「Persahabatan yang melampaui darah」
Oleh Yè Sōng Mào (葉松茂)
Alliance Bible Seminary H.K.
(2 Tim. 1:1-5 [ITB])
1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus,
2 kepada Timotius, anakku yang kekasih: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.
3 Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. 4 Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. 5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Paragraf terakhir Kisah Para Rasul mencatat bahwa Paulus dipenjarakan dan sedang menunggu interogasi di Roma, saya berdasarkan 「Teori Galatia Selatan」 berpendapat bahwa Paulus dipenjarakan untuk pertama kalinya pada tahun 56-62 M. Para ahli umumnya percaya bahwa Paulus akhirnya dibebaskan dan sekali lagi pergi ke berbagai tempat untuk mengabarkan berita bahagia Injil. Beberapa tahun kemudian, di Asia Paulus ditangkap untuk kedua kalinya dan dibawa ke Roma lagi, menunggu persidangan terakhir di penjara. Dihadapkan dengan penganiayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari kaisar Romawi Nero terhadap orang Kristen, peluang untuk dibebaskan sangat kecil, Paulus tahu bahwa dia tidak jauh dari hari kemartiran bagi Injil, jadi dia menulis surat 2 Timotius ini dan menitipkan orang dikirimkannya ke Efesus tempat yang lebih dari satu seribu kilometer jauhnya, kepada Timotius yang menggembalakan di gereja lokal. Timotius adalah murid langsung dari Paulus, mitra paling setia dalam lima belas tahun pelayanan terakhir, dan putra terkasih dalam Tuhan. Sebelum Paulus mati syahid, dia tidak punya keinginan lain, satu-satunya keinginannya adalah bertemu Timotius untuk yang terakhir kali. Tujuan surat 2 Timotius adalah memberi tahu Timotius untuk bergegas ke Roma secepat mungkin dan memenuhi keinginan terakhir Paulus dalam hidup. Tentu saja, surat itu juga penuh dengan nasihat terakhir Paulus kepada Timotius, mengingatkannya di hadapan penganiayaan besar untuk menjaga kesetiaannya kepada Kristus dan Paulus, dan di dalam terjangan arus bidat Efesus hendaknya berpegang pada kebenaran murni.
Kalimat pertama surat ini (ayat 1:1-2), Paulus menyatakan bahwa dia dipanggil menjadi rasul atas kehendak Allah dan sesuai dengan 「janji tentang hidup」 di dalam Kristus Yesus. Hidup ini bukan hanya hidup kekal yang akan kita miliki di masa depan, tetapi juga hidup berkelimpahan yang kita miliki sekarang. Kemartiran sudah dekat, tidak heran sejak awal surat Paulus menyebutkan hidup yang dijanjikan di dalam Kristus.
Sesuai dengan kebiasaan surat-menyurat menyebutkan penulis dan penerimanya, kemudian di ayat 3-5 Paulus mengucapkan syukur kepada Allah karena Timotius. Dalam teks bahasa Yunani, seluruh ayat 3-5 merupakan satu kalimat lengkap, ayat 3 adalah doa syukur Paulus, dan ayat 5 adalah alasan mengapa dia mengucapkan syukur kepada Allah karena Timotius. Ayat 4 sebenarnya menyela penyelesaian satu kalimat panjang ini, merupakan tulisan spontan penuh perasaan yang menyimpang dari topik kalimat. Dia menuliskan bagaimana ia mengenang Timotius dalam doanya, dan tiba-tiba teringat bahwa terakhir kali dia mengucapkan selamat tinggal kepada Timotius, Timotius tidak bisa menahan air mata seorang laki-laki! Ini mungkin perpisahan sebelumnya yang tercatat di surat 1 Timotius 1:3 「ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain.」 Mengingat keengganan Timotius untuk berpisah saat itu, Paulus sangat ingin bertemu dengannya. Versi RCUV Mandarin menerjemahkan sebagai 「berkeinginan besar untuk segera bertemu (mengandung unsur eagerly and hastily; agak sulit diterjemahkan ke bahasa Indonesia)」 (KJV 「Greatly desiring to see thee」; IMB 「besar keinginanku untuk bertemu denganmu」), teks bahasa aslinya mengungkapkan intensitas harapan, bukan menekankan sifat urgensi pertemuan itu. Dia berkeinginan sangat besar berharap bertemu Timotius, asalkan dia bisa bertemu 「supaya penuhlah kesukaanku」, jika diterjemahkan langsung artinya dia akan 「dipenuhi oleh sukacita.」
Renungkan:
Ayat yang pendek, tetapi indah, memungkinkan kita untuk mengalami perasaan antara Paulus dan Timotius secara tiga dimensi: air mata perpisahan di masa lalu, keinginan kuat untuk bertemu sekarang, dan dipenuhi oleh sukacita di masa depan. Relasi persahabatan yang lebih kental dari hubungan darah, ini adalah dunia batin Paulus ketika dia sendirian di penjara, menunggu kematian. Kelembutan seorang pria yang tangguh, bukan relasi antara pria dan wanita, melainkan antara ayah dan anak. Gereja adalah tubuh Kristus, di antara saudara dan saudari adalah perjanjian hidup dan mati, berbagi suka dan duka, jadi harus ada persahabatan yang kental yang tidak kalah dari hubungan darah. Apakah Anda memiliki saudara seperti itu di gereja? Kakak adik seperti itu? Kenapa tidak? Apakah Anda tidak cukup mendalam? Atau apakah Anda terlalu protektif terhadap diri sendiri dan tidak mau membuka tangan Anda kurang terbuka dalam relasi persahabatan dengan orang lain di gereja?
Renungan pemahaman Surat 2 Timotius
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 2 Timotius ditulis oleh Yè Sōng Mào (葉松茂) yang dipublikasikan pada bulan Februari 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.