga kali, tetapi Yesus menghadapi kebenaran sendirian. (Yohanes 18:24; Matius 26:57-75 Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati, tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta)

Pukul 6 pagi: Yesus yang tidak bersalah dibawa ke hadapan istana Pilatus untuk diadili (Yohanes 18:28). Yudas dipenuhi penyesalan, mengaku, Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah, lalu menggantung diri (Matius 27:1-10). Pilatus menyatakan pada persidangan pertama, Aku tidak menemukan kesalahan pada orang ini (Lukas 23:4). Celakalah orang yang mengkhianati Yesus!

Pukul 7 pagi: Yesus berulang kali diadili, dihina, dan disiksa; Ia dibawa ke istana Herodes, di mana Ia dihina dan diejek, sebelum dikembalikan ke istana Pilatus. (Lukas 23:6-12)

Pukul 8 pagi: Yesus menanggung siksaan dan cambukan sepanjang malam. Pilatus, dalam penghakiman terakhirnya, menyatakan Dia tidak bersalah; Herodes juga tidak dapat menyatakan tuduhan bersalah. Pilatus memberi kepada orang-orang sebuah pilihan untuk membebaskan Yesus atau Barabas, tetapi mereka memilih Barabas yang jahat, mengutuk Yesus dengan sangat dan menginginkan darah Yesus ditanggungkan menimpa diri mereka dan keturunan mereka. Para prajurit mempermalukan dan mencambuk Yesus, mengenakan jubah ungu kepada-Nya dan memahkotai-Nya dengan duri. Yesus memikul salib sampai Dia kelelahan; Simon Kirene dipaksa memikul salib untuk-Nya (Markus 15:21).

Pukul 9 pagi: Pakaian luar-Nya dibagi-bagi, dan pakaian dalam-Nya diambil setelah diundi. Ia tiba di Golgota dan dipaku pada pukul 9:00 pagi. Yesus mengalami dipaku dalam keadaan telanjang, menanggung penghinaan yang luar biasa selama enam jam sampai Ia mati. (Markus 15:25; Yohanes 19:23-24)

Yesus di kayu salib, mengampuni para perampok, menanggung dosa umat manusia, dan berseru dengan penuh kesakitan: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Pada pukul 3 sore Anak Domba Allah menyerahkan nyawa-Nya, menghembuskan napas terakhir. Kemudian, sebuah mukjizat terjadi: tirai Bait Allah terbelah, gempa mengguncang bumi, batu-batu runtuh, dan orang-orang kudus muncul. Karena pengorbanan Yesus, pintu keselamatan terbuka selamanya.

Setiap kali memikirkan salib yang menakjubkan, Raja yang mulia yang mati untukku! Harta dunia bagaikan kotoran!
Lihatlah kepala-Nya, kaki-Nya, tangan-Nya; dukacita-Nya yang penuh kasih, mengalirkan darah; Ia menderita penghinaan, Ia mati telanjang!
Hanya karena dosa-dosaku, untuk menyelamatkan semua orang! Betapa dalamnya, betapa dalamnya, kasih kudus itu! Sekarang aku milik Tuhan, bukan diriku sendiri, tetapi Tuhan!
Tuhanku, aku mengikuti jalan penderitaan! Malu di kayu salib, mahkota kemuliaan! Aku mempersembahkan tubuh dan jiwaku kepada Tuhan selamanya!
Di hadapan salib, kita diberkati dan dipanggil! Setia sampai mati, kehidupan yang paling indah! Melayani Tuhan sepanjang hidup kita, kemuliaan yang paling indah!

Doa:
Bapa Surgawi, Tuhanku menderita penghinaan dan mati secara tidak adil untukku! Salib-Nya yang ajaib, penderitaan dan kasih-Nya, telah menyertaiku sepanjang hidupku! Aku berdoa agar Allah memanggilku untuk memikul salib dan melayani Tuhan sepanjang hidupku! Berikanlah aku ketekunan, agar aku tidak mundur dalam menghadapi kesulitan, dan agar aku setia sampai mati! Dalam nama Tuhan Yesus, Amin.

