Yunus 3:9

「Siapa tahu, Allah akan berpaling dari murka-Nya」

Oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yunus 3:9 [TB2])
9 Siapa tahu, Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala, sehingga kita tidak binasa.

Catatan tambahan di akhir maklumat raja Niniwe mengungkapkan logika di balik perintahnya. Dalam catatan tambahan ini, raja Niniwe menggunakan sebuah pertanyaan, dimulai dengan Siapa tahu? (מִֽי־יוֹדֵ֣עַ mî-yō·w·ḏê·a; who knows), yang menekankan kebebasan tindakan Allah; Dia mampu berbalik hati-Nya. Ada interaksi yang berbeda antara belas kasihan Allah dan keadilan-Nya, berdasarkan belas kasihan Allah, Dia dapat menanggapi pertobatan manusia dan memberikan keselamatan; Allah juga dapat menghakimi berdasarkan keadilan-Nya, tidak memanifestasikan belas kasihan-Nya karena pertobatan manusia — inilah kebebasan kedaulatan Allah (tidak bergantung pada apapun. tidak terikat, tidak dipengaruhi apapun).

Catatan tambahan ini mencerminkan sikap raja Niniwe terhadap Allah. Ia percaya bahwa meskipun ia telah bertobat untuk dirinya sendiri dan kotanya, ia tidak berpikir bahwa Allah akan serta-merta menyelamatkan mereka dari kehancuran karena pertobatannya. Oleh karena itu, pertobatannya bukanlah tentang memanipulasi respons Allah, melainkan tentang pertobatan yang tulus dari hati. Hal ini sangat istimewa, terutama karena datang dari seorang raja asing.

Frasa berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya tidak berarti bahwa Allah telah membuat keputusan yang salah dan kemudian menyesal. Dua kata dalam bahasa asli שׁ֔וּב וְנִחַ֖ם wə·ni·ḥam yā·šūḇ turn and relent berkaitan erat. Kata pertama, berbalik (שׁ֔וּב yā·šūḇ; turn), adalah kata yang sama dengan berbalik dalam perintah raja Niniwe sebelumnya berbalik dari jalan yang jahat. Penempatan kedua kata yang mirip ini oleh penulis Kitab Yunus mencerminkan niatnya untuk menciptakan korespondensi di antara keduanya. Orang yang meninggalkan jalan yang jahat (שׁ֔וּב yā·šūḇ; turn) berpotensi mengalami Allah berbalik hati (שׁ֔וּב yā·šūḇ; turn), dan keduanya dapat dikaitkan secara erat.

Kata kedua, menyesal (נָחַם naw-cham; relent), dalam teks-teks Perjanjian Lama biasanya merujuk pada Allah yang merencanakan suatu tindakan, kemudian mengubah rencana-Nya karena perilaku manusia. Misalnya, Kejadian 6:6 menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya, menggambarkan Allah menyesali penciptaan manusia di bumi. Ini bukan berarti penciptaan manusia adalah keputusan yang salah, melainkan bahwa kejahatan manusia begitu besar sehingga Allah mengubah rencana awal-Nya. Kata yang sama muncul dalam Keluaran 32, di mana Allah melihat bahwa umat-Nya telah berpaling dari-Nya dan menyembah anak lembu emas. Awalnya Ia bermaksud untuk membinasakan mereka (Keluaran 32:10), tetapi Musa berdoa syafaat bagi bangsa Israel, dan Allah menyesal telah mendatangkan tulah atas umat-Nya (Keluaran 32:14 Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya). Jadi, penyesalan Allah didasarkan pada perubahan perilaku manusia. Di perikop ini, perubahan manusianya dari negatif menjadi positif, dan penyesalan Allah dengan cara ini hanya digunakan di sini dalam Alkitab untuk merujuk kepada bangsa-bangsa non-Yahudi.

Refleksi:
1. Sikap pertobatan raja Niniwe (Yunus 3:6-9) memberi kita pencerahan yang mendalam: banyak orang Kristen sering kali bersyarat dalam pertobatannya, berpikir, Perubahan saya pasti akan mendatangkan kasih karunia dan berkat Allah, yang mungkin tanpa sengaja mengubah pertobatan menjadi alat untuk memanipulasi Allah. (Memang, karena Yesus menawarkan penebusan, mengakui dosa-dosa kita akan mendatangkan pengampunan Allah, tetapi itu belum tentu mendatangkan kesuksesan dan berkat di masa depan). Allah sepenuhnya berdaulat bebas, dan perubahan kita belum tentu mendatangkan berkat-Nya sebagi respons Allah. Kita harus meneladani raja Niniwe, menghormati kedaulatan Allah dan bertobat dengan tulus, alih-alih mengharapkan transaksi kasih karunia. Merenungkan pengalaman pertobatan saya di masa lalu, apakah ada jejak persyaratan? Misalnya, ketika saya mencari pertobatan, apakah saya menyimpan harapan bahwa Tuhan akan memberkati saya? Bagaimana kita bisa bergeser ke arah ketaatan yang murni?

2. Meskipun pertobatan tidak serta-merta mendatangkan belas kasihan Allah, keduanya tak terpisahkan — pertobatan membuka hati kita, memungkinkan kita mendekat kepada Tuhan yang penuh kasih (Yunus 3:10). Oleh karena itu, marilah kita datang kepada Allah hari ini, membuka hati kita, dan melalui doa singkat, mengakui kelemahan kita dan memohon kepada Allah untuk mencurahkan belas kasihan-Nya kepada kita, menjadikan pertobatan sebagai jembatan antara kita dan Allah.


Renungan pemahaman Kitab Yunus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus ditulis oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee yang dipublikasi pada bulan Desember 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.