Matius 6:1-6, 16-21

「Panggilan iman yang tulus」

Oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Matius 6:1-6, 16-21 [ITB])
1 Ingatlah, jangan kamu mengamalkan kesalehanmu di depan umum supaya dilihat orang, karena jika melakukan demikian, kamu tidak memperoleh upah dari Bapamu yang di surga.
2 Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. 3 Namun, jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. 4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

5 Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. 6 Namun, jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu, dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

16 Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. 17 Namun, apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, 18 supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

19 Janganlah mengumpulkan harta bagi dirimu di bumi; di mana ngengat dan karat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya. 20 Namun, kumpulkanlah bagimu harta di surga; yang tidak dirusak oleh ngengat dan karat, dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. 21 Sebab, di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Dalam Matius 6:1-6 dan 16-21, Yesus memanggil murid-murid-Nya untuk fokus pada kesalehan batiniah yang dihargai oleh Bapa Surgawi. Ia mengingatkan kita bahwa berbuat baik harusnya merupakan ekspresi cinta kasih kepada Allah, bukan cara untuk mendapatkan tepuk tangan dari orang lain. Ketika kita bersedekah, berdoa, atau berpuasa dengan sikap pertunjukkan, jiwa kita hanya menerima kepuasan diri yang bersifat sementara, bukan berkat yang kekal. Yesus menunjukkan bahwa doa sepatutnya dilakukan di dalam ruangan, seorang diri mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan, doa yang demikian akan didengarkan Allah. Demikian pula, puasa harus merupakan kegiatan pribadi sehingga menjadi cara untuk berhubungan dengan Tuhan, bukan pertunjukkan untuk dilihat orang lain. Terakhir, Ia berbicara tentang harta, memperingatkan agar tidak mengumpulkan harta duniawi yang dapat mempengaruhi arah hati kita. Harta yang sesungguhnya ada di surga, dan hati kita seharusnya ada di sana.

Perikop ini memberikan tantangan besar bagi kita sebagai orang Kristen modern — apakah kehidupan iman kita adalah tulus adanya? Apakah berbuat baik, berdoa, dan berpuasa merupakan cara kita mengembangkan relasi yang intim dengan Tuhan, atau justru menjadi sarana pertunjukkan untuk mengekspresikan diri? Di era teknologi yang semakin maju saat ini, masyarakat senang sekali berbagi pengalaman hidupnya di media sosial maupun berkelompok. Saat berbagi kehidupan keagamaan, Anda mungkin perlu memperhatikan sikap dan motivasi Anda sendiri. Apakah sekadar memberi tahu orang lain tentang kehidupan Anda? Atau apakah itu untuk menunjukkan bahwa Anda sangat rohani atau saleh? Perbuatan mungkin tidak benar atau salah, tapi hanya Anda dan Tuhan yang tahu perbedaan mental dan motivasinya.

Yesus mengajak kita untuk introspeksi bahwa segala perbuatan saleh harus diarahkan kepada Tuhan, dan kesalehan dalam hati itulah yang berkenan kepada Allah. Kita perlu terus-menerus memeriksa diri kita sendiri apakah kita melakukan perbuatan baik untuk mendapatkan pujian orang lain, atau apakah kita berdoa dan berpuasa untuk menunjukkan kesalehan kita.

Ketika kita menyatakan keimanan kita dengan suatu sikap, hal itu mempengaruhi setiap pilihan dan perilaku yang kita ambil. Saat memberikan sedekah, berikanlah secara diam-diam; saat berdoa, fokuslah berbicara kepada Tuhan; saat berpuasa, mendekatkan hati kepada Tuhan. Kalau harta kita ada di surga, maka hati kita juga harus bersama Bapa Surgawi. Di sinilah letak nilai hidup kekal. Jika tidak, betapapun riuhnya tepuk tangan di bumi, pahala di surga bisa saja hilang karena motif yang tidak murni. Marilah kita menghidupi kesalehan yang diajarkan Yesus dan memberikan kesaksian dalam hidup kita dengan ketulusan yang konsisten baik secara internal maupun eksternal.

Refleksi Iman:
1. Apakah kita terkadang melakukan hal-hal baik untuk mendapat pengakuan orang lain? Jika tidak seorang pun mengetahui kebaikan yang kita lakukan, akankah kita tetap melakukannya dengan sukarela?

2. Bagaimana kita mencegah ekspresi iman kita menjadi bentuk pertunjukkan lahiriah dan bukannya ekspresi alami kehidupan batiniah kita?


Renungan pemahaman Injil Matius (Januari 2025)

Renungan pemahaman Injil Matius

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Matius ditulis oleh Rev. Dr. Louis Chan Chi-hang (陳智衡) yang dipublikasi pada bulan Januari 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.