「Undangan mempelai pria kepada mempelai wanita」
Oleh Rev. Dr. Wong Tin-yat (黃天逸)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Kid. 4:8 [ITB])
8 Turunlah kepadaku dari gunung Libanon, pengantinku, datanglah kepadaku dari gunung Libanon,
….turunlah dari puncak Amana, dari puncak Senir dan Hermon, dari liang-liang singa, dari pegunungan tempat macan tutul!
[KJV]
Come with me from Lebanon, my spouse, with me from Lebanon:
look from the top of Amana, from the top of Shenir and Hermon, from the lions’ dens, from the mountains of the leopards.
Kata 「pengantin」 (כַּלָּה kal-law’) muncul beberapa kali di satu paragraf ini (4:9,10,11,12, 5:1), karena itu, kita hampir dapat memastikan pernikahan yang disebutkan di 3:6-11 adalah pernikahan pengantin pria dan wanita di sini, dan 「Puisi nyanyian tubuh」 yang dibahas di teks sebelumnya adalah gambaran malam pernikahan di kamar pengantin. Dan banyak tempat yang disebutkan di ayat ini: gunung Libanon, gunung Libanon, puncak Amana, puncak Senir, Hermon, liang-liang singa, pegunungan tempat macan tutul. Bagaimana seharusnya kita memahami ayat ini?
Ada peneliti Perjanjian Lama menekankan bahwa 《Kitab Kidung Agung》 termasuk dalam genre puisi, sehingga sulit bagi kita untuk memahami maknanya secara harfiah. Mungkin ini adalah untuk menonjolkan jarak antara kedua mempelai, oleh karena itu, mempelai pria mendorong mempelai wanita agar 「Turunlah kepadaku dari gunung Libanon …, turunlah dari puncak Amana …」, kita harus memperhatikan bahwa kata תָּב֑וֹאִי ta·Vo·’i (dapat diterjemahkan sebagai 「datang」) dan kata תָּשׁ֣וּרִי ta·Shu·ri (dapat diterjemahkan sebagai 「turunlah」), tetapi juga memiliki makna 「lihatlah」 (seperti dalam KJV 「Come with me from Lebanon, … look from the top of Amana …」), dinyatakan dalam bentuk dua kalimat paralel, dan dengan struktur paralel ini juga terdapat struktur engsel — dua frasa di depan (「Turunlah kepadaku dari gunung Libanon, kepadaku dari gunung Libanon」), dan empat frasa dikembangkan di belakang (「turunlah dari puncak Amana, dari puncak Senir dan Hermon, dari liang-liang singa, dari pegunungan tempat macan tutul」). Tampaknya mempelai pria mengundang 「turunlah」, mungkin untuk melambangkan bahwa mempelai wanita 「tak terjangkau (terlalu tinggi untuk diharapkan)」; ada yang berpendapat lain, mempelai pria ingin agar mempelai wanita berada di lingkungan yang aman yakni ada di pelukannya, oleh karena itu, fokus dari ayat ini adalah 「kepadaku」 (atau KJV 「with me」 bersamaku); ada peneliti telah menunjukkan bahwa mempelai pria mengharapkan mempelai wanita untuk meninggalkan kehidupan aslinya, tidak perlu dalam ketakutan sehingga ingin melakukan perlindungan diri yang berlebihan, sehingga dapat membangun hubungan baru yang aman dengan dia, karena, dia akan selalu melindungi dan peduli padanya. (Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Kej. 2:24)
Renungkan:
Johnson seorang ahli terapi pernikahan dan keluarga menunjukkan bahwa kunci untuk memiliki hubungan yang baik antara pasangan pria dan wanita atau pasangan suami istri adalah saling memiliki 「rasa aman」 satu sama lain. Dia menunjukkan bahwa respons emosional memiliki tiga elemen utama, yang merupakan kunci untuk membangun 「rasa aman」:
1. Aksesibilitas
Pentingnya 「aksesibilitas」 terletak pada: bahkan jika kita memiliki keraguan di hati kita atau kurangnya rasa aman, dapatkah kita tetap membuka hati untuk pasangan kita kapan saja? Ini biasanya berarti bahwa kita bersedia bekerja keras untuk memahami emosi kita, tetapi tidak ditaklukkan oleh emosi, sehingga kita dapat keluar dari keterputusan emosional dan mendengar isyarat keterikatan (attachment cues) dari pasangan kita. Johnson (2011) menunjukkan bahwa kunci 「aksesibilitas」 terletak pada pesan yang sangat penting yang ada di baliknya: 「Dapatkah saya menemukan Anda?」
2. Responsivitas (Daya merespons)
「Responsivitas」 mengacu pada apakah kita meletakkan fokus pada pasangan kita dan membiarkan dia mengetahui dampak perasaan dia terhadap kita, terutama kebutuhan akan keterikatan dan ketakutan, sehingga kita bersedia untuk memprioritaskan isyarat yang tersirat oleh pasangan sehingga dia dapat memperoleh penghiburan dan perhatian, pada kenyataannya, dengan kepekaan memberikan respons sering kali dapat menyentuh hati kita serta menstabilkan keadaan emosi dan fisik kita. Johnson (2011) berpendapat bahwa pentingnya 「responsivitas」 kepada pasangan adalah: 「Dapatkah saya percaya atau bergantung kepada Anda untuk menanggapi saya secara emosional?」
3. Engagement (keterikatan)
Keterikatan emosional antara pasangan berarti ada perhatian khusus, dan perhatian khusus itu akan kita diberikan kepada orang yang kita cintai, maka kita akan menatap pasangan kita, akan lebih banyak menyentuh dia; dalam hubungan suami istri adalah meletakkan pasangan di dalam hati pikiran. Johnson (2011) berpendapat bahwa kunci dari 「engagement (keterikatan)」 adalah: 「Apakah Anda menghargai saya dan menemani di sisi saya?」
Tidak mudah untuk mempertahankan pernikahan agar bertahan lama dan intim. Normalitas sehari-hari dapat dengan mudah membuat hubungan antara kedua orang kehilangan vitalitas, apalagi pasangan hidup membawa kisah pertumbuhan mereka sendiri, juga masing-masing harus menghadapi banyak perubahan di luar rumah, membuat normalitas ini secara bertahap menjadi rutinitas tidak terpatahkan. Tak heran, semakin hari semakin panjang dan hati semakin rumit, pasangan juga harus belajar 「hidup berdampingan」 yang kompleks. Oleh karena itu, mempertahankan hubungan jangka panjang benar-benar harus tahu bagaimana 「memeliharanya」.
A.R.E (Aksesibilitas, Responsivitas, Engagement), apakah kita bersedia memahaminya?
Renungan pemahaman Kitab Kidung Agung
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kidung Agung ditulis oleh Rev. Dr. Wong Tin-yat (黃天逸) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.