「Doa seorang sengsara, pada waktu ia lemah lesu」
Oleh: Rev. Ho Kai-Ming (何啟明)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Mazmur 102:1-11 [ITB])
1 Doa seorang sengsara, pada waktu ia lemah lesu dan mencurahkan keluhannya ke hadapan TUHAN.
TUHAN, dengarkanlah doaku,
……dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepada-Mu.
2 Janganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku
……pada hari aku tersesak.
Arahkanlah telinga-Mu kepadaku;
……pada hari aku berseru, segeralah menjawab aku!
3 Sebab hari-hariku habis seperti asap,
……tulang-tulangku membara seperti perapian.
4 Hatiku terpukul dan layu seperti rumput,
……sampai-sampai aku lupa makan rotiku.
5 Oleh sebab keluhanku yang nyaring,
……aku tinggal tulang-belulang.
6 Aku sudah menyerupai burung undan di padang gurun,
……sudah menjadi seperti burung pungguk pada reruntuhan.
7 Aku tak bisa tidur dan sudah menjadi
……seperti burung terpencil di atas atap.
8 Sepanjang hari aku dicela oleh musuh-musuhku,
……orang yang mempermainkan aku menyumpah-nyumpah dengan menyebut namaku.
9 Sebab aku makan abu seperti roti,
……dan mencampur minumanku dengan tangisan,
10 oleh karena amarah-Mu dan kegeraman-Mu,
……sebab Engkau telah mengangkat dan mencampakkan aku.
11 Hari-hariku seperti bayang-bayang memanjang,
……dan aku sendiri layu seperti rumput.
Walau para ahli mengklasifikasikan Mazmur 102 sebagai mazmur pertobatan, tetapi mazmur ini memiliki elemen-elemen genre ratapan, keseluruhan mazmur ini mencerminkan konteks penawanan, dan pemazmur di tengah-tengah kesusahannya yang luar biasa berseru kepada Allah. Dalam doa pemazmur tidak terlihat mengandung unsur pertobatan yang jelas, kecuali bahwa kesusahannya begitu ekstrem sehingga dia hampir tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Oleh karena itu, mazmur ini mungkin lebih baik dipandang sebagai ratapan pribadi. Pembagian paragraf dalam mazmur ini sangat jelas, dimulai dengan jeritan kesedihan pemazmur (ayat 1-11), diikuti dengan pengharapan yang penuh keyakinan akan pembangunan kembali Sion (ayat 12-22), dan akhirnya visi yang diperluas tentang sifat-sifat Allah yang kekal (ayat 23-28). Singkatnya, mazmur ini dimulai dengan seruan kepada Allah dan kemudian berkembang menjadi pujian kepada-Nya. Kita akan memakai waktu dua hari untuk merenungkan mazmur ratapan ini.
Tema perikop hari ini adalah jeritan orang yang tertekan; pemazmur tidak menyebutkan secara spesifik tentang kesulitannya, tetapi menggunakan sejumlah metafora untuk menggambarkan keadaannya. Subjudul dari ratapan ini mengindikasikan bahwa ini adalah doa dari seorang yang dalam masalah dan berdoa mencurahkan keluhannya ke hadapan TUHAN. Pemazmur berseru kepada Allah untuk memperhatikan penderitaannya dan mendengar seruannya (ayat 1-2). Pemazmur tahu bahwa sebagai anggota umat Allah, ia tidak akan ditinggalkan tanpa tempat untuk berseru karena Allah adalah tempat terbaik untuk berseru. Ia yakin bahwa Allah memahami penderitaannya, mendengar permohonannya, dan bertindak untuk menyelesaikan masalahnya. Oleh karena itu, seperti Hana dalam Perjanjian Lama, ia mencurahkan isi hatinya dan menceritakan segala sesuatu tentang penderitaannya ke hadapan Allah.
