2 Tes. 1:5-8a

「Pembalasan yang Adil, Damai Sejahtera Mendapatkan Kerajaan」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Tesalonika ditulis oleh 陳耀鵬 (Chén Yào Péng) yang dipublikasi pada bulan Februari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(2 Tes. 1:5-8a [ITB])
5suatu bukti tentang adilnya penghakiman Allah, yang menyatakan bahwa kamu layak menjadi warga Kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena Kerajaan itu.
6Sebab memang adil bagi Allah untuk membalaskan penindasan kepada mereka yang menindas kamu 7dan untuk memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas, dan juga kepada kami, pada waktu Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya, dalam kuasa-Nya, di dalam api yang bernyala-nyala, 8dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita.

Ketekunan orang percaya di Tesalonika dalam menghadapi penderitaan aniaya disebutkan oleh Paulus dalam surat pertama, ia di surat kedua lebih lanjut memberikan pujian, menyebutkan mereka layak untuk mendapatkan Kerajaan Allah. Kita tidak sepenuhnya mengetahui bagaimana mereka mengalami penderitaan, mungkin ditangkap, dipukul atau dipenjarakan; juga mungkin harta dan rumah mereka disita atau dirampas hak yang seharusnya dimiliki sebagai warga negara. Tidak peduli dalam bentuk aniaya apapun, ketekunan yang mereka tunjukkan sungguh merupakan bukti pekerjaan Allah di antara mereka!

Paulus menyebutkan tiga pandangan mengapa orang percaya di Tesalonika masih bisa tetap bertekun dalam iman di segala aniaya kesusahan: terlebih dahulu, Allah memakai kesulitan untuk mempersiapkan mereka, sehingga layak mendapatkan Kerajaan Allah; mereka layak adalah karena iman di dalam Tuhan. Mereka masih tetap berdiri teguh di dalam kesusahan, membuktikan sudah telah dilepaskan dari kerajaan kegelapan iblis, telah masuk ke dalam Kerajaan Anak terkasih Allah. Hari ini orang percaya jika berada di dalam tekanan aniaya kesulitan dan masih tetap mampu kuat menanggung, tidak bersedia menundukkan kepala kepada kuasa jahat, tidak menyangkal iman kepercayaan yang murni, tidak menjual hati nurani baik dari orang Kristen, adalah bukti Allah sungguh berkarya di dalam kehidupan mereka.

Selain itu, Allah memakai kesusahan untuk menyatakan keadilan-Nya, dengan kesusahan membalas orang yang menganiaya orang percaya. Surat Ibrani 11 telah mencatat sangat banyak iman orang-orang besar ── Abraham, Ishak, Musa, Sarah dll. Tetapi di sana terdapat satu kelompok orang yang lain, nama mereka tidak dicatat, Alkitab demikian menggambarkan mereka: 「Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan. Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan. Dunia ini tidak layak bagi mereka….」(Ibr. 11:36-38). Standar nilai yang Allah tentukan sangat jelas tidak sama dengan yang ditentukan oleh dunia. Orang dunia melihat engkau mungkin tidak ada harganya sedikitpun, bahkan menganiaya engkau, tetapi seandainya engkau masih tetap dapat berdiri tegap dengan kokoh di dalam aniaya kesulitan, di saat Tuhan menyatakan diri lagi, engkau akan dipandang oleh Allah sebagai yang sangat berharga.

Paling akhir, Allah akan menganugerahkan damai sejahtera kepada orang percaya yang ada dalam aniaya kesulitan. Orang yang melakukan kejahatan pada akhirnya akan mendapatkan pembalasannya. Allah tidak lupa perbuatan jahat mereka. Tidak hanya demikian, Allah akan menganugerahkan damai sejahtera kepada umat-Nya. Kata damai sejahtera ini memiliki makna 「istirahat yang tenang」 dan 「pelepasan」.

Renungkan: di dalam aniaya kesusahan, Allah akan memberikan kepada kita damai sejahtera. Apakah engkau pernah mengalami istirahat yang tenang di dalam jiwa rohani, damai sejahtera pelepasan dari antara kesulitan dan yang tidak dapat digoyahkan?