Refleksi:
Merenungkan Yesus mengalami pencambukan (verberatio): Cambuk tentara Romawi biasanya terdiri dari tiga tali kulit dengan bola timah tajam dan serpihan tulang hewan di ujungnya. Setiap cambukan menyebabkan banyak luka dalam pada daging, terkadang merobeknya dari tulang; banyak korban meninggal karena kehilangan darah. Yesus mungkin menderita sekitar 39 cambukan. Ketika kita merenungkan penderitaan-Nya atas hukuman yang ekstrem ini, kita seharusnya merasakan kekaguman dan rasa syukur yang mendalam, karena Ia dengan rela menanggung dosa-dosa umat manusia dan menanggung rasa sakit yang tak terukur untuk menebus kita.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Maret 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yohanes 18:37-38; 19:4-6, 16

「Raja yang tak bersalah disalibkan! Berbahagialah yang memperjuangkan kebenaran!」

Oleh Rev. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 18:37-38 [TB])
37 Maka kata Pilatus kepada-Nya: Jadi Engkau adalah raja? Jawab Yesus: Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku. 38 Kata Pilatus kepada-Nya: Apakah kebenaran itu? Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka: Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.

(Yohanes 19:4-6, 16 [TB])
4 Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya. 5 Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: Lihatlah manusia itu! 6 Ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka: Salibkan Dia, salibkan Dia! Kata Pilatus kepada mereka: Ambil Dia dan salibkan Dia; sebab aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.
16 Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. Mereka menerima Yesus.

Pilatus bertanya, Jadi Engkau adalah raja? Yesus menyatakan, Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; … Pilatus mengucapkan tiga kali, Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya namun justru menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus! Selama masa Jumat Agung, marilah kita memfokuskan kembali perhatian kita pada Yesus! Marilah kita memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang Yesus melalui lima pengingat!

1. Berhati-hati dalam ucapan dan perbuatan: di hadapan penghakiman yang tidak adil ini, Yesus berhati-hati dengan kata-kata-Nya, tidak mengatakan secara langsung, Aku adalah Raja orang Yahudi, tetapi  Kamu mengatakan Aku adalah Raja. Yesus yang mulia berhati-hati dalam ucapan dan perbuatan-Nya sepanjang hidup-Nya! Kita sebagai orang Kristen juga harus berhati-hati dan berdisiplin diri.

2. Hidup untuk kebenaran: Hanya kebenaran, tidak ada kebohongan! Hidup untuk kebenaran, dan mati untuk kebenaran! Kita harus meneladani Kristus, membela kebenaran sampai akhir, tanpa takut berkorban.

3. Yesus datang ke dunia untuk kebenaran: Kebenaran Kristus mengungkapkan bahwa Yesus adalah Allah yang sejati, Firman yang menjadi manusia, sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia, Juruselamat segala bangsa! Inilah kebenaran, dan kita harus mempertahankannya.

4. Bersaksi akan kebenaran: Yesus menjalani hidup yang penuh kesulitan, tetapi perkataan dan perbuatan-Nya konsisten. Ia mengajarkan kebenaran dan melakukan mukjizat. Sebagai Anak, Ia bersaksi bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah Allah Tritunggal! Kita harus menjunjung tinggi misteri ini dan menjadi saksi.

5. Mati Demi Kebenaran: Tuhan Yesus mengabdikan diri-Nya sepenuhnya untuk kebenaran, menderita hukuman yang tidak adil. Pilatus berkata tiga kali, Aku tidak menemukan kesalahan pada-Nya (Yohanes 18:38; 19:4, 6), tetapi tetap menjatuhkan hukuman mati yang paling mengerikan kepada-Nya. Jika hakim menyatakan Dia tidak bersalah, Dia seharusnya dibebaskan, tetapi Raja yang tidak bersalah malah menderita hukuman yang paling tidak adil, menanggung ketidakadilan dan siksaan! Dia adalah Raja alam semesta, Ia juga hamba yang menderita dan Anak Domba Allah!

Allah pasti akan menghakimi orang-orang yang membunuh orang yang tidak bersalah! Kehidupan terbaik adalah kehidupan di mana kita meniru Kristus, hidup, melayani, bersaksi, menderita, mati, dan bangkit kembali demi Injil!