Pemazmur menggunakan banyak metafora untuk menggambarkan keadaannya, dan kata 「seperti」 sering muncul dalam bagian ini. Kehidupan pemazmur tampaknya berada dalam bahaya, dan tidak jelas apakah dia menderita penyakit mematikan atau sedang dilukai oleh musuh. Singkatnya, pemazmur merasa bahwa 「hari-hariku habis seperti asap」 (ayat 3a) dan 「hari-hariku seperti bayang-bayang memanjang」 seperti bayangan di waktu matahari terbenam (ayat 11a lihat BIMK, NET atau CUV Mandarin). Dia mengalami demam dan rasa sakit di sekujur tubuhnya, 「tulang-tulangku membara seperti perapian」 ( ayat 3b). Tubuhnya menjadi lemah mungkin disebabkan lupa makan dan tidur, 「aku tak bisa tidur」 (ayat 7a) dan 「aku lupa makan rotiku」 (ayat 4b). Jika saja ia memiliki selera untuk makan dan minum, itu adalah makan 「abu」 dan minum 「air mata」 (ayat 9). 「Abu」 melambangkan kesedihan dan kehilangan, sang pemazmur sangat sedih sehingga ia membasuh wajahnya dengan air mata dan menangis sepanjang hari. Dalam keadaan seperti itu, energinya secara alami terkuras habis, dan 「hatiku terpukul dan layu seperti rumput」 (ayat 4a, 11b).
Penderitaan pemazmur tidak hanya disebabkan oleh kelemahan fisik dan depresi berat yang dialaminya, tetapi juga karena perasaan kesepian dan penolakan. Pemazmur menggambarkan penolakan dan pengucilan yang dialaminya dengan istilah 「aku sudah menyerupai burung undan di padang gurun, sudah menjadi seperti burung pungguk pada reruntuhan」 dan 「seperti burung terpencil di atas atap」 (ayat 6-7). Burung undan adalah burung di pesisir pantai, jika berada di padang gurun seperti ikan yang keluar dari air; burung pungguk dianggap najis (Im. 11:17), dan burung-burung ini ditemukan di reruntuhan dan tempat-tempat yang sunyi. Pemazmur menggunakan kedua burung ini untuk mewakili kesepian dan penolakan yang ia alami. 「Burung terpencil di atas atap,」 lihat IMB atau KJV dapat dipahami seperti burung pipit, yang biasanya hidup berkelompok, mereka berkumpul bersama dan tidak bertindak sendirian, tetapi pemazmur yang malang terbangun di malam hari dengan perasaan yang sangat kesepian, seperti burung pipit yang ditinggalkan di atap rumah.
Yang lebih menyulitkan pemazmur adalah cemoohan dan caci maki dari para musuhnya (ayat 8); sindiran mereka seperti garam di atas luka pemazmur. Musuh-musuh pemazmur mungkin mengejek keadaan pemazmur sebagai sesuatu yang pantas dan disebabkan oleh dosa dirinya sendiri, atau mereka mungkin menantang Allah pemazmur, mengapa tidak untuk turun tangan dan meringankan penderitaannya. Namun, dalam doanya, pemazmur tidak mengatakan bahwa keadaannya disebabkan oleh dosa, tetapi hanya mengatakan bahwa situasinya yang menyedihkan disebabkan oleh disiplin Allah. Ia berkata dengan terus terang kepada Allah, 「oleh karena amarah-Mu dan kegeraman-Mu, sebab Engkau telah mengangkat dan mencampakkan aku」 (ayat 10). Singkatnya, penderitaan pemazmur adalah pergumulan antara dia dengan Allah, dan hanya Allah yang tahu apa masalah yang ia alami, dan hanya jika pemazmur menghadap Allah secara pribadi, maka masalahnya akan terpecahkan.
Renungkan:
Bagaimana kita menghadapi rasa sakit? Melarikan diri? Merasionalkannya? Menyangkalnya? Atau apakah kita datang kepada Allah dan mencurahkan isi hati kita kepada-Nya? Marilah kita dengan tenang mendengarkan atau menyanyikan pujian 「Abba Father」 sebagai doa kita hari ini.
Anda dapat mencari di Youtube 「Abba Father」 atau 「阿爸父」 https://youtu.be/geb5VNw0lF4
Renungan pemahaman Mazmur Musim-musim dalam Kehidupan
Renungan pemahaman Kitab Mazmur
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Mazmur Musim Kehidupan ditulis oleh Rev. Ho Kai-Ming (何啟明) yang dipublikasi pada bulan November 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.