Tag Archives: kitab Ester

05 Maret – KAMIS MINGGU PERTAMA PRA-PASKAH. Jika Aku Terpaksa Mati, Biarlah Aku Mati.

Oleh
Pastor Lawrence T Y Chua
Senior Pastor Living Sanctuary Brethren Church
Penerjemah: Team WMC

Ester 4:1-5, 12-17

1 Setelah Mordekhai mengetahui segala yang terjadi itu, ia mengoyakkan pakaiannya, lalu memakai kain kabung dan abu, kemudian keluar berjalan di tengah-tengah kota, sambil melolong-lolong dengan nyaring dan pedih. 2 Dengan demikian datanglah ia sampai ke depan pintu gerbang istana raja, karena seorangpun tidak boleh masuk pintu gerbang istana raja dengan berpakaian kain kabung. 3 Di tiap-tiap daerah, ke mana titah dan undang-undang raja telah sampai, ada perkabungan yang besar di antara orang Yahudi disertai puasa dan ratap tangis; oleh banyak orang dibentangkan kain kabung dengan abu sebagai lapik tidurnya.
4 Ketika dayang-dayang dan sida-sida Ester memberitahukan hal itu kepadanya, maka sangatlah risau hati sang ratu, lalu dikirimkannyalah pakaian, supaya dipakaikan kepada Mordekhai dan supaya ditanggalkan kain kabungnya dari padanya, tetapi tidak diterimanya. 5 Maka Ester memanggil Hatah, salah seorang sida-sida raja yang ditetapkan baginda melayani dia, lalu memberi perintah kepadanya menanyakan Mordekhai untuk mengetahui apa artinya dan apa sebabnya hal itu.
12 Ketika disampaikan orang perkataan Ester itu kepada Mordekhai, 13 maka Mordekhai menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Ester: “Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. 14 Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.”
15 Maka Ester menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Mordekhai: 16 “Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.”
17 Maka pergilah Mordekhai dan diperbuatnyalah tepat seperti yang dipesankan Ester kepadanya.

Renungan
Taruhannya sangat tinggi. Bangsa Yahudi sedang menghadapi pembinasaan yang segera akan terjadi. Waktu sudah menipis. Raja Ahasyweros adalah satu-satunya yang dapat membalikkan keadaan. Hanya Ester yang memiliki akses kepada raja, menjadi penengah bagi keselamatan. Mordekhai bersyafaat dan memerintahkan Ester untuk bertindak. Ester mengambil resiko mengorbankan nyawanya dan bertindak sebagai mediator antara raja dan rakyat.

Kita diingatkan akan Yesus yang adalah sang mediator satu-satunya antara Allah dan manusia (1 Timotius 2:5). Kita diingatkan akan Yesus, Dia yang mati, dibangkitkan dan yang berada di tangan kanan Allah, yang tentunya berdoa syafaat untuk kita (Roma 8:34).

Manusia tanpa Kristus sedang menghadapi kematian kekal. Kristus telah membalikkan kematian abadi dengan harapan akan hidup yang kekal sebagai hasil dari pertobatan dan iman. Waktu adalah terbatas bagi manusia untuk bertobat dan percaya. Kita dipanggil untuk mewakili Yesus sebagai “mediator dan pendoa syafaat”. Kita menunjukkan Yesus kepada orang-orang bahwa Ia adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Ini adalah tugas yang sulit. Sangatlah mudah untuk berjalan meninggalkannya dan membalikkan punggung kita terhadap mereka yang binasa tanpa Yesus.

Yesus sang pimpinan mediator dan pendoa syafaat memerintahkan kita, untuk pergi dan memberitakan kepada mereka yang akan binasa. Ester ditakdirkan menjadi mediator untuk menyelamatkan bangsa Yahudi. Dia berbicara kepada kita tentang takdir kita sebagai duta besar Kristus, hasil praktis dari peran kita sebagai mediator dan pendoa syafaat. Allah sedang mengajukan bandingnya melalui kita. Kita memohon kepada orang-orang atas nama Kristus, didamaikan kepada Allah. Kita menghadapi banyak tantangan di dalam membagikan injil. Jalan terbaik untuk menghadapinya adalah dengan memiliki pola pikir tertentu yang dapat dijelaskan dalam kata-kata berikut ini: “kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.” Bersiaplah untuk memberikan nyawamu bagi Kristus misalnya menyerahkan kepentingan pribadi. Sebagai murid Kristus, sangkallah dirimu, pikul salibmu setiap hari dan ikutlah Yesus.

Doa
Aku bersyukur untuk tempat menyenangkan yang aku miliki di Singapura dibandingkan dengan tempat-tempat lain di dunia yang sangat kekurangan. Aku mengakui bahwa aku terpesona dan hanya memberikan sedikit perhatian kepada orang-orang yang sedang binasa. Aku bertobat. Aku tahu bahwa aku diberkati untuk menjadi berkat. Aku diselamatkan untuk berbagi keselamatan. Engkau memerintahkan aku untuk memberitakan injil. Aku harus. Bantu aku untuk menyangkal diriku sendiri, memikul salib dan mengikut engkau. Jika aku terpaksa mati, biarlah aku mati.

Tindakan

Keluarlah dari kebiasaan anda hari ini, bagikan injil kepada seseorang. Terimalah ketidaknyamanan. Korbankanlah waktu anda. Sisihkanlah sesuatu yang mungkin akan menguntungkan anda dan jangkaulah untuk memberkati orang lain.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)