「Segala sesuatu bergantung pada janji Allah」
Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Roma 9:6-18 [ITB])
6 Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, 7 dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: 「Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.」 8 Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar. 9 Sebab firman ini mengandung janji: 「Pada waktu seperti inilah Aku akan datang dan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki.」 10 Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. 11 Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya, 12 dikatakan kepada Ribka: 「Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,」 13 seperti ada tertulis: 「Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.」
14 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! 15 Sebab Ia berfirman kepada Musa: 「Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.」
16 Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. 17 Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: 「Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi.」 18 Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.
Bangsa Israel seharusnya menjadi bangsa yang paling diberkati di muka bumi, karena TUHAN semesta alam telah mengikat perjanjian dengan mereka untuk menjadi Allah, Raja, Gembala, dan Penyelamat mereka dari generasi ke generasi. Selama TUHAN menyertai mereka, kebaikan dan kasih akan mengikuti umat-Nya sepanjang hidup mereka (Mazmur 23:6), dan bukan hanya Israel sendiri yang akan diberkati, tetapi semua bangsa di bumi juga akan diberkati melalui hubungan perjanjian ini (Kej. 12:1-3; 22:15-18). Dalam rencana keselamatan Allah, Israel sejak awal berada dalam posisi sentral dan prioritas, 「Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani」 (Roma 1:16) Sayangnya, sejarah telah menunjukkan bahwa 「orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir」 (Mat. 20:16) Mengapa? Karena orang-orang Yahudi, yang telah mendahului, tidak memahami kehendak Allah dalam melakukan memilih umat-Nya, dan mereka menolak Anak-Nya yang terkasih, Yesus Kristus. Apakah kehendak Allah itu? Yaitu (Roma 8:29) 「Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula (προορίζω proorizo predestinated), mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya (to become conformed to the image of His Son)」 Namun, orang-orang Yahudi menyalibkan Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara, dan pembunuhan Anak ini menjauhkan keselamatan yang seharusnya menjadi milik mereka dan yang keluar dari mereka.
Memikirkan hal ini, Paulus merasakan kesedihan dan kepedihan yang mendalam di dalam hatinya. 「Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia …」 (Roma 9:4-5) Dan sekarang mereka adalah ranting-ranting pohon zaitun yang dipatahkan (Roma 11:15, 17), yang ditinggalkan Allah. Paulus sedih atas bangsa sesamanya, sampai-sampai ia rela menanggung kutukan keterpisahan dari Kristus untuk menggantikan mereka agar mereka dapat diselamatkan (Roma 9:3). Kesedihan Paulus memang nyata, tetapi ia tidak membiarkan dirinya berkubang dalam emosi negatif dan pesimis, ia menyadari bahwa masih ada masa depan bagi Israel, meskipun sekarang tampaknya sudah ditinggalkan. 「Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, …」 (Roma 11:25-26). Ada banyak penafsiran yang berbeda dari pernyataan ini oleh para ahli di masa lalu. Terlepas dari penafsirannya, pandangan Paulus terhadap Israel adalah penuh pengharapan, dan masa depan mereka tidak ditentukan oleh kondisi saat ini atau kejadian di masa lalu. Mengapa Paulus dapat membuat pernyataan yang 「melampaui keadaan yang terlihat mata」 seperti itu? Di manakah kepastiannya?
Jawabannya ada dalam perikop yang kita baca hari ini. Roma 9:6-18 adalah perikop kunci yang menyatakan dasar teologis dari pernyataan Paulus bahwa masih ada pengharapan keselamatan bagi Israel, dan bahwa hal itu adalah 「semua tentang janji-janji Allah」. Tidak semua orang yang dilahirkan dari Israel adalah orang Israel, dan juga tidak semua orang Israel adalah anak-anak Abraham hanya karena mereka adalah keturunannya, tetapi hanya anak-anak yang dijanjikan yang dianggap sebagai keturunannya (Roma 9:8). Karena janji itu berasal dari Allah, maka tidak menjadi masalah bagaimana perilaku manusia. Bahkan sebelum Yakub lahir, Allah telah memilihnya untuk menjadi pihak yang dilayani oleh kakaknya, Esau, di masa depan (Roma 9:12-13). Janji ini mengacu pada kedaulatan Allah untuk mengasihani siapa yang dikehendaki-Nya dan bermurah hati kepada siapa yang dikehendaki-Nya (Roma 9:15). Bahkan jika sesuatu tampak mustahil bagi manusia, selama Allah menjanjikannya, hal itu akan terjadi. Abraham yang sudah tua dibenarkan oleh kepercayaannya kepada janji Allah untuk memberikannya seorang anak laki-laki, yang berada di luar kemampuan dan imajinasi manusia (Roma 4:13-22). Jika demikian, tidak ada apa pun di dunia ini yang dapat menghentikan pekerjaan Allah, bahkan Firaun yang jahat sekalipun, yang hanya merupakan alat bagi manifestasi kuasa Allah (Roma 9:17). Oleh karena itu, jika Allah berjanji, firman-Nya tidak akan gagal (Roma 9:6). Tidak ada sumpah yang lebih besar jaminannya daripada sumpah yang diucapkan oleh Allah sendiri (Ibrani 6:16-17), dan Allah sendiri adalah jaminan yang paling besar. Karena sejak awal Allah telah berjanji untuk memberkati keturunan Abraham, maka sumpah ini pasti digenapi. Dengan jaminan ini, walau hati Paulus sedih dan berduka, tetapi hal itu tidak membuatnya kehilangan harapan akan masa depan Israel.
Dari awal hingga akhir, keselamatan Yesus Kristus adalah janji kehendak Allah sendiri, yang tidak dapat digoyahkan oleh apa pun. 「Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita」 (Roma 8:38-39) Karena Allah telah berkehendak untuk melalui Injil Kristus menyelamatkan semua orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi dan kemudian orang Yunani, kehendak-Nya akan terlaksana pada akhirnya. Tidak peduli seberapa korupnya dunia ini, dalam janji Allah tetap ada kemungkinan perubahan.
Renungkan:
Mengapa Paulus begitu yakin dan penuh pengharapan tentang masa depan Israel? Penghiburan dan dorongan apakah yang diberikan kepada kita ketika kita menyadari bahwa 「segala sesuatu bergantung pada janji Allah」? Mengapa kita percaya bahwa kedaulatan Allah dapat meringankan kesedihan dan kepedihan di dalam hati kita?
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, Renungan Natal 2023 yang dipublikasikan pada bulan Desember 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.