Wang Mingdao, seorang hamba Tuhan yang melayani gereja rumah, demi Tuhan secara total telah dipenjara selama 25 tahun, berjuang demi kebenaran. Ia berkata, Kami menerima dan menjunjung tinggi semua kebenaran dalam Alkitab; kami sepenuhnya menolak apa pun yang tidak terdapat dalam Alkitab. … Ketika seseorang mencoba membujuk atau mengancam kami untuk melakukan sesuatu yang melanggar Tuhan, kami berkata kepada mereka, Tidak akan! Tidak akan! Kami melakukannya demi iman kami! Istrinya dibebaskan dari penjara pada usia 68 tahun, dan ia sendiri pada usia 79 tahun. Pasangan itu sehati: Selalu memikirkan orang lain, selalu berusaha memuliakan nama Tuhan.

Doa:
Bapa Surgawi, terima kasih karena Engkau telah mengutus Yesus yang tanpa dosa, yang lahir untuk kebenaran, datang untuk kebenaran, dan mati untuk kebenaran. Berikanlah kami hikmat dan keberanian untuk meneladani Kristus, untuk berhati-hati dalam perkataan dan perbuatan kami, untuk berpegang teguh pada kebenaran, dan untuk berjuang dengan berani demi kebenaran, tanpa takut kepada Pilatus yang jahat di bumi. Kiranya kami menjalani hidup kami semata-mata untuk iman kami! Kiranya kami selalu memperhatikan orang lain dan berusaha memuliakan nama Tuhan dalam segala hal! Dalam nama Tuhan, Amin.

Refleksi:
Yesus, Raja yang tidak bersalah, lahir untuk kebenaran, namun menderita penghakiman yang tidak adil dan hukuman mati. Yesus menunjukkan martabat kerajaan — kerendahan hati yang bijaksana, keberanian dalam menghadapi kekuasaan, ketaatan yang teguh pada kebenaran, dan kesaksian yang tak tergoyahkan. Yesus adalah teladan kita, yang memanggil kita untuk hidup, berjuang, dan mati demi kebenaran. Di masa-masa yang kacau ini, kita harus berpegang teguh pada iman kita!


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Maret 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Matius 27:15-25

「Seluruh bangsa menjadi gila: Salibkan Yesus! Kiranya kutukan menimpa keturunanku!」

Oleh Rev. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 27:15-25 [TB])
15 Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak. 16 Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas. 17 Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus? 18 Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki. 19 Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam. 20 Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati. 21 Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu? Kata mereka: Barabas. 22 Kata Pilatus kepada mereka: Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus? Mereka semua berseru: Ia harus disalibkan! 23 Katanya: Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya? Namun mereka makin keras berteriak: Ia harus disalibkan!
24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri! 25 Dan seluruh rakyat itu menjawab: Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!

Sejarah kelam ini mengungkapkan tiga kebejatan besar: para pejabat yang mencampakkan hati nurani mereka dan menjadi hamba Iblis; para imam besar membelakangi keadilan dan menghasut massa, menjadi kaki tangan iblis; dan massa yang menjadi gila secara membabi buta, dengan rela menerima kutukan dan menjadi kaki tangan kejahatan besar. Kiranya kita waspada dan menjaga diri dari ketiga jebakan ini.

Jebakan pertama: kompromi mengarah pada kejahatan, mengubur hati nurani dan menyebabkan kehancuran. Pilatus seharusnya menjunjung tinggi keadilan, tetapi ia mengabaikan keadilan demi menyenangkan para imam besar dan orang banyak; ia berpura-pura bertobat tetapi sebenarnya seorang munafik, membunuh orang yang tidak bersalah dan meninggalkan noda abadi pada reputasinya. Kiranya Tuhan membangkitkan pejabat-pejabat yang adil yang menjunjung tinggi hati nurani dan tidak pernah mengkompromikan keadilan.

Jebakan kedua: memanipulasi opini publik dan menyebarkan kebencian. Para imam kepala menghasut massa dengan kesaksian palsu dan rasa iri hati, menghukum Yesus hingga mati. Yesus telah mengkritik mereka karena kesalehan lahiriah mereka yang hatinya penuh kejahatan kotor. Para pendeta dan pemimpin jemaat harus waspada agar mereka tidak menjadi kaki tangan iblis.

