Matius 6:14-15

Sepintas, kedua ayat ini tampak seperti selingan / selipan yang tiba-tiba. Jika dijelaskan mengikuti teks sebelumnya (konteksnya), mungkin akan dipandang sebagai penjelasan tambahan dari permohonan orang kedua dari Doa Bapa Kami, teks sebelumnya: ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami, di dua ayat ini menjadi penjelasan lebih rinci Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu. Namun terdapat dua pandangan yang berbeda tantang hal ini.

Namun, menurut pendapat saya, kedua kalimat ini dapat dikatakan sebagai inti dari keseluruhan Khotbah di Bukit, atau inti ajaran Yesus Kristus dalam Khotbah di Bukit, dan merupakan inti ajaran di seluruh Injil Matius pasal 5 sampai pasal 7.

Jika kita membaca tiga pasal ini (pasal 5-7) dengan saksama, kita akan menemukan bahwa ada pesan yang dikatakan Yesus tidak hanya sekali, dua kali, tiga kali, tetapi lima kali, enam kali; Dia tidak mengatakannya dengan cara yang sama, tetapi mengulang dengan cara memakai sudut pandang dan bentuk pembahasan yang berbeda. Jika suatu kebenaran dikatakan berkali-kali berturut-turut, kita dapat menyimpulkan bahwa itu adalah hal terpenting dalam pikiran pembicara, bahkan kita dapat mengatakan bahwa pesan yang telah diucapkan berkali-kali bukan hanya pesan utama dari Khotbah di Bukit, tetapi juga merupakan ide sentral dari ajaran etis Yesus, di mana banyak ajaran-Nya berputar pada poros utama ini.

Bagian awal Khotbah di Bukit adalah Ucapan Bahagia, Yesus menyebutkan delapan ciri rohani orang-orang yang diberkati Allah. Berkat kelima dari delapan Ucapan Bahagia adalah: Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan (5:7), seseorang yang murah hati kepada orang-orang di sekitarnya akan diberkati, karena Allah akan menanggapi tindakan belas kasihan mereka, dan mengasihani mereka. Cara kita memperlakukan orang lain memengaruhi cara Allah memperlakukan kita.

Pasal 6 mencatat bagian dari Doa Bapa Kami yang berhubungan dengan permohonan terkait manusia, setelah permohonan tentang makanan sehari-hari, selanjutnya adalah ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami (6:12). Perlu diperhatikan bahwa permohonan ini sebenarnya cukup menantang: kita meminta Allah untuk mengampuni dosa-dosa kita, sama seperti kita telah mengampuni mereka yang telah bersalah terhadap kita. Seperti kami …, dengan kata lain, kita memaafkan orang lain terlebih dahulu dan kemudian meminta Allah untuk mengampuni kita. Jika kita tidak pernah mengampuni kesalahan orang lain, maka permohonan ini tidak ada tempat berpijak untuk mengajukan doa permohonan ini. Terlebih serius lagi, jika kita tidak sengaja melafalkan kalimat ini, seolah-olah meminta kepada Allah: karena kita tidak pernah mengampuni kesalahan orang lain, maka Engkau juga tidak perlu mengampuni kesalahan kami. Doa ini jadinya mencari masalah untuk diri sendiri.

Setelah mengajarkan Doa Bapa Kami, Yesus Kristus membuat rangkuman dua kalimat (6:14-15) Rangkuman dua kalimat itu mengulangi pengajaran ayat 12, tetapi merupakan penjelasan yang lebih rinci.

Kemudian sampai pasal 7, dalam ayat 1 – 5, Yesus mengingatkan kita bahwa jika kita mencela dan menghakimi orang lain, kita harus siap mental, Allah akan memakai standar yang sama untuk menghakimi kita. Tolok ukur yang kita gunakan untuk mengukur orang lain akan menjadi tolok ukur yang Allah untuk mengukur kita. Dia memakai sebuah perumpamaan untuk mengajarkan bahwa ketika kita melihat ada setitik duri di mata orang, kita melihat bahwa mereka memiliki kesalahan atau kekurangan tertentu, dan kita juga harus tahu bahwa di mata Tuhan, kita juga memiliki kesalahan dan kekurangan; dan Tuhan melihat kesalahan kita, pasti lebih besar dari kesalahan yang kita lihat pada diri orang lain. Oleh karena itu, kecuali kita menghilangkan kesalahan besar dalam diri kita sendiri, kita tidak berhak mencela kesalahan kecil orang lain.

Perumpamaan di ayat 7:6 terkait erat dengan konteks seluruh pasal, sehingga akan dibahas nanti. Dalam ayat 7 sampai 11, Yesus menunjukkan bahwa sebagai orang tua manusia, kita akan memberikan hal-hal yang baik kepada anak-anak kita, apalagi Bapa di surga pasti memberikan hal-hal yang baik kepada anak-anak-Nya. Dengan kata lain, Allah memperlakukan kita seperti kita memperlakukan anak-anak kita. Jadi dalam ayat 7:12, Yesus meringkas pengajaran dari perikop ini, dengan mengatakan: Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka …; yang lebih penting, Allah memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukan orang lain. Yesus menekankan prinsip ini, yang merupakan inti dari ajaran seluruh Perjanjian Lama.

Kita memiliki belas kasihan, Tuhan mengasihani kita; kita mengampuni orang lain, Tuhan mengampuni kita; Jika kita tidak mengampuni orang lain, Tuhan tidak mengampuni kita; kita menghakimi orang lain, Tuhan menghakimi kita; ukuran yang kita gunakan untuk menghakimi orang lain, ukuran yang sama akan Tuhan gunakan untuk menghakimi kita; kita memperlakukan anak kita dengan baik, Tuhan memperlakukan anak-Nya dengan baik. Kita harus memperlakukan orang lain dengan cara yang sama seperti yang kita harapkan untuk diperlakukan oleh orang lain.

Dari Ucapan Bahagia hingga Doa Bapa Kami, kemudian pengajaran di pasal 7, dapat dilihat dengan jelas bahwa pesan utama Khotbah di Bukit, yaitu gagasan sentral dari ajaran etika Yesus Kristus, adalah: Sikap kita terhadap orang lain mempengaruhi bagaimana Tuhan memperlakukan kita.

Renungkan:
Mari introspeksi lagi dan lagi, apakah saya memahami kebenaran Yesus: Bagaimana kita memperlakukan orang lain mempengaruhi bagaimana Allah memperlakukan kita?


Renungan pemahaman Injil Matius 5-7 Khotbah di Bukit

Renungan pemahaman Injil Matius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Matius 5-7 Khotbah di Bukit ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) dipublikasi pada bulan Agustus 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).