Yunus 2:8-9

「Rasa superioritas Yunus」

Oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yunus 2:8-9 [TB2])
8 Mereka yang berpegang pada berhala yang sia-sia,
………meninggalkan kasih setia-Mu terhadap mereka.
9 Tetapi, aku, dengan ucapan syukur
………akan mempersembahkan kurban kepada-Mu;
………apa yang kunazarkan akan kubayar.
Dari TUHANlah Keselamatan!

Fokus kedua ayat ini beralih kepada mereka yang menyembah berhala yang sia-sia. Tujuan Yunus adalah membandingkan dirinya dengan orang-orang yang percaya kepada ilah yang tidak berguna ini untuk menunjukkan kesalehannya. Siapakah sebenarnya orang-orang yang percaya kepada ilah yang tidak berguna ini? Jika kita mempertimbangkan perkembangan kisahnya, tidak sulit untuk memahami bahwa orang-orang ini kemungkinan merujuk pada orang-orang di kapal yang, menghadapi badai, mencari ilah mereka sendiri (1:5-6, Awak kapal itu ketakutan, masing-masing berteriak-teriak kepada ilahnya. Mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Sementara itu, Yunus telah turun ke bagian kapal yang paling bawah, berbaring di situ, dan tertidur nyenyak. Datanglah nakhoda menemuinya dan berkata, Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan memperhatikan kita, sehingga kita tidak binasa.』」). Adegan ini mungkin yang Yunus sebut sebagai berpegang pada berhala yang sia-sia.

Dalam pikiran Yunus, tindakan orang-orang di kapal ini mewakili tindakan mencampakkan Allah, ayat 2:8 Mereka … meninggalkan kasih setia-Mu terhadap mereka. Yunus menggambarkan Allah, kasih setia-Mu terhadap mereka, meskipun Yunus tidak menyaksikan ombak yang tenang setelah ia terlempar ke laut, ia percaya belas kasih kesetiaan Allah telah turun atas mereka. Ia menghakimi bahwa bahkan jika Allah berbelas kasihan kepada orang-orang ini, hasilnya hanyalah mereka menambahkan Allah TUHAN ke dalam jajaran ilah yang mereka sembah, tanpa benar-benar takut akan Allah TUHAN. Oleh karena itu, ia menyebut orang-orang di kapal itu meninggalkan kasih setia-Mu terhadap mereka. Di sisi lain, Yunus mengklaim bahwa ia akan mempersembahkan kurban kepada Allah dan akan membayar nazarnya, sebagai respons atas kasih setia Allah.

Yunus membandingkan dirinya dengan orang-orang di kapal untuk menunjukkan kesalehan dan kesetiaan dirinya kepada Allah, tetapi Yunus yang kita lihat dalam kitab ini tidak mempersembahkan korban dan memenuhi nazar seperti yang diklaimnya. Sebaliknya, kita melihat ketidakpuasannya terhadap Allah dalam bagian-bagian berikut. Mengenai orang-orang di kapal, mereka baru melakukan persembahan dan nazar mereka setelah Yunus dilemparkan ke laut (1:16). Ketika Yunus mengklaim bahwa ia akan mempersembahkan korban dan membuat nazar, mungkin ia berpikir bahwa orang-orang di kapal tidak melakukannya, tetapi sebagai pembaca, kita melihat ini sebagai ironi: mereka yang diklaim Yunus percaya kepada berhala yang sia-sia sebenarnya telah mempersembahkan kurban dan membuat nazar kepada Allah sebelum dirinya melakukan itu.

Doa Yunus diakhiri dengan mazmur baris tunggal (monocolon): Dari TUHANlah Keselamatan! Monokolon ini hanya berisi dua kata: keselamatan (יְשׁוּעָ֖תָה yə·šū·‘ā·ṯāh; kata benda) dan milik TUHAN (לַיהוָֽה YHWH; frasa preposisi). Artinya, keselamatan adalah milik TUHAN, yang mengungkapkan kedaulatan mutlak Allah atas keselamatan dan penebusan. Yunus juga bersumpah untuk mempersembahkan kurban dan memenuhi nazar berdasarkan landasan ini.

Refleksi:
1. Dalam doanya di Yunus pasal 2, Yunus tidak mengakui dosa-dosanya (menghindari panggilannya), tetapi berfokus pada anugerah penebusan Allah yang luar biasa. Ia bahkan membandingkan dirinya dengan orang lain di kapal, merasakan rasa superioritas. Hal ini mengingatkan kita bahwa iman seharusnya tidak menjadi saluran untuk kepuasan diri; sebaliknya, dalam iman yang sejati, kita seharusnya melihat dosa kita sendiri dan belas kasihan Allah yang tak bersyarat. Bagaimana saya mengenali saat-saat ketika saya merasa superior karena saya berhasil? (Misalnya, ketika membandingkan diri sendiri dengan orang lain, atau dalam rasa syukur mengabaikan kelemahan diri saya?)

2. Dalam dua ayat ini, kita melihat prasangka Yunus terhadap pelaut asing, mungkin berasal dari rasa superioritas nasionalnya yang mengakar. Ia mengabaikan fakta bahwa kasih setia Allah melampaui segala batasan manusia — tanpa memandang ras atau budaya. Batasan yang ia buat sendiri ini seringkali menjadi penghalang untuk melihat orang lain dengan benar, sehingga menghambat aliran anugerah kasih karunia. Bagaimana saya menghadapi bias manusia semacam ini dalam diri saya? Prasangka ini dapat terwujud dalam faktor-faktor yang mengkategorikan orang, seperti perbedaan ras, bahasa dan budaya, kelas, dan hubungan darah. Apakah saya hidup dengan prasangka dan rasa superioritas ini? Mengapa?


Renungan pemahaman Kitab Yunus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yunus ditulis oleh Rev. Dr. Cheung Mi-mee yang dipublikasi pada bulan Desember 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.