Jebakan ketiga: Kebebalan yang dipadukan dengan kegilaan mendatangkan bencana. Di antara umat itu banyak orang yang pernah menerima rahmat Tuhan tetapi dengan panik menyerukan penyaliban Yesus, dengan rela menerima kutukan dan mendatangkan malapetaka bagi keturunan mereka. Kiranya Tuhan melindungi kita dari manipulasi opini publik yang gelap.

Selama penyaliban Yesus, para pejabat, pemimpin agama, dan masyarakat umum semuanya jatuh ke dalam cengkeraman Setan. Terlepas dari status seseorang, semua orang harus waspada, agar mereka tidak menjadi kaki tangan kegelapan, dan mencegah sejarah mengerikan itu terulang kembali.

Selama masa Nazi Jerman, kengerian sejarah terulang kembali: Hitler naik ke tampuk kekuasaan, para pemimpin gereja berkompromi, massa mengikuti jejak mereka, opini publik dimanipulasi, kepentingan menggantikan hati nurani, hegemoni mengubur keadilan, para pemimpin disembah, kebencian tumbuh, dan rakyat menderita ketika kegelapan mengambil alih kendali.

Hal yang sama berlaku untuk media sosial kontemporer. Kita tidak boleh terpengaruh oleh opini publik, dan kita juga tidak boleh mengikuti orang banyak, menyebarkan rumor, kebencian, atau penghakiman. Mereka yang meninggalkan hati nuraninya akan dihakimi oleh Allah; mereka yang menyebarkan kebencian akan dihukum oleh Allah; dan mereka yang membiarkan kegilaan akan dibalas oleh Allah.

Kiranya Allah mengampuni dan mencegah sejarah mengerikan ini terulang kembali!

Doa:
Bapa Surgawi, banyak orang berada dalam keadaan histeris, setelah menerima rahmat-Mu namun berbalik melawan-Mu; terima kasih karena Engkau masih mengasihi semua orang, memikul salib-Mu, dan menanggung dosa-dosa dunia. Tuhan, berilah aku hikmat, kebijaksanaan, kejelasan, dan pengendalian diri, agar aku dapat berpegang teguh pada kebenaran dan melayani-Mu dengan setia. Dalam nama Tuhan, Amin!

Refleksi:
Di tengah hiruk pikuk yang memekakkan telinga, kerumunan itu meraung seperti setan: 「Salibkan dia!」 Di era media sosial ini, panah beracun berterbangan ke mana-mana, dan penghakiman seringkali tak terkendali. Orang percaya hendaknya tetap teguh, tidak tergoda oleh opini duniawi, percaya kepada Tuhan, menjunjung tinggi kasih dan kebenaran, menjadi terang dunia, dengan sepenuh hati berbuat baik, menolak opini-opini gelap, dan meraih kebebasan sejati.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Maret 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Lukas 22:54-62

「Petrus tiga kali menyangkal, Yesus berpaling memandang dia」

Oleh Rev. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Lukas 22:54-62 [TB])
54 Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari tempat itu. Ia digiring ke rumah Imam Besar. Dan Petrus mengikut dari jauh. 55 Di tengah-tengah halaman rumah itu orang memasang api dan mereka duduk mengelilinginya. Petrus juga duduk di tengah-tengah mereka. 56 Seorang hamba perempuan melihat dia duduk dekat api; ia mengamat-amatinya lalu berkata: Juga orang ini bersama-sama dengan Dia. 57 Tetapi Petrus menyangkal, katanya: Bukan, aku tidak kenal Dia! 58 Tidak berapa lama kemudian seorang lain melihat dia lalu berkata: Engkau juga seorang dari mereka! Tetapi Petrus berkata: Bukan, aku tidak! 59 Dan kira-kira sejam kemudian seorang lain berkata dengan tegas: Sungguh, orang ini juga bersama-sama dengan Dia, sebab ia juga orang Galilea. 60 Tetapi Petrus berkata: Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan. Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam. 61 Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku. 62 Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

Hanya dalam satu jam, tiga kali ia menyangkal Yesus, tiga kali kelemahan: Bukan, aku tidak kenal Dia! Bukan, aku tidak! Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan! Di bawah tekanan dan ujian kita sering melakukan hal yang sama! Pernahkah Anda mengikuti jejak Petrus?

