Ibrani 11:1-16

Teladan Iman (1)

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ibr. 11:1-16 [ITB])
1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
2 Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.
3 Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.
4 Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.
5 Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. 6 Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
7 Karena iman, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan–dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.
8 Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. 9 Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. 10 Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.
11 Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. 12 Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.
13 Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. 14 Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air. 15 Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ. 16 Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.

Surat Ibrani pasal 11 merupakan perikop yang pernah didengar oleh sebagian besar orang percaya. Penulis mencantumkan nama dan kisah banyak orang beriman yang hebat untuk memperkuat argumennya, menunjukkan bahwa orang-orang hebat di masa lalu mengandalkan iman dan kesabaran bertekun untuk menyelesaikan kehendak Allah, bisa mendapatkan apa yang Allah janjikan (Ibrani 10:35-36). Sejak di ayat 6:12, penulis telah berpesan kepada para penerima surat agar meneladani mereka yang mewarisi janji melalui iman dan ketekunan, agar tidak malas dan dapat terus menunjukkan berbagai tindakan dan menyatakan kasih demi nama Tuhan di dunia. Sampai di pasal 11, penulis secara resmi mencantumkan nama beberapa orang dahulu yang layak ditiru, total enam belas: Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Sara, Ishak dan Yakub, Yusuf, Musa, Rahab, Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi. Dilihat dari perbandingan panjangnya tulisan, fokus penulis jelas pada dua karakter Abraham dan Musa. Poin lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa meskipun di pasal 3 penulis menunjukkan bahwa para leluhur telah mengalami penghakiman berat dari Allah karena ketidaktaatan dan pengkhianatan, di matanya, masih banyak orang zaman terdahulu yang setia kepada Allah dan bertahan sampai akhir. Inilah tanda-tanda pengharapan (sign of hope), janji-janji Allah tidak dirusak oleh pemberontakan dan pengabaian manusia. Kisah-kisah tokoh besar beriman tidak hanya menjadi saksi kesetiaan dan kesabaran ketekunan, tetapi juga menggambarkan kesetiaan dan kasih Allah. Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia (Ibrani 10:23) Kesetiaan Allah adalah alasan dan motivasi terpenting bagi manusia untuk memiliki pengharapan.

Jadi, pengharapan dan iman tidak dapat dipisahkan. Iman adalah jaminan dari hal-hal yang diharapkan (faith is the assurance of things hoped for). Apa pengharapan bagi orang Kristen? Surat Ibrani telah menekankan bahwa menurut perjanjian baru yang sah secara kekal yang didirikan oleh Anak Allah, Yesus, yang mempersembahkan diri-Nya, orang percaya dapat memasuki perhentian yang sebenarnya (Ibrani 4:1-11), dan menerima kehidupan kekal yang dijanjikan (Ibrani 9:15). Namun, dilihat dari kesulitan yang masih harus dihadapi para pembaca dalam hidup (Ibrani 10:32-24), jelas bahwa janji Tuhan akan terpenuhi sepenuhnya di masa depan. Mengapa orang percaya masih berpegang teguh pada pengharapan yang mereka akui? Jaminan apa yang mereka miliki? Dalam keterpurukan, seringkali yang dilihat orang adalah kesulitan dan keterbatasan yang ada di depan mereka, dan masa depan dipandang masnusia sebagai hasil perhitungan dari berbagai kondisi dan kemungkinan serta tunduk pada masa lalu dan masa kini. Oleh karena itu, ketika orang tidak dapat melihat kemungkinan adanya perubahan, keputusasaan akan muncul di dalam hati mereka. Penulis Surat Ibrani mengingatkan penerima surat bahwa iman adalah jaminan orang Kristen akan hal-hal yang diharapkan. Iman adalah percaya kepada Tuhan dan firman-Nya, dan kata-kata yang diucapkan Tuhan sendiri adalah jaminan terbesar (Ibrani 6:13-17). Tentu saja, iman tidak menyangkal apa yang telah dilakukan Tuhan dalam sejarah. Sejarah dapat bersaksi tentang apa yang telah dilakukan dan dikatakan Tuhan. Fakta bahwa Anak Allah menjadi darah daging dan mati di kayu salib untuk penebusan umat manusia adalah saksi sejarah, mayat nenek moyang Israel di padang belantara juga merupakan saksi sejarah. Namun, agar orang dapat menerima peristiwa sejarah ini sebagai pengungkapan kehendak Allah, mereka perlu menegaskannya dengan iman. Semuanya bermuara pada percaya. Hanya karena iman (sola fide)!

Dengan iman kita tahu bahwa alam semesta ini diciptakan melalui firman Allah (Ibrani 11:3). Firman Allah itu kuat, dan semua yang terlihat diciptakan dari firman yang tidak terlihat. Karena firman Allah memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari ketiadaan (creatio ex nihilo), Ia dapat melakukan hal-hal baru di dunia. Fakta bahwa Yesus, Anak Allah, menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih baik adalah sebuah peristiwa baru dalam sejarah manusia, membuka jalan baru dan hidup bagi umat manusia untuk mencapai Allah yang kekal. Yesus Kristus adalah jalan, kebenaran, dan hidup (Yohanes 14:6). Bersandar pada darah Yesus, orang percaya dapat dengan berani memasuki bait suci surgawi. Semuanya berasal dari firman Tuhan, Allah mengatakan apa yang ada, dan itu akan segera terjadi (Mazmur 33:9). Orang-orang zaman dahulu memperoleh pujian dengan mempercayai firman Allah (Ibrani 11:2).

Dalam hal memercayai firman dan janji Allah, orang Israel masa lalu sama dengan orang Kristen masa kini. Darah Imam Besar Yesus Kristus berbeda. Nyatanya, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bukanlah dua hal yang sama sekali berbeda, melainkan lebih seperti hubungan antara kebenaran dan bayangan (Ibr. 8:5), realitas dan tipe (Ibr. 9:9). Bagaimanapun, meskipun orang dahulu dan kita berbeda di banyak tempat, kita semua sama-sama percaya pada firman dan janji Allah. Tanpa iman, tidak mungkin berkenan menyenangkan Tuhan (Ibrani 11:6). Mereka yang berkenan dan diterima oleh Allah di masa lalu mati dalam iman. Ketika mereka hidup, orang-orang ini tidak menerima apa yang dijanjikan, mereka hanya melihat dari jauh, tetapi menyambut dan menunggu dengan sukacita (Ibrani 11:13). Apa yang selalu dirindukan orang dahulu adalah tanah air yang lebih indah di surga, di mana janji-janji Allah digenapi sepenuhnya. Sekarang hanyalah sebuah transisi, baik atau buruk, itu tidak akan memainkan peran yang menentukan bagi orang beriman.

Renungkan:
Apa hubungan antara iman dan pengharapan? Mengapa orang percaya kepada Tuhan masih memiliki pengharapan untuk masa depan meskipun mengalami kesulitan yang luar biasa? Apa yang dapat dinantikan oleh orang Kristen? Apakah saya yakin dengan Firman dan janji Tuhan? Apa yang begitu sulit tentang percaya kepada Tuhan?


Renungan pemahaman Surat Ibrani

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Ibrani ditulis oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀) yang dipublikasi pada bulan April 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.