Petrus menjadi cermin: banyak orang yang terlebih dahulu membanggakan diri mengikuti Tuhan, kemudian di saat krisis menyangkal-Nya. Hal yang lebih disayangkan adalah kecenderungan kita untuk menyembunyikan kelemahan dan mencoba menutupi kegagalan kita. Tetapi Petrus dengan berani menghadapi kekalahannya, menjadikannya pelajaran publik.

Yesus berpaling memandang dia: tatapan itu menusuk hati Petrus, awal dari penebusan! Kasih karunia Tuhan berlanjut; Dia mengajukan tiga pertanyaan lagi kepada Petrus: Apakah engkau mengasihi Aku? Tuhan tidak meninggalkan kita. Renungkan pengalaman Anda tentang tatapan Yesus dan tiga pertanyaan itu! Bertobat dan berpaling kepada Tuhan, dengan teguh mengikuti Dia!

Berbahagia mereka yang mengalami tatapan Yesus dan tiga pertanyaan-Nya! Pembinaan Allah terhadap kita berlangsung seumur hidup: dari panggilan Ikuti Aku hingga tatapan dan tiga pertanyaan-Nya, tatapan dan pertanyaan kasih Yesus telah sangat memberikan pertolongan! Allah tidak pernah meninggalkan kita, Kiranya kita dapat tergerak oleh tatapan-Nya dan menjawab tiga pertanyaan-Nya dengan: Ini aku, utuslah aku!

John Newton (penulis 《Amazing Grace》) mengalami keselamatan Allah di titik terendahnya. Ia pernah terlibat dalam perdagangan budak dan menjalani kehidupan yang bejat dan penuh dosa. Pada tahun 1748, di usia 22 tahun, kapalnya hampir tenggelam saat badai. Terbangun di tengah malam dan mendapati kabinnya tergenang air, ia berseru, Tuhan, kasihanilah kami! Secara ajaib, muatan kapal bergeser untuk menutupi lubang tersebut. Pukul enam sore, fajar menyingsing. Ia bersaksi, Saya ingin melihat campur tangan Tuhan. Saya membuka mulut untuk berdoa, tetapi saya tidak dapat mengungkapkan iman saya; … Seruan saya seperti suara gagak, tetapi Tuhan tidak mengabaikannya. Meskipun bertahun-tahun berpaling dari imannya, Tuhan tetap menyelamatkannya! John Newton menganggap tanggal 10 Maret sebagai hari yang akan selalu dikenang : Tuhan mengulurkan tangan-Nya dari surga dan menarik saya keluar dari air yang dalam. Setelah itu, ia berjuang selama bertahun-tahun: pada usia 30 tahun, ia dengan serius mempelajari Alkitab; pada usia 32 tahun, ia mengajukan menjadi pendeta; dan pada usia 39 tahun, ia ditahbiskan. Pada tahun 1772, pada usia 47 tahun, ia menulis 《Amazing Grace》:
Anugerah yang luar biasa, betapa merdu suaranya, menyelamatkan orang celaka sepertiku. Aku pernah hilang, tapi sekarang ditemukan. Dulu buta, tapi sekarang bisa melihat Melalui banyak bahaya, kerja keras dan jerat. Kita sudah datang. Sungguh kasih karunia telah membawa aku aman sejauh ini … Setelah menjadi pendeta, ia menentang perdagangan budak dan menjadi berkat bagi banyak orang. Amazing Grace kemudian digubah menjadi musik oleh komposer Amerika William Walker pada tahun 1847, yang menggemparkan dunia. Kata-kata terakhir John Newton adalah: Aku adalah seorang pendosa besar! Kristus adalah Juruselamat yang agung!

Petrus yang menyangkal Tuhan, bisa menjadi seorang hamba yang hebat! Newton, seorang pendosa, bisa memberkati banyak orang! Yesus berpaling memandang terus memberkati kita! Apakah Anda bersedia senantiasa kembali ke pelukan Tuhan? Apakah Anda bersedia bertekad untuk menjadi seorang hamba, seperti Petrus, seperti Newton?

Doa:
Bapa Surgawi, menyangkal tiga kali sama saja dengan pengkhianatan. Di bawah godaan rasa takut, keegoisan, dan kepentingan diri sendiri, kami sering menyangkal Engkau seperti Petrus! Ampuni kami! Kasihanilah kami! Tuhan, setiap kali Engkau berpaling memandang, setiap kali Engkau mengajukan tiga pertanyaan kepada kami, Engkau membantu kami untuk berbalik. Jangan pernah meninggalkan kami, dan izinkan kami kembali dengan berani. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin.

Refleksi:
Di halaman, di dekat api unggun, saat ayam berkokok, di tengah ketakutan, tiga kali penyangkalan Petrus — kelemahannya, seperti cermin, menggambarkan pergumulan tersembunyi kita. Bahkan di saat-saat tersulit, Tuhan tidak meninggalkan Petrus, tetapi berpaling menoleh kepadanya! Tatapan Yesus, meskipun tajam, penuh kasih, membangkitkan kedalaman jiwa kita: memanggil kita untuk sekali lagi mengikuti Dia. Ketika kita lemah, tatapan Tuhan dan tiga pertanyaan-Nya membangkitkan ingatan akan peringatan, janji, dan nasihat yang pernah Dia berikan kepada kita.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Maret 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Matius 26:47-50

「Yudas telah jatuh dan mengkhianati Tuhannya! Apakah kita akan menjadi seperti Yudas?」

Oleh Rev. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 26:47-50 [TB])
47 Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. 48 Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia. 49 Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: Salam Rabi, lalu mencium Dia. 50 Tetapi Yesus berkata kepadanya: Hai teman, untuk itukah engkau datang? Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya.

Mungkinkah kita menjadi seperti Yudas, yang mengkhianati Yesus? Hal yang paling menyedihkan bagi Tuhan dan paling menyakitkan bagi manusia adalah bahwa dari dalam gereja seringkali muncul banyak pengkhianat! Kiranya kita tidak menjadi seperti Yudas!

Siapakah Yudas Iskariot? Yudas, dari wilayah Yudea, sebuah kota kecil di selatan Yerusalem, adalah satu-satunya orang non-Galilea di antara kedua belas rasul, yang memiliki keterampilan sosial yang lebih unggul daripada kebanyakan. Jauh di lubuk hatinya, ia memandang orang Galilea sebagai orang desa yang lugu dan meremehkan aksen dialek mereka. Awalnya, ia dengan penuh semangat mengagumi Yesus, mengikuti-Nya dari jauh, dan ia diberi posisi sebagai bendahara kemampuan administrasinya (Yoh. 12:6); namun, ia lebih mencintai Mammon daripada Allah! Yesus meninggikan Kerajaan Surga, Dia bukan tidak datang untuk mendirikan kerajaan duniawi, Ia menubuatkan kematian-Nya sendiri; kemudian, Yudas secara bertahap menjauhkan diri, sering mencuri uang untuk keuntungan pribadi, dan akhirnya bersekongkol dengan tokoh-tokoh berpengaruh untuk mengkhianati Yesus demi keuntungan — tiga puluh keping perak besar (setara dengan gaji empat bulan atau harga seorang budak) (Keluaran 21:32). Dahulu seorang murid yang bersemangat, ia menjadi pengkhianat yang mengkhianati tuannya.

Dalam istilah modern, Yudas seperti seorang Kristen kelas atas yang pragmatis, plin-plan, dan ambisius—menunjukkan kesalehan lahiriah tetapi kurang keteguhan rohani. Ia memiliki keterampilan profesional yang kuat dan mahir dalam mengelola uang, tetapi ia mencuri; ia memandang rendah orang miskin dan menganggap dirinya lebih unggul. Ia pernah bersemangat dalam melayani! Tetapi karena patah semangat akibat kurangnya imbalan, ia secara bertahap berhenti mencintai Kerajaan Surga dan hanya mencintai kemuliaan duniawi; ia dengan rela menjadi pengkhianat, mengkhianati Tuhannya dan teman-temannya. Ia untuk sementara mendapatkan dukungan dari orang-orang berkuasa, tetapi pada akhirnya dibenci. Harga dari menjual jiwanya: penyesalan, tidak ada yang mengasihaninya, bunuh diri, dan kehinaan abadi.

Untuk menghindari menjadi seperti Yudas, kita harus menghindari tiga kegagalan spiritual utama Yudas:
Menilai berdasarkan penampilan dan lebih mencintai diri sendiri daripada sesama: Yesus memilih untuk menjadi orang Nazaret yang hina dari Galilea! Jika seseorang menilai berdasarkan penampilan dan terlalu mengejar keuntungan pribadi, ia lebih mungkin menghindari salib ketika menghadapi penindasan atau godaan ketenaran dan kekayaan, dan menjadi seperti Yudas.

Mencintai uang lebih daripada Allah: Kita tidak dapat mencintai Mammon dan sekaligus mencintai Tuhan! Kita membutuhkan uang untuk hidup, tetapi kita harus merasa puas dengan makanan dan pakaian yang ada. Kita harus mampu hidup dalam kekayaan maupun kemiskinan, dan tidak membiarkan keserakahan menghancurkan jiwa kita! … Hati mereka telah terlatih dalam keserakahan. Mereka adalah orang-orang yang terkutuk! (2 Petrus 2:14)

Mereka lebih mencintai kemuliaan duniawi daripada Kerajaan Allah: Yesus sepanjang hidup-Nya mengajarkan kebenaran Kerajaan Surga. Kebahagiaan dan keindahan duniawi mungkin indah, tetapi jika bertentangan dengan jalan Allah, kita harus memilih Kerajaan Surga — di dunia ini kita hanyalah pengembara! Mereka yang berpegang pada kemuliaan duniawi pasti akan meninggalkan Tuhan dan mengikuti jejak Yudas.

Pernahkah Anda bertemu dengan Yudas di zaman modern? Kiranya Tuhan mengasihani kita! Jangan biarkan kita menjadi seperti Yudas!

Doa:
Bapa Surgawi, betapa mengerikannya bahwa Yudas mengkhianati-Mu melalui sebuah ciuman! Dan bagaimana dengan aku? Berapa kali dalam hidupku aku telah menyangkal-Mu? Tetapi seperti yang Engkau lakukan kepada Petrus, Engkau memberi aku kesempatan untuk berbalik. Lindungilah aku, dan jangan biarkan aku jatuh ke dalam perangkap 「lebih mencintai diri sendiri daripada sesama, lebih mencintai uang daripada Allah, lebih mencintai kemuliaan dunia daripada Kerajaan Allah」! Jika aku lemah, ya Allah, peringatkan aku dan bawalah aku kembali! Jangan biarkan aku menjadi seperti Yudas! Ya Allah, kasihanilah aku! Dalam nama Tuhan Yesus, Amin.

Refleksi:
Pada malam pengkhianatan, Yudas mengkhianati Yesus dengan sebuah ciuman, menjual Tuhan demi keuntungan kecil. Kita sering mengkompromikan iman kita, mengkhianati Tuhan demi keuntungan dari dunia yang tidak berharga! Sungguh tragis! Kita berseru 「Tuhan, Tuhan,」 tetapi gagal menghormati Tuhan melampaui segala, dengan mudah menyerah pada pengkhianatan seperti Yudas. Bapa Surgawi, kami memohon agar Engkau memperbarui hati kami, agar kami tidak menginginkan ketenaran, kekayaan, atau kemuliaan dunia, dan memberi kami tekad untuk mengasihi Allah di atas segalanya!


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Maret 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Lukas 22:39-45

「Berlutut di taman Getsemani pada malam hari, keringat menetes seperti darah, merasakan kepahitan cawan sendirian, sendirian menanggung tugas kehendak Bapa」

Oleh Rev. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Lukas 22:39-45 [TB])
39 Lalu pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia. 40 Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka: Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. 41 Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: 42 Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi. 43 Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. 44 Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. 45 Lalu Ia bangkit dari doa-Nya dan kembali kepada murid-murid-Nya, tetapi Ia mendapati mereka sedang tidur karena dukacita.

Di malam yang paling gelap sekalipun, kesepian seringkali menerjang masuk ke dalam hati kita! Dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang berbahaya, kita membutuhkan teman, ada jalan untuk berlimdung! Namun, kita seringkali memulai perjalanan sendirian, menanggung beban kita sendirian. Ini berlaku bagi orang Kristen, dan terlebih lagi bagi para pemimpin! Di masa-masa paling berbahaya dalam hidup dan pelayanan, tidak dapat menahan hati untuk tidak meratap, Betapa kesepiannya! Banyak kesulitan tidak dapat dibagikan kepada orang lain, tidak ada yang memahami rasa sakitnya, tidak ada yang berbagi bebannya. Hanya Yesus yang menawarkan penghiburan — di Taman Getsemani, Tuhan bahkan lebih sendirian, lebih berat, dan lebih berani: berlutut di Taman Getsemani, berkeringat darah, mencicipi cawan pahit sendirian, menanggung tugas kehendak Bapa sendirian!

Mari kita kembali ke Taman Getsemani, tempat Yesus berada di tengah malam. Ia mencurahkan isi hatinya kepada Bapa, keringatnya seperti tetesan darah, menanggung pergumulan yang menyakitkan, dan bertekad untuk memikul salib. Tetapi para murid tertidur, Yudas mengkhianati mereka dengan ciuman, dan mereka tercerai-berai dan meninggalkan Yesus. Taman Getsemani malam itu, bagi Yesus, adalah taman kesendirian, pergumulan, doa, ketaatan, dan tekad; bagi orang lain, itu adalah taman tertidur, pengkhianatan, dan ketidakadilan. Dan bagaimana dengan Taman Getsemani kita sendiri? Apakah itu taman ketaatan dan kedekatan dengan Tuhan, atau taman ketidakadilan, tempat tertidur, ketidaksetiaan, dan pengkhianatan ?

Alkitab menyebutkan empat taman penting: Taman Eden, Taman Getsemani, Taman Makam, dan Firdaus.
• Taman Eden: Dahulu taman yang indah, tetapi terusik menjadi taman kejatuhan! Dahulu tempat ini adalah tempat terindah, tetapi manusia tergoda oleh iblis dan jatuh ke dalam dosa tanpa banyak perlawanan, sehingga mendatangkan bencana bagi dunia!

• Taman Getsemani: Taman Pengorbanan! Sang Anak menjadi manusia untuk mempersiapkan diri menghadapi salib; setelah mengalami siksaan umat manusia, Ia sekali lagi bertekad untuk mengorbankan diri-Nya bagi semua orang!
• Taman Kuburan (Yohanes 19:41): Ini adalah taman kemenangan dan taman kebangkitan! Tuhan Yesus dikuburkan di sini, tetapi setelah kebangkitan-Nya, hanya tersisa kuburan kosong, yang menjadi saksi kebangkitan yang mengalahkan kematian!
• Firdaus (Lukas 23:43) : Itu adalah Taman Berkat, Firdaus yang Kekal! Tuhan menjanjikan kebahagiaan kekal kepada orang percaya yang bertobat, seperti pencuri yang bertobat di kayu salib, yang sekarang bersama Tuhan di Firdaus. Semua yang percaya kepada-Nya akan memiliki hidup kekal!

Malam itu di Taman Getsemani, Tuhan Yesus sangat berduka, hampir sampai mati, merindukan kebersamaan, namun semua murid-Nya tertidur! Hati-Nya sangat sakit, keringat-Nya mengalir seperti darah! Tuhan yang kudus seharusnya tidak menanggung beban dosa, seharusnya tidak menderita cawan yang memalukan seperti itu, dan seharusnya tidak terpisah dari Bapa, mengalami Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku! Tetapi Ia mengasihi manusia sampai akhir, menghormati Bapa sampai akhir, dan bertekad untuk taat, dengan berkata, Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi.

Setiap kali Anda kembali ke Taman Getsemani Anda sendiri: Teruslah curahkan isi hati Anda, mintalah kepada Tuhan untuk menguatkan dan mengubah hati Anda, sampai Anda, seperti Tuhan, bertekad untuk tunduk kembali: Untuk melakukan kehendak-Mu. Saat-saat yang paling sulit dan berbahaya adalah saat-saat di mana doa paling dibutuhkan! Doa adalah senjata terbaik kita dan jalan keluar kita yang paling bijaksana!

Kiranya Taman Getsemani setiap saudara dan saudari menjadi taman doa dan taman pengabdian!

Doa:
Kita

Refleksi:
Kita


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Maret 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.